Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kesembilan belas


__ADS_3

Dua bulan berlalu sudah sejak kejadian malam itu. Baik Anton maupun Mela berusaha melupakan kejadian kemarin ini.


Sesungguhnya Mela merasa malu pada Anton, saat dia ke Bandung semua keluarga menyambut baik.


Namun sebaliknya saat Anton menemui keluarga Mela, dihadapkan kejadian tak mengenakan harus bertemu dengan gerombolan Aris.


Tapi Anton begitu bijak menyikapinya, sama sekali tidak pernah mengungkit atau bahkan menyudutkan keluarga Mela.


Sehingga sementara Mela merasa tenang menjalani hubungan bersama Anton.


Tampaknya Anton juga tidak mau ambil peduli dengan nama yang disebut Aris.


Wahyu sekarang sering berkomunikasi dengan Anton baik itu kontak telepon atau dengan berkirim pesan chat.


Anak itu serasa menemukan sosok ayah terhadap diri Anton.


Sering mencurahkan isi hatinya soal pelajaran sekolahnya atau apapun kepada Anton.


Begitu juga Anton serasa menikmati punya adik karena dia anak bungsu.


Anton selalu menanggapi dan selalu memberikan semangat kepada Wahyu.


Bahkan sesekali Wahyu menginap di tempat kakaknya bekerja hanya untuk sekedar berbagi cerita kepada Anton.


Pengumuman kelulusan sekolahnya tak akan lama lagi, dia kemarin sempat bilang kepada Anton ingin bekerja dulu setelah lulus sambil mengumpulkan uang untuk kuliah nanti.


Kemudian Anton menawarkan untuk bekerja di tempat usaha kakaknya di Bandung, namun Wahyu tidak usah khawatir karena ada mess karyawan di sana.


Setelah ditimbang dan dibicarakan dengan keluarganya termasuk kakak tertuanya Mela, maka Wahyupun diberi ijin bekerja di sana untuk menambah pengalaman.


Skripsi Melapun tentang tata kelola keuangan, pengembangan investasi dan pembagian hasil secara Syariah atas apotik dan klinik Wiharja Farma telah diterima oleh dosennya.


Bahkan saat ini sudah masuk bab 3, sehingga dia harus mengejar sisa 2


bab lagi untuk menyelesaikannya.


Selama ini Mela aktif berkontak via Chat atau telepon kepada Pertiwi dan juga Anita.


Terkadang Mela merasa tidak enak hati karena takut menggangu kinerja Anita atau Pertiwi saat dia banyak bertanya melalui alat komunikasinya.


Ada beberapa contoh pembukuan yang harus diminta, juga pihak dosen minta detail data lainnya, jadi Mela harus kembali ke Bandung untuk satu atau dua hari.


Mela harus berangkat dari hari Jum'at siang agar keesokan harinya seharian meminta data sambil bisa membantu pekerjaan di apotik.


Anton tidak bisa minta ijin cuti, karena hari Sabtu dia ada undangan Seminar untuk seluruh dokter di Wilayah Tiga yang meliputi Cirebon, Majalengka, Indramayu dan Kuningan.


Seluruh perangkat kesehatan baik yang bertugas di puskemas maupun Rumah Sakit diwajibkan hadir karena yang menyelenggarakan dari Kementrian Kesehatan yang digandeng oleh salah satu perusahaan Farmasi dalam rangka peluncuran obat untuk kesehatan tulang bagi Manula.


Wakil dari Puskesmas Jamblang adalah Anton dan pak Tarmidi.


Karena tidak dapat mengantarkan Mela maka Anton menjelaskan rute bis dan memberitahukan setelah nanti tiba di Terminal Bandung harus naik angkutan warna dan nomer berapa yang bisa berhenti tepat di depan apotik.


Setelah berbincang dengan Anita di telepon, akhirnya sepakat juga nanti Mela sekalian mengajak Wahyu untuk langsung bekerja di sana.


Wahyupun sudah siap lahir dan batin, daripada menunggu pengumuman lulus dan wisuda lebih baik dia bekerja, untuk bisa membantu ibu juga untuk ditabung sebagai biaya kelak kuliah.


Jum'at siang itu mereka berdua naik bis jurusan Cirebon - Bandung, setelah perjalanan hampir 6 jam karena ada kemacetan di Cileunyi akhirnya mereka tiba di Terminal Bandung.


Tak usah menunggu lama, Mela dan Wahyu dapat segera menemukan angkatan kota yang melewati apotik Wiharja Farma. Ternyata dari terminal sekitar 20 menit mereka sudah tiba di depan apotik dan klinik tersebut.


"Ang, apotek gede nemen ya, ning Cirebon langka apotek kaya mengkenen," Wahyu terpesona melihat gedung apotik dan klinik yang begitu megah mirip seperti rumah sakit.


(\=Kak, apotik besar sekali yah, di Cirebon tidak ada apotik seperti ini)


Mela lalu mengajak Wahyu menuju ke rumah yang ada di sebelah gedung apotik itu. Jelas Wahyu tambah bingung tidak tahu dirinya akan dibawa kemana oleh kakaknya.


Pintu pagar tinggi besar diketuknya oleh Mela dan tak lama datang seorang penjaga pintu yang juga merangkap keamanan.


Penjaga itu kenal dengan Mela dan lalu dibolehkan masuk ke dalam. Melapun dengan percaya diri melangkah ke teras rumah dan memencet bel pintu.


Terdengar anak kunci diputar dan muncullah bi Encum beserta Keiza.


"Tante Mela mana oom Ton?" tanya Keiza langsung kepada Mela.


"Oom Ton besok malam kemari sayang, hari ini tante duluan yang datang," jawab Mela sambil mencubit gemas pipi Keiza.


"Ini Oom ini siapa Tante?"tanya Keiza sambil menunjuk Wahyu.


"Ini Oom Wahyu, adiknya tante Mela".

__ADS_1


"Oh, Oom Wahyu bisa main petak umpet kan??"tanya Keiza kepada Wahyu.


Wahyu yang sejak tadi masih belum klik dia ada dimana, hanya mengangguk dan menjawab iya iya saja.


Sementara Keiza kecil memberondong dia dengan pertanyaan-pertanyaan lucunya.


Keiza anak perempuan tapi tomboy jadi dia lebih senang main dengan lelaki yang lebih dewasa agar dia bisa digendong atau di angkat-angkat.


Bi Encum mempersilahkan mereka masuk, sambil Keiza terus mengajak bicara Wahyu.


Dia merasa senang melihat Wahyu, dalam pikirannya bisa untuk seperti oom Ton nya.


Mereka duduk di ruang keluarga, Wahyu tercengang ketika melihat di dinding terpampang foto kelurga dan disana ada wajah Anton.


Sambil masih belum bisa mencerna tiba-tiba masuklah seorang ibu cantik memakai gamis merah muda, dan hijabnya juga senada. Dia putih kulitnya bak pualam, dan pipinya kemerahan. Wahyu terpesona melihat Anita yang baru masuk ke dalam ruangan itu.


"Assalamualaikum cici Anita," sapa Mela.


"Walaikumsalam adikku sayang, baru sampai pasti kalian lelah. Bi Encum sedang membuat minuman segar, kita tunggu yah. Loh ini siapa?"sapa Anita sambil dia juga terkejut melihat Wahyu.


"Ini adik saya Wahyu yang mau bekerja di apotik seperti kemarin saya sampaikan," ujar Mela menjelaskan.


"Oh iya, hampir lupa. Aduh untung kamu segera datang. Besok itu pembukaan klinik indera, di lantai atas nanti bersebelahan dengan klinik kulit,"kata Anita yang ternyata dia sibuk sampai terlupa tentang Wahyu.


"Namamu siapa ?"tanya Anita sambil melihat Wahyu.


"Ehm.. Wahyu bu," jawab Wahyu.


" Nah, Wahyu besok pagi kami tolong saya yah, Mela juga yah, besok jam 8 pagi ada pengajian sambil pembukaan klinik indera di lantai 2, akan hadir sekitar 50 orang undangan dan siangnya mengirim paket makanan untuk salah satu rumah yatim piatu," Anita menerangkan untuk kegiatan besok hari.


Bi Encum datang membawa 2 gelas minuman segar, yang segera mereka terima dan teguh karena mereka kehausan dan kelelahan juga.


"Capek yah neng, kasihan neng Mela. Eta* adiknya neng Mela yang mau kerja di sini yah?"


tanya bi Encum kepada Mela. (*itu)


Wahyu mengangguk kepada bi Encum. Lalu Anita berkata," Cum, kamar belakang sudah beres belum?".


" Oh sudah tadi sudah saya siapkan," jawab Bi Encum.


"Mela nanti tidur di sini saja di kamar untuk tamu, tapi Wahyu langsung di belakang saja yah. Karena per hari ini sudah masuk jadi kru Wiharja Farma yah,"kata Anita sambil tertawa santai menjelaskan bahwa Wahyu sudah resmi bergabung dengan tempat usahanya.


Mela segera beranjak menuju kamar yang sudah dia ketahui sebelumnya untuk menyimpan tas dan segera membantu Anita ke dapur.


Encum mengantar Wahyu ke kamarnya di halaman belakang rumah. Ternyata di sana ada sekitar 5 kamar berjajar, itu adalah mess karyawan.


Encum lalu memperkenalkan Wahyu kepada karyawan lain, lalu ditunjukkan kamarnya.


Di dalam kamar ada 2 ranjang tingkat berhadapan. Satu kamar untuk 4 orang karyawan.


Teman sekamar Wahyu adalah Anwar dan Martono petugas kebersihan, Omay petugas kebersihan di rumah tinggal.


Lalu setelah berkenalan Wahyu dibawa kembali oleh Encum ke dalam rumah untuk makan siang.


"Kami tadi sudah makan, ini silahkan kalian berdua makan yah. Nanti setelah makan dan selesai sholat tolong nanti ke apotik yah Mela sama Wahyu. Cum, kamu tolong jaga Keiza dan Kaysan yah. Kalau Kay menangis nanti panggil saya di sebelah," setelah menyampaikan pesan Anitapun berlalu menuju tempat kerjanya.


Wahyu dan Melapun segera makan, dan Wahyu benar-benar terkejut dengan hidangan di atas meja.


"Ang, opor ayam ang... enak nemen ang...,"kata Wahyu sambil lahap. (\=Kak.. opor ayam loh.. enak sekali)


"Yu inget yah, ira aja sembarangan ning kene, aja gawe isin. Aja ngomong ning wong sejen baka kak Anton kuh bature kita. Wes meneng bae, ana kang nakon ngomong bae ira utusan kak Anton. Paham yah, aja sombong ira e," Mela memberi nasihat panjang lebar kepada adiknya.


(\=kamu ingat yah, jangan sembarangan disini, jangan bikin malu. Jangan ngomong sama yang lain kalau Kak Anton temannya kakak. Kamu diam saja yah, kalau ada yang bertanya bilang saja kamu utusan kak Anton. Paham yah, jangan sombong)


Selesai makan Mela segera merapikan meja lalu mencuci peralatan makan. Setelahnya dia segera mengajak Wahyu memasuki suatu pintu di sebelah ruang makan, dan membulat matanya karena ternyata disebelah ruangan tadi adalah bagian kantor apotik.


Setelah Mela dan Wahyu masuk, lalu Anita memanggil karyawan lainnya, dan langsung memberikan instruksi untuk acara besok hari.


Hampir semua karyawan mendapatkan tugas, tak terkecuali Mela dan Wahyu. Anita juga tak lupa memperkenalkan Mela dan Wahyu kepada semuanya.


"Kalian dengar yah, Mela ini adalah calon adik ipar saya. Dia ini nanti akan menikah dengan Anton adik saya, jadi jangan ada yang mengganggunya!"Anita menegaskan tentang status Mela kepada semua karyawan terutama karyawan pria.


Sontak Mela wajahnya memerah, dia malu sekali. Padahal dia sudah diam berusaha menutupi statusnya saat ini, tapi memang dasar Anita orangnya frontal apapun dia utarakan langsung.


Dan hari itupun Wahyu langsung belajar Untuk melayani di apotik. Sebelumnya yang melayani adalah yang bernama Erin dan Yanto.


Namun Yanto akan diperbantukan ke klinik indera mulai esok hari, maka dia sekarang mengajari Wahyu yang akan menggantikannya.


Sementara Mela membantu Pertiwi untuk pengecekan data masuk dan keluar obat-obatan. Lalu data hutang piutang, juga pembagian hasil.

__ADS_1


Karena besok ada acara juga, setelah apotik dan klinik tutup, di dalam masih berlanjut membereskan dan penataan ruangan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Mela merasakan letih yang luar biasa. Sudah dia melakukan perjalanan dari Cirebon menuju Bandung yang sangat lama karena macet, lalu tiba disini juga harus membantu karena besok ada perhelatan.


Mela baru saja menutup telepon genggamnya setelah menghubungi Anton dan menceritakan akan ada acara besok, namun karena sangat letih jadi merekapun tak lama berbincang.


Melapun segera terlelap.


Sementara Anton saat ini ada di paviliun bersama dengan siapa lagi kalau bukan Jaya Permana.


Mereka sedang duduk di teras paviliun, dan kemudian Mela menghubungi Anton.


Jaya mencuri dengar kalimat demi kalimat yang Anton sampaikan kepada orang diseberang sana. Dan dia cukup terhenyak karena cukup banyak kata sayang terucap.


Setelah Anton menutup telepon genggamnya diapun gatal bertanya," Dok sama siapa sih, sayangnya banyak banget. Perempuan atau lelaki nih?".


"Si*l*n kamu, yah perempuan dong, pacar akulah,"jawab Anton dengan sebal.


" Santai bro dokter, hahahaha, cuma nanya doang. Tapi orang mana nih perempuannya, aku kaget nih dokter tiba-tiba punya pacar".


"Kepo banget kamu Jaya, pokoknya adalah nanti juga kamu tahu sendiri".


"Waduh pelit amat bro dokter, tenang bro dokter, Jaya biar begini juga anti nyalip teman, hahahaha".


Lalu keduanya tertawa, namun Anton tetap merahasiakan siapa kekasihnya itu.


Keesokan paginya pak Tarmidi telepon menghubungi Anton kalau dia tidak bisa hadir karena anaknya sakit, jadi minta Jaya yang akan hadir menggantikannya.


Jayapun sudah dihubungi oleh beliau untuk mewakilinya menghadiri undangan seminar bersama Anton.


Dan benar saja Jaya datang kesiangan ke paviliun setelah Anton menelponnya berkali-kali dengan alasan ketiduran.


Lalu Anton mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi karena takut terlambat. Untung setibanya di tempat seminar acaranya baru saja menjelang dimulai.


Setelah mengisi buku tamu lalu Anton dan Jaya masuk ke dalam ruangan seminar untuk mencari meja yang kosong.


Ketika sedang mencari-cari meja, tiba-tiba keduanya terpana saat melihat seorang wanita muda yang sangat cantik.


Rambutnya panjang hitam tergerai, menggunakan pakaian yang sangat pas ketat sehingga mencetak lekuk tubuh yang langsing tapi padat dan terlihat sangat menggoda.


Wanita itu senyum datang menghampiri mereka, lalu menunjukkan tempat yang masih kosong.


Keduanya sampai sulit berkata-kata saat melihat gadis tadi berjalan di depan mereka, lenggok tubuhnya membuat semua mata pria pasti tak akan berkedip memandangnya.


Ketika mereka sudah duduk, kemudian Jaya menyenggol Anton," Bro dokter kita taruhan yuk siapa yang duluan bisa dapat kontaknya cewek itu".


Antonpun menjawab seakan tak acuh, "Ah ngaco aja kamu Jaya, aku tidak ikutan. Nanti pacarku tahu gawat".


"Loh kan kita tidak tahu dia siapa? Dia bisa di sini berarti ada hubungan sama urusan kesehatan dong. Siapa tahu dia juga dokter atau perawat atau apalah," sanggah Jaya.


Anton hanya diam saja, tapi jujur dalam hatinya dia penasaran dengan wanita tadi.


Ketika ada acara coffee break, tampak wanita tadi mendatangi satu per satu peserta seminar sambil memberikan kartu namanya. Dan ada beberapa orang yang saling bertukar kartu nama juga dengannya.


Jaya dari tadi memperhatikan lalu dia menarik Anton agar mencari posisi tepat untuk segera disapa oleh wanita tadi.


Benar saja tak lama wanita itu datang menghampiri mereka, sementara keduanya sedang pura-pura minum kopi dan makan kue yang dihidangkan.


"Halo pak, maafkan saya mengganggu, perkenalkan saya Miranti Chandra dari perusahaan obat Golden Farmasi, kebetulan seminar ini atas sponsor perusahaan kami. Dan saya disini selaku manager marketingnya, maaf ini kartu nama saya,"katanya mengenalkan diri sambil seraya memberikan kartu nama kepada mereka berdua.


"Saya Anton Wiharja dan ini teman saya Jaya, kami perwakilan dari Puskesmas Jamblang. Ini kartu nama saya," Antonpun mengenalkan diri sambil memberikan kartu namanya juga.


"Oh, ternyata anda dokter Anton Wiharja, menurut catatan kami anda salah satu pengguna obat penguat tulang dari produk kami. Senang berkenalan dengan anda, kebetulan saya nanti yang memegang wilayah Cirebon. Nanti saya akan sempatkan berkunjung ke seluruh puskesmas dan rumah sakit di wilayah Cirebon,"kembali Miranti memberikan penjelasan yang cukup panjang dengan gayanya yang sangat lincah menggoda iman.


" Baik bu Miranti, kami tunggu kunjungannya ke puskesmas kami,"ujar Anton sambil tersenyum kepada Miranti.


"Aduh dokter jangan ibu dong, panggil Miranti saja biar akrab,"kata Miranti sambil memasang senyuman mautnya.


Lalu diapun berlalu menghampiri peserta lainnya.


"Kalah pegawai sih dibanding dokter, aku dilirikpun tidak deh,"seloroh Jaya menggoda Anton.


Anton hanya melirik lalu memutar bola matanya.


"Hajar bro dokter, mumpung belum ada cincin nempel di jari, masih bisa icip-icip lah," Jaya iseng menggoda Anton, lalu Anton beranjak masuk ke ruangan seminar meninggalkannya.


Dalam hatinya Jaya merasa geli melihat Anton yang suka salah tingkah kalau urusan perempuan.


Di dalam ruang seminar Anton tampak terlihat seperti sedang membaca makalah seminar, padahal tanpa ada orang tahu dia sedang memandangi kartu nama yang bertuliskan "Miranti Chandra - Area Marketing Manager - PT. Golden Farmasi "

__ADS_1


__ADS_2