Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kelima Puluh Sembilan


__ADS_3

"Bu Serin...ini Siti...bu...astaga bapak disekap bu...mas Mahen juga....bapak di simpan di kamar ibu, diikat sama tali kaki dan tangannya..mas Mahen di kamarnya....sama diikat juga...


perhiasan ibu diambil semua sama setan itu. Ibu dimana bu....selamatkan bapak sama mas mahen...".


Itu catatan suara atau kita kenal sebagai voice note yang dikirimkan oleh Bang Mamat kepada Serina.


Tentu saja membuat Serina menangis, dua bulan lebih dia tidak kembali ke rumahnya karena berpikir suami telah selingkuh dan menikah lagi dengan perawat Endah.


Ada keinginan untuk membawa Mahendra pergi tapi begitu melihat atap rumahnya saja sudah tak mampu lagi melangkah.


Tercabik-cabik hati dan perasaannya saat mendapat kiriman foto dari ponsel suaminya. Foto mesra suaminya dengan seorang perawat yang tengah tidur tanpa busana saling berpelukan.


"Mahen...anakku...huhuhuhu....maafkan mama nak...mama tidak tahu kalau kamu tersiksa...huhuhuhu,"Serina terus menangis tersedu-sedu saat membuka kiriman catatan suara dari Bang Mamat.


"Sudah Ceu...kita tidak bisa diam saja. Kita ini sepupu dari garis ibu-ibu kita, dan kita ini cucu dari almarhum tokoh Garut, cucu dari Kyai Haji Adam Wangsa Nagara. Sekarang kita diinjak-injak oleh wanita hina seperti itu. Jangan bilang kalau keturunan Wangsa Nagara sudah marah, hancur kalian semua," Septa begitu marah, matanya merah, nafasnya naik turun dan hidungnya kembang kempis.


Fajar berusaha menenangkan sepupu iparnya yang sedang sangat emosi tingkat tinggi.


Anita juga merasa kesal sekali, dia merasa marah saat tahu keponakannya disekap oleh seorang wanita sakit jiwa.


"Analisaku wanita ini sakit jiwa, dia mungkin saja seorang psikopat. Kalau tidak hati-hati orang jenis ini akan tega membunuh siapapun tanpa punya rasa bersalah,"Fajar menyampaikan analisanya tentang perawat Endah.


"Aku tak bisa tinggal diam Fajar... keponakanku ada disana...anak seumur dia harus mendapatkan perlakuan keji. Aku tak tahan,"Septa begitu geram sekali kepada perawat Endah itu.


Fajar tetap meminta semuanya tenang sambil dia membantu memikirkan cara yang tepat untuk membebaskan Bang Cak dan Mahendra.


Anita dan Serina menangis sambil berpelukan, mereka geram dan sedih tapi tak tahu harus melakukan apa, karena khawatir salah bertindak akan membuat Mahendra dan Bang Cak bisa meninggal.


Mela terdiam tapi sambil berpikir keras, dia terinspirasi dari film-film aksi laga yang ada di televisi yaitu melakukan aksi penyamaran.


"Koko Fajar...Aa Septa...punten*


Mela punya ide, bagaimana kalau kita melakukan penyamaran untuk menaklukan wanita setan itu," kata Mela menyampaikan idenya.


*Punten \= Maaf (bahasa sunda)


"Penyamaran...hmmm...coba kau sampaikan bagaimana idemu?"Fajar meminta Mela menjabarkan idenya dihadapan mereka semua.


"Maaf dari tadi aku mendengar kisahnya tampaknya wanita itu tidak paham CCTV dan juga listrik. Sepertinya kita bisa berpura-pura menjadi pegawai pemeriksa listrik. Aku paham listrik, karena dulu pegawai toko besi dan juga alat listrik," Mela mulai memberikan ide awalnya.


Kemudian dia melanjutkan semua ide-ide nya, dan apa yang disampaikan masuk akal.


Rencananya besok mereka akan ke Tangerang, melakukan penyamaran ke rumah Serina Mustika.


"Ijinkan aku untuk terakhir kalinya... 🎢🎡....semalam saja bersamamu... 🎢🎡...mengenang asmara kita...".


Miranti sedang bersenandung kecil saat timnya mulai memasuki ruang rapat.


Staff dan tim marketing semua saling pandang dan saling angkat bahu, ada juga yang saling senggol sambil berbisik-bisik.


Ibu Miranti tampaknya sangat menghayati lagu lama yang pernah terkenal di masa awal tahun 1990 an, sekarang di aransemen ulang dan dinyanyikan ulang oleh penyanyi muda masa kini.


Tapi liriknya tidak ada yang berubah, hanya hatinya yang kian hari kian gundah.


Dia mendengarkan lagu itu lewat putaran musik di ponselnya. Dia bersenandung di kursi ruang rapat sambil menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya.


Sehingga dia tak sadar kalau semua timnya sudah masuk dan melihat dirinya yang sangat meresapi lirik lagunya dengan begitu dalamnya.


Saat lagu berhenti dia pun membuka matanya dan terkejut melihat semua staf dan tim nya memandangi dirinya.


Sementara di kota lain, lelaki yang sedang dirindukan Miranti tampak sedang mengantarkan kawan karibnya ke kantor Polisi.


Dia juga menyatakan dirinya sebagai saksi atas kejadian yang menimpa kawannya itu.


Anton dan Jaya duduk dihadapan AKP Rudi Banjarnahor dan menceritakan semua yang telah terjadi dan yang telah dilakukan oleh Anton atas desakan seseorang yang berinisial KJP alias KJF, dimana orang itu saat ini sedang menjadi target pencarian kepolisan.


"Kalian tahu lokasinya?"tanya AKP Rudi Banjarnahor kepada Jaya dan Anton.


Keduanya menyatakan tahu dan saat keduanya hendak diajak untuk langsung ke lokasi.


Datanglah Komar, kemudian sekaligus menceritakan dan melaporkan apa yang sudah diperbuat dan apa yang terjadi pada dirinya.


Semuanya sama atas perintah orang yang mempunyai inisial nama tersebut.


Jaya dan Komar yakin kalau pagar tinggi yang ada dihadapannya itu adalah kediaman Kang Japar. Tapi ada yang berubah, seingat Jaya pagar tinggi itu disebelah kiri tembok.


Dan Komar lain lagi, dia yakin daerah tempat dia berdiri sekarang, dan adalah tempat kediaman KJP. Dan Komar yakin waktu itu masuk dari pagar yang berada di kanan tembok.


Polisi mencium ada yang tidak beres, mereka menandai daerah tersebut. Dan nanti malam akan ada beberapa anggota Polisi yang akan menyelidiki daerah itu.


AKP Rudi Banjarnahor merasa sakit hati, karena lokasi yang ditunjukkan oleh para saksi itu hanya berjarak sekitar dua ratus meter dari kantor polisi.


Benar-benar selama ini mereka kecolongan dan benar-benar penjahat itu mempermainkan kepolisian.


Bis malam memasuki gerbang terminal Pekan Baru di Propinsi Riau, berarti menuju kota Batam sudah tidak jauh lagi dari kota ini.


Kang Japar mengenakan jaket hitam, memakai topi dan kacamata hitam sambil menggendong ransel.


Dia tampak membeli lagi tiket bis tujuan ke Bengkalis, nanti setiba di pelabuhan Bengkalis baru naik kapal Ferry menuju Batam.


Saat ini dugaan Polisi kalau seorang mafia pasti akan masuk ke kota lain menggunakan pesawat atau Kapal Laut kelas tertentu.


Karena kalau lewat darat akan makan waktu yang lama, tentu dihindari orang seperti Kang Japar. Namun ternyata dugaan itu meleset, Kang Japar lebih berniat bersusah payah kabur dengan angkutan ekonomi untuk mengelabui polisi.


Perawat Endah berjalan di belakang penjaga pintu gerbang kediaman Bang Cak yang bernama Ajit.


Ditangan Endah ada sebilah pisau dapur yang berukuran cukup besar yang biasa dipakai untuk memotong daging.


Pisau yang sangat tajam berkilau, sambil berjalan pisau yang berada ditangannya itu siap dihunuskan kapan saja ke punggung Ajit.


Ajit membuka pintu kamar Mahendra, anak itu tampak lemah dan kurus sekali.


Setiap hari Ajit bertugas membantunya berjalan membuang air dan mencuci muka, setelah itu Mahendra akan diikat kembali.


Endah memeriksa ikatan talinya, memastikan kendur atau tidaknya.


Lalu dia membawa lagi Ajit ke kamar Cakra Wijaya Dirgantara alias Bang Cak, dan melakukan hal yang sama.


Bang Cak tak jauh beda dengan anaknya, kurus, lemah dan kotor.


"Cakra....sebutkan nomor pin untuk kartu ATM yang dipegang ini, jangan sampai salah nomornya....atau anakmu aku sakiti lagi,"kata Endah sambil memainkan ujung pisau ke pipi Cakra.


Sementara Ajit disuruhnya duduk disebelah Cakra, dan Endah memerintahkan dirinya menunduk.


"Jangan kartu yang itu, yang lain saja. Itu isinya uang partai, tak mungkin aku berikan padamu,"jawab Cakra dengan lemah.


"Hahahahah....uang partai pasti banyak,


bodoh sekali kamu Cakra....cepat sebutkan nomornya, atau kamu akan mendengar anakmu menjerit lagi kesakitan,"kata Endah sambil menempelkan bibirnya ke telinga Cakra.


Cakra ingat beberapa waktu lalu ketika dia bersikukuh menolak keinginan Endah ketika meminta nomor pin E- Banking nya, dia mendengar Mahendra menjerit-jerit kesakitan.


Dia tak tahu apa yang dilakukan wanita gila itu kepada anaknya, membuatnya menangis karena merasa tak berguna tak bisa menolong anaknya.


Saat itu kelingking kaki Mahendra ditekan dengan ujung kursi yang diduduki oleh Endah, dia menikmati jeritan Mahendra yang kesakitan karena kuku kelingking kakinya berdarah.


Akhirnya Cakra harus mengalah memberikan nomor pin yang dimintanya, sekarang wanita iblis ini meminta lagi nomor lainnya. Dan kebetulan uang di dalam kartu itu milik partai bukan milik pribadinya.


Dengan berat hati dia menyebutkan nomor pin nya untuk kartu itu. Lalu dia memanggil Vivi anak kesayangannya untuk segera pergi ke Bank mengambil uang di mesin ATM sebanyak mungkin.


Ajit dan Siti duduk diruangan kamar Cakra, mereka walau ada berdua tapi tak bisa apa-apa.


Endah memegangi kepala Cakra sambil ujung pisau dia tekankan di leher Cakra.


Dia menunggu anak gadisnya pulang membawa uang, anak gadisnya pergi ke Bank dengan naik motor sehingga tidak tampak mencurigakan siapapun.


Sejak sore hari beberapa anggota Polisi bergantian mengawasi rumah yang dicurigai adalah tempat kegiatan penampungan minuman keras impor ilegal.


Sampai jam sebelas malam tidak ada keanehan dari rumah itu dan juga tampaknya tidak ada kegiatan apapun dari bangunan besar itu.


Ketika jam menunjukkan tengah malam, tiba-tiba terlihat pintu pagar besar dan tembok sebelahnya seperti bergerak sendiri.


Rupanya semua baru menyadari bahwa setiap tengah malam pintu dan tembok itu bergerak otomatis menggunakan alat elektronik hidrolik.


Anggota Polisi yang mengintai segera melaporkan kejadian tersebut kepada komandan mereka AKP Rudi Banjarnahor.


Setelah mendengar laporan tersebut, maka seluruh anggota kepolisian POLSEK Plumbon segera bergerak menuju lokasi tersebut.


Mereka mendobrak pintu pagar itu dengan menabrakkan mobil kepolisian yang terbuat dari Baja khusus untuk hal-hal seperti itu.


Pagar dan tembok tinggi itu pun roboh, dan semua anggota Kepolisian menggeledah isi bangunan besar tersebut.


Dari depan rumah sampai bagian belakang rumah tak ada seorangpun di dalam sana.


Lalu merambah ke halaman belakang, terlihat seperti ada pavilion kecil menyerupai kamar yang di depannya penuh dengan bunga-bungaan.


Namun ketika pintu di dobrak, seketika semua polisi menutup hidung dan bahkan ada yang muntah-muntah. Tercium aroma bau busuk bangkai manusia yang tergeletak di atas kasur di dalam ruangan kedap udara itu.


Sementara berseberangan dengan kamar itu ada bangunan besar berbentuk gudang dengan pintu besi yang tinggi.


Namun ketika Polisi hendak menerjang, di pegangan pintu itu dikaitkan sebuah granat yang siap meledak apabila pintu didobrak.


Tim Polisi menduga keras kalau di balik pintu ini pasti ada tawanan.


Beberapa anggota menyisir bangunan tersebut, tidak ada jendela sama sekali. Namun ketika memeriksa langit-langit luar bangunan itu terlihat ada satu lubang di atas menganga,diperkirakan itu digunakan sebagai ventilasi tapi letaknya tinggi sekali.


Disekitarnya tidak ada tangga, tapi Polisi tak hilang akal, mereka melihat ada tali panjang disekitar situ. Lalu diambil dan dikaitkan ke kuda-kuda langit-langit bangunan tersebut.


Satu anggota Polisi tersebut dengan cekatan memanjat tali itu dan masuk ke dalam celah tadi.


Dia mengambil ancang-ancang karena harus loncat dari tembok dengan ketinggian sekitar 2 meter.


BRUUUUUKKKKKK


Sepatu booth nya menyentuh lantai bangunan itu, semuanya gelap gulita, tapi tak mungkin menyalakan lampu karena khawatir akan ada ledakan.


Dalam kegelapan dia mendengar suara-suara seperti orang yang dibekap dan berusaha melepaskan diri dari sesuatu.


Lalu Polisi itu menyalakan senternya, sambil perlahan berjalan dia menyoroti ruangan bangunan tersebut.


Dari kejauhan terlihat ada lebih dari sepuluh pemuda berusia tanggung dalam keadaan terikat membentuk lingkaran dan diseluruh tubuh mereka dililit dengan kawat-kawat yang ada granatnya.


Polisi itu segera menghubungi komandannya lewat alat komunikasi menyebutkan keadaan di dalam ruangan itu.


AKP Rudi Banjarnahor segera meminta bantuan Tim GEGANA untuk meluncur ke lokasi.


Setelah menerima laporan akan adanya kemungkinan bom di lokasi yang sedang disergap oleh AKP Rudi Banjarnahor, maka Komandan Tim GEGANA Kepolisian Cirebon segera bergerak mengerahkan anggota kesatuannya menuju Tempat Kejadian Perkara.


Tak menunggu waktu lama, Tim GEGANA segera tiba dilokasi, dan naik ke dalam ruangan melalui celah tadi.


Satuan Tim GEGANA memeriksa jalur kawat yang melilit anak-anak muda tadi. Ternyata titik awalnya dari pintu besi ruangan tersebut.


Tapi...ternyata ditemukan lagi ada kawat kecil seperti benang memutar ke arah lubang kecil di tembok pinggir pintu.


Temuan itu dilaporkan kepada tim lainnya yang berjaga di depan. Ternyata benar disepanjang tembok itu ada kawat kecil panjang, ketika ditelusuri ternyata menyambung ke celah jendela kamar yang berseberangan dengan bangunan itu.


Pada saat yang bersamaan ambulans baru saja datang untuk membawa mayat di dalam ruangan kamar.


Tentu saja segera dicegah oleh Tim GEGANA, sehingga pihak Kepolisian dari Tim Rumah Sakit mengurungkan langkahnya dan memberi jalan kepada anggota GEGANA.


Alamak....ketika pintu dibuka memang tercium bau bangkai menyengat tapi tak menurunkan anggota GEGANA untuk terus bergerak memeriksa jalur kawat tadi.


Dan rupanya kawat lain yang ujungnya juga ada granat dikaitkan kepada mayat yang sudah membusuk tadi.


Jadi penjahat sudah merencanakan dengan matang, dengan perkiraan apabila mayat ditemukan lebih dulu dan segera diangkat, maka granat ditubuh mayat itu akan meledak.


Dan ledakannya pasti menarik kawat lainnya di seberang sana untuk meledak bersamaan.


Begitu pula apabila pintu besi terbuka duluan, maka kejadian yang sama akan terjadi, yaitu granat dipintu meledak dan memicu jalur granat lainnya juga untuk meledak bersamaan.


Yang pasti kalau salah satu keinginan penjahat itu terjadi, maka sekitar empat belas anak muda yang ada di dalam bangunan dipastikan akan terpanggang hidup-hidup.

__ADS_1


Tim GEGANA segera bergerak cepat mematikan seluruh granat aktif tersebut sambil terus memeriksa akan adanya kemungkinan bom atau alat pemicu ledakan lainnya.


Setelah granat yang melilit mayat yang sudah membusuk tadi di non aktifkan, segera mayat dibungkus ke dalam tas plastik mayat dan dibawa ke Rumah Sakit Kepolisan Cirebon.


Ternyata di sebelah ruangan mayat itu adalah ruangan monitor CCTV. Itulah sebabnya mengapa mayat itu pasangi granat tubuhnya maksudnya untuk menghancurkan ruang monitor CCTV yang ada disebelah ruangan tersebut.


Tim IT Kepolisian segera datang dan membawa semua bukti rekaman yang ada di ruangan itu ke kantor polisi.


Salah satu pemuda yang ada di dalam bangunan gudang itu adalah Jabrik temannya Romi yang dulu pernah mengancam dokter Anton.


Semua anak-anak muda tadi dibawa ke kantor Polisi untuk dijadikan saksi.


Mereka mengatakan saat ini ada sekitar lima truck box bertuliskan "Sri Fan Butik Tas dan Aksesoris" diperkirakan sedang menuju Indonesia bagian Timur yang di dalamnya ada ribuan botol minuman keras impor ilegal siap diedarkan di wilayah sana.


Seluruh Kepolisian Indonesia langsung saling berkoordinasi atas laporan itu.


Tak butuh waktu lama, dalam hitungan jam ada lima truck box ditangkap beserta dengan sopir dan beberapa kawanan lainnya yang ada di dalam mobil besar itu.


Satu ditemukan di Ambon, satu di Lombok, satu di Denpasar, satu di Kupang dan Satu terakhir ditemukan dan ditangkap saat menyeberang ke Makasar dari Pelabuhan Surabaya.


Kang Japar alias Kang Jap Fan, sedang memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing sekali.


Hancur sudah semua usahanya dan berantakan semua rencananya.


Dia pikir granat yang dipasangnya akan meledak menghancurkan semua bukti kejahatannya.


Dia pikir dengan mengkaitkan granat di tubuh istrinya yang sudah membusuk itu akan sekaligus menghancurkan ruangan monitor CCTV nya.


Selama ini dia meremehkan para anggota Polisi disekitar tempat tinggalnya, dipikirnya mereka hanya Polisi desa saja.


Ternyata dia memang bodoh karena tak paham kalau Kepolisan Indonesia itu sudah sangat terlatih dan semuanya saling berkoordinasi apabila ada temuan kejahatan di seluruh Wilayah Negeri ini.


Tapi memang dasar otak jahat, dia tidak berhenti terus memikirkan kejahatan dan usaha-usaha ilegal.


Dia berpikir keras akan merancang lagi dan membangun lagi kerajaan bisnis ilegal di kota Batam.


Anton dan Jaya kembali dipanggil pihak Kepolisian begitu juga Komar. Dokter Haikal berusaha menutupi kejadian ini dari seluruh karyawan Puskemas, maksudnya agar tidak terjadi kehebohan sebelum semuanya dipastikan oleh pihak Kepolisian.


Rekaman kejadian saat Anton dipaksa untuk menyuntik mati istri Kang Japar muncul dihadapan layar monitor komputer milik AKP Rudi Banjarnahor.


Untung saja pada rekaman itu terdengar semua percakapan yang terjadi saat itu, sehingga Anton dinyatakan bebas karena apa yang dia lakukan dibawah tekanan ancaman.


Tapi mereka menyatakan kesediaan apabila sewaktu-waktu harus kembali ke kantor Polisi untuk menjadi saksi atau diminta keterangan tambahan.


Sekarang dia seperti biasa diantar pulang oleh Jaya, karena Jaya juga merasa kesepian sendiri di rumahnya dan rencananya selama di Bandung nanti, Jaya akan berwisata kuliner seorang diri.


Mereka berdua tidak tahu bahwa akan terjadi drama lagi yang harus mereka hadapi.


Anton tidak tahu kalau saat ini ada sepupu-sepupunya tengah berada di kediaman keluarganya sedang merancang rencana penyelamatan Mahendra dan Bang Cak.


"Bro...sorry yah kamu nanti malam tidur di kamar belakang sendirian ditemani cicak...aku malam ini akan bermesraan dengan istri tercinta," Anton mulai meledek sahabatnya.


"Hmmm....sombong sekali yang sudah menikah...tenang saja tak lama lagi aku juga akan segera menikah...,"sahut Jaya sambil memasang muka sebal.


"Sama siapa bro...Sama Melati saja tuh tetangga pemilik salon kecantikan dulu itu...hahahah," kembali Anton meledek Jaya mengingatkan sosok Melati yang mendandani istrinya saat hendak wisuda dulu.


"Dokter sinting, tega sekali kamu sama kawan...duh kalau saja bukan kamu yang bicara sudah aku gerus dijadikan sambal,"ujar Jaya sambil mendelik sebal kepada Anton.


"Tumben bapak ini jadi sensitif kalau di kota Bandung, ada apa gerangan sih.... hihihihi,"Anton tambah menjahili Jaya.


Jaya terlihat diam saja tak menjawab, rupanya sedang terbawa perasaan tentang asmaranya beberapa waktu lalu.


Dari radio di dalam mobil terdengar pembawa acara berkata," Terima kasih kepada pendengar setia Asmara FM 234,5 Mhz dalam acara Tembang Kenangan, sesaat lagi akan kami putarkan tembang lawas tapi masih selalu membuat kita terbawa perasaan. Tembang ini pernah menjadi unggulan di tangga nada pilihan beberapa tahun yang lalu".


"Dinyanyikan oleh seorang anak negeri yang menjadi juara di festival menyanyi di luar negeri, inilah SS dengan lagunya yang berjudul TAK PERNAH PADAM".


Lalu beberapa detik kemudian terdengar alunan musik lembut dan terdengar suara penyanyi pria membawakan lagu tersebut.


🎢🎡🎢🎡


"Senyumanmu masih jelas terkenang


Hadir selalu seakan tak mau hilang dariku oh dariku


Takkan mudah ku bisa melupakan


Segalanya yang telah terjadi


Di antara kau dan aku


Di antara kita berdua


Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu


Kini kau telah menghilang jauh dari diriku


Semua tinggal cerita antara kau dan aku


Namun satu yang perlu engkau tahu


Api cintaku padamu tak pernah padam hm


Tak pernah padam....". 🎢🎡🎢🎡


"Waduh ini lirik lagu dalam amat sih...bikin merinding hatiku ini...hihihi," Anton ada saja iseng mengomentari lirik lagu yang sedang diputar itu.


Dan memang di bait-bait lagu tersebut banyak kalimat-kalimat yang sangat menyentuh perasaan Jaya.


Seperti kalimat sudah tak ada kabar, menghilang jauh, semua tinggal cerita....bukankah itu Jaya dan Miranti sekali.


Keduanya mulai ada benih asmara tapi karena suatu hal yang bersifat prinsip bagi Jaya, kisah asmara yang baru saja mulai terajut mendadak harus terputus benangnya.


Dalam hatinya Jaya sebenarnya membenarkan ledekan Anton dan juga kalimat-kalimat lagu itu, memang sampai sekarang dia masih belum bisa berhenti mengenang kebersamaannya yang cuma sesaat bersama Miranti.


Cinta atau bukan, dia tak paham hanya dalam hati dan pikirannya sosok Miranti selalu membayang-bayangi.


Di lantai 7 sebuah apartemen, ada seorang wanita yang sedang mengupas apel sambil mencucurkan air matanya.


Ditambah lagi alunan tembang lawas yang diputar Asmara FM, membuat semakin deras lelehan air matanya.


Untung saja tak ada orang lain lagi di sana, kalau saja ada pasti akan tertawa melihat seorang perempuan cantik makan apel sambil menangis.


Keduanya memasuki halaman rumah kediaman Wiharja, dan Anton merasa aneh melihat banyak mobil di dalam garasi.


Mela menyambut suaminya, dan Anton segera mencium pipi istrinya sambil berkata," Api cintaku padamu....Tak pernah padam....".


Mela jadi bingung melihatnya, tapi dia tak ambil pusing segera dia menarik suaminya ke dalam rumah.


Di dalam rumah terlihat ada sepupunya sedang berkumpul, mata Anton jadi membulat bertanya-tanya sebab semua yang ada di ruangan itu berwajah serius.


Jaya yang menyusul masuk juga merasa aneh, tapi dia dengan santun menyalami semua orang yang ada di sana.


Saat menyalami Serina, dia agak kaget karena hafal ini istri pejabat terkenal.


Fajar meminta Anton dan Jaya ikut duduk di ruangan itu dan mulai menceritakan apa yang sedang terjadi saat ini.


Rencananya dalam beberapa jam ini mereka semua akan meluncur ke Tangerang, dalam upaya membebaskan Bang Cak dan Mahendra.


Anton dan Jaya saling bertatapan, mereka belum lagi menceritakan apa yang mereka alami minggu ini, sekarang harus lagi terlibat aksi-aksi seperti di film-film laga.


Tapi mereka harus semangat untuk membantu Serina, karena Anton juga ingat bagaimana sosok Bang Cak yang baik hati. Dan keponakannya Mahendra adalah teman tanding game online nya selama ini.


Setelah beristirahat sebentar tak lama semuanya harus segera bersiap-siap menuju kota Tangerang ke rumah Serina.


Baru sekali ini seumur-umur Serina naik mobil minibus besar yang digunakan sebagai mobil pengangkut barang dan penumpang.


Kalau saja dia dalam kondisi bahagia pasti sudah habis Fajar diledeknya.


Tapi karena sedang galau maka dia diam saja. Anita tidak ikut karena masih ada anak bayi di rumah yang tak mungkin ditinggalkan.


Jadi peserta saat ini adalah Fajar, Septa, Serina, Mela, Anton dan Jaya.


Sementara Janwar adik Septa naik motor besarnya langsung menuju lokasi dan berencana akan bertemu di sana.


Perjalanan dengan menggunakan mobil melalui jalan tol memakan waktu hampir 3 jam lamanya.


Sekarang mereka sudah berada tidak jauh dari rumah Serina.


Sambil memandang wajah suaminya, Mela tiba-tiba timbul ide dadakan.


"Koko Fajar....Aa Septa.....Mela ada ide baru...bagaimana kalau suamiku yang maju pertama ke rumah itu menemui penjaga pintu,"mendengar Mela yang tiba-tiba berkata dengan cukup keras di dalam mobil tentu mengejutkan semuanya.


"Pi...ayo cepat buka kaki palsumu, buka pakaianmu cepat..!!!"kata Mela dengan segera membantu suaminya membuka pakaiannya.


Lantas Mela mengambil kaos compang camping dari tas besar yang sudah dia persiapkan sebelumnya.


Memang Mela membawa banyak perlengkapan termasuk tang, obeng, colokan listrik dan sebagainya yang tidak terpikir oleh yang lainnya.


Matahari baru saja memperlihatkan wajahnya, hawa panas kota Tangerang hampir sama dengan kota Cirebon. Pagi hari juga sudah bisa membuat orang berkeringat bercucuran.


Anton sekarang memakai sendal jepit yang sudah hampir putus, celana rombeng dan kaos oblong compang camping.


Dia berjalan dengan tongkatnya menuju rumah Serina. Wajahnya dan seluruh tubuhnya ditaburi debu dan pasir oleh istrinya.


Hasilnya benar-benar mirip pengemis cacat yang sudah berminggu-minggu tidak kena air, begitu kotor dan cemong.


Sambil berjalan dia bersungut-sungut," Duh Mela...Mela.... mengapa musti suamimu ini yang jadi pengemis, perasaan aku walau cacat masih lebih ganteng dibanding Jaya...eeehhh..


ada-ada saja deh".


Semua yang ada di dalam mobil Fajar tertawa geli melihat Anton yang sedang berjalan sambil mengomel.


Mela meminta maaf tapi sambil tertawa terbahak melihat suaminya.


Di depan pintu gerbang, Anton memulai aksinya berpura-pura merintih kesakitan karena kakinya terluka.


Ajit yang menjaga pintu segera melihat dan membuka gerbang untuk menolong pengemis itu.


"Pak Ajit....sssttttt....ini saya Anton.... sssttt....sepupu ibu Serina...sssttt,"kata Anton sambil berbisik saat Ajit mendekatinya, sontak Ajit paham dan menganggukan kepalanya.


"AJJJIIIITTTTT.....ADA APA!!!!....


SIAPA DI DEPAN....????!!!!!"


Terdengar teriakan dari balik pintu gerbang dan terlihat seorang wanita mengintip dari balik gerbang.


Terlihat sorot mata wanita itu sangat tajam dan wajahnya sangat garang.


"Nyonya Endah...ini ada pengemis cacat terluka mungkin dia terjatuh," kata Ajit kepada wanita itu.


"Nyonyaaaaa...tolong saya....tolong...


sakit kaki saya nyonya, minta makan nyonya...minta uang nyonya....,"Anton beraksi seakan dirinya pengemis kelaparan.


"PENGEMIS SIALAN....SURUH PERGI DIA AJIIITTT....TUTUP PINTU GERBANGNYAAA!!!".


"Pak Ajit...ini colokan listrik, ada timahnya, tancapkan di ruangan CCTV. Nanti saat terjadi korslet, dan listrik padam. Hubungi nomor ini, bilang wanita itu ini nomor pegawai listrik. Lakukan jam 8 pagi ini yah,"kata Anton seperti detektif sungguhan yang sedang menyamar.


Ajit mengangguk dan memasukan colokan listrik itu, lalu menyembunyikan catatan nomor telepon tadi.


Setelah menutup gerbang, segera dia berjalan menuju dapur, sementara Anton segera berlari menuju mobil Fajar yang parkir di kejauhan.


"Mi....sudah kulaksanakan tugasku ... Nanti malam Mi sayang harus membayarnya yah....,"kata Anton sambil masuk mobil dengan mengomel.


Yang di dalam ada yang tertawa paling keras menyebalkan , siapa lagi kalau bukan Jaya.


"Ajit...sudah kau usir pengemis tadi?" tanya Endah sambil menatap tajam.


"Sudah nyonya Endah, bahkan sudah saya usir jauh...,"jawab Ajit sambil membungkukkan badannya.


"Lantas mau apa kau masuk kemari ?" tanya Endah lagi ketika melihat Ajit menuju dapur.

__ADS_1


"Mau minta kopi kepada Siti,"jawabnya lagi sambil menunduk.


"Hmmm .... ya sudah cepat, lalu segera kau keluar lagi".


Lantas Ajit ke dapur pura-pura membuat kopi, sambil menyelipkan colokan listrik berbalut timah tadi ke saku baju Siti.


Dia menyampaikan pesan dari Anton untuk menancapkan benda itu sejam dari sekarang.


Siti memahami lalu kembali lagi memasak sambil dalam hatinya bahagia karena bala bantuan akan datang.


Lima menit lagi pukul delapan pagi, Siti mengambil sapu dan kemoceng menuju ruang CCTV seperti yang diinstruksikan oleh Anton.


"Mau ngapain kamu ke ruangan itu?" tanya Endah kepada Siti.


"Mau dibersihkan tentunya, sudah lama sekali ruangan ini tidak pernah dibuka dan dibersihkan,"jawab Siti santai.


"Hei..hati-hati disana banyak kabel dan komputer, aku tak tahu ada apa disana, awas jangan sampai terjadi apa-apa," kata Endah mengancam Siti.


Siti juga paham wanita iblis itu tidak mengerti kalau di ruangan itu adalah ruangan monitor CCTV. Untung saja wanita gila itu banyak sisi bodohnya.


Sambil pura-pura menyapu, lalu dia segera menancapkan colokan listrik ke stop kontak di sana dan segera keluar ruangan.


Benar saja dalam hitungan detik saja tiba-tiba listrik padam.


"SITIIIIII.....ADA APA..... APAKAH ALIRAN LISTRIK...ATAU APA INI....".


"AJIIITTT....PERIKSA BOX LISTRIK...!!!!"


Tentu saja ada korslet listrik maka panel sakelar di box listrik jatuh tak bisa dinaikkan.


"Nyonya....sepertinya ada korslet, sebaiknya saya menghubungi petugas listrik yah kebetulan saya ada nomor teleponnya," kata Ajit dengan takut-takut.


"Ya sudah sana hubungi cepat, aku mau menonton televisi?"kata Endah dengan kesal.


Ajit menelepon melalui telepon rumah, karena ponselnya disita oleh Endah.


Benar-benar Endah tinggal disana itu bahagia, semua fasilitas serba gratis dinikmati.


Bayar listrik, air dan telepon rumah sudah berlangganan langsung dibayarkan oleh pihak Bank sehingga tidak pernah ada tunggakan.


"Halo petugas listrik, mohon maaf apakah bisa ke alamat kami. Sepertinya ada korslet, sehingga listrik rumah ini padam," Ajit menelepon nomor yang tadi diberikan oleh Anton, dan itu adalah nomor telepon Jaya.


"Baik pak sebentar kami kesana, minta alamatnya pak,"jawab Jaya sambil sedang bersiap-siap, karena semua berubah lagi dari rencana semula.


Rencana dadakan justru menjadi lebih mantap skenarionya dibandingkan rencana awal.


Serba dadakan tapi semua orang pintar memainkan dramanya.


Setengah jam kemudian yang datang ke rumah itu adalah Mela dan Janwar.


Mela bersiap di box listrik memeriksa setiap kabelnya, sementara Janwar memeriksa setiap ruangan untuk mengetahui disebelah mana yang korslet.


"Eh tunggu, dua ruangan yang terkunci ini tak mungkin ada kabel korslet, karena tidak kegiatan apapun disini," kata Endah menghalangi Janwar yang akan masuk memeriksa kamar Mahendra dan Bang Cak.


"Tapi bisa saja bu, ada kemungkinan korslet bisa terjadi di ruangan kosong sekalipun,"Janwar menjelaskan kepada Endah.


"Aku bilang tidak tetap tidak,mungkin korslet terjadi di ruangan sana yang banyak kabelnya,"kata Endah sambil menunjuk ruangan monitor CCTV.


Tentu saja memang itu tujuan Janwar ke dalam rumah itu sekarang.


Lantas dia segera menuju ruangan CCTV seperti yang ditunjukkan Endah, padahal dia sudah tahu dan hafal ada apa saja di rumah sepupunya itu.


Setelah masuk ruangan itu, segera dia membuka dulu colokan listrik yang sengaja dibuat korslet tadi dan mematikan aliran listrik di jalur itu dengan memotong kabelnya.


Setelah itu dia mengirim chat kepada Mela untuk menyalakan MCB (Miniature Circuit Breaker)Β  atau sebutan mudahnya adalah panel listrik yang nomor tujuh sesuai petunjuk di ruangan itu.


"Masa tukang listrik kok perempuan, emangnya paham?"tanya Vivi anaknya Endah sambil memperhatikan Mela dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


Mela diam saja sambil pura-pura memeriksa panel listrik itu dengan test pen listrik.


"Mengapa belum dinyalakan listriknya?" tanya Vivi lagi sekarang sambil melotot kepada Mela.


"Temanku masih mencari bagian yang korslet, nanti kalau dia bilang beres maka aku nyalakan,"Jawab Mela tak kalah ketus.


Padahal Janwa sedang memindahkan data rekaman CCTV kedalam hard disk externalnya sehingga bisa memuat data lebih dari 10 terabyte.


Pemindahan data cepat sekitar 15 menit lamanya, akhirnya seluruh data rekaman dari awal tahun sampai rekaman kejadian kemarin malam sudah masuk ke dalam hard disk milik Janwar.


Dan Janwar memberi kode lagi lewat chat nya agar listrik nyala semua.


Lalu dia keluar kamar itu dan segera menuju Mela, tapi saat hendak keluar pagar, mereka dihadang oleh Endah.


Wanita itu ditangan kirinya memegang apel, dan ditangan kanannya berkilat sebilah pisau besar.


Mela dan Janwar langsung berhenti melangkah dan memandang wanita itu sambil merasa was-was.


Endah mendekati mereka berdua sambil menatap tajam ke arah mereka satu per satu, lalu berkata," Kalian tidak akan minum dulu di dalam sambil menemani aku makan buah apel".


Lalu Endah menancapkan pisau itu ke buah apel dengan keras dihadapan Mela dan Janwar, peluh bercucuran di kening mereka tapi keduanya berusaha tenang.


"Terima kasih atas tawarannya, tapi kami harus segera pergi karena masih banyak pekerjaan kami," jawab Mela berusaha tenang tapi bibirnya bergetar.


Endah menatap mereka sekali lagi, lalu memberi tanda kepada Ajit untuk segera membukakan pintu gerbang, sambil berlalu ke dalam dia berkata kepada keduanya," Lain kali pamit dong kalau habis dari rumah orang".


"Maafkan kami bu, tadi tergesa-gesa jadi lupa pamit," Mela dan Janwar segera berlari menuju motor yang diparkir di depan pagar dan langsung tancap gas.


Setibanya di depan mobilnya Fajar, keduanya langsung menjatuhkan diri ke tanah, lutut dan kakinya lemas dan keduanya menggigil...hampir saja leher mereka dibuat seperti buah apel tadi.


Janwar lalu menghubungi salah satu teman sekolahnya yang sudah menjadi Komandan Polisi di Tangerang Utara, karena posisi mereka di Tangerang Selatan lalu temannya mengarahkan ke kantor Polisi di sana dan nanti dia akan segera menyusul kantor Polisi tersebut.


Mereka semua segera menuju ke Kantor Polis Tangerang Selatan melaporkan kejadian yang sedang berlangsung di kediaman Cakra Wijaya Dirgantara.


Alat bukti rekaman CCTV yang sudah di unduh oleh Janwar ke hard disk external miliknya segera diunggah melalui komputer kepolisian.


Semua yang ada di dalam ruangan melihatnya termasuk Serina, dan dia menangis menjerit saat melihat rekaman perawat Endah sedang menyiksa nenek.


Tak hanya itu saja, kejadian saat Cakra dibius minuman kopi lalu diseret ke kamar dan dibuka bajunya juga ada. Begitupun saat Endah mengancam anaknya dan menyakitinya ketika Cakra tak mau memberikan nomor pin ATM.


Serina menangis dalam pelukan Mela, dia merasa bersalah kepada suami dan anaknya, selama ini dia berpikir suaminya sudah selingkuh dengan wanita itu dan berpikir anaknya pun sudah tak menyayanginya karena terakhir dia pergi keluar kota meninggalkannya.


Teman Janwar yaitu KAPOLSEK Tangerang Utara yang bernama AKP Roland Panggabean sudah disana dan sudah melihat bukti rekaman tersebut, lalu bersama KAPOLSEK Tangerang Selatan yang akan menangani kasus ini bersama-sama ikut rapat.


KAPOLSEK Tangerang Selatan yang bernama AKP Bahrudin mengatur strategi untuk penyergapan ke rumah tersebut, dan Serina diminta menjelaskan keadaan sekeliling rumah tersebut.


"Pak Komandan, maaf saya boleh ikut bicara?"tanya Fajar tiba-tiba ketika rapat sedang berlangsung.


"Ya silahkan, apa yang mau bapak sampaikan?"tanya AKP Bahrudin.


"Begini pak, saya kebetulan ahli psikologi dan saya melihat dari tayangan rekaman tadi kemungkinan besar wanita itu mengidap Psikopat. Saya khawatir apabila tiba-tiba disergap, tipikal orang yang mempunyai kejiwaan seperti itu akan malah membabi buta dan membunuh orang disekitarnya".


"Kebanyakan dalam berbagai kasus yang sempat saya pelajari, orang yang mempunyai kejiwaan seperti itu akan nekad membunuh juga nekad menghabisi dirinya sendiri," Fajar berusaha menjelaskan kepada Polisi.


"Lantas pak Fajar ada ide terkait penjelasan anda barusan?"tanya AKP Bahrudin kepadanya.


"Pada rekaman terlihat orang itu terus membawa pisau kemana saja dia bergerak, bahkan sepupu kami tadi juga sempat dihadang pisau saat setelah berhasil mengunduh rekaman tersebut".


"Mungkin maksud pak Fajar harus ada orang yang mengamankan pisau itu baru kita bergerak menyergap," AKP Bahrudin mencoba menarik kesimpulan.


Fajar membenarkan kesimpulan yang disampaikan AKP Bahrudin tersebut.


Lantas semua berpikir bagaimana cara masuk kesana untuk mengamankan pisau tersebut.


"Saya ada ide....,"tiba-tiba Jaya berkata saat semua masih berpikir.


Di ponsel Jaya tersimpan nomor telepon rumah Serina, dan Jaya kemudian berpura-pura menelepon ke rumah itu seakan-akan dia adalah terapis pijatnya Serina yang merasa kehilangan beberapa bulan ini.


Jaya kemudian menyampaikan kepada yang menerima telepon akan datang untuk memijat nyonya Serina.


Kemudian Jaya didandani seperti lelaki kemayu, berpakaian atas model wanita tapi tetap bercelana panjang pria. Dia juga diberi riasan wajah sederhana oleh Mela dan dia memakai sepatu tinggi milik Serina kebetulan ukurannya sama karena memang tubuh Serina juga tinggi besar.


Di tubuhnya dipasang alat penyadap agar tim kepolisian bisa mendengar percakapan Jaya dan Endah nantinya.


Dengan meminjam mobil Polisi, Jaya ditemani Septa yang berperan sebagai sopir.


Ajit merasa heran melihat ada pria berdandan aneh dihadapannya, tapi ketika melihat siapa yang mengemudi baru dia paham.


Lantas Jaya dibawa masuk ke dalam oleh Ajit, sementara Septa berjaga-jaga di depan pos jaga tempat Ajit bertugas.


"Aaaawwww....nyonya nya kok ganti... siapose nyonya ini...eikeh tinta tahu?"Jaya pura-pura terkejut saat masuk melihat Endah.


"Aku nyonya baru disini...tadi kaukah tukang pijat yang menelepon aku?" tanyanya sambil memegang apel dan pisau.


Jaya agak merinding melihat kilatan pisau tajam itu, namun dia tetap melancarkan aksinya.


"Nyonya...pisaunya saaayyyy...takut eikeh.....menyayat hati...iya aku yang tukang pijat itu, Ranti Meranti namaku...biasa nyonya Serina datang ke rumah pintaku...sudah lama tidak hadir jadi aku cari...kangeeenn," ujar Jaya dengan gaya bicara khas waria yang manja.


Anton dan Mela yang saat itu ada di mobil Polisi, ikut mendengar percakapan itu sontak keduanya tertawa saat tersebut nama Ranti Meranti...mengingatkan nama seseorang nun jauh di mana.


"Serina sudah mati....jangan kau sebut lagi nama itu...cepat kemari....pijatlah aku," kata Endah dengan nada dingin.


Septa memberikan obat tidur kepada Ajit untuk diminumkan kepada anaknya Endah, agar jangan ribut nanti saat mereka beraksi.


Ajit segera menuju dapur, pura-pura minta Siti membuat kopi untuk sopir di depan, sambil berbisik untuk melakukan apa yang Septa sampaikan di depan.


Sementara Jaya sedang sibuk bersama Endah, dia meminta Endah untuk melepaskan semua pakaiannya agar mudah dipijat.


Endah menurut saja, dan dia membuka semua pakaiannya dengan hanya dibalut kain.


Saat Endah sedang sibuk melepas pakaian dan menutup tubuhnya dengan kain, diam-diam Jaya menyembunyikan pisaunya ke dalam tas wanita yang dibawanya.


Lalu Jaya meminta Endah berbaring tengkurap di atas kasur dan mulai memijat kakinya. Untung dia buaya jadi bisa memperlakukan wanita dengan lembut sehingga Endah percaya kalau Jaya adalah tukang pijat profesional.


Siti membuatkan Vivi anaknya Endah segelas jus jeruk, anak itu matanya seperti elang dan tukang mengadu kepada ibunya.


"Tumben elu baik bikinin gue jus...apa maksudnya?"tanya Vivi sinis kepada Siti.


"Heh..emak elu yang nyuruh biar elu sehat, udah bagus gue bikinin...sini kalau kaga mau biar gue buang saja,"Siti juga balas menggertak Vivi.


Dengan wajah asam dan menatap sinis ke arah Siti, dia segera meminum habis jua jeruk tadi lalu duduk kembali di sofa depan televisi.


Sekitar lima menit kemudian anak itu terlihat mulai mengantuk dan lima menit kemudian dia tidur.


Septa segera memberitahukan tim Polisi dan semua diam-diam bergerak masuk ke rumah Serina.


Pintu kamar Mahendra dibuka, Septa masuk dan anak itu kaget melihat pamannya dihadapannya. Septa menyimpan telunjuknya di depan bibirnya memberi tanda untuk diam jangan bersuara, Mahendra pun paham lalu dia diangkat keluar oleh pamannya itu.


"Say....coba tangannya ke belakang dong dua-duanya, mau eikeh lemaskan yah...," Jaya memegangi kedua tangan Endah berpura-pura akan dilemaskan.


TRAAAAKK.....sepasang borgol membelenggu tangannya oleh polisi Wanita.


Merasa ada yang tidak beres, dia menendang perut Jaya hingga tersungkur ke belakang.


Segera bangkit lalu dengan bahunya dia menabrak keras polisi Wanita tadi, dia berlari ke depan kamar dan dihadang oleh Polisi yang mengacungkan senapan.


Tapi Endah tak begitu saja menyerah, dia kembali ke kamar mencari pisaunya tapi tak ada, dan dia menendang apa saja yang ada di kamar itu ke arah Polisi dan Jaya yang masih terduduk karena kesakitan.


Karena banyak bergerak dan dia lupa hanya memakai kain saja, lilitan kain di dadanya terlepas ke bawah, merasa dingin tak berbusana dia mencoba menahan agar kain tak terus melorot ke bawah tapi semakin bergerak semakin turun kain itu dan melilit kakinya sendiri sehingga terjatuh ke lantai.


Kesempatan itu segera dipergunakan oleh polisi Wanita untuk membekuknya hingga Endah diam tak bisa bergerak lagi.


Cakra dan Mahendra dibawa ke rumah sakit terdekat untuk segera di tangani karena tubuh mereka lemah, kurang cairan dan makanan.


Serina tak henti-hentinya memeluk suami dan anaknya sambil terus meminta maaf, ayah dan anak itu pun membalas pelukan Serina.


Alhamdulillah beres sudah masalah keluarga Serina Mustika dan misterinya beberapa bulan kemarin.


Endah dan anaknya dijatuhi hukuman setimpal dan keduanya mendekat dipenjara.


Selanjutnya mereka jadi berwisata ke Batam dan Singapura.


Hmmm...masih ada lagi kejutan di bab-bab selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2