Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Ketujuh Puluh Empat


__ADS_3

Masih berkaitan dengan ulang tahun Mela, hari ini hari Minggu tanggal 31 Maret.


Dua puluh tujuh tahun lalu Mela dilahirkan dari rahim Ibu Marsinah sebagai hasil buah cintanya dengan pria bernama Suganda.


Dia anak pertama dari pasangan itu, sejak kecil sudah menjadi anak yang mandiri.


Kehidupannya sangat pas-pas an namun keluarga pak Suganda merupakan keluarga bahagia.


Walaupun pekerjaan pak Suganda hanya pesuruh di kecamatan, setidaknya masih bisa menghidupi dan menyekolahkan ketiga anaknya.


Sampai akhirnya beliau harus berpulang dengan cara yang cukup tragis yaitu tertabrak oleh Anton sampai meninggal.


Dan Anton sebagai yang telah menabrak ayahnya Mela, kini bertanggung jawab penuh atas kehidupan anak pak Suganda itu.


Mela telah menjadi istrinya dan Anton berjanji akan selalu setia sampai maut memisahkan.


Dini hari ini Mela mengucapkan syukur dan memohon petunjuk dari Allah agar dia dan suami bisa diberikan kepercayaan untuk memiliki keturunan.


Lalu Mela meniup lilin yang berada di atas kue ulang tahun yang spesial dari suaminya tercinta.


"Kue nya jangan dipotong yah... bentuknya bagus sekali. Aku suka sekali...terima kasih Pi," kata Mela sambil menatap kue yang bentuknya sangat indah itu.


"Ini jam berapa...ayo tidur... bukan waktunya makan kue. Nanti saja pagi kita makan kue nya," kata Anton sambil menutup kembali kotak kue itu.


Jaya mencebik sambil berkata ," Dasar orang pelit, aku sih makan jam berapa juga jadi dong".


"Jangan Bang, kasihan perut kita. Jam segini jangan mengisi perut dengan makanan nanti malah berbahaya menjadi penumpukan lemak," kata Haikal memberitahukan Jaya.


"Memang susah punya teman dokter, keduanya sangat cerewet kalau menyangkut makanan dan kesehatan," kata Jaya sambil manyun.


"Ya sudah namanya juga sedang numpang di rumah dokter, jadi harus menurut daripada disuruh tidur di halaman...hahaha," kata Miranti kepada Jaya.


"Hmmm...kalau tidurnya berdua kamu sih, mau di halaman atau di jalanan juga aku rela kok ," Jaya merayu Miranti.


"Hei...Jaya dan Haikal silahkan out dari sini, Miranti tidur saja di kamar kosong di rumah ini. Ayo kalian berdua silahkan pergi," Anton mengusir kedua teman prianya itu.


Mela lalu mengajak Miranti ke kamar yang tadi dipakai mereka untuk berlatih memakai kerudung.


Sambil Mela memasukan kue ulang tahunnya ke dalam lemari es.


"Awas bro jangan salah masuk kamar tidur yah," kata Jaya ketika akan pergi dari kediaman Anton.


"Hmmm...itu urusan aku dong. Mau salah kamar atau tidak, kamu tidak perlu ikut campur, sekarang aku yang mengatur ," tukas Anton sambil mengunci pintu pagar.


Jaya mengacungkan tinjunya dan Anton menjulurkan lidah mengejek temannya itu.


Sambil masuk ke rumah, Anton berguman ," Sampai aku salah kamar, pasti akan ada yang menyunat ulang...tamat riwayatku".


"Mbak tapi di kamar ini dan kamar depan tidak ada kamar mandi di dalam. Jadi kalau mau ke kamar mandi itu yang ada di sebelah dapur ," Mela menjelaskan kepada Miranti.


"Ya aku tahu kok, kan tadi juga sudah bolak-balik ke sana kok".


Lalu Mela pamit untuk tidur kembali ke kamar tidurnya.


Saat itu Anton baru selesai mengunci pintu rumah, saat hendak menuju kamar terlihat istrinya berdiri di depan kamar Miranti sambil berkacak pinggang.


Melihat itu Anton segera masuk ke dalam kamar tidurnya disusul oleh Mela.


"Untung saja ingat dimana kamar tidurmu, kalau sampai salah masuk kamar pasti ku cincang habis ," ujar Mela sambil mengunci pintu kamarnya dari dalam.


Anton segera berbaring di tempat tidur lalu memejamkan matanya, Mela mematikan lampu sambil menyalakan lampu tidur yang remang.


Lalu dia berbaring di sebelah suaminya. Baru saja mau terpejam matanya, ada tangan sibuk menggerayangi tubuhnya.


"Mi...bonus ulang tahun dong," rengek Anton kepada istrinya.


"Ya ampun, harusnya aku yang dapat hadiah tapi malah Pi yang minta bonus ," tukas Mela sambil pura-pura marah.


Tapi Anton tak peduli lagi, dia langsung meraih istrinya ke dalam pelukan dan terjadilah bonus ulang tahun di dini hari itu.


Sehabis sholat subuh tadi, semua tidur lagi karena semalam kurang istirahat.


Miranti membuka matanya dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


Dia bangun dan keluar kamarnya, tidak ada seorang pun di sana. Mungkin Mela dan Anton masih tidur pikirnya.


Miranti segera menuju kamar mandi dan membasuh seluruh tubuhnya. Setelah selesai masih juga belum terlihat ada tanda-tanda kehidupan.


Dia segera menuju kamar tidurnya dan segera berdandan rapih.


Ketika selesai berdandan masih juga belum ada yang bangun dari kamar Anton dan Mela.


Miranti berinisiatif membuat sarapan dan dia memeriksa isi lemari es.


Ketika sedang melihat isi lemari es, terdengar suara mobil berhenti di muka rumah.


Miranti menutup lemari es dan mengintip dari tirai jendela, dikiranya Jaya dan Haikal yang datang.


Ternyata dia melihat sebuah mobil minibus besar bertuliskan apotik Wiharja Farma.


Rupanya keluarga Fajar dan Anita datang berkunjung, Miranti cukup kebingungan karena yang empunya rumah belum bangun tidur.


Dia segera membuka pintu dan membuka gembok pagar yang kebetulan kuncinya bersatu di gantungan kunci pintu rumah.


"Loh kok....apa saya salah rumah?" tanya Anita saat hendak masuk pagar.


Dia kaget karena yang membuka pintunya adalah Miranti.


"Silahkan masuk Ibu Anita, benar ini rumah dokter Anton dan Mela. Tapi mereka belum bangun," sahut Miranti menjelaskan.


Anita mengernyitkan kening dan dia segera masuk ke dalam rumah.


Di sana dia bingung karena belum tahu kamar Mela, tapi melihat ada dua kamar lain terbuka pintunya maka dia yakin kamar yang tertutup adalah kamar adiknya dan istrinya.


Anita mengetuk pintu dengan sekencang-kencangnya.


TOK...TOK...TOK....


"ANTON....!!!!! MELA....!!!!"


Teriakan Anita sepertinya bisa terdengar sampai ujung jalan.


Mela terkejut ada seseorang mengetuk pintu sekencang itu dan segera membuka pintu.


Dilihatnya kakak iparnya ada di depan kamar dengan wajah penuh amarah.


"Mela...mana Anton monyong?" tanya Anita sambil mendorong pintu kamar dan menerobos masuk.


Anton baru saja bangun, nyawanya belum juga kumpul. Dan tiba-tiba Kakaknya masuk kamar dan menghampirinya lalu menindih punggungnya.


Anita menindih punggung Anton sambil tangannya menjambak rambut adiknya itu.


Anton tentunya kesakitan tapi dia bingung tidak paham kakaknya berbuat begitu.


"Anton monyong...kemarin Ini Triana, sekarang ada Miranti. Jelaskan maksudnya apa semua ini?"tanya Anita sambil meremas rambut adiknya dengan kasar.


Mela juga bengong melihat kemarahan Anita seperti itu.


"Bagaimana aku bisa menjawab kalau disiksa begini," kata Anton sambil menahan sakit.


Anita lalu melepaskan tindihan badannya tapi belum melepaskan cengkeraman jambakan rambutnya dari kepala Anton. Memang kadang kakak perempuan suka lebih kejam kepada adik lelakinya.


"Ci...dilepas dulu dong rambutku, sakit tahu....," kata Anton memelas.


"Ogah...jawab dulu pertanyaanku dengan jelas".


"Cici...maaf sebenarnya ada apakah?" Mela tampak bingung melihat kedua kakak beradik ini tiba -tiba saling baku hantam.


"Heh...bukannya kamu juga yang bilang kepadaku tentang Triana dan sekarang ada Miranti. Kalian sudah gila kah, ada wanita lain di rumah ini !" Anita terlihat sangat emosi.


"Ci...Miranti menginap karena hari ini ulang tahun Mela. Dan Triana sudah hilang dari muka bumi ," sahut Anton agar bisa segera melepaskan diri dari jambakan kakaknya.


"Benarkah apa yang Anton katakan" tanya Anita kepada Mela dengan wajah bengis.


"Cici...sabar...jadi begini....".


Mela kemudian menceritakan semua kejadian Triana dan juga Miranti.


Anita mendengarkan sampai akhirnya remasan tangannya mengendur di kepala Anton.


Mela menceritakan dengan detail semua kejadian Triana yang sampai akhirnya dikembalikan ke kota asalnya.


"Hmmm...Ya syukur kalau benar sih, aku khawatir Anton macam - macam sama kamu ," kata Anita kepada Mela tapi melirik Anton dengan pandangan menusuk.


Kemudian Anita dan Mela keluar kamar dan di depan kamar ada Fajar yang sibuk menyuapi Keiza sambil mengganti pokoknya Kaysan yang sudah penuh.


Melihat itu Anita segera meraih dan menangani Kaysan, sementara Fajar meneruskan menyuapi Keiza.


"Kei kan sudah bisa makan sendiri, mengapa sih masih harus disuapi Ayah?"tanya Anita kepada gadis kecilnya.


"Kan ini bukan rumah kita, jadi Kei maunya disuapi Ayah,"jawab Keiza sekenanya.


Namanya juga anak-anak pasti sesukanya saja kalau menjawab.


"Dia masih merasa asing Bun, nanti juga kalau sudah terbiasa pasti mau melakukan apapun sendiri ," Fajar menyela berusaha membela anaknya.


Memang Anita lebih galak kepada anak dibandingkan suaminya yang lebih sabar dan bijak dalam menangani anak mereka.


Anton baru saja keluar kamar dan melihat ada dua keponakan kecilnya.


Anton segera menggendong Kaysan, dan anak itu tertawa-tawa saat diangkat tinggi oleh pamannya.


Lalu Keiza juga tak mau kalah, dia juga minta digendong Anton.

__ADS_1


Maka Anton memberikan lagi Kaysan kepada ibunya, lalu dia sekarang menggendong Keiza.


Keiza memegang bibir Anton sambil berkata ," Oom Ton, bibirnya tidak monyong kan?".


Anton menggelengkan kepalanya.


"Tapi kata Bunda sih Oom Ton itu monyong, Kei sering dengar Bunda bicara itu sambil marah ".


Anita langsung wajahnya merah membara, lalu dia melirik suaminya yang sedang menatap tajam ke arah dirinya.


Anton cekikikan melihat kakaknya takluk oleh tatapan suaminya.


"Oom Ton tidak monyong Kei, kan Oom Ton selalu paling ganteng. Tidak ada kok yang monyong itu ," ujar Anton sambil mencium kening keponakannya.


Lalu Keiza menatap ibunya dan berkata ," Bunda...!!! tidak boleh bicara monyong lagi sama Oom Ton. Ini Oom nya Kei, Oom ganteng".


Miranti berbisik kepada Mela di dapur ," Aku kasihan kepada Pak Fajar, dari tadi sibuk dengan anak-anak sementara Ibu Anita terdengar sedang marah-marah di kamar kalian".


"Ingin rasanya membantu pak Fajar, tapi aku memilih diam di sini saja deh. Takut soalnya nanti aku membantu malah ada yang marah ".


Mela tertawa kecil mendengar ucapan itu, tapi dia tidak bisa berkata apapun karena Anita adalah kakak iparnya.


Orangnya memang ketus dan galak, tapi hatinya sangat baik.


"Anton coba lihat di depan ada siapa...," kata Fajar dan membuat Anton menjadi penasaran.


Di teras rumah terlihat ada gadis muda berhijab, memakai pakaian casual dan bersepatu sneaker.


Duduknya ala lelaki, di telinganya terpasang head set mendengarkan lagu dari gawainya.


Sementara kedua tangannya sedang sibuk bermain game dari gawai tersebut.


"Apri...benarkah itu Aprilia ?"tanya Anton kepada kakak iparnya.


Fajar menggangguk sambil masih menyuapi Keiza yang makanannya tinggal sedikit lagi.


Lalu Anton ke depan memastikan ingin melihat sepupunya dan dia juga merasa kaget sepupunya itu bisa ada di sini.


Masih ingat sosok Septa kan, sepupunya Anton dari kota Garut. Pemilik sebuah hotel dengan pemandian air hangat di kota itu.


Septa memiliki dua orang adik, yaitu Janwar dan Aprilia. Kalau Janwar juga sudah menikah, tinggal adik bungsunya yaitu Aprilia yang sekarang ada di teras rumah Anton.


Aprilia adalah gadis tomboy, karena dia memiliki dua kakak lelaki.


Dan kelebihannya adalah dia gadis yang cuek sekali, dia bukan tipe gadis yang suka ingin tahu urusan orang lain.


Yang penting enjoy saja, orang lain mau jungkir atau balik asal tidak ada kaitannya dengan dirinya, maka dia acuh saja.


"Bro...ngapain ke Cirebon?"tanya Anton sambil menarik salah satu kabel head set dari telinganya.


Saking tomboynya gadis itu, sampai Anton juga memanggilnya dengan sebutan bro.


Aprilia melirik ke arah Anton sambil tersenyum ," Woi...Kak Anton...aku nginep sini yah. Ada kerjaan nih di Cirebon barengan teman".


"Tumben banget ada kerjaan di sini, masuk dulu...bawa kopermu masuk. Dari tadi bukannya masuk malah duduk saja di depan".


"Gerah Kak di dalam, kalau di teras mendingan ada angin".


Tapi Anton tetap memintanya masuk ke dalam rumah.


"Bilang dulu sama istriku kalau mau menginap di sini ," goda Anton kepada sepupunya.


"Dimana Mbak Mela nya...?"tanya Aprilia sambil celingukan bergaya lelaki.


"Masuk sana ke dapur, dia di sana sama temannya sedang membuat sarapan. Bantuin sekalian bro...," kata Anton iseng, maksudnya agar sepupunya itu mau sedikit menjadi perempuan.


Fajar dan Anita yang masih sibuk dengan anak-anak hanya senyum saja melihat keisengan Anton.


"Mbak Mela...".


"Hai Apri...kamu ikut juga kemari, Masyaallah...senang sekali kamu bisa kemari".


Mela memeluk dan tempel pipi kanan kiri kepada Aprilia, lalu dia mengenalkan Miranti juga kepada sepupu suaminya itu.


"Tunggu sebentar di depan yah, Mbak sedang membuat sarapan nanti sebentar lagi selesai," kata Mela kepada Aprilia.


Lalu Aprilia mengangguk dan kembali ke ruangan makan yang ada kakak-kakak sepupunya sedang berbincang sambil sibuk urusan anak-anak.


"Loh kok tidak membantu istriku di dapur?" tanya Anton ketika melihat sepupunya malah kembali lagi.


Aprilia tak acuh lalu dia mendekati sofa di ruang televisi yang bersebelahan dengan ruang makan.


Lalu dia tidur selonjoran di sofa sambil berkata ," Biarin lah urusan perempuan kalau dapur sih, aku ngantuk banget ".


Anton dan Anita berpandangan sambil melipat bibirnya masing-


masing.


"Tuh anak kapan yah bisa jadi cewek sebentar saja," ujar Anton sambil geleng-geleng kepalanya.


Tak lama Mela membawa sarapan bagi untuk semua keluarga besar suaminya, walau agak terlambat tapi semua makan dengan gembira.


Aprilia habis makan duduk di teras depan lagi, karena menurutnya duduk di dalam gerah.


Dia dengan santai duduk di bangku sambil kakinya selonjoran ke atas bangku satu lagi.


Dia mendengarkan lagu lagi sambil main game online.


Haikal dan Jaya datang dengan naik motor seperti biasa. Maksud Haikal mau memberitahukan kepada Anton sebaiknya acara untuk Mela di adakan di kediamannya saja.


Selain beberapa bahan makanan seperti ikan bumbu kemarin ada di rumahnya, juga setidaknya di kediaman Haikal ada asisten rumah tangga yang bisa membantu Mela.


Saat menghentikan motornya Haikal melihat ke teras rumah. Ternyata ada penampakan gadis cantik tapi sangat acuh tak acuh.


Bahkan gadis itu terlihat tidak peduli ada Haikal dan Jaya datang.


"Waduh...gadis jenis Haikal ini sih, mau ada bom meledak juga asal tidak kena ke dirinya sih cuek saja," komentar Jaya saat melihat Aprilia.


"Assalamualaikum".


Hening saja, yang terdengar hanya suara berisik dari Head set yang sedang dipakai gadis itu.


"Assalamualaikum ".


Kembali Haikal menyampaikan salam, dan sekarang salam Haikal terdengar ke dalam.


Anton segera membalas salam tersebut.


"Walaikumsalam".


Tiba di pintu dilihatnya ada dua sahabatnya datang tapi mereka tak bisa masuk karena terhalang kaki Aprilia.


Anton menepuk bahu Aprilia sambil berkata ," Bro, minggir bentar ada temanku datang".


Haikal tersenyum saat gadis itu dipanggil bro oleh Anton.


Mereka berdua diajak masuk oleh Anton, dan bertemu dengan Fajar dan Anita.


"Ini nih Jaya katanya bulan depan mau mengajak nikah Miranti," ujar Anton menggoda sahabatnya.


Jaya tersenyum malu sambil pura-pura menonjok perut Anton, sementara Miranti juga hanya senyum-senyum malu.


Haikal lalu menyampaikan idenya tadi kepada Anton. Kemudian Anton menyampaikan kepada Mela.


Setelah berdiskusi akhirnya mereka setuju, dan semua yang sudah disiapkan Mela termasuk kue ulang tahunnya dibawa ke rumah Haikal.


Karena banyak personil maka semua naik mobil Fajar yang sudah pasti memuat banyak orang.


Setibanya di rumah Haikal, ternyata rumah itu memang mewah dan luas halamannya.


Keiza senang berlari-larian di halaman rumah itu, begitu juga Kaysan yang sedang belajar berjalan sangat senang berjalan di rumput yang halus.


Aprilia juga berjalan-jalan, sangat menikmati halaman luas itu bahkan sampai ke halaman belakang.


Di belakang rumah Haikal ada pohon jambu klutuk atau sering disebut jambu batu.


Pohonnya tidak terlalu tinggi tapi buahnya lebat, bahkan banyak yang sudah menguning.


Aprilia sangat tertarik lalu dia memanjat pohon itu, dicarinya dahan yang agak lebar dan dia duduk sambil memetik sebuah jambu itu.


Buah jambu dia lap dengan bajunya dan siap digigitnya.


"Hati-hati, sebaiknya dibelah dulu. Terkadang suka ada ulat kecil di dalam buah itu !" seru Haikal dari bawah pohon.


Aprilia kaget dan hampir hilang keseimbangan, Haikal segera meloncat naik dan memegang punggungnya.


"Hati-hati bro, nanti jatuh," ujar Haikal kepada Aprilia.


"Hahahaha...itu panggilan Kak Anton, dasar dia sih selalu begitu sama aku," kata Aprilia sambil tertawa.


"Jadi siapa dong namamu, biar aku juga tidak memanggilmu bro. Aku Haikal ," kata Haikal sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Aprilia, tapi panggil saja Apri yah...jangan panggil Lia atau April...terlalu lebay sekali," sahut Aprilia sambil membalas uluran tangan Haikal.


"Berarti memang cocok yah dipanggil Bro, karena panggilan Apri kayak nama cowok...hahahah".


Lalu keduanya tertawa, dan mereka mengobrol di atas pohon.


Aprilia menjelaskan siapa dirinya dan kepentingannya di kota ini.


Dia ada pekerjaan bersama dengan teman-temannya membuka project radio untuk anak muda.


Pekerjaan Apri selama ini adalah seorang announcer alias pembawa acara di sebuah radio di kotanya.

__ADS_1


Kebetulan temannya ada yang akan membuka stasiun radio anak muda kekinian di kota Cirebon dan dia dilibatkan sebagai salah satu penyiarnya.


"Sekalian aku melatih juga untuk pemula di sini, nanti kalau sudah jalan proyeknya aku bisa kembali ke kotaku atau ke kota lain untuk proyek baru lagi ".


"Kebetulan temanku memang punya banyak jaringan dan kenalan juga punya modal, jadi dia membawa teman-teman untuk gabung di stasiun radionya ," Aprilia menjelaskan pekerjaannya kepada Haikal.


Tapi dari tadi dia tidak bertanya siapakah Haikal, memang gadis itu cuek sekali.


Tak lama mereka berdua dicari oleh Jaya dan Miranti, tentu saja keduanya kaget melihat Haikal dan Aprilia sedang santai di atas pohon.


"Woi...ayo kalian turun, makanan sudah siap !!!" teriak Jaya kepada kedua insan di atas pohon.


Lalu keduanya segera turun dari pohon, dan Aprilia berkata ," Bro, nanti abis makan kita ngobrol lagi di atas yuk. Enak banyak angin, di rumah gerah deh".


Haikal mengangguk setuju dan mereka berdua masuk ke dalam rumah.


Acara di mulai, Mela kembali meniup lilin ulang tahunnya karena anak-anak kecil berdua ikut sibuk ingin meniup lilin.


Setelah itu kue dipotong, sambil Mela terlihat sangat sayang kepada kue yang bentuknya bagus itu.


Kedua anak kecil bahagia sekali menerima potongan kue, dan Keiza sekarang berani makan sendiri.


Kaysan juga makan sambil belepotan krim kue di pipinya.


"Ayah ini rumah Oom Ton juga yah?" tanya Keiza kepada Fajar.


"Bukan nak, ini rumah Oom Haikal. Rumah Oom Ton belum ada, masih pinjam rumahnya dari Oom Haikal," kata Fajar mencoba menjelaskan kepada anaknya.


"Kenapa pinjam...harusnya dibeli saja rumah ini. Enak besar sekali terus ada yang seperti bibi Encum nya banyak," maksudnya di rumah itu banyak asisten rumah tangga.


"Iya nanti Oom Ton juga akan punya rumah besar tapi bukan rumah ini ," kata Fajar kepada anaknya menjelaskan lagi.


Dasar anak kecil, dia sangat menikmati sekali tinggal di rumah milik kakeknya Haikal itu.


Mereka semua makan siang bersama, banyak aneka rupa masakan.


Mela juga membawa banyak bahan masakan dan tadi sempat memasak dibantu oleh asisten rumah tangga dan juga Miranti.


Tentu saja tak ketinggalan, makanan spesial keluarga Wiharja kalau ada yang ulang tahun yaitu mie ulang tahun.


Dan Mela memang sudah bisa memasaknya, diakui juga oleh Anita kalau masakan Mela cita rasanya sudah sama dengan lidah keluarga Wiharja.


"Nah ini baru istriku, pandai memasak juga pandai mengikuti kebiasaan keluarga suami. Makanya jadi perempuan harus belajar masak biar nanti di sayang suami," kata Anton sambil menyindir Aprilia.


Tapi yang disindir santai saja sambil asik menikmati makanannya.


Setelah makan semua mengobrol di ruang keluarga, termasuk Haikal. Dia menjelaskan kepada Fajar dan Anita tentang rencana Anton membeli rumah milik ibunya yang berada di dekat portal masuk ke perumahan ini.


Semuanya tertarik ingin melihat rumah yang dimaksud tadi.


Ketika semua bubar untuk melihat rumah yang dimaksud, ternyata Aprilia tidak ada.


Dan Haikal mengatakan dia tahu dimana Aprilia berada, dia segera menuju ke belakang rumahnya.


Benar saja gadis itu sedang duduk di atas pohon lagi dan sekarang sambil menghisap sebatang rokok.


Haikal lalu ikut naik ke pohon sambil berkata ," Wow bro, merokok nih".


"Iya lah buat iseng saja, kalau habis makan suka merasa mual jadi aku merokok. Nih mau?"Aprilia menawarkan rokoknya kepada Haikal.


"Aku tidak merokok, hmmm, dulu suka tapi sekarang tidak. Apalagi setelah aku tahu bahayanya," jawab Haikal sambil senyum.


"Hmm..kayak Anton lagi nih. Mentang-mentang sahabatnya yah," Aprilia mencebik sambil menghisap lagi rokoknya.


"Bukan gitu juga sih, cuma aku memang sudah tidak mau saja".


"Eh, kamu ditunggu oleh kakak sepupumu itu loh. Mau ikut atau mau disini saja?".


"Memangnya mau pada kemana sih?"tanya Aprilia terlihat malas gerak.


"Cuma lihat rumah doang kok".


"Ah aku disini saja deh, paling nanti kalau ngantuk aku ikut tidur di sofa yah," Aprilia tidak tertarik untuk ikut beserta yang lain.


"Oke silahkan saja".


"Eh bro, sorry bilangin ke yang punya rumah yah. Aku ijin bersantai sebentar di sini".


"Tenang saja sis...silahkan nikmati istirahatnya. Mau di sini atau di dalam, bebas kok yang punya rumah tidak akan marah," kata Haikal sambil beranjak turun, lalu dia menemui asisten rumah tangga dan memberitahukan agar melayani nona yang ada di atas pohon.


Lalu dia menyusul yang lain sambil mengabarkan kalau Aprilia tidak ikut mereka.


Rumah minimalis, dua lantai dan di depan ada halaman yang cukup luas dengan ditanami pohon mangga yang rindang.


Saling rindangnya sehingga pohon itu bertahun-tahun semenjak rumah itu kosong tak pernah lagi berbuah.


Di samping ada garasi menyambung dengan kamar untuk asisten rumah tangga dan juga kamar mandi beserta tempat mencuci pakaian.


Di atasnya ada dak untuk menjemur pakaian, dan dulu rupanya pernah ada kegiatan bercocok tanam hidroponik karena masih terlihat sisa-sisa pot dan lainnya.


Beranjak masuk ke dalam rumah dari garasi langsung menuju dapur dan ruang makan.


Ada ruang tamu dan ruang keluarga juga ada satu kamar tidur besar di lantai bawah itu.


Naik ke lantai dua, di sana ada tiga ruangan mungkin dulunya ketiga ruangan itu pernah dipakai kantor.


Padahal kalau dilihat bentuknya seperti kamar tidur.


Tiba-tiba Kaysan meronta ingin turun dari gendongan ayahnya.


Fajar merasakan anak ini pasti ingin memberitahu sesuatu lagi.


Kaysan menunjuk satu ruangan yang merupakan ruangan bekas kantor ayahnya Haikal.


Seperti biasa dia menangis sambil menunjuk ke ruangan itu.


Fajar membuka pintu ruangan itu, terlihat hanya ada meja dan kursi juga lemari kantor.


Mereka berdua masuk dan Kaysan menunjuk ke semua benda di sana. Fajar mengikuti apa keinginan anaknya itu.


Kaysan memukul semua benda di sana, meja, kursi, lemari dan semua yang ada di dalam ruangan itu.


Anak itu memukul seperti kelihatan kesal dengan semua yang ada di ruangan itu.


"Kenapa sayang...Kay tidak suka melihat semua yang ada di sini?" tanya Fajar dengan sabar dan anak kecil itu mengangguk lalu memeluk leher ayahnya.


"Haikal, dulu ada apa dengan ruangan ini? Anakku merasa emosi dengan ruangan ini,"tanya Fajar sambil berbisik kepada Haikal.


"Aku juga emosi pak Fajar, tapi sudahlah lupakan saja," jawab Haikal sambil terlihat senyum kecut.


Lalu Kaysan menoleh ke arah Haikal dan dia mengelus pipi Haikal seolah bisa merasakan perasaannya.


"Kay...rumah ini boleh tidak kalau dibeli sama Oom Ton?" tanya Fajar berbisik kepada anaknya.


Kaysan mengangguk tapi dia menoleh lagi ke arah ruangan tadi. Lalu dia memukul-mukul temboknya seperti menyampaikan kalau ruangan itu dibuang saja.


"Ton sini sebentar saja," panggil Fajar kepada iparnya.


Anton segera mendekat, dan Fajar berkata pelan ," Ton, kata Kaysan kalau jadi beli rumah ini, nanti ruangan ini bongkar yah. Kaysan tidak suka".


Anton tersenyum lebar, lalu dia mencium pipi Kaysan ," Siap tuan muda, apa katamu pasti akan dilakukan".


"Koko...bagaimana aku mau membeli segera, harganya termasuk murah sih untuk ukuran rumah seperti ini. Cuma aku belum tahu nanti berapa yang akan disetujui oleh pihak Bank," bisik Anton yang merasa kalau uangnya tidak cukup untuk membeli rumah itu.


Fajar lalu memotret semua bagian rumah itu, karena kemarin disuruh oleh mertua lelakinya.


Tak lupa Fajar juga meminta nomor kontak Haikal, karena rencananya pak Salim ingin membayarkan rumah itu.


Menjelang sore Fajar dan keluarga pamit harus segera pulang ke Bandung lagi, kasihan anak-anak mereka nanti kelelahan kalau pulang kemalaman.


Miranti juga pamit pulang dan Jaya meminjam mobilnya Anton.


"Bang, jangan pakai mobil Bang Anton. Sudah saja pakai mobilku, sekalian ijin sama Bang Anton juga nih mau membawa Aprilia jalan-jalan. Sembari mengantarkan calon pengantin," kata Haikal tiba-tiba.


"Silahkan saja, toh Apri juga masih di sana. Titip saja yah nanti habis jalan-jalan kembalikan lagi kemari. Eh...Iya...Haikal...sebagai informasi dia sudah dijodohkan oleh ibunya, jadi kamu jangan terlalu berharap banyak yah," kata Anton sambil menepuk pundak Haikal.


Tes...


Ada sedikit rasa sesak di hati Haikal... tapi sekedar berkawan mengapa tidak.


Jodoh urusan Tuhan, berkawan baik dengan gadis unik mengapa tidak.


Haikal mengeluarkan mobilnya dari dalam garasi rumahnya, memang dulu itu milik almarhum kakeknya tapi sekarang sudah menjadi milik dia.


Mobil jeep besar ada tulisan Rubicon di bagian depan mobil itu.


Jaya dan Anton menepuk dahi melihatnya, memang Haikal suka serba tidak terduga.


Mobil itu sangat mahal bahkan temasuk ke dalam golongan mobil mewah.


"Bro, gemetar aku naik beginian ," kata Jaya sambil duduk di belakang bersama Miranti.


Apri diminta duduk di depan, dan dia naik saja tidak berkomentar apapun, datar-datar saja.


"Iya mobil ini jarang aku pakai juga sih, mahal bahan bakarnya... hahahah," sahut Haikal dengan santai.


Lalu mereka berempat melaju menuju kota mengantarkan Miranti.


"Aku tidak punya mobil loh, cuma punya motor butut saja. Kamu mau tidak jadi pacar orang miskin seperti aku,"bisik Jaya ke telinga Miranti sambil duduk mesra di kursi belakang.


"Aku tidak mau jadi pacar pria itu pastinya, aku sih menunggu pria yang mau mengajak aku menikah dan menjadikan aku istri yang sah," bisik Miranti kepada Jaya.


Lalu Jaya menggenggam tangan Miranti, dia berjanji tidak akan melepas lagi perempuan itu.

__ADS_1


Apalagi sekarang sudah merubah penampilannya, lebih santun dan sudah mengikuti syariat untuk menutup auratnya.


__ADS_2