
Hari Jum'at Sore
Mela tiba di Yogyakarta, di turun di stasiun Tugu dan ketika melangkah mencari suaminya, dari kejauhan terlihat ada orang memegang tulisan "Mela Wiharja- Cirebon".
Mela segera mendekati orang yang memegang tulisan tadi.
"Pak, apakah bapak utusan dari dokter Anton Wiharja?"tanyanya kepada pria itu.
"Ya benar, apakah ibu ini istri dokter Anton Wiharja?"tanya pria setengah baya itu.
Mela menganggukan kepalanya, lalu pria itu membawakan koper yang dibawa Mela ke dalam mobilnya.
"Saya Wagino Bu, saya dari travel yang di charter oleh Pak Anton, beliau masih ada acara jadi saya diminta menjemput ibu," kata pria itu memperkenalkan dirinya.
"Oh iya pak, terima kasih sudah menjemput saya. Dan sekarang saya akan diantar kemana?"tanya Mela kepada Pak Wagino.
"Kata Pak Anton, pertama saya harus mengantar ibu ke toko roti yang dipakai syuting film Rangga dan Cinta itu loh bu," pak Wagino menyampaikan amanat Anton kepada Mela.
"Oh...saya kira mau jemput suami saya dulu, tapi ya sudahlah saya ikuti saja apa yang sudah direncanakan," kata Mela kepada pak Wagino.
Lalu mobil yang dikemudikan pak Wagino meluncur menuju ke Via-via Bakery and Resto.
Mela senang sekali saat masuk ke toko roti itu dan memilih beberapa potong roti kesukaan dia dan suaminya.
Ketika dia berdiri di kasir akan membayar kue dan roti pesanannya, petugas itu bertanya ," Apakah benar ibu adalah Ibu Melati Wiharja ?".
"Ya benar, ada apakah Mbak?"tanya Mela keheranan.
Lalu petugas kasir memberikan seikat bunga mawar merah yang cantik sekali.
"Ini dari suami Ibu, dari Bapak Anton Wiharja," kata petugas itu sambil menyerahkan bunga itu kepada Mela.
Otomatis Mela bahagia sekali tak menyangka pria yang selama ini selalu dingin-dingin saja, sekarang mendadak romantis.
Mela membayar pesanannya sambil mengucapkan terima kasih atas bunganya tadi.
Di dalam mobil Mela memandangi bunga indah itu, dan ternyata di bawahnya ada amplop kecil lalu dia membukanya dan ada kartu kecil yang bertuliskan,
"Meet me at Sellie Coffee" .
Lalu Mela menunjukkan tulisan itu kepada Pak Wagino, lalu pria itu segera bergerak menuju lokasi tersebut.
Mela masuk ke dalam Cafe tersebut, tempatnya tidak terlalu besar dan dia disambut oleh pelayan di sana.
"Apakah ibu adalah Ibu Melati Wiharja?"tanya pelayan itu.
"Ya benar".
"Silahkan duduk di sini bu," ajak pelayan itu kepada Mela sambil menunjukkan salah satu meja di sana.
Dan ternyata meja itu adalah meja yang ditempati oleh pemeran film Rangga dan Cinta saat adegan mereka bertemu berdua.
Mela tambah bahagia sekali, dia sampai merinding saat duduk dan merasakan menjadi tokoh Cinta yang ada dalam film paling romantis itu.
Dan Mela ternyata harus menunggu Anton cukup lama, hampir satu jam suaminya belum juga muncul.
Tak lama ada ojek online berhenti di cafe tersebut dan turunlah pria kekasih hati Mela yang sudah ditunggu sejak tadi.
Anton segera masuk dan tersenyum lebar saat melihat istrinya sudah duduk di meja yang dipesannya.
Lalu Anton segera duduk dihadapan istrinya sambil tersenyum penuh cinta.
"Anton...apa yang kamu lakukan padaku itu....jahat..," kata Mela sambil memasang wajah serius.
Mendengar itu Anton langsung tertawa, lalu dia berkata ," Maaf sayang tadi penutupan seluruh rangkaian acara, jadi aku harus hadir karena ada pertemuan dengan seluruh Dewan Anggota Ikatan Dokter Indonesia".
"Satu jam dong aku sendirian di sini, kan jahat sekali," kata Mela merajuk.
"Mending satu jam, daripada empat belas purnama, ayo mau tidak," sahut Anton menggoda istrinya.
"Iihh...amit-amit...lima hari saja aku sudah kangen sama Pi," kata Mela lagi sambil tambah manja.
"Ya sudah kita habiskan minuman ini, lalu kita jalan lagi. Sekarang sudah hampir malam, lanjut dengan sate klatak Pak Bari," ajak Anton kepada istrinya lagi dan tentu saja Mela semakin bahagia karena lokasi yang dimaksud juga ada pada film kesayangannya.
Jum'at Malam
Mela dan Anton sedang menikmati sate Klatak di tempat yang sama dengan yang ada pada film Rangga dan Cinta.
Tak lupa pak Wagino juga mereka pesankan dan beliau juga makan di meja berbeda.
Mereka merasa seperti pacaran lagi dan merasa seperti ada di film yang pernah mereka berdua tonton saat masih pacaran dulu.
Selesai makan, mereka diantar ke hotel oleh Pak Wagino. Dan Mela benar-benar sukacita, suaminya ternyata memesan hotel di tempat yang sama dengan yang ada di dalam film.
Mela memeluk suaminya dan menciumnya di dalam mobil, pak Wagino mengintip dari kaca spion dalam dan tersenyum malu-malu.
Keduanya masuk ke dalam kamar yang sama dengan yang tokoh Cinta tempati, membuat Mela semakin bahagia sekali.
Malam itu setelah keduanya selesai membersihkan diri dan beribadah, lalu naik ke perpaduan.
Mela baru saja selesai halangan, sehingga sekarang di dalam rahimnya ada sebuah indung telur yang merah dan siap untuk dibuahi.
Anton selama ini berada di acara seputar kedokteran, dan tentu saja dalam sebuah acara yang dihadiri para dokter pasti makanan yang disajikan penuh dengan gizi yang baik.
Sekarang di tubuh Anton sedang memiliki sel yang sangat bagus sekali, sel yang mengandung protein tinggi yang siap membuahi.
Dan tanpa mereka ketahui, karena semua yang terjadi adalah takdir yang ditetapkan Ilahi.
Di malam itu terjadi pembuahan antara indung telur yang subur dan sel yang sehat.
Keduanya melebur menjadi satu, dan peleburan inilah yang akan membuat Mela dalam beberapa bulan ke depan akan menanggung akibatnya.
Sementara di tempat lain, tepatnya di kediaman Anton dan Mela, ada sepupu mereka yang sedang berciuman dengan Haikal di dalam garasi rumah.
"Haikal, kita ini kenapa?"tanya Aprilia saat keduanya berhenti berciuman.
"Aku juga tidak tahu kenapa, yang pasti aku senang sekali bisa melakukan ini bersamamu," jawab Haikal sambil memeluk Aprilia.
Jawaban yang tidak seperti yang diharapkan oleh Aprilia, tapi dia juga bingung dan merasa bodoh telah melakukan ciuman dengan Haikal.
Haikal lalu memegang wajah Aprilia dan menatapnya dalam-dalam.
"Aku sayang kamu Apri".
Aprilia tersenyum dan berkata ,"Aku juga sayang kamu Haikal".
Lalu Haikal memeluk mesra lagi gadis itu dan mengecup keningnya.
"Kamu bau belum mandi," goda Haikal kepada Aprilia.
Aprilia mencubit dada lelaki itu sambil berkata manja," Sudah tahu belum mandi tapi di ajak ciuman".
"Sana mandi deh, aku pulang dulu yah. Aku takut khilaf kalau lama-lama di sini," kata Haikal sambil memegang wajah Aprilia lagi.
Sebelum pamit mereka berciuman lagi sebentar, setelah itu Haikal pamit pulang walau langkah terasa berat sekali.
Tapi memang terlarang, tidak boleh lama-lama di sana, tidak ada orang lagi selain mereka berdua nanti ada setan lewat akan berbahaya.
Haikal kemudian pulang sambil mengendap-endap takut terlihat tetangga, karena memang saat itu jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Untung tak ada orang di depan rumah, setelah mengunci pagar diapun berjalan cepat menuju rumah kakeknya.
Aprilia begitu berbunga-bunga hatinya, dia baru merasakan jatuh cinta. Dulu dia pernah jatuh cinta saat masih sekolah tapi yah hanya cinta monyet - monyetan saja tak ada kelanjutan lagi.
Saat kuliah apa lagi, urusan cinta tidak pernah menjadi bagian hidupnya.
Karena dia lebih senang menjadi anggota Mahasiswa Pencinta Alam atau biasa disebut MAPALA.
Hampir setiap ada kesempatan selalu naik gunung, kemping beberapa hari. Dan kebanyakan teman-temannya lelaki semua, dan dia sendiri oleh teman lelaki sudah dianggap sesama lelaki saja.
Cara bicara, cara bergaya dan sebagainya tak ubah layaknya seorang lelaki, bahkan kebiasaan merokok itu sejak dia sering naik gunung.
Tujuannya untuk melawan rasa dingin jadi merokok dan sedikit minum anggur.
Lulus kuliah bekerja di stasiun radio milik Brandon Law yang merupakan kakak tingkatnya saat kuliah dulu dan juga sesama anggota MAPALA.
Bahkan teman penyiar juga hampir semua lelaki, maka hampir tidak ada kesempatan untuk dirinya sedikit berubah menjadi layaknya seorang perempuan.
Sekarang dia dipindahkan ke kota Cirebon, masih dalam rangka masih bekerja dengan Brandon Law.
Namun di kota ini ada istri kakak sepupunya yang orangnya baik hati.
Mela mengajarinya cara berdandan dan berpakaian layaknya seorang wanita dewasa.
Tidak mengubah seleranya hanya menjadikan dirinya berpenampilan sedikit girly.
Sekarang sudah memakai lipstik, walau celana panjang masih selalu blue jeans tapi pakaian atasan sudah yang berenda- renda atau warna pakaian yang bervariasi seperti merah muda, coklat pasta dan sebagainya.
Apalagi soal memakai kerudung sudah pasti Mela mengajarinya bergaya simpel dan terlihat sporty sesuai gayanya Aprilia.
Sebenarnya yang memicu dia berubah adalah kehadiran Haikal dalam hatinya, entah mengapa dia serasa ingin kalau dirinya menjadi perhatian Haikal.
Sesudah mandi dia berbaring di tempat tidur, dia memegang bibirnya lalu senyum-senyum sendirian.
__ADS_1
Dulu pernah ada lelaki mencium pipinya saat dia pacaran jaman SMA tapi ciuman bibir sama sekali belum dia rasakan.
Malam ini dia tiba-tiba merasakan ciuman dari seorang lelaki yang dia sukai, menjadikan dirinya pertama kali merasakan sensasi cinta.
Sabtu dini hari.
Alarm di ponsel Anton berbunyi dan masih menunjukkan pukul empat pagi, dan Anton segera menepuk- nepuk pipi istrinya untuk segera bangun.
"Sayang...Mi...bangun yuk, mandi dulu...setelah sholat subuh kita harus berangkat," kata Anton membangunkan istrinya yang masih terlelap.
"Hmm...Pi...memangnya kita mau kemana sih...masih subuh sekali ini loh...," Mela membuka matanya sedikit karena masih mengantuk.
"Katanya mau melihat matahari bersinar di Bukit Rhema di atas Gereja Ayam," Anton mengingatkan istrinya.
Mela segera terjaga dan duduk sambil menatap suaminya, "Serius...wow...hayuk mandi...".
Dia langsung turun dari tempat tidur dan segera menuju ke kamar mandi.
Setelah keduanya selesai mandi, terdengar adzan subuh dan mereka segera melaksanakannya.
Kemudian mereka menuju lobby hotel dan pak Wagino ternyata sudah siap menunggu untuk mengantarkan mereka ke tujuan wisatanya.
Dari hotel ke Bukit Rhema cukup jauh, sehingga pak Wagino harus sedikit mengebut agar kedua tamunya tidak ketinggalan momen matahari terbit.
Untung waktu itu bukan musim liburan panjang sehingga jalanan tidak macet dan pak Wagino bisa mengemudikan mobilnya dengan lancar.
Satu jam lamanya perjalanan yang harus mereka tempuh, dan mereka tiba di sana menjelang pukul enam pagi.
Keduanya segera berjalan cepat dan segera naik tangga bangunan gereja ayam untuk melihat matahari terbit.
Setibanya di atas, sang surya terlihat malu-malu menampakkan dirinya dan itu merupakan pemandangan yang sangat indah sekali.
Tak sanggup rasanya untuk sekedar berkata-kata, apa yang dilihatnya Mela benar-benar mukjizat Allah yang luar biasa.
Serasa berada di atas awan dan ketika matahari semakin tinggi terlihat penampakan bukit dan hutan di sekitar bangunan itu terpancar keindahan alam laksana berada di atas surgawi.
"Pi, terima kasih sudah membawa aku kemari, sungguh aku bahagia sekali," kata Mela sambil memeluk pinggang suaminya dan Anton juga merangkul pundak istrinya sambil menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan.
Mereka berdua berswa foto dengan latar belakang pemandangan indah di puncak bukit itu.
Setelah puas berfoto dan menikmati pemandangan di bukit Rhema, lalu pak Wagino mengajak keduanya menuju candi Borobudur yang letaknya tidak jauh dari bukit tersebut.
Pak Wagino memberhentikan mobilnya di sebuah kedai yang menghadap ke sawah di sekitar Candi Borobudur.
Di kedai itu tersedia menu makanan daerah asli khas Yogyakarta yang sangat mengunggah selera.
Dan tempat duduk mereka seperti gubuk-gubuk yang menghadap ke sawah dan tentu saja menambah suasana menjadi begitu sangat menyenangkan.
Selesai sarapan mereka menuju ke Candi Borobudur sebagai salah satu situs kebanggaan negara Indonesia, simbol peninggalan agama Buddha pada jama Dinasti Syailendra.
Bangunan ini dipenuhi dengan ornamen stupa - stupa yang mengandung filosofi keagamaan pada jaman dahulu kala.
Di Candi Borobudur pun mereka berfoto berdua dan menikmati ukiran relief yang ada di sepanjang tembok bangunan menceritakan kisah kejayaan kerajaan di masa lalu.
Setelah dari Candi Borobudur lalu mereka menuju ke jantung kota Yogyakarta yaitu sepanjang jalan Malioboro.
Malioboro adalah lokasi wisata belanja dan juga berbagai kuliner khas kota itu.
Mela tampak agak kalap berbelanja karena semua pakaian dan aksesoris yang terpampang di sepanjang jalan sangat murah-murah dan bagus - bagus semuanya.
Hari Sabtu seperti biasa Puskesmas buka setengah hari, sehingga jam dua atau jam tiga menjelang sore hari, Haikal sudah bisa pulang ke rumahnya.
Para pembantu di rumah cukup terkejut karena jarang terjadi Haikal pulang masih sangat sore.
"Tumben den Haikal sudah ada di rumah, aneh...Biasanya pulang selalu malam," guman mas Harjo sambil geleng-geleng kepalanya.
Istri mas Harjo yang sesama pembantu di rumah itu juga merasa aneh melihat tua mudanya, biasanya Haikal selalu diam tak banyak bicara.
Tapi sekarang terlihat Haikal bersandung sambil senyum - senyum kepada semua pegawai di rumah itu.
Dia naik ke atas ke kamar tidur nya, dan segera masuk ke kamar mandi lalu mencukur jenggotnya, setelah itu dia mandi dan berpakaian rapih
Ketika sudah rapih dan wangi, dia turun ke lantai bawah lalu menuju halaman, dia keluar pagar sambil berjalan kaki menuju suatu tempat.
Sore itu baru selesai sholat Maghrib ketika Haikal meninggalkan halaman rumah menuju ke rumah yang disewa Anton.
Para pegawai rumah merasa aneh, sebab sudah dua hari ini tuan mudanya ke rumah dokter Anton, tapi di dalam pikiran mereka mungkin sedang memeriksa rumah di sana.
Memang benar Haikal memeriksa rumah yang ditempati Anton, intinya memeriksa adik sepupunya Anton.
Di ujung jalan dia berhenti sebentar melihat situasi, jangan sampai terlihat oleh tetangga yang pastinya nanti akan menjadi gosip bertebaran.
Setelah dirasa aman, dia segera mendekati rumah itu. Untung dia membawa kunci cadangan, karena pagar rumah memang terkunci.
Dan Haikal juga dengan mudahnya masuk ke dalam rumah tersebut lewat pintu garasi.
Seharian dia merapihkan rumah, karena besok kakak sepupunya akan pulang sehabis liburan.
Dia baru saja selesai sholat Maghrib ketika mendengar pintu garasi ada yang membuka.
Aprilia segera menyimpan mukenah dan keluar kamar untuk memeriksa siapa yang datang.
Dan dia kembali kaget ketika di ruang makan yang tepat berada di depan kamarnya, sudah duduk sosok Haikal seperti sedang menunggu dirinya.
"Astagfirullah, kamu selalu datang tiba-tiba, membuat aku jantungan deh," kata Aprilia ketika melihat ada Haikal.
"Hmmm...jantungan lihat aku ganteng yah," katanya menggoda Aprilia.
"Ganteng dari Hongkong ," tukas Aprilia sambil mencebik.
"Hmmm...ngeles...beneran aku tidak ganteng nih...kalau benar aku tidak ganteng, mana mau semalam kamu dicium aku," ujar Haikal sambil nyengir ke arah Aprilia.
"Weeewwww...maaf yah, semalam aku terpaksa saja karena tiba-tiba di hadang maling".
"Hahahaha....maling hatimu yah, bohong kalau kamu tidak cinta sama aku".
"Hmmm....tahu ah gelap... enakan bobo aaahh...," kata Aprilia sambil menjatuhkan diri ke sofa di ruang televisi.
Padahal dia merasa malu setengah hidup, sekarang dia menutupi wajahnya dengan bantal sofa agar tidak kelihatan warnanya sedang merah membara.
"Apri, aku lapar...apakah kamu punya makanan?"tanya Haikal sambil membuka tudung saji yang ada di atas meja makan.
"Hehehe...makanan enak sih tidak ada, kalau makanan tidak enak sih ada," sahut Aprilia dengan jujur.
"Maksudnya apa?".
"Tadi aku ceritanya masak orak arik telur dengan sayur buncis, itu yang di meja itu aku yang membuatnya tadi," kata Aprilia memberitahu Haikal.
Haikal mencoba masakan gadis itu dan dia menjulurkan lidahnya sambil bergidik.
"Ya ampun, sumpah kamu masak tidak enak sekali deh...," kata Haikal sambil terlihat tampak menderita setelah makan masakan Aprilia.
"Hahahaha...aku bilang juga apa...hahaha...kayaknya kucing juga nolak masakanku," sahut Aprilia sambil tertawa melihat ekspresi Haikal.
"Astaga Apri, kamu masak tidak bisa, dandan tidak bisa, lalu bisa apa sih kamu?" tanya Haikal sambil setengah tertawa.
"Ooh...gali sumur bisa, gali kuburan juga bisa...hahahahah," sahut Aprilia sambil tertawa.
Itulah yang membuat Haikal makin suka kepada gadis itu, dikatakan apa juga serasa tidak pernah terlihat sakit hati.
Dan kelebihan Aprilia adalah selalu jujur atas kekurangan yang dia miliki dan tidak pernah menutupinya.
"Haikal beli makanan dong, aku juga lapar...heheheh," pinta Aprilia karena dia juga mulai merasa lapar.
"Mendingan aku masak deh, aku lebih pandai memasak dibandingkan kamu. Ayo kita lihat di lemari es ada apa saja?"ajak Haikal kepada Aprilia.
Keduanya melihat ke dalam lemari es, dan kebetulan Mela memang mempunyai persediaan daging ayam dan juga sayuran.
"Masak nasi bisa tidak?"tanya Haikal kepada Aprilia lagi.
"Bisa dong, cuma nasi saja bisa lah..cetek.," kata Aprilia sambil menjentikkan jarinya.
"Hmmm..cepat masak nasi, nanti sebelum masuk rice cooker, aku periksa dulu ukuran airnya," kata Haikal menyuruh Aprilia memasak nasi.
Gadis itu mencuci segenggam beras, setelah bersih dia mengisi air ke dalam mangkuk untuk memasak beras.
Sebelum dimasukan ke dalam tempat memasak, memperlihatkan dulu kepada Haikal ukuran airnya.
Setelah dikurangi kadar airnya karena barusan sangat berlebihan, lalu Aprilia memasukan mangkuk itu ke dalam tempat memasak beras.
Setelah itu dia masuk ke dapur, melihat Haikal tampak lihai mengiris bawang merah dan bawang putih.
Lalu Haikal juga memotong daging ayam berbentuk dadu, dan dia juga pandai memotong wortel dan beberapa sayuran lainnya.
"Coba tebak aku mau memasak apa?"tanya Haikal meminta Aprilia menebak apa yang akan dia masak.
"Entahlah...mungkin ayam sayur atau apa, memangnya akan masak apa sih?" Aprilia memang tak paham soal memasak.
"Astaga...apapun kamu tak paham...jangan-jangan masak air juga tidak bisa yah," ujar Haikal sambil memandang aneh kepada gadis itu.
"Hahahaha...masak air sih bisa dong...mau air apa...air ledeng, air laut, air sungai, segala air aku bisa," kembali dia berkata- kata sambil tangannya bergerak- gerak seperti orang mau pencak silat.
Haikal menepuk dahinya, dia sendiri sebenarnya merasa heran mengapa bisa tertarik dengan gadis seperti ini.
__ADS_1
Setelah siap, lalu Haikal mulai memasak dengan sangat cekatan sekali. Juga kebetulan di dapur itu semua bumbu yang diperlukan tersedia sehingga tidak susah harus mencari bumbu lain.
Tak perlu waktu lama, sayur cap cay ala Haikal sudah matang dan wangi masakannya menggoda selera membuat perut keroncongan.
Namun ketika Haikal memeriksa nasi apakah sudah matang atau belum, alhasil ternyata sejak tadi Aprilia tidak memasukan colokan listriknya ke dalam stop kontak.
Aprilia tertawa atas kebodohannya dan Haikal juga sudah tidak bisa kesal lagi, karena dia paham sekali kalau gadis ini memang super kocak segalanya.
Setelah seharian berjalan- jalan dan berbelanja, Anton dan Mela kembali ke hotel.
Sehabis dari Malioboro mereka diajak berputar- putar kota Yogyakarta.
Melewati Keraton, lalu ke sentra batik dan pengrajin perak terakhir ke Candi Ratu Boko yang berkaitan dengan film kesukaan Mela.
Mereka beristirahat dulu di hotel karena nanti malam akan diajak berkeliling lagi mengunjungi wisata kuliner malam di kota itu.
Setelah beristirahat, lalu mereka mandi dan menunaikan ibadah, lanjut lagi kuliner malam yang sangat viral di media massa yaitu gudeg mercon.
Banyak sekali orang mengantri memesan nasi gudeg mercon itu, pak Wagino berinisiatif memesan tiga porsi untuk Anton, Mela dan dirinya.
Ternyata rasanya enak dan luar biasa pedas sekali, walau pedas tapi membuat makan menjadi semakin semangat.
Setelah itu mereka berkeliling kota, dan memasuki halaman Alun-alun Kidul Yogyakarta, disana ada pohon beringin kembar dan menurut mitos apabila bisa berjalan lurus melewati kedua pohon itu maka segala doanya akan terkabul.
Hanya sayangnya berjalan lurus sambil mata ditutup kain hitam yang pekat, Mela dan Anton mencobanya dan keduanya tertawa-tawa karena sudah dua kali mencoba selalu saja berbelok arah.
"Cuma mitos yah pak Anton, sebab semua dalam kehidupan kita serahkan kepada Yang Kuasa," seloroh pak Wagino di sela-sela Anton dan Mela mencoba melewati kedua pohon tadi.
Dari tempat itu, Anton merasa lapar lagi dan mencari bakmi Jowo salah satu kuliner terkenal juga di kota itu.
Awalnya satu piring berdua, tapi karena hangat dan enak, Mela juga memesan satu piring lagi.
Perut kenyang, hati senang dan badan terasa penat, malam itu mereka tertidur lelap saking lelah setelah seharian berjalan - jalan.
Minggu pagi
Hari ini terakhir di Yogyakarta, Anton dan Mela siang nanti akan kembali ke Cirebon dengan naik kereta api lagi.
Pagi ini mereka akan sarapan di warung makan terkenal yaitu The House of Raminten.
Menurut media sosial rumah makan ini menyediakan aneka hidangan yang sangat unik.
Benar saja, ketika tiba di sana keduanya terpana dengan interior rumah makan yang unik hampir semuanya terbuat dari kayu.
Di setiap dinding rumah makan ada poster dengan kalimat yang menggelitik dan lucu.
Kursinya pun unik seperti kita sedang lesehan tapi ada di atas kursi yang tidak berkaki.
Selesai makan mereka kembali ke hotel untuk bersiap-siap karena siang nanti harus segera kembali ke kota tempat tinggal mereka.
Sambil menuju stasiun, Mela menyempatkan berbelanja oleh - oleh yaitu bakpia dan lain-lain.
Kebetulan pak Wagino langsung
membawa mereka ke pabrik kue tersebut, Mela pun kalap dan membeli banyak untuk dibagikan ke keluarganya dan juga tetangga sekitar.
Setelah lepas Dzuhur, kereta api bergerak menuju ke kota Cirebon membawa Anton dan Mela kembali.
"Pi, kenapa yah dari kemarin aku serasa begah. Apakah masuk angin?"tanya Mela kepada suaminya.
Anton memegang kening istrinya dan memegang perutnya.
"Mungkin masuk angin sih, pakai minyak angin saja biar hangat perutmu,"ujar Anton kepada istrinya.
Mela mencari minyak angin dalam tasnya, dan ketika botol kecil itu dibuka.
"Pi...malas ah...bau sekali minyak angin ini, apakah karena sudah lama di tas aku yah," kata Mela sambil menyerahkan botol minyak angin itu ke suaminya.
"Ah wangi kok, kamu biasanya suka kan...".
"Bau ah...malah mual aku jadinya".
"Ya sudah, kamu tidur saja di lengan bahuku".
"Weekkk...Pi...ganti deodoran yah... baunya tidak enak deh".
"Hmmm...biasa kamu tuh, kalau lelah suka mengomel. Sudah tidur saja, perjalanan masih lama," kata Anton yang suka ruwet kalau istrinya ngomel.
Akhirnya Mela tidur juga di bahu Anton, walau tadi dia bilang bau.
Minggu sore
Aprilia sudah merapihkan kembali rumah, dia khawatir kalau sampai berantakan karena dia pasti Anton akan mengomel.
Selesai merapihkan rumah, siang tadi Haikal datang dan mereka berdua bertanding main play station.
Dari bertanding sepak bola, balap mobil, balap sepeda motor selalu nilainya seri karena Aprilia lawan tangguh untuk permainan game seperti itu.
Bermain sampai mata mereka dan juga badan mereka lelah.
Keduanya tertidur lelap di atas sofa, mereka tertidur sambil kakinya saling bertautan tanpa mereka sadari.
Taksi online berhenti di depan rumah yang mereka ditempati, Anton membuka pintu pagar yang terkunci.
Sopir taksi membantu menurunkan semua barang bawaan yang dibawa dari Yogyakarta.
Setelah Anton membayar lalu mereka masuk ke halaman dan Anton membuka pintu garasi.
Barang-barang bawaan dimasukan satu per satu, lalu mereka masuk ke bagian dalam rumah.
Sepi sekali keadaan rumah, pikir mereka pasti Aprilia sedang tidak ada di rumah.
Mela mendahului masuk ke bagian tengah rumah, lalu dia melihat di ruang menonton televisi ada orang tidur tapi kepalanya seperti bukan Aprilia.
"Pi...itu siapa yah?".
Anton melihat istrinya menunjuk ke arah sofa dan dia mendekatinya.
"ASTAGFIRULLAH....HEEEIII... BANGUN!!!!".
Anton terkejut dan langsung membentak yang sedang tidur di sofa.
Haikal dan Aprilia segera tersentak dan keduanya bangun sambil gelagapan.
Anton melotot ke arah kedua anak muda itu, lalu memandang tajam ke arah Haikal.
"YOU GET OUT...!!!!"
Haikal jelas merasa malu dan bersalah, karena setidaknya memang tidak sopan tidur bersama gadis yang bukan siapa-siapanya.
Lalu dia segera pamit dari rumah itu, pulang menuju ke rumah kakeknya.
Anton sekarang memandang tajam ke arah Aprilia, dan gadis itu duduk sambil tertunduk.
Aura wajahnya ketakutan sekali akan dimarahi oleh kakak sepupunya itu.
Anton menarik nafas, matanya merah menahan amarah tingkat tinggi, lalu dia melihat istrinya.
"Mi...Aku sudah tak sanggup berkata apa-apa lagi, sudah terlalu kesal. Coba Mi saja yang tanya, barusan mereka habis berbuat apa," kata Anton sambil masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Mela mau tak mau harus lebih bijak, dia tak mungkin memarahi Aprilia.
Lalu Mela mengajak adik sepupunya itu masuk ke kamarnya.
"Apri, coba ceritakan yang jujur kepada Mbak, kalian sudah sejauh apa. Jangan sampai kalian berbuat jauh, tapi kalian menutupinya".
"Kamu perempuan, kalau sampai kenapa-napa pasti yang rugi itu kita perempuan. Bicara sama Mbak, dan Mbak minta yang sejujurnya jangan ada yang kamu tutupi," kata Mela sambil mengelus punggung gadis itu karena terlihat mulai meneteskan air mata.
Untung Aprilia memang gadis yang jujur, dia menceritakan hubungan dengan Haikal dan menyampaikan perasaannya kalau dia sudah jatuh cinta kepada Haikal.
"Lalu selama Mbak dan Kak Anton tidak di rumah, apa yang terjadi. Apa yang sudah kalian lakukan?"desak Mela karena merasa khawatir terjadi sesuatu yang tidak seharusnya diantara mereka berdua.
Dengan rasa takut dan malu dia menceritakan soal ciuman, lalu soal memasak dan bermain game sampai ketiduran bersama Haikal.
Mela geleng-geleng kepala, dia merasa pusing mendengar cerita gadis ini.
"Mbak Mela, jujur Apri tidak suka dengan Isman. Itu pilihan Mamah Cahyani dan Kak Septa. Kalau Apri cuma cinta sama Haikal,"kata Aprilia sambil menangis.
"Mbak paham, tapi perempuan itu walau cinta tetap harus jaga harga diri. Jangan begitu mudahnya kamu mau saja dicium dan dipeluk oleh Haikal".
"Memang Haikal teman kerja Kak Anton, tapi dia lelaki. Mana kita tahu apa maksud dan keinginannya".
"Cobalah kamu bersikap dewasa, pilah mana yang pantas dilakukan dan mana yang tidak," ujar Mela sambil tak habis pikir dengan Aprilia.
"Soal cinta dan jodoh kita serahkan kepada Allah, tapi tolong kamu jaga harga dirimu. Mbak dan Kak Anton tak bisa memantau terus kamu dua puluh empat jam".
"Sebagai wanita muslim, hargai dirimu sendiri agar kamu bisa dihormati oleh lelaki," kata Mela mengakhiri nasehatnya kepada Aprilia.
Lalu Mela masuk ke kamarnya, dia menceritakan semuanya tentang pembicaraannya dengan Aprilia kepada Anton.
"Mi...Mi...kita jadi kayak punya anak gadis yah, ada dia di sini jadi serasa latihan punya anak gadis," kata Anton sambil tertawa kepada istrinya.
"Ya itulah, nambah lagi pelajaran kita yah... semoga besok dia bisa menjadi lebih baik," ujar Mela sambil merasa geli dan kesal kepada Aprilia.
__ADS_1
"Belum beres ini Mi, kita belum tahu nanti reaksi keluarga Mamah Cahyani kalau sampai tahu soal ini ditambah lagi keluarga Wiharja pasti ikut ramai," kata Anton memikirkan bagaimana kalau hubungan Aprilia dengan Haikal sampai terdengar ke seluruh keluarganya.
Mela hanya mengangkat bahu, lalu menatap suaminya dan tertawa berdua.