
Hari minggu seharusnya jadwal Mela pulang menengok ibunya.
Setelah minggu lalu tidak pulang karena harus memantau mang Didi yang mengecat ulang paviliun.
Hari minggu ini dia ijin lagi tidak bisa pulang karena harus menunggu orang yang menyewa paviliun akan datang.
Berarti sudah sekitar 2 minggu dia tidak pulang ke kampungnya di Sindang Laut.
Sindang laut masih kabupaten Cirebon namun ke arah utara, dari tempat dia tinggal sekarang perjalanan sekitar 1 jam menggunakan mobil. Biasa dia pulang menggunakan mobil angkutan umum Elf.
Ibunya Mela yaitu Marsinah yang biasa dipanggil mimi Sinah oleh masyarakat sekitar adalah pembuat pepes tahu atau biasa disebut intip tahu.
Salah satu makanan khas cirebon berupa tahu di tumbuk halus lalu dicampur telur, jamur dan rempah, lalu diberi bumbu biasanya agak pedas rasanya. Kemudian dibungkus dengan daun pisang dan setelah dikukus sebentar lalu dibakar di atas panggangan. Wangi harum sekali dan rasanya lezat.
Seperti biasa toko besi tutup di hari minggu, biasanya keluarga Wak Haji Darma sejak pagi berangkat ke pengajian lalu siangnya lanjut ke rumah anak sulungnya Hilman menengok cucu mereka.
Mela siang itu merasa lapar, lalu dia berpikir untuk mencari makan di jalan depan. Karena memang hari minggu dia tidak mendapat jatah makan dari Wawaknya.
Saat dia mengunci pintu kamarnya, tiba-tiba dia dikejutkan karena dipanggil oleh Wiwit.
"Loh Wiwit tidak ikut Ayah dan Bunda?" tanya Mela.
" Iya Mela..aku tidak ikut. Eh.. Mela tapi aku mau minta tolong kamu," kata Wiwit kepada Mela.
"Minta tolong apa?"tanya Mela.
"Aku mau pergi sama Surya, sebentar lagi dia datang. Kami janjian ketemu di ujung jalan sana. Tapi nanti kalau Ayah atau Bunda tanya sama kamu, aku pergi dengan siapa, kamu jawab pergi sama teman perempuan yah. Sebut saja Lina atau siapa deh".
"Walah kenapa begitu Wit, kenapa tidak jujur saja bilang pergi dengan Surya".
" Kamu kayak engga paham bunda bagaimana orangnya, bunda kan pasti marah kalau tahu aku pergi dengan Surya".
" Iya sih Wit, tapi kalau ada apa-apa di jalan gimana loh".
" Ah sudah pokoknya gitu saja. Aku mau pergi sekarang Surya sudah nunggu ... daaahhhh".
Wiwitpun berlari-lari kecil ingin segera menemui Surya di ujung jalan sana.
Mela hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
Surya adalah pegawai pabrik cat, dia sering ke toko untuk menawarkan produk baru, atau mengirim barang.
Karena Wiwit juga membantu menjadi kasir di toko, maka sudah pasti sering bertemu Surya.
Dan mungkin saat ini mereka sedang saling jatuh cinta.
Lalu Mela melanjutkan mencari tukang jual makanan dan kebetulan ada penjual ketoprak.
Saat dia sedang memesan ketoprak, terlihat ada mobil berbelok masuk ke arah halaman rumah lalu berbelok ke arah paviliun.
Rupanya dokter Anton datang, padahal kemarin ini bilangnya akan datang sore hari. Sementara sekarang baru jam 10.00 pagi tapi sudah datang.
Setelah menerima bungkusan ketoprak dan membayarnya diapun segera menemui Anton.
"Loh pak dokter sudah datang? Katanya nanti sore baru akan datangnya," tanya Mela kepada dokter Anton.
"Iya tadinya mau nanti sore, tapi saya pikir lebih baik pagi saja sekalian kepingin tahu dulu lingkungan sekitar sini," jawabnya.
"Oh begitu, sebentar saya ambil dulu kuncinya di kamar saya".
Mela berjalan ke kamarnya yang berada di belakang paviliun.
Dia mengambil kunci, sambil meletakan ketopraknya di piring. Lalu dia kembali ke depan untuk memberikan kunci paviliun kepada Anton.
"Ini pak dokter kuncinya," sambil menyerahkan kunci kepada Anton.
"Iya terima kasih bu,..Eh.. saya panggil mbak saja yah".
"Bebas saja, mau panggil nama juga tidak apa. Dulu dokter Harsono sih memanggil Mela saja".
"Hmm kalau begitu saya panggil Mela juga tidak apa-apa kan".
" Sip santai saja dok, Ehm... tadi pagi paviliun sudah saya bersihkan dan rapihkan. Nanti kalau ada apa-apa panggil saja saya di belakang. Tapi harus berputar yah jalannya. Tidak ada tembusan dari dalam sini".
"Oke siap, Eh... ngomong-ngomong tadi seperti bawa bungkusan makanan. Beli apa? Maaf saya juga lapar sih," Anton tiba-tiba merasa lapar.
" Oh ketoprak di depan. Mau tah?".
" Boleh dong, saya minta tolong dipesankan saja biar nanti mamangnya mengantar kemari".
"Oke siap tunggu sebentar, pedas atau tidak".
"Ehm..jangan terlalu pedas, sedang saja deh".
__ADS_1
"Siap...tunggu yah".
Lalu Mela memesankan ketoprak sambil mengatakan ke penjual untuk diantar ke paviliun depan beserta air minumnya.
Dan diapun kembali ke kamarnya.
Setelah makan Anton masuk ke dalam paviliun. Dia meletakan kopernya ke dalam salah satu kamar yang ukurannya lebih kecil untuk dia jadikan ruang ganti pakaian dan ruang sholat.
Sementara kamar sebelahnya lebih agak luas dia jadikan untuk ruang istirahatnya.
Karena hawa Cirebon sangat panas, sehingga setelah makan tadi dia sangat kegerahan.
Dia bermaksud hendak tukar pakaian, tapi sebelumnya dia mencoba menyalakan kipas angin yang ada di kamar tersebut.
Dan tidak menyala padahal sudah dia tekan tombolnya. Lalu dia coba nyalakan lampu, sama juga tidak menyala. Dalam hatinya bertanya apakah sedang aliran listrik.
Lalu dia keluar paviliun dan mencoba ke belakang mencari Mela. Namun yang dilihatnya hanya halaman luas berisi bahan bangunan dan di belakangnya paviliun dari kejauhan hanya terlihat seperti bangunan seperti gudang besar.
Dia mencoba melangkah maju secara pelan-pelan.
Mungkin Mela sedang di gudang pikirnya. Ketika dia mendekat ke arah gudang.
"Dokter mau kemana?"tiba-tiba ada yang bertanya padanya. Sontak Anton menoleh ke arah suara dan dia terkejut. Benar diantara tembok belakang paviliun dan gudang terselip kamar yang bersebelahan dengan kamar mandi. Semuanya serba sangat super minimalis.
"Oh kamu disini toh," kata Anton sambil mengernyitkan kening.
" Ya dokter ada yang bisa saya bantu?" tanya Mela lagi.
"Itu Mela, listrik di paviliun tidak menyala, apakah sedang aliran pemadaman listrik?" tanya Anton.
"Tidak kok, masa tidak menyala coba saya periksa".
Lalu Mela dan Anton segera melangkah menuju paviliun.
Mela mencoba memeriksa dan memang tidak menyala. Lalu Mela memeriksa kotak panel listrik didepan dan dia paham. Lalu dia naik ke kursi dan memindahkan pengait panel listrik seketika listrik menyala.
"Oh maaf yah, saya tidak tahu kalau pengaitnya belum dipindah".
" Tidak apa- apa dokter. Oh iya pulsa token sudah saya isi tadi pagi 100 ribu rupiah, itu free dari pemilik. Nanti kalau misal pulsa token habis harus diisi sendiri nanti hubungi saya saja".
"Baiklah," kata Anton mengangguk seakan paham.
"Eh Mela, kalau cuci setrika dan bersih-bersih rumah bagaimana yah. Katanya saya harus bayar sendiri, apakah ada petugasnya?"tanya Anton lagi.
"Oh begitu, berapa per bulan saya harus bayar?"tanya Anton lagi.
Dengan malu-malu Mela menyebutkan nominalnya, sambil dalam hatinya agak takut juga kalau kemahalan.
"Hmmm.....300 ribu saja bagaimana dokter, cuci dan setrika juga sapu pel dan bersih-bersih lainnya,"jawab Mela.
Namun dokter Anton menjawab setuju dan dia minta dijelaskan mekanismenya seperti apa.
Menurut Mela nanti dia siapkan keranjang di depan kamar Anton. Nanti pakaian kotor simpan di situ nanti tiap pagi akan diambil Mela sekalian merapihkan paviliun, kemudian setelah selesai setrika akan disimpan ditempat yang sama.
Untuk bersih-bersihnya akan Mela lakukan setelah dokter berangkat kerja, jadi saat sore atau malam pulang kerja sudah rapih.
Mela mengatakan ada kunci cadangan jadi untuk semua keperluan Anton akan dia siapkan dengan menggunakan kunci tersebut.
Antonpun setuju dengan semua apa yang dijelasakan Mela.
"Oh ya Mela, kalau kiblat ke arah mana yah?"kembali Anton bertanya.
Mela menunjukkan arah kiblat, lalu dia berseloroh.
"Padahal pakai gawai juga bisa kok mencari arah kiblat,"kata nya lagi sambil senyum.
Anton kembali tersipu-sipu dan kembali merasa detak jantungnya menjadi kencang setiap melihat senyum Mela.
Kemudian Mela kembali ke kamarnya dan tak lama dia kembali lagi ke paviliun untuk menyimpan keranjang pakaian.
Sementara Anton sedang di kamarnya bersiap untuk membersihkan diri karena sebentar lagi akan masuk waktu Dzuhur.
Dia membuka pakaiannya dan juga melepas kaki prostetiknya, dari dalam tasnya dia mengambil tongkat berbahan metal yang bisa dilipat.
Dibukanya lipatan tongkat itu, dan dia berdiri melangkah ke kamar mandi. Dan terlihat dia berjalan dengan hanya satu kaki kanannya saja.
Sore harinya setelah sholat ashar, Anton mencoba kembali memakai kaki palsunya dan dia berencana mau berputar-putar mencari tahu ada apa saja di sekeliling tempat tinggalnya sambil mencari makanan untuk nanti malam.
Saat hendak menuju mobil tampak ada sepasang pria dan wanita setengah baya mendekati.
Lalu mereka memperkenalkan sebagai pemilik paviliun dan juga toko disana.
"Maaf anda bekerja dimana?" tanya Haji Darma.
__ADS_1
"Oh saya dibidang medis, saya bertugas di puskemas Jamblang," sahut Anton.
" Dokter juga yah rupanya, wah kebetulan dong," tiba-tiba Wak Atin menyambar.
"Ya begitulah bu,"sahut Anton sambil tersenyum.
"Sekarang mau kemana pak dokter nih?"Haji Darma bertanya.
"Mau keliling saja pak, mencari tahu lingkungan disini".
"Oh silahkan kalau begitu, nanti kalau ada perlu apa-apa bisa menghubungi kami atau ke Mela yah".
Dan Antonpun mengiyakan, kemudian dia masuk mobil dan melajukan kendaraannya berkeliling di sekitar lingkungan disana.
Menjelang maghrib dia kembali sambil membawa sebungkus makanan.
Lalu dia masuk paviliun dan seperti biasa melepas kaki palsu dan memakai tongkat ke kamar mandi.
Selepas sholat maghrib selalu Anton gunakan untuk berdzikir dan mengaji.
"Mela!!!! Mela !!!!"wak Atin berteriak memanggil Mela dari pintu dapurnya.
"Dalem Wak, sedemat!!!,"jawab Mela sambil berteriak juga.
(\=Iya Wak, tunggu sebentar)
Lalu dia berlari keluar kamar dan mendekati Wak Atin.
"Iki kaken ning dokter, gage!! Awas sira aja kecentilan maning yah!".
(\=Ini berikan kepada dokter,cepat!! Awas kamu jangan kecentilan lagi!)
Sambil cemberut Mela mengambil piring kue cucur yang ada di tangan Wak Atin.
Kemudian dia berjalan menuju paviliun. Setibanya di depan pintu dia mengetuknya.
Tak lama pintu terbuka dan Mela tampak terkejut. Dia melihat dokter Anton memakai baju koko dan sarung tapi menggunakan tongkat dan kakinya hanya satu.
Mela matanya membulat kaget tapi lidahnya tercekat tak berani berkata-kata.
"Kenapa Mela?"tanya Anton.
"Ehm...anu..ehm.. Dokter ini ada kue dari Wak Atin,"jawab Mela.
"Wak Atin? Siapa dia?"tanya Anton sambil mempersilahkan Mela duduk.
Tapi Mela memilih berdiri saja di depan pintu.
"Ibu pemilik rumah, namanya bu Atin tapi saya memanggilnya Wak Atin,"jawab Mela lagi.
Antonpun menganggukan kepalanya dan menerima piring kue tersebut.
"Sampaikan terima kasih yah ke ibu Atin".
Lalu Anton kembali bertanya,
"Apakah kamu saudaranya? Kok memanggil Wak? Uwak atau Wawak kan maksudnya?".
"Iya saya keponakan pak Haji Darma, beliau kakaknya ibu saya,"jawab Mela.
Dan Antonpun mengangguk-anggukan kepalanya.
"Dokter.....maaf...saya boleh nanya?" Mela dengan gugup bertanya.
"Tanya apa Mela?".
" Kaki dokter kemana satu lagi?"
Mendengar itu Anton tertawa karena geli mendengar cara bertanya Mela sambil seperti orang ketakutan.
"Keren engga...kaki saya... pastinya keren dong... Saya punya 1 kaki, orang lain sih 2 sudah biasa...hahahaha".
Dan Mela jadi semakin bingung melihat Anton tertawa saat dia bertanya tentang kakinya.
Lalu diapun pamit, dan Anton kembali melanjutkan mengaji sampai menanti adzan Isya.
Keesokan paginya Mela melihat Anton berjalan dengan dua kaki. Dia jadi bertanya-tanya, apakah itu kaki palsu. Memang langkah Anton agak sedikit aneh.
Dia memberikan surat sewa menyewa yang diminta Anton untuk keperluan administrasi di kantornya.
Sambil menyapu dia memandang diam-diam ke arah Anton, dan dalam hatinya berkata, kalau tampil dengan dua kaki agak lumayan juga penampilan dokter.
Lalu dia melanjutkan menyapunya, sambil dalam hati bertanya-tanya orang dengan satu kaki bagaimana cara sholat nya yah..
__ADS_1