Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keenam belas


__ADS_3

Pagi menjelang dan Mela sudah bangun lalu segera menuju dapur setelah dia mandi dan merapihkan diri.


Di dapur ada bi Encum tampak sedang memotong sayuran, lalu Mela bertanya kepadanya, "Bibi maaf mau masak apa biar Mela bantu".


"Neng Mela mah sudah jangan repot- repot di dapur, disini mah bau dan kotor atuh neng," kata bi Encum.


" Tidak apa-apa bi, Mela sudah biasa kok bantu di dapur".


"Heug atuh sok ieu sayur dipotongan, jeung ieu oge jagong putri sakalian dipotongan aralit nya".


(\=Ya sudah dong ini sayur dipotong dan juga sekalian jagung putri dipotong kecil-kecil)


"Mau bikin apa bi?"tanya Mela lagi.


"Buat sarapan ini mah, nasi goreng sayur soalnya di rumah ini teh pada suka sayuran".


Bi Encum melihat Mela memotong sayur dengan cekatan dan juga Mela akhirnya yang memasak nasi goreng.


Ketika bi Encum mencicipi ternyata enak rasanya.


" Neng Mela teh pinter masak yah. Aduh tambah sayang atuh den Anton sama Neng Mela teh".


"Bi saya bukan pacar dokter Anton, saya di Cirebon sama dengan bibi sesama asisten rumah tangga".


"Ah masa neng Mela mah suka bercanda. Kasihan neng dokter Anton teh. Dikhianati sama pacarnya, jadi saja kecelakaan".


Mela memandang bi Encum, berharap mendapat info lagi tentang dokter Anton.


" Katanya mah di Cirebon dulu neng kecelakaannya. Nabrak orang sampai meninggal, lalu dokter Anton juga koma ada 5 bulan mah, lalu kakinya dipotong katanya mah ada pembusukan di dalam kakinya da hancur atuh neng tulang kaki kirinya teh".


"Oh begitu ceritanya, Mela tidak tahu bi, karena dokter Anton tidak mau cerita".


" Iya neng memang den Anton mah tidak akan mau bercerita tentang masa lalunya".


Tak lama mereka menata meja makan, dan sambil menunggu semua bangun, Mela menyambar pisang lagi yang ada di dekat meja makan.


Sepuluh menit kemudian tampak dari tangga muncul 1 keluarga, Anita dan Fajar bersama kedua anak mereka Keiza dan bayi mungil.


Anita memperkenalkan bayi kecilnya yang baru berumur 3 bulan kepada Mela.


Bayi yang gemuk, sehat berkulit putih menggemaskan.


Ingin rasanya menggendong tapi takut nanti Anita tidak suka.


"Mau coba gendong? Silahkan saja nih,"Anita malah memberikan anaknya kepada Mela.


Dan Melapun meraih dan menggendong si bayi mungil yang menatapnya tidak menangis dan Mela mulai mengayun di pelukannya sampai tertidur.


Setelah tertidur kemudian bayi kembali diserahkan ke Anita dengan perlahan dan ditidurkan di box bayi di depan ruang keluarga.


Kemudian mereka bersiap sarapan bersama.


"Tante pacal oom Ton namanya siapa?"tanya Keiza tiba-tiba sambil menghampiri Mela.


"Nama tante adalah tante Mela, namamu Kei yah...,"jawab Mela.


Keiza mengangguk lalu berkata lagi," Tante boleh pacalan sama oom Ton tapi oom Ton nya halus tetep sayang sama Kei...itu Oom Ton nya Kei".


Mela menganggu dan berkata, "Kalau tante boleh engga sayang sama Kei?".


Keiza matanya berbinar menatap Mela, "Oh tante juga mau sayang Kei?".


"Iya boleh tidak tante sayang sama Kei, tante kepingin peluk Kei".


"Boleh dong sini peluk Kei".


Lalu Mela memeluk Keiza dan anak itu tampak gembira.


Setelah berpelukan kemudian Keiza berbicara lagi," Tapi Oom Ton tetep punya Kei yah, janji yah".


Mela tertawa sambil menganggukan kepalanya.


" Kei ayo makan dulu, sini duduk sama bunda. Kalau Kei makannya banyak dan habis pasti oom Ton juga sayang Kei," bundanya memanggil menyuruh anak itu makan.


" Tapi bunda Oom Ton itu kan memang kesayangan Kei,"dia tetap merajuk.


"Kalau tidak mau nurut makan yang banyak nanti Oom Ton nya tidak mau sayang lagi. Ayo makan nak".


Anak itupun makan dengan lahap takut oom kesayangannya tidak mau sayang lagi kepadanya.


Fajar masuk ke ruangan makan setelah dia memeriksa apotik, lalu duduk di kursi makan dan istrinya langsung mengambilkan nasi goreng yang ada di meja untuk suaminya.


Saat Fajar menyuap makanannya dia tiba-tiba berkata," Encum tumben bikin nasi goreng beda rasanya, lebih gurih terus tidak terlalu berminyak".

__ADS_1


" Baru aku mau bilang begitu, keduluan sama ayah. Iya enak yah tumben loh".


" Cum...sini bentar!!!,"teriak Anita.


"Ya cici sebentar!!!"teriak Encum juga dari dapur.


"Cum tumben kamu bikin nasgor enak loh. Sampai ko Fajar yang paling peka lidahnya saja mengakui masakannya enak hari ini".


"Bukan Encum, itu neng Mela yang buat, namanya nasgor kampung. malahan Encum diajarin caranya biar nasgor seperti itu , "ujar Encum.


"Walah Mela.... kamu emang cocok kudu cepetan nikah nih," kata Anita sambil tersenyum lebar.


" Tadi gendong Kay sampai tertidur, padahal Kay kalo melihat orang baru atau mencium bukan bau bundanya pasti nangis. Sekarang masak juga enak, Anton yah kudu diguyur pakai air tujuh pancuran dulu mungkin yah biar hatinya terbuka,"Anita mulai ngoceh panjang lebar sambil seraya gemas terhadap sikap adiknya.


Mela hanya diam tertunduk tidak berani mengangkat wajahnya. Kakinya gemetaran, mengapa tiba-tiba harus selalu dirinya dikaitkan dengan Anton.


Setelah makan Mela membantu membereskan dan merapihkan meja lalu membantu mencuci piring walau dilarang oleh bi Encum.


Tak lama dia dipanggil Anita, lalu dibawanya ke suatu pintu yang menghubungkan rumah dengan apotik.


Kemudian dia diperkenalkan dengan Pertiwi, orang kepercayaan Anita dalam mengelola keuangan perusahaan.


"Nanti kamu tanya dan cari info kepada Pertiwi yah, saya belum bisa lama-lama di apotik. Soalnya dede Kay belum bisa ditinggal,"kata Anita mengenalkan Mela kepada Pertiwi.


Pertiwi seorang wanita muda yang cantik, namun terlihat perutnya membuncit tampak sedang hamil muda.


"Kamu sudah diberikan contoh skripsi belum oleh ci Anita?" tanya Pertiwi.


"Sudah semalam dan subuh tadi sudah saya baca sekilas," kata Mela.


"Itu skripsi aku," kata Pertiwi sambil senyum lebar.


Mela terkejut," Iya mba?".


Pertiwi menganggukan kepalanya.


"Itu jadi proyek percontohan kalau ada yang mengajukan pembuatan skripsi tentang Wiharja Farma 5 tahun yang lalu,"lanjut Pertiwi sambil tersenyum malu menutup mulutnya dengan tangan.


"Mela kamu silahkan bertanya dan aku akan mencoba menjelaskan sambil aku bekerja yah".


Mela lalu mengambil kursi dan duduk di depan Meja Pertiwi.


Mela mengajukan banyak pertanyaan, dan Pertiwi menjawab setiap pertanyaan Mela


"Kamu dari tadi mencatat secepat itu apakah ada yang tertinggal?" tanya Pertiwi.


" Tidak mbak, kan saya pake stenografi," jawab Mela.


Pertiwi kagum kepada Mela karena pandai berstenografi.


" Mela, dulu aku selalu nilainya C setiap pelajaran steno bahkan sekarang hilang dari benak".


"Saya harus bisa mbak, karena boss di Cirebon setiap pagi memberi perintah sambil mengomel. Dan yang harus saya lakukan banyak tidak boleh satupun terlupa. Jadi sambil mendengar omelan sambil mencatat".


Lalu keduanya tertawa ketika Mela menceritakan perihal Wak Atin.


Sambil mencari informasi, Mela juga banyak membantu pekerjaan Pertiwi. Dan membuat Pertiwi kagum sekali karena Mela sangat cekatan dan cepat menangkap apa yang harus dilakukan.


Saat istirahat siang sambil makan siang tiba-tiba Pertiwi berkata, "Nanti kalau aku cuti melahirkan kamu gantikan aku yah Mela".


"Wah Mbak mau banget, jadi asisten mbak juga mau. Saya sebenarnya sudah tidak nyaman bekerja disana".


"Tapi kan nanti Mela akan jadi adik ipar cici Anita loh".


"Ya Allah Mbak, saya tuh sama saja cuma pegawai dan pengurus di paviliun tempat dokter Anton tinggal disana. Tidak lebih mbak tidak ada hubungan spesial diantara kami".


"Tapi bagi kami, terutama bagi keluarga Wiharja dengan Anton membawa wanita kemari itu sangat luar biasa. Berarti dia sudah berani membuka hati kepadamu".


Mela hanya tersenyum sambil terus menjelaskan bahwa hubungan diantara Mela dan Anton hanya sebagai pengurus dan penyewa paviliun.


Lalu Pertiwi menceritakan kisah Anton, bahwa lima tahun lalu saat Anton mulai kembali menerima kenyataan dan mulai move on dari masa lalu hingga kembali kuliah meneruskan yang tertunda.


Pertiwi saat itu baru masuk bekerja menjadi staff akunting membantu pekerjaan cici Anita.


Saat itu Pertiwi sama seperti Mela sekarang bekerja sambil kuliah.


Cici Anita tertarik kepada cara kerja Pertiwi, sampai berinisiatif untuk mengenalkannya dengan Anton.


Pertiwi mencoba membuka hati Anton, tapi sangat sulit sekali. Seorang bernama Anton Wiharja walau sudah mulai berubah tapi dia sangat dingin dengan wanita.


Lama-lama Pertiwi merasa tidak tahan, sampai suatu saat di sore hari ada seorang polisi datang membeli obat.


Entah mengapa sore itu tidak ada karyawan bagian pelayanan satupun. Maka Pertiwi mencoba melayani, walau dia tidak paham soal obat.

__ADS_1


Waktu itu ada rasa takut juga karena berhadapan dengan polisi berseragam, lalu dia ditanya ini dan itu soal obat.


Karena tidak paham dan tak ada yang datang membantu, akhirnya Pertiwi menangis dihadapan polisi itu.


Polisinya malah menggodanya jadi semakin menangislah dia sampai akhirnya ada karyawan membantu.


Keesokan harinya polisi itu datang lagi, dan datang lagi mencari Pertiwi sambil pura- pura membeli obat.


Akhirnya merekapun berkenalan dan menjadi dekat. Hingga akhirnya polisi itu melamarnya dan sekarang menjadi suaminya.


"Aduh mbak so sweet banget, kapan aku punya kisah cinta seperti itu".


"Mbak yakin akan ada, bahkan mungkin saat ini secara tak disadari sedang berlangsung. Jangan tak percaya jodoh itu rahasia Allah," ujar Pertiwi sambil menggenggam tangan Mela dan disambut senyum oleh Mela.


Fajar Sanjaya adalah seorang keturunan etnis tionghoa asal batam dan juga merupakan menantu yang paling dibanggakan oleh Salim Wiharja karena dia seorang yang jujur, teliti bahkan dialah yang membantu usaha apotik menjadi berkembang pesat dengan menggandeng beberapa dokter terkenal dan juga bekerjasama dengan klinik -klinik ternama lainnya.


Fajar sarjana psikologi, saat itu dia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu Universitas Negeri ternama di kota Bandung. Baru dua minggu tinggal di Bandung mendapatkan kabar kedua orangtuanya meninggal dibunuh orang. Tak ada biaya dia untuk kembali ke Batam, maka hanya mendapatkan foto saat kedua orangtuanya tengah dimakamkan.


Ternyata selama hidup ayahnya terlibat hutang kepada rentenir maka rumahnya disita dan Fajar terlunta-lunta di kota Bandung sebatang kara.


Tapi dia tetap semangat, dia memutar otak untuk bertahan hidup. Soal kuliah tak masalah karena dia mahasiswa cerdas dan juga memiliki beasiswa. Namun perut dan tempat tinggal tak mungkin bisa kompromi. Maka sambil kuliah dia berjualan minuman ringan di depan kampusnya. Selain itu setiap pagi dia juga menjual gorengan atau makanan ringan lain kepada setiap mahasiswa yang datang.


Suatu hari di sebuah masjid dia melihat ada seorang gadis yang terlihat sama dengannya juga sedang beribadah disana.


Pemandangan yang jarang di pulau Jawa untuk seorang muslim etnis tionghoa.


Lalu Fajar mengajaknya berkenalan dan dia tidak malu menunjukkan dirinya sebagai penjual minuman ringan. Dan gadis itu menyambut baik perkenalan mereka.


Ternyata gadis itu satu kampus yang sama dengannya hanya beda fakultas, gadis itu di fakultas ekonomi jurusan akuntansi.


Setelah tahu anak gadis itu anaknya siapa, malah Fajar melamar pekerjaan ke apotik menjadi petugas kebersihan, lalu menjadi pengantar barang, dan dengan giat dia membantu pak Salim dalam setiap usaha di apotiknya.


Sampai akhirnya pak Salim paham bahwa anak muda itu ingin menjadi menantunya.


Diberikannya ujian dia harus dapat mengembangkan apotik dan berhasil.


Dia walaupun bukan marketing tapi orangnya gigih dalam berusaha sampai akhirnya pak Salim menyetujui Fajar menikahi Anita.


Banyak orang mencaci dia dengan sebutan nebeng hidup kepada keluarga istri, tapi tak peduli orang bicara yang penting dia jujur mencintai Anita dan jujur menyayangi keluarga Anita. Lagipula dia sudah tak punya siapapun hanya istri dan juga keluarga Wiharja.


Setiap karyawan yang melamar bekerja di apotik atau klinik pasti diwawancarai oleh Fajar, karena dia punya ilmu psikologi maka setidaknya dia bisa membaca karakter orang.


Dan memang selama ini jarang gagal dalam merekrut karyawan yang punya potensi dan mau bekerja keras.


Sore itu dia berkata kepada istrinya, "Bun..kalau aku iseng nih ajak Mela ngobrol boleh tidak? Aku ingin tahu dia arahnya kemana bersama Anton itu".


"Ya justru tadi bunda yang mau bilang itu ke ayah, penasaran dong. Secara banyak rumor mengatakan gadis cirebon matre..jadi pengen tahu dong gadis itu bagaimana".


Lalu mereka berdua sepakat mengajak mewawancarai Mela namun bermotif obrolan sore.


Keiza sedang dibawa oleh bi Encum main di halaman belakang. Anita sambil menyusui bayi Kaysan duduk di ruang keluarga bersama Mela.


Dia menanyakan sejauh apa yang sudah dibahas dengan Pertiwi tadi dan juga minta gambaran dari Mela tentang rencana mengangkat judul skripsi dari apotik dan kliniknya.


Melapun menjelaskan maksudnya mengangkat "Metoda pembukuan dan pengembangan investasi berikut pembagian hasil dalam usaha apotik dan Klinik di Wiharja Farma". Anita minta penambahan kata syariah, karena yang dilakukannya adalah akuntansi syariah. Maka Melapun menurut menambahkan kata Metoda Syariah dalam judul skripsinya.


Saat sedang berbincang masuklah Fajar dan ikut berbincang di sore itu. Tanpa Mela ketahui sesungguhnya hal ini sudah menjadi skenario mereka berdua.


Mulailah Fajar bertanya detail tentang kehidupan Mela dengan cara yang sangat rapih seolah tidak terasa bahwa sesungguhnya mereka sedang usaha memancing kejujuran Mela.


Dan Mela memang seorang gadis yang jujur dan apa adanya jadi apa yang ditanyakan dijawab dengan lugas tanpa ada kepura-puraan.


Lalu Fajar juga bertanya tentang kematian ayahnya. Dan Mela merasa keberatan kalau harus menceritakan tentang kematian ayahnya.


"Mela tidak boleh begitu, kamu seperti menyimpan dendam kepada penabrak. Benarkan sebetulnya kamu dendam?" tanya Fajar.


Lalu Mela mulai mengucurkan air mata, dia memang benar punya rasa dendam kepada penabrak.


"Apa yang membuatmu dendam selama ini, bukankah orang tuanya penabrak sudah bertanggung jawab kepada keluargamu?".


Mela menangis semakin menjadi, dan itu dipersilahkan oleh Fajar sebab beban terkungkung harus diungkapkan.


"Saya paling dekat dengan bapak, bagi saya bapak adalah orang yang terbaik dan terhebat dihidup saya. Tapi orang itu merengut nyawa bapak seketika itu juga. Kami hanya menerima jasad bapak tanpa ada pesan terakhir untuk kami. Lelaki itu menghilangkan nyawa bapak tapi dia tak pernah mau menemui kami. Hanya orangtuanya yang datang kepada kami memohon maaf dan memberikan santunan. Sampai hari ini tak pernah ada kata maaf keluar dari mulutnya kepada kami. seorang lelaki pengecut bersembunyi dibalik bayang kekayaan orangtuanya,"


Mela mencurahkan segenap perasaan yang selama ini dia pendam.


" Apakah kamu tahu siapa penabrak itu?,"tanya Fajar menyelidik.


"Hanya pemuda pemabuk yang tidak bertanggung jawab yang menggunakan motor besar secara ugal-ugalan dan menghajar motor bapak," jawab Mela.


" Dimanakah kejadiannya waktu itu?".


"Bapak bekerja di kecamatan dan Tujuh tahun lalu di daerah Sumber Kabupaten Cirebon saat itu bapak menuju pulang sehabis mengantarkan berkas dari kabupaten. Anak seorang pengusaha kaya berasal dari Bandung yang sedang mabuk dan ugal-ugalan menabrak bapak saya sampai meninggal seketika di tempat," Mela mengisahkan kejadian itu.

__ADS_1


Fajar dan Anita berpandangan dengan mata keduanya membulat penuh.


__ADS_2