
Keesokan paginya Anton sudah duduk di meja makan sambil Keiza bertengger duduk dalam pangkuannya.
Mereka berdua sedang menikmati roti panggang yang dibuat oleh Mela.
"Kei..mau ikut jalan-jalan tidak sama oom ke mall?"tanya Anton kepada keponakannya.
"Mau dong oom...kapan pelginya?"tanya Keiza yang masih sulit menyebut huruf "R".
"Nanti sebentar lagi, Kei sudah mandi belum...kok masih bau asem...ayo mandi dulu...,"kata Anton sambil mengendus perut keponakan kecilnya yang jadi tertawa-tawa kegelian.
Keizapun naik ke lantai dua ditemani bi Encum untuk mandi pagi.
Fajar turun ke bawah menggendong Kaysan yang sudah wangi.
Lalu Kaysan diberikan kepada Anton karena Fajar ingin menghirup kopi paginya dulu.
"Cepetan bikin sendiri Anton kecil atau Mela kecil," katanya sambil melihat adik iparnya yang sedang menggendong anak bayinya.
Anton senyum dan berkata, "Menuju ini juga, bulan depan nanti Mela baru akan wisuda, paling.... nanti habis dia wisuda baru dipikirkan secepatnya".
"Kayak kami sajalah tidak rame-rame hanya saudara dan teman dekat saja," lanjut Fajar memberi saran kepada iparnya.
"Ya paling begitu, kemarin ini sempat ku bahas sama Mela dan sama kami ingin yang sederhana saja".
Ketika sedang berbincang, Anita turun dan ikut nimbrung di meja makan itu.
"Ayah.....nanti Anton mau mengajak kita jalan-jalan ke mall rame-rame, yuk lah kita ikutan. Aku sudah bosan di rumah juga nih. Dari sehabis lahiran Kaysan belum pernah jalan-jalan lagi, "kata Anita mengajak suaminya untuk pergi bersama.
"Benar bunda, sehabis kamu lahiran, aku juga sibuk urusan pembangunan lantai dua. Cari rekanan sana sini, sampai lupa bawa istri jalan-jalan. Maafkan ayah dong sayang,"Fajar mulai bucin dan Anton hanya nyengir melihat kelakuan kakak dan iparnya itu.
Kemudian semua bersiap-siap untuk berjalan-jalan ke suatu mall yang besar di kota Bandung.
Encum dan Wahyu juga dibawa untuk membantu menjaga anak-anak.
Mereka naik mobil dinas Wiharja Farma karena bentuk mobil lebih besar juga jumlah kursinya lebih banyak. Sebenarnya ada mobil satu lagi di garasi rumah, tapi bentuknya lebih kecil hanya untuk empat orang.
Fajar yang mengemudikan mobil karena transmisi mobil ini manual sehingga tidak memungkinkan kalau Anton yang mengemudikannya.
Mereka tiba di mall, Keiza yang sedari tadi duduk di depan di pangkuan Anton sangat bahagia sekali, karena sudah pasti dia akan puas bermain di arena bermain anak-anak.
Di pikirannya sudah ada mandi bola, perosotan, loncat-loncatan dan sebagainya.
"Ton inget yah, kamu jangan sampai memanjakan si gadis cilik, nanti pasti dia akan memanfaatkanmu meminta mainan tidak jelas. Ingat yah, kami soalnya tidak memanjakan dia seperti itu, "Anita berpesan kepada adiknya, karena paham pasti anaknya akan berusaha minta mainan yang dilarang orang tuanya kepada pamannya.
Ketika mobil sudah terparkir merekapun turun bersama. Dan memang Fajar sedang apes, mereka ternyata parkir bersebelahan dengan Tanoko Mulyo beserta istrinya dan kedua anaknya.
Mereka juga baru tiba dan sama-sama posisinya sedang turun dari mobil.
"Anita...hai....apa kabar?"seru Selina istri Tanoko memanggil Anita.
"Eh..hai...Selina... kabar baik, apa kabarmu juga saaayyy?" Anita bertanya balik sambil mereka bersalaman dan tempel pipi kanan dan kiri.
"Wah tak sangka yah bisa barengan begini sampai di mall ini,"ujar Selina yang merupakan teman kuliahnya Anita yang menjadi istri Tanoko.
Selina juga menyalami Fajar dan Anton, lalu tak lama Tanoko menghampiri mereka.
"Hai Anita...Apa kabar?"sapa Tamoko
sambil hanya mengangkat lima jarinya.
Anita juga hanya tersenyum sambil menganggukan kepala.
Lalu rombongan mulai memasuki Mall, Anita berjalan beriringan dengan Selina sambil bercerita soal anak-anak.
"Anak aku kan bedanya cuma 2 tahun saja Nita , jadi besarnya hampir sama, anak kalian beda 4 tahunan yah".
"Iya Selina....Tapi yang besar masih saja manja".
Bla..bla...bla..bla...
Ketika para istri dan keluarga lainnya sudah masuk mall, tinggal Tanoko dan Fajar yang berjalan paling belakang.
Tanoko tiba-tiba meraih bahu Fajar dan merangkul dan membalikkan badannya.
"Bro...kalau buat istri dan anak-anak itu beli mobil seperti punyaku dong. Lihat mereknya dan type nya, kayak gitu yang bikin keluarga nyaman dan bahagia, bukan naik mobil dinas rombeng begitu dong," kata Tanoko dengan sombong menghina Fajar.
Tapi Fajar hanya tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
"Susah sih yah memang, boss Fajar kan numpang hidup di mertua sih yah....Aku pahamlah bagaimana lelaki yang menikah sama anak majikan... pasti sampai kapanpun dianggap kacung.... haha hahaha...sabar yah boss...hidup memang kejam,"lanjut Tanoko mencoba memancing amarah Fajar.
Namun Fajar tetap tidak bergeming, dia hanya tersenyum saja tak menanggapi apapun.
Lalu kedua keluarga berpisah, mereka menuju arena bermain anak dengan Encum dan Wahyu, sementara keluarga Tanoko menuju ke toko pakaian.
Anton dan Mela sedari awal tiba sudah memisahkan diri, mereka menuju ke toko perhiasan.
Anton ingin membeli perhiasan untuk keperluan pernikahannya nanti.
"Yang kenapa kita kemari?" tanya Mela terlihat bingung.
Anton menatapnya sambil tersenyum ganteng, "Mau mencari cincin untuk pernikahanku, jadi aku minta tolong kamu pilihkan yah".
Mela terkesiap mendengarnya tapi dia tidak berkata-kata lagi lalu mengikuti langkah Anton memasuki toko tersebut.
Anton meminta Mela untuk memilih cincin pernikahan dan juga set perhiasan berupa kalung liontin dan sepasang anting-anting.
Mela bertanya-tanya dalam hati, tadi Anton berkata minta tolong dicarikan cincin untuk pernikahannya....bukankah seharusnya dia berkata untuk "pernikahan kita".
Berarti bukan pernikahan Anton dan dirinya jika hanya berkata untuk "pernikahanku".
Mengapa hati ini malah menjadi nyeri, seakan tidak terima jika harus mencarikan cincin untuk pernikahan Anton dengan wanita lain.
Mela melangkah ke lemari kaca yang memamerkan begitu banyak koleksi perhiasan, dia mencoba menenangkan hati.
Anton sudah begitu baik menolong skripsinya begitu juga dengan seluruh keluarganya. Apa salahnya membalas budi dengan memberikan pilihan perhiasan untuk wanita yang akan dinikahi Anton.
"Selamat datang Tuan tampan dan Nona cantik, ada yang bisa saya bantu?"tanya seorang pria dari dalam toko. Terlihat pria itu agak gemulai, Mela cukup geli melihatnya.
Anton terlihat kurang senang dengan pria itu, tapi mau apalagi tidak ada pelayan lain di dalam toko itu.
"Saya mau mencari cincin pernikahan dan juga set perhiasan untuk mas kawin, "sahut Anton dengan wajah tampak sebal melihat pria tadi.
"Oh tentu saja ada Tuan yang tampan ayo kemari...duduk di sini yaaahhh,"kata pria itu dengan gayanya yang kemayu.
Lalu Anton dan Mela duduk di tempat yang ditunjukkan oleh pria tadi.
"Ini beberapa pasang cincin pernikahan yang model terbaru karya desainer perhiasan terkenal. Yang pasti di toko kami semua perhiasan tidak akan mengecewakan, silahkan dilihat-lihat tuan dan Nona".
__ADS_1
Mela terdiam melihat begitu banyak deretan pasangan cincin pernikahan yang modelnya sangat menarik ada yang bertahtakan mata-mata berlian berkilauan, ada juga emas kuning dan emas putih saling bertautan.
"Mela coba kamu tolong pilihkan yang mana yang terbaik menurut seleramu," kata Anton kepada Mela memintanya memilihkan yang terbaik sesuai keinginannya.
"Tapi nanti kalau seleranya tidak cocok bagaimana, nanti tidak sesuai dengan keinginannya bagaimana?"tanya Mela menatap Anton dengan masih berharap ada kata bahwa cincin yang dipilih adalah untuk dirinya.
Anton tahu bahwa Mela pasti ingin disebutkan kalau cincin itu untuk dia dan dirinya, tapi Anton ingin mengisengi Mela agar gadis itu terbawa perasaan dulu baru nanti diberi tahu.
"Bebas yang mana saja sesukamu, sesuai seleramu, wanita yang akan aku nikahi pasti akan senang-senang saja menerimanya. Dia bukan wanita banyak menuntut kok. Tolong yah pilihkan yang terbaik, "pinta Anton sambil menatap lurus mata Mela.
Mela menutup matanya dan melipat bibirnya, ingin rasanya dia menangis. Ternyata betul cincin itu bukan untuk dirinya tapi benar untuk pernikahan Anton.
Lalu Mela mencoba berdamai dengan hatinya dan mulai memilih cincin yang paling dia sukai sesuai seleranya.
Terpilihlah sepasang cincin dimana emas kuning dan putih membentuk menyerupai akar pohon yang melingkar saling bertautan.
"Tapi ini tidak ada mata berkilaunya sayangku... tidak apa-apa kah?"tanya pria penjaga toko tadi.
"Kalau saya suka yang model itu, walau tidak ada matanya tapi ukirannya bagus seperti akar pohon yang kuat melingkar, "kata Mela kepada pria tadi tapi dia tidak mau menatap Anton takut jatuh air matanya.
"Bagaimana tua tampan sudah setuju dengan pilihan nona?" tanya pria itu sambil memasang senyum genit kepada Anton.
"Ya saya ikut saja apa yang dipilih oleh nona ini,"jawab Anton singkat.
Lalu pria itu menimbang cincin tersebut ternyata sepasang ada 20 gram, dan dia juga membawa alat ukur jari untuk memastikan nanti cincin nya nanti tepat ukurannya.
"Ukuran jarinya bagaimana?"tanya Mela sambil memberikan alat ukur tersebut tapi tanpa menatap wajah Anton.
Sebenarnya Anton sudah mulai tidak tahan ingin tertawa melihat Mela yang tampak sedang menahan sedih karena dijahili dirinya.
"Sudah pakai saja ukuran jari manismu, pasti akan sesuai,"jawab Anton sambil menahan tawa.
Lalu Mela mengukur jarinya dan ternyata ukuran jarinya 16 milimeter dan ukuran Anton 20 milimeter.
Lalu pria penjaga toko kemayu tadi menyampaikan bahwa cincin nanti akan dibuatkan sesuai dengan contoh dan ukuran jari tadi.
Karena yang terpajang hanya contoh saja, diperkirakan pengerjaan sekitar satu bulan lamanya sebab membuat cincin pernikahan itu spesial tidak seperti cincin lainnya.
"Apakah mau digrafir di dalamnya, cincin wanita bertuliskan nama pria juga sebaliknya?".
"Tentu saja harus di grafis,"jawab Anton mantap.
"Silahkan tulis namanya di sini," ujar pria itu sambil menyerahkan kertas yang ada isian untuk menuliskan nama calon pengantin.
Dan Anton menuliskan untuk di cincin wanita dengan namanya "ANTON", lalu saat mau menulis nama wanita untuk dicincinnya, dia menatap Mela dulu.
Mela pura-pura tidak melihat apa yang ditulis Anton, wajahnya terlihat sangat tidak karuan, melihat itu Anton senyum sendiri sambil menatapnya.
Dia menulis sebuah nama "MELATI" di kolom tersebut.
Mela melihat tulisan itu dan menatap Anton dengan tatapan tidak percaya, lalu dengan senyum sambil mencubit gemas cuping hidung Mela berkata,"Kan aku mau menikah dengan Melati Sekar Wangi, untuk itu aku minta kamu yang memilihkan cincin pernikahannya".
Mela menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangislah dia di toko itu.
Tangan kirinya mencubiti lengan Anton, tangan lainnya mengelap air matanya.
"Sssttt...sudah malu jangan nangis, nanti dilihat orang banyak disangka mereka kita kenapa-napa lagi....".
"Sumpah... Yang..... kamu jahat sekali sama aku, mengapa tidak bilang untuk pernikahan kita, malah seakan kamu mau menikah dengan orang lain".
"Hahahaha.....memangnya siapa lagi yang mau aku nikahi, kamu saja bodoh bisa saja aku kerjain".
Mereka juga memilih kalung liontin dan anting- anting untuk mas kawin.
"Sayang aku pilihkan ini untuk kamu pakai nanti, setelah wisuda mu aku akan membawa keluargaku menemui ibumu, "kata Anton sambil memegang gelang tangan yang beruntai berbentuk hati dan juga sepasang kupu-kupu.
Mela sangat suka dengan bentuknya dan dia mengangguk setuju.
Anton lalu membayar pesanannya, set perhiasan emas dan gelang sudah bisa dibawa pulang, sedangkan cincin baru bisa diambil bulan depan.
Dikeluarkannya kartu kredit platinum dari dompetnya, dan ternyata sedang ada promo sehingga beruntung mereka dapat discount khusus untuk pembelian kali ini.
Semua perhiasan yang dibeli sementara dititipkan pada toko dan akan diambil sekalian saat cincin sudah jadi.
Mela ijin ingin buang air kecil, Anton duduk menunggunya kursi yang tidak jauh dari toilet umum yang ada di mall tersebut.
Mela keluar dari bilik toilet setelah selesai membuang air kecil, lalu dia mencuci tangan di wastafel yang di depannya ada kaca besar dan panjang.
Saat mencuci tangan, dari salah satu bilik keluar seorang wanita cantik dan seksi. Sontak Mela ingat kalau wanita itu adalah orang yang sama yang waktu itu mencium pipi Anton di puskesmas.
Wanita itu tentu saja tidak mengenali Mela, jadi dia santai saja ketika melihat Mela sedang menatapnya.
Mela segera mengeringkan tangan di alat pengering tangan.
Lalu terlihat wanita itu juga mendekat akan mengeringkan tangannya.
Segera Mela selesai dan berpura-pura membuka tas selempangnya mencari sesuatu yang tak ada.
Setelah selesai mengeringkan tangan lalu wanita tadi keluar pintu toilet dan tangannya penuh dengan tentengan kantong belanjaan.
Anton sedang menanti Mela sambil menatap ke arah toilet, dan dia terkejut dari kejauhan tampak Miranti baru keluar dari pintu toilet dan melangkah ke arahnya.
"Waduh celaka... perang Palestina Israel jadi deh... aduh bagaimana ini,"guman Anton mendadak kelabakan.
Dia harus berpikir cepat tapi ternyata kosong isi otaknya saat ini.
Tiba-tiba terdengar suara anak kecil memanggil namanya,"Oom Toonnn!!!"
Alhamdulillah Keiza berlari ke arahnya sambil melebarkan tangannya ingin memeluk pamannya.
Anton segera jongkok membelakangi Miranti, dan tepat saat Miranti melintasi dirinya, saat itu pula Anton memeluk erat Keiza.
Lalu setelah dia melihat Miranti sudah melewatinya, Anton mengangkat Keiza menggendongnya dan segera berdiri membelakangi Miranti.
Dan ....deg.....seorang gadis tersenyum lebar ke arahnya dan menghampirinya.
"Neng Keiza...aduh...jangan lari-larian atuh sayang... bi Encum ngos-ngosan mengejar, untung ada den Anton, "kata Bi Encum tersengal-sengal.
"Mau kemana sih Keiza sampai lari-lari meninggalkan bibi?"tanya Anton kepada keponakan kecilnya.
"Kei mau pipis oom.... Tapi balusan lihat oom disini jadi Kei lari peluk oom dulu," jawabnya dengan polos.
"Hayu neng pipis dulu nanti ngompol, ayo turun dulu,"kata bi Encum mengajak Keiza ke toilet.
Lalu Keiza turun dan bersama bi Encum menuju toilet, Anton dan Mela diminta untuk menunggu dirinya.
Mela menatap Anton nsambil melipat tangannya di depan dadanya, "Hampir saja ada yang mau play victim, untung diselamatkan keponakan".
__ADS_1
"Jadi bagaimana, kalau aku sapa nanti kamu marah, aku tidak menyapa masih salah juga, "kata Anton menyenggol bahu kekasihnya.
Kebetulan Keiza sudah selesai, segera Mela menatap Anton lalu menyipitkan mata dan menjulurkan lidah, " weeww..
basi.....".
Dicubitnya lagi lengan Anton dengan lebih keras dari sebelumnya sambil berlalu menuntun Keiza bbersama bi Encum.
Dibagian tengah dalam mall sedang ada pagelaran musik, Fajar dan Wahyu ikut berdiri di bagian belakang kerumunan orang-orang yang menonton di depan panggung pertunjukan.
Anita sedang sibuk menyusui Kaysan menggunakan botol dot berisi ASI yang sudah dipompa sebelumnya.
Lalu Mela dan Keiza mendekati Anita yang sedang duduk tidak jauh dari Fajar dan Wahyu yang sedang asik melihat pertunjukan.
Anton cepat berdiri di sebelah Fajar dan berbincang mengomentari pertunjukan tersebut.
Biasanya di setiap keramaian yang ada panggung pertunjukan seperti itu pasti merupakan sponsor dari salah satu produk tertentu.
Kelihatannya pertunjukan disponsori oleh produk minuman ringan bersoda terbaru.
Setiap peluncuran produk baru apalagi di mall pasti selalu ada sales promotion girl atau sering disebut SPG.
Umumnya mereka berdandan cantik dengan memakai pakaian minim dan rok pendek di atas lutut.
Saat itu ada 2 orang SPG yang terlihat menyeruak kerumunan menawarkan promosi produk mereka.
Kedua gadis SPG tiba dihadapan Fajar dan Anton, kalau ada gadis cantik dan seksi pasti pria akan pasang aksi.
Kedua gadis dengan gaya yang manja menawarkan minuman ringan bersoda itu kepada suami dan adiknya Anita.
Sang istri sangat paham kalau suami dan adiknya bukan peminum soda, tapi terlihat suami dan adiknya rebutan mengeluarkan dompet untuk membayar dan membeli produk yang ditawarkan SPG tersebut.
Sang kakak ipar yang akhirnya menang membayarkan minuman tersebut.
Anita melihat Mela dan beranjak berdiri sambil berkata ketus, "Mela ikuti cici, kebiasaan deh mereka".
Fajar dan Anton tampak tertawa-tawa setelah menerima minuman soda tadi.
Saat keduanya sedang tertawa lebar, tiba-tiba pinggang Fajar terasa panas juga perih ada tangan mencubitnya dengan bengis.
Hal yang sama terjadi juga pada lengan kanan Anton, dia merasakan cubitan kecil tapi perih menyayat hati.
Keduanya serentak berhenti tertawa, lalu keduanya menyerahkan minuman soda tadi kepada Wahyu yang saat itu terlihat sedang menahan tawa.
Tanpa aba-aba lagi mereka langsung bergerak mengikuti wanita yang sedang mendorong kereta bayi dan juga wanita muda yang berjalan sambil menuntun Keiza disamping wanita itu.
Wahyu dan Encum tertawa sambil menutup mulut dengan kedua tangan karena lucu melihat kejadian barusan.
Mereka semua menuju area food court, terlihat banyak sekali konter-konter penjual aneka macam makanan.
Kebetulan ada area yang masih kosong, lantas Wahyu segera menggabungkan dua meja yang kosong menjadi satu berikut kursi-kursinya.
Fajar segera duduk disamping istrinya yang terlihat masih cemberut.
Begitu juga Anton tersenyum menatap Mela dan duduk manis disebelahnya.
Kedua pasangan duduk berhadapan, lalu Anita sambil masih kesal bertanya," Pada mau makan apa nih semuanya?".
"Aku terserah bunda saja, apa yang bunda pesan aku mah suka, "kata Fajar sambil mengendus bahu istrinya.
"Ya aku juga bagaimana cici dan Mela saja deh," ucap Anton masih menjaga senyum lebarnya.
Mela dan Anita sepakat memesan paket nasi timbel ayam plus air mineral, selain praktis juga ada sayurannya dan Keiza juga bisa makan.
Anita mengeluarkan uang dari dompet lalu meminta tolong Wahyu memesan
makanan tersebut ke salah satu konter makanan yang ada di sana.
Sambil menunggu pesanan makanan datang, Fajar terlihat bucin, dia sejak tadi duduk sambil merangkul bahu istrinya dan merayu- rayunya.
Sementara Anton berusaha berbaikan dengan Mela dengan mengajaknya membeli minuman kekinian yaitu
Bobba Thai Tea.
Tak lama pesanan makanan datang dan mereka makan bersama-sama, bahkan Keiza minta makan sendiri tidak disuapi seperti di rumah.
Ketika makan masih berlangsung, tiba- tiba Selina melintasi mereka sendirian.
" Selina kok sendirian?"Anita menyapa setengah berteriak.
"Eh...hai....kalian di sini.....eh... aku ikut duduk di sini boleh tidak ?"tanya Selina kepada Anita.
" Silahkan, ini sebelah saya kosong," kata Mela mempersilakan Selina.
Lalu Selinapun duduk bersama mereka.
"Kamu kok sendirian, mana suamimu Selina? " tanya Anita sambil masih makan.
"Hmmm dia sedang ke tempat parkir bertukar mobil dengan papa dan mama
ku, mereka mau membawa anak-anak tamasya ke taman perahu, "Selina menjelaskan kepada Anita.
Keiza akhirnya minta di suapin Encum sambil main perosotan yang ada di dekat tempat mereka makan.
Kebetulan Wahyu dan Encum sudah selesai makan jadi mereka segera membawa kedua anaknya Anita bermain.
Dari kejauhan terlihat Tanoko berjalan sambil mencari istrinya, dan Selina lebih dahulu melihatnya langsung melambai-lambaikan tangannya ke arah suaminya.
Tanoko melihatnya lalu mendekati, dan dia tampak agak terkejut karena istrinya bergabung dengan keluarganya Fajar.
"Papih...kok lama amat....aku dari tadi menunggu sendirian, untung ada Anita dan keluarganya, " Cetus Selina dengan galak kepada suaminya.
"Maaf mamih tadi anak-anak sempat buang air kecil dulu, jadi aku mengurusi mereka sebentar setelah itu baru bisa mengantarkan mereka ke mobilnya papa dan mama mu, " Tanoko mencoba menjelaskan kepada istrinya.
"Lalu mobil sudah ditukar belum...kamu tuh aneh deh papih..ambil mobil mertua sembarangan. Lain kali kalau mau pakai mobil orang tuaku bilang ijin dulu dong. Bikin malu saja papih tuh yah, " Selina kembali memberondong suaminya dengan omelan yang bertubi-tubi.
Tanoko tampak diam tak berdaya, dia hanya duduk sambil menunduk.
"Uhuk...uhuk...!!!!" Fajar pura-pura batuk
padahal dia puas sekali melihat Tanoko.
Setelah semua selesai makan, maka semua berencana pulang. Selina dan Anita seperti di awal berjalan beriringan sambil berbincang ini dan itu.
Anton, Mela dan lainnnya mengikuti dari belakang kedua ibu-ibu berdua itu.
Saat di tempat parkir, mobil di sebelah mobil mereka berganti dengan pick up bak terbuka yang merupakan mobil yang diganti oleh mertuanya Tanoko tadi.
__ADS_1
Fajar lalu mendekati Tanoko, merangkul bahunya dan berkata, " Benar boss lebih enak kita pakai mobil rombeng daripada pinjam punya mertua".
Wajah Tanoko merah padam menahan kesal juga malu teramat sangat.