
Pagi itu Anita mengajak Mela naik ke lantai dua apotiknya, disana ada dua buah klinik yang sudah beroperasional yaitu klinik kecantikan kulit yang dipegang oleh dokter Wina spesialis kulit dan kelamin.
Wina juga satu angkatan dengan Anton, namun karena Anton dahulu pernah kecelakaan sehingga teman satu angkatannya sudah lebih dahulu lulus bahkan banyak yang sudah menjadi dokter spesialis.
Wina dan Fabian contohnya, keduanya sudah lulus dengan gelar spesialisnya masing-masing.
Klinik kecantikan sudah hampir lebih dari satu tahun bergabung di gedung Wiharja Farma, dibandingkan Klinik Indera yang baru sekitar 1 bulanan.
"Pagi Wina, wah tumben dokter cantik sudah datang nih," sapa Anita kepada dokter Wina.
"Ah.. cici Anita apa kabar... walau kita ini segedung tapi suka jarang bertemu,"
sahut Wina dengan senyum yang lebar mengembang.
"Iya apalagi setelah aku ada Kaysan, wah tambah repot karena Keiza juga masih suka manja dan mencari perhatian. Jadi aku suka puyeng sendiri deh,"keluh Anita sambil dengan nada bercanda.
"Eh Wina...kenalin ini Mela pacar Anton," kata Anita lagi sambil menunjukkan Mela yang mengangguk malu-malu kepada Wina.
"Wah serius cici...Alhamdulillah Ya Allah akhirnya Anton punya pacar lagi, kapan nikahnya nih. Turut bahagia loh aku,"Wina sangat gembira melihat Mela yang katanya kekasih Anton.
Mela menyalami Wina tapi dia tidak berani berkata apapun karena dia sendiri masih tidak tahu apakah benar atau tidaknya Anton akan menikahinya.
"Wina aku minta tolong permak dia nih biar jadi kinclong,"ujar Anita sambil memegang dagu Mela.
"Tentu dengan senang hati, sini Mela duduk biar aku cek dulu kulit wajahmu,"
kata Wina meminta Mela duduk di suatu kursi khusus.
"Mumpung belum banyak pasien jadi aku bisa tangani dulu Mela deh," lanjut Wina lagi.
Wina memeriksa jenis kulit Mela, dia meraba wajah Mela lalu memutarnya ke kiri dan kanan lalu atas bawah.
Dia menjelaskan bahwa kulit Mela cenderung kering sehingga bisa cepat terjadi kerutan kalau tidak segera dirawat, lalu tekstur kulitnya cenderung kusam karena mungkin jarang menggunakan kirim anti Ultra Violet.
Masih menurut Wina, wajah Mela harus mendapatkan perawatan minimal tiga bulan ini secara teratur dengan melakukan facial sebulan sekali dan treatment wajah memakai paket cream mulai dari sabun pembersih wajah, krim anti Ultra Violet untuk pagi dan siang hari, krim malam menjelang tidur dan serum anti aging.
"Lakukan saja semuanya Wina, nanti tagihan berikan kepadaku. Ubahlah di gadis desa yang polos ini menjadi putri nan cantik," kata Anita sambil mengedipkan mata kepada Wina.
"Siap ibu Ratu akan saya laksanakan amanatnya...hahahaha," Wina dan Anita tertawa bersama sementara Mela masih terdiam dalam bingung.
Lalu ada petugas klinik membimbing Mela masuk ke ruangan tindakan. Di sana Mela diminta berganti pakaian dengan baju khusus, lalu Mela berbaring di atas tempat tidur khusus juga.
Wajah Mela mulai dibersihkan, lalu komedonya di sedot, ada beberapa kulit matinya juga diangkat dengan alat khusus kemudian dia dipakaikan masker yang dingin dan sejuk.
"Cici..ini pacar Anton orangnya masih muda dan polos banget yah. Tapi aku yakin dia gadis baik-baik, dari aura dan gayanya itu terlihat orang tidak ada yang dibuat-buat," bisik Wina kepada Anita.
"Iya sih Wina, dia itu anak desa dari Cirebon tapi orangnya rajin, penuh semangat dan baru lulus Sarjana. Dia walau ekonominya terbatas tapi dia semangat bekerja, makanya aku juga jadi sayang sama dia," jawab Anita sambil melirik Mela yang sedang berbaring.
Lalu Anita ijin pamit ke bawah dan nanti kalau sudah selesai tolong Mela disuruh ke bawah saja dan segala tindakan dan krim yang diberikan semuanya akan dibayar oleh Anita.
Wina mendatangi Mela yang saat ini sedang proses totok aura wajahnya, memang Wina hanya memeriksa karena sudah punya team ahli yang membantunya.
Mela merasa sangat enak sekali wajah dan pundaknya dipijat, belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya.
"Mela...coba kamu lihat lengan atas bagian dalammu, warna kulitnya lebih terang dari bagian luar bukan?"tanya Wina kepada Mela sambil menatap dengan ramah.
Mela mengangkat dan melihat lengan atas bagian dalamnya dan mengangguk membenarkan.
"Itu adalah warna kulit aslimu, yang tidak terpapar matahari, angin, bahkan debu dan sebagainya. Untuk itu, kami akan membuat kulit wajahmu sama dengan kulit bagian ini," Wina senyum mantap sambil memandang Mela, dan Mela yang mendengar itu langsung matanya membulat kaget.
Dia sangat ketakutan kalau dirinya akan dioperasi plastik seperti artis - artis Korea Selatan yang ada di media.
Lalu dengan polosnya dia berkata," Maaf Dokter Wina bukankah dalam agama kita tidak boleh melakukan operasi plastik?".
__ADS_1
Wina terhenyak,"Memangnya siapa yang mau operasi plastik?"
"Barusan dokter bilang akan membuat warna kulit wajah saya menjadi sama seperti warna kulit bagian dalam lengan atas saya, bukankah itu proses operasi plastik?"
Sontak Wina tertawa keras, dia merasa lucu dan geli mendengar ucapan pacar temannya yang begitu polosnya.
"Mela ya ampun....hahahaha...astaga...
Aku tak bisa berkata-kata...hahahaha..".
Setelah mereda tawanya sambil masih menatap Mela dia berkata," Mela ya ampun sayangku....cintaku...negeriku...
bangsaku........hadeeehhhh.......hahaha bukan operasi plastik neng, tapi proses dengan menggunakan paket cream seperti di awal tadi aku sampaikan padamu".
"Nanti kalau semua proses treatment sudah selesai kamu ke meja aku yah... Nanti aku jelaskan semuanya".
Sambil berjalan menuju mejanya Wina bertanya-tanya dalam hati," Si Anton beneran punya pacar kayak gini... apa engga salah dia...jangan- jangan gara-gara kepalanya kebentur jadi mengubah seleranya yah...".
Wina paham sekali bagaimana dulu Anton punya kekasih yang paling cantik di kampus dan juga wanita berselera tinggi. Sementara sekarang memilih wanita yang jauh berbeda dengan kekasihnya dulu.
Tak lama Mela selesai dan dia duduk di hadapan meja Wina.
"Mela, kamu beneran tidak paham soal kosmetik dan kecantikan?"tanyanya dengan wajah yang merasa aneh.
Sambil tersenyum Mela menjawab," Iya dokter, saya tidak paham sama sekali. Saya tidak pernah berdandan".
"Ah bajumu rapih, lalu gaya berhijabmu juga oke, masa tidak paham masalah kecantikan?".
"Ya selama ini saya kan hanya kerja di toko besi, jadi buat apa saya dandan".
Wina tambah terperangah, dia benar tidak sangka Anton malah memilih pegawai toko.
"Begini loh Mela, jadi perempuan tidak perlu dandan pakai perona pipi, perona mata atau bibir setiap hari. Minimal cream anti matahari sudah cukup. Bila pakai perona bibir tipis-tipis juga lebih menarik,"ujar Wina memaparkan soal dandanan seorang wanita biasa.
"Kamu lulusan SMA atau SMK sih?"
tanya Wina matanya melirik Mela dari atas ke bawah.
"Dulu saya SMK perkantoran, lalu baru selesai kuliah Akuntansi".
"Oh kamu Sarjana!!?" Wina terkejut.
"Iya dokter baru saja beberapa hari yang lalu, tinggal tunggu Wisuda".
"Di sini kamu sedang apa?"tanya Wina lagi.
"Sementara saya diminta oleh Cici Anita untuk membantu mbak Pertiwi dan nanti menggantikannya selama mbak Pertiwi melahirkan," Mela menjawab apa adanya dengan santai.
"Oh begitu....hmmm...Mela ini ada satu paket cream treatment kecantikan yang harus kamu pakai. Ini sabun pencuci muka, ini cream pagi hari anti Ultra Violet dan bisa diulang siang hari setelah sholat, lalu ini serum dipakai malam hari setelah mandi, terakhir ini menjelang tidur cream malam. Dipakai tipis-tipis saja tidak perlu tebal, kamu tekan pompa botolnya keluar 1 tetes, nah itu cukup untuk satu wajah,"Wina menjelaskan panjang lebar kepada Mela sambil memperagakan cara pemakaian cream di wajah.
Mela memperhatikan dengan seksama semua petunjuk cara penggunaan paket tersebut.
"Dokter boleh bertanya kalau 1 paket seperti ini harganya berapa?".
"Kebetulan sedang promo jadi jadi hanya 750 ribu rupiah, dan kamu kan di bayarin sama cici Anita".
Mela tertegun dan kaget mendengar harga benda yang ada dihadapannya.
"Kamu tidak perlu takut Mela kalau habis, kan bisa mencicil. Misal cream pagi habis, kamu beli 1 di sini, nanti sabun habis beli lagi di sini. Harga satuannya terjangkau kok, ada yg ukiran besar atau kecil," Wina kembali menjelaskan kepada Mela yang tadi tampak terperangah.
Lalu asistennya Wina mendekati dan berkata," Dokter, mbak Mela kan polos sekali wajahnya bagaimana kalau kita foto sekarang dan nanti tiap bulan kita pantau terus. Kan bagus untuk proyek kita".
Wina mendengarkan lalu menatap Mela, sambil tersenyum lebar dia berkata kepada asistennya," Cerdas kamu Yuni...good idea".
__ADS_1
Lalu merekapun mengatur pose Mela dan memotretnya untuk dijadikan file, mereka akan menjadikan Mela proyek percontohan.
Sementara disaat bersamaan di kota Cirebon, Dokter Iskandar SPOG sedang duduk bersama dengan Ajun Komisaris Polisi Sucipto, dan dihadapan mereka duduk gemetar Ibu Supriatin ibunya Wiwit.
Dokter Iskandar melaporkan perihal ada tindakan percobaan pengguguran kandungan yang telah dilakukan oleh seorang ibu kandung terhadap anak kandungnya yang dibantu oleh sepasang suami istri paranormal.
"Sudah berapa lama anda kenal dengan Suprayitno alias Mbah Wiro dan istrinya Sutiyem?"tanya AKP Sucipto kepada Supriatin di dalam ruangan praktek dokter Iskandar.
Supriatin hanya menangis dia tidak mampu menjawab, memang dia bersalah telah melakukan percobaan menggugurkan kandungan anaknya sendiri dengan bantuan suami istri mbah Wiro dan Sutiyem.
"Kami mohon ibu bisa bekerjasama dengan kami, karena alasan kami memanggil ibu adalah berdasarkan pernyataan ibu sendiri kepada dokter Iskandar atas apa yang telah terjadi terhadap putri kandung and , "kembali AKP Sucipto mencoba mengajak Supriatin untuk bisa memberikan keterangan yang benar.
"Pak polisi saya kemarin khilaf pak, maafkan saya pak. Saya berpikir pendek untuk menggugurkan kandungan anak saya, karena dia hamil sebelum menikah".
"Baik kami paham, hanya saya ingin tahu bagaimana anda bisa meminta tolong kedua orang itu untuk melakukan perbuatan tersebut. Berarti selama ini anda tahu bahwa keduanya sering melakukan aborsi ilegal dan juga perbuatan ilegal lainnya".
Supriatin menangis lebih keras sambil menganggukan kepalanya pertanda dia tahu perbuatan buruk mbah Wiro dan istrinya.
Lalu AKP Sucipto menatap dokter Iskandar sambil dan keduanya mengangguk menunjukkan bahwa Supriatin menyampaikan yang benar.
"Baik bu, anda ikut kami ke kantor polisi untuk kami proses lebih lanjut. Dan sementara tim kami lainnya akan mencari keberadaan mbah Wiro. Mari ibu kita berangkat,"ajak AKP Sucipto sambil beranjak berdiri.
Supriatin diborgol oleh seorang polisi wanita dan dipegang lengannya. Dia menangis dan memberontak terus, suaminya hanya diam sama sekali tak bisa menolong karena memang istrinya terbukti bersalah.
Dokter Iskandar mendekati Haji Darma dan berkata," Pak Darma saya mohon maaf telah melaporkan istri anda. Namun saya sebagai dokter harus ikut menegakkan kebenaran apabila terbukti ada upaya ilegal yang berbahaya dan bisa menghilangkan nyawa orang lain".
Haji Darma menepuk bahu dokter Iskandar,"Tidak apa-apa dokter, saya paham memang benar istri saya sudah bersalah dan tindakan dokter itu benar melaporkan perbuatan buruk yang terjadi kemarin. Saya yang minta maaf sudah melibatkan dokter dalam hal ini".
"Tidak masalah pak Darma sekarang yang penting kita berdoa bersama agar ibu Wiwit segera sembuh,"merekapun bersalaman sebelum berpamitan.
"Surya...," panggil Wiwit dengan lemah ketika dia membuka matanya dilihatnya ada Surya sedang duduk disisi tempat tidurnya sambil menelungkupkan wajahnya.
Suryapun mendongak dan dilihatnya Wiwit sudah siuman setelah kondisinya kritis semalaman.
"Sayangku, kamu sudah sadar sayang," kata Surya sambil membelai kepala Wiwit dan mencium keningnya.
Wiwit hanya mengedipkan matanya karena dia masih sangat lemah sekali.
"Kamu mau minum sayang?" Surya bertanya kepadanya.
Wiwitpun kembali mengedipkan mata dan Surya menyodorkan gelas yang ada di meja lalu membantu Wiwit untuk minum.
Setelah minum Wiwit melihat ke arah perutnya dan membelai perutnya.
"Dia masih ada sayangku, dia anak yang kuat. Kita akan menjaganya, aku akan menikahimu setelah kondisimu sudah membaik," kata Surya sambil mengelus perut Wiwit lalu dia memandang wajah Wiwit dengan penuh cinta.
"Aku...benci.....bunda....," kata Wiwit terbata- bata sambil menitikan air mata mengingat perbuatan ibunya kepada dirinya dan bayi yang dikandungnya.
"Sssttt...jangan begitu sayang, dia itu ibumu sendiri apapun yang telah terjadi dia tetap ibumu,"Surya mengelap air mata Wiwit dengan kedua tangannya, dan Wiwit hanya bisa terdiam sambil mengelus perutnya.
Pintu ruangan Miranti diketuk oleh salah satu stafnya, dia masih berada di cabang Cirebon dalam rangka promosi obat penguat tulang buatan pabrik farmasi tempatnya bekerja.
"Apa yang mau kamu sampaikan pada saya Rangga?"tanyanya kepada stafnya yang bernama Rangga.
"Maaf bu, saya diminta menyampaikan informasi dari tim Bandung. Saat ini kita diblokir oleh hampir semua apotik di Bandung untuk pendistribusian obat penguat tulangnya," kata Rangga yang menyampaikan laporan yang telah diterimanya dari Bandung.
"Jadi begini bu, kata tim Bandung kan selama ini tiap bulan kita bisa keluar 200 dus obat tersebut yang kita sebar di distribusikan ke tiap apotik di seluruh Bandung. Nah kemarin ini berdasarkan kesepakatan para pedagang apotik di sana pemesanan obat kita ini sekarang dipusatkan di satu apotik saja yaitu Wiharja Farma. Nanti apotik lain kalau butuh baru mengambil dari mereka, dan pemesananpun di batasi hanya sekitar maksimum 50 dus perbulannya sesuai kebutuhan tiap apotik, " kata Rangga sambil menjelaskan dengan rinci permasalahan yang terjadi di cabang Bandung.
"Siapa nama pemilik Wiharja Farma?"
tanya Miranti dengan memasang wajah tidak suka.
"Kalau tidak salah bapak Fajar Sanjaya".
__ADS_1
Miranti menganggukan kepalanya lalu berkata," Kamu bersiap yah besok kamu bersama saya ke Bandung, dan kita temui orang itu".