Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keenam


__ADS_3

Wiharja Farma adalah salah satu apotik ternama di kota Bandung yang terletak di salah satu jalan raya utama.


Apotik itu sudah lama berdiri sejak tahun 1950 an, didirikan oleh Bunadi Wiharja kakek dari Salim Wiharja. Kemudian usahanya diteruskan oleh Santosa Wiharja ayah dari Salim Wiharja dan sekarang dilanjutkan oleh Anita Wiharja dan suaminya Fajar Sanjaya.


7 tahun lalu saat anak lelakinya kecelakaan dan koma selama hampir lebih dari 5 bulan, Salim tidak fokus mengurusi usahanya.


Sehingga saat itu anak gadisnya Anita yang sarjana ekonomi mengambil alih. Kebetulan calon suami Anita adalah seorang sarjana psikologi.


Setelah menikah mereka mulai menggabungkan keahliannya.


Sebagai generasi muda mereka mencoba lebih kreatif dalam mengembangkan usaha tersebut.


Apotik dibentuk seperti swalayan untuk pembelian obat non resep, sedangkan untuk obat dari resep dokter ada ruang khusus.


Mengajak kerjasama beberapa dokter umum dan spesial terkenal untuk bekerjasama membuka praktek di klinik apotik tersebut.


Termasuk Fajar yang juga membuka klinik konsultasi psikologi di tempat usahanya itu.


Menggandeng juga dokter spesial kulit dan kelamin, lalu di lantai 2 mereka membuka klinik kecantikan.


Dan usaha mereka terus berkembang pesat, dalam mengembangkan usahanya juga mereka berbagi hasil sesuai syariat Islam dengan pembagian keuntungan per enam bulan sekali dengan pemegang saham yaitu Ayahnya Anita Bapak Salim Wiharja dan juga kepada adiknya Anton Wiharja.


Keluarga mereka keturunan Tionghoa, karena paket buyut mereka sebenarnya berasal dari Tarakan Kalimantan Utara. Namun mereka adalah Muslim yang taat, bahkan Salim Wiharja adalah salah satu pengurus Komunitas Muslim Tionghoa Bandung.


Banyak kegiatan amal yang sering diselenggarakan seperti membantu korban bencana alam, menyantuni anak yatim dan manula, mendirikan posko kesehatan gratis dan lain sebagainya.


Disebelah bangunan Wiharja Farma, ada sebuah rumah mewah dulunya Salim Wiharja tinggal disana sekeluarga.


Namun setelah kejadian kecelakaan anaknya, Salim dan istrinya Aryani pindah ke rumah yang lebih kecil di utara kota Bandung. Suasananya sepi dan hawanya dingin, tujuannya waktu itu untuk membuat anaknya lebih tenang.


Sekarang rumah sebelah apotik dihuni oleh Anita dan suaminya Fajar, mereka sudah punya dua orang anak. Yang pertama anak perempuan bernama Keiza sudah berusia 5 tahun, dan adiknya lelakinya yang bernama Kaysan baru saja lahir sebulan yang lalu.


Malam ini adalah hari sabtu malam minggu, semua berkumpul di rumah Anita.


Salim dan Aryani kangen dengan cucu mereka, dan kebetulan juga besok Anton akan ke Cirebon jadi ingin makan malam bersama sebelum kepergian Anton.

__ADS_1


"Oom Ton benelan mau pelgi tinggalin Kei?"tanya si gadis cilik sambil duduk di atas kaki palsu Oomnya.


" Iya sayang, tapi kan nanti Oom juga pulang dua minggu sekali nemenin Kei,"jawab Anton.


Sambil mengacungkan dua jarinya dia bertanya lagi,"Dua minggu itu lama engga Oom Ton?".


Anton tersenyum dan mencium kening keponakannya,"Sebentar kok, makanya Kei harus pintar, jangan nakal yah harus nurut sama Ayah dan Bunda, biar oom nya cepat kesini lagi nemenin Kei".


Lalu Keiza memeluk Oomnya,


"Tapi Oom harus janji sama Kei, disana Oom engga boleh punya pacal, nanti Oom engga sayang lagi sama Kei".


"Iya sayang, Oom janji sama Kei," katanya sambil tertawa.


"Kei ayi duduk sini nak, makan bareng disini sama Oom Ton," Bundanya memanggil dirinya.


Lalu merekapun makan malam bersama dengan hidangan yang sudah disiapkan oleh Anita.


"Anton, besok kamu sudah siap ke Cirebon?"tanya Fajar kepada adik iparnya.


"Sudah Ko, rencana besok pagi saya mulai jalan kesana".


"Sendiri saja tidak apa-apa, kemarin juga kesana sama mamah dan papah pulang pergi".


"Oh gitu, ya sip dong aman yah berarti," kata Fajar lagi.


"Iya kemarin mamah sama papah kesana diajak jalan-jalan sambil lihat paviliun sama puskesmas, lalu kuliner deh. Enak-enak loh Nita makanan disana" kata Aryani.


"Siapa tahu disana kamu dapat jodoh dik, cici doakan loh,"kata kakaknya.


Anton hanya diam tak menjawab.


"Di Cirebon sih kayaknya susah dapat muslim tionghoa bun," ujar Fajar kepada istrinya.


Istrinya sambil cemberut mengomentari suaminya,"Ah ayah tuh engga harus tionghoa juga, dulu pacar dia juga tionghoa tapi kacau orangnya. Sekarang sih sama orang mana saja yang penting baik".

__ADS_1


Anton berhenti mengunyah ketika mendengar sang kakak berkomentar, lalu menghela nafas sambil melanjutkan kunyahannya lagi.


Aryani sang mamah segera menyambar dengan penuh semangat,"


"Kemarin tuh Nita, di paviliun tuh yah, anak yang ngurusin tuh yah perempuan, masih muda, pinter dan ramah anaknya. Kelihatan sih gadis Jawa Cirebon, kulitnya kuning langsat. Mamah senang melihatnya".


"Tapi mah katanya perempuan Cirebon kebanyakan materialistis loh kata orang-orang,"celetuk Fajar.


Papah yang sedari tadi diam langsung berkata,"Astagfirullah, jangan suka menuduh tanpa fakta. Sudah doakan saja adik kalian mendapatkan jodoh, mau orang Cirebon sekalipun tidak masalah. Perempuan materialistis dimana juga banyak bukan hanya di Cirebon".


Fajar langsung terdiam sambil berpandangan dengan istrinya.


Paham mertuanya mulai tidak senang dengan pembicaraan yang serasa menyudutkan orang lain.


Kemudian Anita segera mengganti topik lain, agar ayahnya tidak jadi marah.


Mereka berbincang yang ringan dan lucu tentang anak-anak agar suasana jadi tidak tegang.


Selesai makan Anton duduk di teras belakang lalu Salim mendekatinya.


"Anton, jangan jadikan beban masalah jodoh mu itu yah. Biarlah serahkan semua kepada Allah, papah yakin kamu juga ingin berkeluarga seperti cicimu. Tapi biarlah Allah yang akan mengatur semuanya, serahkan bebanmu hanya ke tangan Allah".


Anton hanya tersenyum dan merangkul ayahnya.


Lalu mereka semua berkumpul kembali, masih berbincang ringan sampai waktu tak terasa sudah menjelang pukul 22.00.


Anton pamit dengan membawa papah dan mamah pulang kembali ke rumah.


Besok pagi dia sudah fix akan ke cirebon menunaikan tugasnya.


Malam itu sambil merapihkan pakaian kedalam koper Anton berkata dalam hatinya," Aku ingin bisa dipertemukan dengan keluarga yang dulu aku tabrak sampai meninggal, aku ingin membalas kebaikan mereka. Kalau memang mereka masih berkesusahan semoga aku bisa membantu mereka".


Anton ingat kejadian dulu, dan memang keluarga korban yang ditabraknya tidak menuntut apapun. Bagi keluarga itu mungkin memang sudah jalan Allah untuk membawa bapak itu meninggal dengan cara demikian.


Bertahun-tahun Anton meminta orang tuanya mengantarkan dia ke Cirebon untuk menemui keluarga korban. Tapi karena saat orangtuanya menyambangi keluarga korban untuk memberikan santunan, kondisi sedang kalut. Orangtuanya tidak ingat dimana lokasi keluarga itu berada. Saat itu pikiran mereka terpecah, disatu sisi urusan dengan keluarga korban, disisi lain mereka juga khawatir dengan kondisi anak mereka yang masih terbaring koma.

__ADS_1


Dan Antonpun tak mungkin memaksakan kedua orang tuanya untuk mengingat dimana tempat keluarga korban berada. Karena dulu mereka juga hanya diantar oleh orang lain yang tahu rumahnya korban dan sampai sekarangpun Salim dan Aryani istrinya tidak ingat siapa pula yang mengantarkan mereka waktu itu.


Yang pasti lokasi rumah korban jauh hampir seperti keluar kota Cirebon ke arah PANTURA, tepatnya dimana mereka tidak ingat sama sekali.


__ADS_2