
Beberapa tahun yang lalu diawal karier Fajar menjadi seorang konsultan psikologi ada seorang anak yang berhasil dia sembuhkan.
Seorang anak perempuan yang terlahir dari orang tua yang kaya raya. Sejak anak itu masih kecil, ibunya dengan semangat memasukan sang anak ke berbagai kursus privat.
Pagi hari si gadis kecil sekolah, siang sepulang sekolah mengikuti kursus matematika, menjelang sore les biola. Itu jadwal awal minggu, hari berikutnya sepulang sekolah lanjut kursus balet dan kursus menyanyi. Begitu setiap harinya, entah itu kursus berenang, bahasa Asing dan lain sebagainya.
Dikala malam sudah penatpun sebelum mata tertutup karena lelah masih ada sesi hafalan surat pendek bersama ibunya.
Tak pernah dirinya merasa senang tertawa bermain lompat tali bersama kawan-kawannya, tak pernah tangan mungilnya menyentuh tanah atau pasir membuat permainan rumah-rumahan atau sejenisnya bersama anak sebayanya.
Tak pernah kakinya terluka karena terjatuh saat bermain kejar-kejaran atau berlarian menyusuri pematang atau pinggir sungai.
Sejak kecil yang dia ingat adalah kursus dan kursus. Dan kemanapun selalu ada suster berpengalaman yang selalu siap membersihkan telapak tangan kecilnya dan kaki kecilnya kalau tak sengaja memegang sesuatu yang diperkirakan banyak bakteri.
Makanan dan minuman bergizi tak pernah terlewatkan, daging, telur, buah, sayuran dan susu setiap hari. Tak pernah lidah mungilnya merasakan nikmatnya kerupuk putih melingkar, mulut kecilnya tak pernah merasakan asamnya mangga muda yang terjatuh dari pohon atau kecutnya ketika beradu asam jawa lalu memakannya bersama teman seusianya.
Di belakang rumahnya ada satu ruang besar khusus dia bermain, ada ayunan, perosotan, sepeda, sepatu roda semuanya ada. Namun semua dia lakukan seorang diri hanya ditemani suster profesionalnya.
Dilarangnya bermain dengan siapapun, hanya teman tertentu saja pilihan ibunya. Selama bermain dilarangnya tertawa keras, harus berlaku santun bak bangsawan kerajaan.
Lelehan air mata sering menggenang di pipinya saat memandang dari jendela besar di kamarnya. Nun jauh terlihat ada sekelompok anak- anak seusianya yang tertawa gembira sambil berloncatan ke air sungai berlomba berenang di sana.
Waktu berlalu, rutinitas terus dia jalani. Akhirnya titik lelah juga jenuhpun mulai memberontak dalam dirinya.
Suatu hari saat dia pulang kursus piano badannya terasa lelah, sepanjang jalan sang ibu mengomel tak berujung.
Saat itu ibunya sedang merasa kecewa karena permainan piano sang anak hari itu buruk sekali sehingga gagal masuk kontes.
Di dalam mobil AC nya sangat dingin tapi bagi anak kecil itu panas selaksa api neraka.
Mobil terdiam terhadang lampu merah jalanan, gadis kecil menjerit sekuatnya dan didorongnya pintu mobil lalu meloncat sambil berlari.
Sepanjang jalan dia menjerit dan menjerit...ibunya panik mengejarnya... Namun ditolaknya dan disangkalnya.... tubuh kecilnya meronta, menjerit dan pingsan.....
Rumah sakit hanya memberinya obat penenang karena dirinya terus memberontak.
Sebuah saran yang membuat orang tua mana saja akan terpukul, didapatkan ibunya. Selembar kertas bertuliskan pengantar ke rumah sakit jiwa.
Seminggu sudah di rawat di rumah sakit termahal di kotanya tanpa hasil yang memuaskan dan menerima selembar kertas pengantar yang menyakitkan hati.
Sepanjang jalan menuju rumah sang anak hanya tidur karena pengaruh obat. Jika terjaga dia akan menangis meronta dan menolak ibu dan ayahnya.
Suatu hari ibunya harus membeli obat flu, dan turunlah di sebuah apotik yang cukup besar di sebuah jalan raya, sambil melangkah masuk ke dalam apotik tak sengaja sudut matanya memandang tulisan " Fajar Sanjaya" ahli psikologi.
Diapun bertanya kepada petugas apotik yang kebetulan saat itu seorang Fajar yang melayaninya.
"Koko, maaf mau bertanya...koko kan pegawai apotik sini yah... kalau mau konsultasi psikologi jadwalnya jam berapa yah...karena di papan hanya tercantum sesuai perjanjian,"tanya ibu Fahira Rompas istri seorang pengusaha pertambangan yang kaya raya bernama Hasan Rompas.
"Disesuaikan dengan jadwal ibu saja, jam berapa misalkan konsultasinya mau pagi atau malampun bisa, " Fajar menjawab pertanyaan ibu tersebut.
"Nah kalau misalkan dokternya atau ahlinya yang ke rumah saya apakah memungkinkan?" tanya Fahira lagi kepada Fajar yang dia anggap hanya pegawai apotik.
"Tentu saja bisa, asalkan memberikan alamat lengkap berikut jam berapa minta dikunjunginya, "jawab Fajar lagi kepada Fahira Rompas.
Lalu Fahira mencatat nama, alamat dan nomor teleponnya di secarik kertas yang diberikan oleh Fajar.
"Saya minta secepatnya, kalau bisa besok pagi pukul sembilan tepat, ahli psikiatrinya datang ke rumah saya yah".
"Baik bu, nanti akan saya sampaikan kepada beliau".
Lalu Fahira keluar dari apotik setelah membeli obat sambil mendaftarkan anaknya untuk konsultasi.
Keesokan paginya Fajar dengan naik motor yang ala kadarnya datang ke sebuah rumah megah di kawasan elite di kota Bandung.
Tepat pukul sembilan pagi bel rumah Fahira berbunyi dan ketika pintunya dibuka, alangkah terkejutnya Fahira.
"Kok kamu yang datang, bukankah seharusnya ahli psikiatri yang datang kemari?"tanya Fahira sambil memasang wajah masam.
"Betul bu, maaf ini kartu nama saya," Fajar memberikan kartu namanya dan tercantum gelarnya M.pi
"Kamu sarjana S2 psikologi?"tanya Fahira tak percaya melihat penampilan Fajar yang sangat santai.
"Benar bu, maaf mungkin saya terlalu santai penampilannya tapi inilah saya apa adanya, "jawabnya dengan tenang.
Fahira memandang dari ujung rambut sampai ujung kakinya Fajar, lalu dia menatap tajam ke arahnya.
"Saya akan mencoba memberimu kesempatan, jikalau kamu sampai bisa menenangkan anak saya di sana, maka konsultasi akan berlanjut. Tapi kalau kamu tidak bisa menangani anak saya, maka selanjutnya tidak perlu lagi kemari, "Fahira mencoba memberikan kesempatan dengan nada mengancam.
Fajar setuju dan kemudian mereka bersama menuju ke suatu ruangan.
Dari jendela ruangan itu, Fahira menunjukkan ruangan kaca besar di seberangnya.
Di dalamnya ada seorang gadis kecil yang sedang duduk sambil menulis sesuatu dengan jarinya di kaca ruangan itu.
"Dia anak kami satu-satunya, bernama Elmira. Beberapa waktu yang lalu dia menjerit, menangis dan meronta. Sekarang dia tak mau aku dekati juga ayahnya, dia hanya mau berkomunikasi dengan suster pengasuhnya, "Fahira menunjukkan anaknya sambil menahan tangis.
"Bisakah kamu menolongnya agar dia bisa kembali seperti semula lagi?"tanya Fahira kepada Fajar dengan wajah sedih.
"Saya tidak berjanji bisa tapi saya akan mencoba, namun saya minta kerjasama dengan orang tua agar tidak membatasi saya saat mendekatinya,"Fajar mencoba memberikan penawaran kepada Fahira.
"Baik, saya akan berikan kesempatan dan kebebasan kamu mendekatinya, tapi tolong jangan sampai membuat dia terus seperti itu, "mulai ada setitik air di pelupuk mata Fahira.
Sambil berjalan ke arah ruangan kaca, Fajar mengingat bahwa kasus seperti ini pernah menjadi bahan pelajarannya ketika kuliah dulu.
Seorang anak tertekan karena ambisi orang tuanya ingin menjadikan dirinya robot yang serba bisa. Awalnya ingin punya anak dengan multi talenta namun langkah yang diambilnya salah. Alih-alih ingin menjadi anak super tapi nyatanya malah membuat anak depresi.
Memulihkan anak untuk kembali ke semula mudah-mudah susah, bukan hanya sang anak tapi orang tuanya juga harus mau berubah.
"Halo...apa kabar...kamu Elmira yah...," sapa Fajar saat masuk ke ruangan kaca itu.
Elmira kecil menempelkan badannya ke dinding kaca, nampak ketakutan.
Tapi karena Fajar memasang wajah ramahnya, lalu Elmira bertanya,"Oom ini siapa?".
Sambil duduk santai menyelonjorkan kakinya Fajar menjawab,"Oom temannya Elmira...panggil aku Oom Fajar...sini kita kenalan dong".
Dengan ragu-ragu sang gadis kecil itu mendekati Fajar sambil bertanya, "Are you really my friend?".
"Off Course sure i'm your friend, you could hold my hands".
Karena Elmira belajar berbagai bahasa asing, maka saat berbincang semua bahasa asingnya keluar.
Untung Fajar paham sedikit-sedikit , sehingga bisa menimpalinya.
"Nǐ shì zhōngguó rén ma?"tanyanya sambil mulai memegang wajah Fajar.
(\=apakah Kamu orang Tionghoa?)
>Mandarin
"Duì, Wǒ shì zhōngguó rén,"jawab Fajar sambil senyum kepada Elmira.
(\=benar, saya orang Tionghoa)
"Anata wa tanoshīi desu,"kata Elmira lagi, dia mulai duduk disamping Fajar.
(\=Kamu menyenangkan)> Jepang.
"Arigatoo gozaimasu,"jawab Fajar sambil mulai agak berkeringat karena anak ini tampaknya pandai berbagai bahasa. (\=terima kasih)
Untung ada gawai pintar, jadi dia bisa merekam apa kata anak itu agar bisa tahu artinya dan mencari tahu cara menjawabnya.
Sekitar setengah jam kemudian, Fahira mengintip dari kejauhan dan terkejut melihat anaknya sedang tertawa sambil terlihat menggambar sesuatu bersama Fajar.
Fahira menutup mulutnya sambil air matanya menetes, sudah sebulan lebih dia hanya melihat anak itu marah dan menangis menjerit. Sekarang anak itu terlihat tertawa senang bersama Fajar.
__ADS_1
Pertemuannya hanya dua jam saja, Fajar meminta ijin kepada Elmira untuk pulang dulu. Anak itu tampak sedih, dia memeluk Fajar sambil menangis.
"Elmira kan anak cantik dan pandai, jangan menangis yah...besok Oom datang lagi untuk bermain bersamamu," kata Fajar sambil mengelus rambutnya.
"Janji besok oom akan datang lagi?" tanyanya sambil air mata meleleh di pipinya.
Fajar memberikan kelingkingnya, lalu dia mengaitkan ke jari kelingking Elmira.
"Ini artinya janji....besok kita akan main lagi tapi Elmira juga jangan menangis lagi yah".
Lalu mereka berpelukan lagi sebelum Fajar pamit meninggalkan ruangan.
Fahira menemuinya dan dia berterima kasih bisa membuat Elmira kembali tertawa.
Tapi Fajar memasang muka tegas lalu berkata," Ibu dan suami ibu sebaiknya juga mengubah pola asuh dan pola pikir. Jangan mengutamakan ambisi sebagai orang tua ingin menjadikan anak sebagai super kid. Maaf...saya yakin ibu selama ini memaksakan kehendak memaksanya mengikuti keinginan ibu".
Fahira merasa sangat tersudut walau sebenarnya apa yang dikatakan Fajar benar adanya.
"Kamu tahu apa dengan saya dan suami saya, kami punya uang dan kami tentu ingin anak kami bisa menjadi anak pandai yang multi talenta," kata Fahira sambil melotot kepada Fajar.
"Saya tidak mungkin bisa memperbaiki Elmira kalau orang tuanya juga tidak berubah. Kalian musti berubah juga, tidak bisa memaksakan kehendak menjadikan anak sesuai keinginan orang tua".
Rupanya Hasan ayahnya Elmira ada di balik pintu dan mendengarkan apa yang disampaikan Fajar kepada istrinya.
"Benar saya setuju dengan anda, kami telah lalai memaksa Elmira menjadi seorang anak serba bisa tanpa kami pahami kalau apa yang kami lakukan tidak sesuai dengan hatinya," Hasan berkata sambil menghela nafas dan menepuk bahu Fajar.
"Tapi papih....kita kan tidak mau kalau Elmira menjadi anak bodoh yang tidak paham apapun,"tukas Fahira kepada suaminya.
"Yah inilah ambisi istri saya mas Fajar, dia akan merasa malu jika anaknya tidak bisa bermain biola, tidak bisa bermain piano, tidak pintar berbagai bahasa asing dan pintar segalanya," Hasan menunjukkan bahwa istrinya penyebab segalanya.
Fahira kembali tak terima lalu mereka bertengkar dihadapan Fajar.
Lalu Fajarpun berusaha menengahi, dia menyampaikan akan tetap bertemu Elmira setiap hari dan minta jangan dibatasi saat mereka sedang berdua.
Lalu Fajar juga memberikan saran konsultasi untuk sepasang suami istri dihadapannya.
Demi kesembuhan Elmira semua harus kerjasama tidak bisa mengandalkan Fajar seorang diri.
Mulai dari hari itu Fajar membuat jadwal konsultasi khusus untuk keluarga itu. Setiap hari bersama Elmira dua jam lamanya di rumah mereka dan per tiga hari sekali orangtuanya bergantian datang ke klinik untuk berkonsultasi.
Dalam waktu sebulan Elmira sudah mulai mau keluar dari rumah kacanya.
Fajar membawanya naik sepeda mengitari sekeliling rumahnya.
Dia dipertemukan dengan anak-anak sebayanya di kampung belakang rumah mereka.
Elmira begitu senang bertemu kawan baru, mereka naik sepeda bersama dilapangan.
Berlarian bermain kucing-kucingan dan gembira main lompat tali.
Fajar mengembalikan dunianya Elmira ke dunia anak-anak yang seharusnya.
Memasuki bulan kedua Elmira mulai dibawa bertemu ibunya.
"Oom..nanti Mamih pasti akan marah lagi sama Mira. Takut Oom...Mira tidak suka matematika, Mira tidak suka biola, tidak suka piano atau bahasa asing. Mira cuma suka menggambar, Mira juga tidak mau balet atau apapun, "Elmira menangis kepada Fajar mengemukakan ketidakinginannya atas segala yang dia lakukan selama ini.
"Mamih nanti marah dan mencubit Mira kalau tidak mau main biola...padahal Mira tidak suka...Mamih mencubit sampai biru disini, "katanya sambil menunjukkan lengannya dulu pernah lebam membiru saat dia tidak mau melakukan keinginan ibunya.
"Mira kan teman Oom... ingat sayang... Oom janji Mamih tidak akan marah lagi kalau Mira tidak mau main biola. Mamih cuma akan meminta Mira pandai menggambar....Mira mau kan pandai menggambar, "kata Fajar meyakinkan Elmira.
Lalu keduanya masuk ke dalam ruangan rumah untuk dipertemukan dengan orangtuanya.
Dengan langkah ragu-ragu Elmira akhirnya mendekati ibunya yang saat itu tengah menanti kehadirannya. Mereka berpelukan dan ibunya meminta maaf kepada anak gadisnya.
Fajar masih terus membimbing Elmira sampai beberapa bulan ke depan, sampai benar-benar anak itu mau kembali ke sekolah dan bergaul dengan temannya tanpa dibatasi seperti sebelumnya.
Fahira dan Hasan berterima kasih kepada Fajar atas semua bantuan yang telah diberikannya bagi anak mereka.
Suatu hari mereka mengajak Fajar dan Anita pergi ke suatu tempat. Ternyata mereka membawa Fajar dan Anita ke dealer mobil mewah, disuruhnya Fajar memilih satu mobil mewah yang ada di sana.
Karena desakan mereka, maka Fajar minta berganti dealer. Lalu dipilihnya satu dealer mobil yang mengeluarkan tipe kendaraan minibus. Dan Fajar memilih dua unit kendaraan minibus.
"Pak Hasan, satu unit mobil yang tadi akan bapak belikan untuk saya sama nilainya dengan dua unit mobil ini.
Maka saya mau bapak membelikan keduanya,"kata Fajar kepada Hasan di dalam ruangan dealer mobil pilihannya.
"Tapi mobil ini jauh sekali teknologi dan kenyamanannya dibanding dengan mobil di dealer sana mas Fajar....,"kata Hasan dengan merasa aneh ketika Fajar memilih kendaraan di depan mereka dibandingkan mobil sebelumnya.
"Betul pak, tapi pekerjaan saya akan lebih nyaman dengan mobil ini daripada sebelumnya. Dan alasan saya minta dua unit karena satu lagi akan saya berikan kepada pesantren Al Ikhlas sebagai mobil dinas mereka," Fajar menjelaskan alasannya memilih kedua mobil tersebut.
Hasan sangat kagum dengan Fajar karena dia benar-benar bukan tipe orang yang mementingkan diri sendiri. Lantas dia membeli kedua unit mobil tersebut dan di badan mobilnya diberi tulisan berbeda yaitu Wiharja Farma dan Pesantren Al Ikhlas.
Kejadian tadi adalah tujuh tahun yang lalu, sampai sekarang mobil yang dulu dibeli oleh Hasan masih sangat baik kondisinya.
Mobil itu menemani Fajar berbelanja kebutuhan apotik, setor uang ke bank, mencari kerjasama dengan beberapa dokter, juga membawa keluarganya berjalan-jalan.
Ada kenangan indah saat membeli mobil itu, waktu itu Fajar dan Anita menjelang pernikahan tinggal menanti harinya.
Saat Anita tahu bagaimana Fajar bertindak bijak saat hendak dibelikan hadiah mobil oleh keluarga pasiennya dengan memilih dua unit yang satunya diberikan ke pesantren, membuat hatinya semakin yakin Fajar adalah suami terbaik yang Allah berikan kepadanya.
Saat itu Anita iseng tiba-tiba mencium pipi Fajar di depan garasi apotik saat pintunya hendak dikunci oleh Fajar. Seketika Fajar terkejut karena dia tak pernah sekalipun menyentuh diri Anita selama ini, dia menjaganya sampai nanti mereka menikah.
Namun malam itu Anita mencium pipinya tentu membuat gairah lelakinya terpicu, dan saat dia hendak membalas Anita....
Tiba-tiba Anita menyimpan jari telunjuknya tepat di bibir Fajar sambil berkata, "Maaf pak...belum sah...".
Lalu Anita berlari meninggalkannya sambil cekikikan, membuat Fajar dongkol sekali saat itu.
Hari minggu ini Fajar menyiapkan mobil karena akan membawa istri dan anak-anaknya ke Ciwidey untuk menengok Pertiwi yang telah melahirkan seorang bayi laki-laki.
Tak ketinggalan peserta rombongan lainnya yaitu Mela, Wahyu, Encum dan hari ini ditambah Sila.
Penantian lama Pertiwi dan IPDA Akbar setelah hampir empat tahun menikah. Sempat Pertiwi dulu merasa rendah diri karena setelah lama menikah tak kunjung hamil juga, berbagai cara sudah dia lakukan dari minum jamu, berobat ke ahli kandungan dan sebagainya.
Namun tanda-tanda hamil tak nampak jua. Sampai Fajar menyampaikan agar menjalani dengan ikhlas jangan menjadi beban pikiran karena belum juga hamil.
Akhirnya setelah hampir setengah tahun tidak berobat dan lainnya, tiba-tiba di suatu hari dia mual dan pusing.
Sampai berhari-hari tak juga sembuh rasa pusing dan mualnya, lalu Anita menyarankan periksa dengan test pack.
Keesokan paginya sambil malas dia mencoba juga test pack tersebut, namun dia gemetar saat satu garis merah beranjak menuju dua garis.
Segera dia memperlihatkan kepada Akbar suaminya, dan mereka bersyukur akhirnya Pertiwi diberikan kesempatan untuk mengandung anak mereka.
Perjalanan yang harus ditempuh dari rumah mereka menuju desa Ciwidey sekitar satu setengah jam. Pertiwi memang berasal dari sana, sementara Akbar berasal dari Bekasi. Dan dia ditempatkan di kepolisian Bandung sudah sekitar 5 tahun terakhir ini.
Anita duduk di kursi samping Fajar yang mengemudikan mobil, Mela dan Encum duduk di tengah bersama dengan Keiza dan bayi Kaysan.
Sementara dipaling belakang adalah Wahyu dan Sila yang sejak awal naik mobil sudah saling berantem seperti kartun tikus dan kucing yang ada di film kartun.
Sepanjang perjalanan diisi dengan tawa, entah dari Wahyu dan Sila yang selalu berantem, ocehan-ocehan Keiza yang sekarang sudah sering ditimpali oleh adiknya, atau cerita cinta kenangan Fajar dan Anita yang selama hampir tujuh tahun lamanya terpendam saat dulu Fajar masih jadi pegawai di apotik.
Tiba-tiba telepon genggamnya Mela berdering, setelah diangkat terlihat Mela yang awalnya tertawa- tawa saling bertanya kabar dengan penelepon, namun tak lama terlihat mulai serius dan makin lama wajahnya makin terlihat bersedih.
Setelah beberapa saat saling berucap sedih, Mela menutup teleponnya. Sontak membuat Wahyu menjadi penasaran.
"Ang Mela..siapa kang telepon jeh?" tanya Wahyu kepada kakaknya.
(\=kak dari siapakah)
"Taaaahhhh mas Maning mah ari ngomong sok roaming,"seloroh Sila kepada Wahyu.
(\=Nah Mas Maning kalau bicara suka roaming)
Lalu Wahyu dan Sila tertawa karena memang keduanya memang kerap saling meledek.
__ADS_1
"Iya ada apa sih Mela...kamu itu sedih terus...ayo cerita saja, "kata Anita sambil memperhatikan Mela yang saat itu berwajah sedih.
"Barusan Wiwit telepon, ternyata kemarin dia sudah menikah dengan Surya. Kasihan tidak ada undangan layaknya pernikahan pada umumnya, hanya wak Darma, keluarga Surya, Wiwit dan Surya juga karyawan toko".
Sejenak Mela menghela nafas dan ter bayangbetapa miris pernikahan Wiwit. Karena memang kondisi Wiwit juga yang masih harus banyak istirahat tidak boleh banyak bergerak karena janinnya rawan sekali. Salah bergerak bisa terjadi keguguran.
"Tak ada ibunya mendampingi, bahkan ibu saya juga tidak hadir karena acara mendadak," lanjut Mela sambil tetap merasa sedih.
"Yang lebih menyedihkan adalah wak Atin, ternyata selama ini di rawat di rumah sakit jiwa. Karena sampai hari ini masih tidak bisa diajak bicara, hanya tertawa dan menangis lalu menjerit- jerit tak karuan,"ujar Mela menceritakan apa yang didengarnya dari Wiwit sepupunya.
"Ya itulah Mela, ada harga yang harus dibayar apabila kita melakukan suatu hal yang buruk,"Fajar mengumpamakan kepada Mela.
Sambil menerawang keluar jendela Mela berkata," Iya benar, walau dulu aku sempat sebal sekali kepada Wak Atin tapi mendengar beliau sakit jiwa, aku jadi kasihan juga. Semoga Wak Atin bisa segera dipulihkan kembali ingatannya".
Dan disambut semua yang mendengar," Aamiin.....".
Akhirnya mereka tiba di depan rumah orang tua Pertiwi, terlihat IPDA Akbar menyambut mereka. Dia mendapat jatah cuti selama seminggu untuk kelahiran putra pertamanya ini.
Orang tua Pertiwi menyambut gembira dan merekapun saling bersalaman.
Tak lama sang bayi dibawa keluar kamar oleh Akbar, bayi baru berusia lima hari.
Warna kulitnya masih merah, dan tali pusatnya pun belum lepas. Beratnya 3 kg dengan panjang 50 cm pada saat dilahirkan kemarin ini di klinik bidan desa di dekat rumah orang tuanya Pertiwi.
"Selamat menjadi ayah, luar biasa IPDA Akbar ini, perjuangan penantian selama ini berhasil juga dalam pelukan,"kata Fajar sambil memberi selamat kepada Akbar.
"Saya menemani istri saya dari mulai kontraksi awal sampai melahirkan. Waduuuhhh....tegangnya melebihi saat mengintai penjahat kawakan... hahahaha...tangan, leher dan wajah saya habis dicakar istri....tapi benar kata pak Fajar temani terus sampai lahir... dan luarbiasa....saya benar- benar bersyukur...mukjizat dari Allah...,"Akbar menceritakan saat kemarin menemani proses istrinya melahirkan sambil terus menciumi anak bayinya yang ada dipelukannya.
"Eeehhh... Akbar....ulah lami teuing di luar...karunya bisi lebeut angin dedena,"mertuanya mengingatkan agar bayi kecilnya jangan terlalu lama di luar.
(\=Akbar jangan terlalu lama di luar, kasihan nanti bayinya masuk angin)
Lalu bayinya dibawa masuk ke kamar lagi, Anita diikuti oleh Encum, Mela dan Sila masuk ke dalam kamar bayi.
Sementara Fajar dan Akbar berbincang diruang tamu.
Wahyu pasti menemani Keiza yang saat ini sedang bermain bersama keponakan Pertiwi.
"Wi...bagaimana enak bukan?"tanya Anita kepada Pertiwi.
"Luar biasa cici...enak sekali....kontraksi dari jam lima pagi, baru lahir jam delapan malam, "kata Pertiwi menceritakan saat akan melahirkan beberapa waktu yang lalu.
"Haaahhh 15 jam mulas-mulas...apa tidak salah mba Tiwi?"tanya Mela terkejut.
"Hahahaha....sebentar segitu mah neng Mela, dulu bi Encum sehari semalam mulas dari pagi sampai ke pagi lagi," kata Bi Encum menceritakan saat jaman dahulu dia melahirkan.
"Ya sama saja, waktu lahir Keiza saya cepat... kontraksi jam 10 malam, jam empat pagi melahirkan....nah pas melahirkan Kaysan nih...mulas mulai jam enam pagi keluarnya jam dua belas malam pas pergantian waktu...
pokoknya sih enak luar biasa yah... hahaha," Anita juga menceritakan saat dia melahirkan kedua anaknya.
Mela hanya senyum- senyum masih tak paham bagaimana rasanya melahirkan.
"Kamu berapa jahitan Wi?"tanya Anita lagi kepada Pertiwi.
"Hahahaha....kata ibu bidannya banyak....sekitar 20 jahitan, "jawab Pertiwi sambil merapatkan kakinya mengingat betapa ngilu nya saat terjadi proses penjahitan setelah melahirkan.
"Hahaha...aku lebih banyak pas Kaysan nih soalnya dia lahir beratnya sudah 3,6kg dan panjangnya 55 cm...besar banget sampai aku hilang tenaga," cerita Anita sambil teringat saat melahirkan anak keduanya lahir beberapa bulan yang lalu.
"Jahitan apa sih ...saya tidak mengerti?"
kata Mela dengan polosnya.
Seketika ketiga ibu-ibu di ruangan itu tertawa terbahak-bahak..hanya Mela dan Sila yang saling berpandangan tak paham.
"Kamu nanti kalau sudah menikah tanya sama Anton... Dia kan dokter....tanya apaan sih yang dijahit kalau perempuan melahirkan yah...hahahahahha, "Anita kembali tertawa diikuti oleh Encum dan Pertiwi.
Sementara Mela dan Sila hanya diam-diam saja masih gagal paham
Saat Fajar dan Akbar tengah seru berbincang, tiba-tiba ada panggilan video call dari Elmira dari telepon genggamnya Fajar.
Memang Fajar dan Elmira punya kedekatan khusus yang tidak akan pernah bisa putus.
Begitu juga keluarga mereka sudah seperti saudara sendiri dengan Fajar dan Anita.
"Assalamualaikum apa kabar oom.... aku sedang di Singapura nih, "sapa Elmira kepada Fajar dari seberang sana.
"Walaikumsalam...kabar baik Elmira.. dalam rangka apa disana?" tanya Fajar menjawab sapaan Elmira.
Dia sekarang sudah kelas 2 SMA di usianya yang masih 15 tahun karena memang anaknya pintar jadi direkrut di kelas akselerasi.
"Aku sedang menjadi salah satu perwakilan lomba melukis tingkat Sekolah Menengah Atas se ASEAN yang diselenggarakan di Singapura.... aku tidak juara oom di sini...juaranya dari Thailand....tapi....aku bangga ... karena lukisanku dibeli oleh Duta Besar Indonesia untuk Singapura dan dipajang di ruang kerjanya, "Elmira menceritakan betapa bahagianya menjadi kandidat dari Indonesia yang lukisannya dibeli dan dipajang di Kedutaan Besar Indonesia untuk Singapura.
"Alhamdulillah luar biasa....semangat yah nak... terus berprestasi...oom dan tante Anita bangga kepadamu".
"Oom...mana Keiza dan baby Kaysan....aku mau lihat...juga tante Anita juga mana oom...?".
Lalu Fajar memanggil istrinya memberitahukan Elmira ingin berbicara lewat video call dengannya juga ingin melihat anal-anaknya.
"Hai Keiza....kamu sudah besar yah....".
"Hai...kaka Mila....kaka ada dimana....Kei kangen kaka Mila...".
"Iya kakak Mira juga kangen sama Kei...nanti kakak bawa oleh-oleh buat Kei dari sini yah...".
"Hai Mira....cup muah...cup muah....selamat yah sayangku...tante bangga sama kamu sayang....," Anita menyapa sambil membawa bayi Kaysan kehadapan gawai suaminya.
"Makasih tante....Hai...baby Kaysan....
i love you...nanti kakak bawakan mainan dari sini yah untukmu....,"Elmira melambaikan tangannya kepada Kaysan dan sang bayi hanya bengong sambil air liurnya menetes-netes.
"Mira...ke Singapura bersama mamih dan papih tidak?"tanya Anita menanyakan orang tua Elmira.
"Iya tante ada disini, Papih sedang berbincang dengan Bapak Duta Besar dan Mamih dengan istrinya namanya Ibu Hasni Syahbudin Wiharja,"Elmira menjelaskan kepada Anita.
"Benarkah ibu Hasni disana?"tanya Anita tercengang.
"Iya benar...orangnya baik dan ramah sekali, katanya sih asli orang Bandung. Beliau baru sekitar dua minggu di sini menggantikan pejabat lama yang pindah ke negara lain,"Elmira melanjutkan keadaan di kedutaan saat itu.
"Mira maaf bolehkah tante melihat wajahnya, semoga beliau masih mengenaliku?"tanya Anita mencoba ingin tahu ibu Duta Besar itu.
Lalu Elmira berbicara kepada ibu Duta Besar, dan ibu itu dengan senangnya melihat ke gawainya Elmira.
"Walah...Nita...Fajar...Astagfirullah kok bisa Elmira mengenali kalian....Hai...apa kabar kalian...,"sapa ibu Duta Besar itu.
Ternyata benar ibu Hasni Syahbudin Wiharja adalah kakaknya Salim Wiharja, sehingga Anita adalah keponakannya.
"Tante Hasni...apa kabar juga, kami baik-baik di sini...,"teriak Anita dan Fajar di sampingnya melambaikan tangannya.
"Alhamdulillah baik...iya kami baru pindah ke Singapura...kapan-kapan kalian kemari yah bawa anak-anak....
salam buat papa dan mama kalian...
sampaikan Tante sudah ada di Singapura yah...Tante pamit...,"kata Hasni sambil kedua tangannya mengatur menghaturkan salam untuk semuanya.
Anita dan Fajarpun membalas salam dari tantenya tersebut.
"Waaawww....amazing Yah tante Anita dan oom Fajar punya saudara Duta Besar...aku juga turut bangga...,"Elmira mengacungkan jempolnya kepada Anita dan Fajar.
Elmira memperlihatkan hasil lukisannya yang sudah terpajang di ruang kerja Syahbudin Akmal yang merupakan paman dari Anita dan Fajar.
Lukisan itu bergambar seekor kuda berwarna hitam yang berdiri meraih matahari. Sebagian tubuhnya yang terkena matahari menjadi coklat berkilau. Menggambarkan diri pelukis yang menggapai matahari terlepas dari belenggu kegelapan.
Lalu Elmira menambahkan sesuatu di bawah lukisan itu dengan huruf yang kecil tapi jelas.
Dedicated to Fajar Sanjaya "My light who release me from darkness"
__ADS_1