Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kedua Puluh Delapan


__ADS_3

Miranti Chandra sedang duduk di mejanya sambil menatap laptopnya. Sesekali dia juga menatap cermin kecil yang sengaja dia simpan di mejanya.


Sambil mengetik dan mempelajari sesuatu masalah pekerjaannya, pasti dia juga sambil membetulkan entah perwarna alisnya, perwarna bibirnya atau bedaknya.


Dan sudah pasti cat kuku, tas dan sepatu setiap hari bergantian warnanya disesuaikan dengan pakaiannya hari itu. Misal pakaiannya merah pasti cat kukunya merah begitu juga tas dan sepatu, bahkan terkadang dia memakai warna yang agak ekstrim yang jarang orang berani pakai.


Misal warna pastel hijau muda menyala atau oranye menyala, dia tetap percaya diri dan tetap saja terlihat cantik.


Siang itu dia memakai pakaian agak kalem warnanya, dia memakai serba abu-abu. Hiasan matanya dan pewarna bibirnya juga ikut senada abu-abu tapi lebih muda. Memberikan kesan eksotik pada penampilan hari ini.


Namun apapun warna pakaiannya semuanya pasti serba ketat mencetak tubuhnya.


Mata lelaki mana yang tidak akan melirik, dari lelaki buaya darat sampai lelaki lugu polos pasti akan meliriknya.


Siang itu sambil mengetik dan sesekali melirik cermin, tiba-tiba saja telepon genggamnya berdering dan muncul nama dokter Jaka Suryana.


Jaka Suryana adalah salah satu dokter ahli bedah tulang di kota Bandung, dia adalah pria yang baik dan sangat sayang keluarga.


Dalam suatu seminar yang diadakan di kota Bandung, dokter Jaka bertemu dengan Miranti Chandra.


Seperti biasa sama dengan yang pernah dilakukannya kepada Anton, dia juga menggodanya membuat lelaki menjadi penasaran kepadanya.


Dokter Jaka akhirnya masuk perangkap Miranti dan merekapun sampai sempat berhubungan intim di suatu hotel berbintang.


Saat dokter Jaka masih tertidur, Miranti melakukan foto selfie di gawainya Jaka.


Dia memfoto dirinya dan Jaka dengan pose setengah telanjang, namun dia bergaya seolah dia dipaksa Jaka.


Lalu dia membuat folder dan disimpan foto itu, sehingga seakan Jaka yang melakukannya.


Setelah puas bercinta dengan Miranti maka Jakapun kembali ke rumahnya.


Anak laki-lakinya yang masih SMP biasanya suka meminjam gawai bapaknya untuk sekedar main game atau melihat video di aplikasi Yutub.


Tak sengaja hari itu sang anak melihat ke dalam galeri foto ayahnya dan dia menemukan folder foto tadi.


Segera anak itu berlari memperlihatkan foto itu kepada ibunya dan terjadilah perang Palestina dan Israel di rumah itu.


Jaka tak bisa mengelak lagi, istrinya lalu mengadukan perbuatan Jaka itu kepada keluarga besar suaminya.


Saat ini Jaka tersudut karena istrinya meminta cerai, dan keluarga besarnya semua menyalahkannya.


"Ada apa Jaka sayang, mau apa telepon aku ?"tanya Miranti dengan nada manja kepada dokter Jaka.


"Ranti tolong aku, tolong buat sebuah pernyataan bahwa antara kita tidak ada hubungan apapun. Istriku minta cerai gara-gara kamu menyimpan foto kita. Tolonglah aku, tak akan bisa kalau aku harus bercerai dengan istriku, "dokter Jaka memelas meminta tolong kepada Miranti.


"Hahahaha....apa urusannya sama aku sayang... kita kan sudah jelas dari awal hanya ingin bersenang-senang. Kamu mau cerai atau tidak, apa urusanku toh aku tidak menuntut apapun padamu , "tukas Miranti sambil tertawa terbahak.


"Tapi saat ini seluruh keluarga besarku menyalahkan aku dan tak ada satupun yang berpihak padaku. Aku mohon bantuanmu Miranti,"Jaka mencoba mengiba memohon pengertian Miranti.


"Jaka maaf itu adalah deritamu, bukan urusanku. Walau kau sampai bawa foto itu ke media atau pengadilan sekalipun aku tetap menang. Karena aku berpose seakan aku dipaksa olehmu... Hahaha," Miranti kembali tertawa senang.


"Sudah yah Jaka, aku banyak pekerjaan dan nanti siang mau spa susu agar kulitku lebih kinclong dan mulus... siapa tahu ada pria bodoh lagi sepertinya yang bisa aku perdaya.. hahahahha....".


Miranti menutup teleponnya dan dia tertawa senang karena ada satu lagi keluarga hancur karena dia.


Entah dia seperti mengidap penyakit kejiwaan, dia akan puas dan bahagia bila bisa menghancurkan rumah tangga orang lain, atau menggagalkan rencana pernikahan orang lain.


Dia terlahir dari seorang ibu yang sudah dikhianati oleh lelaki.


Mendiang Ibunya dulu dihamili oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab.


Saat Miranti terlahir mereka hidup berdua dan tak pernah ada lelaki yang mengaku sebagai ayahnya.


Pernah satu kali Miranti kecil dibawa menemui ayahnya dan yang didapat adalah usiran juga hinaan kepada ibunya dan dirinya.


Ibunya membesarkan dia dengan rasa dendam dan kecewa, sehingga diapun tumbuh menjadi seperti itu.


Sampai Ibunya meninggal dunia masih tersisa dendam yang tak terlunasi.


Sejak kecil bila dia melihat temannya sedang bersama ayah dan ibunya berbahagia, maka tak segan dia suatu saat akan mencelakakan temannya itu.


Pernah saat kecil dia ada tetangganya seorang anak bernama Aldi, dan Aldi adalah anak yang sangat dicintai oleh ayah dan ibunya penuh kebahagiaan.


Padahal keluarganya Aldi juga sayang kepada Miranti, nsuatu saat Miranti bermain ke rumah Aldi.


Dan ber pura-pura mau memasak Mie instan lalu masuk ke dalam dapur dan memanaskan tungku kompor gas.


Lalu dia menjerit-jerit minta tolong Aldi mengatakan gasnya bocor jadi tungku harus diangkat. Dengan polosnya Aldi menarik tungku yang panas itu dan seketika menjerit karena kedua telapak tangannya kepanasan dan terluka melepuh.


Melihat itu Miranti segera pergi dan seolah tidak ada masalah dengan Aldi. Ketika orang tua Aldi bertanya tentang perihal tadi kepadanya, maka dia hanya menjawab santai tanpa rasa bersalah.


"Aku tak tahu tante, itu Aldi yang saja tiba-tiba pegang dan aku tak pernah menyuruhnya,"dengan memasang wajah sedih dan menangis seolah dia adalah tertuduh.


Sore harinya Mela sudah tiba di kota Bandung setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam, jauh lebih cepat ke naik shuttle bus karena lewat jalan tol, hanya ongkosnya memang lebih fantastis dibandingkan naik bis.


Untung dibayari Anton, kalau dari saku sendiri tentu sangat mahal bagi Mela.


Setibanya di pool Bandung, Mela sudah dijemput oleh Fajar dan sopir yang sore itu memang lewat kearah pool tersebut.

__ADS_1


"Mela apa kabarmu....apa kabar juga keluargamu....apakah semua baik-baik sajakah?"tanya Fajar ketika Mela sudah duduk di kursi belakang mobil Minibus besar berwarna putih dan bertuliskan "WIHARJA FARMA".


"Alhamdulillah semuanya baik ko Fajar, bagaimana juga kabar ko Fajar dan cici Anita ju lga kabar mamah dan papah?" Mela bertanya balik kepada Fajar.


"Sama Mela... alhamdulillah kami dan anak-anak sehat semua, mamah dan papah juga alhamdulillah sehat"."


"Kemarin ini papah sempat terkilir tapi ternyata Wahyu bisa mengobati dengan mengurut pijat kakinya papah,"jawab Fajar sambil dia juga cerita tentang Wahyu adiknya Mela.


"Oh begitu, iya kalau Wahyu memang rajin pengajian dan sering belajar dari pak Ustad di kampung yang juga pandai pijat urut seperti itu".


"Ya itu saya sedang berpikir untuk mengembangkan keahliannya, siapa tahu nanti di klinik juga bisa buka pijat refleksi atau sejenisnya,"Fajar mulai memutar otak bisnisnya.


Mela hanya tersenyum sambil dalam hatinya bergumam, dasar memang orang keturunan Tionghoa apapun dijadikan bisnis.


Tak lama merekapun tiba tepat di depan apotik, lalu Mela turun membawa koper yang berukuran sedang.


Anitapun menyambutnya membawanya ke dalam rumah melalui pintu yang terhubung dengan kantornya apotik.


"Mela ayo makan dulu, aku paham kamu pasti belum makan dari tadi pagi yah," kata Anita sambil membawa Mela ke ruang makan.


"Pagi sudah sarapan roti dengan Anton, kalau siang memang belum makan," ujar Mela sambil malu-malu.


"Roti sih buat kamu cuma ganjel, sana cuci tangan, di meja sudah disiapkan oleh Encum,"kata Anita sambil dirinya ikut duduk di meja makan.


Melapun ijin ke toilet membersihkan wajah dan tangannya.


Saat kembali ke ruang makan terlihat bi Encum sedang turun dari lantai atas sambil menggendong bayi Kaysan yang tampak menangis minta susu.


Segera Anita menggendongnya, lalu membuka retsleting pakaian bagian depan dadanya dan mulai menyusui Kaysan di meja makan, pikirnya cuma ada Mela dan Encum saja saat ini.


Mela lalu bersalaman dengan bi Encum dan dia segera dipersilahkan makan oleh bi Encum.


Sambil Mela makan, maka Anitapun KEPO ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di Cirebon karena Anton tadi ketika menelepon sedikit bercerita bahwa dia dan Mela di usir.


Melapun mulai menceritakan kisah Wiwit dan Surya, juga wak Atin yang membencinya tanpa kejelasan lalu mengusir mereka hanya karena tidak mau melihat Anton dan Mela tampak bahagia.


"Aneh sekali Wak Atin itu, semoga diberikan hidayah agar beliau bisa berubah yah,"komentar Anita tentang kisah yang disampaikan oleh Mela.


Lalu tiba-tiba Fajar masuk, mendengar sedikit tentang kata hidayah, lalu dia menyetil istrinya dan berkata,"Ya Allah semoga isteriku dapat hidayah daripada Mu, agar bisa menyusui anak tidak di sembarang tempat agar tidak terlihat auratnya".


Anitapun segera menutup retsleting di depan dadanya dan buru-buru kabur ke kamarnya di atas sambil menggendong bayi Kaysan.


Encum hendak menyimpan tas Mela di kamar tamu dalam.


Tapi Mela menolak dan minta untuk ditempatkan di mess karyawan yang berada di belakang rumah Anita.


Anita keberatan karena dalam pikirnya Mela adalah kekasih Anton, tapi Mela memaksa untuk tidur di mess karyawan saja agar dekat dengan adiknya.


di kamar dalam bila sudah sah dengan Anton.


Anita semakin jatuh hati kepada calon iparnya ini, dia semakin yakin bahwa Mela memang tulus mencintai adiknya, tulus ingin bekerja dengan benar dan tidak memanfaatkan kondisi untuk bisa pamer setidaknya dia kelak menjadi bagian keluarga Wiharja.


Seharian Anton tidur di rumah Jaya, sudah menempati salah satu kamar kosong yang ada di rumah tersebut.


Jaya mengajak Anton untuk sementara tinggal di rumahnya, tidak usah bayar kontrakan cukup tiap bulan berbagi bayar listrik saja.


Jaya sedang pergi ke rumah pak RT setempat untuk memberitahukan kalau di rumahnya ada tamu yang akan lebih dari 2 x 24 jam tinggal bersamanya.


Malam itu Anton sudah selesai ibadah Isya, lalu dia duduk menyelonjorkan kakinya di sofa rumah Jaya.


Lalu dia membaca pesan chat dari Mela yang mengabarkan sudah tiba di rumah keluarganya dan tadi dijemput oleh ko Fajar kakak iparnya Anton beserta sopir.


Dan ada chat tambahan yang membikin geli membacanya karena Mela sangat polos dan lugu.


M: Yang, maafkan memang benar dulu uang kontrakan paviliun aku ambil 5 juta karena atas persetujuan wak Atin. Sungguh aku menggunakan uang itu untuk pelunasan sekolah Wahyu.


M : Bila memang aku harus membayar setengahnya kepadamu tidak apa-apa nanti aku minta cici Anita memotong gajiku setiap bulannya untuk mencicil mengembalikan uang itu padamu.


Anton tak habis pikir ada wanita polos begini, selugu ini dan sejujur ini.


Dia kan calon suaminya Mela, sudah sewajarnya lelaki tidak akan meributkan uang seperti itu.


Apalagi dulu itu kan uang kantor bukan dari dompet pribadinya.


Dia takjub akan gadis ini dan dia merasa bersyukur bisa memiliki Mela yang tidak pernah menuntut apapun.


A: Aduh Say... itu dulu uang kantor dan aku juga tahu kalau kamu mendapat uang pasti bukan untuk urusan pribadi.


Aku tidak menagih benaran kok, hanya mengerjai wawak mu saja.


M: Terima kasih Yang, maaf keluargaku aneh seperti itu. Aku jadi sangat malu terhadapmu.


A:Sudah jangan dipikirkan, yang penting kamu sudah bersama cici Anita dan aku juga sudah aman bersama Jaya.


Dan merekapun mengakhiri chatnya.


Jaya pun masuk ke dalam rumah sambil membawa bungkusan makanan.


"Makan kita bro dokter, aku bawa dua bungkus nasi cap cay. Aku tahu bro dokter dari siang belum makan hanya tidur terus".

__ADS_1


"Bro Jaya aku tidak apa kan jika duduk selonjoran di sofa mu ini?"tanya Anton merasa tak enak hati.


"Santai bro dokter, di sini cuma ada aku dan bro dokter.. Eh...cuma nanti tiap pagi ada cewek cantik namanya Mak Deti tukang bersih-bersih dan cuci setrika," Jaya menerangkan sambil tangannya membentuk lekukan tubuh wanita seksi ketika menyebut nama Mak Deti.


"Dari namanya saja udah Mak Deti, pasti sudah tualah...hahahaha," timpal Anton sambil tertawa.


"Kita nanti berbagi lagi yah bro untuk honor Mak Deti tiap minggunya,"Jaya berkata sambil mengangkat alisnya.


"Siap..asal jangan sampai berbagi pacar saja ....hahahaha," kata Anton yang langsung di sambut gelak oleh Jaya.


Sambil makan Jaya bertanya kepada Anton soal kondisinya sekarang," Bro dokter apa masih sakit kepalanya?".


"Sekarang sudah mending bro Jaya, kemarin dan tadi pagi sangat sakit sekali".


Anton diam sejenak dan meneruskan kata-kata," Entahlah setelah kecelakaan dulu, setiap aku mendengar ada orang marah- marah sampai menjerit atau dalam situasi panik tidak karuan. Pasti aku akan sakit kepala seperti tadi".


"Kok bisa bro dokter, memangnya dulu bagaimana kisahnya sampai bro dokter kehilangan kaki?"tanya Jaya jadi serius.


"Ya dulu aku mabuk sambil naik motor besar. Dulu motorku type Ninja 250 CC bro, keren dan mahal di jamannya".


Jaya mengangguk membenarkan bahwa memang motor seperti itu sampai sekarang juga masih mahal.


"Cemen sih kalau dipikir lagi sekarang, gara-gara cewek aku mabuk dan nabrak orang sampai meninggal. Lalu aku terhempas ke pohon besar, kakiku menghantam pohon dan juga dihantam motor. Remuk hancur tulangnya jadi harus diamputasi. Dan keluargaku mengatakan aku koma 5 bulan karena gegar otak. Mungkin itu penyebab aku sering sakit kepala, " Anton berkisah panjang lebar soal masa lalunya.


"Tragis bener bro dokter..Tapi....cewek seperti apa yang sampai bisa membuat bro dokter patah hati, cerita lah kita kan sudah seperti saudara nih," pinta Jaya kepada Anton.


"Hahahaha... Dia pacar pertama dan cinta pertama ku bro, aslinya orang dari Semarang, aku susul dia dari Bandung naik motor ke Semarang. Eh sampai sana tidak ada dong orangnya. Aku dan orang tuanya keesokan harinya baru mendapat info kalau dia ada di Cirebon sedang ada acara di hotel BTN. Aku susul dong ke sana, eh... Sampai hotel bukan ada acara tapi sedang tidur bersama lelaki lain, "Anton bercerita kepada Jaya tentang masa lalunya dengan nada santai sekali.


" Wah... ceritanya di curi orang duluan dong yah... pantas murka....hahahaha," Jaya menyahuti sambil tertawa.


"Hahahaha... tidak juga bro, aku dapat dia juga sudah tahu kalau dia sudah tidak original".


"Kok bisa tahu....hayo..Jujur...dong... Jujur..berarti kalian sudah pernah dong," selidik Jaya sambil jari telunjuknya menunjuk kepada Anton dan memasang muka tengil.


"Hahahaha.....iya......hahahaha.......Aku jujur....hahahaha... karena dulu juga aku digoda sama dia di tempat kostnya jadi saja tahu... hahahahah".


"Hahahaha ....bro dokter sama saja nih br*ngs*knya sama aku dong .. hahaha


....kacau juga rupanya hidupmu dokter".


"Husshhh....beda bro Jaya, dulu aku cuma sama pacarku dan itupun cuma sekali aku lakukan..... kalau bro Jaya kan kambing pakai pita juga diembat


....hahahahaha".


"Tapi bro dokter hebat juga yah, sudah tahu tidak original tapi masih dicintai... berarti dia cantik dan istimewa dong?"


Jaya memang sangat detail menyelidik orang.


"Aku akui dulu dia memang yang paling cantik di kampus kami".


"Kalau yang sekarang bagaimana dok, tampaknya disimpan rapat oleh bro dokter nih".


"Sorry bro, yang ini sih istimewa sekali. Makanya aku simpan di markas besar biar aman bersama keluargaku".


"Benar bro dokter bisa saja deh, pandai memilih padahal dulu gadis itu juga aku incar ... hahahaha,"Jaya tertawa sambil mengacung-acungkan jarinya.


"Makanya daripada jatuh ke tangan kucing garong macam dirimu, lebih baik segera aku amankan.... hahahhaah".


Keduanya pun tergelak, Jaya sangat tak menyangka kalau Anton sebenarnya orangnya gaul dan enak untuk dijadikan teman baik.


Ketika mereka selesai makan, keduanya masih duduk di ruang santai rumahnya Jaya sambil berbincang ngalor ngidul lagi, tiba-tiba ada video call masuk dan tertera nama PT. GOLDEN.


Jaya yang sedang duduk di dekatnya tak sengaja melihat nama yang tertera pada ponsel Anton.


"Kok dari PT. GOLDEN sih ?"tanya Jaya merasa aneh ada perusahaan malam- malam melakukan video call.


"Ku angkat pasti repot, tak diangkat berisik, bagaimana nih angkat jangan bro Jaya?"tanya Anton kepada Jaya.


"Kalau aku sih pasti mengangkat siapa tahu ada perlu, "jawab Jaya dengan lurus.


Lalu Anton mengangkatnya, lalu muncul wajah Miranti, " Anton selamat malam


...apa kabarmu...sombong sekali kamu tak pernah menelepon atau mengirim pesan padaku".


Miranti memasang wajah manja sangat menggoda, dan Jaya ikut mengintip dari samping Anton.


"Hai Miranti, maaf aku sibuk sekali jadi suka lupa menelepon atau membalas pesanmu".


"Ngaku saja kalau memang sudah tidak kangen lagi sama aku, nanti aku kasih lihat yang pasti bikin kamu kangen sama aku".


Anton was -was takut Miranti berbuat aneh-aneh, sementara Jaya semakin serius mengintip.


Lalu Miranti tampak menjauhi kamera ponselnya dan tampaklah pada layar ponsel Anton, sosok Miranti yang hanya memakai gaun malam tipis dan di dalamnya tidak mengenakan apapun lagi.


"ASTAGFIRULLAH!!!!,"seketika itu juga Anton langsung mematikan ponselnya.


"Kok dimatikan bro..., waduh... hiburan gratis itu!!!, "pekik Jaya sebal karena ponsel Anton dimatikan.


"HARAAAAAMMMM!!!", teriak Anton sambil masuk ke kamarnya

__ADS_1


Lalu Jayapun tertawa terbahak-bahak tertawa melihat sahabatnya itu.


__ADS_2