
Hari ini tanggal satu Juni, Anton dan Rossie memasuki mobil minibus besar yang akan membawa mereka kembali ke kota tempat tinggalnya.
Ternyata mereka pulang pun masih harus memakai baju hazmat, karena sopir yang membawa mereka juga berpakaian yang sama.
Total ada lima orang yang pulang dari kota yang sama dengan Anton dan Rossie.
Cuma mereka dari kecamatan yang berbeda dan cukup jauh jaraknya dari tempat mereka bertugas selama ini.
Dan selama berada di Jakarta mereka hampir tak pernah bertemu, karena sibuk dengan begitu banyak pasien yang sedang sakit tak berdaya.
Sepanjang perjalanan mereka saling bercerita, dan tenyata ada juga yang pernah terjangkit sama seperti Anton beberapa waktu yang lalu.
Paling sedih saat saling bercerita tentang pasien yang tak tertolong lagi, karena virus sudah menggerogoti tubuh sehingga tak mampu lagi untuk bertahan hidup.
Biasanya orang lanjut usia atau memang yang sudah memiliki penyakit bawaan, sehingga tubuhnya tak sanggup menahan virus terus menghantam tubuhnya.
Ketika sudah memasuki kota Cirebon, ternyata sopir membawa mereka ke wisma olahraga yang ada di kota ini.
Kelima dokter harus menjalani karantina selama empat belas hari sebelum kembali ke rumah masing-masing.
Dan sopir sama sekali tidak turun tetapi kembali melaju untuk menjemput dokter lain dari kota ini untuk dibawa ke Jakarta lagi.
Kalau dipikir para tenaga medis jadi seperti tentara yang pernah kita lihat di film perang, ada tentara yang diambil dari kota lain untuk berperang.
Kemudian setelah sekian lama di medan perang, kembali ke markasnya dan giliran tentara lain yang diangkut ke medan perang.
Mungkin sama seperti itu, hanya saat ini musuhnya adalah virus yang menyerang begitu banyak masyarakat yang tidak berdosa.
Jaman dulu peluru timah berdesing, jaman ini obat dan vitamin yang sebagai pelurunya.
Di pintu gerbang mereka harus melepas baju hazmatnya untuk kemudian dihancurkan oleh petugas.
Kelimanya di periksa suhu tubuhnya, tas dan koper mereka juga diperiksa dan setelah tidak ada barang mencurigakan kemudian mereka berserta dengan barang yang dibawa disemprot dengan air desinfektan.
Ternyata yang menjaga di wisma olah raga ini adalah tim kesehatan dari Tentara Angkatan Darat.
Semua dokter dan perawat semuanya adalah anggota Tentara Angkatan Darat dan tentu saja yang di karantina harus siap dengan tata tertib yang diterapkan oleh tentara.
Anton dan kawan-kawan memasuki satu ruangan kamar khusus, tersedia ada enam lembar matras untuk tidur.
Berarti setiap kamar hanya diisi enam orang dan letak per matras berjauhan.
'Memangnya dokter Anton bisa tidur di tempat begini. Nanti susah tidak kalau berdiri dari tempat rendah begini?" tanya Rossie seakan khawatir kepada Anton.
"Bisa dong, kan ada tongkat kok. Tenang saja bro, aku bisa melakukan apapun. Jangan khawatir kepadaku," kata Anton tersenyum kepada Rossie sambil membuka kaki palsunya.
"Oh dokter Anton kaki kirinya prostetik? Saya baru tahu loh, tapi kemarin menghadapi orang sebanyak itu apa tidak merasa kelelahan?"tanya dokter Sofyan yang berasal dari Puskemas Lebak.
"Hahahaha...dokter Sofyan bisa saja, yang kakinya dua utuh juga kelelahan apalagi saya... hahahah... tapi dibawa gembira sajalah, mau apa lagi kita di sana kemarin," sahut Anton sambil tertawa geli.
"Iya benar juga yah, semoga saja di kota kita jangan sampai sebanyak di Jakarta. Saya kalau dipanggil lagi sepertinya angkat tangan deh," ujar dokter Sofyan sambil membayangkan apa yang telah mereka lalui kemarin.
"Memangnya bisa dokter Sofyan akan menolak kalau dipanggil lagi? Hahaha... nomor akreditasi kita hilang besoknya loh... hahahaha...," sahut dokter Ridwan yang berasal dari Puskemas Babakan.
Tiba- tiba masuk seorang petugas yang bersikap tegas.
"Permisi, kami ucapkan selamat datang para dokter yang baru tiba dari Jakarta. Selama empat belas hari ke depan anda semua akan berada di tempat ini. Dan mohon dapat mengikuti semua tata tertib yang berlaku," kata petugas tadi sambil memberikan lembaran tata tertib kepada setiap orang di sana.
Kelimanya menerima lembaran tersebut untuk dibaca.
"Baiklah, mohon dapat dipelajari dan dipahami. Sekarang masih pukul sebelas siang dan satu jam lagi makan siang bersama di aula atas. Sambil menunggu anda semua bisa melakukan kegiatan pribadi. Terima kasih," lanjut petugas tadi sambil memohon pamit.
"Ibadah pagi jam lima, jam enam olah raga sampai jam tujuh pagi. Sarapan mulai jam tujuh pagi sampai jam sepuluh. Sisanya kegiatan pribadi," kata dokter Bima yang berasal dari Puskemas Maja.
"Kita sudah di kota sendiri, satu langkah lagi sampai di rumah, tapi tertahan di sini empat belas hari pula. Ingin menangis rasanya," dokter Sofyan mulai mengeluh.
"Iya benar, padahal saya sudah kangen sekali sama anak. Tiga bulan ditinggalkan, sekarang sudah besar dia. Sungguh kangen sekali sama anak saya," ujar Anton sambil membayangkan Gibran.
"Aku sih kangen sama mamanya anak-anak... hahaha...tiga bulan tidak bercinta bro...kangen mandi wajib nih...hahaha," kata dokter Bima memecah
suasana haru.
"Yes bro, benar banget... sama anak kangen pastinya tapi sama istri juga kangen bangeeeetttt...hahaha," dokter Ridwan juga tak mau kalah menimpali.
"Ehm...ehm...ada yang belum nikah oom...,"sela Rossie ditengah tawa keempat orang lainnya.
Tentu saja semua jadi tambah tertawa mendengar kalimat Rossie.
"Bro, kalau belum nikah sih tenang saja masih bisa menyelesaikan masalah sendiri. Kalau kami sudah menikah semua, sudah lewat masa begitu. Jadi dokter Rossie bisa di kamar mandi agak lama, kami toleransi kok... hahahaha...," dokter Bima menggoda Rossie.
"Hahaha...tidaklah...bahaya begitu sih..alami saja deh saya sih...hahahah," sahut Rossie sambil tertawa.
"Tenang, di Puskesmas kami ada bandar link film... pemainnya orang atau anime, dia punya semuanya. Dokter Rossie hanya tinggal chat saja minta dikirim, langsung meluncur... hahaha," Anton juga ikut menimpali seakan benar adanya.
"Wah...bagi dong link nya, lumayan sebelum ketemu istri kan bisa alami dibantu link...hahaha," seloroh dokter Ridwan sambil tertawa.
"Serius nih, saya telepon orangnya sekarang juga. Kalau benar nanti saya minta dan pasti akan dikirim oleh teman saya," tantang Rossie kepada semuanya.
"Boleh dong...ayo lah tak apa...ini rahasia dokter yang sedang merana... hahahah," dokter Sofyan menjawab tantangan.
Lalu Rossie menghubungi Trisno si ahli komputer di kantor Puskemas.
Dan benar saja sekitar sepuluh menit kemudian notifikasi chat Rossie berbunyi, dan ketiga dokter langsung mendekati Rossie kecuali Anton.
"Jaga jarak oom, tak boleh dekat dengan saya... hahaha," Rossie menggoda ketiganya yang tampak tak sabar.
"Ini mau kirim pakai chat, bluetooth atau share it?" tanya dokter Ridwan serius sekali.
"Yang paling cepat saja yah, pakai share it..siap yah," kata Rossie sambil mengedipkan mata ke arah Anton.
Anton menahan tawa, karena dia tahu kalau Rossie akan menjahili ketiga dokter itu.
Rossie mengirimkan link sambil diam-diam melangkah ke arah pintu keluar ruangan tampak berniat kabur.
Setelah semua link sudah terkirim, dia cepat- cepat keluar ruangan.
Dan ketika ketiga dokter tadi membuka link yang dikirim, ternyata semuanya adalah film kartun anak-anak tentang si tikus dan si kucing.
"Hahaha...Rossie kacau... tipu...hahaha," dokter Bima terbahak- bahak.
"Wah...kita diperdaya anak kecil, awas saja kalau ketemu. Aku cincang anak itu...hahah," kata dokter Ridwan.
Dan Anton yang sejak tadi menahan tawa tak kuasa menahan lagi, dia tertawa terpingkal-pingkal melihat ketiga teman dokter yang sudah dikerjain oleh Rossie.
Ketiganya sekarang mengarah kepada Anton dan kompak melempar Anton dengan bantal, suasana jadi ramai karena sekarang mereka semua tertawa tak berhenti.
Kelimanya menjalani masa karantina sesuai aturan yang telah ditetapkan.
Subuh ibadah, lalu olah raga, sarapan, berjemur, mencuci pakaian, menjemur pakaian sambil berjemur diri.
Semua menggoda Anton yang terlihat paling reseh saat mencuci pakaian, sebab dia harus memakai sarung tangan saat melakukannya.
Anton kan memang alergi deterjen, jadi dia tak mau menyiksa diri walau disebut lebai oleh yang lain tapi dia tak ambil pusing.
Mereka juga diberi kegiatan menanam pohon di kebun belakang wisma olah raga tersebut, disana terdapat tanah yang luasnya sekitar dua hektar dan masih banyak yang belum ditanami apapun.
Kelimanya kompak dalam melakukan bercocok tanam, dan mereka juga kompak dalam saling berbuat jahil.
"Bro, ini buah apa yah, seperti labu kecil tapi pohonnya memiliki daun seperti belimbing. Apakah labu kecil seperti ini pohonnya?"tanya Anton sambil memegang buah kecil di suatu pohon.
Dia tak paham kalau itu adalah pohon belimbing wuluh atau sering juga disebut belimbing sayur, rasanya sangat asam.
__ADS_1
Dokter Sofyan yang melihat situasi kalau Anton tak paham pohon dan buah itu, lalu dia langsung mengerjai Anton.
"Masa tak paham, itu labu kecil enak loh manis. Nanti direbus dulu saja dan makan dengan nasi, aku jamin enak dan kamu pasti suka," ujar dokter Sofyan meyakinkan Anton.
Lalu dokter Sofyan memetik beberapa buah, sambil berkata ," Nanti aku minta petugas dapur merebutnya, buat tambahan makan siang kita nanti".
Anton setuju dengan ide dokter Sofyan, sementara memang tak jauh dari sana memang benar ada pohon labu hijau kecil, dan dokter Bima memetik juga beberapa buah.
Setibanya di kamp segera dokter Sofyan dan Bima mendekati petugas dapur meminta kedua macam buah tadi.
"Ini untuk apa? rasanya asam sekali loh belimbing wuluh ini," tanya petugas dapur merasa aneh.
"Permintaan dokter Anton, dia suka sekali. Maaf tapi nanti direbus di panci berbeda yah".
"Dokter Sofyan jangan mengajari saya, sudah pasti dong. Kan ini satu asam dan satu manis, masa disatukan," kata petugas dapur dengan ketus.
"Jangan judes dong Mbak, nanti manisnya hilang loh," goda dokter Sofyan.
"Biarin saja, memang saya judes soalnya saya janda," sahut petugas dapur itu.
Dokter Sofyan menatap dokter Bima sambil menahan tawa, apa hubungannya judes dengan janda.
Lalu mereka berdua berjalan perlahan meninggalkan dapur sambil cekikikan.
Ketika jam makan siang, setiap orang berbaris untuk mengambil jatah makan siang dan dokter Sofyan segera mengambil pesanan rebusan tadi.
"Ini bro labunya, ayo kita makan barengan," ajak dokter Sofyan sambil memberikan rebusan belimbing wuluh untuk Anton.
Dia juga menyimpan labu kecil di atas piringnya, sebelum makan berdoa dulu lalu setelahnya terlihat dokter Sofyan memakan labu kecil dengan nikmatnya.
Anton tanpa ragu langsung mengambil satu belimbing kecil yang sudah direbus tadi dan memasukan ke dalam mulut terus langsung saja mengunyahnya.
Saat kunyahan kedua dia berhenti dan merasakan rasa asam kecut yang luar biasa, keempat temannya terlihat cekikikan menahan tawa.
Anton paham dia dikerjai tapi dia cukup gengsi kalau harus mengalah, lalu dengan santai dia kembali mengunyah belimbing tadi dan menelan sampai habis semuanya.
"Benar enak sekali lagi rasa pengkhianatan, terima kasih punya teman durhaka semua. Awas saja pembalasan lebih kejam dari pada perbuatan... hahahahahha," kata Anton sambil menunjuk kepada mereka berempat.
Tentu saja semua tertawa mendengar ancaman kosong dari Anton, memang mereka semua saling usil dan jahil.
"Lagian dokter Anton aneh masa tak paham belimbing wuluh, saya saja made in Japan hapal loh," ujar Rossie sambil cekikikan.
"Sorry aku kelamaan di Kutub Utara jadi tak paham buah seperti barusan," tukas Anton sambil menjulurkan lidahnya.
Dan sepanjang siang sampai sore di hari itu Anton menjadi sasaran ledekan yang enak sekali.
Kamar mandi pria berbentuk pancuran ada sekitar sepuluh pancuran dengan dibatasi oleh sekat- sekat, dan ada korban baru yaitu Rossie yang sedang keramas, dia merasakan busa shampoo tak kunjung hilang.
Ternyata dari atas diteteskan lagi shampoo oleh dokter Sofyan dibantu oleh dokter Bima, dan itu berlangsung beberapa kali sampai Rossie kesal dan mengomel sendiri.
Anton dan dokter Ridwan tertawa terkekeh-kekeh di depan kamar mandi saat tahu apa yang terjadi.
Mereka tak berani tertawa keras karena nanti ketahuan oleh Rossie, tapi lama-lama dia mulai merasa kalau dikerjai lalu dia mendongak dan terlihat ada wajah Sofyan yang memegang botol shampoo.
Lantas Rossie segera menyemprot semua temannya itu dengan air pancuran yang diarahkan kepada mereka.
Selama di sana kelima orang ini selalu mengisi hari dengan berbagai kelucuan untuk menghilangkan rasa bosan.
Besok adalah hari ke empat belas dan mereka dinyatakan sehat selama berada di karantina sehingga boleh pulang ke rumah.
Anton menelpon Mela istrinya dan mengatakan kalau besok dia akan kembali pulang setelah menjalani karantina.
Mela terharu sampai menitikan air mata, tak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan suami tercintanya.
Begitu juga keempat dokter lainnya semua menghubungi keluarganya masing-masing karena merasa bahagia akan segera bisa melepas rindu.
"Bro, kita tetap saling kontak yah...keep in touch yah...," kata Anton kepada ketiga dokter lainnya pada esok harinya.
Semuanya kompak akan selalu ingat kejadian jahil dan usil selama di karantina dan tetap akan selalu saling berkontak bahkan mereka membuat grup chat dengan judul lima dokter sinting.
Kelimanya kembali pulang ke rumah masing-masing, Sofyan dijemput oleh istrinya naik mobil, Bima dijemput adik iparnya dan Ridwan dijemput oleh pegawai Puskemas tempat dia bertugas.
Rossie juga dijemput oleh kakaknya dan Anton dijemput oleh taksi online.
Mela menanti kedatangan suaminya dengan cemas, saat ini jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Gibran sejak tadi bertanya terus,"Mi...Pipi mana?".
Semalam anak itu diberitahu kalau ayahnya akan segera kembali, dan itu membuatnya terus bertanya sejak bangun pagi sampai sekarang.
"Sabar sayang, sebentar lagi Pipi pasti datang,"kata Mela sambil mencium pipi anaknya.
"Sini Gibran sama nenek, kita main mobil-mobilan sambil tunggu Pipi," ajak Ibu Sinah ketika melihat Gibran rewel kepada Ibunya.
Anak itu menggeleng sambil mencibirkan bibirnya, lalu dia berlari-lari kecil mengelilingi meja makan sambil sesekali memeluk Mela yang sedang duduk di salah satu kursinya.
"Bu Mela!!!...di depan ada mobil, kayaknya dokter datang deh," seru Eti yang sedang menjemur pakaian.
Mela segera bangkit untuk melihat yang datang, dan memang terdengar bunyi pintu pagar dibuka dan ditutup lagi.
Anton memandang ke lantai atas, di sana ada istrinya yang menanti sambil menggendong anaknya.
Mela dan Gibran melambai tangannya kepada Anton, dan dibalas dengan senyum dan lambaian juga sambil melangkah menuju ke atas.
"Jangan peluk dulu, aku harus mandi dulu. Tolong ambilkan sabunku dari dalam, aku mandi di kamar mandi sini saja," kata Anton sambil tangannya menahan Mela dan Gibran.
"Pipi...uhuk...uhuk...mau Pipi," Gibran menangis ingin memeluk ayahnya.
Tapi Mela segera sadar kalau suaminya baru dari datang setelah sekian lama, bisa saja membawa virus jadi harus segera mandi dulu.
Segera Mela menyerahkan Gibran ke pelukan neneknya lalu dia berlari ke kamar mandi dalam mengambil semua sabun dan perlengkapan lain yang biasa Anton gunakan kalau membersihkan diri.
"Eti, maaf yah...semua pakaian saya di koper dan yang saya kenakan, tolong segera direndam dan dicuci yah. Juga kaki palsu saya dan sepatunya sekalian," kata Anton meminta bantuan Eti.
"Walah pak dokter, kakinya copot...eh...copot...ini kalau basah nanti rusak tidak? dokter...eh iya takut rusak...," ujar Eti tampak bingung melihat kaki palsu majikannya.
"Tidak apa-apa, bersihkan saja perlahan lalu segera dikeringkan sambil di jemur sebentar. Jangan lupa memakai sabun desinfektan," kata Anton sambil mencopot pakaiannya.
"Siap dokter....aduh...kok buka baju di luar...bahaya...
Eti malu iiihhh.. !!!," teriak Eti ketika melihat Anton dengan santai membuka pakaiannya.
"Saya mau ke kamar mandi, kok situ yang ribut," katanya sambil melangkah menuju kamar mandi yang ada di situ.
"Pak dokter!!!...itu kan kamar mandi Eti...nanti Pak dokter jijik loh...di situ ada mesin cuci juga!!!"seru Eti yang lebai sekali.
"Eti...ngomong sekali lagi saya siram...cerewet deh...," kata Anton sambil melotot pura-pura ke Eti.
Langsung Eti terdiam dan meneruskan menjemur pakaian.
Setelah selesai mandi, kemudian Anton keluar pintu kamar mandi dan merasa segar seluruh tubuhnya.
Lalu dia berjalan mencari anaknya, dan terlihat Gibran sedang main melompat ingin menangkap kupu-kupu yang hinggap di pohon.
"Iban sayang, sini ini Pipi," kata Anton sambil membentangkan tangannya seraya siap memeluk anaknya.
Gibran melihat ayahnya sudah siap memeluk dirinya, lalu dia segera berlari menghampiri Anton dan langsung tubuhnya di angkat dan dipeluk erat oleh ayahnya.
"Pipi cayang Iban? Pipi jangan lama jauh yah," kata Gibran meminta Anton jangan pergi jauh lagi.
Anton mengangguk sambil memeluk dan mencium pipi anaknya, lalu mereka berdua masuk ke kamar tidur.
__ADS_1
Serasa bahagia sekali bisa merebahkan diri di kasur empuk, tiga bulan tidur di ranjang pasien atau di matras.
Hari ini Anton senang sekali bisa merebahkan diri bersama anaknya, aroma tubuh anak kecil yang sangat dia rindukan terus dia cium dan endus anaknya sambil dipeluk erat.
Senang sekali bisa bermain berdua anak yang sekarang sudah besar dan banyak berceloteh walau masih tak jelas apa dibicarakannya.
Yang penting bisa tertawa berdua sudah sangat luar biasa sekali, mendengarkan suara tawanya seakan hilang semua penat yang berbulan-bulan dia rasakan.
"Aduh anak siapa sih ini dari tadi ketawa terus, lagi main apa sama Pipi?"tanya Mela ketika masuk kamar tidurnya.
"Mimi cinih...Ban cayang Pipi," kata Gibran sambil memeluk ayahnya.
"Sudah tak sayang Mimi lagi nih...," goda Mela kepada anaknya.
"Cayang Mimi juga,"anak kecil itu segera melepas Anton dan langsung melompat ke pelukan Mela.
"Ah Pipinya sedih, Iban engga sayang Pipi,"Anton juga menggodanya.
Anak itu bingung, lalu berkata, " Ban itu cayang Mimi, cayang Pipi. Jangan cedih lagi yah Pipi sama Mimi".
Anton gemas sekali, lalu dia bergerak memeluk anak dan istrinya, menciumi pipi dan kening anak istrinya.
"Iban sayang, ayo makan sayang. Kita makan sambil menangkap kupu-kupu yuk," ajak Ibu Sinah di depan pintu kamar anak dan menantunya.
"Iban mau mamam sama Pipi, Nek," sahut Gibran kecil kepada neneknya.
"Kasihan Pipi masih capek, besok makan sama Pipi yah. Sekarang kita makan di main menangkap kupu- kupu yah," ajak Ibu Sinah lagi dan anak itu akhirnya menurut lalu mengikuti sang nenek ke halaman.
"Mi, adzan Dzuhur masih lama kah?"tanya Anton sambil berbaring.
"Paling setengah jam lagi".
"Pintu tutup dong, kunci juga. Aku ingin tidur sebentar, tapi kamu disini Mi temani aku".
Mela menutup pintu dan menguncinya, lalu dia berbaring di sebelah suaminya.
Anton segera memeluknya erat sambil berkata," Ibumu memang pengertian, aku sudah kangen berat sama kamu. Yuk sebentar saja mumpung belum adzan".
"Pi...astaga...malu dong. Nanti saja malam".
"Sudah sebentar, aku tak tahan kangen...sudah jangan ribut...sini dong Mi".
Dan Mela tak bisa menolak, dan terjadilah melepas kangen yang sudah tertunda selama tiga bulan lebih.
Setelah Sholat Dzuhur, sepasang suami istri ini makan siang bersama dengan Ibu Sinah.
Mela tampak kikuk karena rambutnya basah, Ibu Sinah paham tapi pura-pura tak tahu takut anaknya malu. Padahal dalam hati ingin sekali menggoda anaknya itu.
Anton kemudian menelepon Kepala Dinas Kesehatan untuk meminta ijin cuti satu minggu, dia mengemukakan alasannya dan tentu saja walau tak pakai alasan apapun juga pasti akan disetujui.
Seminggu ini dihabiskan waktunya dengan keluarga. Gibran begitu senang saat Anton membawanya berkeliling kota naik mobil.
Untung mobil yang sudah tiga bulan tidak digunakan ternyata masih bisa berfungsi dengan baik, setelah di cek ke bengkel ternyata semuanya masih baik.
Sore itu pertama kali lagi Gibran keluar rumah berkeliling kota bersama ayah dan ibunya, selama ini diam di rumah saja tak kemana-mana sama sekali.
Anak itu senang sekali ketika masuk ke dalam mobil, dia melompat dan bergulingan di kursi belakang.
Ibu Sinah melihat cucunya tak mau diam tentu saja panik karena takut anak itu kepalanya terbentur atau kakinya keseleo.
Tapi Gibran tak peduli walau neneknya berteriak- teriak mencoba menghentikan aksinya.
Anton mengajak keluarganya hanya sekedar berkeliling kota saja tetapi sama sekali tidak turun untuk masuk ke mall atau supermarket.
Mereka takut kalau membawa Gibran memasuki tempat seperti itu karena virus bisa saja menempel menjangkiti anaknya, karena anak kecil pasti akan menyentuh apapun yang dilihatnya.
Setelah puas berkeliling kota mereka bermaksud pulang tapi Gibran menangis karena ingin es krim, lalu Anton membelokan mobil ke satu rumah makan cepat saji yang menyediakan sarana drive thru, sehingga bisa memesan makanan dan membayar tanpa harus turun dari kendaraan.
Anton memesan satu es krim untuk anaknya, tapi tiba-tiba ," Saya juga mau loh".
Rupanya nenek tak mau kalah dengan cucu, dan di kursi belakang cucu dan nenek menikmati kebersamaan menikmati es krim manis yang dingin dan lezat.
Sambil menikmati cuti di rumah bersama anak dan istri, Anton juga membenahi apotik yang dikelola istrinya.
Dia kembali menghubungi temannya yang seorang apoteker, lalu pegawai apotik yang kemarin ini sempat dirumahkan karena apotik tutup juga dipanggil kembali.
Sebelum resmi dibuka, mereka membuat penghalang dari bahan plastik khusus agar antara pembeli dan penjual tidak saling bertatap muka langsung.
Lalu tempat cuci tangan di depan apotik diperbaiki agar tampilannya lebih bersih dan nyaman.
Klinik di rumahnya juga dibuka lagi, dengan syarat pasien yang datang harus memakai masker dan wajib mencuci tangan ketika akan memasuki klinik.
Karyawan klinik juga dipanggil lagi, tentu saja semua bahagia karena sudah bisa bekerja lagi.
Anton dan Jaya berkoordinasi untuk membersihkan puskemas sebelum hari Senin nanti akan segera dibuka kembali.
Jaya membagikan alamat meeting online kepada semua teman kantornya karena Anton akan mengadakan rapat sebelum operasional Puskemas dibuka nantinya.
Semua menyambut gembira rencana tersebut dan rencananya hari sabtu dan minggu semua karyawan masuk untuk berbenah dan membersihkan gedung serta akan diadakan penyemprotan semua ruangan dengan desinfektan anti virus.
Akhirnya ketika tiba hari itu semua karyawan hadir dan semangat sekali membersihkan tempat kerjanya dan mereka semua menggunakan standar protokol kesehatan seperti memakai masker dan selalu menjaga jarak walau teman sejawat.
Begitu juga ketika hari Senin tiba dan Puskesmas kembali beroperasi, ada petugas khusus yang memeriksa suhu tubuh karyawan dan juga pengunjung.
Anton berusaha untuk tata tertib kesehatan yang berlaku benar- benar dijalankan agar Puskesmas yang dia pimpin jangan sampai kena tegur karena melanggar prosedur.
"Dok, sampai kapan ini akan berlangsung yah?"tanya Jaya di suatu sore.
"Entahlah bro, kita jalani saja. Jaga diri dan keluarga karena wabah ini tak akan segera hilang," jawab Anton.
Lalu keduanya naik ke lantai atas gedung baru yaitu klinik ibu dan anak, mereka naik ke atap gedung.
Anton duduk di dekat tabung air besar dan Jaya berdiri, di tangan keduanya ada minuman hangat, Anton seperti biasa teh hangat dan Jaya kopi hitam.
Keduanya menatap senja yang begitu indah, langit berwarna jingga dan awan putih berarak tertimpa sinar minggunya sang mentari.
Begitu banyak hal yang sudah dilalui oleh keduanya di dalam cerita ini.
Anton menemukan cintanya kepada Mela sampai akhirnya menikah dan punya seorang anak lelaki kecil.
Jaya juga bertemu Miranti dan keduanya sama pernah dulu pernah hidup kacau dan sekarang keduanya menata hidup baru.
Sekarang kedua sahabat belum tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang, yang pasti keduanya akan selalu semangat menjalani hidup dan akan menjaga keluarganya agar terhindar dari virus mematikan yang melanda dunia.
Harapannya semoga mereka berdua akan hadir lagi dalam cerita lain, dilain hari.
Mungkin kisah mereka akan berakhir dulu saat ini, tapi tak menutup kemungkinan akan ada cerita lain tentang mereka di masa mendatang.
Semoga kehidupan ini juga akan selalu berjalan baik, yakin suatu saat wabah akan berakhir dan hidup akan kembali lagi seperti semula.
Jangan pernah patah semangat karena hidup adalah pembelajaran, dan belajar tak akan pernah selesai.
Terima kasih sudah membaca Cinta Anton dan Mela, kisah ini berhenti dulu disini tapi akan segera ada cerita lain yang tak kalah seru.
Terima kasih
Salam
Author
__ADS_1