
Senin pagi Haikal menghentikan motornya di parkiran Puskesmas.
Terlihat mobil dokter Anton juga sudah ada di sana.
Dia memasuki pintu utama, belum banyak orang datang namun terlihat dokter Anton tampak sedang berbincang serius di ruangan pak Tarmidi.
Anton melaporkan kegiatan yang telah dia ikuti kemarin kepada atasannya.
Setelah melaporkan tenyata banyak hal-hal lain yang dibahas antara Pak Tarmidi dengan dokter Anton.
Haikal segera menuju ruang prakteknya, karena sebentar lagi kegiatan memeriksa pasien akan segera dimulai.
"Dokter Haikal, maaf barusan dokter Anton meminta saya menyampaikan kalau pagi ini semua pasien ditangani dulu oleh dokter Haikal".
"Beliau sedang ada pembahasan serius dengan Kepala Puskemas," petugas menyampaikan amanat dari dokter Anton.
"Oke siap," jawab Haikal dengan singkat.
Jaya juga dipanggil ke ruangan pak Tarmidi, lalu bertiga membahas masalah yang penting untuk kelangsungan kemajuan Puskemas.
"Saya awal tahun depan pensiun, dan saya sudah mengirimkan surat ke Dinas Kesehatan Pusat mengenai pengajuan dokter Anton untuk menggantikan posisi saya di sini," kata pak Tarmidi kepada Anton dan Jaya.
"Masalah utama adalah dokter wajib menjadi Pegawai Negeri Sipil terlebih dahulu, dan katanya sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti test bersama dengan pak Jaya juga".
"Saya berharap kalian berdua tahun ini wajib lulus, sebab saya sudah mempertaruhkan nama baik kalian berdua ke Pusat. Dokter Anton menjadi kepala Puskemas dan pak Jaya menjadi Kepala Keuangan dan Administrasi di Puskesmas ini".
Anton dan Jaya saling melirik, karena mereka berdua diberi tantangan yang sangat berat untuk kemajuan di Puskemas tersebut.
"Memang pendapatan bekerja di Puskesmas akan berbeda dengan seseorang yang berkarir di swasta. Tapi arti pengabdian untuk masyarakat jauh lebih berarti dibandingkan pendapatan yang tinggi tapi hanya untuk kepentingan pribadi," lanjut Pak Tarmidi kepada keduanya.
"Saya percaya nanti di tangan dokter Anton dan Pak Jaya sebagai orang muda, pasti Puskesmas ini akan lebih maju. Kalian akan lebih banyak kreatifitas dan inovasi untuk perkembangan di tempat ini".
"Ujian akan dilaksanakan akhir bulan ini selama tiga hari, tolong manfaatkan waktu yang ada untuk memperbanyak belajar dan mencari bahan untuk test nanti," ujar Pak Tarmidi lagi memberi semangat kepada mereka berdua.
"Saya yakin dan percaya kalian berdua mampu lulus dan meraih predikat terbaik".
Setelah itu pak Tarmidi memberikan lagi wejangan - wejangan bagi keduanya, dan beliau benar-benar menitipkan harapan besar kepada mereka berdua.
Keluar dari ruangan pak Tarmidi lantas keduanya saling bertatapan, dan Jaya berkata,"Bro, berarti sekarang tahun ketiga bagiku untuk ujian. Selama ini aku setiap ujian hanya asal-asalan saja. Tapi tahun ini rasanya lain, aku harus semangat untuk lulus".
"Walau tahun ini pertama bagiku mengambil ujian ini, tapi aku harus lulus. Kita yakin bisa bro," kata Anton sambil saling menempelkan kepalan tanda saling memberi semangat.
Sambil menuju ke ruangan prakteknya, Anton memberi tanda kepada petugas kalau dia siap menerima pasien.
Seperti biasa hari Senin jumlah pasien selalu lebih banyak dibandingkan hari lain, entah mengapa bisa begitu.
Mungkin orang menunda sakit atau bagaimana, tapi bukan Puskemas atau Rumah Sakit saja tapi hampir semua lini usaha.
Baik Perbankan, Koperasi, Bengkel dan sebagainya, sepertinya setiap hari Senin selalu membludak jumlah pengunjungnya.
Mela di rumah merasa lelah sekali sehabis kemarin berjalan- jalan bersama suaminya.
Biasanya dia merupakan orang yang kuat walaupun tubuhnya kecil juga, tapi sejak kemarin pulang dari Yogyakarta terasa lemas sekali.
"Bu Darwis, maaf apakah di sekitar sini ada orang yang bisa saya minta tolong untuk membersihkan rumah dan cuci setrika selama seminggu ini. Saya merasa kurang enak badan sejak kemarin," Mela mencari informasi kepada tetangganya saat bertemu di halaman depan rumah.
"Ya ada Bu Anton, nanti aku panggil asisten rumah tanggaku di rumah yah," lalu Bu Darwis memanggil pegawai di rumahnya.
Tak lama datang seorang wanita berbadan cukup gempal, dan Mela juga tahu wanita itu dipanggil Mbak Asih yang bekerja mencuci dan setrika di rumah Bu Darwis.
"Asih kamu punya teman tidak yang bisa bekerja seperti kamu untuk Bu Anton?"tanya Bu Darwis kepadanya.
"Ya ada loh, banyak orang kampung belakang seperti saya begini yang minat bekerja di perumahan. Buat kapan, nanti Asih panggilkan ," sahut Asih dengan semangat.
"Tapi tidak menginap yah bu, karena rumah kami kan di belakang perumahan. Jadi kami pulang sore saja setelah selesai mengerjakan pekerjaan di rumah Bu Anton," lanjut Asih padahal Mela belum sempat bicara apa-apa.
"Inginnya sih segera Mbak Asih, karena saya masuk angin ini. Padahal banyak cucian, walau pakai mesin cuci tapi saya kok serasa tak sanggup mengerjakannya," kata Mela terlihat lemas tak bergairah berbeda dengan biasanya.
"Bu Darwis, maaf yah Asih ke kampung sebentar mau bawa teman, kasihan Bu Anton lemas begitu," Asih mohon ijin kepada majikannya.
"Ya sudah sana sebentar, kasihan sekali Bu Anton kelihatan pucat," Bu Darwis mengijinkan dan Asih segera pergi ke kampung belakang perumahan.
Setelah mengucapkan terima kasih, lalu Mela masuk ke rumah lagi langsung merebahkan diri ke kursi tamu.
Ingin menghubungi suaminya mengatakan kalau dia sakit, tapi dia ragu takut mengganggu kesibukannya.
Jadi dia duduk diam saja sambil mengemil kue kering yang dibelinya dari Yogyakarta.
Tak lama terdengar suara orang mengoceh di jalanan, sepertinya Asih datang sambil membawa kawannya.
"Awas yah kamu kerja yang benar, jangan membuat malu Mbak Asih. Sebelah situ majikan aku, nah kamu di rumah ini," kata Asih sambil terdengar membuka pintu pagar.
"Assalamualaikum, Bu Anton... permisi...!!!"teriak Asih yang memang suaranya sepertinya tidak bisa pelan.
"Walaikumsalam, ya masuk saja Mbak Asih," sahut Mela dari dalam.
Lalu Asih masuk lewat pintu garasi, kemudian masuk ke dalam ruang tamu.
"Bu ini Eti, tetangga saya tapi masih terhitung sepupu saya. Dia mau kerja di sini, sama dengan saya pulang sore," Asih langsung menjelaskan kepada Mela.
"Iya mbak Eti, terima kasih yah mau membantu saya. Nanti hitungan honornya bagaimana ?"tanya Mela kepada keduanya.
"Sama saja dengan Asih saja Bu, setiap sabtu saja kan hari minggu libur yah. Jadi kalau Asih di Bu Darwis itu setiap sabtu di beri honornya bu," Asih kembali menjelaskan kepada Mela.
Sementara Eti dari tadi hanya diam saja mengangguk-anggukan kepalanya saja.
"Mbak Eti kok diam saja, apakah setuju dengan yang Mbak Asih sampaikan?"tanya Mela kepadanya.
"Setuju...eh...setuju...Ya Allah...setuju bae yah...eh... iya... eh...bae...," rupanya Eti itu latah maka dari tadi dia diam saja itu menahan diri untuk bicara.
Karena Eti kalau bicara pasti di ulang-ulang karena dia latah.
Mela jadi tertawa melihat itu, dan dia berpikir pasti Eti ini jadi santapan kejahilan Aprilia nantinya.
Lalu Mela memberikan sedikit honor untuk Mbak Asih karena sudah membantunya mencarikan orang yang mau bekerja di rumahnya.
"Mbak Eti, maaf yah saya merepotkan, saya minta tolong Mbak membantu saya di sini," kata Mela ketika Asih sudah kembali ke rumah Ibu Darwis.
"Iya Bu...eh...iya Bu...tidak apa- apa kok, malah Eti senang membantu ibu...eh iya...membantu di sini," jawab Eti yang terdengar lucu di telinga Mela.
"Mbak bisa kan mempergunakan mesin cuci?"tanya Mela lagi.
"Bisa bu...eh iya...Insyaallah bisa... kan dulu juga pernah kerja di rumah ini...eh iya...dulu waktu masih ada majikan di sini bu...iya...dulu," jawab Eti lagi.
Mela menjelaskan kalau tugasnya sementara adalah mencuci setrika dan juga membersihkan rumah.
Sedangkan kalau memasak harus Mela, karena Anton tidak mau kalau bukan istrinya yang memasak.
Eti sambil membersihkan rumah sambil bercerita kalau dulu sekali dia pernah bekerja di rumah yang Mela tempati ini.
Dulu rumah ini ditempati oleh Haikal dan kedua orang tuanya.
Lantas Ibunya Haikal membeli tanah di depan dan membangun sebuah rumah berlantai dua untuk dijadikan kantor.
Ketika sudah jadi kantor, malah ayahnya Haikal selingkuh dengan sekretarisnya. Ibunya Haikal merasa sedih lalu mencari tempat curahan hati.
__ADS_1
Dan entah salah entah tidak, Ibunya mencurahkan seluruh kesedihannya kepada seorang lelaki sahabatnya ketika dulu kuliah di Australia.
Akhirnya suami istri ribut hebat dan bercerai, ayah Haikal menikah lagi dengan sekretaris itu lalu pergi ke luar pulau.
Ibunya Haikal juga menikah lagi dengan sahabatnya yang orang Australia itu.
Sambil mendengarkan Mbak Eti bercerita, Mela mengemil terus kue manis yang dibelinya dari Yogyakarta kemarin dan tak terasa habis satu stoples.
Anton diberitahu oleh Mela melalui chat kalau sekarang ada yang bekerja harian membantunya di rumah karena dia merasa lelah.
Tentu saja Anton setuju malah mendukung keinginan istrinya itu.
Yang awalnya cuma ingin seminggu saja dibantu Eti, tapi karena Mela merasa kondisinya tidak jelas, maka dia meminta Eti agar terus bekerja di rumah mereka.
Anton juga sedang sibuk terus, setiap hari pulang kerja langsung sibuk dengan laptop nya membaca dan mencari bahan ujian.
Sehingga dia tidak memperhatikan istrinya yang mulai menunjukkan sikap yang aneh.
Jarang makan nasi tapi setiap hari bisa mengemil kue manis sampai banyak sekali.
Mela juga belakangan ini memasak seadanya karena setelah memasak selalu pusing dan mual.
Untung Anton orangnya tidak banyak rewel, asalkan masakan istrinya pasti dia makan walau mungkin tak sebanyak biasa menu masakannya.
Sudah dua minggu begitu terus, dan Mela juga belum berani bicara apapun kepada suaminya karena takut mengganggu pikiran suaminya yang sedang konsentrasi untuk mengikuti ujian nanti.
Dan yang paling merasa tidak enak hati adalah Haikal, sudah dua minggu lebih tidak diajak bicara oleh Anton.
Kalau bertemu muka juga Anton dingin saja tidak menyapa dirinya.
Selama ini Aprilia dan Haikal bertemu diam-diam, Aprilia gadis polos menceritakan semua yang dikatakan oleh Mela kepadanya.
Haikal menjadi tak enak hati, dia berjanji akan menjaga Aprilia dan tidak akan menyentuhnya selagi belum menikah.
Aprilia memang senang ada Eti di rumah yang bisa bertemu dengannya setiap pagi, sebelum berangkat kerja ada kerjaan baru yaitu menjahili Eti.
"Neng Apri...eh iya Neng Apri... pacaran sama Den Haikal yah... ngaku hayo....eh ngaku... hayo," kata Mbak Eti di suatu pagi saat Aprilia tengah berdandan untuk ke tempat kerja.
"Eh...reseh...kok Mbak Eti tempe sih...?"tanya Aprilia.
"Tempe...kok tempe...eh masa.... tempe... harusnya tahu dong..eh iya...tahu dong Neng," sahut Mbak Eti keheranan mendengar kata tempe.
"Tempe sama tahu terbuat dari apa ayo?"tanya Aprilia lagi.
"Kedelai...eh iya...kedelai... emang kenapa sih Neng...Eti jadi bingung...," Eti terlihat bingung dan membuat Aprilia semakin senang menggodanya.
"Kalau bingung pegang tembok saja, Mbak Eti...".
"Tembok ...eh iya tembok...ah Neng Apri...jawab sih benarkan pacaran sama Den Haikal... belum dijawab loh".
"Kepo ah...".
"Kepo...eh..iya...kepo...apaan sih kepo neng...".
Aprilia tidak menjawab dan segera keluar kamar sambil cekikikan.
Pekerjaan Eti rapih dan bersih, dia juga pandai menyetrika pakaian, hanya semua pakaian Anton harus Mela yang mengerjakan.
Anton tipe suami yang semuanya harus istri yang melakukan, bahkan kalau minta dibuatkan teh hangat juga tidak mau oleh adik sepupunya, apalagi oleh Eti.
Semua hal harus dari tangan istrinya baru dia mau makan atau minum, bahkan hasil setrika pakaian juga dia bisa hafal.
Yang mana yang istrinya setrika dan mana yang bukan hasil tangan istrinya.
Eti juga bahkan tidak berani memegang pakaian dokter Anton, berbicara juga jarang sekali kecuali Mela meminta tolong untuk menanyakan sesuatu baru dia sampaikan kepada Anton sambil merasa takut.
Bahkan Mela sering memasak dalam jumlah banyak agar sebagian bisa dibawa pulang oleh Eti untuk keluarganya di rumahnya.
Kasihan suami Eti hanya seorang buruh bangunan, ketika dulu orang tua Haikal berpisah, setelahnya Eti juga dikeluarkan dan tidak bekerja lagi.
Sempat mencoba ingin bekerja ke Arab, tapi ditipu oleh orang yang mengaku penyalur ternyata ilegal.
Akhirnya hanya berdagang gorengan keliling dengan untung tidak seberapa, sekarang mendapat tawaran kerja di rumah Mela tentu dia terima dengan senang hati.
Apalagi Mela benar-benar memperlakukan dirinya seperti saudara, bukan seperti pembantu pada umumnya.
Eti menduga kalau Mela hamil, tapi Mela tidak percaya karena dia tidak merasa mual.
Memang sering lemas tapi tidak mual ataupun muntah, jadi Mela merasa bukan hamil tapi hanya masuk angin.
Anton sudah menyuruh minum obat atau vitamin, nah itu yang sampai saat ini tidak dia lakukan karena bau obat yang malah membuatnya mual.
Mungkin Anton sedang sibuk dan pikirannya fokus kepada pekerjaan, sehingga istrinya sering mengeluh ini dan itu tidak terlalu dia ambil pusing.
Dipikirnya hanya sakit masuk angin biasa atau istrinya kelelahan mengerjakan urusan rumah dan dagangan kosmetiknya.
Suatu sore di Puskesmas saat semua pasien sudah tidak ada lagi, Haikal mencoba mendekati ruangan Anton untuk mengajaknya berbicara.
"Sore Bang, sibuk tidak Bang, saya mau bicara sebentar dengan Abang," kata Haikal kepada Anton sambil ragu-ragu di depan ruangan prakteknya Anton.
Anton memandang Haikal, lalu dia mempersilahkannya masuk.
Tapi Anton diam saja ketika Haikal sudah duduk dihadapannya, dia tetap sibuk dengan laptopnya.
"Hmmm...Bang maaf saya mau bicara," kata Haikal terlihat sekali tidak enak hati kepada Anton.
"Bicara saja, silahkan mau bicara apa kepadaku?"tanya Anton dengan acuh tak acuh.
"Hmmm...begini Bang, masalah aku dan Apri...kami.....".
"Apa...pacaran....ciuman... pelukan....tidur di sofa...untung kamu teman kantorku, kalau bukan sudah ku hajar kamu kemarin ini," tukas Anton dengan wajah tidak ramah.
"Maaf Bang, tapi kami tidak melakukan hal yang lebih jauh dari itu," sahut Haikal dengan tidak enak hati.
"Terserah saja sih, cuma aku kembalikan sama kamu. Kalau misal kamu punya adik perempuan, lalu kamu lihat dia tidur dengan lelaki di sofa. Akan marah tidak ?"Anton mengemukakan kekesalannya.
"Sekali lagi maaf Bang, saya akan lebih menghormati Apri. Tapi saya mohon Bang Anton memberikan kesempatan untuk hubungan kami," kata Haikal sambil tangannya memohon kepada Anton.
Anton menghela nafas, lalu berkata ,"Bro, aku tidak masalah
kalian mau pacaran silahkan asal sesuai dengan etika. Lalu masalahnya Apri sudah dijodohkan, lantas kalian mau bagaimana".
Haikal diam, lalu dia memandang Anton ," Saya yakin dia memilih saya Bang, dia tidak mencintai lelaki itu ".
"Aku paham, cuma sekarang belum ada keputusan dari pihak keluarga mereka. Apakah putus atau lanjut, kalau mau main nekat bisa saja tapi itu sangat kekanak-kanakan".
"Kalian pikirkan lagi, jangan asal cinta. Lain halnya kalau Apri kosong dan kamu kosong, masalah seperti kemarin sudah ku seret kalian ke penghulu," kata Anton terlihat sekali pusing dengan urusan cinta mereka.
"Hahahaha....kakak ipar marah sudah bawa kabur saja bro...hahahah," goda Jaya yang tiba-tiba masuk.
Haikal tersenyum saja ketika mendengar komentar Jaya, dia tidak berani mengatakan apapun.
"Sampai berani dibawa lari, ku kejar kalian sampai ke lubang semut sekalipun. Masalahnya Apri sedang menjadi tanggung jawabku," kata Anton sambil jarinya menunjuk ke arah Haikal.
"Hahahaha....kurang kecil bro, ada yang lebih kecil lagi... lubang kutu busuk...hahahah," Jaya malah menambah rusuh suasana.
__ADS_1
Anton menutup laptop, lalu dimasukan ke dalam tasnya dan beranjak pergi tanpa bicara apapun lagi.
"Sayang doakan aku yah, hari Senin akan ujian bersama dokter Anton. Bantu doa yah biar kami berdua bisa mengerjakan semua test dengan benar," kata Jaya kepada Miranti melalui ponselnya.
"Tentu saja aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, semoga lulus dan mendapatkan apa yang diharapkan," sahut Miranti.
"Miranti, sabtu depan orang tuaku akan datang. Rencananya mereka akan menginap di kota Bandung. Aku nanti akan kesana dan aku ingin mempertemukanmu dengan kedua orang tuaku,"ujar Jaya dengan nada yang senang sekali.
Mendengar itu Miranti malah terdiam, Jaya memanggilnya beberapa kali tapi dia diam saja tidak menjawab.
Jaya penasaran dan mengubah panggilannya teleponnya menjadi panggilan telepon video.
Miranti menekan tombol jawab, dan terlihatlah ternyata dia sedang menangis.
"Kok malah menangis, mengapa menangis sih?"tanya Jaya keheranan.
"Kamu benar mau mempertemukan aku kepada kedua orang tuamu?"tanya Miranti sambil berurai air mata.
"Iya aku serius, lalu mengapa menangis?".
"Aku bukan perawan lagi, aku sudah kotor, apa kamu tidak malu mengenalkan wanita seperti aku kepada mereka?".
"Astagfirullah, aku juga bukan lelaki baik jaman dulu. Bukankah sudah pernah aku katakan kepadamu".
"Tapi aku berusaha berubah, dan kamu juga sedang terus berusaha berubah. Kita berdua harus terus belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik".
"Demi Allah aku ingin menikah denganmu Miranti, menikah baik-baik menjadi istri ku yang sah di mata Allah, di mata Agama dan juga negara".
"Aku janji tidak mempermainkan ucapanku, kita harus memperbaiki kehidupan Ibumu dulu. Saatnya kamu harus merasakan hidup berumah tangga yang benar demi Ibumu" Jaya dengan panjang lebar mencoba meyakinkan Miranti.
Tentu saja Miranti tambah berurai air matanya, dia tak pernah menyangka akan ada lelaki yang akan menikahinya dengan baik-baik.
Selama ini hatinya terkoyak karena ibunya dulu dikhianati oleh ayahnya, saat ibunya dulu mengandung dirinya, ayahnya meninggalkannya begitu saja dan menikah dengan wanita lain.
Ibunya dulu hanya dinikah siri tanpa ada sehelai suratpun yang menjadi pegangan baginya ketika menuntut kepada suaminya meminta sekedar biaya untuk anak mereka.
Sekarang ada lelaki mau menerima dirinya dan mau menikah dengannya, tentu membuat dirinya begitu senang.
Harapannya untuk mempunyai hidup yang lebih baik dari Ibu nya akan segera tercapai, yang bisa dia lakukan saat ini adalah mendoakan almahumah ibunya agar dosanya diampuni dan pintu sorga dibukakan baginya.
Sabtu malam minggu Mela sedang menemani suaminya yang berkutat dengan laptop.
Keduanya duduk di meja makan, karena Anton butuh meja yang lebih luas.
"Pi, coba jangan stress dong kalau belajar untuk ujian itu, sebab kalau stress nanti malah jadi tidak konsentrasi nanti saat mengerjakan testnya," kata Mela sambil tangannya meraih stoples berisi kue soes kering rasa keju.
Padahal mereka baru saja makan malam, tapi Mela merasa lapar lagi dan sangat tergoda memakan kue itu.
"Aku bukan sedang belajar, tapi sedang membuat konsep untuk Puskemas. Aku diminta oleh dinas untuk membuat action plan kalau nanti aku menjadi pimpinan di sana," Anton menjelaskan kepada istrinya.
Krauk...krauk....krauk...
Mulut Mela berbunyi saat mengunyah kue soes kering tadi.
Awalnya Anton tidak ngeh, tapi lama-lama mendengar bunyi mulut Mela jadi cukup terganggu juga.
"Mi makan apa sih, bukannya baru saja kita makan malam?"tanya Anton sambil mengernyitkan keningnya.
"Makan ini Pi...kue ini enak loh, tak tahu aku masih merasa lapar jadi makan kue ini," sahut Mela dengan entengnya.
"Sudah berhenti, malam-malam makan manis bisa bahaya, ancaman diabetes loh," biasa suaminya rewel kalau istrinya banyak makan.
Mela menghentikan makan kue itu sambil mulutnya manyun kesal.
"Mending buatkan aku teh lemon hangat tapi jangan pakai gula yah," pinta Anton kepada istrinya.
Mela lalu bergerak ke dapur membuatkan minuman itu untuk suaminya, tak lama dia datang dan menyimpan teh hangat lemon di dekat suaminya.
Anton segera menghirup teh hangat lemon itu dengan perlahan dan nikmat sekali, lalu dia menoleh ke arah istrinya yang juga membuat teh yang sama.
Anton melihat warnanya berbeda, lalu dia mencicipi sedikit dan dia terkejut sekali.
"Mi teh punya mu diberi gula berapa kilo yah?"tanya Anton sambil mendelik.
"Mengapa sih, orang enak kok manis, aku sedang ingin minum yang manis loh," sahut Mela sambil mendelik tidak suka.
"Terserahmu deh, cuma sesekali saja yah. Jangan sering-sering seperti ini," Anton memperingatkan istrinya.
Mela diam saja sambil cemberut, matanya melirik lagi ke arah stoples dan entah mengapa dia betul-betul tak bisa menahan air liurnya ketika melihat isi stoples itu.
Diam-diam dia meraih stoples itu dan berjalan ke ruang tamu sambil membawa teh dan stoples tadi.
Anton sedang berkutat di laptop membuat konsep sehingga tidak memperhatikan apa yang dibawa oleh istrinya saat bergerak ke ruang tamu.
Mela diam-diam membuka stoples dan berusaha mengunyah tidak mengeluarkan bunyi.
"Assalamualaikum,"terdengar suara seseorang di depan rumah.
Mela mengintip dari balik tirai, tenyata Haikal.
"Walaikumsalam, ayo masuk saja," sahut Mela sambil terdengar mulutnya penuh makanan.
Segera dia sadar dan menutup mulut takut Anton mendengarnya, tapi untung Anton sedang konsentrasi jadi dia tidak ambil pusing dengan suasana sekitar.
Haikal menunggu di depan teras, dan dia bertanya kepada Mela," Mbak Mela, maaf apakah Apri ada?".
"Ada kok di kamarnya, mau masuk ke sini di ruang tamu atau menunggu di teras?"tanya Mela.
"Saya menunggu di teras saja," jawab Haikal dengan santun.
Mela lalu memanggil Aprilia menyampaikan ada Haikal di depan, lalu Aprilia segera menemui kekasihnya.
"Kita di teras sajalah Apri, tidak enak di dalam kelihatannya dokter Anton sedang sibuk,"kata Haikal ketika Aprilia menemuinya.
Lalu mereka berdua mengobrol di depan teras rumah, Mela mengintip keduanya sambil menikmati kue soes nya dan minum teh lemon hangatnya.
Tak terasa kue soes kering habis satu stoples, begitu juga dengan teh lemon hangatnya. Lama-lama Mela mengantuk dan tertidur di kursi tamu.
"Mi...Mi...dimana Mi?"panggil Anton mencari istrinya.
Dilihat ke dapur tak ada, di ruang televisi tak ada, mengintip ke kamar juga tak ada.
Lalu dia menengok ke ruang tamu dan dilihatnya istrinya tidur lelap, sementara di meja tamu ada stoples kosong dan juga gelas kosong.
Anton geleng-geleng kepala, lalu dia membangunkan istrinya dan menyuruhnya segera gosok gigi dulu walaupun mengantuk.
Lalu Anton menatap ke teras, terlihat Aprilia dan Haikal masih mengobrol sambil pegangan tangan.
Dia melirik jam dinding lalu berkata kepada Aprilia ," Ehm....Apri... !!!
setengah jam lagi pukul sepuluh malam, bilang ke Haikal jangan lama-lama bertamu".
Apri dan Haikal langsung melepas tangan, keduanya saling melirik lalu menengok ke arah belakang mereka.
Terlihat Anton sedang menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan tajam, lalu keduanya menganggukan kepala sambil tersenyum.
__ADS_1
Anton membalikkan badan dan menuju ke kamarnya.
Setelah Anton masuk kamar, lalu Haikal dan Aprilia cekikikan berdua, tapi tak ada yang berani berkomentar tentang Anton.