Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kedua belas


__ADS_3

Mela melihat dapur paviliun sangat berantakan sekali. Sampah plastik berceceran dan buah-buahan pun tergeletak di meja dengan begitu saja. Lalu gelas kotor bekas susu dan piring bekas makan sesuatu yang semua menumpuk begitu saja di meja makan.


Dicucinya semua peralatan makan dan minum yang kotor. Plastik sampah dikumpulkan dan dibuang ke tong sampah. Lalu dia keluar menuju ke dapur wak Atin, dia minta kotak atau keranjang kecil yang tak terpakai kepada Narti.


Kebetulan ada dan dia segera kembali ke paviliun, lalu dicucinya semua buah-buahan yang terdiri dari jeruk dan buah naga.


Dalam hati bertanya-tanya kenapa sih dokter Anton kok tiba-tiba seberantakan ini, apakah sesungguhnya dia orang yang tidak resikkah?


Ketika hendak membuka pintu lemari es tampak ada tulisan terselip di magnet "Maaf tolong beresin yah, saya buru-buru".


Mela hanya tersenyum saja melihatnya dan memasukan semua buah ke dalam lemari es.


Ketika menengok ke dalam kamar dokter pun terlihat kasur dan selimut masih berantakan. Padahal biasanya dokter selalu merapihkan sendiri. Mungkin memang dokter sedang ada urusan mendadak di puskemas.


Sebelum jam 6 pagi tadi dokter Anton memang sudah meluncur pergi meninggalkan paviliun. Tampaknya tergesa-gesa sekali, beberapa orang yang sempat melihat pasti berpikir ada sesuatu yang gawat di puskemas.


Sebelumnya memang Anton mendapat chat dari Jaya pas setelah selesai sholat subuh tadi.


J: Dok, nanti jam 6 pagi ketemu di jembatan kuning yang menuju arah puskesmas yah. Saya tunggu disana.


A: Ada apa bro?


J: Pokoknya urgen dok, harus dokter saksikan sendiri.


A: Ya sudah nanti saya kesana.


Sementara Jaya mengirim pesan chat sambil senyum-senyum sendiri.


Setibanya di jembatan kuning, memang Jaya sudah menantinya dan memberi kode agar Anton mengikutinya.


Tak lama merekapun tiba di suatu tempat seperti warung makan, dan memang benar warung nasi jamblang.


Nasi Jamblang adalah makanan khas Cirebon yang mempunyai ciri khas makan nasi yang dibungkus daun jati. Pada umumnya dimanapun nasi dibungkus oleh daun pisang, hanya Cirebon yang memiliki ciri khas tersendiri cara membungkusnya dengan daun jati.


Lauknya bebas pilih sendiri, ada telur, tahu, tempe, ayam goreng dan sebagainya. Tentunya yang membuat selera makan tambah nikmat adalah sambalnya yang pedas.


Biasanya pembeli makan dulu, baru saat membayar diuji kejujuran apa saja yang tadi dimakannya. Karena penjual tidak memeriksa satu per satu.


Anton heran mengapa dia sepagi ini dibawa kesini, padahal di dekat puskesmas juga ada penjual nasi jamblang yang enak.


Dan Jayapun menjawab sambil memasang wajah nakal," Dok, itu yang jualnya namanya Yu Nanik, coba lihat, cantik dan seksi kan dok....hihihihi.. Jendes mudes* kata orang sih".


(*\= janda muda)


" Astagfirullah Jaya...sinting kamu, kupikir ada sesuatu yang gawat ternyata cuma kayak gini", ujar Anton sambil geleng-geleng kepala.


"Masalahnya dok, siang sedikit habis dok, tidak akan kebagian,"Jaya membela dirinya.


Lalu merekapun tertawa bersama sambil makan, dan memang warung nasi itu penuh berjubel, dan kebanyakan lelaki semua yang datang, terutama yang bermata mesum seperti Jaya.

__ADS_1


Ternyata memang penjualnya yang bernama Yu Nanik itu seakan sengaja berdandan dengan menggunakan pakaian yang bagian atasnya terbuka cukup lebar dan juga sangat ketat mencetak lekuk tubuhnya yang sintal.


Dasar Jaya si mata buaya, selalu saja paham urusan seperti ini.


Setibanya di puskemas, sontak semua ramai menggoda dokter Anton yang telah sukses dikerjai Jaya untuk makan di warung Yu Nanik.


"Siapa tahu dokter mau boyong ke paviliun, hahahaha.. lumayan dokter nanti hati senang perut kenyang".


Nasib jomblo mapan, pasti selalu jadi bahan candaan teman-temannya. Tapi Anton tak kalah akal, selalu bisa menangkis telak mereka semua,"Beda saya sih sama Jaya, motor sih saya cari seken, kalo boyongan sih nanti cari yang orisinil dong".


Langsung disambut gelak lagi oleh teman-temannya sambil menunjuk kepada Jaya yang sekarang hanya tersipu-sipu.


Sambil memeriksa pasien satu persatu yang jumlahnya terus bertambah setiap harinya, terutama kaum manula, tetapi pikirannya menerawang kepada Mela.


Ada rasa sedikit kasihan kepadanya, pasti Mela pagi tadi sibuk membersihkan paviliunnya. Namun dalam hatinya masih saja tergelitik penasaran atas apa yang dilihatnya kemarin ini. Dia berencana nanti malam akan mencoba membuntuti Mela, setelah semalam dia pelajari lokasi dekat hotel disana. Ada masjid juga tak jauh dari hotel itu, dalam hati dia rencananya akan mengikuti dari Mela pergi nanti.


Karena hari ini adalah Jum'at, maka seluruh umat muslim terutama kaum pria wajib melaksanakan Sholat Jum'at.


Antonpun bersama dengan rekan kerjanya melaksanakannya di masjid yang tidak jauh dari puskesmas.


Ini adalah sholat jum'at pertamanya di Cirebon, dan hari itu dia menjadi pusat perhatian hampir seluruh jemaah yang akan bersembahyang di masjid.


Seorang dokter yang gagah setiap harinya, siang itu kembali menjadi pusat perhatian karena tidak hanya menanggalkan sepatu tetapi kaki kirinya juga.


Hal ini semakin menambah kekaguman bagi sebagian besar orang, bahwa dokter muda itu tidak menyerah kepada keadaan tetap semangat mencari Allah walau kondisinya tidak sempurna.


"Memang dokter itu berbeda yah, ternyata dia seorang muslim Tionghoa, walau kakinya cacat tapi rajin ibadahnya. Kagum melihatnya,"beberapa orang saling berbisik demikian.


Wak Atin dengan sumringah mendekati Anton sambil ditangannya menenteng sesuatu, namun anak gadisnya tampak sebal dan dia cemberut saja melihat kelakuan ibunya.


"Ini jus buah enak buat dokter Anton dari anak saya,"kata wak Atin.


Dengan wajah terpaksa Anton tersenyum dan menerimanya.


" Terima kasih bu, padahal tidak usah repot-repot".


" Tidak apa-apa loh, ini kan tanda perhatian kami buat dokter. Kan dokter kemarin baru beli kulkas yah".


"Baik bu saya terima, maaf permisi saya mau kedalam dulu".


Lalu Anton pamit masuk dan wak Atin pun beserta Wiwit kembali ke rumahnya.


"BUNDA!!! kesal aku bikin malu saja," Wiwit masuk ke rumah sambil berlari dan berteriak.


"Heh.. dasar anak bodoh, bunda yang seharusnya malu melihat kamu pasang muka seperti itu. Harusnya senyum sama dokter tuh biar dia kesengsem sama kamu," kata Wak Atin blak-blakan.


" Pokoknya Wiwit tidak mau sama dokter itu, Wiwit tidak suka!!!"lalu dia masuk kamar sambil menutup pintu keras.


"BRAAKKK!!!"

__ADS_1


" Susah kalau punya anak bodoh, orang tua memilihkan yang baik malah menolak.. kesal bunda sama kamu," kata Wak Atin sambil menghempaskan dirinya ke kursi dan merasa geram sekali dengan anaknya.


Sementara di paviliun Anton membuka bungkusan dari bu Atin dan ternyata isinya memang jus buah kemasan.


Anton tidak suka jus buah kemasan seperti itu karena menurutnya rasanya tidak enak.


Jus kemasan disimpan di meja begitu saja, dia harus cepat mandi dan hari ini kalau Mela pergi akan dibuntutinya.


Anton sudah mendahului pergi saat menjelang maghrib, karena dia tak mungkin bisa mengejar Mela apabila kakinya sedang dibuka.


Dari kejauhan dia duduk diatas motor sambil menatap ke arah gerbang. Benar saja setelah maghrib Melapun muncul dan langsung mencegat angkot.


Lalu Antonpun melaju mengikuti Mela dari belakang tanpa diketahui oleh Mela.


Sesampainya di jalan raya utama kota, tepat di depan hotel kemarin terlihat Mela turun dari angkot. Kemudian tak lama tampak menyeberangi jalan menuju ke arah hotel.


Anton mendekat ke arah hotel, namun ternyata Mela tidak masuk ke hotel itu, dia malah berjalan ke jalan samping hotel dan terus berjalan sekitar 200 meter terlihat papan bertuliskan "SEKOLAH TINGGI TUPAREV".


Terkejutlah Anton, ternyata Mela pergi untuk kuliah. Dan di jam seperti ini pasti kuliah kelas karyawan. Anton tersenyum sendiri, hatinya senang karena dia salah duga tentang Mela.


Setelah memastikan pandangannya Mela memasuki suatu ruangan kelas, lalu Antonpun pergi dari situ menuju Masjid yang tak jauh dari sana.


Sampai lepas Isya Anton disana, kemudian dia dengan santai mengenakan kembali kaki kirinya. Beberapa orang yang melihat tersenyum kepadanya.


Kemudian dia melaju menuju depan kampus, disana ada warung kopi dan diapun duduk disana menanti Mela sambil mengobrol dengan bapak penjaga warung.


Sementara Mela malam ini hanya ada 1 jadwal kuliah dan sudah berakhir. Dia sedang berhadapan dengan dosen pembimbingnya yang memang terkenal killer, namanya bapak Cahyadi.


"Saya ingin skripsimu itu isinya tidak dangkal, yang kamu ajukan sama seperti laporan akuntansi anak SMA,"pak Cahyadi menyampaikan penjelasan kepada Mela.


" Tapi pak saya yang membangun sistem di toko tersebut pak, dari yang awalnya berantakan bisa saya konsep menjadi rapih," debat Mela kepada dosennya.


"Saya paham Melati, kamu pandai bisa membereskan yang berantakan di suatu toko menjadi teratur dengan konsep pembukuanmu, tapi tidak ada disana dibahas secara detail alur keluar masuk pendapatan dan pengeluaran yang transparan," kembali pak Cahyadi menekankan maksudnya.


"Yang kamu buat memang sudah baik, tapi pengelolaan dana yang terkumpul setelah uang masuk menjadi apa, bagaimana pengembangan investasi dan lainnya kamu tidak bisa ungkapkan. Jadi itu yang saya maksud dengan mentah sekali pengajuan skripsimu itu".


Pak Cahyadi memandang Mela yang sedang tertunduk. Lalu kembali beliau melanjutkan penjelasannya kepada Mela.


"Melati, toko yang kamu buat proses pembukaannya itu kalau terus seperti itu, dimana pengelolaan keuangan tidak jelas seperti itu, hati-hati suatu saat bisa menuju kebangkrutan. Coba kamu pahami hak itu. Lebih baik dalam skripsimu itu membahas proses perbaikan manajemen keuangan toko tersebut, kalau hanya sistem pembukaannya saja yang kamu angkat, maaf kembali saya tolak".


Mela pun mengucapkan terima kasih atas penjelasan dosennya, kemudian dia pamit. Sambil meninggalkan ruangan dosen dia berpikir benar apa yang dikatakan tadi, karena selama ini uang masuk ke saku dan rekening wak Atin tanpa dia ketahui digunakan apa atau dikelola bagaimana oleh wak Atin. Dan tak mungkin dia bisa menanyakan hal itu, pasti yang ada dia akan di tuding yang bukan-bukan.


Sambil berjalan keluar kampus, dia melewati warung kopi dan tidak sadar ada Anton disana, sampai dia ditepuk pundaknya dan menjerit," Waaawwww!!!. Aduh dokter, Masyaallah ngapain disini?".


"Yuk pulang bareng saya".


" Wah, hayuk dok, naik apa dok?".


"Itu motor saya disana".

__ADS_1


" Kebetulan ada dokter nih , saya lapar sekali dok".


Anton tersenyum lalu mengajak Mela makan. Mela memilih makan nasi pecel lele, dan malam itu dokter Anton terkesima melihat gadis itu makan dengan lahap sampai menambah nasi lagi setengah porsi.


__ADS_2