
"Siap Komandan....klub MoGe Bekasi siap membantu...kami semua sahabat Polisi Indonesia. Bersama Polisi kita berantas kejahatan," Max Ardyanzah ketua klub Motor Gede di kota Bekasi menyalami AKP Yansen Simanjuntak
di teras belakang rumahnya.
Pagi itu AKP Yansen bertandang ke rumah Max untuk meminta bantuan melakukan penggerebekan kejahatan penyebaran minuman keras ilegal di kota itu.
Harapan kepolisian agar bisa diketahui dimana akar kejahatan ini berada, agar bisa sindikat tersebut bisa diberantas sampai ke akar-akarnya.
IPTU Murad menyampaikan rencananya kepada Max, mengenai apa yang harus dilakukan oleh teman- teman dari klub motor besar tersebut.
Max lantas menghubungi semua teman teman satu klubnya kalau malam ini mereka akan membantu polisi menangkap penjahat.
Suasana puskesmas tampak tidak seramai biasanya. Sekarang jarang pasien berobat kesana karena dokter kesayangan mereka tidak ada.
Dokter Haikal kurang disukai karena menurut para pasien beliau sering melontarkan kalimat pedas yang cenderung menyakiti hati.
Semua sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sampai tak menyadari kalau Jaya masuk ke dalam ruangan puskemas sambil mendorong kursi roda.
Murni sambil cemberut terlihat sedang mengetik sesuatu, tampaknya seperti biasa permintaan surat keterangan sehat untuk kepentingan orang-orang yang mau melamar pekerjaan.
Jaya mendorong kursi roda Anton ke depan pintu ruangan administrasi, lalu keduanya memandang Murni yang sedang memajukan bibirnya.
"Sombong banget yah, sok sibuk,"ujar Anton mengganggu konsentrasi Murni.
Lalu Murni menoleh ke arah pintu dan terkejut sambil memekik kegirangan.
"My lovely dokter Anton... welcome back....Alhamdulillah...serius ini dokter Antonku...,"Murni melangkah mendekati Anton sambil mencubiti pipinya.
"Perasaan pipiku sakit tahu... dicubit sama tangan gajah... hahahah,"kata Anton sambil merasakan cubitan di pipinya.
"Enak saja...ini bukan gajah tahu...ini tangan badak....hahahah,"sahut Murni sambil memeluk bahu Anton merasa bahagia sahabatnya pulih kembali.
"Kamu tuh dari aku sadar, lalu tak sadar sampai sekarang sadar lagi masih saja bulat...hahaha," Anton memegangi kedua pipi Murni dan mengguncangnya dengan gemas.
"Wew...biar gemuk tapi aku ngangenin tahu....hahahaha,"tukas Murni tak mau menyerah atas ledekan sahabatnya itu.
Pak Tarmidi melihat kedatangan Anton segera keluar dari ruangannya menuju ruang administrasi untuk menyambut Anton.
"Wah pak Tarmidi seharusnya saya yang ke ruangan bapak, malah bapak yang mendatangi. Mohon maaf yah pak," Anton menjadi sungkan karena atasannya yang datang menyambutnya.
"Tak masalah, saya bersyukur dokter Anton sudah pulih kembali. Sekarang bagaimana apakah sudah bisa langsung praktek?"tanya pak Tarmidi langsung to the point saja, biasa atasan pasti begitu.
"Insyaallah bisa pak, cuma memang belum bisa terlalu lama berdiri, sesekali harus saya duduk di kursi ini,"jawabnya sambil menunjuk kursi roda yang didudukinya.
"Oh begitu, yah semampu dokter saja jangan dipaksakan, yang penting dokter juga harus menjaga kesehatan,"pak Tarmidi melanjutkan kata-katanya sambil menepuk bahu Anton.
Yang ditepuk paham, maksudnya setelah ini kerja yang baik karena sudah kebanyakan bolong jam kerjanya... hihihihi.
Para karyawan lainpun berdatangan menyambut dokter Anton, semua menyalami dan mengucap syukur dokter sudah pulih kembali.
Hanya satu orang karyawan lama yang tidak memunculkan dirinya padahal tadi pagi sudah ada di kantor.
Dokter Haikal mendengar keramaian di ruangan depan, dia menengok dari ruangannya ingin tahu ada apa.
Pak Tarmidi kebetulan melihat dan memanggilnya.
Dokter Haikal mendekati pak Tarmidi lalu melihat ada orang duduk di kursi roda memakai jas dokter.
"Dokter Anton ini kenalkan dokter Haikal, sekarang jadi ada dua dokter di puskesmas ini,"kata Pak Tarmidi, lalu Anton dan Haikal saling bersalaman.
"Apa kabar dokter Haikal, maaf kemarin-kemarin pasti sibuk sekali saat saya sakit,"kata Anton sambil menyalami dokter muda itu.
"Hai dokter Anton, salam kenal... tidak jugalah...orang seperti kita harus selalu siap dalam kondisi apapun,"jawab Haikal dengan penuh semangat.
Lalu tak lama semua bubar menuju ke ruangan kerja masing-masing.
Pasien-pasien yang sedang duduk di ruang tunggu begitu tahu ada dokter Anton, segera mendatangi bagian pendaftaran. Mereka berlomba ingin mengganti berobatnya menjadi ke dokter Anton.
Petugas pendaftaran mencoba mengkonfirmasi dulu apakah dokter Anton sudah siap untuk bertugas atau belum. Ketika dijawab sudah siap bertugas, maka dia segera mengganti beberapa pasien lama dialihkan kepada dokter Anton.
Tentu saja pasien lama sangat gembira ketika tahu ditangani lagi oleh dokter Anton.
Pagi itu Anton memulai aktivitasnya dengan menerima pasien-pasien yang memang sudah sering dia tangani.
Tak lain tak bukan, pastinya nenek tua atau kakek tua karena mereka nyaman kalau bicara dengan dokter Anton.
Dokter Haikal merasa aneh, karena tiba-tiba ada permintaan dari pasien yang minta dialihkan kepada dokter Anton.
Lalu dia berkata dalam hati," Sehebat itukah dokter cacat itu, dia terlihat tak lebih baik dari aku. Apalagi pernah koma, mungkin sudah ada gangguan di kepalanya".
Hal itu terjadi bukan hari itu saja, di hari berikutnya juga hampir semua pasien lama mencari dokter Anton.
Bahkan ketika petugas pendaftaran mengatakan harus mengantri lama karena nomor urutnya sudah banyak, tapi mereka tidak mempermasalahkan, yang penting dokter Anton yang menangani.
Anton menangani hampir 30-40 pasien setiap harinya, apalagi pasien lama yang tahu dokter Anton sudah ada lagi, maka mereka segera memeriksakan diri kepadanya.
Haikal dalam sehari paling banyak 10 orang pasien saja dan itupun pasien baru.
Suatu hari ada seorang nenek pasien baru, dia mendapat kabar kalau di puskesmas Jamblang ini dokternya baik hati walaupun kakinya cacat.
Nenek itu datang ke puskesmas sendiri, ketika mendaftar secara otomatis oleh petugas pendaftaran dicatat sebagai pasien dokter Haikal.
Setelah menunggu sekitar 15 menit di ruang tunggu pasien, tak lama namanya dipanggil dan segera masuk ke ruangan dokter Haikal.
"Ibu Nuri, usia 58 tahun, hmmm apa keluhan ibu?"tanya dokter Haikal sambil melihat catatan data pasien.
"Saya sakit kaki dokter, kalau dipakai jalan sakit. Ini sendinya sakit, memang saya ada riwayat asam urat,"jawab Nenek Nuri kepada dokter Haikal.
"Apakah ibu kemarin makan sesuatu yang bisa memicu sakit asam urat lagi?"tanya Haikal lagi kepada ibu Nuri dengan nada ketus.
"Kemarin saya dikirimi makanan oleh saudara saya yaitu gulai ikan. Padahal kan ikan tapi kok kaki saya menjadi sakit ,"jawab Nenek Nuri sejujurnya kepada dokter Haikal.
"Alamak...nenek Ini bagaimana sih, sudah umur setua ini masih berani makan makanan seperti itu. Gulai kan mengandung santan, itu berbahaya untuk orang yang punya riwayat asam urat. Coba dong kalau makan itu harus mikir...," dokter Haikal memarahi nenek itu, sampai membuat dirinya ketakutan.
Nenek melihat ke kolong meja, terlihat kaki dokter Haikal utuh, dia sadar kalau salah memilih dokter.
Karena dimarahi, nenek itu menangis meraung-raung merasa sakit hati. Memang ada beberapa orang tua yang sangat sensitif dan mungkin nenek ini salah satunya.
"Aku tak mau dokter ini...hu hu hu... Dokter galak sekali..hu hu hu...,"nenek itu menangis meraung-raung sampai terdengar hampir ke seluruh ruangan puskesmas.
Anton baru selesai memeriksa salah satu pasien dan mendengar ada orang menangis, diapun berdiri dan berjalan ke ruangan dokter Haikal. Kebetulan beberapa hari ini dia sudah mulai bisa berjalan walau belum bisa terlalu jauh.
"Ada apa ini ?"tanyanya saat mengintip ke ruangan dokter Haikal.
Nenek Nuri melihat sosok dokter berwajah ramah dan berjalan terpincang berdiri di depan pintu.
Segera dia menghambur dengan sambil menangis berteriak-teriak ingin sama dokter Anton.
"Aku mau sama dokter ini.....tak mau sama dokter itu...Dokter galak..hu hu hu," nenek Nuri terus menangis.
"Nenek...sudah jangan menangis ayo kita duduk... kenapa Nenek bersedih begini, nanti jadi tambah sakit loh," Anton berkata dengan lembut kepada nenek itu dan mengajak duduk bersama dihadapan Haikal.
"Dokter...tadi saya dimarahi dokter itu ... masa dibilang tak bisa mikir....,"kata Nenek itu sambil sesegukan kepada Anton.
"Dokter Anton...Maaf ...maksud saya bbicn seperti itu, saya memberitahukan kepada nenek ini agar tidak sembarang makan makanan berlemak karena nenek sakit asam urat," dokter Haikal tidak terima dituduh seperti itu.
Anton paham lalu dia mengangguk dan sambil senyum berkata," Nenek makan apa kemarin...makan gulai kah atau makan empal gentong kah?".
"Nenek makan gulai ikan diberi saudara, itu juga makan sedikit tapi nenek jadi sakit kaki nya," nenek berbicara jujur kepada Anton.
"Oh begitu...Wah lain kali jangan makan gulai...mau gulai ikan atau gulai ayam sekalipun. Karena gulai mengandung santan, tidak baik untuk usia nenek".
"Jadi nenek nanti pulang sampaikan kepada saudara kalau mau kirim makanan, sebaiknya sup ayam atau sup ikan. Lebih enak dan segar, banyak sayurannya juga. Dan....satu lagi kalau makan enak ajak-ajak saya yah nek...," Anton memberikan nasehat kepada nenek itu dengan ramah dan sabar.
"Nanti nenek akan mendapat obat dari dokter Haikal, saya maupun dokter Haikal sama saja. Nanti nenek minum obatnya yang teratur dan tetap jaga makanan,"kata Anton lagi kepada nenek Nuri yang saat ini terlihat lebih senang wajahnya.
"Tapi tadi dokter ini marah-marah, nenek jadi takut,"nenek mencoba minta perlindungan Anton.
"Sssttt ....Dokter Haikal baik kok nenek, cuma barusan sedang galau....biasa berantem sama pacarnya...hihihi," Anton pura-pura berbisik tapi terdengar oleh Haikal.
"Sudah ya nek...saya tinggal dulu, nenek baik-baik yah jaga kesehatan selalu," Anton menyalami nenek Nuri lalu segera kembali ke ruangannya sambil sebelumnya memberi tanda pamit kepada Haikal.
Sore harinya ketika puskemas tutup, tampak Haikal mendatangi ruangan praktek Anton.
"Dokter Anton, masih sibuk tidak...boleh saya bicara sebentar?,"tanya Haikal sambil berdiri di muka pintu.
"Oh hai...sini masuk saja. Saya sudah santai, ayo duduklah di sini,"sambut Anton dengan santai kepada Haikal.
"Ada apa dokter Haikal, ngomong- ngomong dulu lulusan mana....Saya sih dari Bandung di Pasundan,"Anton membuka perbincangan santai dengan Haikal.
"Saya lulusan Cirebon saja dok, asli putra daerah,"sahut Haikal sambil senyum simpul kepada Anton.
"Dokter Anton...Saya kepingin tahu bagaimana cara dokter bisa begitu sabar kepada pasien, saya sungguh kesal banyak orang dewasa bahkan tua, tapi tidak bisa berpikir untuk kesehatan dirinya sendiri,"Haikal mengeluarkan kekesalannya tentang berbagai pasien yang bandel.
"Namanya juga manusia bro, macam ragam sifat dan karakternya. Sebagai dokter kita harus bisa memahami mereka tentunya,"jawab Anton santai sambil mengeluarkan biskuit gandum dari dalam tasnya.
Haikal mengambil satu keping biskuit dan kembali dia berseloroh,"Masalahnya orang yang sudah kakek nenek, sering cerewet, susah diberitahu, dan selalu membandel. Disuruh minum obat A, mintanya obat B, dibilang jangan makan A, eh ngotot malah makan B yang lebih membahayakan.....jengkel rasanya".
Anton menatap tajam Haikal sambil berkata," Maaf bro, sekarang kita masih di usia ini , esok kalau Tuhan masih memberi umur, kita akan ada diusia mereka".
"Kita akan sensitif, daya ingat menurun, tubuh melemah dan sifat sedikit demi sedikit kembali kepada anak-anak".
"Cobalah kamu berandai-andai ada di posisi mereka, tua dan sakit lalu dibentak orang muda. Apakah tidak akan sakit hati... pastinya sakit hati".
"Jangankan itu, kita punya orang tua lantas orang tua kita dimarahi orang ketika mereka sakit. Kau sakit hati atau tidak pada orang yang memarahinya...".
"Bro...sudah suratan kita menjadi dokter, tangan kita ini perpanjangan tangan Tuhan. Maka hendaklah istilah itu kita pegang...berusaha jadikan diri kita sedikit cahaya bagi mereka yang sakit,"Anton menasehati Haikal dengan panjang lebar dengan harapan dokter muda itu bisa sedikit mengubah pola pikirnya.
Haikal terdiam dan merasa sangat tersentil dengan ucapan Anton. Memang selama ini dia selalu merasa diri dokter, maka sifat arogannya muncul ingin pasien menuruti apapun yang dia sebutkan.
"Makasih dokter Anton, nanti aku renungkan di rumah. Mungkin selama ini aku memang terlalu keras dalam menghadapi orang, sulit bagiku bisa sabar sepertimu," Haikal menanggapi nasehat Anton dengan seksama.
"Memang sulit, tidak mudah tapi kita harus belajar. Ayo bro kita sama-sama belajar, akupun sama banyak hal yang masih harus dipelajari dalam hidup kita,"Anton mengacungkan jempolnya kepada Haikal.
Lalu sambil tersenyum penuh hormat kepada Anton, dia pun pamit pulang sambil dalam benaknya terngiang semua perkataan Anton.
Ketika keluar dari ruang prakteknya Anton merasa aneh melihat sapu tergeletak begitu saja di lantai. Lantas dia mengambilnya dan meletakan sapu itu tegak ke dinding, lalu menuju ke ruangannya Jaya.
"Mengapa Haikal bro, marahkah kepadamu?"tanya Jaya kepada Anton.
"Ah tidak...tidak ada apapun hanya ngobrol saja,"sahut Anton santai saja ketika ditanya Jaya.
__ADS_1
"Kirain dia macam-macam... emang kalian ngobrol apaan sih?"tanya Jaya lagi penasaran.
"Hmmm biasalah....dia nanya link anime....,"sahut Anton menahan tawanya karena kebetulan ada Trisno juga melewati mereka.
Jaya melongo..lalu ketika melihat Trisno....dia memandang Anton dan hahahahha...keduanya tak kuasa menahan tawa.
"Oh....baju-baju mahalku...,"Supriatin atau yang kita kenal sebagai wak Atin sedang mengelus-elus tembok kamarnya, rupanya dia berfantasi di bawah alam dasarnya.
Dia berlari dari satu tembok ke tembok lain menyebutkan harta-hartanya sambil mengelus-elus tembok tersebut.
"Hahahaha....ini permataku, kalung berlianku, cincinku, sepatuku, tas ku....hahahahah".
Seketika dia diam, ditatapnya semua hanya tembok putih tak ada apapun di ruangan itu hanya dirinya dan sebuah tempat tidur kecil.
"AAAAAWWWWW.....dimana semuanya dimana hartaku dimana....
DIMANAAAAA!!!".
Itulah yang terjadi saat ini dengan wak Atin, setiap hari hidup dalam khayal tak bisa lagi membedakan antara nyata dan maya.
Hilang sudah kesadarannya, terkadang dia juga ingat Wiwit dan menangis karena rindu kepada anaknya, namun seketika terlintas wajah Surya dan kembali Supriatin menjerit sambil memaki-maki.
Sesekali Darma menjenguk istrinya, namun dokter di Rumah Sakit Jiwa menyatakan belum ada kemajuan yang signifikan atas kesadaran Supriatin, artinya masih perlu perawatan lagi dalam waktu yang belum dapat ditentukan.
Darma hanya bisa mengangguk dan menyesali semua perbuatan istrinya sampai akhirnya harus mendekam di Rumah Sakit Jiwa.
Kandungan Wiwit sekarang sudah enam bulan berarti tinggal tiga bulan lagi dia akan menjadi seorang ibu muda.
Sekarang dia sudah bisa berjalan dan bergerak tapi hanya di sekitar rumah saja.
Tak mau hanya duduk diam, dia melihat ke meja tempat Mela duduk dan membuka komputer yang ada di situ.
Dia mempelajari apa yang dulu Mela lakukan, ketika ada yang tak paham dia menghubungi Mela bertanya tentang langkah-langkah kerjanya dulu.
Akhirnya ketemu langkahnya dan dia mulai membenahi semua administrasi toko ayahnya.
Surya juga saat ini membantu mertuanya, Darma memberikan kepercayaan kepadanya untuk melanjutkan pekerjaannya bekerja sama dengan perusahaan properti.
Memang Surya berbakat menjadi marketing , sekarang toko besi dan bangunan milik mertuanya mulai bangkit kembali sedikit demi sedikit.
Hampir setengahnya perusahaan properti di kota Cirebon menjadi target Surya untuk bekerja sama.
Perusahan properti mengambil bahan bangunan dari toko mertuanya untuk membangun perumahan.
Japri kekasih Narti sekarang yang menjadi senior di toko besi itu, tadinya mau pindah kerja tapi ditahan oleh Darma karena baginya tidak masalah kalau kelak Japri menikah dengan Narti untuk tetap bekerja di tokonya.
Setelah order datang dari perusahaan properti, lalu Japri mempersiapkan semua pesanan.
Setelah lengkap, lalu sopir toko mengantarkan ke lokasi tujuan.
Pembayaran sekarang langsung ke rekening atas nama toko, dan dikelola oleh Wiwit.
Pengeluaran dan pemasukan uang dipantau dan dibukukan setiap hari oleh Wiwit.
Narti juga sekarang lebih banyak di toko membantu Wiwit melayani pembeli karena Wiwit masih belum bisa banyak bergerak.
Untuk makan sehari- hari, Wiwit memesan dari ibu mertuanya. Berlangganan setiap hari dan membayar setiap seminggu sekali kepada mertuanya.
Tentu menjadi tambahan uang saku bagi mertuanya, hingga sekarang Ratna juga berjualan masakan matang di rumahnya.
Pak Salim dan ibu Aryani sedang duduk di meja makan sambil menikmati cemilan sore yaitu teh hangat dan kue cucur buatan tangan ibu Aryani.
Dihadapan mereka ada Anita dan Fajar, saat itu Anita sedang menghitung uang untuk diberikan kepada suaminya.
"Ini untuk arisan, ini untuk uang kas kumpulan, ini untuk bensin dan parkir, ini untuk pegangan ayah,"kata Anita kepada suaminya, lalu uang tersebut diambil oleh Fajar dan dimasukan ke dalam dompetnya.
Kedua orang tuanya Anita merasa tidak senang dengan apa yang mereka lihat, seakan Anita sangat membatasi keuangan suaminya.
Fajar kemudian pamit kepada kedua mertuanya dan istrinya karena harus menghadiri acara rutin setiap akhir bulan pertemuan arisan pengusaha apotik.
"Nita, mengapa kamu tega sekali memberikan uang pegangan kepada suamimu hanya senilai itu?"Ibunya menegur Anita karena melihat anaknya seperti tega kepada suaminya.
"Eeehhh....ari mamah teh kumaha....eta teh kahayang na caroge abdi sanes kahayang abdi,"jawab Anita sambil menggigit sepotong kue cucur buatan ibunya.
(\=eeehhh...mamah itu bagaimana...itu keinginan suamiku bukan keinginanku)
"Fajar yang meminta begitu mamah, dia tak pernah mau membawa uang banyak di dompetnya. Cukup untuk keperluan yang sudah dia perkirakan. Contohnya barusan dia hanya meminta dan membawa uang seperlunya saja, bukan karena Anita tega kepadanya".
"Ya misalkan saja dia di jalan melihat sesuatu dan ingin membelinya bagaimana, masa harus pulang dulu dan meminta lagi uang kepadamu?" kembali Aryani mencecar anaknya.
"Betul Nita, kamu tidak boleh begitu kepada suami. Jangan sok merasa suamimu dulu orang tak punya hanya pegawai di sini sehingga kamu memperlakukan dia begitu,"Ayahnya juga merasa kesal melihat Anita seperti itu kepada suaminya.
"Masyaallah...mamah...papah... percayalah kepada Anita, tak pernah saya berbuat dzalim kepada suami. Nanti tanyakan sendiri kepada Fajar, bukan keinginan saya memberinya uang pas-pasan tapi memang suamiku yang memintanya,"Anita merasa kesal juga karena ayah ibunya tak percaya kepadanya.
Pembicaraan itu diakhiri sambil terlihat wajah orang tuanya masih menyimpan rasa tak percaya.
Fajar tiba di rumah makan yang menjadi tempat rutin pertemuan bulanan untuk arisan pengusaha apotik.
Di sana ada Tanoko juga yang posisinya sama dengan Fajar mewakili mertua, karena mertua Tanoko memang punya beberapa usaha dan salah satunya adalah apotik.
"Bro Fajar...apa kabar...yuk duduk bersamaku...kita kan sama nih menantu kebanggaan mertua....hahaha,"Tanoko menyambut Fajar yang baru datang, sekarang lain sekali sambutannya sangat ramah dan memposisikan nasib yang sama.
Dasar Tanoko selalu ada-ada saja, dulu selalu menghina Fajar sekarang dia sangat mengidolakan Fajar.
Di rumah makan itu menyediakan meja makan yang bundar untuk per sepuluh orang setiap mejanya.
Nanti makanan di kirim ke setiap meja oleh pelayan rumah makan, biasanya sudah berupa paket makan per meja.
Menunya nasi dan 5 macam masakan daging dan sayuran ditambah menu penutup berupa buah-buahan. Untuk minuman biasanya chinese tea, dihidangkan dalam poci panas-panas.
Ibu Dea selaku bendahara merangkap Humas membuka acara tersebut, dan beliau juga menyampaikan bahwa hari ini kedatangan tamu dari PT. GOLDEN FARMASI yaitu ibu Miranti Chandra.
" Kepada ibu Miranti Chandra kami mohon kesediaan ibu untuk berdiri agar dikenali oleh semua anggota kami,"Ibu Dea meminta Miranti berdiri di samping kursi.
Miranti berdiri sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya memberi salam kepada semua yang hadir.
"Waduh....geulis pisan boss,"seru Tanoko saat Miranti berdiri memberi salam.
(\=Waduh cantik sekali boss)
"Ah geulis oge non halal," Fajar mencoba menjawab dengan memakai bahasa Sunda aksen Batam, sehingga yang mendengar menjadi tertawa.
(\=ah cantik juga non halal)
"Kok non halal boss?"tanya salah satu orang yang di meja itu.
"Iya lah kan bukan istri kita, jadi non halal...hahahah,"sahut Fajar tertawa sambil diikuti oleh semua yang ada di meja itu.
"Nah ini masih jomblo...ayo dekati... siapa tahu dia juga masih lajang,"kata orang lain lagi sambil menunjuk ke salah satu orang lainnya yang diduga masih sendiri belum menikah.
"Wah...gadis tampilan begitu sih berat di kantong...hahaha.. tak sanggup membiayainya.. hahaha,"ujar orang itu dan kembali di meja itu semuanya tergelak tawa.
Kemudian makanan tiba, semua bergembira menyambutnya.
Nasi, udang goreng mentega, Daging sapi lada hitam, Gurame asam manis, Ayam cah jamur dan brokoli spesial.
"Tah ieu mah halal...hayu urang dahar ayeuna...," Fajar kembali sok-sok an berbahasa Sunda dan kembali jadi tertawaan.
(\=Nah Ini sih halal...hayu kita makan)
"Boss Fajar kalau di bahasa Sunda kata dahar itu kurang sopan diucapkan di muka umum, sebaiknya memakai kata tuang. Jadi seharusnya hayu urang tuang ayeuna,"salah satu bapak mencoba membenarkan kalimatnya Fajar.
"Maaf pak, memang saya kurang paham...sekali lagi maaf,"ucap Fajar kepada semua yang ada di meja itu.
"Tidak apa-apa namanya juga tidak tahu, tapi kalau pak Fajar ke Jawa Tengah atau Jawa Timur, kata dahar itulah yang sopan,"sela seseorang lagi dari meja itu.
"Wah kok saya jadi bingung yah.. hahaha.. benar bahasa daerah di Indonesia itu beragam sekali, itulah hebatnya negeri kita,"kata Fajar dengan berbangga sebagai anak negeri.
Setelah acara makan selesai, lalu dilanjutkan dengan pengocokan nama pemenang arisan bulan depan.
Ternyata bulan ini juga baik Fajar maupun Tanoko belum tersebut namanya, keduanya tertawa-tawa saja saling bercanda soal menjadi menantu kesayangan.
Kemudian Ibu Dea menyampaikan bahwa dari pihak PT. GOLDEN FARMASI akan menyampaikan sesuatu dan beliau mempersilahkan Miranti Chandra untuk maju ke depan.
"Terima kasih kepada ibu Dea atas waktu dan kesempatannya".
"Assalamualaikum, kepada bapak dan ibu sekalian, saya ucapkan selamat malam. Saya perkenalkan diri kembali, nama saya Miranti Chandra dari PT. GOLDEN FARMASI. Jabatan saya adalah area manager yang membawahi wilayah Jawa Barat".
"Kedatangan saya ke acara ini hanya untuk bersilaturahmi sekalian menyampaikan sedikit ganjalan hati, karena sudah beberapa bulan ini pendistribusian kami ke setiap apotik khususnya di kota Bandung mendapat sedikit hambatan".
"Pihak perusahaan kami merasa selama beberapa bulan ini kami ditolak dan kami hanya bisa mengirim ke satu apotik saja yaitu Wiharja Farma".
"Kebetulan ada acara ini, maka kami dengan segala kerendahan hati saya mohon penjelasan mengenai perihal ini.
Demikian penyampaian kami, mohon pihak kumpulan dapat menjelaskan kepada kami. Terima kasih,"Miranti menyampaikan masalah distribusi obat dari perusahaannya yang serasa di jegal oleh seluruh apotik di kota Bandung.
Tentunya semua mata sekarang tertuju kepada Fajar selaku perwakilan Wiharja Farma yang namanya disebut oleh Miranti.
Tak menunggu lama, segera Fajar maju mengambil mikrofon dan langsung berusaha menjawab pertanyaan Miranti.
"Assalamualaikum, terima kasih atas waktu dan kesempatannya. Saya juga memperkenalkan diri kepada ibu Miranti Chandra, nama saya Fajar Sanjaya selaku perwakilan dari Wiharja Farma dan kebetulan beberapa waktu lalu saya diangkat menjadi ketua kumpulan... biasa dipanggil ketua gank,"Fajar memberi sambutan dengan sedikit canda agar tidak tegang suasananya dan serempak beberapa orang menyambutnya dengan tawa.
"Menjawab pertanyaan ibu Miranti tentang masalah pendistribusian obat dari PT. GOLDEN FARMASI, dengan ini kami mencoba menyampaikan jawaban bahwa untuk pendistribusian obat di pusatkan di Wiharja Farma karena merupakan keputusan bersama kami semua yang ada di sini beberapa waktu yang lalu".
"Hal ini kami lakukan karena selama ini setiap apotik merasa ada pengiriman yang di luar pesanan, masuk setiap per berapa hari sehingga terjadi penumpukan obat di setiap apotik. Masalahnya adalah obat sebelumnya belum terjual semua, lalu ada penambahan dalam jumlah banyak lagi".
"Timbul kekhawatiran obat tertumpuk, tidak sempat terjual lalu kadaluwarsa. Sementara penagihan dari PT. GOLDEN FARMASI tetap berjalan,"Fajar mencoba menyampaikan alasan terjadinya pemusatan pendistribusian tersebut.
Miranti tampak kesal tapi wajahnya tetap tersenyum tidak ikhlas," Maaf pak Fajar, apakah memang hanya apotik bapak yang menjual obat kami tersebut?".
"Oh tidak, obat dipusatkan di apotik kami, semua teman disini selama ini memesan kepada kami. Kami kirim dan tagih sesuai harga PT. GOLDEN FARMASI, kami tidak menaikan harga atau apapun,"jawab Fajar dengan enteng sekali.
Miranti terdiam tapi terlihat wajahnya tidak puas dengan penjelasan Fajar.
"Bagaimana ibu Miranti apakah ada pertanyaan lagi?"tanya Fajar dengan ramah kepadanya.
Miranti tersenyum sebal sambil menjawab cukup untuk sementara.
Fajar kembali ke mejanya, dan setelah dirasa tidak ada lagi pertanyaan apapun, maka ibu Dea mulai menagih uang arisan.
Dia berjalan ke setiap meja menagih kepada setiap orang, hingga tiba di meja Fajar.
__ADS_1
Satu per satu membayar, lalu Fajar mengeluarkan dompetnya.
"Ibu Dea....ini uang arisan, ini uang kas, sisanya segini....hahahah," Fajar memperlihatkan dompetnya kepada Tanoko dan mereka berdua tertawa saling memaklumi.
Miranti hendak menuju meja Fajar dan melihat bagaimana uang dalam dompet Fajar hanya tinggal selembar saja.
"Katanya boss apotik tapi miskin,"ujar Miranti dalam hatinya dengan kesal.
"Pak Fajar, maaf mengganggu apakah boleh saya ketemu bapak di apotik besok siang atau sore?"tanya Miranti kepada Fajar yang saat itu tengah tertawa-tawa dengan Tanoko.
"Oh bisa bu, silahkan saja ke apotik kami, ini alamatnya," Fajar memberikan kartu namanya kepada Miranti.
"Kok konsultan psikologi?"tanya Miranti sambil memegang kartu nama tersebut.
Fajar hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
Mobil bertuliskan POLZ FM sedang melaju menuju di bawah jembatan layang.
Di dalamnya Asep dan Ryan sudah siap dengan dandannya, hari ini adalah hari penyergapan.
"Komandan ... nasib saya bagaimana .... sumpah saya takut...kalau sampai saya diapa-apakan orang itu...," kata Ryan yang berperan sebagai Rayni tampak gelisah sekali.
"Hahahaha....tenanglah...Masa Kita tak saling menjaga...aku pasti menjagamu," kata Asep kepada sahabatnya.
"Ya benar kamu itu jangan lembek begitu, peran boleh banci tapi kamu itu polisi...ingat itu...,"IPDA Murad menegaskan kepada anak buahnya.
"Iya komandan tapi setidaknya orang yang kelainan ini si sniper, kalau dia tak bisa meraba-raba aku, pasti dia menembak aku lah...,"kata Ryan putus asa sekali membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.
"Kamu ini tenang saja kamu pasti aman" IPDA Murad menjeda kalimatnya....
"Dalam pelukannya.....hahaha,"lanjutnya membuat Ryan semakin cemas.
Romi bersiap turun dari mobil sedan yang membawanya ke lokasi penyergapan.
Dia berusaha menenangkan dirinya setenang mungkin, dia diam saja sedari tadi sambil dalam hatinya berdoa terus berharap polisi kemarin akan membantu membebaskannya.
Kemarin saat ditanya dia membantu menjawab pertanyaan seperti apa dari kedua gadis mahasiswa, Romi juga menjawab tentang kesehatan masyarakat.
Untung anak buah Kang Japar tidak bertanya lebih lanjut kesehatan masyarakat seperti apa, pasti dia akan kesulitan menjawabnya.
Setibanya di tempat penyergapan mereka parkir di tempat semalam, sekitar seratus meter dari warung Suhatma.
Romi turun, hari ini dia membawa ransel dan juga tas jinjing besar, ada sekitar 30 botol minuman keras yang dibawanya saat ini.
Di depan warung banyak motor- motor besar parkir ada sekitar sepuluh unit, dan terlihat pengemudinya hampir semua berbadan tinggi besar, berkaos hitam dengan tulisan "ANAK MOGE ANTI MIRAS".
Semua tampak sedang membawa botol minuman keras, tapi tanpa Romi ketahui isinya sudah diganti dengan jus apel.
Memang warna jus apel sekilas berwarna kuning keemasan seperti warna minuman keras.
Romi berjalan diantara orang-orang bertubuh besar itu, membuat dirinya menjadi ciut nyalinya. Dan dia mulai berpikir mungkin polisi kemarin berbohong, tak ada harapan baginya untuk lepas dari jeratan Kang Japar.
Tapi dia tetap menjalankan tugasnya karena dia juga tahu kalau dia sedang diawasi oleh sang sniper.
Sesampainya di depan warung dia disambut oleh Suhatma dan disuruhnya masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam dia disuruh untuk pura- pura membantu Suhatma menyusun botol.
Sebenarnya diantara orang-orang pengemudi sepeda motor itu ada AKP Yansen Simanjuntak yang sedang berpura- pura terlihat mengobrol sambil meminum minuman keras.
Sambil Romi di dalam warung berpura-pura menyusun botol, muncullah kedua wanita jadi-jadian menyeberang jalan menuju mobil sedan yang sedang parkir.
Keduanya berlari- lari genit seakan seperti gadis yang berlari menemui kekasihnya.
"Oom....hai...cintaaaa....ai lap yuuu...," keduanya berteriak- teriak sambil memberikan cium lambai kepada pria di mobil sedan itu.
Dengan langkah genit keduanya mendekat ke mobil dengan menggerakan tubuhnya berusaha menggoda pria-pria dalam mobil.
Sang sniper turun dari dalam mobil, dan Rayni segera berlari mendekatinya dengan memasang wajah ceria bak gadis yang lama tak berjumpa pujaan hatinya.
"Oom ini Rayni datang ...cintaku....oom ganteng....wangi bener oom nih...bikin hati Rayni makin cintaaaaa...,"Rayni mencoba menggoda Sang Sniper dengan memeluk pinggangnya untuk memeriksa apakah saat ini membawa senjata atau tidak.
Ternyata senjata tetap ada di pinggang si pria itu dibalik jaketnya, Rayni harus berhati-hati jangan sampai salah bersikap.
Rayni memilin-milin rambut palsunya sambil bahunya disenderkan ke lengan pria sniper itu.
IPDA Murad berkata kepada seluruh tim dari dalam mobil," Rayni sebentar lagi bawa pria ke taman, pak Komandan silahkan maju pura-pura mabuk. Pemulung bersiap di dekat taman... sekarang".
" Rayni panggil abang saja yah...biar kita akrab....abang sayang... kita ehem-ehem yuk...di taman sana...,"ajak Rayni kepada pria sniper, dan pria itu malah diam.
Dia memandang ke sekeliling mencoba melihat apakah ada kemungkinan terjadi kekacauan.
Ketika dirasa tak ada dia mendekati mobil dan berkata kepada kedua kawannya,"Aku ada perlu dulu yah...kalau ada apa-apa panggil saja".
"Sana udah....dasar hom*...payah,"kata sopir Mobil kepada si sniper.
"Iiihh Rayni enak-enak, Septa ditinggal sendiri ...dingin Oom...,"kata Septa memancing si sopir mobil.
"Duh...banci kaleng satu nih...sudah masuk duduk di belakang, tapi jangan berisik,"umpan mulai mengait, tentu saja Septa tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Berbeda dengan Rayni, kalau Septa di dalam tasnya dibekali senjata karena dia tidak bersentuhan langsung dengan kedua pria di dalam mobil sehingga sewaktu-waktu dia bisa bergerak sesuai perintah atasannya.
Sambil Septa melangkah ke dalam mobil, di telinganya terdengar perintah atasannya," Septa tunggu aba-aba dari aku, lalu kamu lumpuhkan keduanya".
AKP Yansen terhuyung-huyung sambil berjalan menuju taman, lalu pura-pura muntah.
Tak lama ada dua orang mendekatinya yaitu Max bersama pria bernama Juan, dia adalah penggemar motor gede dengan profesi sebagai pelatih olah raga Karate ban hitam Dan 8 dengan tingkatan Dai Sensei atau Guru ahli.
Rayni sudah di dalam taman, dia benar- benar panas dingin ketakutan. Bukan takut ditembak tapi dia takut pria itu menggagahinya sebelum anggota lainnya sempat menolongnya.
"Bang....Rayni gemetar...dingin yah bang...,"ucap Rayni mencoba menutupi rasa takutnya. Keduanya saat ini duduk di bangku taman yang sudah berkarat.
"Jangan takut sayang...sini abang peluk dirimu," kata si sniper mulai beraksi merayu Rayni.
Ketika pria itu akan mencium bibir Rayni, tiba-tiba ....
"GEDUBRAAAKKKKKK"
AIPDA Rohmat terjatuh di dekat kursi tempat mereka duduk.
Melihat ada pemulung mengganggu, maka si sniper marah sekali.
"HEH...PERGI SANA....!!!....DASAR PEMULUNG SIALAN...!!!".
Rayni cukup tenang saat tahu Rohmat berjaga di dekat dirinya.
"Maaf tuan...saya terpeleset,"kata AIPDA Rohmat si pemulung palsu.
Lalu Rohmat dengan berlagak tertatih- tatih berjalan ke arah semak-semak lagi dan dia mengamati gerak si sniper.
Si sniper memeluk Rayni dengan gemas dan mencoba mencium bibirnya lagi.
Rayni merasa jijik saat bibir pria itu mulai menempel di bibirnya.
"HOEK.....HOEK....HOEK...!!!!
AKP Yansen beraksi mendekati mereka berdua sambil muntah-muntah.
Sniper merasa kesal sekali, lalu dia beranjak mau berdiri tampaknya ingin menendang Yansen.
Saat dia beranjak, segera Rayni merebut senjata yang ada di pinggang sniper. Lalu segera dia menendang sniper dengan sekuat tenaga.
Sniper jatuh dan Yansen menindih tubuh pria itu. Sniper tak tinggal diam, dia mendorong Yansen lalu memukul wajahnya.
Yansen tersungkur, Rayni melompat menendang pria itu. Tapi pria itu berkelit sehingga Rayni terjatuh, tapi segera dia bangkit dan mengait kaki pria itu.
Sniper terjatuh, tapi dia segera bangkit lagi dan kembali menyerang Rayni dengan memukul pipinya.
Rayni terdorong ke belakang, dari belakang punggung Sniper tiba-tiba Rohmat menerjang berusaha menyekap lehernya sniper.
Tapi rupanya orang ini juga bisa sedikit bela diri, maka dia memegang tangan Rohmat dan membanting tubuh Rohmat ke tanah.
Yansen tak tinggal diam, dia juga segera bangkit dan kembali menerjang Sniper dengan melayangkan tinjunya ke arah kepalanya.
Seketika dia roboh, melihat itu Rohmat segera menindih punggungnya dan Yansen segera memasang belenggu borgol di kedua tangan sniper.
Septa masuk ke dalam mobil, lalu dia pura-pura bersenandung entah lagu apa tak jelas.
Lelaki yang memonitor gerak Romi merasa kesal karena sejak tadi hanya mendengar Romi seperti sedang menyusun botol.
Padahal dia tak tahu kalau Romi sedang diberi makan, dan alat sadapnya dicabut darinya dan sekarang didekatkan pada botol yang dipukul-pukul oleh sendok.
Septa lalu mengeluarkan senjatanya dan dia todongkan ke arah kepala sopir.
"JANGAN BERGERAK ....POLISI!!!!!"
Lelaki yang memonitor langsung kabur keluar mobil, dia tak tahu kalau Juan sudah bersiap dari tadi di belakang mobil.
Dengan sekali tendangan ke arah kepalanya...
CIAAAATTTT !!!!
Robohlah lelaki itu tak sadarkan diri lagi.
Septa masih menodongkan senjata ke kepala sopir, dan menyuruhnya turun.
Ketika sudah di luar mobil, segera dia memasangkan borgol ke tangan lelaki itu.
Juan menyeret tubuh lelaki yang jatuh pingsan ke dekat pria yang jadi sopir tadi dan digeletakan di sana lalu diborgol.
Sopir tadi disuruh jongkok dengan tangan terborgol dan disimpan diatas kepalanya.
Sniper sambil berjalan masih saja berusaha kabur, Rayni dengan kesal akhirnya menyikut perutnya sehingga lelaki itu jatuh ke tanah karena perutnya kesakitan.
Tak lama mobil polisi berdatangan untuk mengangkut mereka semua ke kantor Polisi.
Lalu kaki Rayni menginjak paha sniper sambil berkata," Dasar hom* b*jing*n
cuiiihhhh....jijik gue sama lu!!!"
Ryan berkali- kali meludah sambil membilas wajahnya dengan sebotol air mineral.
__ADS_1
Dan semua anggota yang ada disitu tertawa melihatnya