
Senin 24 April
Di sebuah Bank Swasta terkenal sedang diadakan rapat tertutup antara Direksi dengan tim Audit.
Direktur utama memanggil tim Audit untuk menyelidiki kejanggalan yang terjadi di cabang yang di pimpin oleh Isman Sangkuni.
"Ada laporan dari cabang itu bahwa disinyalir ada kerjasama antara orang yang mengajukan kredit dengan pimpinan cabang di sana".
"Bila seseorang mau pinjamannya disetujui maka setelah uang dicairkan harus menyetorkan sejumlah uang untuk pimpinan cabang tersebut," kata kepala tim Audit yang bernama Martin.
"Masalahnya sekarang Isman Sangkuni mengajukan lagi nama orang yang akan menerima kredit bernama Septa Hidayat".
"Dari laporan keuangan dan profile perusahaan milik Septa Hidayat terlihat memilki data keuangan yang baik, sekarang beliau mengajukan pinjaman dana untuk membangun hotel berbintang dan juga travel di kotanya".
"Secara analisa keuangan, orang tersebut akan mampu untuk melakukan pengembalian pinjaman karena bisnisnya selama ini selalu untung,"Direktur Marketing mengemukakan pernyataan tentang sosok Septa Hidayat di dalam rapat tersebut.
"Yang menjadi permasalahan saat kami lihat di draft kontrak kerja yang diajukan oleh saudara Septa, disana ada pihak ketiga yaitu perusahaan yang dipimpin oleh Ruslan Sangkuni".
"Ruslan Sangkuni ini yang nanti akan mengerjakan proyek milik Septa Hidayat. Setelah diselidiki antara Isman Sangkuni dan Ruslan Sangkuni ada keterlibatan persaudaraan".
"Maka kami minta tim Audit untuk terjun ke lapangan mencari tahu kebenaran ini,"kembali Direktur Marketing membagikan pernyataannya.
"Hmmm....berapa dana yang akan dikucurkan atas pinjaman tersebut?" tanya Direktur Utama Bank tersebut.
"Dua puluh lima milyar, dan rencananya untuk pembangunan hotel berbintang dan juga travel untuk mengantar turis," sahut Direktur Marketing lagi.
"Ya kalau memang seperti itu dan mencurigakan, silahkan saudara Martin membawa tim kesana untuk investigasi," kata Direktur Utama yang merasa curiga adanya hal yang tidak benar.
"Baik pak, mohon proposal tugas yang kami ajukan untuk dana investigasi dapat di tanda tangani agar kami bisa ke bagian administrasi untuk mengambilnya," kata Martin sambil menyodorkan budget untuk keperluan perjalanan mereka.
Tanpa melihat Direktur Utama malah memberikan proposal tersebut kepada Direktur Keuangan yang juga hadir disitu.
"Hmmm...masa perjalanan dua hari saja memakan dana besar, tidak bisa ini saya revisi," kata Direktur Keuangan sambil tangannya mengambil bolpoint dan mencoret beberapa angka yang ada pada proposal tersebut.
Maklum pegawai kantor, bagaimana juga pasti berusaha mengajukan proposal perjalanan dengan nilai maksimal.
Siapa tahu disetujui semua agar bisa sedikitnya merasakan enak perjalanan sambil bekerja.
Tapi yah namanya juga karyawan, mau tak mau harus bisa menyesuaikan dengan budget yang disetujui kantor.
"Nah ini sudah saya revisi, mohon pak Direktur Utama dapat menanda tangani," kata Direktur Keuangan sambil memberikan proposal tersebut kepada Direktur Utama.
Lalu setelah mengintip sedikit beliau membubuhkan tanda tangan lalu diserahkan proposal nya kepada Direktur Marketing.
Setelah diterima lalu Direktur Marketing membawa tim Audit ke ruangan kerjanya, setelah sebelumnya pamit kepada Direktur Utama.
"Ini yang proposal yang sudah di setujui nanti kalian langsung saja minta dana perjalanan ke bagian administrasi keuangan".
"Saya tidak mau tahu besok kalian berdua harus sudah ada di cabang itu sepagi mungkin dan cari tahu kinerja Isman Sangkuni".
"Dan ini uang saku tambahan dari kocek pribadi saya, kalian lakukan dengan baik karena kalau sampai saya salah memberikan persetujuan atas pengajuan itu. Leher saya bisa digantung oleh Pak Direktur Utama....Paham!!!!"
Direktur Marketing menegaskan tim Audit agar bekerja dengan benar untuk penyelidikan ini.
Martin bersama seorang stafnya yang bernama Ricko memasuki ruangan kerja Audit.
"Hihihihi...batal bro menginap di hotel bintang tiganya, yang disetujui penginapan biasa saja...hihihi," kata Martin sambil melihat proposal yang barusan sudah di tanda tangan oleh Direktur Utamanya.
"Tapi kan ada tambahan dari boss, berapa yah di kasihnya?"kata Ricko sambil berharap mendapatkan tambahan agar besar dari boss nya.
Lalu Martin memegang amplop tadi dan diarahkan ke sinar matahari dari jendela.
"Kayaknya warna merah bro, lumayan bisa makan di resto mahal nih," ujar Martin ketika mengintip isi amplop.
Lalu dia membukanya, dan sontak kedua karyawan itu tertawa.
"Hahaha....merah sih tapi selembar...Hahahaha".
"Waduh Direktur juga suka pelit yah, tapi masih untung masih diberi.... hahahaha".
Lalu Martin turun ke lantai bawah menuju bagian administrasi keuangan untuk meminta dana perjalanan mereka.
Sementara di kota lain di hari dan pagi yang sama, Mela sedang mempersiapkan pakaian suaminya.
Hari ini sampai tiga hari ke depan, suaminya akan mengikuti ujian untuk menjadi Pegawai Negeri sipil.
Ada ketentuan harus memakai pakaian kemeja lengan panjang putih dan celana panjang hitam.
Mela mempersiapkan semuanya tetapi sambil menutupi hidungnya dengan sapu tangan.
"Pi...nanti pulang kerja belikan masker yah, itu loh masker seperti yang Pi pakai kalau memeriksa pasien," kata Mela sambil menutupi hidungnya.
"Aku punya kok di tas, sini ambilkan tas ku," kata Anton sambil memakai pakaian yang disiapkan istrinya.
Mela membawakan tas suaminya, kemudian Anton membuka dan memberikan beberapa masker medis kepada Mela.
"Untuk apa sih?"tanya Anton merasa aneh.
Saat itu kondisi dunia belum seperti saat ini, kisah ini sekitar beberapa tahun yang lalu saat masih jauh dari segala urusan pandemi.
"Aku merasa mencium bau aneh, apalagi dengan deodoran yang Pi gunakan, pasti sudah kadaluwarsa," kata Mela sambil menutup hidungnya dengan masker tadi.
"Kamu tuh aneh Mi, sabun yang biasa kamu pakai bau, deodoran
ini kan kamu yang pilihkan untuk aku, dan sekarang katamu bau. Entah kamu aneh-aneh saja,"kata Anton sambil geleng- geleng kepala melihat tingkah istrinya.
Walaupun dokter, tapi Anton belum sadar kalau istrinya sudah mulai hamil sebulan ini.
Selain dia sibuk, juga memang dia tidak kepikiran kalau istrinya saat ini mulai hamil.
Mela sendiri juga tak paham kalau dia sudah hamil, dan dia merasa kalau saat ini semua di rumahnya sering tercium bau aneh yang membuat dirinya pusing.
Tak lama Anton segera pamit karena tidak boleh terlambat ke tempat ujian tersebut.
Mela yang biasanya minta dicium kening sekarang menolak karena merasa suaminya baunya aneh.
Setelah Anton pergi, tiba-tiba dia merasa isi perutnya ingin meledak keluar.
Dia terbirit-birit menuju kamar mandi belakang, di sana ada Eti yang sedang memasukan pakaian kotor ke mesin cuci.
"Owek...howeekk...cuih...cuih..".
Mela muntah-muntah ke dalam closet di kamar mandi itu lalu dia menyiramnya setelah muntahnya selesai.
"Bu Anton....eh...Bu Anton... kalau Eti pikir sih Ibu hamil..eh iya...hamil Bu," ujar Eti menggosok-gosokan tangannya punggung Mela.
"Masa aku hamil, kalau aku hamil seharusnya suamiku tahu dong kan dia dokter," tukas Mela sambil membersihkan mulutnya.
"Kan dokter Anton hafalnya orang sakit...eh...iya orang sakit tapi kalau orang hamil sih mungkin tak paham..eh tak paham," kata Eti lagi.
"Ah sudahlah...benar kata Apri Mbak Eti sih suka sok tempe," sela Mela sambil berjalan keluar kamar mandi itu.
"Dibilangan tak percaya...eh kok dibilangan...heehh..
dibilangin...eh..dibilangin," Eti mengomel sendiri ketika Mela keluar kamar mandi.
"Mbak Etiii...!!!"tiba-tiba Mela berteriak dari ruang makan.
__ADS_1
Eti segera mendekati sambil tergopoh-gopoh.
"Ada apa Bu...eh...ada apa yah,"kata Eti sambil terlihat kaget.
Mela memperlihatkan wajah manja merajuk sambil berkata," Mbak Eti minta tolong dong ke warung depan jalan, belikan kue-kue kering manis kecil-kecil, belikan beberapa macam yah sama belikan juga susu kotak coklat yang gambarnya untuk anak-anak kecil".
Eti mengangguk tapi terlihat bingung," Mau beli berapa banyak Bu, ini uangnya banyak sekali loh?".
"Pokoknya beberapa macam yang banyak saja, semua saja habiskan segitu," Mela mulai merajuk kesal.
"Iya deh...tapi ibu tidak akan masak apa yah..eh iya?"tanya Eti lagi sambil masih heran.
"Nanti sore saja aku masak sup ayam, kan yang makan paling pak Anton atau Apri. Aku malas makan nasi," sahut Mela lalu dia berjalan menuju sofa dan berbaring di sana.
Eti segera berangkat menuju warung untuk membelikan keinginan majikan mudanya itu.
Mela sendiri merasa aneh, belakangan ini menjadi malas melakukan apapun.
Biasanya dia suka memasak resep-resep baru, tapi belakangan ini dia memasak sup atau sekedar tumisan sayur saja untuk suaminya.
Anton kebetulan tidak banyak bicara soal itu, asal Mela yang masak dia tidak akan ribut.
Di kota lain lagi di hari dan pagi yang sama, Septa sedang menelpon Fajar untuk meminta bantuan mempelajari kontrak kerja yang akan dia tanda tangani dengan sahabatnya.
"Septa aku tak paham loh, ini kan urusan perjanjian konstruksi dan lain-lain. Kalau kontrak kerja dengan dokter di klinik kan memang sudah ada aturan khusus dari dinas kesehatan ," kata Fajar menjelaskan kepada Septa.
"Intinya sih aku mau minta bantuan Ko Fajar itu untuk sekedar membaca siapa tahu ada yang aneh dan juga mau minta tolong besok temani aku bertemu dengan temanku yang bernama Ruslan itu," sahut Septa menjelaskan kepada Fajar.
"Maksudmu aku harus ke kotamu?" tanya Fajar sambil mengernyit.
"Bukan...tapi besok hari aku ke sana, kami berjanjian bertemu di kota Bandung," sahut Septa lagi.
Akhirnya Fajar paham, besok dia bersedia menemani Septa dan sekarang mencoba membaca apa yang telah Septa kirimkan kepadanya.
Selasa, 25 April
"Bunda...anak-anak jadi dibawa oleh Papah dan Mamah ke acara festival anak-anak ?"tanya Fajar sambil mengenakan pakaiannya karena akan pergi dengan Septa pagi ini.
"Ya....tadi sudah pergi kok, dan Encum juga dibawa untuk menjaga Kaysan," jawab Anita dari dalam kamar mandi.
"Oh...aku juga mau pergi sama Septa yah...kemarin dia telepon minta tolong sama aku," kata Fajar lagi sekarang mengenakan celana panjangnya.
"Hmmm...sepagi ini pergi dengan Septa, apakah ayah yakin?"tanya Anita sambil keluar dari kamar mandi dengan mengenakan daster tipis menerawang.
"Iya, nanti Septa akan ke.....,"Fajar menghentikan ucapannya ketika melihat istrinya keluar kamar mandi sambil mengenakan pakaian menggoda.
"Hmmm...Bunda...mengapa memakai pakaian seperti itu yah?" tanya Fajar mendadak gusar.
"Loh...memangnya mengapa... kan aku pakainya di kamar tidur dan yang melihat juga suami sendiri. Tidak masalah dong,"sahut Anita sambil duduk mengoleskan body lotion ke tangannya namun pose duduknya sangat menggoda suaminya.
Fajar menggangguk ponselnya dan menelepon Septa.
"Bro, apakah sudah dekat dengan kediaman kami?"tanya Fajar kepada Septa.
"Aku sudah di tol, ini bersama sopir kok. Paling setengah jam lagi tiba di sana. Ada apa memangnya?"tanya balik Septa kepada Fajar.
"Hmmm begini yah, nanti kalau sudah tiba di kediaman kami... nanti tunggu sebentar yah...aku ada sedikit kesibukan," sahut Fajar tapi sebenarnya terdengar agak aneh.
"Oke tak apa-apa, nanti aku tunggu saja," jawab Septa sambil mengakhiri pembicaraan.
"Memangnya ada kesibukan apa sih Ayah?"tanya Anita ketika Fajar menutup ponselnya.
Fajar tidak banyak bicara, dia langsung memeluk dan menerkam istrinya.
"Aku sibuk sama kamu...," bisik Fajar di telinga istrinya.
Dia menunggu sambil memainkan ponselnya, kemudian tak lama Fajar turun dari lantai atas.
"Woooiii...bro sudah lama menunggu ?"tanya Fajar dengan wajah yang sangat cerah sekali.
"Ah...tak lama juga sih, apakah sudah siap menemani aku?"tanya Septa.
"Hayuk".
"Aku perlu ijin ke Anita?".
"Tak usahlah, dia sedang merapihkan kamar dan sudah tahu kita akan pergi ".
Untung Septa tidak banyak bertanya tadi Fajar sibuk apa, dan Fajar senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi bersama istrinya.
Lalu keduanya segera berangkat menuju tempat yang sudah ditentukan oleh Ruslan.
"Nak Isman, maaf mengganggu, ini Ibu Cahyani. Ibu mau minta tolong, apakah hari Sabtu nanti ada waktu?"tanya Ibu Cahyani ketika menelepon Isman Sangkuni.
"Oh iya Bu...Isman bisa membantu apa yah?"tanya Isman kepada Ibu Cahyani.
"Begini nak Isman, hari Sabtu nanti Aprilia akan ulang tahun. Jadi Ibu mau minta tolong nak Isman mengantar Ibu ke Cirebon memberikan kejutan untuknya," Ibu Cahyani penuh harapan Isman dapat mengantarkan dirinya.
"Hmmm...baik bu, nanti Isman akan menghubungi Ibu lagi yah hari Jum'at untuk memastikan bisa atau tidaknya".
"Semoga nak Isman bisa yah, Ibu berharap sekali nak Isman bisa menemani Ibu kesana," Ibu Cahyani sangat berharap, namun Isman sama seperti sebelumnya belum mengatakan bisa atau tidaknya.
"Ini uangmu dan ini uangmu, sekarang kalian enyah dari kamar ini," kata Ruslan berkata dengan kasar kepada dua orang wanita malam yang sudah menemaninya semalaman.
Lalu kedua wanita tadi mengambil uang yang dilemparkan ke atas tempat tidur, lalu mereka berpakaian dan keluar dari kamar hotel yang Ruslan sewa.
"Bang, aku malas sekali. Barusan nenek tua itu meminta aku menemaninya menemui anak perempuan bodohnya keluar kota," kata Isman kepada kakaknya melalui ponselnya.
"Sekarang kau yang bodoh, antarkan saja lalu bujuk perempuan itu dan bawa ke kota kita. Nanti bisa kita jadikan dia umpan agar si bedebah Septa agar mau menandatangani kontraknya," kata Ruslan dengan nada geram kepada adiknya.
"Hmmm...boleh juga tuh, baik akan aku antar nenek tua itu nanti hari Sabtu," kata Isman sambil mengakhiri pembicaraan dengan kakaknya.
"Bro...coba Kamu lihat, itu Isman Sangkuni bukan?"kata Martin kepada Ricko.
"Ya benar dia orangnya, mau kemana orang itu sepagi ini yah?," Ricko mencurigai kepergian Isman.
"Ya sudah, aku turun ke kantor cabang dan kalian ikuti kegiatan orang itu. Kalian buntuti kemana mobilnya melaju," ujar Martin memberi perintah kepada Ricko dan sopir kantornya.
"Selamat pagi, selamat datang di Bank Terpercaya, apakah ada yang bisa kami bantu?"sapa ramah petugas sekuriti Bank tersebut.
"Selamat pagi juga pak, apakah saya bisa bertemu dengan pak Isman?" tanya Martin yang datang ke kantor cabang tetapi tidak memakai atribut perusahaan tersebut.
"Oh apakah sudah ada janji sebelumnya pak?"tanya sekuriti tersebut.
"Belum ada sih hanya saya tadinya mau menanyakan soal kredit ," sahut Martin lagi.
"Hmmm.. maaf pak kalau soal kredit mungkin bisa dibantu oleh Pak Ronald sebagai Kepala Marketing di kantor ini," sekuriti itu mencoba mengarahkan kepada stafnya Isman.
"Baiklah tidak apa-apa, boleh saja saya dibantu oleh yang dimaksud bapak," jawab Martin kepada sekuriti.
Kemudian Martin diminta menunggu di lobby, dan Martin mengeluarkan catatannya sambil mulai mencatat penilaian atas kondisi kantor tersebut.
Dan sekuriti tadi malah mendapat nilai baik karena sudah mengikuti standar operasional yang berlaku dengan benar.
Tak lama datang staf yang bernama Ronald tadi dan dengan ramah mengajak Martin masuk ke dalam ruangannya.
"Silahkan masuk pak, perkenalan saya Ronald. Maaf apakah ada yang bisa saya bantu pak?"tanya Ronald kepada Martin.
__ADS_1
Lalu Martin memperkenalkan diri dan dia langsung mencoba berakting seakan-akan hendak mengajukan kredit dengan jumlah milyaran rupiah untuk membuat suatu proyek di kota itu.
Ronald menyampaikan bahwa untuk nilai milyaran rupiah itu sebenarnya bisa saja dilakukan hanya memang melewati wewenang cabangnya sehingga harus mendapatkan persetujuan Direksi dan itupun harus ada survey khusus.
Martin kemudian memancing dengan mengemukakan soal pengajuan atas nama Septa Hidayat.
Mendengar itu terlihat rona wajah Ronald berubah, dia terlihat sangat tidak nyaman dengan nama tersebut.
"Maaf pak Martin, apakah Bapak mengenal Pak Septa Hidayat sehubungan pengajuan atas nama tersebut?"tanya Ronald terlihat sekali dia malas hanya untuk menyebut nama itu.
"Saya tidak kenal tapi saya tahu pengajuan ini, apakah Pak Ronald bisa menjelaskan sedikit saja bagaimana pimpinan anda sangat mati-matian mendukung proposal pengajuan ini ke Direksi?"Martin mencoba memancing emosi Ronald.
Ronald tertegun sebentar lalu dia mencurigai Martin.
"Maaf pak Martin, sebenarnya anda ini siapa?"tanya Ronald.
Lalu Martin menunjukkan identitas dirinya dan terkejutlah Ronald.
Tapi ini merupakan kesempatan baginya untuk menyampaikan semua keburukan pimpinannya yang selama ini telah membuat nama baik cabang mereka buruk.
Martin memperhatikan apa yang disampaikan oleh Ronald, dan kebetulan Isman sedang tidak ada di kantornya maka Martin meminta untuk diijinkan masuk ke ruangannya untuk investigasi.
Karena Audit mempunyai wewenang untuk memeriksa apapun yang ada di kantor cabang dan tidak boleh ada yang menolaknya.
Martin memeriksa semua data di komputer Isman, dan betapa terkejutnya ada satu file yang merupakan surat pengunduran dirinya yang diperkirakan akan disampaikan kepada Direksi setelah terjadi pencairan dana kredit atas nama Septa Hidayat.
Martin mengcopy data itu lalu dia meminta Ronald untuk merahasiakan apa yang telah terjadi di ruangan ini.
Ronald yang memang selalu berbeda pendapat dengan pimpinannya bahkan mereka sering adu mulut sampai saling memukul meja.
Tentu saja Ronald berharap kelicikan Isman dapat segera dituntaskan oleh tim Audit kantor pusatnya.
Tak lama Martin pamit dan sebelumnya tetap meminta Ronald untuk merahasiakan jati dirinya kepada siapapun di kantor tersebut.
Setibanya di dalam mobil, Ricko memberikan bukti foto yang diambilnya ketika tadi mengikuti Isman. Ternyata Isman tidak bekerja, malah enak-enak bertemu wanita lalu pergi ke tempat perjudian ilegal.
"Jadi begitu pak Fajar, saya ini pengusaha sukses. Sudah banyak proyek yang saya kerjakan dan semuanya bernilai milyaran rupiah," Ruslan sedang membual di depan Fajar yang saat itu tengah menikmati kopi bersama Septa di sebuah cafe.
"Tentu saja saya sih percaya kepada pak Ruslan, apalagi tadi menceritakan mega proyek di kalimantan itu sungguh luar biasa sekali," kata Fajar kepada Ruslan.
"Ya tentu saya memang banyak sekali proyek di Kalimantan dan saya sangat terkenal di sana,"sahut Ruslan dengan sombongnya.
Fajar ingin tertawa sebab sebelumnya Ruslan mengatakan proyeknya di Maluku, lalu Ruslan bicara ngalor ngidul lagi.
Kemudian Fajar memancing dengan kata Kalimantan, lalu Ruslan segera melantur bahwa dia juga mempunyai bisnis di pulau itu.
Benar-benar terbukti pembohong sekali Ruslan itu.
Mungkin kalau Fajar mengatakan Papua pasti Ruslan juga punya bisnis besar di sana.
Akhirnya Ruslan meminta Septa bertemu dengannya Selasa pekan depan di Bank yang dipimpin adiknya untuk proses pencairan kredit.
Septa hanya mengangguk saja tapi belum mengatakan apapun.
"Septa hati-hati, Ruslan temanmu seorang pembohong sejak tadi aku simak tak ada satupun ceritanya yang berkaitan".
"Hati-hati jangan sampai kamu terjebak yah," kata Fajar berusaha mengingatkan sepupu istrinya.
Hari kedua ujian sudah dilalui oleh Anton dan Jaya, sama dengan hari sebelumnya setelah seharian ujian mereka tetap wajib kembali ke Puskemas untuk bekerja.
Setibanya di rumah Anton sudah tidak memperhatikan istrinya, dia segera membersihkan diri lalu menunaikan ibadah.
Setelah itu makan malam dan sesudahnya lanjut belajar lagi.
Padahal Mela terlihat semakin aneh, dia makan kue-kue manis hampir satu stoples setiap harinya dan sekarang ditambah meminum susu kemasan untuk anak-anak.
Ditambah lagi sekarang dia terus memakai masker di dekat suaminya karena merasa suaminya berbau aneh.
Rabu, 26 April
"Oh jadi begitu mekanisme untuk pengajuan kredit yah pak Isman," ujar Martin ketika mendengar uraian mekanisme pengajuan kredit versi Isman.
"Ya sebenarnya masalah transfer ke rekening saya sih di luar ketentuan Bank. Hanya mungkin Bapak ingin cepat proses pencairannya maka kita adakan pembicaraan ini," ujar Isman tanpa tahu kalau yang sedang dia hadapi itu siapa.
"Dana yang kami transfer ke rekening bapak itu nanti untuk apa yah pak?"tanya Martin pura- pura bodoh.
"Oh itu biaya administrasi khusus pak, karena untuk mempercepat proses kredit itu harus ada biaya administrasi seperti itu," kata Isman seperti yang benar apa yang dia maksudkan.
"Baik pak Isman, nanti saya bicarakan dulu dengan istri. Setelah ada kesepakatan dengan istri nanti saya menemui bapak lagi," kata Martin sambil bersalaman dengan Isman.
Martin masuk ke dalam mobil, lalu menuju ke kediaman Septa Hidayat.
Mereka bertemu di kantornya Septa dan Martin memberitahukan siapa dirinya dan maksud kedatangannya.
Mereka membahas kontrak kerja yang diajukan Ruslan, dan membahas persyaratan yang Isman inginkan.
Keduanya bersepakat akan menjebak Isman dan Ruslan pada pekan depan.
Ricko mencatat dan merekam semua pembicaraan dengan Isman, bahkan dengan Septa.
Sedari tadi dia mengekor Martin, ketika dihadapan Isman berpura-pura menjadi adik Martin yang kecanduan game.
Padahal diam-diam merekam pembicaraan mereka, sedangkan saat bertemu Septa dia menjadi apa adanya sebagai staf Audit Bank Terpercaya.
Anton dan Jaya baru kembali ke Puskemas setelah setengah harian mereka menyelesaikan ujian hari terakhir.
"Dokter Anton...tolong kemari sebentar," panggil Pak Tarmidi saat melihat Anton akan menuju ke ruangan prakteknya.
Anton segera menghampiri Pak Tarmidi, lalu bertanya ," Ya pak ada yang bisa saya bantu?".
"Begini dokter Anton, besok dan lusa akan ada orang dari Dinas Kesehatan dan mereka akan mengadakan test kompetisi khusus untuk menjadi kepala Puskemas".
"Mohon persiapkan diri besok yah, karena testnya mungkin akan memakan waktu seharian penuh. Dan khusus Action Plan yang kemarin sudah dibuat, tolong besok atau lusa agar disiapkan untuk dipresentasikan," kata Pak Tarmidi menyampaikan kalau masa test bagi Anton belum selesai masih ada kelanjutannya.
Anton hanya bisa mengiyakan, lalu dia kembali ke ruangan praktek dan ternyata sudah menanti tumpukan nama pasien yang harus diperiksanya.
Ketika di rumah tentu saja Anton masih belum bisa memperhatikan istrinya.
Istrinya sekarang sedang menikmati es krim yang dia pesan dari Aprilia.
Mela memegang satu box besar es krim rasa coklat strawberry sambil duduk menonton televisi.
Aprilia setelah memberikan kotak es krim segera mandi, lalu setelah mandi dia menghampiri kakak iparnya ingin meminta es krim.
Dan Aprilia harus gigit jari karena Mela baru saja memasukan ke dalam mulutnya satu sendok terakhir es krim dari kotak itu.
Aprilia kesal lalu menelepon Haikal kekasihnya minta dibelikan lagi es krim seperti tadi.
Setengah jam kemudian Haikal datang membawa es krim, dan dia harus melihat ada pertarungan merebutkan kotak es krim itu antara Mela dan Aprilia.
Haikal tak habis pikir melihat Mela tiba-tiba seperti anak kecil yang begitu memaksa ingin es krim.
"Apri sudah berikan kepada Mbak Mela, kamu ikut aku saja kita beli lagi di mini market," ajak Haikal lalu sambil cemberut tapi merasa senang Aprilia naik juga ke atas motor Haikal.
Untung Anton tidak tahu hal itu karena sedang ada di dalam kamar berkutat serius dengan laptopnya.
Mela merasa senang karena dia menang dan dia bahagia melahap kotak kedua es krim tersebut.
__ADS_1