Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Ketiga Puluh Tiga


__ADS_3

Fajar dan Anita


Setelah orang tuanya meninggal maka tak mungkin seorang Fajar akan bisa menerima uang saku bulanan kiriman orang tua seperti mahasiswa rantau pada umumnya.


Kadang dia suka merasa sedih dan iri hati jika mendengar kawannya yang sesama anak rantau begitu berbahagia mendapat kiriman uang saku dari orang tuanya.


Memang ada uang dari ibunya dan juga ayahnya tapi jika digunakan segera bagaimana hidupnya kelak, belum ada kepastian tentang jalan hidupnya.


Dalam diam dia berputar otak, mau tak mau uang kost bulanan wajib dibayar walau termasuk murah namun harus tetap dibayar.


Saat ini dia lebih banyak berkawan dengan sopir angkot yang orang medan bernama Togar dibandingkan dengan kawan kampusnya.


Karena selain banyak yang tak paham dengan logat bicaranya kecuali anak medan atau anak sumatera, juga karena dia terlihat sekali miskinnya.


"Hei Kepri...macam mana kau duduk termenung saja macam orang paok*,"


sapa Togar saat melihat Fajar sedang duduk termenung di bawah pohon dekat kampusnya.


*paok\= bodoh


Togar memanggilnya Kepri padahal itu adalah singkatan dari Kepulauan Riau, karena dia tahu Fajar orang Batam.


"Entahlah Bang... pening awak tak ada semangat hidup rasanya, "keluh Fajar siang itu kepada Togar.


"Bah*....lembek kali kau Kepri, macam banci saja, kenapa pulak* kau ni?"tanya Togar kepada sahabatnya.


*Bah\= kata imbuhan yang sering diucapkan orang medan bila terkejut.


*Pulak \= pula.


"Tak ada duit, miskin nian awak bang. Macam mana awak nak bayar sewa kontrakan, macam mana pula awak nak makan bang, "keluh Fajar lagi dengan wajah ditekuk.


"Kepri...Kepri... pendek kali otak kau...


sudah miskin lagak mu macam orang kaya. Mengeluh terus, harus ku antukan palak* kau ke tembok agar otak kau encer sikit*...".


*antukan palak \= membenturkan kepala


*sikit \= sedikit


Lantas Togar menyampaikan agar Fajar mencoba berjualan minuman ringan di dekat kampusnya atau ikut dia menjadi kernet, bisa juga kalau sudah pandai menyetir mobil nanti akan diajaknya bergantian untuk menarik penumpang.


"Bang, bagaimana caranya awak bisa jualan minuman ringan, darimana awak dapatkan minuman itu?"tanya Fajar masih tak paham.


"Besok kau selesai kuliah jam berapa... ku jemput kau di sini...ada kawan aku pedagang grosir minuman, nanti aku bantu kau bicara untuk ambil barang dari dia,"Togar merasa kasihan melihat Fajar dan ingin membantunya.


"Kuliah pagi terus bang, siang macam ni awak menganggur, " kata Fajar sambil berdiri mengembangkan tangannya.


"Sekarang kau tak ada kerjaan, ya sudah ikut aku... jadi kernet kau, nanti sore kulatih kau menyetir mobil".


Fajar segera melompat ke belakang angkutan dan dengan soknya dia mencoba mengucapkan beberapa nama tempat yang kental unsur sunda nya seperti "Cicaheum", nama terminal bis di kota Bandung.


Dia tak bisa, malah terdengar lucu di telinga, namun malah menjadi daya tarik tersendiri bagi penumpang.


Kadang dia juga berusaha berbicara dengan bahasa sunda saat menarik ongkos kepada penumpang.


Banyak yang tertawa merasa lucu karena logatnya, juga banyak yang merasa aneh anak Cina jadi kernet.


Mereka menarik angkutan sampai menjelang tengah malam dan baru kembali lagi ke daerah Jatinangor.


Lumayan malam itu Fajar mendapat jatah uang lima puluh ribu untuk biaya hidup dia selama beberapa hari.


Esoknya Fajar masuk kampus seperti biasa, dia selalu duduk paling depan. Anak ini termasuk yang memiliki daya ingat kuat, dia jarang mencatat namun dia mendengarkan dan mengamati setiap materi yang disampaikan dosen.


Dengan mendengar dia akan jauh lebih masuk ke otaknya daripada membaca berhalaman-halaman banyaknya.


Banyak kawannya takjub kepadanya,


dia jarang menulis tapi kalau ditanya apapun dia bisa menjawab.


Dia merasa diri tak sanggup membeli buku mahal jadi dia menyimak semua materi dengan sungguh-sungguh.


Kadang banyak mahasiwa membeli buku mahal, tapi dibacapun tidak. Makanya lebih baik menyimak dengan sungguh agar ingat setiap materi yang disampaikan.


Siangnya dia dibawa Togar menemui Uda Amir, seorang pedagang grosir di pasar Rancaekek, lumayan jauh dari tempat dia tinggal sekarang.


Uda Amir selain berdagang aneka grosir makanan dan bminuman ringan. Selain itu juga mengajak kerjasama dengan menyediakan gerobak lengkap dengan sepeda berikut cooler untuk menyimpan minuman ringan.


Syaratnya mudah dengan menyimpan uang jaminan 300 ribu rupiah, bisa membawa gerobak sepeda tersebut


tapi bila setok minuman habis wajib membeli di tokonya.


Dan Fajarpun setuju dengan tawaran itu, dengan penuh semangat dia berjualan minuman ringan tersebut.


Siang sepulang kuliah dia menjajakan minumannya dengan berkeliling atau seringnya mangkal dekat kampusnya.


Kebetulan di daerah sana banyak sekali universitas dan dia merasa beruntung bisa berjualan di sekitar kampus - kampus disitu.


Hampir setiap harinya dagangannya selalu laris, walau ada sisapun tak akan busuk.


Pagi hari sebelum kuliah biasanya dia belanja dahulu ke Uda Amir melengkapi persedian minumannya.


Dia tidak malu walau tak sedikit cibiran dan mulut-mulut tipis yang menghina dirinya.


Tanpa ambil pusing juga tidak merasa rendah diri, karena dia berjualan dengan halal. Dia tidak meminta-minta kepada siapapun. Kalau menjadi pencuri atau penjahat baru disebut memalukan.


Kalau ada keuntungan lebih selalu dia sisihkan untuk anak yatim atau mengisi kotak amal di masjid.


Malam hari sesusai berdagang pasti dia ikut jadi kernet bang Togar bahkan sekarang dia sudah mahir menyetir mobil dengan belajar menggunakan angkutan bang Togar.


Dua tahun sudah menjalani kehidupan seperti itu, namun dijalani dengan hati yang senang dan gembira.


Dan semakin banyak kawannya, namun memang bukan anak kampus tapi anak jalanan, sopir-sopir angkutan umum dan pengamen.


Ternyata banyak orang perantauan dari Sumatera dan sekitarnya yang mengadu nasib di tanah Jawa dan kebanyakan para sopir angkutan umum.


Dia banyak mengamati bagaimana para perantau miskin seperti dia yang jauh lebih tegar menghadapi kesulitan hidup. Dan kelak hal ini yang akan dia angkat menjadi bahan skripsinya nanti.


Siang itu dia baru selesai menunaikan sholat Dzuhur di suatu masjid di dekat kampusnya.


Hari itu sangat panas sekali, jadi dia duduk dulu di terasb masjid melepas lelahnya.


Kulitnya sekarang jauh lebih menghitam dibandingkan saat awal dia ke Bandung, Karena setiap hari selalu kepanasan.


Hari itu hawanya panas terik namun semilir angin yang membuat terpejam tertidur di teras masjid.


Dia terbangun saat terdengar suara perempuan tertawa-tawa dan tampak memanggilnya.


"Mang... eh.....mang..bangun atuh......


saya mau beli minuman, "kata seorang gadis memanggil-manggilnya.


Fajar mengerjap membuka matanya tampak dihadapannya seorang malaikat cantik sekali.


Sampai dia termanggu bertanya kepada diri sendiri apakah dia masih hidup atau sudah mati.


Gadis cantik berkulit putih bak pualam, dengan hijabnya berwarna merah muda membuat nafasnya terhenti sejenak.


"Mang...saya mau beli minum.... hei....


mamang teh tidur terus atuh.,"kata sang gadis tersenyum manis membuat dirinya seakan berada di alam lain.


"Ya...neng tunggu sebentar, "kata Fajar sambil beranjak berdiri menuju gerobak minumannya.


Gadis tadi ternyata ditemani oleh dua orang kawannya, yang lain juga cantik tapi yang satu ini sangat membuat dia bergetar hati dan jiwanya.


"Mau beli minuman yang mana neng?"


tanyanya kepada gadis tadi.


"Eh lucu ngomongnya, kayak orang cina mana deh... kok ..logatnya aneh, "kata gadis itu kepada Fajar.


Sebenarnya banyak yang mengatakan


seperti ini bahkan sering tapi yang bertanya kali ini lain jadi membuat dia salah tingkah.


"Saya orang Riau neng, kenapa ganteng yah? "goda Fajar kepada gadis itu.


"Yyyeeeehhhh ...siapa juga yang bilang ganteng, saya mah cuma nanya orang mana...geer pisan mang kamu teh,"sang gadis berucap ketus manja semakin membuat hati Fajar tambah berasa diaduk-aduk.


Lalu sang gadis memesan satu botol minuman es teh di plastik, sementara kedua kawannya minuman soda sama pakai es dimasukan plastik juga.

__ADS_1


"Neng...kuliah dimana sih.....Nanti saya mangkal di sana...!!!" teriak Fajar saat ketiganya berlalu setelah membayar.


"Dimana yaaaahhhh.....cari saja sendiri


.....hihihi, " ketiganya berlarian sambil cekikika meninggalkan Fajar.


"Mancing awak rupanya gadis itu, bukan Fajar anak Batam, sempat besok tahu kau anak siapa, kulamar pulak kau,"


guman Fajar memandang sang gadis yang berlalu bersama kawannya.


"Kalau dia ada hati dengan awak, pasti dia menengok kemari....1..2....3.......".


Dan benar si gadis menengok lagi ke belakang memandang Fajar sebentar, dan tentu saja yang ditengok langsung berkata "YES !!!".


Malamnya dia curhat kepada Togar dan beberapa kawan Medannya.


"Cantik sungguh bang, awak terpesona kali bang...,"kata Fajar berapi-api.


"Kepri....kepri.... Kalau suka kejarlah... jangan kau banyak cakap* disini....


macam bisa saja gadis itu muncul di sini, "kata salah satu kawannya sambil memainkan gitar.


*cakap\=bicara


"Tampaknya dia anak kampus sebelah, awak yakin bang.... tadi langkahnya menuju kesana, "kata Fajar menunjuk ke arah kampus yang bersebelahan dengan tempat kuliahnya.


"Bocor alus* kau Kepri, banyak cakap tak ada nyali, "tantang Togar kepada Fajar.


*bocor alus\= agak gila


Malam itu habis Fajar diledek oleh kawan- kawannya karena dianggap sinting berani mencintai gadis cantik.


"Tengok kelen* ya......bukan anak Kepri kalau gadis itu besok tak kunikahi".


*tengok kelen \= lihat kalian semua (semacam peringatan terhadap yang lain)


Kawan-kawan sontak tertawa semua mendengar peringatan dari Fajar.


Siang keesokan harinya Fajar pindah berdagangnya ke depan kampus yang ada di sebelah kampusnya, dia ingin menanti si gadis kemarin.


Benar saja tak lama muncul gadis itu, tampaknya dia tergesa-gesa dengan segera menyeberang jalan dari kampusnya.


Seketika Fajar langsung meninggalkan gerobak minumannya dia titipkan ke tukang gorengan dan secepatnya lari menuju angkutan umum yang dinaiki gadis tadi.


Sambil tersengal-sengal dia naik ke dalam angkutan dengan bergantungan di pintu pinggir.


Lalu dia jongkok di depan pintu sambil mengatur nafas dan memandang sang gadis.


Gadis itu langsung pura-pura tidak tahu dan membuang mukanya memandang ke arah belakang angkutan umum.


Orang duduk di sebelah gadis tadi turun sehingga peluang besar untuk Fajar duduk di sebelahnya, dan dia tidak ingin membuang kesempatan segera duduk di samping sang gadis.


"Neng, maaf yah saya bau yah,"ujar Fajar sambil menciumi badannya sendiri.


Gadis itu diam saja tak menjawab.


Lalu dia berkata lagi, "Kalau neng wangi loh... sampai saya pengen nempel di bahu neng".


"Mang.....jangan kurang ajar yah..., "ujar sang gadis berbisik kesal sambil menatap galak.


"Saya tidak kurang ajar hanya duduk di samping orang cantik".


Gadis itu semakin kesal sekali kepada Fajar tapi rumahnya masih jauh dari jalan itu.


"Saya Fajar, kuliah di UNPAD semester 5 fakultas Psikologi. Ini kartu mahasiswa saya, " kata Fajar sambil mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan kartu mahasiswanya kepada sang gadis.


"Terus apa sih urusannya sama saya?"


tanyanya kepada Fajar dengan wajah cemberut.


"Yah sama dong seperti yang barusan saya lakukan..., keluarkan juga kartu


mahasiswanya dong".


Gadis tadi hanya memejamkan mata sambil geleng kepala tanda kesal.


Setelah sudah dekat rumahnya, lalu si gadis itu berteriak kepada sopir, "Mang kiri mang!!".


Fajar segera menyusul lalu dia segera membayar ongkos untuk dua orang.


"Neng nembus yah....., "goda Fajar sambil senyum lebar.


Gadis tadi malah semakin kesal dan sebal bercampur malu karena Fajar tahu kondisinya saat itu.


Ketika jalan di depannya terlihat kosong segera dia menyeberang jalan.


Fajar pun menyusulnya dan gadis tadi masuk ke dalam apotik Wiharja Farma.


Fajarpun segera masuk dan dia tampak kaget ketika sang gadis malah terus masuk ke dalam kantor apotik lalu ke dalamnya lagi.


Padahal sebelumnya dia pikir si gadis ke apotik untuk membeli pembalut wanita.


Tak kalah akal dia lalu bertanya kepada pelayan apotik di sana.


"Mbak maaf, barusan neng yang masuk ke dalam itu siapa yah? "tanya Fajar kepada pelayan apotik di sana.


"Mau apa ya mas, ada apa nanya-nanya yah,"jawab pelayan tadi dengan ketus.


"Oh saya Fajar, mahasiswa dari UNPAD tadi saya diminta sama neng tadi untuk wawancara pekerjaan di sini,"kilah Fajar kepada petugas itu.


"Kalau soal pekerjaan harus dengan pak Salim langsung bukan dengan anaknya,"


kata mbak petugas itu lagi.


Dalam hati Fajar baru tahu kalau gadis tadi anak pemilik apotik


"Oh iya yah...maaf tadi nama anaknya pak Salim siapa yah saya lupa," pancing Fajar memasang wajah meyakinkan.


"Cici Anita yang tadi sih, kenapa ya mas, katanya mau tanya pekerjaan, "petugas terpancing menyebutkan nama gadis tadi.


Kepalang basah akhirnya Fajarpun mengiyakan ingin bertemu dengan pemilik apotik karena akan melamar pekerjaan.


Pak Salim keluar menemuinya. Lalu Fajar dengan percaya diri mengatakan ingin melamar kerja paruh waktu di apotik ini menjadi petugas kebersihan.


Salim terkejut dihadapannya berdiri seorang pemuda seperti keturunan Tionghoa.


"Ada apa yah mau ketemu saya?" tanya


Salim kepada pemuda itu.


Seperti sebelumnya Fajarpun mengenalkan dirinya, dan menceritakan asal usulnya.


Salim jatuh kasihan setelah mendengar kisah Fajar, di benaknya menilai kalau pemuda itu mahasiswa yang miskin tapi punya semangat belajar.


Malah Salim menawarkan Fajar tinggal di mess karyawan di belakang apotik, nanti tugasnya pagi hari membersihkan seluruh ruangan apotik berikut toilet untuk tamu.


Tentu saja Fajar girang gembira, diapun pamit ijin mau mengambil barangnya dulu dan Salim mengizinkannya.


"Papah... cowok tadi mau apa ketemu sama papah?"tanya Anita ketika Salim masuk ke rumahnya.


"Oh pemuda tadi, kasihanlah dia minta pekerjaan dan bersedia jadi petugas kebersihan di apotik kita, padahal mahasiswa di kampus ternama. Kasihan dia anak perantauan miskin," Salim menjawab pertanyaan anaknya.


Anita hanya diam sebal sambil berkata dalam hati, "Awas weh lamun jelema eta wani macem-macem....dibotakan siah sirah na".


(\=Awas saja kalau orang itu berani macam-macam, akan kugunduli kepalanya)


Sesampainya di Jatinangor segera Fajar menemui kawan-kawannya dan dengan bangga mengabarkan kisah tadi. Semuanya terkejut tak percaya ternyata si Fajar Kepri pandai mencari peluang.


"Pandai juga rupanya kau Kepri , salut aku... tapi kita lihat bisa tidak sampai jadi menantu....hahahahahha".


Bisnis minumannya diberikan kepada kawannya yang pengamen dan tentu saja akan dilanjutkan dengan bahagia.


Dia diantar Togar menuju apotik Wiharja karena ingin memastikan benar atau tidaknya Fajar akan bekerja di sana.


Ternyata benar adanya, dan Togar salut kepadanya, lalu dia menyemangati agar Fajar bisa merebut hati Anita.


Keesokan harinya setelah ibadah subuh selesai Fajar sudah mulai menyapu dan mengepel seluruh ruangan apotik itu, bahkan seluruh meja dan lemari kaca apotik semuanya dilap hingga bersih.


Tak lupa membersihkan toilet, menyapu halaman dan membuang sampah.


Dan ketika Salim mulai masuk ke apotik dari rumahnya diapun terkejut karena semua sudah bersih.

__ADS_1


Anita mengintip dari balik pintu rumah yang menghubungkan dengan apotik, diam- diam dia terpesona kepada Fajar tapi di sisi lain ego hatinya juga bicara.


"Masakan aku harus mempunyai pacar pegawai rendahan seperti dia iiihhh... aku kan tidak jelek-jelek amat, lagipula papah juga orang berada. Bisa jatuhlah harga diriku dihadapan teman-teman nanti, "Anita menolak perasaannya pada Fajar.


Mulai hari itu Salim merasa senang ada Fajar di apotiknya, karena Fajar orang yang enak diajak bicara, rajin dan juga bisa dimintai tolong apa saja dan tidak pernah mengeluh.


Atap bocor.....Fajar !!!!!


Ledeng bocor.....Fajar !!!!!


Anton belajar motor......Fajar !!!!!


Aryani belanja ke pasar ....Fajar !!!!!


Ban mobil atau motor kempes....Fajar !!!!!


Gas kompor habis......Fajar !!!!!


Tapi Fajar paling suka kalau Salim mengajaknya ke pertemuan pedagang atau ke undangan, itu sesi perbaikan gizi buat dirinya.


Satu lagi yang paling membahagiakan saat Salim memintanya membantu Anita melancarkan menyetir mobil.


Bagaikan mendapat durian runtuh, dengan semangat dia menyatakan kesiapannya.


Saat mengajari Anita menyetir sikapnya profesional, tidak ada ucapan yang menggoda Anita.


Murni dia mengajarkan Anita untuk melancarkan menyetir mobil.


Dalam hati Anita sebenarnya penasaran dengan sikap Fajar.


"Tumben biasanya suka sok menggoda aku, sekarang sok ngajarin nyetir".


Fajar menatap Anita yang juga sedang menatap kepadanya.


"Kalau saya goda nanti kamu marah, nanti ngadu ke papah kalau saya kurang ajar. Sekarang terserah kamu mau saya goda atau saya ajarkan menyetir.."


Anita menatap Fajar dengan sebal, lalu dia menjulurkan lidahnya kepada Fajar.


"Weeekkkk.... Udah cepetan ajarin...... reseh pisan....".


Dalam hatinya Fajar sebenarnya sangat ingin memeluknya dan menciumnya... gemas dia melihat Anita. Tapi dia harus sabar sesabar-sabarnya.


Tak sedikit pria mencoba mendekati dan mengencani Anita, membuat Aryani menjadi was-was takut Anita salah memilih pria.


Juga dia khawatir pria muda nanti berbuat kurang ajar kepada anaknya.


Sudah menjadi kesepakatan orang tua dan anak gadisnya, pulang kuliah segera ke rumah tidak boleh langsung pergi ke lain tempat.


Kalau mau pergi lagi nanti setelah kembali dulu ke rumah.


Aryani dan Salim selalu meminta Fajar untuk menjadi pengawal pribadi Anita kemanapun.


Pergi ke acara ulang tahun temannya, nonton bersama temannya, ataupun ngobrol di cafe bersama temannya pasti selalu ada Fajar.


Anita sangat malu dan kesal tapi tidak berani marah karena itu permintaan orang tuanya.


Suatu kali ada pria kenalan barunya, dan pria itu ceritanya mengapeli Anita ke rumahnya.


Fajar diam-diam mengawasi Anita dan pria tadi yang sedang duduk di teras depan rumahnya.


Pria itu rupanya mencuri kesempatan dia berusaha ingin mencium Anita, belum sampai tangannya merengkuh tubuh Anita.... tiba-tiba...BUG...bogem mentah mendarat di pipinya.


Awalnya Anita marah kepada Fajar, namun saat diberitahu bahwa pria tadi akan berbuat kurang ajar kepadanya, maka Anitapun merasa malu.


Tahun demi tahun berlalu, Fajar sudah menjadi sarjana dengan lulusan terbaik. Membuat Salim dan Aryani terkejut karena tidak pernah melihat Fajar membuka buku.


Dia hanya bekerja dan bekerja, menuruti perintah majikan untuk melakukan apa saja atau menjaga Anita.


Bahkan saat ini kembali dia menerima beasiswa S2 untuk mengambil gelar psikologi profesi.


Anita diam-diam sudah mulai menaruh hati kepada Fajar tapi hatinya masih tertutup ego.


Anton gagal masuk universitas negeri, kembali Fajar mendapat tugas untuk mencarikan universitas swasta yang ada fakultas kedokterannya.


Fajar menyemangati Anton sampai dia diterima di kedokteran UNPAS.


Fajarpun lulus menyandang S2 dengan nilai tertinggi kembali, dan membuka klinik konsultasi di Wiharja Farma.


Awalnya sampai tiga bulan tidak ada satupun pasien yang berkonsultasi.


Sampai suatu hari ada kasus anak yang dipaksakan orang tuanya untuk menjadi anak super. Hingga anak itu stress berat dan menolak orang tuanya.


Dibawanya konsultasi dengan Fajar, dan luar biasa anak itu bisa sadar kembali dan normal kembali.


Bahkan orang tuanya pun bisa sadar dan memperlakukan anak nya dengan lebih manusiawi.


Dari situ nama Fajar mulai dikenal orang karena berhasil membuat seorang anak stress normal kembali.


Salim dan Aryani ingin menjodohkan Anita dengan Fajar, karena saat ini Anita juga usianya sudah mulai melewati 25 tahun.


Bahkan Anton adiknya saat itu sudah mulai mempunyai kekasih.


Anton sekarang mahir mengendarai motor, bahkan yang ukurannya besar harganya sangat mahal yaitu type Ninja 250 CC.


Namun naas tak lama berselang terjadi kecelakaan hebat terhadap Anton yang mengakibatkan hilangnya kesadaran dan juga kehilangan satu kakinya.


Fajar tak pernah absen selalu berusaha memanggil Anton dan mengajaknya bicara, bahkan menuntunnya untuk mendengar suaranya mengaji, saat Anton sudah dibawa ke rumah setelah melewati masa kritis.


Karena dalam ilmu yang dipelajarinya orang koma bisa mendengar hanya tidak paham caranya untuk sadar. Salah satu tetapnya adalah mengajak bicara terus menerus bergantian oleh semua anggota keluarganya.


Anita merasa terharu dengan perhatian Fajar kepada adiknya dan juga kepada keluarganya.


Disaat bersamaan ada pria bernama Tanoko Mulyo yang berusaha mencari cinta Anita.


Tanoko menyampaikan kepada Salim agar Anton dibawa keluar negeri saja agar ditangani oleh dokter ahli.


Dia berjanji akan membiayai seluruh pengobatan Anton dan juga akan masuk Islam asalkan dia bisa menikahi Anita.


Di saat Anita galau meminta pendapat kepada Fajar, dia mendapat satu kalimat yang tentu akan diingat Anita sampai kapanpun juga.


"Kalau aku jadi wanita pastinya akan memilih lelaki yang selalu ada untuk dirinya, karena lelaki itu dalam segala kekurangannya akan selalu berusaha memberi yang terbaik kepadanya".


Lima bulan kemudian Anton sadar atas hampir sembilan puluh persen adalah bantuan Fajar yang memberi terapi dengan mengajak seluruh keluarga untuk setiap hari berbicara kepada Anton agar otaknya merespon.


"Terima kasih adikku sudah sadar juga berkat bantuanmu. Sekarang aku mau tahu apakah kamu akan menjadi lelaki yang selalu ada untuk aku?"tanya Anita di suatu sore di depan kamar mess nya Fajar.


Mata Fajar membulat, tanpa bicara dia masuk ke kamarnya mengambil sesuatu dan dimasukan ke dalam saku celananya.


Lalu dia mengenggam tangan Anita dan membawanya kehadapan Salim dan Aryani.


"Oom Salim dan tante Aryani, saya ini lelaki sebatang kara dan seorang pegawai rendah tapi punya cinta yang tulus. Tujuh tahun saya menanti hati Anita terbuka untuk saya. Hari ini saya melamarnya dan liontin milik ibu saya ini sebagai tanda pengikatnya, " Fajar berkata dengan tatapan tegas dan pasti dihadapan orang tuanya Anita.


Dia mengeluarkan liontin milik ibunya dari saku celananya.


Salim dan Aryani tidak bisa berkata apapun selain bahagia akhirnya harapan mereka menginginkan Fajar menjadi menantunya terlaksana.


Ada air mengalir di pipinya saat Fajar mengaitkan liontin milik ibunya ke leher Anita pertanda ikatan cinta terjalin.


Sebulan kemudian terlihat Anita duduk disamping kursi roda bersama adiknya dibalik tirai di kamar bawah rumahnya.


Ada melati teruntai dikerudungnya, dan balutan gamis putih serta pulasan wajah yang sederhana tapi membuat dia sangat cantik hari ini.


Sementara di ruang keluarga di dalam rumahnya ada seorang lelaki yang telah memendam rasa kepadanya selama tujuh tahun lamanya.


Lelaki itu selama ini selalu hadir di sisi Anita, menemani marahnya, menemani tawanya, bahkan menenami sedihnya.


Hanya bedanya dulu lelaki itu bukan kekasihnya tapi hanya pegawai orang tuanya.


Lelaki itu juga selalu berusaha memberi yang terbaik kepada keluarganya tanpa menghitung lelahnya.


Salim Wiharja duduk bersebelahan dengan penghulu, dihadapannya ada seorang lelaki muda yang sangat dikenalnya.


Hari itu Salim menjabat tangan untuk menyerahkan anak gadisnya kepada lelaki yang dikenalnya sangat baik dan bertanggung jawab dalam melakukan berbagai hal selama ini.


Selepas Salim berucap menyerahkan Anita kepada lelaki itu dan dalam satu tarikan nafas lelaki itu berucap , " Saya terima nikah dan kawinnya Anita Wiharja binti Salim Wiharja dengan mas kawin berupa sepasang cincin emas 10 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai".


Penghulu berteriak sambil bertanya "Sah?!!".


Serentak yang hadir berseru " Sah...!!! Sah!!!! Sah!!!"


Anton menggenggam tangan kakaknya lalu membawanya keluar ruangan untuk disandingkan dengan kakak iparnya Fajar Sanjaya.

__ADS_1


__ADS_2