Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Ketiga Puluh Sembilan


__ADS_3

"Aku begitu hina...ya Allah apa salahku sampai harus menanggung kehinaan seperti ini,"isak Mela di kamar mandi saat dia membersihkan dirinya di pagi itu.


"Teteh....Teteh Mela........jawab atuh Teteh ....sedang apa dikamar mandi lama sekali....Teteh....!!!!"Sila berteriak sambil mengetuk pintu kamar mandi, dia khawatir Mela nekad bunuh diri atau semacamnya.


Mela lalu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih bersimbah air mata.


"Teteh sedang apa di dalam lama sekali....apakah sedang mengambil wudhu?" tanya Sila dengan wajah khawatir.


"Aku sedang tidak sholat, kamu mau ke air silahkan. Maafkan aku terlalu lama di dalam,"kata Mela sambil wajahnya lesu menahan sedih.


Lalu Sila ke kamar mandi mengambil Wudhu untuk menunaikan ibadah subuhnya.


Setelah selesai melaksanakan ibadah dia mendekati Mela sambil bertanya, "Teteh mau minuman hangat....nanti Sila ambilkan ke bawah yah...".


Mela hanya mengangguk sambil masih duduk dipinggir kasur. Dia tak tahu bagaimana caranya harus keluar kamar, dirinya merasa sangat malu dan terhina sekali. Merasa kotor karena semalam dirinya telah menjadi korban pelecehan Fabian.


Sila turun ke bawah dan dilihatnya ada Anton sedang duduk di kursi ruangan makan. Anton segera melihat Sila lalu beranjak menghampirinya.


"Sila..apakah Mela sudah bangun... bagaimana dia sekarang?" tanya Anton tampak khawatir dengan keadaan kekasihnya.


"Sudah bangun oom, ini Sila hendak membawakan minuman hangat. Kasihan Teteh Mela tidak bisa tidur nyenyak, dia gelisah terus semalaman," Sila menjelaskan kondisi Mela saat ini.


"Biar saya saja yang membawa ke atas minumannya, kamu boleh ke kamarmu untuk merapihkan diri yah, "Anton baik dan lembut kepada siapapun, sehingga Sila merasa segan kepadanya.


Lalu Sila memberikan segelas minuman berupa dua gelas teh jahe masih panas kepada Anton.


Segera Anton menuju ke lantai dua rumahnya untuk menemui kekasihnya, sambil membawa dua gelas teh jahe panas itu.


Sesampainya di ujung tangga atas dia bertemu dengan Anita yang kebetulan sedang mau turun ke bawah.


Saat melihat adiknya naik akan menuju kamar tempat Mela berada, maka Anita mengingatkan kepada Anton, "Anton... kamu harus sabar yah, pasti dia akan menolakmu karena masih sangat terpukul karena kejadian kemarin".


Anton hanya menganggukan kepalanya karena dia juga tidak tahu harus berkata apa kepada Mela.


Dia mendekati pintu kamar yang ada Mela di dalamnya. Pelan-pelan dia membuka pintu dan dilihatnya Mela sedang menatap keluar jendela sambil membelakanginya.


Perlahan Anton menutup pintu dan dia mendekati Mela.


Tersadar yang masuk bukan Sila, lantas Mela segera membalik dan dilihatnya Anton berdiri dihadapannya.


Melapun segera menangis lagi dan menghindari Anton. Dia jongkok di antara ujung kasur dan meja nakas sambil menangis.


"Aku sudah hina dan kotor, tidak pantas aku menjadi pendampingmu lagi dokter Anton. Aku sudah tidak berarti lagi," Mela menangis tersedu-sedu di ujung kasur dan tak mau memandang Anton.


"Ini minuman hangat untukmu Mela, teh jahe enak sekali. Kamu kurang tidur pasti butuh minuman ini untuk daya tahan tubuhmu, " Anton malah menawarkan minuman hangat dan tidak menanggapi masalah Mela.


"Teh jahe ini sudah jadi tradisi di keluargaku, walau aku tidak ingat kakek dan nenek karena mereka meninggal saat aku masih kecil sekali. Namun minuman seperti ini resep dari kakekku. Ayo cobalah sini duduk disampingku," Anton malah mengajak Mela untuk duduk disampingnya.


Mela masih terdiam, dia masih jongkok di pojokan kasur sambil wajahnya menatap tembok.


Anton lalu beringsut mendekati Mela, disimpannya kedua gelas berisi teh jahe di atas meja nakas kecil disamping tempat tidur.


Lalu dia menyelonjorkan diri di sebelah Mela.


"Aku sulit kalau harus berjongkok lama sepertimu. Jadi aku di sini saja yah selonjoran...cuma sekarang aku yang sulit menggapai gelas teh jahenya. Mela, tolonglah ambilkan segelas untukku".


Mela melirik ke arah Anton yang sekarang duduk tepat di belakang punggungnya.


Lalu dia menengok di sebelahnya tepat di atas meja nakas kecil yang mengapit tubuhnya terlihat dua gelas teh jahe yang harum dengan asap yang masih mengepul di atasnya.


Ya posisi Mela berada diantara ujung kasur dengan meja nakas kecil di sebelah tempat tidur.


Karena tubuhnya kecil jadi dia bisa menyusup ke tengah-tengah itu.


Anton yang tubuhnya lebih besar tak mungkin menyusup kesitu jadi dia duduk berselonjor di belakang punggung Mela.


Lalu tangan Mela bergerak mengambil salah satu gelas di meja dan menyerahkannya kepada Anton sambil tetap membelakanginya.


"Ah..terima kasih...tapi masa sih aku minum sendirian... Ayolah minum bersamaku dan jangan terus berposisi seperti itu...karena sehabis minum teh jahe sewaktu-waktu kamu bisa mengeluarkan gas kapan saja...,"Anton santai sekali bahkan mencoba menggoda Mela.


"Ayolah duduk menyamping seperti aku, kita minum teh jahenya selagi masih hangat".


Lalu Mela bergerak menyamping dan mengambil gelasnya. Sambil meminumnya dia menatap Anton sebentar lalu kembali menghirup teh jahe yang begitu hangat nikmat mengalir ke seluruh tubuhnya.


DUUUUUTTTTTTT.....!!!!!!


Keluar suara kencang dari belakang Anton setelah minum teh jahe itu, untung tidak berbau hanya suaranya kencang sekali.


Mela meringis menahan tawa, sementara Anton tetap cuek saja sambil senyum-senyum.


Perut Melapun terasa kerubukan tanda angin di dalamnya mulai turut berontak ingin dikeluarkan.


"Kalau mau mengeluarkan gas yah.. keluarkan saja jangan ditahan... nanti malah bisa berbahaya perut terasa kembung, dan begah dalam istilah kedokteran disebut Gastrointestinal,"


PREEETTTT.....!!!!!


Wajah Mela semburat merah menahan malu karena yang keluar dari belakang tubuhnya berbunyi kencang dan parahnya sepersekian detik kemudian mengeluarkan aroma yang luar biasa semerbak baunya.


Anton lalu tertawa sambil menutup hidungnya, Mela aura wajahnya merah keunguan karena malu luar biasa.


"Waduh...hahahaha...kamu berapa hari tidak buang air?" tanya Anton masih sambil menutup hidungnya.


"Aku kalau buang air lancar setiap hari, mungkin karena aku sedang haid,"jawab Mela dengan wajah malu tertunduk tapi menahan tawa.


"Kalau sedang haid jangan minum soda, yogurt juga jangan makan roti atau asinan. Itu memicu perut kembung berangin, "kata Anton sambil mulai bisa menghirup oksigen lagi.

__ADS_1


"Aku bahkan belum makan apapun dari semalam, rencananya semalam setelah dari supermarket ingin jajan bubur ayam dipinggir jalan sana.....eh....malah ketemu setan alas, "kata Mela kembali kesal mengingat kejadian semalam.


"Kita cari bubur ayam yuk, pagi begini pasti banyak yang jualan di kaki lima dekat sekolahan di sana, " ajak Anton kepada Mela yang terlihat tampak kelaparan.


"Kamu tidak jijik sama aku....semalam setan itu telah mencoba memegang tubuhku..," ujar Mela dengan menatap Anton dengan wajah memelas.


"Kamu kan terpegang...bukan sengaja meminta dipegang atau memegangkan diri...jadi Kamu sekarang korban bukan pelaku....benar tidak ...., "ucap Anton santai sambil mengusap air di ujung mata Mela.


"Tapi aku merasa rendahan sekali... merasa hina atas kelakuan Fabian kepadaku...untung saja koko Fajar segera datang menolongku...Aku benci dilecehkan seperti itu...jijik rasanya...," Mela kembali sedih mengingat kejadian semalam saat Fabian berusaha melecehkannya.


"Seakan aku ini perempuan murahan yang mau saja dibawa ke hotel seperti itu...Aku benci sekali....benci....padahal tak pernah sekalipun aku menggoda dia...selalu dia yang memperlakukan aku kasar..".


"Dia pernah menghina aku dengan mengatakan ingin menjadikan aku wanita simpanannya....dia perlihatkan uangnya....dia juga suka menghinamu... mengatakan Anton dokter kampung...".


"Mending kamu yang dokter kampung daripada dia dokter bejat...sialan aku kesal sekali sama setan itu..," Mela mencak-mencak kesal dan benci sekali mengingat perlakuan Fabian.


"Kok pacarku jadi kasar bicaranya, sudahlah jangan kamu pikirkan....kita lupakan dia...kita cari bubur ayam saja yuk...mumpung ada sopir dari Cirebon yang mengantar... , "ajak Anton lagi kepada Mela.


"Sopir...siapa sopirnya?"tanya Mela merasa aneh ada sopir dari Cirebon.


"Nanti juga kamu tahu, "jawab Anton sambil menggamit lengan Mela saat berusaha bangkit berdiri.


"Tapi aku belum mandi, "ujar Mela ingat kalau dia belum mandi pagi itu.


"Sama dong...yuk sudah kita jalan saja".


Sesampainya di bawah terlihat ada Jaya dan disitu Mela mulai ngeh siapa sopir yang dimaksud.


Anita bertanya mereka mau kemana, lalu setelah Anton memberitahukan segera Anita juga mengijinkan mereka pergi.


"Ton kalau bisa agak lama yah...soalnya di sini akan ricuh. Istrinya Fabian akan kemari, aku dan Fajar akan menghadapi mereka....kau bawa Mela dulu yah agar tenang hatinya, "Anita meminta Anton untuk segera pergi jangan sampai Mela tahu Fabian masih di garasi rumah mereka.


Di depan apotik tertulis bahwa hari ini mereka libur dan akan dibuka kembali esok harinya.


Semua karyawan sepakat tidak akan menyampaikan kejadian ini ke ruang publik, bahkan kepada orang tuanya Anita yaitu Salim dan Aryani.


Bahkan Pertiwi yang pagi itu sudah datang ikut geram, dan dia meminta suaminya untuk hadir menemani Fajar yang akan melakukan negosiasi dengan pihak keluarga Fabian.


Pukul tujuh pagi tertera di dinding rumah Anita, di ruang keluarga yang biasanya untuk menonton televisi, saat ini digunakan untuk menyidang Fabian.


Di ruangan itu sudah ada Sofia Samsara istrinya Fabian ditemani oleh kakak lelakinya yaitu Arya Samsara, keduanya duduk sambil mendengarkan kesaksian dari Sila selaku sahabatnya Mela dan juga Yanto selaku pegawai apotik yang merangkap sebagai asistennya Fabian.


Menurut kesaksian Sila, karena kebetulan satu kamar dengan Mela, hampir setiap malam dokter Fabian selalu menelepon Mela dengan ucapan-ucapan yang bernada merendahkan Mela seakan meminta Mela untuk mau menjadi wanita simpanannya.


Bahkan dalam beberapa kesempatan Fabian menelepon dengan berkata-kata yang tidak selayaknya diucapkan oleh seorang yang berpendidikan tinggi, semacam kata-kata kotor ajakan untuk berhubungan intim.


Apabila Mela tidak mau menerima teleponnya, maka keesokan harinya pasti Mela dimaki-maki di ruangan prakteknya Fabian.


Bukan itu saja Fabian kerap menghina Anton sebagai kekasih Mela dengan mengatakan dokter kampung dan cacat yang tidak akan bisa menikahi Mela.


Tak lama Yanto dimunculkan, dan benar seperti apa yang dikatakan Sila bahwa sering sekali Yanto mendapati Mela dimaki-maki oleh Fabian tanpa alasan yang jelas.


Selebihnya Yanto tidak paham lagi, hanya benar dia sering diminta oleh Fabian untuk memanggil Mela dan setelah hadir biasanya hanya dimarahi tanpa Yanto paham apa kesalahan Mela.


"Bolehkah saya bertemu dengan gadis yang bernama Mela itu, sebenarnya dia siapa, saya hanya ingin yakin saja gadis seperti apa dirinya, "Sofia meminta ijin kepada Anita untuk dipertemukan dengan Mela.


Fajar dan Anita setuju bahwa nanti mereka akan memunculkan Mela.


Lalu Sofia menatap Fabian dan berkata, "Suamiku kalau memang kau ingin menikah lagi dan tak puas denganku, mengapa tidak bicara baik-baik saja. Mungkin bisa kita pikirkan jalan terbaik, bukan berlaku seperti ini yang malah membuat aib bagi keluarga kita".


Arya yang sedari tadi berdiam lalu ikut berbicara, "Maafkan kami pak Fajar...ibu Anita...kami memang non Muslim, kami adalah penganut Buddhis...namun mungkin sama saja di agama manapun kalau memang ingin berpoligami haruslah ada ijin dari istri pertama dan diajaran kami kalau sampai hal tersebut terjadi apabila istri pertama kedapatan sakit atau tidak bisa memberikan keturunan".


"Selama ini sepengetahuan saya, Fabian tampak baik kepada adik saya dan juga anak-anaknya. Namun saya tak menyangka dia telah berbuat karma buruk dan sekarang terbukti karma buruk telah mencelakakan dirinya sendiri".


"Benar pak Arya, tapi mohon maaf mungkin masalah agama dan lainnya silahkan di kaji lagi di keluarga anda khususnya untuk masalah Fabian".


"Saat ini kami menyatakan kontrak kerja dengan dokter Fabian sebagai tenaga ahli di klinik kami telah dibatalkan".


"Sudah tercantum dalam perjanjian yang telah kami tanda tangani bersama bahwa apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh salah satu pihak, maka perjanjian dapat kami batalkan secara sepihak," Fajar dengan berapi-api menjelaskan pembatalan kontrak kerja dengan Fabian.


Dan Anita juga sudah mempersiapkan semua sisa kewajiban yang harus merekanl bayarkan kepada Fabian berikut detail rinciannya. Dan uang tersebut diserahkan kepada Sofia, disitu Sofia baru sadar selama ini suaminya bahkan tidak pernah jujur soal pendapatan perbulannya kepada dirinya.


"Teganya kau Fabian, ini uang begitu banyak aku terima bahkan kalau aku meminta uang untuk membeli susu anakmu....Aku harus seperti pengemis, kau bentak dan marahi aku, kau katakan aku boros...padahal serupiahpun uang darimu tak pernah aku pakai untuk keperluan pribadiku...Semuanya Aku gunakan untuk keperluan anakmu....aku membeli sehelai baju dari keringatku menjadi seorang penulis artikel di suatu media....tak pernah disentuh uangmu untuk kepentinganku, "Sofia menangis terpukul merasa dibohongi dan dikhianati oleh suaminya.


Anita yang menjadi tidak enak hati, dia tidak ada maksud untuk membuat Sofia menjadi bersedih tadinya hanya sekedar memberikan...tapi malah ternyata membuka tabir kesewenang-wenangan Fabian kepada istrinya.


Fabian mempunyai pendapatan yang cukup fantastis tapi dia selama ini berlaku tidak jujur kepada istrinya, tak pernah terbuka soal pendapatan.


Selama ini dia mempergunakan untuk hura-hura sendiri dengan bermain cinta dengan berbagai wanita.


Dalihnya selalu saja dia ungkapkan kalau menikah dengan Sofia karena dijodohkan sehingga dia tak pernah mencintai istrinya.


Padahal Sofia istri yang baik, dulu dia mau dijodohkan dengan Fabian karena permintaan orang tuanya dan juga orang tua Fabian.


"Bu Anita...kami memang menikah karena perjodohan, ayahku dan ayahnya Fabian yang telah saling berjanji akan menikahkan kami anak-anaknya".


"Ayahku dulu menolong ayah Fabian saat mereka bangkrut tertipu orang dan ayah Fabian yang merupakan seorang dokter mata yaitu almarhum Dharma Danubrata telah menyembuhkan ibuku dari kebutaan, "Sofia mengisahkan pernikahannya dengan Fabian kepada Anita yang tengah memeluknya karena dirinya menangis.


"Padahal kalau kau dulu menolakku, akupun tak apa-apa. Aku menerima perjodohan ini karena kau yang sudah menyatakan lebih dulu untuk menikah denganku. Tapi ternyata semuanya kau khianati...pernikahan kita, keluarga besar kita juga anak-anak kita, "Sofia menangis sambil menatap Fabian yang sedari tadi diam tak bergeming.


Mela sudah makan bersama Anton dan Jaya. Dirinya sudah merasa tenang karena Anton tidak menyalahkannya atas kejadian kemarin. Hanya Anton meminta kepadanya agar jangan sampai keluar malam sendirian lagi, karena Anton jauh tapi ada Wahyu yang bisa menemaninya.


Jaya melihat keduanya tampak mesra, merasa sedikit iri hati karena sampai saat ini belum ada satupun wanita yang benar-benar bisa diajak untuk menikah dengannya.


Dia belum menemukan wanita yang tulus seperti Mela menerima kekurangan Anton, dia ingin menemukan wanita yang bisa memandang dirinya dari ketulusan bukan dari fisik atau materinya.

__ADS_1


Anton menggenggam tangan Mela memasuki rumahnya diikuti oleh Jaya di belakang mereka.


Dan Mela terhenyak saat melihat di dalam rumah Anton ternyata banyak sekali orang.


Ada bang Togar dan kawan-kawannya, lalu ada seseorang yang tak dikenalnya duduk bersama Fajar.


Dan juga ada seorang wanita yang pernah dia kenal yaitu istrinya Fabian yang dulu pernah berkunjung juga ke rumah ini bersama Fabian dan anak-anak mereka.


Disebelahnya duduk seorang pria yang tampak agak berumur dan berwajah bijak seperti seorang biksu Budha.


Mela diminta duduk di dekat Anita, sementara Anton berdiri tepat di belakangnya sambil memegang bahu Mela.


"Mela....tolong Kamu ceritakan dari awal apa saja yang Fabian lakukan kepadamu. Jangan ada yang kamu tutupi dan juga jangan takut. Kebenaran harus kamu ungkapkan, paham kan maksudku , "Anita meminta Mela untuk membeberkan semua apa yang dia rasakan selama ini.


Anton memegang tangan Mela yang sangat dingin, dia menyemangati dengan memberikan genggamannya kepada Mela.


Lalu mulailah Mela menceritakan semuanya dan apa yang dia sampaikan sama persis dengan yang Sila maupun Yanto sampaikan sebelumnya.


"Mengapa tidak kamu laporkan kepada aku....kamu seharusnya dari sejak awal melaporkan perbuatan buruk Fabian terhadapmu kepadaku, " kata Anita sambil memeluk Mela yang mulai menangis.


"Saya tidak berani cici... karena Fabian mengatakan akan memutar balik fakta dan dia akan menyakiti teman-teman yang bekerja di sini apabila saya berani mengadukan perbuatannya kepada cici dan koko Fajar, "ujar Mela sambil berurai air mata di pipinya.


"Bagaimana caranya suamiku akan menyakiti semua karyawan di sini kalau kamu melaporkan perbuatannya?"tanya Sofia kepada Mela merasa tidak yakin dengan ucapannya.


"Maaf bu Sofia...maafkan kalau saya lancang.... di tas kerja dokter Fabian ada sepucuk senapan. Dan itu pernah diperlihatkan kepada saya, dia bahkan pernah mengancam saya dengan mengacungkan senapannya kepada saya, " Mela menjelaskan kepada Sofia yang membuat semua orang terkejut mendengarnya.


Fajar lantas berlari ke depan apotik menuju mobilnya Fabian karena kebetulan dia masih memegang kunci mobilnya Fabian.


Segera dia mengambil tas kerja Fabian yang ada di jok sebelah pengemudi dan segera membawanya ke dalam rumah.


Sesampainya di rumah Fabian segera membuka tas itu dan benar ternyata ada sepucuk senapan kecil di sana.


Kebetulan ada IPDA Akbar Prasetya suaminya Pertiwi, selain keluarga Anita dan Fajar tidak ada yang tahu kalau dia adalah Polisi karena saat itu hanya memakai kemeja biasa.


IPDA Akbar menelepon kantornya meminta bantuan rekannya untuk melakukan pengecekan melalui database daftar pemilik senapan, dia menyampaikan nomor seri yang ada di pucuk senapan itu.


Tak lama dia mendapat balasan bahwa nomor seri itu tidak tercatat kepolisian, sehingga segera diputuskan bahwa kepemilikan senapan tersebut adalah ilegal.


Lantas senapan itu segera diamankan oleh IPDA Akbar, dengan dalih akan diserahkan kepada yang berwenang.


Anton tampak dipanggil oleh Fajar yang terlihat bertanya sesuatu kepadanya dan pembicaraan mereka sangat serius sekali.


Anton tampak terdiam sebentar , lalu dia menyampaikan sesuatu kepada kakak iparnya itu.


Tak lama kemudian kakak iparnya beranjak berdiri sambil menepuk bahunya Anton.


Setelah itu Fajar berdiskusi sebentar dengan IPDA Akbar dan keduanya tampak mengangguk-anggukan kepala tanda saling memahami.


Fajar duduk kembali di antara semua yang hadir, sambil menatap Fabian dia mulai berkata," Fabian...sebenarnya diantara kita bisa saling menuntut... kami menuntut kamu telah melecehkan saudara perempuan kami...".


"Dan dari pihakmu bisa menuntut kami karena semalam kami telah melakukan tindak main hakim sendiri terhadapmu".


"Pertanyaannya adalah apakah akan kita lanjutkan perkara ini sampai kepada pihak kepolisian".


"Kalau misalkan dilanjutkan tentu kami yang akan menang karena dari pihakmu sudah kenyataan bersalah...bahkan bisa memberikan efek kepada kehancuran kariermu karena media pasti akan ikut menyorotimu...".


"Kalau tidak dilanjutkan kami juga tidak tidak akan menuntut apapun lagi ... Hanya tolong tinggalkan tempat ini secepatnya dan silahkan bawa semua barang-barangmu jangan sampai ada yang tertinggal barang satupun.


Tolong diingat jangan pernah berharap ada kerjasama lagi diantara kita, titik.!"


Fajar mengakhiri pernyataannya yang sedari tadi disampaikannya sambil menggebu-gebu.


Sofia dan Arya saling berbisik, dan kemudian Arya berkata," Baik pak Fajar terima kasih atas penyampaiannya, dan saya pribadi sebagai perwakilan dari keluarga Fabian Danubrata menyampaikan bahwa kami tidak akan memperpanjang kasus ini".


"Soal pemukulan yang telah dilakukan oleh bapak Fajar dan teman-teman kepada Fabian, sudah kami anggap wajar karena mungkin kami juga akan bertindak sama jika saudara perempuan kami diperlakukan demikian".


"Yah pak Fajar....ibu Anita.. saya mohon maaf sebesar-besarnya atas tindakan suami saya kepada saudari Mela. Dan kami mohon biarlah kita selesaikan di sini secara kekeluargaan dan saling mohon pengertian agar masalah ini jangan sampai terbuka ke publik," Sofia juga menimpali pernyataan yang disampaikan oleh kakaknya.


Akhirnya kesepakatan terjadi, diantara mereka tidak akan saling dendam dan saling melaporkan. Juga tidak akan saling menyampaikan ke publik.


Apabila sampai ada publik sampai tahu sumbernya bukan dari keluarga Wiharja maupun keluarga Danubrata.


Fabian pulang bersama istri dan kakak iparnya dengan membawa semua perlengkapan yang selama ini ada di ruangan prakteknya.


Mela sudah diberitahu oleh Anton bahwa kesepakatan yang disampaikan Fajar tadi sebelumnya sudah dibahas dulu bersamanya.


Dan Mela juga sudah mengikhlaskan semua permasalahan kepada keluarga Anton yang menanganinya dan dia sangat bersyukur keluarga Wiharja begitu peduli dengan dirinya.


"Wahyu......Wahyu....sini sebentar!!!" teriak Fajar kepada Wahyu yang sedang mengantarkan bang Togar beserta kawan-kawannya berpamitan.


Togar dan kawan-kawannya juga mendapatkan uang lelah yang cukup lumayan dari Fajar di sore itu.


Dan IPDA Akbar tadi sudah berbincang dengan Fajar, dan beliau bersedia untuk mengamati gerak gerik Fabian secara diam-diam.


Tadi di dalam sama sekali tidak membahas bahwa ada polisi yang hadir, itu adalah skenario IPDA Akbar agar kehadirannya tidak dikenali sebagai polisi.


"Ya ko Fajar ada apa?"tanya Wahyu sambil menghampiri Fajar yang sedang melihat daftar papan nama dokter yang terpampang di halaman apotik.


"Tolong kamu ambil tangga sambil bawa tang, obeng dan peralatan lainnya, lalu naik ke atas itu yah...tolong nama Fabian dicabut dari deretan nama dokter di sana...oke,"pinta Fajar kepada Wahyu yang disambut dengan gerakan siap ala militer oleh Wahyu.


Sore itu Wahyu memakai tangga naik ke atas deretan papan nama dokter yang terpampang di sana.


Dan papan nama bertuliskan "DR. FABIAN DANUBRATA Sp.M" dicabutnya dan dilemparkan ke bawah ke tanah.


Sesampainya dia ke bawah lalu papan nama itu diinjak-injaknya dan kemudian dibakarnya di tong sampah besar yang ada di halaman depan apotik.

__ADS_1


__ADS_2