
Di malam yang sama di tempat yang berbeda, Jaya memasuki apartemen Miranti, lalu dia duduk di sofa panjang sambil mengamati ruangan apartemen itu.
Di dalam situ hanya ada sofa panjang untuk menonton televisi dan juga satu kamar tidur.
"Miran...aku mau ikut ke kamar mandi, disebelah mana yah?"tanya Jaya sambil membuka koper nya.
"Silahkan di sebelah sini,"kata Miranti menunjukkan kamar mandi yang ada di apartemen yang disewanya tersebut.
Jaya segera masuk kamar mandi membersihkan diri sekalian mengambil wudhu.
Dia sudah berpakaian lengkap lagi seusai dari mandi, dan dia menanyakan arah kiblat juga meminjam sajadah.
"Eeehhh.....sajadah yah... sebentar yah...aku cari dulu di lemari...,"kata Miranti dengan wajah memerah dan salah tingkah.
Jaya masih berpikir positif, karena biasanya wanita ada kalanya tidak sembahyang karena sedang halangan.
Lalu setelah Miranti tampak sibuk membongkar isi lemari, akhirnya dia menemukan sajadah dan segera dia berikan kepada Jaya.
Untung di atas langit-langit ada anak panah petunjuk arah kiblat, biasanya pengelola hotel dan apartemen pasti selalu memasang tanda petunjuk arah kiblat agar memudahkan untuk beribadah.
Saat Jaya sedang sembahyang, Miranti bergegas ke kamar mandi juga untuk membersihkan dirinya.
Miranti baru keluar kamar mandi dan Jaya juga sudah selesai sholat. Dia sedang duduk menonton televisi.
Sementara Miranti diam di dalam kamar, dia bingung takut Jaya bertanya soal sholat.
Jaya duduk di depan televisi menanti Miranti dipikirnya mungkin sedang berpakaian dan juga menunaikan sembahyangnya.
Karena Jaya tahu dia dan Miranti memiliki keyakinan yang sama, waktu itu Miranti sendiri yang menyebutkan keyakinannya.
Miranti cukup lama tak juga keluar dari kamarnya, sampai detik itu bagi Jaya adalah hal yang biasa saja.
Jaya pergi ke dapur, ternyata di meja dapur ada kopi lalu dia membuatnya dua cangkir untuk dirinya dan Miranti.
Ketika kopi sudah siap, Jaya membawa kedua cangkir tersebut ke depan ruang televisi.
Miranti sedang berdiri di depan pintu kamarnya dan tampak gusar.
"Hai...ini kopimu... yuk kemari, kamu sudah beres sholat bukan?"pertanyaan Jaya itu yang dia takutkan sejak tadi.
Belum pernah ada lelaki menanyakan hal itu kepadanya.
Dia mau sembahyang atau tidak, tak pernah ada yang bertanya.
Lelaki terakhir menanyakan itu adalah almarhum kakeknya, dan dulu waktu kecil dia suka membohongi kakeknya mengatakan sudah sholat padahal belum.
Dan kakek selalu tahu jika dia bohong, setelah itu pasti dia akan dimarahi.
Sudah lama sejak kakek dan ibunya pergi meninggalkan dunia ini, selama itu juga Miranti sudah tidak pernah lagi sholat.
Jaya barusan bertanya sambil senyum kepada dirinya, apakah dia sudah sholat atau belum. Miranti bingung tak tahu harus menjawab apa, pertanyaan yang sangat menyulitkan bagi dirinya untuk menjawabnya.
"Jaya....eehhmm....aku sudah lama tidak sholat, "jawab Miranti sambil menunduk lalu membuang mukanya ke arah jendela apartemennya.
Jaya menghempaskan dirinya ke sofa lalu menarik nafas dalam-dalam.
"Alasannya apa sehingga kamu meninggalkan sembahyang?"tanya Jaya sambil memegang keningnya.
"Apa pedulimu, aku mau sembahyang atau tidak. Itu urusanku, "Miranti mencoba mengelak atas pertanyaannya Jaya.
"Oke...aku memang tidak punya urusan soal itu, benar itu semua urusanmu. Tapi aku hanya mau berbagi kisah saja, dulu akupun jauh lebih bejat daripada kamu. Dulu aku pengguna narkoba, mabuk, judi dan bermain wanita,"kata Jaya membeberkan dirinya dulu.
"Tapi aku ingin berubah, aku tak mau hidup seperti itu selamanya. Kita dikejar usia untuk membuat hidup dan diri kita menjadi lebih baik, karena suatu saat kita harus kembali kepada Pencipta".
"Aku bukan Ustadz, bukan ahli agama. Tapi aku mencoba untuk melaksanakan perintah Tuhanku agar hidupku sedikit lebih baik dan lebih berarti,"ucap Jaya panjang lebar menasihati Miranti.
"Aku sudah kotor...aku sudah tidak suci lagi, aku juga sudah banyak menggoda lelaki dan tidur dengan siapa saja. Apakah masih berarti aku dimata Tuhan, apakah mau Tuhan mendengar doaku?"Miranti berkata dengan nada kesal dan menangis.
Jaya diam meletakkan kedua sikutnya di atas kedua pahanya, dan dagunya ditopang dengan kedua genggaman tangannya.
"Setahu aku dokter mengobati orang yang sakit, begitu juga Tuhan lewat tangan Nabi merangkul orang berdosa".
"Saat kita sakit tapi tidak berobat ke dokter pasti akan semakin parah sakitnya. Begitu juga saat kita merasa penuh dosa, bersembahyanglah memohon ampunan," analogi yang mudah untuk dicerna mengenai doa yang disampaikan seorang Jaya.
Miranti terdiam lama sambil menatap keluar jendela.
"Aku lupa Jaya....apa yang harus aku ucapkan saat kita sholat,"Miranti berkata pelan hampir tak terdengar.
"Ambil mukenah dan sajadah tadi, aku bimbing kamu," Jaya berkata dengan mantap menatap Miranti.
Miranti disuruh membersihkan pewarna kuku ditangan dan kakinya, diajari lagi cara berwudhu yang benar.
Setelah itu dia membongkar isi lemari mencari mukenahnya, dan ternyata ada di tumpukan pakaiannya paling bawah sekali.
Warnanya sudah kusam nyaris tak terlihat seperti mukenah tapi seperti lap kotor yang tersimpan lama.
Jaya memejamkan matanya tidak sanggup melihatnya, tapi mau tak mau saat ini Miranti harus memakainya untuk sholat.
Miranti memakai mukenahnya dan dengan tuntunan Jaya dia mulai ingat kembali tata cara sholat.
Jaya mengucapkan Niat, lalu diikuti Miranti, kemudian Iftitah dilanjut dengan Al-Fatihah dan seterusnya sampai selesai empat rakaat.
Dengan sabar Jaya menuntunnya, dan kalau mau tahu ini juga kali pertama dalam hidup Jaya merasa terpanggil untuk membawa wanita ini ke jalan yang lebih baik.
Setelah selesai sholat, kemudian Miranti bertanya kepada Jaya sambil matanya berkaca-kaca.
"Jaya mengapa kamu begitu peduli kepadaku, kita belum lama kenal dan kamu juga belum tahu banyak tentang aku?"tanya Miranti dengan tatapan nanar.
"Kembali lagi Miran, aku bukan ahli agama tapi dalam keterbatasan pengetahuanku, rasanya tidak salah kalau aku ingin membawamu ke arah yang lebih baik,"jawab Jaya sambil senyum hangat kepada Miranti.
Aslinya Jaya adalah seorang playboy, kalau sampai berduaan dengan wanita pasti sudah habis wanita itu dia tiduri.
Namun sekarang dia sama sekali tidak ingin menyentuh Miranti.
Malam itu dia tidur di sofa, sementara Miranti di kamarnya sendiri.
Jujur saat ini Miranti merasa sangat malu dengan dirinya. Dia merasakan dirinya sangat hina sekali saat ini.
Dalam hati kecilnya dia berjanji ingin berubah, ingin menjadi seorang wanita yang memiliki sikap yang lebih baik.
Jaya berbaring di sofa menonton TV sampai ketiduran, saat ini sedang ada tayangan berita penyergapan gudang minuman keras impor ilegal di kota Batam. Bahkan seluruh komplotannya berhasil ditekuk lututkan oleh satuan POLDA Batam.
Miranti membawa selimut, lalu dia membentangkan selimutnya menutupi tubuh Jaya.
Lantas mengambil remote televisi dan mematikannya.
Panggilan Adzan subuh terdengar, Anton segera bangun dan mandi wajib.
Mela membongkar sprei yang terkena noda darahnya semalam dan segera menggantinya dengan yang baru.
Setelah Anton selesai mandi, Mela juga segera mandi sambil membersihkan sprei yang ada noda darahnya.
Setelah keluar kamar mandi, rupanya Anton masih menunggu mengajaknya sholat subuh berjamaah pertama kali setelah resmi menjadi pasangan suami istri.
Usai menunaikan ibadah, Anton mengulurkan tangan kanannya dan Mela mencium tangan suaminya.
Keduanya merasakan sangat bahagia bisa melaksanakan ibadahnya bersama sebagai suami dan istri.
Mela berjalan menuju pintu, mencoba membukanya. Namun nihil ternyata pintu masih terkunci dari luar.
"Pintunya masih dikunci oleh cici Anita, bagaimana kita bisa keluar?" kata Mela sambil duduk disamping suaminya di pinggir tempat tidur mereka.
"Ya sudah mau bagaimana lagi, kita tunggu saja sampai pintu dibuka,"sahut Anton dengan santai sekali.
Mela menatap suaminya dan segera memeluknya, sambil menghirup bau aroma tubuh suaminya.
"Sayang, sekarang kan aku sudah jadi istri, kita buat panggilan berbeda yuk. Sayang ingin ku panggil apa?"tanya Mela kepada suaminya sambil tetap memeluk dan menghirup aroma tubuh Anton.
"Apa yah...terserah saja...mau mas boleh....mau abang boleh...mau koko
juga boleh... apa saja terserahmu,"
sahut Anton sambil mencium rambut istrinya.
"Kalo mas.. engga lucu ah... sayang kan orang Sunda, kalo abang juga bukan orang Sumatera, koko....engga ah... mata boleh sipit tapi kulit coklat kurang
pantas," ujar Mela sambil memegangi wajah suaminya.
Anton merengkuh menarik tubuh Mela istrinya, berpelukan sambil berbaring di atas tempat tidur.
"Jadi mau panggil apa, aku sih apa saja boleh asal jangan Kang...,"kata Anton mulai memeluk istrinya lebih erat lagi.
"Kenapa tidak mau dipanggil Kang, itu kan panggilan sunda?" Mela bertanya dengan manja.
"Tak suka saja, sayang...plis deh jangan sebut kang lagi yah,"Anton merasa risih mendengar dan menyebut kata Kang.
"Panggilan gemas yah .... aku panggil sayang Pi dan sayang panggil aku Mi...dari Mimi dan Pipi... hihihi," Mela membuat panggilan gemas buat mereka berdua.
"Oke Mi...siap Mi...,"
Mela jadi gemas sendiri dan dia mulai berani mencium suaminya duluan.
Jelas Anton segera membalasnya dengan lebih bertubi-tubi.
"Mi...kita seperti tadi malam lagi yuk, mumpung pintu masih dikunci,"ajak Anton yang mulai naik birahinya.
"Malu Pi...nanti kalau cici tiba-tiba masuk bagaimana?".
"Tidak akan...pasti cici akan mengetuk dulu atau akan telepon aku".
"Pi...tapi nanti sakit lagi engga... atau
berdarah lagi engga....?".
"Engga lah...kan jalannya sudah terbuka semalam kan sudah aku terobos".
"Terus sekarang harus bagaimana?" tanya Mela lagi malu-malu sambil mencubit gemas ke dada suaminya.
Tanpa banyak bicara lagi Anton segera mencium bibir istrinya, dan tangannya segera membuka pakaian istrinya dan pakaiannya juga.
Lalu keduanya kembali mengulang apa yang semalam telah mereka lakukan, cuma sekarang Mela jauh lebih santai sehingga bisa merasakan kenikmatan bersama suaminya.
Anita memasukan kunci pintu melalui kolong pintu sambil cekikikan bersama suaminya.
Memang dia orangnya suka iseng dan jahil baik kepada siapapun juga.
__ADS_1
"Bun...taruhan yuk...mereka keluar kamar jam berapa?"ajak Fajar kepada istrinya.
"Kata Bunda sih jam tujuh pagi, kalau ayah jam berapa?"tanya Anita sambil memasang wajah manja kepada suaminya.
"Kata ayah sih jam delapan pagi".
"Kalau bunda yang menang nanti ayah harus memijat punggung bunda yah...".
"Boleh....tapi kalau ayah yang menang... nanti di Garut dua kali yaaahhh".
Anita lalu mencebikan bibirnya sambil beranjak berdiri, tapi suami menariknya hingga Anita sekarang berada dipelukan suaminya.
"Bun...ke atas yuk...mumpung anak kita belum bangun...kita mengenang lagi masa-masa seperti Anton dan Mela".
"Ih..ayah...sudah mau pagi loh..".
Tapi Fajar terlihat tak tahan lalu segera berdiri dan menarik tangan istrinya menuju ke atas ke kamar mereka.
Selanjutnya kita tak perlu bahas karena itu urusan mereka... hihihihi
Pak Salim dan ibu Aryani juga ibu Sinah sedang duduk di meja makan sambil berbincang.
Rencananya mereka hari ini akan ke kota Garut karena ada undangan dari keponakan ibu Aryani yaitu Septa Hidayat yang telah membuka hotel baru di sana.
Usaha hotel ini modalnya gabungan dengan salah satu keponakan lainnya juga yaitu Serina Mustika.
Aryani memiliki tiga bersaudara dan semuanya perempuan.
Yang paling besar Suryani, tinggal di Jakarta dan menikah dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Adnan Mustika.
Mereka mempunyai dua orang anak yaitu Serina Mustika dan Anwar Mustika.
Serina Mustika sudah menikah dengan pejabat tinggi negara yang menempati jabatan sebagai salah satu wakil rakyat dari suatu partai besar.
Sementara Anwar Mustika adiknya tinggal di luar negeri menjadi tenaga pengajar di salah satu universitas terkenal di negeri paman sam.
Aryani sebagai anak penengah dan yang bungsu adalah Cahyani menikah dengan tokoh masyarakat Garut yaitu Tarman Hidayat.
Dari pernikahannya mempunyai tiga orang anak yaitu Septa Hidayat, Janwar Hidayat dan Aprilia Hidayat.
"Ini pengantin baru tidak keluar kamar dari tadi, ngapain saja padahal sudah jam segini,"komentar Pak Salim di meja makan.
Ibu Aryani hanya senyum-senyum saja, dan ibu Sinah yang mendengar juga diam saja padahal dalam hatinya ingin komentar, anakmu sedang mendobrak anakku.
Anita dan Fajar baru turun dari lantai 2 sambil menggendong Kaysan dan Keiza.
Setibanya di lantai bawah, Keiza yang masih tampak mengantuk minta turun dari gendongan ayahnya dan berlari ke arah neneknya.
"Mumu...Kei masih ngantuk mau bobo dipelukan Mumu," kata Keiza sambil neneknya segera menaikan dia ke pelukannya.
"Sini sama Kungkung saja Kei, Kungkung juga kangen sama Kei,"pak Salim menggoda cucunya.
"Engga mau...Kungkung itu giginya palsu...nanti kalo cium Kei copot giginya,"cucunya menolak sambil tangannya mendorong kakeknya.
Semua tertawa mendengarnya, memang Keiza selalu ada-ada saja.
"Wawawawaaaawww,"teriak Kaysan ikut mengomentari, jadi bertambah ramai suasana ruang makan pagi itu.
"Pi...gimana ini, aku malu...di depan semua sedang berkumpul, bagaimana caranya kita keluar,"Mela mengeluh karena merasa malu kalau keluar kamarnya.
"Sama aku juga deg-deg an tapi mau tak mau kita harus keluar juga," kata Anton mencoba mengajak istrinya keluar kamar.
Memang benar kunci kamar sudah ada di bawah pintu, dan mereka sebenarnya sudah bisa keluar dari kamarnya.
Tapi sudah lebih dari lima belas menit mereka berdua saling tunjuk siapa yang berani keluar kamar lebih dulu.
Setelah lama saling tunjuk akhirnya keduanya menguatkan hati untuk keluar kamar bersama-sama, yang pasti harus kuat menahan malu karena pasti kakak mereka akan menggodanya.
CEKLIK....CLEK...KREEEKKK
Pintu kamar terbuka, semua yang duduk di meja makan menatap ke arah kamar yang mulai terbuka pintunya.
Anton muncul dengan senyum merekah, sementara Mela berdiri di belakangnya sambil dag dig dug dan menahan malu.
"Waaaawwww....pengantin baru muncul juga akhirnya, tampaknya babak belur nih... hahahahahha," biasalah siapa lagi kalau bukan Anita yang suka ceplas ceplos.
Yang lain hanya senyum-senyum melihat sepasang pengantin baru yang keduanya mukanya memerah bak kepiting rebus.
"Sini Mela duduk disamping mamah, jangan malu-malu biasa saja namanya juga pengantin baru...hehehe,"ibu mertua malah ikut menggoda Mela.
Mela duduk di samping ibu mertuanya, dia terus menunduk karena merasa malu menjadi perhatian semua yang ada diruangan tersebut.
"Nok...jangan duduk dulu, buatkan suamimu minuman, tanyakan mau minum apa dan sarapan apa, sekarang kamu sudah menjadi istri,"ibu Sinah langsung mengingatkan Mela kalau dirinya sekarang sudah berbeda dengan sebelumnya.
Mela mengangguk, lalu bertanya kepada suaminya dengan suara pelan," Pi.. mau minum apa dan sarapan apa?"
"Aku kalau pagi minum air putih segelas dan juga teh jahe hangat, di dapur kami pasti selalu ada teh jahe," kata Anton kepada istrinya, lalu Mela beranjak pergi ke dapur.
Belum sampai di dapur, tiba-tiba Anton merasa lapar juga, biasanya di dapur rumah mereka suka ada rebusan telur ayam kampung.
"Mi...satu lagi dong say...kalau ada telur ayam kampung rebus aku mau yah..".
"Yaelah.....hahahaha...ayah.. sekarang ada Pipi dan Mimi dong...hahahaha," Anita kembali menggoda adiknya sambil menyenggol suaminya.
Tambah ramai lagi suasana pagi itu dengan kehadiran pasangan pengantin baru yang sudah pasti menjadi bahan godaan bagi semua orang.
"Iya pengantin baru harus semangat, biar cepat memberi cucu lagi buat Papah dan Mamah juga ibu Sinah yah,"pak Salim juga ikut menggoda sambil berharap Anton dan Mela segera memberikan mereka tambahan cucu.
Lalu mereka membahas rencana ke kota Garut hari ini, setelah panjang lebar mengatur jadwal akhirnya sepakat akan berangkat pukul sepuluh pagi ini.
Karena di sana akan ada acara jamuan makan siang dari sepupunya Anita dan Anton.
Mereka semua akan menginap perdana di hotel milik Septa secara gratis, kalau kata orang dahulu dijadikan penglaris.
Orang nanti akan melihat banyak yang menginap di hotel tersebut, padahal semuanya keluarga dan gratis...hihihi... politik dagang bisa bagaimana saja caranya.
"Nanti naik mobil Fajar saja, biar jadi satu mobil ramai-ramai,"kata pak Salim kepada menantu lelakinya.
"Tapi tidak nyaman Pah, kalau buat Papah dan Mamah sih,"Fajar merasa kaget ketika mertuanya ingin di mobil dinasnya.
"Tidak apa-apa yang penting kan bisa sekeluarga besar masuk ke sana, gitu aja kok repot...Fajar.... Fajar....," mertuanya kekeh ingin di mobil itu dan Fajar menuruti keinginannya.
Lantas dia segera ke garasi memeriksa kondisi mobilnya, membersihkan dan merapihkan bagian belakang yang kemarin-kemarin sering dipakai untuk membawa dus obat-obatan.
Semuanya berkemas-kemas, Anita seperti biasa membawa pakaian dan barang-barangnya seperti mau pindah rumah. Keperluan anak-anaknya sangat banyak sekali.
Mela juga sekarang tidak bisa hanya mengurusi pakaiannya sendiri tapi juga sekarang harus membenahi keperluan suaminya juga.
Pukul sepuluh lebih lima menit mereka sekeluarga besar sudah berada di dalam mobil.
Fajar yang mengemudi, pak Salim duduk disampingnya.
Ibu Sinah dan ibu Aryani di bagian tengah bersama Anita dan anak-anak kecil.
Pasangan pengantin baru duduk di paling belakang.
Rumah dititipkan kepada Encum, sementara Apotik menjadi tanggung jawab Wahyu dan klinik oleh Yanto.
"Mela nanti jangan sakit hati dan terbawa perasaan yah, begitu juga ibu Sinah. Maaf keluarga saya semuanya hampir seperti saya dan Anita kalau bicara ceplas ceplos tidak dipikir,"ibu Aryani membuka pembicaraan agar setiba di kota kelahirannya nanti keluarga barunya jangan terkejut dengan sikap keluarga besarnya di kota sana.
"Memangnya kenapa Mamah?"tanya Mela kepada mertuanya.
Tapi Anton yang malah menjawabnya," Mi...kamu tahu kan cici Anita gimana kalau bicara, ceplas ceplos dan mak jleb...nah nanti ada yang lebih seram lagi...nyonya besar Serina Mustika...tak terkalahkan pedasnya".
"Hahahaha...iya nanti ada Serina...aku sih tak ada apa-apa mulutnya kalau dibanding dia...hahahaha,"Anita tertawa mendengar nama Serina Mustika disebut.
"Ya sudah pokoknya begitu saja yah, jangan didengar dan jangan masuk ke hati. Mulutnya pedas tapi hatinya baik, maklum dia sedari kecil tak pernah mengalami susah hidupnya jadi kalau bicara asal saja,"ibu Aryani kembali mengingatkan kepada besan dan menantunya agar jangan sampai termakan ucapan kalau nanti bertemu Serina Mustika.
Sementara di hari yang sama, di suatu tempat lain di waktu subuh.
Jaya mengetuk pintu kamar Miranti dan mengajaknya untuk sholat subuh.
Miranti dengan susah payah bangun dari tidurnya, tapi dia usahakan untuk segera bangun dan terjaga.
Lalu dia mengikuti semua perintah Jaya untuk melaksanakan ibadah subuh.
"Kamu sembahyang bukan untuk aku, tapi untuk kebaikan dirimu sendiri. Kalau benar ingin berubah, maka semangat lah melakukan hal yang baik,"Jaya mengingatkan dan menasehati Miranti.
Walau terasa begitu menyiksa saat ini bagi dirinya tapi dia berusaha untuk melaksanakan ibadahnya.
Terasa menyiksa memang harus bangun subuh, lalu terkena air dingin berwudhu. Padahal jam seperti itu masih sangat enak dibawa tidur.
Ayo lebih menyiksa mana, bangun subuh beribadah atau siksaan api neraka kelak bagi orang yang mengabaikan ibadah.
Ketika matahari sudah naik, Jaya mengajak Miranti pergi mencari sarapan dan juga mengantarnya ke kantornya untuk minta ijin cuti kepada atasannya.
Jaya membuka lemari pakaian Miranti, mencari pakaian lengan panjang yang tertutup.
Ada kemeja lengan panjang, dan Jaya meminta dia mengenakannya, awalnya Miranti menolak dengan alasan gerah memakai pakaian lengan panjang.
Tapi Jaya memaksa dan mengatakan dosa bagi wanita mengumbar aurat, dengan kembali merasa terpaksa Miranti menuruti keinginan Jaya.
Setelah selesai sarapan dan sudah mendapatkan ijin dari atasannya untuk cuti, maka Jaya membawa Miranti ke toko pakaian wanita muslimah.
Dia membelikan Miranti mukenah dan juga beberapa pasang pakaian tunik.
"Aku tak bisa pakai gamis, panjang membuat sulit melangkah," Miranti mencoba berkelit kepada Jaya saat di dalam toko pakaian wanita muslimah.
"Tapi ini tunik bu, tidak panjang hanya selutut. Ibu kalau suka memakai celana panjang ketat bisa dipadukan dengan pakaian model seperti ini," sahut pelayan toko dengan ramah kepada Miranti.
"Kamu dengar tidak apa kata mbak penjaga ini, ayo coba dulu. Jangan protes dulu, coba dulu baru tahu baik atau tidaknya,"Jaya selalu berkata tegas kepada Miranti agar memakai busana lebih santun.
Keluarga Wiharja tiba di halaman rumah keluarga Tarman Hidayat bersamaan dengan rombongan keluarga Septa yang baru saja tiba di rumah orang tuanya.
Mereka semua turun dari mobilnya masing-masing secara bersamaan.
Di pintu utama rumah tampak ada seorang wanita berusia menjelang empat puluh tahunan dengan perawakan tinggi besar, sedang berdiri menatap yang baru saja tiba ke rumah itu.
"Bibi Ar...Mamang Salim..apa kabar.... semoga sehat yah,"sambut Serina Mustika saat melihat paman dan bibi nya turun dari mobil.
"Ini siapa bi Ar ?"tanya Serina saat melihat ibu Sinah.
"Ini besan, ibunya Mela mertuanya Anton," jawab ibu Aryani dan Serina segera mengenalkan diri sambil menyalami ibu Sinah.
"Ayo bu silahkan masuk, walau bukan rumah saya tapi rumah bibi Cah adiknya bibi Ar dan ibu saya,"kata Serina mempersilahkan ibu Sinah masuk ke dalam rumah adik ibunya yaitu Cahyani.
__ADS_1
Serina lalu melihat keluarga Septa yang semuanya baru turun dari mobil.
"Waduh...Septa....Lisma....ini keluarga pempek baru datang... tidak sopan yah gue sudah dari tadi menunggu..!!!,"seru Serina kepada pasangan Septa dan Lisma istrinya yang memang asli orang Palembang.
Septa dan Lisma memberi salam kepada kakak sepupunya itu, lalu sang kakak sepupu kembali bertanya," Mana anak-anak pempek kok tidak dibawa?".
Lisma mendengarnya sudah biasa dan menjawab dengan santai," Anak-anak pempek masih di sekolah, nanti diantar oleh bus sekolahnya kemari. Tadi aku sudah pesan kepada sopirnya".
Serina menganggukan kepalanya sambil sekarang mengarah kepada keluarga Batam yang baru beres turun dari mobil.
"Nah ini keluarga bingka* Batam, apa kabar kalian semua?"sapa Serina kepada keluarga Fajar.
*Bingka adalah nama kue asli khas melayu Batam
Fajar, Anita dan anak-anak menyalami Serina, Keiza dan Kaysan dipeluk dan diciumi oleh wawaknya itu.
"Ini mobil siapa bingka Batam?"tanya Serina kepada Fajar.
"Punya akulah...kenapa memangnya Ceceu?"tanya Fajar balik bertanya kepada Serina yang dipanggil Ceceu oleh semua adik sepupunya.
"Mobil kayak ambulans, ganti dong... bikin malu saja bawa orang tua naik mobil begini,"kata Serina langsung nyeplos tanpa dipikir lagi, kalau yang belum paham wataknya pasti akan sakit hati mendengarnya.
Tapi Fajar dan Anita santai saja, malah Anita menjawab dengan cueknya," Belikan kami dong mobil bagus, masa nyonya besar tidak mau membelikan satu saja untuk kami....hahahaha",
Serina mencebikan bibirnya mendengar ucapan Anita.
Tak lama Anton dan Mela turun, nah ini dia sudah pasti jadi sasaran komentar pedas Serina.
"Anton kamu ikut juga...wah selamat yah...sorry kemarin gue kaga bisa hadir...ini juga baru nyampe tadi pagi dari Jakarta," sapa Serina saat melihat ada Anton lalu mereka bersalaman.
Mela dibelakang Anton ikut menyalami Serina, dan sudah pasti jadi sasaran komentar.
"Ini istri elu...kok kecil mungil kayak anak SMP yah...pacar elu jaman dulu kan tinggi besar kayak gue,"memang Ceceu Serina ini kalau sudah bicara rem nya blong.
"Beda dong Ceu...dulu sih pacar... yang ini sih istri...,"jawab Anton dengan senyum dipaksakan.
"Mela yah...orang mana kamu asalnya?" tanya Serina menyelidik.
"Saya asli dari Cirebon,"jawab Mela dengan sopan.
"Oh...melarat dong yah...hahahaha... kerupuk melarat...ada-ada saja Anton milih istri melarat,"kalau tak paham pasti terasa menghina, maksudnya adalah kerupuk melarat salah satu makanan khas Cirebon.
Kerupuk melarat adalah makanan ringan olahan tepung tapioka yang diberi pewarna makanan, digoreng nya tidak pakai minyak goreng tapi menggunakan pasir.
Mela terhenyak mendengar perkataan Serina, membuatnya diam saja melongo tak bisa bergerak.
"Kamu praktek dimana sih Anton?"tanya Serina lagi kepada sepupunya itu.
"Di puskesmas Jamblang di kota Cirebon,"jawab Anton menjelaskan kepada sepupunya.
"Pantas kamu jadi dokter kampung di puskesmas Cirebon, makanya dapat istri kerupuk melarat... hahahaha.... dasar elu tuh ada-ada aja ,"seloroh Serina sambil tertawa.
Sebenarnya dia tidak pernah bermaksud menghina orang lain, hanya gaya bicaranya seperti orang merendahkan orang lain.
Kalau orang yang belum kenal pasti sakit hatinya mendengarnya.
Lalu semua masuk ke dalam rumah ibu Cahyani, ibu kandungnya Septa Hidayat.
Setelah semua bersalaman, lalu antara kaum orang tua, anak-anak kecil dan mama papa muda masing-masing memisahkan diri, karena beda bahan pembicaraan.
Mama papa muda ada di ruangan tengah rumah besar itu.
Ada Ceceu Serina Mustika pastinya, Anton dan Mela, Anita dan Fajar, beserta Septa dan Lisma.
Sementara adik-adiknya Septa yaitu Janwar dan Aprilia mengasuh anak- anak kecil di halaman belakang.
"Ceu Serina..elu udah ngasih ang pao* belum buat Anton dan Mela, kemarin tidak datang ke undangan kan?"Septa mulai menyindir kakak sepupunya.
*Ang pao : diambil dari bahasa Mandarin yang artinya uang hadiah.
"Belum euy...iya gue lupa... elu mau uang berapa Ton?"tanya Serina kepada Anton sambil memegang gawainya siap untuk mengirimkan dana.
"Ah... terserah Ceceu saja kalau memang mau memberi sih... silahkan saja kami mah bebas,"sahut Anton sambil senyum-senyum karena tahu kakak sepupu ini walau tajir melintir-melintir kadang suka agak pelit melilit.
"Mana no rekeningnya, bakalan gue transfer nih,"kata Serina bersiap untuk mengirimkan uangnya.
Anton menyebutkan nomor rekening, Serina terlihat menekan beberapa angka kemudian dia mengirimkan sejumlah nominal ke rekening Anton.
Septa mengintip dari belakang badan Serina dan dia langsung komentar.
"Masyaallah Ceceu...elu pelit sekali... masa kirim uang ke Anton cuma segitu, dulu waktu aku nikah memberi dua kali lipatnya loh...,"Septa membuat panas kembali suasana.
"Monyong Septa, kan waktu dulu elu nikah di Palembang. Nah Anton kan di Bandung jadi lebih dekat jaraknya,"tukas Serina membela pendapatnya.
"Gak kaci lah...tetap saja harus adil merata, masa nyonya besar tidak adil berbagi,"Septa kekeh juga dengan pendiriannya.
Lalu Septa memberi kode kepada Anita, segera dia paham.
"Ceceu...suwer waktu gue sama Fajar nikah juga elu kaga ngasih sama sekali, jujur gue nih selama ini engga bicara saja...pas Anton dikasih yah gue iri hati sirik dan dengki dong.... hahahah,"Anita juga melancarkan aksinya kepada sang nyonya besar.
"Perasaan gue ditodong sama kalian... udah kaga usah rewel...liburan akhir tahun kita yang diruangan ini gue traktir jalan-jalan....kita wisata...gue yang bayarin semua," Serina membuat heboh sepupu-sepupunya secara tiba-tiba.
"Deal yah...gue rekam nih omongan elu...biar nanti kaga ngelak....,"kata Septa dengan penuh semangat.
"Yaelah...sampe segitunya yah...udah asli gue bayarin semua, jangan kayak orang susah deh, "nyonya besar mengeluarkan kesombongannya.
Lisma dan Mela yang merasa cuma ipar ikut tertawa-tawa saja menyaksikan para sepupu yang saling bekerjasama mengerjai nyonya besar.
Pak Salim tiba- tiba masuk ke ruangan tengah saat anak mantu dan ponakan saling beradu mulut ramai membahas soal jalan-jalan bersama.
"Hmmm...begini...kalian ingat tidak sama tante Hasni yang suaminya duta besar, kemarin ini beliau mengundang untuk ke Singapura. Nanti Mamang bilang sama beliau yah, kalian ke sana saja. Penginapan dan makan dijamin gratis,"kata pak Salim membawa berita segar untuk para keluarga muda itu.
"Ingat dong tante Hasni sih...hayuk kita kesana ada yang gratis sih...,"ucap Serina dengan senangnya karena setidaknya akan mengurangi biaya pengeluarannya.
"Kaga Bisa Ceceu...elu udah janji mau bayarin...masa nyari gratisan...malu dong nyonya besar pakai gratisan," Septa terus mendesak sampai nyonya besar berkata iya.
"Kampret memang elu-elu pade yeh... udah gini aja, kita ke Batam...tiga hari lalu Singapore empat hari sampai tahun baru ...tiket pesawat gue bayarin semua".
"Catet...!!!!"seru yang lain kompak beramai-ramai.
"Hotel di Batam gue yang bayar....tapi makan masing-masing yah..".
"Catet....!!!!"
"Batam ke singapore naik Ferry...nanti gue yang bayar juga".
"Catet...!!!!"
"Di singapore hotel free dari tante Hasni, tapi entar gue bayar sebagian deh kaga enak sama beliau. Makan sendiri-sendiri lagi yah...tapi nanti gue mau traktir kalian di Artemis Sky Bar....gue yakin kalian kalau kesana sendirian kaga bakalan mampu".
"Catet...!!!"
"Fajar...elu yang urus yah...nyari tiket lalu nyari hotel, nanti gue kirim duitnya ke rekening elu".
"Catet...!!!!"
"HOREEEE!!!!!!"
Semua bersorak ketika nyonya besar Serina Mustika sudah mengetok palu akan berjalan-jalan di akhir tahun.
Malamnya semua menginap di hotel NEW SULFUR milik Septa yang ternyata usaha gabungan dengan Serina Mustika dengan kepemilikan saham 50:50.
Tapi Serina menyerahkan kepada Septa semua kepengurusan hotel tersebut, dia tak mungkin ikut campur karena tinggal di ibukota Jakarta.
Hotel masih baru nuansa minimalis tapi sangat asri dan nyaman.
Ada kolam renang air panas yang airnya diambil langsung dari pusat beberapa gunung berapi aktif di kota tersebut.
Mela dan ibu Sinah sangat menikmati berendam di kolam renang air panas berbau belerang yang ada di hotel tersebut.
Belum pernah mereka merasakan hal-hal seperti itu. Bagi keluarga Mela yang namanya liburan adalah hal yang sangat mahal sehingga mereka tak mampu untuk menjalaninya.
Liburan paling top saat masih kecil dulu adalah ke pinggir laut di kotanya, sambil membawa bekal nasi dari rumah.
Sekarang dia merasa seperti menjadi orang paling kaya didunia, menginap di hotel sambil berendam di kolam air panas.
"Nok, saudara suamimu banyak yang orang berada, tapi awas kamu jangan jadi jumawa yah. Harta bisa hilang seketika, walau nanti berada di lingkungan orang kaya tapi jangan pernah berubah yah," ibu Sinah menasihati anaknya.
"Mimi tenang saja, Mela juga paham bahkan Anton juga sudah sepakat denganku untuk tidak meminta apapun kepada mertua, kami ingin memulai segalanya dari nol,"kata Mela berusaha meyakinkan ibunya, dan ibu Sinah merasa senang kalau anak beserta menantunya memang tidak ingin mengandalkan kekayaan keluarganya.
Akhirnya ketika hari semakin malam, semua masuk ke kamar yang sudah ditentukan masing-masing.
Awalnya ibu Sinah kurang suka dengan Serina, tapi ternyata yang tidak bawa pasangan dan tidak bawa anak hanya mereka berdua, maka mau tak mau mereka harus satu kamar.
Setelah berdua di dalam kamar yang sama, ternyata Serina enak diajak bicara. Memang kalau belum tahu pasti akan menilai dirinya sombong namun ternyata tidak, orangnya ramah malah terkesan lucu.
Cuma memang ceplas ceplos nya itu yang sulit di rem, tapi kalau sudah kenal dekat malah bicaranya yang seenaknya itu menjadi lucu.
Di kamar Anton dan Mela, tampak keduanya sedang saling berpelukan sambil menonton televisi.
Sekilas ada berita yang viral kalau di Palembang telah terjadi penyergapan dan juga penangkapan sejumlah oknum pengedar minuman keras ilegal, yang merupakan kiriman dari salah satu negara Eropa. Disinyalir komplotan ini saling terkait dengan penyelundupan minuman keras di dalam peti kemas beberapa waktu yang lalu dan juga penggerebekan gudang minuman keras ilegal di kota Batam.
"Pi...sebenarnya Ceceu Serina itu siapa sih kok sepertinya sangat kaya raya sekali?"tanya Mela memeluk suaminya di kamar hotel sambil menonton TV.
"Pernah dengar nama Adnan Mustika seorang konglomerat yang punya usaha baja dan nikel terbesar di negara kita?" tanya Anton kepada istrinya.
"Ya sering ada di televisi, dan namanya sering muncul di media tapi orangnya sudah cukup berumur ," sahut Mela ingat dengan nama tersebut.
"Itu adalah ayahnya Serina, sementara suaminya juga pasti kamu tahu juga namanya Cakra Wijaya Dirgantara seorang pengusaha, politisi dan sekarang menjadi wakil rakyat".
Mela terkejut mendengar kedua nama tersebut, kedua nama yang sering muncul di berbagai media karena keduanya orang sukses di negara ini.
"Bunda...ayo tadi pagi kalah taruhan sama aku, ayo bayar mumpung Keiza pengertian tidur dengan Kakek dan Nenek" Fajar menagih bayaran taruhan nya, dan Anita segera pura-pura tidur.
Puskesmas sudah kosong sejak siang tadi, namun Haikal minta waktu untuk pulang agak sore karena ingin merubah desain ruang prakteknya yang sudah ada saat ini.
Haikal dibantu oleh Komar dan mulai memindahkan posisi meja juga tempat tidur untuk memeriksa pasien.
Ketika sudah selesai tiba-tiba Komar menangis, sehingga Haikal terkejut dan bertanya apa sebabnya.
Lalu Komar menceritakan semua yang telah dia perbuat kepada dokter Anton.
Selama ini selalu merasa takut kalau berhadapan dengan dokter Anton dan Jaya.
Haikal menepuk keningnya, dia merasa pusing mendengar kisah seperti itu tapi dia berjanji akan membantu Komar.
__ADS_1