Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Ketiga Puluh Tujuh


__ADS_3

Seluruh media massa dan media sosial langsung ramai atas insiden kejadian di Pengadilan Negeri Cirebon, berita cepat menyebar ke seluruh negeri.


Media Massa baik televisi, radio juga surat kabar memberitakan kasus itu.


Seluruh jagat sosial media juga ramai menayangkan cuplikan kasus amarah seorang terdakwa wanita mengamuk saat akan jatuh vonis atas dirinya.


Anton melihat berita tersebut di sosial media melalui gawai pintarnya saat beristirahat setelah selesai memeriksa pasien terakhir di puskesmas sore itu.


Dia terkejut saat melihat cuplikan video ibu Atin yang sedang mengamuk besar di ruang sidang.


Bagi Anton ini berita yang sangat heboh mengagetkan dirinya sebab selama ini Mela tidak pernah cerita kalau ibu Atin masuk penjara.


Lalu dia mencoba menelepon Mela ingin mengkonfirmasi kebenaran berita itu.


Sudah dua kali dia menelepon tapi tidak diangkat juga oleh Mela, apakah dia sibuk....tapi setahu Anton selama ini walau Mela sesibuk apapun pasti akan mengangkat walau sebentar.


Dan biasanya sambil memberitahukan kalau sibuk dan pasti akan menelepon balik kepada Anton.


Anton mencoba sekali lagi, akhirnya diangkat tapi suara yang mengangkat adalah Fajar.


"Ton.....Nanti yah telepon lagi sekarang Mela sibuk menangis badai dan sedang ditenangkan oleh Anita".


"Pasti kamu mau tanya soal pengadilan bukan... Nanti saja yah kamu hubungi dia lagi, " kata Fajar sambil menyudahi bicaranya kepada Anton.


Anton tak sempat bertanya sepatah katapun tapi dia paham dengan apa yang disampaikan oleh Fajar, mungkin saat ini Mela sedang mengadukan masalah ini kepada kakaknya.


"Cici...bukannya Mela menutup-nutupi,


tapi Mela malu dengan semua keluarga


cici.... bagaimana nanti semua menilai di keluarga besarku ada yang berbuat sejahat itu," isak Mela sambil duduk di bawah di samping kaki Anita.


"Kami malu sekali, keluarga cici sudah begitu baik banyak menolong kami. Bahkan kami juga tidak tahu bagaimana membalas kebaikan keluarga Wiharja kepada kami," sambil terisak-isak Mela terus bicara menuturkan bagaimana perasaan malu yang teramat sangat kepada keluarga Wiharja.


Dalam hati dan pikirannya mengatakan Anton sekarang pasti merasa tidak senang bahkan mungkin membatalkan rencananya untuk menikahinya.


Mela sesegukan sambil tangannya memegang kaki Anita, dan kepalanya juga disandarkan ke paha Anita.


Anita dan Fajar saling berpandangan dan keduanya malah saling berbalasan memasang mimik wajah lucu.


Dari saling menjulurkan lidah, saling nyengir, memutar bola mata ke tengah atau membengkokan mulut dan lainnya.


Ketika dirasakan tangis Mela mulai mereda menangisnya dan terlihat Mela mulai mendongak, Anita menatapnya dan dengan santai bertanya, "Sudah beres menangisnya?".


Mela terhenyak, lalu menatap Fajar dan juga mendapat pertanyaan yang sama.


Lalu Mela mengangguk sambil bingung menatap keduanya.


Fajar lalu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bertanya lagi kepada Mela, " Jadi urusannya apa yah istri Wawakmu dengan keluarga Wiharja?".


Mela melirik keduanya dengan bingung, di ujung matanya masih ada air mata tersisa.


"Eeennggg...maksudnya saya khawatir kalau sampai keluarga Wiharja merasa malu, karena di keluarga besar saya ada yang berbuat tidak benar sampai dimasukkan ke dalam penjara,"sahut Mela dengan terbata-bata.


"Hahahaha...keluarga Wiharja atau Anton...hayo ngaku...hay malu sama siapa...Hahahaha...pasti sama Anton yah...kepikiran takut di putusin Anton kan....hahahah, " Anita dan Fajar malah keduanya tertawa terbahak-bahak mentertawakan Mela.


Mela terdiam tertunduk malu, karena ketahuan bahwa sebenarnya di hati kecil terdalamnya takut kalau Anton sampai membatalkan menikahinya gara-gara kejadian wak Atin.


Bohong dia merasa tegar kalau misal Anton membatalkannya karena dia terlanjur mencintai Anton dengan sepenuh hatinya.


"Haduuuhhh Mela... ada-ada saja kamu itu yah sampai menangis segala untuk urusan yang tidak ada kaitannya dengan kami ...hahahahha.... sudah tidak usah jadi beban buatmu.... urus wisudamu lalu segera urus pernikahan kalian, "


Anita merasa lucu melihat kekonyolan Mela.


"Tadinya saya takut kalau sampai ada orang lain berkata buruk misalnya mengatakan kok mau keluarga Wiharja memilih Mela menjadi menantu padahal keluarganya sudahlah miskin ada yang masuk penjara pula," Mela mencoba membela dirinya agar tidak tampak bodoh di mata calon kakak iparnya itu.


Lantas Fajar yang jadi tertawa ngakak terbahak sambil berkata, " Apa jadinya Anita dan aku yah... aku ini sejak dulu pegawai di sini Mela, dari tukang cuci kamar mandi sampai sekarang jadi menantu. Istriku kebal urusan seperti itu, banyak orang berkata buruk tentang aku tapi dia tak ambil pusing".


"Aku juga menantu di sini Mela, bahkan kalau dibilang bbmiskin aku jauh lebih miskin daripadamu. Aku ini yatim piatu, terlunta - lunta, untuk menyambung hidup harus berjualan es berkeliling, sampai akhirnya diterima kerja di sini jadi pegawai bagian kebersihan".


"Apalagi aku laki-laki, lalu aku tunjukan kepada papah Salim dengan bekerja yang benar dan jujur. Dan aku juga perlihatkan kepada Anita bahwa aku tidak punya harta tapi aku punya cinta yang tulus kepadanya,"Kata Fajar menceritakan dirinya dengan maksud agar Mela tidak berkecil hati akan keadaanya.


"Mela....aku kenal adikku, dia tidak akan sembarangan mempermainkan wanita. Jujur ini kemajuan untuk dia sudah bisa membuka hati kepadamu. Setelah kejadian dulu sampai dia cacat, dia tidak mau membuka hati untuk wanita. Sampai aku malu hati kepada Pertiwi karena pernah mencoba mendekatkan dengan Anton. Tapi Anton malah seperti menolaknya.Untung dia baik hati masih mau di sini membantuku," Anita juga menjelaskan bagaimana sifat adiknya dan juga sedikit tentang masa lalu adiknya.


Melapun kembali tersenyum dan dia memohon maaf kepada Anita dan Fajar, karena dia selalu merasa rendah diri padahal mungkin orang lain banyak yang lebih sulit kehidupannya dibandingkan dia.


Sekarang dia akan mencoba untuk lebih mengembangkan diri dan perasaannya kepada Anton. Karena selama ini dia selalu saja merasa tidak percaya diri dengan cinta Anton kepadanya.


Malam itu Anton sedang duduk di sofa rumah Jaya sambil nonton televisi, acara lawak yang hampir setiap malam tayang menjadi langganan tontonannya.


Jaya sendiri sedang asik bertelepon cinta entah dengan wanita yang mana karena memang dia banyak kekasihnya.


Sebenarnya Jaya anak orang cukup berada, ayahnya masih bekerja sebagai pegawai negeri sipil dinas perhubungan dan sudah menjabat eselon tertentu.


Dia sama dengan Anton hanya dua bersaudara dan mempunyai kakak perempuan yang sudah menikah dengan orang Pontianak. Sekarang kakaknya turut suaminya tinggal di sana.


Ayahnya sekarang masih menjabat menjadi kepala dinas perhubungan di Banjarmasin dan sekarang setelah pensiun mereka tinggal di Jawa Tengah.


Jaya sudah beberapa kali ikut ujian menjadi pegawai negeri sipil, namun selalu saja gagal entah karena apa mungkin memang nasibnya yang kurang beruntung.


Tapi dia masih akan mencoba lagi tahun depan apabila ada pembukaan kesempatan lagi untuk mengikuti ujian tersebut.


Saat ini dia merupakan pegawai puskemas non tetap di puskemas Jamblang sebagai bagian administrasi bersama dengan Murni sahabat kerjanya.

__ADS_1


Jaya dan Murni bagaikan duo rusuh di kantor puskemas Jamblang, karena keduanya pasti selalu saja ada punya cerita kocak yang sedikit berbumbu mesum dalam setiap harinya.


Walau Murni sudah punya anak dua tetapi untuk urusan bercinta selalu saja bertanya kepada Jaya dan dibahas dihadapan teman-teman lainnya. Memang keduanya akan seperti orang punya hutang apabila dalam sehari saja tidak ada cerita mesum yang dalam pembicaraannya.


Anton tinggal di rumah Jaya sudah lebih dari satu bulan, dan keduanya memang kompak juga suka sama gilanya.


Jaya selalu mudah diusili oleh Anton, sementara Anton juga bahagia punya teman Jaya yang bisa membuatnya tertawa setiap harinya.


Saat sedang enak-enaknya menonton televisi, tiba-tiba telepon genggamnya Anton berdering dan terlihat yang masuk panggilan video call


dari Mela.


"Assalamualaikum, tumben kamu video call aku say?"tanya Anton dengan terkejut.


"Walaikumsalan, ooohhh...tidak boleh yah video call?"tanya balik Mela kepadanya.


"Hei..bukan begitu...tapi aku kaget saja kok kamu mau video call aku, secara kalau telepon biasa saja suka malu-malu".


"Yah sudah aku tutup sajalah video call nya....kalau kamu tak suka," Mela cemberut manja.


"Dasar manja...cepat marah deh...awas kalau ketemu aku nanti aku gigit kamu,"kata Anton menggoda kekasihnya.


"Gigit saja sekarang....hahahah paling gigimu rontok...hahaha," tukas Mela kepadanya.


"Mela kamu tambah cantik saja say... dari kemarin aku pulang, kamu terlihat sedikit berbeda... Sekarang malah tambah pinter dandan deh....aku suka melihatnya...tapi awas yah jangan sampai menggoda lelaki lain yah...,"kata Anton terpesona melihat perubahan pada kekasihnya namun ada rasa cemburu takut kekasihnya direbut orang.


"Heelllooowwww... berani main play victim lagi yah....yang kecentilan sampai di cium perempuan itu siapa yaaahhh....,"sambil pasang wajah cemberut dengan mata melolot Mela menatap Anton dari seberang sana.


"Hahahaha....pasti kesitu lagi deh.... maaf dong jangan cemberut...nanti cantiknya hilang loh...,"ujar Anton sambil merasa gemas melihat ekspresi kekasihnya.


"Mela kamu bisa jadi tambah cantik, kamu apakan wajahmu? Apakah kamu belajar dandan?"tanya Anton sambil mengagumi wajah kekasihnya.


"Hhhmmm....rahasia wanita ini sih...


tidak bisa diberi tahukan kepada pria.., " Mela mengedipkan matanya sambil mulutnya dia tutup pakai ujung bantal.


"Yang...aku mau minta maaf...beneran aku malu sama kamu...jadi aku selama ini menutupi soal wak Atin dipenjara,


aku selama ini tidak cerita sama kamu karena merasa malu,"curahan isi hatinya kepada kekasihnya sambil malu-malu.


"Ah aku sih tidak ambil pusing soal wak Atin itu, toh dia kan istri Wawakmu... yang saudara asli saudaramu itu kan wak Darma...sudahlah tidak usah jadi beban pikiranmu. Bukankah kita semakin paham karakternya beliau seperti demikian , "Anton mencoba menyemangati kekasihnya agar tidak usah merasa rendah diri lagi.


"Iya nanti kalau aku mau wisuda juga berencana akan menginap di rumah Wak Darma sambil menjenguk Wiwit...


kasihan dia kalau berkirim chat suka merasa sedih terus padahal dia harus menjaga kondisi kandungannya," Mela menceritakan tentang sepupunya.


"Ya hayuk nanti aku temani, sekalian aku juga mau bicara sesuatu kepada Wak Darma,"Kata Anton.


"Mau bicara apa sih....tumben mau bicara dengan wak Darma...pasti mau bicara tentang aku yah...,"sahut Mela dengan ceria.


"Ya sudahlah da aku mah apa atuh... cuma remahan biskuit coklat di atas es krim," ujar Mela sambil membalas memasang mimik meledek kepada Anton.


Lalu keduanya tertawa-tawa sambil bercerita lama ada sekitar setengah jam lamanya.


Setelah menutup telepon, biasa ada wajah usil sudah menanti Anton untuk berkomentar.


"Waduh yang pacaran beneran yah.... romantis banget sampai bikin yang dengar jadi iri hati,"goda Jaya kepada Anton sambil menyelonjorkan dirinya ke karpet di bawah sofa.


"Mengapa iri hati, aku cuma telepon sama satu orang sementara dirimu bisa telepon sama beberapa perempuan...harusnya aku yang iri hati,"sela Anton kepada sahabatnya itu.


"Hahahaha lain dong bro dokter.. aku kan cuma iseng sama mereka tapi mencari yang serius malah tidak ketemu,"seloroh Jaya sambil sedikit mencurahkan hatinya.


"Ya karena keseringan iseng jadi sulit membedakan mana yang serius mencintaimu dan mana yang tidak?"Anton sok menasehati Jaya.


"Eh...bro Jaya...sebenarnya aku juga ada rasa galau....kakiku hanya satu sekarang...apakah nanti aku bisa melaksanakan kewajiban sebagai suami kepada istriku nanti yah..., "keluh Anton tiba-tiba teringat kondisi dirinya.


"Jangan takut bro dokter, butuh


artikel atau butuh link nya nih... hahahaha...kalau artikel takutnya tidak ada di internet tapi kalau link nya aku punya.... haha hahaha....,"Jaya memang selalu cepat tanggap soal tanda petik.


"Astagfirullah....Jaya....Jaya.... kalau bicara denganmu lama-lama suka jadi dosa deh....Ah kacau...sudahlah aku mau tidur,"kata Anton sambil meraih tongkatnya dan beranjak menuju kamarnya.


Jaya tertawa terbahak-bahak seperti biasa kalau sudah berhasil menggoda sahabatnya itu.


Kemudian Jaya mencari acara televisi dengan mengganti chanel karena acara lawak tadi sudah berakhir.


Anton membuka pintu kamarnya dan berkata,"Bro Jaya besok kita makan pizza yuk...nanti aku yang traktir".


"Wah...siap sedia brother... emang ada acara apa mau traktir aku segala..".


"Hmmm...mana link nya...kirim ke aku dong,"kata Anton malu-malu.


"Haahahahahahahaha....dasar dokter sinting...haha hahaha.. nanti aku kirim...hahahahahha".


Padahal Jaya cuma menggoda saja dibiarkannya Anton menanti sampai tengah malam, dia tidak mengirimkan apapun. Dan saat tengah malam dia mengirimkan link kartun anak-anak belajar mengaji, sambil dia tertawa membayangkan yang tidur di kamar sebelah sudah menanti link tanda kutipnya.


Di saat yang bersamaan di malam itu di kota Bandung, Tanoko menemani istrinya berbelanja di toko berbagai macam kue.


Terlihat Selina istrinya membeli kue sebanyak dua kotak besar. Tapi dia tidak berani bertanya mengapa berbelanja sebanyak itu, karena khawatir sang istri pasti nge gas marah kalau dia banyak bertanya.


Lalu mereka masuk ke dalam mobil setelah selesai sambil membawa dua kotak berisi macam-macam kue tadi.


Saat mobil melaju, lalu Selina berkata," Papih nanti kita mampir dulu ke rumah Anita sebentar yah".

__ADS_1


Tanoko kaget mendengar itu lalu bertanya dengan hati-hati kepada istrinya ," Memangnya mau apa sih kita ke rumah Anita?".


"Aku ada perlu sama Anita, kenapa memangnya...Papih keberatan mengantar aku?"tanya Selina mulai ketuanya keluar.


"Oh tidak...hayuk aku antar kesana," sambil dalam hatinya Tanoko merasa sebal.


Tak lama mereka tiba di depan rumah Anita, tampak penjaga membuka pintu gerbang rumah.


Lalu mereka turun dari mobil dan menuju teras kemudian memijit bel rumah.


Encum seperti biasa membukakan pintu dan keduanya segera masuk.


Tak lama Anita keluar menemui mereka, " Hai Selina...kalian berdua saja nih... mana anak-anaknya?".


"Hai Anita, iya say kami berdua saja, anak-anak seperti biasa di rumah orang tuaku,"sahut Selina.


Lalu Anita membawa mereka berdua ke dalam ruang keluarga rumahnya.


Lalu Encum membawa tiga cangkir teh hangat.


"Anita aku membawa kue ini untukmu, tadi kami ke toko kue lalu aku ingat Keiza jadi kami mampir dulu kemari,"


ujar Selina menjelaskan alasan datang ke rumahnya Anita.


"Wah repot-repot bu, bikin kami senang saja nih....hahahaha...terima kasih yah.... kami malah punya ini saja yang di meja,"kata Anita sambil menunjukkan beberapa toples kue yang ada di meja ruangan itu.


Lalu mereka berbincang seperti biasa soal anak-anak mereka.


Tanoko yang sedari tadi diam saja lalu menanyakan kemana suaminya Anita," Nita maaf kalau Fajar kemana yah ....


dari tadi tak ku lihat..?".


"Oh...Fajar masih ada pasien sepertinya mungkin sebentar lagi selesai," jawab Anita menerangkan keberadaan suaminya.


" Pasien???....memangnya suamimu dokter ?"tanya Tanoko sambil mengernyitkan keningnya.


"Hahaha...dia kan lulusan S 2 Psikologi, kan jurusan Psikologi di bawah naungan Fakultas Kedokteran. Kerjaan dia yang utamanya menjadi konsultan Psikologi, kalau di apotik sih membantu usaha mertua," Anita menjelaskan tentang pekerjaan suami nya yang sebenarnya kepada Tanoko.


"Tapi dulu kulihat dia bersih-bersih apotik, lalu oleh papah mu disuruh ke Bank setor uang, bayar pajak, sekalian beli ini dan itu pakai motor bebek butut. Masa sih di lulusan S 2 ?" Tanoko tak percaya kepada Anita.


"Hahahaha..iya dia itu dapat beasiswa karena walau tampangnya culun dan badannya kerempeng tapi dia sejak kecil kebetulan terlahir pandai....hahahaha...".


"Sejak SD dia tidak mampu membeli buku, tapi dia orang penyimak. Jarang baca buku tapi kalau di sekolah, di kampus mendengarkan guru atau dosen menerangkan dengan seksama. Kalau orang belum paham pasti mengira dia tidak mengerti apa-apa, padahal kalau orang bicara dia dengar dengan baik. Cuma memang mukanya nyebelin seperti orang cuek gitu,"Anita menjelaskan pribadi suaminya dengan santai kepada Tanoko, dan terlihat Tanoko merasa kaget dan tak enak hati.


Selama ini dia pikir Fajar hanya pegawai saja, tak menyangka ternyata seorang ahli psikologi.


"Apakah dia setiap hari praktek di sini atau buka praktek dimana lagi?"tanya Tanoko mencoba meyakinkan diri soal Fajar.


"Kalau konsultasi hanya di sini saja dengan jadwal berdasarkan perjanjian, dia sudah punya lisensi untuk membuka praktek sendiri. Namun dia juga sebagai pembimbing di pesantren Al Ikhlas, karena disana tempat bimbingan anak-anak korban narkoba dan broken home".


Tanoko tambah menciut hatinya saat Anita menjelaskan dengan rinci berapa Fajar sebenarnya bukan lelaki sembarangan, makanya dulu Anita lebih memilih Fajar daripada dirinya.


"Berarti ko Fajar itu bukan orang sembarangan yah Nita, sebab suamiku selama ini selalu mengira ko Fajar itu cuma pegawai rendahan saja ," sela Selina saat Anita dan Tanoko membahas Fajar.


"Tuh dengar juga papih...ko Fajar sangat taat agama, kamu sih apaan diajak ibadah saja banyak alasan".


"Ah suamiku sih orang biasa saja, kalau tidak ada yang konsultasi yah dia bantu di apotik. Masih seperti dulu yah Tanoko cerita, setor ke bank, bayar ini dan itu, beli ini dan itu, mengerjakan apapun dia mau. Cuma dulu naik motor butut, sekarang naik mobil butut.... hahahaha,"Anita kembali tertawa saat menceritakan suaminya.


Tiba -tiba Fajar masuk ke dalam rumah


" Wah...ada tamu rupanya....bro Tanoko dan nyonya....apa kabarnya nih...".


Fajar tampak riang saja walau selama ini Tanoko selalu merendahkannya.


Tanoko dan Fajar bersalaman saling menggenggam tangannya, dan Fajar menjadi agak aneh dengan perubahan sikapnya.


Lalu kedua pasang suami istri itu kembali berbincang, tentang Fajar yang terkadang suka keluar bahasa daerahnya atau bahasa Tiochiu nya. Anita suka membalas dengan bahasa sunda, terkadang malah jadi lucu bagi sepasang suami istri yang berbeda suku itu.


"Macam waktu itu aku bilang sama Anita, buat sambal udang kecepe. Udang kecil-kecil yang dikeringkan macam itu bu Selina. Dia pahamnya itu rebon, aku pahamnya udang kecepe. Itu jadi bikin ribut kami padahal cuma beda sebutan saja....hahahaha,"Fajar menceritakan kalau antara dia dan Anita terkadang sering selisih paham dengan perbedaan penyebutan nama makanan atau benda karena lain daerah.


Selina juga terkadang agak bingung dengan kosa kata Fajar, karena kalau Fajar mulai banyak bicara masih suka terbawa aksen melayu Batamnya.


"Iya.....hahahaha...benar Selina... Aku juga sudah lama menikah kadang masih suka nge hang....ini ngomong apa suamiku itu... malah paling kesal kalau dia tahu suatu barang atau makanan tapi cuma ingat bahasa tiochiu nya. Nah itu aku menyerah deh..


Suruh cari sendiri saja..hahahaha," timpal Anita, dia buta sama sekali bahasa tiochiu yang merupakan bahasa sehari-hari Fajar dengan orang tuanya saat di Batam dulu.


Tanoko kalau dekat istrinya terlihat tidak berani banyak bicara, karena memang Selina selalu galak dan judes kepadanya.


Saat Selina diajak Anita ke atas melihat bayi Kaysan dan kakaknya Keiza. Tanoko yang berada di ruangan tadi lalu mendekati Fajar.


"Bro Fajar...maaf yah...Aku selama ini selalu berlaku tidak mengenakkan kepada dirimu,"kata Tanoko sambil mengulurkan tangan untuk meminta maaf.


Fajar menyambut uluran tangannya sambil menepuk bahunya," Santai bro...awak tak ambil pusing apa cakap orang. Yang penting Hepi saja bro".


Lalu keduanya berbincang da tertawa bersama. Tanoko dengan agak ragu akhirnya meminta tolong Fajar," Bro kalau aku konsultasi kepadamu apakah boleh?".


"Tentu boleh, mau dimana kita ngobrol.


Sambil mancing atau sambil nonton bola atau Motor GP, asal jangan minum di cafe saja ?"tanya Fajar sambil tersenyum lebar.


"Hahaha...bro Fajar ini bisa saja, hahahaha....enaknya sih mancing tapi pasti exit permit tidak akan turun....Jadi nonton GP saja bagaimana?"tanya balik Tanoko kepada Fajar.


"Deal hari minggu ini di sini yah aku tunggu, jangan lupa kau bawa cemilan, "kata Fajar sambil mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Hahahahahha..siap boss Fajar.. laksanakan..."


__ADS_2