
Rabu, 27 Desember
Terlihat sebuah mobil sedang melaju menuju Bandara Soekarno Hatta, didalamnya ada Anton dan Mela yang duduk di kursi belakang. Sementara di kursi pengemudi terlihat Jaya Permana sedang menyetir mobil sambil terlihat sebal.
Rupanya Anton sengaja mengajak istrinya duduk dibelakang, dan sepanjang jalan mereka berdua bermesraan memanasi-manasi orang yang sedang menyetir di depan.
"Alangkah bahagia hatiku, bisa duduk bermesraan sama istri, bisa pelukan sama istri, terus ada yang mengantarkan kita sejauh ini pula....terima kasih atas nikmat Allah yang luar biasa kepadaku," kata Anton sambil memeluk istrinya Mela dan diiringi tawa Mela karena mendengar suaminya sedang menyindir sahabatnya.
"Ya sudah biasa, jomblo keren seperti aku tidak akan panas hati melihat orang bermesraan. Allah mendengar doa orang terdzalimi, nanti akan dikirimkan perempuan paling cantik yang aku dambakan,"sahut Jaya tak mau kalah dengan sindiran sahabatnya.
Anton dan Mela tertawa diatas kepedihan hati Jaya si jomblo keren yang merana, dasar ada - ada saja yah. Memang kaum jomblo pasti menjadi santapan sindiran dan ledekan dari orang sekitarnya.
Sabar yah....author juga pernah kok merasaka jadi jomblo, tapi jomblo keren sekali...hahahaha.
Balik ke cerita, akhirnya mereka tiba di Bandara Soetta, dan bertemu dengan keluarga sepupu dan kakaknya.
Mereka akan naik pesawat ekonomi menuju Batam pada siang hari ini.
Bagi Mela ini adalah pengalaman pertama kali masuk ke Bandara Internasional, sambil berjalan jantungnya dag dig dug.
Dia berjalan disamping suaminya tidak mau lepas sama sekali karena takut tertinggal dan dia juga tidak tahu harus melakukan apa.
Alur pertama rombongan ke konter pengecekan tiket, semua antri satu persatu memperlihatkan tiket pesawat, paspor dan kartu tanda penduduk.
Lalu tiket dan paspor di cap dan diserahkan kembali kepada calon penumpang.
Setelah itu semua berjalan menuju ruang tunggu yang biasa disebut Boarding Room.
Untuk menuju ke ruangan itu mereka diperiksa petugas. Semua tas yang dibawa diletakan ke rel berjalan yang akan memindai barang apa saja yang dibawa dalam tas.
Sementara bawaan lain seperti ponsel, ikat pinggang, jam tangan dan benda logam lainnya disimpan di dalam kotak yang telah disediakan petugas.
Mereka juga harus melewati semacam pintu yang memindai orang lewat satu per satu.
Di ruangan tunggu atau Boarding Room ini merupakan tempat yang cukup menyenangkan.
Ada banyak kursi yang bisa diduduki sambil menunggu panggilan keberangkatan.
Di ruangan itu orang bisa membaca buku, menonton televisi atau film, tersedia juga meja yang diatasnya ada berbagai pilihan minuman dan snack berupa kue-kue gratis untuk calon penumpang.
Tak lama terdengar panggilan untuk keberangkatan ke kota Batam, maka semua calon penumpang yang akan berangkat ke sana segera berdiri bersiap menuju pesawat.
Sebagian barang besar masuk ke bagasi, di simpan di suatu mesin dengan rel penggerak yang membawa koper-koper masuk ke bagasi pesawat.
Umumnya koper tersebut diberi nama agar tidak tertular dan juga diberi kunci khusus agar koper tidak terbuka atau ada yang membuka sembarangan.
Untuk tas jinjing atau koper kecil bisa dibawa masuk ke dalam bagasi kabin yang biasanya add di atas tempat duduk.
Mela duduk disamping suaminya, dari tadi dia diam saja tidak bicara karena sebenarnya dia gemetaran.
"Mi sayangku jangan tegang yah, santai saja, pegangan sama aku yah. Takut kamu loncat keluar," Anton menggoda istrinya yang ketakutan.
Mendengar itu nyali Mela semakin ciut saja.
Anton menyuruhnya duduk di pinggir jendela, tapi Mela tidak mau sampai menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Suaninya terus saja iseng menggoda istrinya untuk segera pindah ke pinggir jendela.
Tapi ketika ketika melihat mata istrinya mulai berkaca-kaca, dia memeluk istrinya sambil tertawa.
Terdengar suara dari speaker yang meminta seluruh penumpang untuk mematikan ponsel dan juga gawai lainnya apabila ada yang membawanya.
Tak lama ada pramugari yang menjelaskan cara penggunaan sabuk pengaman di kursi, lalu penggunaan alat keselamatan yang tersedia disekitar kursi.
"Makanya Mi jangan takut terlontar dari pesawat karena disekitar kursi ini dilengkapi alat pengaman,"kata suaminya sambil mengedipkan mata.
Setelah pramugari selesai menjelaskan, kemudian pesawat mulai berjalan hendak lepas landas.
Saat hendak lepas landas Mela memegang tangan suaminya erat-erat, dia merasa tegang sekali.
Pesawat lepas landas meninggalkan kota Jakarta, sekarang menuju kepulauan Riau tepatnya pulau Batam.
Anita harus menyusui Kaysan saat lepas landas agar gendang telinganya tidak pecah.
Bayi kecil ditutup telinganya sambil disusui saat pesawat lepas landas akan mengurangi suara dengingan pesawat yang masuk ke telinganya.
Keiza telinganya ditutupi dengan head set sambil diperdengarkan lagu oleh ayahnya.
Kedua suami istri Serina dan Bang Cak, dimanapun berada entah di mobil, di dalam kereta apalagi di pesawat, pasti matanya segera tertutup tertidur.
Mahendra duduk dipinggir jendela dengan santai sambil mendengarkan musik dari I Pod nya.
Di sebelahnya siapa lagi kalau bukan mister jomblo yang sekarang sedang pasang aksi senyum sana dan sini kepada wanita-wanita cantik dan juga pramugari yang wara wiri membawakan minuman dan snack gratis.
Selain itu pramugari juga menawarkan menu makanan yang bisa dipesan di pesawat.
"Pi..kita sudah di atas awan kah sekarang ?,"tanya Mela sambil membuka matanya perlahan-lahan.
Suaminya mengangkat-angkat kedua alisnya sambil senyum-senyum.
Mela mengintip ke jendela dari bahu lengan suaminya, terlihat dari kejauhan titik-titik di bawah berwarna-warni.
"Pi...titik-titik itu apa sih?"tanya Mela dengan polos.
"Itu rumah-rumah dan gedung-gedung bertingkat,"jawab suaminya enteng.
"HAAAAHHH!!!" Mela membelalak matanya.
Dia membayangkan betapa mereka sekarang berada jauh diatas langit, sampai yang dibawa semuanya terlihat seperti titik-titik saja.
Perjalanan lamanya hanya 1 jam 45 menit saja, mereka sudah tiba di pulau Batam.
Mereka mendarat di Bandara Internasional Hang Nadim.
Mela gemetar saat pesawat tersebut mendarat, dia kembali memegang erat tangan suaminya.
Dengan kaki masih gemetaran mereka harus turun dari pesawat.
Fajar menghirup hawa Batam yang sudah dia tinggalkan lebih dari sepuluh tahun lamanya.
Dari dia awal kuliah sampai sekarang menikah dan mempunya dua orang anak.
Ada rasa haru di dalam hatinya, andai orangtuanya masih ada tentu saja akan bahagia melihat kedua cucu kecilnya.
Tapi Fajar berusaha tetap tegar, dia menggendong Kaysan sambil menarik koper kecil beroda yang berisi keperluan anaknya.
Anita menuntun Keiza, sambil di kedua tangannya juga penuh tas barang-barang keperluan anak-anaknya.
Setelah mereka semua menemukan dan mengambil koper besar dari bagasi pesawat, mereka ternyata sudah di jemput oleh mobil minibus besar yang akan mengantar rombongan selama di Batam.
Mereka menamakan dirinya grup "HORE", karena semua orang bergembira bersama.
Mobil besar yang nyaman berbeda dengan milik Fajar, tentu saja selama di mobil Serina ngoceh meledek Fajar.
Tapi Fajar tak ambil pusing, yang penting saat ini mereka gembira.
Tujuan mereka adalah ke sebuah hotel bintang tiga di daerah yang namanya seperti nama daerah di negara Jepang yaitu Nagoya.
Hotelnya bagus, dan ada kolam renangnya yang ukurannya juga ada untuk anak kecil.
Semua kamar dipesan atas nama Melati Sekar Wangi, dan Mela merasa agak sombong karena membayarkan hotel untuk tiga hari.
Padahal uangnya nyonya Serina yang dipakai untuk membayar.
Dengan sewa kamar memakai nama Mela, lumayan membuat bang Cak tidak dikenali oleh siapapun.
Empat kamar yang dipesan yaitu untuk Serina dan Bang Cak, Fajar beserta Anita juga anak-anak, Anton dan Mela.
Sementara Mahendra, Jaya dan Septa nanti di satu kamar yang sama, menambah kasur extra.
Tenyata kamar mereka tidak disatu lantai yang sama, khusus kamar Jaya dan Mahendra terpisah satu lantai.
Mereka di lantai satu, sementara tiga lainnya di lantai dua.
Setelah menyimpan barang di hotel, lalu perjalanan di mulai dengan berburu kuliner khas batam.
Sup ikan Batam dan gonggong yaitu sejenis biota laut tepatnya siput direbus diberi bumbu rempah, lalu satu lagi yang dipesan tak kalah enaknya kerapu steam khas Batam.
Siang itu menunya ikan, nanti malam rencananya mereka akan mencari berbagai macam mie khas Batam.
Setelah makan siang mereka berjalan-jalan dari mall ke mall.
Mela sering melotot kepada suaminya yang tertarik dengan berbagai macam barang elektronik kekinian yang murah.
Jaya juga tak mau kalah membeli beberapa kacamata Hitam yang bermerk tapi dengan harga miring.
Sore harinya mereka menunggu Septa yang tengah naik pesawat menyusul ke Batam dari Palembang.
Dia mengantarkan istrinya dulu ke keluarga besarnya, lalu dia pergi menyusul ke Batam.
Sambil menanti mereka berfoto di jembatan Balerang yang merupakan ikon kota ini. Jembatan ini panjang sekali dan bisa menghubungkan pulau Batam dengan beberapa pulau lainnya di Kepulauan Riau.
__ADS_1
Ada juga yang menyebut Jembatan Habibie, sebagai penghormatan kepada almarhum Presiden ketiga Republik Indonesia yang merupakan salah satu pencetus dibangunnya jembatan tersebut.
Dari situ mereka kembali lagi ke arah Bandara untuk menjemput Septa, dan mereka kembali berfoto-foto di Taman Rajawali Bandara Hang Nadim.
Semua bergaya di depan tugu yang diatasnya ada patung Rajawali bertengger.
Tak lama mereka melihat seseorang berjalan dari kejauhan yaitu Septa, dia santai tidak membawa banyak barang.
Di dalam tasnya pasti ada kamera dan laptop, melihat ada spot foto yang oke, maka dia juga memfoto semua keluarganya di bawah objek itu. Bahkan dia membawa tripod kamera, sehingga bisa ikut berfoto.
Saat itu sudah sore menjelang malam, mereka langsung mencari makanan dan yang dituju adalah rumah makan mie lendir.
Mie lendir adalah mie rebus yang kuahnya terbuat dari kacang tanah yang dihaluskan dicampur rempah. Rasa masakan mie ini kaya rempah, sehingga rasanya nikmat sekali.
Setelah kenyang mereka semua kembali ke hotel, dan beristirahat.
Kamis, 28 Desember
"Fajar aku ikut deh sama kalian, lumayan buat menambah koleksi foto ku," kata Septa karena pagi ini Fajar dan keluarga akan ziarah ke makam orang tuanya.
"Oke hayuk, tapi nanti sekalian juga ke rumah bekas orang tua ku tinggal tapi di pemukiman kumuh,"kata Fajar kepada septa menjelaskan tujuannya hari ini.
"Tak apalah, justru nanti semakin banyak koleksiku. Pokoknya aku ikut kemana juga,"Septa memaksa ikut serta dan tentu saja Fajar mengajak dengan senang hati.
Sementara Anton dan Mela belum juga keluar kamar, maklum masih suasana bulan madu. Padahal pagi itu sudah sekitar pukul delapan pagi.
Jaya sedang berendam di kolam renang hotel, dia beralasan menemani Mahendra berenang di hotel.
Kalau Mahendra benar olah raga berenang, sementara Jaya olah mata karena banyak wanita muda yang juga ikut berenang di pagi itu.
Sementara Serina dan Bang Cak sedang menikmati menu sarapan pagi, dan betapa senangnya di resto hotel mereka menemukan kue bingka Batam.
Anita membawa kereta dorong bayi untuk menyimpan Kaysan agar tidak selalu digendong. Tapi di bahunya tergantung tas besar berisi perlengkapan anak-anaknya.
Keiza sudah lebih besar jadi mau jalan sendiri kecuali nanti dia lelah baru minta digendong ayahnya.
Kemudian mereka diantar oleh mobil untuk rombongan menuju Tempat Pemakaman Umum di Seitemiang.
Fajar tidak tahu dimana makam kedua orang tuanya, dia mencoba mencari tapi tak ditemukan. Untung ada petugas pemakaman, jadi dia dibantu mereka dan akhirnya ketemu makam kedua orang tuanya.
Ternyata makam kedua orang tua Fajar berdampingan, pada batu nisannya tercantum Joni Sanjaya juga Oey Siu Hoa meninggal tanggal 1 Oktober 2001.
Berarti sudah 16 tahun lamanya Fajar tak pernah sekalipun menziarahi makam kedua orang tuanya.
Air matanya berlinang, Anita yang berada di sampingnya mengusap punggung suaminya ikut merasakan kesedihan hati suaminya.
Mereka mengirimkan doa untuk kedua orang tuanya.
Kondisi makam sudah bagus di tembok semen dan terawat. Lalu petugas makam yang mendampingi berkata," Makam ini dibayarkan pajaknya setiap tahun oleh anaknya. Bahkan beberapa waktu lalu anaknya mengirimkan sejumlah uang untuk memperbaiki kondisi makam".
"Saya Fajar pak, anak dari almarhum dan almarhumah," sahut Fajar sambil tersenyum.
"Nah loh, tapi tadi kalian tidak tahu letak makamnya. Aneh sekali kalian," kata bapak tersebut.
"Maaf pak, selama ini saya di Bandung dan waktu pemakaman juga saya tidak hadir," Fajar mencoba menjelaskan kepadanya.
"Hmmm...kalian aneh sekali..ehm.. sudahlah bukan urusanku,"bapak itu malah mengomel sehingga Anita dan Fajar saling berpandangan dan cekikikan berdua melihat bapak tersebut.
Sambil memfoto Septa tak sengaja memperhatikan Kaysan. Anak itu terlihat tertawa-tawa sendiri seperti ada yang mengajaknya bermain.
Septa iseng merekam Kaysan, dipikirnya nanti akan dia pelajari saat di hotel.
Jepret...jepret ...jepret....Septa mengambil gambar di lokasi tersebut.
Lalu mereka kembali ke mobil untuk menuju ke daerah Tanjung Riau yang merupakan daerah tempat tinggal Fajar.
Di dalam mobil Septa memindahkan hasil jepretannya kedalam laptopnya. Kemudian dia melihat hasil fotonya satu persatu.
Tiba-tiba dia melihat ada yang aneh dalam foto, dia seperti melihat ada orang dari kejauhan seperti sedang mengamati Fajar.
Orang terlihat sedang berdiri di antara rerimbunan pohon bambu.
"Ah tapi mungkin kebetulan saja," begitu pikir Septa.
Mobil bergerak melaju menuju sebuah pemukiman padat penduduk. Letaknya dipinggir sebuah sungai yang airnya keruh, ada jalan yang hanya bisa dimasuki sepeda atau motor saja.
Mobil itu parkir di jalan besar, sementara semua turun dan berjalan kaki menyusuri jalan tadi.
"Ayah...jalanan ini bau sekali. Sungainya bau. Ayah dulu waktu kecil disini?"tanya Keiza dengan polosnya. Dan ayahnya hanya tersenyum menganggukan kepalanya.
Mereka berjalan sekitar 200 meter, disepanjang jalan penduduk memperhatikan mereka sambil bertanya-tanya.
"Itu Ah Chiang bukan yah...mirip sekali wajahnya".
Kira-kira seperti itu pertanyaan orang yang melihatnya.
Tak lama mereka tiba di depan bangunan rumah yang sebagian besar sudah runtuh. Puing-puing berserakan di dalam rumah itu.
Fajar melihat ada nenek tua sedang memandangi dirinya, lalu dia menyapanya dengan bahasa Thio Cuy.
"Ama...apa kabar...ini saya Ah Chiang teman Ah Bun... Ama masih terlihat muda dan sehat," sapa Fajar kepada nenek tua itu.
"Ah Chiang....haaahhh... Ah Chiang... ya..ya...Ah Chiang," ujar nenek itu sambil setengah berlari kedalam rumahnya memanggil seseorang.
"Septa...seperti nonton film silat mandarin yah...itulah suamiku," kata Anita kepada sepupunya.
"Dari tadi juga sudah seperti nonton film melayu kuno, aku banyak gagal paham mendengarnya...hahaha," Septa membalas komentar sepupunya.
"Aku juga istrinya selama ini sering gagal paham...hahaha,"sahut Anita sambil diiringi tawa bersama Septa.
"Yuk masuk yuk...berani tidak?"kata Fajar mengajak istri dan sepupunya masuk.
Keiza digendong oleh Fajar, dan mereka memasuki reruntuhan bangunan rumah Fajar.
"Disini dulu ruang tamu kecil, sebelah sini ruang makan dan dapur. Disana kamar tidurku, dibelakangnya kamar tidur orang tuaku," Fajar menjelaskan letak- letak ruangan dalam rumah itu jaman dahulunya seperti bagiamana.
"Kok rumah ayah jelek, hancur begini," Keiza merasa aneh dengan kondisi rumah ayahnya.
"Ya dulu itu nak, waktu ayah juga masih disini bersama kakek dan nenek yang tadi ada di makam," kata Fajar mencoba menjelaskan, tapi anaknya tampak belum mengerti.
"Ah Chiang!!!!"seseorang memanggil Fajar dari luar reruntuhan rumah itu.
"Hai...Ah Bun...kemari!!!,"seru Fajar memanggilnya.
"Chiang...apa kabarmu, lama sekali kita tak jumpa,"kata Ah Bun sambil menyalami sahabatnya.
"Bro...tak sangka aku bisa kemari lagi," kata Fajar sambil merangkul bahu sahabat lamanya.
Fajar memperkenalkan Anita dan anak-anaknya kepada Ah Bun juga tak ketinggalan Septa turut disebutkan.
Setelah itu mereka langsung saling berbicara dengan bahasa Thio Ciu menceritakan kehidupan mereka masing-masing selama ini.
"Nah kan kamu dengar sendiri Septa, suamiku suka begitu. Kalau ketemu yang sama bahasanya, langsung kita tak dianggap,"keluh Anita kepada sepupunya.
Septa hanya tertawa saja, karena sebenarnya dia juga sama kalau ke Palembang mengantar istri nya, pasti dia juga berada dalam lingkaran bahasa yang asing di telinga.
Tiba-tiba Kaysan mulai menangis, Anita segera membuka tali pengikat di kursi dorongnya lantas segera menggendong anaknya.
Namun Kaysan menangis terus dan bertambah kencang, dia menunjuk ke arah ayahnya.
"Ayah....anakmu mengamuk lagi nih, coba ayah gendong aku tak tahan kalau dia mengamuk," kata Anita kepada Fajar memintanya menggendong Kaysan.
Keiza turun dan sekarang Kaysan digendong Fajar, tapi anak itu terus menangis sambil tangannya kembali menunjuk ke arah kamar mandi.
Anita mulai merinding, rupanya anaknya merasakan hal-hal aneh lagi.
"Mengapa anakmu minta ke kamar mandi, ada apakah disana?"tanya Ah Bun kebingungan.
Fajar juga tidak tahu, tapi dia mengikuti keinginan anaknya.
Kaysan menangis keras sambil kembali tangannya menunjuk ke arah suatu celah dekat pintu kamar mandi.
"Ada apa nak...itu lubang tikus dulunya loh," kata Fajar mencoba memberitahu bayi kecilnya.
Tapi Kaysan terus menangis sambil menunjuk arah celah itu.
Septa juga merasa aneh dengan keponakannya kecilnya itu, lalu dia mencoba mencari alat untuk mengorek celah itu.
Akhirnya dia menemukan sebatang kawat dan mulai mengorek celah itu dengan penasaran.
"Hmmm...aku seperti mengenai sesuatu di dalam celah ini, apa yah ini?"kata Septa sambil terus berusaha mengorek celah itu.
"Coba aku tendang yah tembok ini, tampak sudah rapuh juga,"kata Ah Bun dan dibolehkan oleh Fajar yang juga penasaran dengan apa yang dikorek Septa tadi.
BRUUKK
Tembok sekitar celah tadi terbuka oleh tendangan Ah Bun, dan terlihat ada plastik yang sudah berlumut.
Tapi di dalamnya seperti ada sesuatu, lalu Anita mengeluarkan tisue dan memberikan kepada Septa yang ingin mengambil bungkusan plastik itu.
Dengan agak jijik Septa membuka plastik itu, sementara anehnya sekarang Kaysan terdiam tak menangis lagi.
__ADS_1
Akhirnya plastik lengket bisa dibuka, dan didalamnya ada sebuah ponsel jaman dahulu.
Septa sambil memakai tisue memegang ponsel itu ," Ini ponsel jaman awal tahun dua ribuan, jenis ini sudah ada kamera dan juga kamera untuk video".
"Tapi mengapa ada di dalam celah tadi yah, sepertinya ada rahasia di dalamnya?"tanya Septa penasaran sambil memandang Fajar.
Dan Fajar hanya menggelengkan kepala tidak tahu yang sebenarnya.
Septa membungkus ponsel itu dengan tisue dan akan berusaha mencari tahu ada apa dengan ponsel itu di hotel nanti.
Ah Bun seakan ingat sesuatu yang berhubungan dengan kematian orang tua Fajar.
Lalu dia menengok kanan dan kiri, lantas berbisik kepada Fajar untuk segera meninggalkan tempat ini sekarang.
"Kamu kembalikan dulu keluargamu ke hotel, temui aku di bukit kampung belakang satu jam lagi, jangan bawa siapa-siapa," katanya setengah berbisik dengan bahasa Thio Ciu.
Lantas Fajar segera membawa keluarganya pergi dari situ, sampai lupa pamit kepada nenek tadi yang merupakan ibu nya Ah Bun.
Mobil melaju menuju hotel, tapi disebuah jalan Fajar pamit turun.
Dia berjanji akan bertemu istri dan anak-anaknya siang nanti di suatu tempat saat nanti yang lain bepergian bersama Serina.
Fajar yang dulunya anak kampung di sana, dia berjalan kaki kembali ke arah tadi.
Namun dia melanjutkan langkah menuju jalan ke arah bukit yang ada diujung belakang kampung kediaman mereka jaman dulu.
Sampai disana terlihat Ah Bun sudah menunggu dirinya tepat di bawah pohon tempat mereka sejak kecil dulu selalu disitu kalau bercengkrama.
Ah Bun menceritakan apa yang dia dengar dari orang-orang tentang kematian orang tuanya Fajar yang sesungguhnya.
Fajar mendengarkan dengan seksama, dadanya terasa sesak mendengar apa yang sahabatnya sampaikan itu.
Tak terasa ada tetesan air mengalir sudut matanya dan jatuh ke pipinya. Wajar saja dia menangis karena dia merasa sedih mendengar bagaimana kedua orangtuanya terbunuh.
"Saat itu sore hari menjelang malam, hujan sangat lebat sekali. Kami tak ada yang tahu kalau terjadi tembakan, kami kira suara petir".
"Setelah hujan reda, aku keluar rumah hendak mengeringkan air yang masuk ke lantai teras rumah. Dari sebelah terdengar suara lirih meminta tolong".
"Aku berlari ke dalam rumahmu, terlihat ayah dan ibumu sudah berlumuran darah. Tapi ibumu masih hidup walau sedang merenggang nyawa dan menulis di lantai agar kau jangan kembali," kata Ah Bun menutup ceritanya.
Fajar terdiam, lalu dia berpikir apa hubungannya antara ponsel jaman dulu itu dengan kejadian pembunuhan orang tuanya.
"Kami besok siang akan berangkat ke Singapura naik kapal ferry dari sini, aku bersama rombongan keluarga hendak liburan kesana," kata Fajar kepada Ah Bun.
"Kau sudah makmur rupanya yah, syukurlah kawan...eh...iya, apakah boleh rumahmu kuperbaiki untuk dijadikan rumah menjahit?"tanya Ah Bun kepada Fajar.
"Pakai saja bro, hanya ada syarat yang harus kau lakukan" kata Fajar sambil senyum.
"Apa itu?".
"Kalau sudah dibangun menjadi rumah menjahit, ajak anak-anak putus sekolah untuk bekerja denganmu. Ajarkan mereka ilmu menjahitnya untuk bekal mereka kelak," kata Fajar selalu saja bijaksana, dan Ah Bun berjanji akan melaksanakan amanat sahabatnya itu.
"Chiang, kamu ingat tukang mie ayam dulu?"tanya Ah Bun ketika mereka berdua berjalan pulang.
Fajar menganggukan kepalanya dan memasang wajah bertanya.
"Sekarang sudah tidak di gerobak lagi bro, sudah punya rumah makan sendiri, dan harganya menjadi mahal,"Ah Bun tertawa disambut juga oleh Fajar sehingga mereka tertawa berdua mengingat masa-masa lalu.
Septa sedang duduk sebuah kedai di suatu mall sambil menanti rombongan ibu-ibu yang sedang berburu diskon pakaian merek terkenal.
Bahkan Mela sekarang semangat ikut berburu pakaian tersebut atas sponsor dari sang suami.
Septa membongkar ponsel lama itu memeriksa baterainya, untung dia membawa alat untuk mengisi baterai ponsel.
Jaman itu belum terlalu marak kartu memori tambahan untuk di simpan di ponsel, sehingga foto dan video biasanya tersimpan di memori ponsel.
Jaya datang menghampiri Septa sambil di tangannya membawa secangkir kopi.
Tak lama Anton menyusul, rupanya pria lebih tidak kuat kalau urusan berburu diskon dibandingkan para kaum wanita.
"Pengantin baru lemas yah, tenaga terkuras terus setiap malam," celoteh Jaya saat melihat Anton duduk dan terlihat kelelahan.
"Biar lelah tapi aku tidur enak ada yang bisa aku peluk. Kalau kamu memeluk siapa, paling Septa.... hahahaha,"tukas Anton kepada Jaya.
"Jijik sekali aku mendengarnya,"
bantah Septa sambil meringis.
Mereka semua tertawa mendengar pembicaraan itu.
"Itu apa Septa...seperti ponsel dari jaman dulu yah...untuk apa itu?" tanya Anton ketika melihat apa yang dipegang Septa.
"Ya ini tadi ditemukan di rumah Fajar, di reruntuhan rumahnya. Aneh sekali yah, dan ini terlihat masih baik karena dibungkus plastik dengan sempurna," kata Septa menjelaskan.
Lantas ketika isi baterai sudah terlihat penuh, Septa segera memasangkan ke ponsel tersebut dan mencoba menyalakannya.
Dan luar biasa ponsel itu menyala, lalu Septa mengambil kabel untuk penghubung data, disambungkan ponsel tersebut dengan laptopnya.
Lalu dia mulai menelusuri isi ponsel tersebut, ada beberapa foto dan video lalu segera dia pindahkan ke laptop.
Dan ketika dia buka foto satu persatu, betapa terkejutnya dia ternyata itu adegan pembunuhan orang yang dilakukan secara keji.
Septa semakin penasaran, dia juga mencoba membuka video.
Tapi ternyata berbeda program, untung dia lumayan paham hal seperti itu, dia segera mencari program selaras dengan video itu dan akhirnya bisa dibuka.
Awalnya terlihat seseorang duduk di kursi sambil sedang memaki-maki seseorang yang tampak terlihat sudah berlumuran darah karena habis dipukuli.
Kedua tangannya terikat, dan orang itu sedang bersimpuh dihadapan pria yang duduk di kursi.
Tak lama ada orang berdiri di samping orang yang terikat, lalu mengeluarkan pistol dan menembak kepala orang itu.
Septa, Jaya dan Anton sontak terbelalak melihat adegan itu, dan itu bukan adegan film.
Tapi terlihat kejadian nyata, karena pengambilan gambarnya sangat amatir dan terlihat sambil mencuri-
curi saat mengambilnya.
Lalu ada juga sebuah cuplikan gambar dari orang yang merekam tersebut, tampaknya dilakukan diam-diam.
Orang itu menggeser sebuah batu besar, dan dibawahnya terlihat sebuah penutup ruangan dari besi.
Ketika penutup itu dibuka, tampak didalamnya gudang bawah tanah, dan isinya adalah minuman keras dalam jumlah yang sangat banyak.
Mereka bertiga berpandangan, tak lama Fajar terlihat datang bersama Bang Cak.
Mereka memperlihatkan apa yang ada di laptopnya Septa, sontak mereka juga terkejut.
Babak baru lagi petualangan di Batam.
Kang Japar alias Kang Jap Fan terlihat sedang mengendap-endap masuk ke dalam reruntuhan bangunan rumah makan dan rumah judi ilegal milik kakaknya jaman dulu.
Ketika di rasa aman tak ada orang yang membuntuti, dia berjalan ke arah belakang bekas gudang.
Di sana ada tembok batu sebesar meja yang bisa dia geser, lalu dia mulai menggeser dengan kuat dan terlihat ada pintu penutup besi yang menghubungkan dengan ruang bawah tanah.
Dia lalu membukanya, lalu menuruni anak tangga. Setelah tiba di bawah, dia menyalakan senternya dan terlihat begitu banyak botol-botol minuman keras yang masih dalam keadaan utuh.
Dia tertawa bahagia sambil berkata," Kata siapa Tuhan tidak baik kepada orang jahat, buktinya masih tersisa harta terpendam untukku".
Dia tertawa-tawa bahagia di dalam gudang itu, lalu dia kembali naik ke atas dan menutup kembali rapat-rapat penutup itu.
Pikirnya sebentar lagi tahun baru, dia akan menjual minuman keras karena biasanya pasti akan banyak orang yang akan pesta mabuk.
Keempat lelaki bersaudara dan juga satu pria jomblo bersepakat untuk menutup mulut kepada para istrinya masing-masing.
Bang Cak menelepon seseorang dan mereka perjanjian akan bertemu malam hari nanti di rumah makan khas masakan Melayu Batam yang sangat terkenal.
Benar saja malam harinya ada seorang pria datang dengan hanya mengenakan kaus tangan pendek, dan juga celana panjang bahan jeans sambil memakai sandal.
Datang naik sepeda motor biasa saja, tak ada satupun yang akan menyangka kalau orang tersebut adalah KAPOLDA Batam.
Rombongan pria sengaja duduk di tempat paling sudut di rumah makan itu, sementara para istri duduk di meja seberang karena ada anak-anak kecil jadi susah kalau sambil harus menyuapi makan bila duduk di meja sudut.
Bapak tersebut diperlihatkan foto dan video dari laptop dan juga diberikan ponsel lama yang menjadi bukti asli video tersebut dibuat.
Kemudian pak KAPOLDA menelepon menghubungi seseorang dan beliau meminta Septa mengirimkan email foto-foto dan video kepada orang yang barusan beliau hubungi.
Lalu beliau pamit kepada Bang Cak dan keluarga yang sedang berlibur.
Dalam waktu satu jam kemudian tampak ada dua unit mobil polisi dan juga 1 unit tim Gegana.
Mereka mencari tembok seperti yang ada dalam video, dan akhirnya ditemukan dibagian belakang reruntuhan gudang.
Mereka membongkar dan membuka penutup pintu besi tadi, tak lama datang lagi bantuan dari team pemadam kebakaran.
Dan gudang minuman bawah tanah tadi di bumi habiskan oleh satuan Kepolisian Batam.
Kang Japar mencengkeram kedua tangannya dengan penuh amarah membara saat malam itu terlihat Kilasan Berita Terkini yang tayang di televisi.
"Satuan Kepolisian Batam sore tadi telah membumi hanguskan gudang bawah tanah yang ada di reruntuhan rumah makan California".
__ADS_1
"Rumah makan tersebut sudah hancur beberapa tahun lalu dan sudah tidak berfungsi lagi. Namun ternyata ada temuan bahwa di bawah lantai reruntuhan terdapat gudang bawah tanah yang berisi ribuan minuman keras ilegal".
"Penemuan ini didapatkan dari adanya sebuah ponsel lama yang tak sengaja ditemukan dan berisi bukti-bukti adanya kekerasan masa lalu yang telah diperbuat oleh pemilik gedung. Sekian pemberitaan ini kami sampaikan dan berita terkini selanjutnya akan kami tayangkan apabila sudah ada laporan terbaru terkait kasus ini".