Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kesebelas


__ADS_3

Anton membuka tutup bagasi mobilnya, lalu mengeluarkan penutup body mobil.


Lalu menutup seluruh mobilnya dengan bahan terpal itu.


Mela sudah hadir dengan segelas susu dan keranjang pakaian yang sudah rapih.


Lalu dia mencoba menyapa dokter Anton yang selama beberapa hari ini terlihat tidak ingin disapa olehnya.


"Pagi dokter, maaf di meja sudah saya simpan susunya dan juga keranjang pakaian yang sudah rapih. Dan maaf kemarin disaku celana dokter tertinggal uang 200 ribu rupiah. Sudah saya simpan dalam amplop di tumpukan pakaian paling atas,"Mela menyapa sambil menjelaskan perihal uang yang tertinggal dalam sakunya.


Anton hanya terdiam, seakan tidak menanggapi apa yang dikatakan Mela barusan. Dia malah tampak sibuk berkutat dengan penutup mobil yang sedari tadi dia tarik sana dan sini tak jelas.


Ingin rasanya bertanya kepada Mela, tapi batinnya bergolak antara tidak perlu memikirkan Mela atau haruskah dikeluarkan kekesalan yang tak jelas ini.


Sementara Mela berdiri mematung, karena tidak ada tanggapan diapun berlalu menuju toko.


Anton lalu masuk ke paviliun, dilihatnya memang ada segelas susu dan di tumpukan bajunya ada amplop berisi uangnya.


Dalam hati dia merasa bersalah juga, karena sesungguhnya dia sengaja menyimpan uang itu hanya demi mencari pembuktian apakah gadis benar sangat gila uang atau tidaknya.


Hari itu dia ke puskemas dengan menaiki motornya. Dan saat hendak meninggalkan halaman dari kejauhan tampak ibu Atin sedang berusaha memanggilnya dan di tangannya tampak ada sepiring kue. Antonpun segera melaju pura-pura tidak mendengar.


"Lah sih, priben jeh di sauri, beli weru e mangkat. Ora kerungu kayae kuh," kata Wak Atin dengan kesal.


(\=Loh kok, bagaimana sih dipanggil malah pergi. Tidak terdengar sepertinya deh)


Mela mengatupkan kedua bibirnya menahan tawa sambil menuju paviliun untuk bersih-bersih.


Sambil menyapu dia bertanya-tanya, ada apakah gerangan dengan dokter Anton. Dia merasa aneh karena beberapa hari ini tampak Anton tidak suka kepadanya.


Tapi kembali lagi dia tidak mau ambil pusing, masih banyak urusan kehidupannya yang lebih memusingkan. Jadi dia berusaha melupakan sikap Anton.


Mela ijin ke Wak Atin nanti sore setelah ashar dia mau ke kampus untuk konsultasi dengan dosennya perkara skripsinya.


Walau berat hati tapi akhirnya Wak Atin menyetujuinya.


Siang itu saat dia sedang mencatat barang yang harus dipesan oleh Wiwit ke pabrikan, tiba-tiba ada mobil pickup datang mengangkut lemari es dibelakangnya.


Mela menerima petugas itu, dan ketika mengetahui itu pesanan Anton maka diapun membimbing petugas itu membawa masuk lemari es ke paviliun.


Setelah disimpan di dekat dapur dan juga sudah dipasang. Dia memfoto lemari es itu dan mengirimkan fotonya kepada Anton.


Setelah ditunggu cukup lama, memang nyata tidak ada jawaban. Jadi diapun mempersilahkan petugas tadi untuk pamit. Padahal petugas itu yang meminta Mela untuk menanyakan apakah posisi lemari es nya sudah sesuai keinginan atau belumnya.


Mela ke dapur rumah Wak Atin, dia mengambil kotak yang berisi buah jeruk milik Anton. Juga susu kotaknya, dan ketika diguncang terasa isinya hampir habis.

__ADS_1


Sebelum masuk membawa masuk ke paviliun kedua benda tadi. Mela sebentar ke toko mengambil sepotong besi berani alias magnet, lalu beberapa potongan kertas bekas.


Semuanya dibawa ke paviliun, dia masukan kotak susu murni 1 liter yang mungkin sisa untuk satu kali minum, juga sisa 5 butir jeruk ke dalam lemari es baru milik dokter Anton.


Sebelum keluar dia tempelkan magnet tadi di pintu lemari es , lalu dia menulis sesuatu di potongan kertas bekas tadi dan dia sisipkan dibalik magnet.


Sambil berjalan keluar pintu paviliun dia tersenyum dan berkata dalam hati,"lumayan berkurang deh tugas buah dan susu".


Hari itu pasien banyak sekali, bahkan saat Adzan Ashar terdengarpun masih ada sekitar 5 orang Manula yang menanti giliran dipanggil untuk berobat.


Pesona dokter Anton semakin meluas dari telinga ke telinga, dari mulut ke mulut para manula. Bahkan sekarang berdatangan para manula dari berbagai desa untuk memeriksakan diri ke dokter keturunan Tionghoa yang ramah dan baik hati di puskemas Jamblang.


Seusai semua pasien diperiksa, Anton melangkah ke Musholla untuk menunaikan kewajibannya.


Setelah ibadah usai dilaksanakan dia kembali ke ruangannya dan baru bisa memeriksa telepon genggamnya.


Cukup banyak chat masuk dari grup keluarganya di Bandung, dari grup teman-teman kuliahnya, dan chat dari Mela.


Saat dibuka ternyata Mela mengirimkan 1 buah foto lemari es, Antonpun menepuk keningnya karena dia benar-benar lupa menitip pesan kepada Mela bahwa siang tadi akan ada yang mengirim lemari es pesanannya kemarin ini.


Anton membaca pesan chat Mela "Dokter apakah sudah sesuai posisinya di sini?" . Difoto itu tampak lemari es berada di depan samping kamar kedua, dan sisi kanan lemari es berhadapan dengan kamar mandi.


Ting...sebuah chat berisikan emoji berbentuk jempol masuk ke telepon genggamnya Mela dari dokter Anton.


Mela juga mendapatkan sms dari dosennya yang meminta maaf karena membatalkan pertemuan sore ini karena ada sidang dadakan di kampus lain.


Keduanya jelas menyambut gembira ajakan itu, dan mereka berjanjian bertemu di pos kamling selepas maghrib nanti.


Narti memang tidak menginap, dia pulang sore setiap harinya. Karena memang rumahnya dekat di kampung belakang toko mereka.


Begitu juga Japri rumahnya di kampung seberang jalan toko mereka.


Anton pulang ke paviliun sekitar jam 5 sore. Dilihatnya toko sudah tutup lalu dia masuk dan melihat ada lemari es sudah tegak berdiri dan listriknya juga sudah tersambung.


Di pintu lemari es ada pesan kecil yang menempel di tahan oleh magnet.


"Jeruk sisa 5 dan susu di kotak paling sisa 1 gelas lagi"


Anton tersenyum kecil membacanya, dalam hatinya kagum gadis itu jujur. Dia bahkan tidak mengambil jeruk 1 butirpun.


Selepas maghrib nanti Anton berencana akan sedikit berbelanja untuk mengisi lemari es nya.


Seperti biasa melihat Mela tergesa-gesa keluar melalui pintu gerbang, dan gerakannya terlihat oleh Anton dari kaca jendela samping paviliun.


Antonpun terpikir dia akan berbelanja ke kota saja dan dia akan mengamati Mela sekitar jam 9 malam nanti di depan hotel yang semalam.

__ADS_1


Toh dia naik motor jadi bisa mengamati dari kejauhan tanpa diketahui Mela.


Malam ini Anton merasa yakin akan bisa mendapati apa yang diperbuat Mela di depan hotel seperti itu.


Tak lama Antonpun tampak melaju dengan motornya keluar dari pintu gerbang dan dia berpapasan dengan pak Solihin penjaga malam.


Anton terus melaju menuju kota, padahal masa itu menjelang musim panas saatnya berhembus angin laut. Sehingga malam hari pasti angin berhembus lebih kencang dari sebelumnya.


Sesampainya di jalan utama kota dia melewati hotel yang semalam kemarin dia melihat Mela disana.


Dia terus melaju menuju ke salah satu mall di kota. Setelah memarkirkan motornya dia segera memasuki mall dan mencari supermarket.


Dia berbelanja cukup banyak buah-buahan, susu murni juga roti berikut selainya dan keperluan pribadi lainnya.


Sekarang dia sedang mengantri di antrian kasir, kebetulan hanya 2 meja kasir yang buka. Sehingga terjadi antrian yang cukup panjang.


Ada sekitar 5 orang yang mengantri di depannya, sementara di meja kasir ada seorang ibu-ibu tampaknya seumuran dengannya membawa banyak belanjaan yang sedang dihitung satu persatu belanjaanya oleh petugas kasir.


" Mamih ini sekalian !!!"teriak dua orang anak sepertinya kakak beradik sambil membawa sesuatu di tangannya menuju ibu tadi.


Dan ibu merekapun menoleh ke belakang, terlihatlah wajah seseorang yang pernah dikenal Anton dengan baik dimasa lalu.


Beberapa kali dia mengerjapkan matanya, dan memang benar tidak salah dia adalah Triana.


" Ya cepat kemarikan belanjaanya, nanti kalian tunggu di depan," wanita itu berkata kepada dua anaknya.


Antonpun bimbang, dia tak ingin keberadaannya sampai dikenali wanita tadi. Lalu dia mempersilahkan orang yang dibelakangnya maju ke depan menggantikan dia dengan membuat alasan ada yang terlupa jadi dia kembali ke deretan rak-rak di dalam supermarket tersebut.


Dari antara deretan rak dia mengamati wanita tadi, dan benar dia yakin sekali wanita itu Triana.


Rupanya dia juga tinggal di kota ini, Ya Allah ada apa dengan semua ini.


Triana tampak lebih gemuk, berbeda dengan saat dia kenal dulu. Begitu langsing dan penampilannya selalu menarik.


Dari penampilan dan cara berpakaiannya sangat berbeda. Tampak seperti dia tidak mengurus diri sendiri. Terlihat Triana mendorong troli berisi belanjaan yang sudah dibayar diikuti dua anak kecil yang sudah pasti itu anaknya.


Setelah menjauh dari pandangan barulah Anton kembali menuju antrian kasir dan tidak ada tambahan barang lagi yang dia ambil.


Sambil mengantri pikirannya menjadi sibuk dengan Triana, dia bertanya-tanya dengan siapakah mantan kekasihnya itu menikah, apakah dengan pria yang dulu pernah dipergokinya di hotel atau dengan siapa lagi.


Setelah selesai membayar dia melangkah menuju parkiran motor sambil was-was takut sampai berpapasan dengan Triana.


Kedua anaknya tidak mau diam, dari tadi berebutan terus, baik makanan atau mainan dan sebagainya. Butuh energi kesabaran tingkat tinggi untuk memperingatkan kedua anaknya. Sambil mengemudi menuju pintu keluar mall, Triana sekilas memandang ke arah deretan parkiran sepeda motor dan lantas matanya membulat melihat ada seseorang yang sangat mirip sekali dengan kekasih yang pernah dikhianatinya bertahun-tahun yang lalu, hanya saja cara jalannya berbeda seperti orang pincang.


Sejam sudah Anton duduk di atas motornya di dekat kios rokok sambil meminum air mineral. Matanya sejak tadi memandang ke arah hotel dan tidak ada orang yang akan dipergokinya.

__ADS_1


Lantas Antonpun kembali ke paviliun, dan setelah melewati pintu gerbang menuju paviliunnya tampak gadis yang akan dipergokinya sedang berbincang dengan pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah ibu Atin. Mereka sedang duduk bertiga dengan salah satu pegawai toko yang dikenalnya bernama Japri. Dan ketiganya tampak seperti sedang menikmati makanan sepiring beramai-ramai.


Ketiganya baru kembali dari pasar malam di kecamatan dan sekarang mereka sedang sibuk mengunyah siomay bersama-sama.


__ADS_2