Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keenam Puluh Sembilan


__ADS_3

"Mi, antriannya sudah panjang, nanti tunggu di depan sini saja bersama yang lain.Tunggu dipanggil namamu oleh Polisi di dalam".


"Nanti ikuti saja semua prosedur


yang berlaku, jangan terpancing kalau ada orang berpura-pura mau membantu. Nanti malah keluar uang tak jelas dan malah berantakan," kata Anton menjelaskan prosedur pembuatan SIM yang berlaku untuk mengemudi motor.


"Iya Pi, aku paham dan akan mengikuti semua prosedur walau pasti lama mengantri," Mela tampak malas melihat puluhan orang yang sudah hadir lebih dulu.


"Semangat yah sayang, nanti Mi kalau sudah selesai tunggu saja di rumah Wak Darma. Nanti Pi kesana sekalian menengok bayinya Wiwit," kata Anton sambil mencolek dagu istrinya.


"Pi, kalau SIM nya sudah jadi, aku mau pergi membeli hadiah untuk bayinya Wiwit. Apakah boleh?"tanya Mela sambil berharap diijinkan.


"Mau membeli apa?".


"Baju bayi atau boneka sajalah?".


"Baju bayi dan perlengkapan bayi saja, jangan memberikan boneka berbulu untuk bayi. Tidak baik nanti mengganggu pernafasannya".


"Siap pak dokter".


Lantas Anton memesan ojek online untuk pergi bekerja ke puskemas.


Dia yakin istrinya tidak usah dia dampingi untuk membuat surat ijin tersebut, karena istrinya pintar dan mandiri.


"Tumben banget pakai ojek online, dari mana sih?"tanya Jaya penasaran saat melihat Anton tiba di puskemas.


"Sttt...habis sama yang muda dong," jawab Anton menggoda Jaya.


"Hmmm...istri sudah di sini masa baru sama yang muda, curiga ini sih," Jaya menyelidik.


"Kepo amat bro...hahahaha... makanya jangan jomblo, kalau jomblo engga bakalan paham," Anton berkata sambil tertawa dan masuk ke pintu utama puskesmas.


Jaya menatapnya dengan sebal tapi masih curiga, ingin tahu sahabatnya dari mana.


"Dokter, barusan saya simpan paket dari Bandung di meja praktek anda," kata Komar sambil menunjukkan yang dimaksud.


"Ya terima kasih yah".


"Dokter!!!!"teriak Murni saat Anton akan masuk ke ruang prakteknya.


"Dok...kiriman dari Bandung itu isinya apa sih...makanan yah... keripik tempe kesukaanku yah?"kata Murni ingin tahu sambil bergaya sok manja.


"Aduh Embot...itu kiriman dari kakakku buat istriku, aku juga tidak tahu apa isinya tapi yang pasti bukan makanan".


"Embot...berhenti makan terus sih, kan sudah janji mau diet," kata Anton kepada Murni yang sekarang dipanggil Embot alias gembrot.


Murni kembali ke ruangannya dengan sebal karena dia gigit jari ternyata kiriman sekarang bukanlah makanan.


Setelah mengisi test tertulis tentang peraturan lalu lintas dan dinyatakan lulus, lalu sekarang mulai mengikuti test keterampilan mengendarai sepeda motor.


Untung kedua test tersebut bisa dilalui dengan baik, sehingga Mela dinyatakan lulus dan layak untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi Sepeda Motor.


Kartu ijin baru bisa diterima saat menjelang sore hari karena hari itu peserta sangat banyak sekali.


Mela dengan merasa bahagia melangkah menuju motornya dan meninggalkan kantor polisi untuk mencari penjual mie ayam.


Tak lama dia menemukannya tak jauh dari sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi dan anak.


Semangkuk mie ayam bakso dia pesan dan tak lupa segelas es jeruk segar.


Suaminya langsung mengomel saat menelepon dan tahu istrinya sedang makan mie ayam.


Anton sekarang jadi lebih cerewet soal makanan setelah menikah, dia benar-benar menjaga agar istrinya tidak makan sembarangan.


Sekarang selalu meminta istrinya makan sesuai standar empat sehat lima sempurna, selama ini istrinya terlalu kurus dan kalau makan sembarangan nanti malah menjadi sakit.


Mela cekikikan dalam hati, tapi mau bagaimana kan sudah dipesan dan juga sudah ada dihadapan mata, maka sambil mengunyah sambil berkata dalam hati.


"Maafkan aku suamiku sayang, tapi panas begini semangkuk mie ayam sangat menggoda," hingga tandas habis tak tersisa satu helaipun mie ayam di mangkuknya.


Setelah membayar kemudian Mela memasuki toko perlengkapan bayi dan memilih baju-baju bayi perempuan yang sangat lucu-lucu sekali.


Setelah dibungkus kado, lalu dia melaju menuju ke rumah Wak Darma ingin bertemu dengan keponakan kecilnya.


Wiwit menyambut Mela dengan gembira, dan memperlihatkan bayi kecilnya yang sedang terlelap.


Ingin sekali memeluk bayi kecil itu tapi karena terlihat sedang terlelap maka tidak tega bila harus membangunkannya.


"Ayo cepat punya sendiri,"kata Wiwit kepada Mela.


"Kepingin sekali Wit, tapi entah bagaimana caranya biar aku bisa segera hamil".


"Jangan putus asa, setiap orang berbeda-beda, ada yang cepat hamil ada juga yang lama. Sabar saja pasti nanti juga diberikan kesempatannya".


Karena lama tak berjumpa maka Wiwit dan Mela saling mencurahkan isi hati, entah soal keluarga, mertua, orang tua dan sebagainya.


"Menurutku Anton segitu sih tidak cerewet dong, tandanya cinta sekali sama kamu Mela," komentar Wiwit menanggapi cerita Mela.


"Tapi dulu waktu kami masih di sini, aku mau makan apa juga dia cuek saja kok ," kata Mela menimpali.


"Ya beda dong say, dulu kan kalian masih pacaran belum jelas. Sekarang kamu sudah jadi istrinya kan, jelas perlakuan Anton akan berbeda kepadamu".


"Kamu pikir Surya tidak rewel, salah duga deh kamu, apalagi sudah ada anak. Tiba-tiba anakku batuk atau bersin, pasti dia langsung ngomel kepadaku. Padahal mungkin anakku cuma tersedak atau bersin karena debu," Wiwit juga menyampaikan tentang Surya saat ini.


"Alhamdulillah sih Surya mau loh mengganti popok anaknya kalau tengah malam dia menangis karena popoknya penuh. Bahkan dia tidak merasa jijik membersihkan anaknya kalau buang air besar," kata Wiwit memuji suaminya.


"Mungkin Surya kasihan sama aku, kalau habis meneteki anak di tengah malam pasti sesudahnya Surya yang menangani dan aku tidur lagi".


Mela hanya tersenyum mendengar cerita Wiwit, dalam hatinya ada rasa takut kalau sampai kehamilan tak juga menghampirinya.


Dia ingin sekali merasakan juga apa yang Wiwit ceritakan barusan, hamil lalu melahirkan dan punya bayi.


"Ayo masuk...istrimu ada di atas, langsung saja kesana. Aku mau beresin toko dulu," kata Surya saat Anton tiba di rumahnya.


Anton langsung masuk ke atas menuju kamar bayinya Surya dan Wiwit, sementara Surya masih di toko bersama Wak Darma yaitu mertuanya.

__ADS_1


Surya menghitung dan mencatat pendapatan hari ini.


"Assalamualaikum ".


"Walaikumsalam".


"Nah itu Anton datang, untung aku sedang tidak meneteki... hahaha," kata Wiwit sambil tertawa.


Anton permisi dulu hendak mencuci tangan dan wajahnya, setelah itu dia kembali dan mendekati bayinya Wiwit yang sekarang sudah bangun.


Lantas Anton meraih dan memeluk bayi mungil itu dan diletakan di tangannya.


"Waduh dokter sih beda yah, mahir menggendong bayi," kata Wiwit ketika melihat Anton dengan luwes menggendong anaknya dalam pelukan tangannya.


"Iya harus dong, kan kalau yang berobat di puskemas itu bukan orang dewasa saja, kadang ada juga yang membawa bayinya," sahut Anton menjelaskan kepada Wiwit.


"Ayo punya sendiri cepetan, biar tidak menggendong bayi orang saja,"Surya ikut nimbrung di depan pintu.


Mela tersenyum kecut, karena dia yang paling merasa kalau ada yang berkata demikian.


"Tenang bro, lagi diolah dulu, kalau sapi sih penggemukan dulu... hahahaha...istriku terlalu kurus nih," kata Anton sambil tertawa.


"Enak saja aku disamakan dengan sapi," sahut Mela sambil melotot kepada suaminya.


Semua jadi tertawa melihat Mela kesal sambil melotot manja ke arah suaminya.


"Mela...Anton...kalian kan sudah di Kota sini, nanti hari minggu ada waktu tidak yah...Wak ingin mengajak kalian menengok Wak Atin," kata Wak Darma di depan pintu kamar bayi.


"Bisa Wak...nanti hari minggu pagi saya dan Mela akan segera kemari," kata Anton menjawab cepat.


Wak Darma menganggukan kepala lalu berlalu ke arah kamarnya.


Beliau masih suka merasa sedih, karena sekarang ada cucu tapi istrinya malah terganggu kejiwaannya.


Andai dulu istrinya bersikap baik layaknya seorang istri dan ibu, tentu sekarang akan bahagia berdua menimang cucu.


Selepas Maghrib Anton dan Mela pamit pulang ke rumah mereka, sebelumnya ke rumah mereka mampir dulu di kedai sate ayam di dekat kampus Mela dulu.


Mereka makan sambil mengenang masa-masa awal kedekatan dulu dimana waktu itu hati sudah mulai bicara tapi rasa ragu melanda.


Mela mukanya memerah saat Anton menggodanya," Mi jujur yah waktu pertama aku jemput ke kampus dulu, disitu Mi sudah cinta belum sama aku?".


"Bukan kejadian itu kok aku jatuh cinta sama Pi".


"Jadi waktu kapan merasa jatuh cinta sama aku?".


"Hmmm....hahahaha...kenapa sih musti ditanya...malu ih Pi".


"Kenapa malu kan aku suamimu


sendiri...ayo cepat jawab".


"Hahaha...waktu...kita pertama ketemu, saat pertama banget Pi sama Mamah dan Papah ke paviliun,"jawab Mela sambil menutup wajahnya.


"Berarti dugaanku benar deh, soalnya aku juga sama kok waktu itu merasa suka sama Mi".


Anton menatap istrinya lalu berbisik ke telinganya," Berarti Mi suka kan kalau dipaksa ..nanti malam kita main paksa-paksaan...yah".


Mela mencebik manja, lalu pesanan sate mereka tiba dan mereka berdua makan dengan nikmat.


Mela turun dari jok belakang motor dan segera membuka kunci pintu pagar.


"Bu Anton...Bu Anton...tunggu...," Ibu Darwis dan Ibu Lukas terlihat menghampiri dirinya.


Pintu pagar dibuka dan Anton membawa masuk motornya ke dalam garasi, membiarkan istrinya di luar berbincang dengan ibu-ibu tetangga.


"Ya Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Mela kepada keduanya.


"Aduh Bu Anton, tadi siang tidak ada di rumah kan yah, itu tadi dicari sama si orang stress," kata Bu Darwis terlihat wajahnya kesal kepada seseorang.


"Iya Bu Anton, itu ibunya Hiro dan Hera kemari lagi, tadi teriak-teriak di depan pagar memanggil Ibu Anton. Tapi untung Bu Anton sedang tidak di rumah," Ibu Lukas juga menuturkan soal Triana.


"Pasti dia akan marah-marah lagi kepada Ibu Anton, aku jadi makin kesal melihatnya," Ibu Darwis terlihat emosi sekali.


"Entahlah kenapa lagi, tapi mau apa yah dia. Padahal kemarin juga dia kemari dan bilang maaf sampai mengatakan angkat saudara segala loh ," Mela juga menceritakan soal Triana.


"Saran saya sih Bu Anton, jangan sampai terlibat apapun sama dia, karena orangnya aneh perangainya. Saya punya perasaan tidak enak," Ibu Lukas memberikan nasehat kepada Mela.


"Ya sudah Bu Anton, kami pamit yah...kasihan baru pulang sudah kami hadang".


Mela tersenyum lebar dan akhirnya kedua tetangganya itu berpamitan.


Kemudian Mela masuk ke dalam rumah, dilihatnya suami nya sedang Sholat lalu dia segera masuk kamar mandi membersihkan badannya.


Setelah Sholat Anton ke depan rumah untuk mengunci pagar, dia sudah membuka kaki palsunya sehingga hanya memakai tongkat saja ke halaman rumahnya.


Pak Lukas Panggabean yang rumahnya tepat di seberang rumah juga sedang melakukan hal yang sama yaitu mengunci pagar rumah.


Ketika melihat Anton hanya berkaki satu, dia menjadi terkejut.


"Hai..!!!"teriaknya sambil menunjuk kaki Anton.


Anton mendongak lalu senyum dan menganggukkan kepalanya kepada pak Lukas.


Melihat itu Pak Lukas segera mengacungkan jempol ke arah Anton dan disambut yang sama juga oleh Anton, setelah itu keduanya masuk ke dalam rumah masing-masing.


Setelah mengunci semua pintu, dia segera menuju kamarnya dan Mela sudah menunggunya.


Tetapi Mela tidak bercerita tentang Triana yang tadi mencarinya, dia tidak mau moment kemesraan bersama suaminya menjadi hilang kalau mendengar cerita itu.


Keesokan paginya Mela sudah mandi dan bangun di subuh hari. Setelah menunaikan sholat, dia segera ke dapur menyiapkan sarapan dan juga membuat bekal untuk makan siang suaminya.


Anton juga senang kalau istrinya akhirnya jadi membuatkan bekal enak untuk makan siangnya nanti.


Setelah sarapan selesai kemudian Anton pun berangkat bekerja ke puskemas, sementara Mela di rumah saja.

__ADS_1


Sambil menanti penjual sayur lewat, dia membuka paket yang dikirimkan oleh dokter Wina.


Ternyata semuanya sudah jadi, brosur paket kecantikan "WANITA", juga ada sekitar dua puluh lima paket yang siap dipasarkan.


Mela tertawa sendiri melihat brosur yang terpampang foto dirinya disitu, ada foto saat dia belum memakai krim itu.


Lalu foto setelah tiga bulan pemakaian, enam bulan dan sembilan bulan, lengkap semuanya.


Sekarang adalah satu tahun sudah dia memakai krim itu dan memang wajahnya semakin segar, bersih, lembut dan bercahaya.


Harapannya semoga dia bisa menjual paket krim tersebut di Kota ini.


"Bu Anton...Bu Darwis... Bu Dadang.. Sayuuuurrrrr !!!".


Teriakan penjual sayur terdengar dari depan rumahnya, lalu Mela bergegas ke luar rumah.


Seperti biasa setiap pagi Ibu-ibu perumahan pasti berburu sayuran segar dan daging segar untuk dimasak di rumahnya.


Sambil memilih sayuran Mela mulai mencoba melancarkan aksinya dengan menawarkan produk paket kecantikannya.


Ibu-ibu terlihat antusias dan ingin tahu seperti apa, Mela membuat jadwal nanti sore setelah Ashar mengundang mereka yang sedang sama-sama belanja untuk mampir ke rumahnya.


Mela akan memperkenalkan produknya sekalian mengajak untuk membuka jaringan kerjasama.


Semua tampak tertarik dan beberapa berjanji akan datang ke rumah Mela.


Saat masih berbincang di depan gerobak sayur mas Joko, tiba - tiba dari kejauhan terlihat Triana datang menghampiri kerumunan ibu-ibu itu.


Semua yang melihat langsung terdiam sambil saling menyenggol saat melihat Triana semakin mendekat, akhirnya semuanya terdiam sambil memilih beberapa sayuran dan daging.


"Dik...tunggu Mbak...!!!" teriak Triana kepada Mela.


Mela kaget dan dia memandang ke arah ibu-ibu lain yang sedang memandangnya juga saat ini.


"Dik, kemarin Mbak ke rumah tapi kalian sedang tidak di rumah yah, jadi saja Mbak pulang lagi," ujar Triana kepada Mela sambil merangkul bahunya.


Mela jelas tak bisa berkutik karena tiba-tiba dirangkul Triana seakan-akan memperlihatkan kepada yang lain kalau mereka sangat akrab.


"Ibu-ibu, sekarang saya dan Ibu Anton sudah seperti saudara, saya ini kakaknya dan dia adikku. Suaminya juga setuju kok kami bersaudara," kata Triana sambil senyum aneh kepada semua pembeli di situ.


Jelas Ibu-ibu saling berpandangan dan mereka juga melihat Mela seperti tidak sebahagia Triana yang menyebutnya saudara.


Lalu Triana mengambil beberapa sayuran, tahu, tempe dan daging ayam, lantas dengan santai dia berkata.


"Mas Joko, belanjaan saya tolong hitung dulu jadi berapa?"tanya Triana menyerobot mas Joko yang sedang menghitung belanjaan ibu yang lain.


Lalu Mas Joko menghitung dan menyebutkan sejumlah nominal atas belanjaannya Triana.


"Oke mas Joko, terima kasih. Nanti yang bayar adik saya yah. Dik terima kasih yah, Mbak sudah dibayari belanja buat makan anak-anak. Mbak duluan yah," Triana dengan santai dan tanpa merasa bersalah meninggalkan kerumunan gerobak sayur.


Mela terbengong-bengong, kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena dia merasa malu kalau harus marah memaki orang didepan umum.


Ibu-ibu lain hanya bisa ikut kesal tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Dengan hati merasa jengkel dia membayar juga semua belanjaan Triana dan juga dirinya.


Lalu dia berjalan pulang sambil berusaha istighfar karena diperlakukan seenaknya oleh Triana.


Tapi rasa jengkelnya cukup terobati ketika Ibu-ibu yang tadi belanja bersama satu persatu mendatangi rumah untuk melihat produk kecantikan tersebut.


Lumayan banyak yang tertarik untuk memakai dan juga menjadi mitra kerja. Ada yang langsung membeli dan ada juga yang baru berencana membeli.


Mela mendata dan mencatat penjualan hari itu dan membuat list orang-orang yang tertarik membeli untuk nanti akan dia tindak lanjut lagi.


"Bu Anton belum hamil juga?"tanya Bu Dadang salah satu tetangga sebelah rumah.


"Ya begitulah bu, mungkin belum dipercaya Tuhan," sahut Mela yang terlihat senyum kecut.


Lalu Ibu Dadang menengok kanan dan kiri, dan dia berbisik ," Maaf Bu Anton, ini bukan bicara jorok yah. Tapi ini pengalaman pribadi, dulu saya juga lama kosong lalu saya mencoba sehabis hubungan kaki diangkat ke atas selama kira-kira 15 menit agar bibit suami masuk ke indung telur kita".


"Oh begitu, nanti saya coba deh".


"Sama satu lagi Bu, gayanya juga harus semua dicoba loh," kata Ibu Dadang sambil senyum-senyum.


Memang Mela polos soal seperti itu, selama ini Anton sudah mencoba menjelaskan keinginan untuk mencoba berbagai hal di tempat tidur.


Tapi istrinya tampak sulit mencerna sehingga Anton juga tidak bisa memaksakan keinginannya, karena bercinta harus saling menikmati bukan memaksakan.


"Maksud Ibu Dadang bagaimana sih?" tanya Mela dengan kening mengernyit.


Ibu Dadang membisikkan ke telinga Mela berbagai gaya yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri di atas tempat tidur.


Mela menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil wajahnya memerah.


"Saya pikir hal-hal seperti itu hanya di film-film begitu saja Bu, ternyata di kenyataan juga harus begitu yah," kata Mela dengan malu-malu.


"Ya ampun istri dokter tapi polos banget deh...hahaha...Ayo mulai dicoba yah, saya juga berhasil hamil saat melakukan yang terakhir saya katakan," kata Ibu Dadang sambil disambut tawa malu oleh Mela.


Malam harinya ketika berdua sudah ditempat tidur, Mela mencoba bertanya kepada suaminya.


"Pi mengapa selama ini kalau kita habis berhubungan kakiku tidak diangkat ke atas selama 15 menit. Katanya kan bisa mempercepat kehamilan?".


"Hmmm....itu sebenarnya mitos sayang, tapi kalau mau dicoba tidak apa-apa. Hanya di pelajaran yang aku terima sih hal itu tidak pernah dibahas, karena sebenarnya mitos".


"Eeemmm....kalau ganti-ganti gaya juga kita belum pernah mencoba yah Pi," ujar Mela sambil wajahnya memerah malu.


"Maksudnya?...Mi ingin coba yang lain...wah dengan senang hati, kok baru ngomong sekarang?"Anton berbinar mendengar ucapan istrinya.


Lalu Mela menceritakan mengenai pembicaraannya dengan Ibu Dadang tadi sore, dulu beliau juga lama tak punya anak lalu dengan suaminya mencoba suatu gaya dan setelahnya kakinya diangkat, tak lama hamil.


"Mi serius mau mencoba? padahal aku pernah meminta loh tapi kamu tampak tak paham saja. Jadi aku juga tak mau memaksa".


Sambil mukanya ditutupi selimut, Mela berkata kepada suaminya.


"Honey...why not..lets we try that".

__ADS_1


"Wow...Babe...I'm coming...".


__ADS_2