Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keempat Puluh Lima


__ADS_3

Semalam Anton dan Jaya tidak tidur di rumah keluarga Wiharja tetapi di rumah bukit tempat kediaman orang tuanya Anton sekarang.


Salim Wiharja dan istrinya Aryani sore itu juga baru kembali dari kota Garut setelah hampir satu bulan lamanya di sana.


Besoknya hari minggu kebetulan hari ulang tahunnya Aryani yang ke 58 tahun.


Rencananya Anita akan membuat pesta kecil-kecilan sekalian dengan syukuran wisudanya Mela.


Benar-benar calon kakak ipar yang sangat baik hati, walaupun belum ada ikatan sah antara Anton dan Mela tetapi Anita sangat perhatian dan sayang kepada Mela.


Anita juga semalam sudah menyiapkan kamar untuk tamu yang diperuntukan Ibu Sinah beristirahat, tetapi entah mengapa ibu Sinah menolak dan minta tidur bersama Mela di mess.


Walau sudah dipaksa oleh Anita tetapi dengan segala hormat ibu Sinah beralasan ingin tidur bersama anak-anaknya.


Malam itu ibu Sinah tidur bersama Mela, walau berhimpitan tapi sangat membahagiakan hati anaknya.


Mela tertidur sambil memeluk ibunya, dan ibu Sinah memeluk sambil mengecup keningnya.


Tak terasa air menitik dari sudut matanya, dia merasa takut kalau besok akan ada sesuatu yang tidak semestinya akan terjadi.


Sementara malam itu Anton dan Jaya sebelum menuju kediaman rumah bukit, menghabiskan malam minggu berdua.


Anton membawa Jaya kekeramaian malam di kota Bandung di malam minggu.


Tumpah ruah anak-anak muda di jalanan, banyak gadis-gadis muda yang memakai pakaian minim dengan santainya berjalan-jalan di sepanjang trotoar di depan sebuah Mall terkenal di kota itu.


Jaya tentu saja melotot badai melihat penampilan gadis- gadis yang demikian. Lalu mereka turun di suatu cafe yang menampilkan live music accoustic.


Mereka memesan roti bakar keju dan hot cappucino coffe latte.


"Bro dokter bisa saja yah...ini tempat enak sekali, pemandangannya sangat menyehatkan mata juga jiwa raga,"kata Jaya sambil memperhatikan banyak wanita cantik di cafe sana.


"Di Bandung memang gudang cewek cantik, tapi anehnya yang nyangkut sama aku pasti cewek luar kota Bandung, memang misteri jodoh itu,"kata Anton mengingat dirinya belum pernah punya ikatan asmara dengan perempuan asli kota kelahirannya.


"Aku apalagi.. hampir semua perempuan di kota Cirebon ku pacarin tapi belum ada satupun yang benar-benar nyangkut di hati,"sahut Jaya tampangnya mengenaskan.


"Kamu kebanyakan pilihan bro, celup sana celup sini, susah jadinya membedakan mana yang bisa diajak serius atau tidaknya," kata Anton menyindir sahabatnya.


"Celup celup...emangnya aku teh celup....hahahaha...dasar dokter sinting....banyak istilah,"tukas Jaya dengan milik kesal ke sahabatnya.


Saat mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba masuklah serombongan perempuan muda sekitar lima orang berpakaian seksi dan minim bersama satu orang lelaki.


Si lelaki itu terlihat pria lemah gemulai, berjalan genit sambil membawa tas wanita.


Jaya sedang memperhatikan perempuan-perempuan cantik itu dengan sorot matanya tajam sampai tak berkedip.


Tapi ternyata si lelaki gemulai yang tak sengaja menangkap tatapannya Jaya.


Lalu lelaki itu berkata kepada kawannya dan suaranya cukup terdengar ke arah Anton dan Jaya karena meja mereka berseberangan.


"Cyiinnn...ada lekong lihatin eikeh terus...kayaknya dese suka deh sama eikeh...,"lelaki itu dengan tangannya yang gemulai berkata kepada salah satu teman perempuannya.


(\=teman....ada lelaki melihat aku terus, tampaknya dia suka kepadaku)


"Yang mana sih?"tanya temannya.


"Itu cyiinnn di meja depan kita... iiihhh...eikeh mawar deh kenalan sama dese....cucokkan dese,"kata si lelaki gemulai sambil menatap Jaya dengan malu-malu.


(\=itu yang di meja depan, aku mau berkenalan dengannya, dia tampan)


Ternyata Anton memperhatikan dan dia menahan tawa melihat lelaki itu.


"Ya udah sana deketin," teman lelaki tadi menyuruhnya mendekati Jaya.


Sementara Jaya masih belum sadar, dia masih terpesona dengan semua perempuan seksi yang ada di depan mejanya.


Tiba-tiba si lelaki beranjak berdiri dan mendekati Jaya, melihat itu Anton segera bangkit berlalu sambil berkata,"Jay...gue duluan yah..".


Dan saat itu Jaya kelabakan didekati pria gemulai yang memaksa ingin berkenalan dengannya sambil berusaha memeluknya.


Anton menunggu di halaman cafe, tak lama sahabatnya keluar dari cafe sambil mencak-mencak.


"Dokter sinting aku ditinggal sendirian sama gendruwo!!!" Jaya mengomel kepada Anton sambil mengacungkan tinjunya.


Anton tertawa sampai keluar air mata, membayangkan Jaya mendapat rejeki nomplok malam itu.


Minggu pagi Anita dibantu Encum sedang sibuk di dapur, tak lama Mela juga datang membantu.


Hari ini mereka memasak cukup banyak karena ada acara ulang tahun mamah Aryani dan juga syukuran wisudanya Mela.


Kaysan dan Keiza dititipkan kepada ibu Sinah dan juga Wahyu.


Kedua anak itu senang sekali sekarang mempunyai nenek baru lagi.


Sedari tadi dari arah ruangan keluarga terdengar tawa lepas Keiza sampai ke dapur. Biasanya kalau begitu pasti Wahyu sedang mengajak main sambil bergaya melucu.


Di tempat berbeda Anton dan Jaya sedang menikmati sarapan pagi bersama kedua orang tuanya Anton.


Sengaja Anton dan pak Salim berpura-pura tidak tahu kalau hari ini Aryani sedang berulang tahun.


Padahal sesungguhnya Aryani sendiri juga lupa kalau dia hari ini ulang tahun.


"Jaya maaf yah Anton sudah merepotkanmu selama ini, dia tinggal bersamamu tentu menambah urusanmu,"kata Aryani seraya tidak enak hati kalau selama ini anaknya ikut tinggal di rumah Jaya.


"Ah tidak tante tidak masalah, malah senang saya jadi ada temannya,"Jaya menjelaskannya kepada Aryani.


"Jangan panggil tante dan oom, panggil kami mamah dan papah seperti Anton kepada kami. Anggap saja kami juga orang tuamu yah,"Aryani menganggap Jaya seperti anaknya sendiri.


Lalu mereka menikmati sarapan pagi dengan penuh kehangatan sambil bercerita tentang Cirebon dan segala kegiatannya.


"Anton waktu itu tante Hasni telepon mamah sama papah, mereka sekarang sudah di Singapura. Oom Budin sekarang menjabat jadi duta besar di sana,"kata Aryani memberitahukan kepada anaknya berita tentang tante mereka.


"Iya kemarin ini sempat dengar dari koko Fajar, katanya malahan mereka sempat video call saat Elmira pasien ko Fajar ada disana. Hebat anak itu, lukisannya dipajang di kedutaan Indonesia di Singapura,"kata Anton yang ternyata sama pernah mendapatkan kabar yang sama dari kakak iparnya.


"Kata tante nanti kalau kamu sudah menikah mau dikirimi tiket untuk bulan madu kesana,"Aryani menambahkan lagi pesan dari iparnya kepada anaknya.


"Serius!!!...wah asik sekali... tentu aku mau dong... mamah boleh aku minta nomor kontaknya tante Hasni? Aku punya yang lama saat beliau masih di Belgia,"Anton begitu gembira sekali mendengar berita dari ibunya.


"Oh saudara mamah ada yang menjadi duta besar, wah luar biasa sekali," Jaya berbinar mendengar ternyata keluarga sahabatnya bukan orang biasa.


"Oh...itu suaminya kakak papah yang menjadi duta besar, dan istrinya adalah kakaknya papah namanya tante Hasni. Seharusnya anak-anak memanggilnya Akoh dalam bahasa mandarin atau Wawak dalam bahasa daerah. Tapi karena sudah jaman modern jadi mereka minta dipanggil oom dan tante saja,"Salim menjelaskan kepada Jaya tentang kakaknya.


Lalu Salim memperlihatkan foto-foto masa lalu ketika Hasni kakaknya menikah dengan seorang TNI Angkatan Darat, kalau jaman dahulu disebutnya ABRI.


TNI itu bernama Syahbudin Akmal yang aslinya orang Padang, mereka bertemu saat Hasni muda mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar ke Jerman di tahun 1978.


Kebetulan dia satu-satunya pelajar Indonesia yang fasih berbahasa Jerman karena selain di sekolah juga mempelajari bahasa itu, dia mengikuti kursus bahasa tersebut di jaman itu.


Karena nilainya tertinggi saat itu diundang oleh kedutaan Jerman untuk mengikuti olimpiade bahasa Jerman yang diselenggarakan di kota Berlin.


Mendapatkan kesempatan keluar negeri dengan gratis tentu tidak disia-siakan, dengan ditemani guru bahasa Kerennya dia berangkat ke negara tersebut membawa nama negara juga sekolahnya.


Sesampainya di Jerman mereka diundang untuk menginap di kedutaan Indonesia di negara tersebut.


Di sana Hasni dan gurunya diberikan fasilitas makan dan menginap dengan gratis sepanjang berlangsung olimpiade selama 5 hari lamanya.


Disitu ada ajudan duta besar yang bernama Syahbudin Akmal seorang TNI Angkatan Darat dengan lulusan tertinggi dan ditempatkan di negara itu.


Syahbudin muda terpesona melihat kecantikan Hasni, mendengar namanya seperti itu disangkanya Hasni juga seorang gadis asal Padang sama dengan dirinya.


Setelah tahu tenyata gadis Jawa Barat, dia malah menjadi kaget. Kulitnya putih, agamanya Islam tak menyangka dia dari Jawa Barat.


Tapi apa mau dikata cinta sudah bersemi di hati maka Syahbudin terus berupaya mengejar cinta Hasni.


Setahun lebih berpacaran jarak jauh sekali, hanya saling berkirim surat dan menelpon sesekali. Akhirnya di akhir tahun 1970 an mereka menikah dan Hasni ikut suaminya ke luar negeri.


Nama Hasni sendiri sebetulnya karena salah pengetikan nama. Jaman tahun 1950 an semua masih serba mesin ketik.


Sesungguhnya bayi Hasni didaftarkan untuk membuat surat akte lahir dengan nama Hani Wiharja, tapi entah mengapa ketika surat akte lahir jadi tercantum menjadi Hasni Wiharja.


Untuk mengganti lagi nama memerlukan proses yang panjang lagi, jadi sudahlah biarkan siapa tahu nama membawa rejeki.


Dan memang benar nama Hasni membawanya menjadi istri seorang duta besar.


Sudah sering mereka berpindah-pindah negara karena tugas suaminya, sampai-sampai anak mereka bicaranya belepotan waktu kecil dulu.


Sekarang anak Hasni dan Syahbudin tinggal di Jerman, seorang lelaki tampan bernama Johansyah Akmal seorang ahli fisika dan dia sekarang bekerja di salah satu Universitas terkenal di sana menjadi profesor. Mempunyai istri orang Jerman dan sudah dikaruniai dua orang anak dari pernikahan mereka.


"Bro kalau kamu ke luar negeri ingat aku yah...kepingin ikut dong aku juga,"kata Jaya memohon kepada sahabatnya.


"Enak saja...aku mau bulan madu...nanti kamu mengganggu acara kami berdua...bisa kacau dunia percintaan,"Anton sontak menolak sahabatnya tapi sambil bercanda.


"Dasar pelit...dapet gratis dari tantenya saja tidak mau berbagi...sudah ah aku mau pulang saja naik bis," kata Jaya merajuk kepada Anton.


"Oh mangga sok wae atuh upami apal jalan na mah,"sahut Anton sambil tertawa.


(\=Oh silakan kalau hafal jalannya sih) > bahasa sunda


"Ya iku, yong kita beli weru dalanne...ya wes kita meneng bae ning kene,"jawab Jaya lagi kepada Anton. (\=Ya itu, karena aku tak tahu jalan makanya diam saja di sini)

__ADS_1


Keduanya terdiam lalu tertawa karena sama-sama tidak saling memahami bahasa daerahnya masing-masing.


Anton walau sudah berbulan-bulan bahkan mempunyai kekasih orang Cirebon tetap sulit memahami bahasa daerah sana.


Apalagi Jaya asli Cirebon jadi sama sekali tidak paham sunda walau terkadang ada beberapa kata hampir sama artinya.


Agak siang semuanya bersiap menuju kediaman Wiharja yang sekarang didiami oleh keluarga Anita dan Fajar.


Mereka menaiki mobil yang biasa Anton pakai sehari-hari, dulunya itu milik ayah dan ibunya.


Namun sekarang setelah tua, ayah ibunya jarang menyetir sendiri jadi seringnya dijemput oleh sopir di apotik atau oleh Fajar menantunya.


Sepanjang jalan pak Salim dan ibu Aryani bercerita tentang masa mudanya kepada Jaya, tentang kehidupannya, kisah cintanya juga kisah cinta kakaknya.


"Nah oom Budin kalau ke Indonesia paling senang ketemu sama Fajar, mereka kalau bertemu pasti memakai bahasa Melayu campur padang. Awak...Awak...gitu lah... hahahah," Salim menceritakan menantunya saat dulu bertemu kakak iparnya.


Lalu bercerita juga tentang Anton dan kecelakaannya beberapa tahun yang lalu.


"Saat itu mamah dan papah sudah pasrah, habis anak laki-laki satu-satunya koma sampai 5 bulan. Badannya udah kecil kurus sekali karena tidak ada makanan masuk. Hanya suntikan zat makanan saja ke dalam tubuhnya,"Aryani kembali mengingat masa tujuh tahun yang lalu.


"Punggungnya lecet dan borok karena terbaring terus, untung saja Allah masih memberikan kesempatan kepada Anton".


"Nah waktu itu Fajar juga luar biasa sekali, makanya papah dan mamah yakin sama dia. Waktu itu Fajar terus meminta kami sekeluarga setiap hari bergantian mengajak Anton bicara".


"Papah sama mamah harus terus mengajak bicara seperti Anton itu sadar. Karena dia bisa mendengar hanya tidak tahu cara untuk bangun, jadi harus terus dipanggil agar kembali. Begitu dulu Fajar bicara kepada kami," lanjut Aryani lagi.


Jaya sedari tadi mendengarkan semua kisah yang disampaikan kedua orang tuanya Anton.


Ternyata dibalik kebahagiaan Anton selama ini ada kisah yang mengharukan bahkan keluarganya juga ikut menderita.


Tiba-tiba Anton meminggirkan mobilnya, lalu dia memegang kepalanya. Padahal rumah kediaman Wiharja sudah tidak terlalu jauh lagi.


" Bro...sorry gantian, aku sakit lagi kepalanya," kata Anton meminta Jaya menggantikannya menyetir mobil.


"Kenapa Anton? Apakah kamu sakit ?"tanya Aryani kepada anaknya.


"Tidak apa-apa mamah...cuma sakit kepala biasa saja,"jawab Anton dan sekarang dia duduk di kursi sebelah pengemudi.


Aryani yang duduk tepat di belakangnya segera meremas-remas kepala anaknya.


"Kunaon atuh kasep teh, anaking jimat awaking sing cageur bageur, hidep sing damang jagjag bagja salawasna,"Aryani mengelus-elus kepala anak lelakinya dengan penuh kasih sayang.


(\= mengapa kamu tampan, anakku belahan jiwaku yang sehat selalu, kamu harus kuat dan bahagia selamanya)


Pak Salim hanya bisa memandang anaknya dengan sedih ketika melihat istrinya mengelus kepala anaknya.


Dia khawatir sekali terjadi sesuatu dengan anaknya lagi, mengingat kecelakaan yang dahulu begitu mengenaskan.


Jaya mengemudi dengan hati-hati sekali, hatinya juga merasa kasihan kepada sahabatnya. Apalagi dia paham beberapa hari yang lalu Anton mendapat tekanan batin yang tentu akan menambah beban pikiran sahabatnya itu.


Ibu Sinah sedang menidurkan Kaysan di dalam kamar anaknya. Dia tidak boleh ikut masak di dapur karena Anita merasa ibu Sinah terlihat lelah karena perjalanan kemarin.


Jadi Anita meminta tolong untuk menyatakan Kaysan saja mumpung anak itu masih bayi belum berlarian seperti Keiza.


Sementara Keiza menjadi tanggung jawab Wahyu karena Encum juga sibuk di dapur mempersiapkan kejutan untuk ibu Aryani.


Kaysan usianya sudah sepuluh bulan lebih, sebentar lagi satu tahun tapi memang belum lancar berjalan baru bisa berdiri tegak tapi tak lama duduk lagi.


Sekarang dia tertidur lelap setelah minum susu ASI yang sudah dimasukan kedalam botol.


Dia digeletakan di atas tempat tidur Mela, dan ibu Sinah sangat senang melihat bayi yang sehat dan gemuk. Kakinya sampai berlipat-lipat, dan menurut Anita terakhir di timbang saat imunisasi minggu lalu sudah mencapai 11 kilogram.


Sambil mengipasi Kaysan tiba -tiba ibu Sinah ingat tentang foto semalam. Dan dia merasa takut sekali saat ini, takut bagaimana nanti kalau Mela tahu kalau selama ini dia bersama dengan orang yang sudah membuat ayahnya meninggal.


Ibu Sinah mengetahui kalau Mela sangat sensitif bila dipertanyakan tentang kematian ayahnya.


Sampai hari ini dia tidak terima kalau ayahnya meninggal dengan cara seperti itu.


Dia amat terluka dengan prilaku orang yang sudah membuat ayahnya meninggal.


Memang keluarga penabrak begitu perhatian sampai memberikan uang duka yang cukup banyak kepada mereka sehingga mereka bisa membuka usaha pepes tahu.


Tapi yang membuat Mela kecewa adalah sampai saat ini penabrak itu tidak pernah muncul batang hidungnya hanya untuk sekedar minta maaf kepada keluarganya.


Hatinya sudah terlanjur sakit kalau mengingat hal itu, serasa suatu penghinaan dari penabrak itu kepada keluarganya.


Menyepelekan sekali nyawa ayahnya, bahkan sampai saat ini keluarga penabrak yang katanya berjanji akan sering menjenguk Ibunya pun hilang.


Hanya sekali saja mereka datang saat ayahnya selesai dimakamkan, saat itu Mela hanya mendengar dari balik pintu kamarnya.


Dia tak mau menemui kedua orang tua penabrak itu, Mela hanya menangis sambil mendengar mereka berbincang dengan ibunya dan Rahman.


Saat itu Mela baru lulus SMA, bulan depannya ayahnya yang seorang tenaga honorer di kecamatan akan mendapatkan pemutihan untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil.


Bertahun-tahun bekerja sebagai tenaga honor bagian pengiriman dokumen dari kecamatan ke kabupaten atau ke tempat lainnya.


Diusianya yang waktu itu sudah menjelang setengah abad tentu merupakan suatu kebanggaan akan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil.


Saat itu ada penggantian kepala negara dan itu merupakan kebijakan dari seorang kepala negara yang baru dilantik.


Namun naas, untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Sebulan sebelum terjadi pengangkatan ayahnya harus berpulang menghadap sang Khalik.


Dan cara berpulangnya itu yang selalu menjadi ganjalan di hati Mela.


Pupus sudah harapan Mela waktu itu ingin sekolah tinggi, dan demi adik-adiknya dia harus berjuang mencari uang.


Ibunya meminta tolong kakaknya agar Mela bisa bekerja di toko materialnya.


Pahit getir dia jalani di toko itu karena perlakuan istri pamannya yang tidak suka kepadanya.


Semua dia pendam sendiri tidak dia ceritakan kepada Ibu nya atau saudaranya, yang penting dia bekerja mendapatkan uang untuk adik-adiknya.


Hari ini ibu Sinah berada di keluarga yang anaknya dulu telah menghilangkan nyawa suaminya.


Dan anaknya itu adalah kekasihnya Mela, selama ini dia juga tidak pernah bertanya detail mengapa calon menantunya itu hanya memilki satu kaki.


Pernah bertanya juga hanya dijawab akibat kecelakaan, tapi bodohnya mengapa dulu tidak bertanya dimana dan bagaimana kecelakaan itu terjadi.


Bahkan Mela sendiri pastinya belum tahu kalau kekasihnya itu adalah orang yang selama ini dia tunggu.


Orang yang dia benci, orang yang selalu dia kesalkan karena merengut nyawa ayahnya dan tak pernah meminta maaf kepadanya.


"Mimi...kenapa nangis, ayo diminta cici ke dalam karena acara akan dimulai,"ajak Mela kepada ibunya karena semua sudah menunggunya.


"Sudah mimi di sini saja, kasihan ini bayi tidur nanti menangis kalau dibangunkan," kata ibu Sinah berusaha mengelak ketika diajak ke dalam.


Sungguh dia sangat takut sekali kalau harus bertemu dengan pak Salim dan ibu Aryani, dia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau hari ini Mela tahu siapa keluarga ini sebenarnya.


"Dibawa saja Kaysannya ke dalam, biar sini Mela yang gendong," kata Mela sambil mau mengangkat bayi Kaysan yang sedang tidur.


"Mela...nanti di dalam pada teriak selamat ulang tahun, nanti bayinya terkejut. Nanti saja kalau dia bangun, nanti mimi bawa ke dalam".


Akhirnya Mela menurut juga karena khawatir nanti Kaysan kaget dan malah rewel mengamuk.


Anita sudah mempersiapkan kue tart lengkap dengan lilin dengan usia 58 tahun.


Sementara di meja makan semua hidangan lengkap tersedia. Ada mie ulang tahun ciri khas keluarga mereka, ayam goreng, cap cay dan sebagainya.


Jaya memasuki halaman depan rumah, dan segera memarkirkan di depan teras rumah tersebut.


Pak Salim dan ibu Aryani turun dari mobil, diikuti Anton yang segera berjalan sambil merangkul bahu ibunya.


Setibanya di dalam Ibu Aryani melihat rumah tampak sepi sekali.


Pak Salim mendahului masuk ke ruangan makan, alasannya ingin ke toilet.


Anton sambil memegang bahu ibunya juga menyusul ke ruangan makan tersebut.


Dan saat masuk melangkah....


"SELAMAT ULANG TAHUN!!!!!


Ibu Aryani terkejut, seketika Anita memeluk dan memberikan ciuman untuk ibunya.


Tiba-tiba dari arah dapur muncul Mela membawa kue tart dengan lilin menyala berangka 58 tahun.


Ibu Aryani terharu karena dia sendiri lupa kalau hari ini ulang tahunnya.


Kemudian beliau meniup lilin dari kue yang ada di tangan Mela sambil sebelumnya memanjatkan doa pendek.


Anton memeluk dan mencium kening ibunya, Pak Salim juga memeluk istrinya dan mencium pipi kiri dan kanannya.


Fajar sebagai menantu juga menyalami dan mengecup punggung tangan mertuanya.


Mela juga sama dia memeluk dan menyalami calon mertuanya itu.


Potongan kue pertama diberikan kepada Keiza cucunya karena dia ribut dari tadi ingin meniup kue dan makan kuenya.


Potongan kedua diberikan kepada pak Salim yang sudah menjadi suaminya selama hampir 35 tahun.

__ADS_1


Dan potongan ketiga untuk Mela sebagai ucapan syukur kemarin dia diwisuda.


Tiba- tiba ibu Aryani ingat Kaysan dan bertanya dimana cucunya satu lagi.


"Kaysan ada di belakang bersama ibu saya, mamah,"kata Mela memberitahu calon mertuanya.


"Oh ada ibumu...mengapa tidak dibawa kemari? Kok Anton juga diam saja tidak bilang ada ibu nya Mela,"Aryani merasa aneh karena tidak ada yang menyampaikan ada calon besannya.


"Anton lupa ...soalnya Anton kira ibunya Mela sudah bergabung di disini. Biarkan Anton jemput kesana deh," kata Anton sambil segera menjemput ibunya Mela.


"Nak Anton ini Kaysan bangun, tidak apa dibawa saja kesana. Biar ibu di sini dulu istirahat yah," kata ibu Sinah kembali mengelak saat diundang masuk ke dalam.


Anton sudah berusaha membujuk tetapi tetap tidak berhasil untuk membuat ibu Sinah masuk ke dalam.


"Mengapa tidak mau kemari, kita makan bersama-sama di sini. Ya sudah papah sama mamah saja yang menjemput. Kalian juga aneh orang tua disuruh tidur di mess bukannya di dalam,"Pak Salim mengomel kepada anak-anak karena dianggap tidak sopan kepada ibunya Mela.


Lalu beliau menggandeng istrinya dan bergegas menuju mess di halaman belakang rumah mereka.


Ibu Aryani mengetuk pintu kamar mess Mela, dan ibu Sinah di dalam menggigil ketakutan. Dia benar- benar sangat takut bertemu dengan pak Salim dan ibu Aryani.


Setelah beberapa kali pintu diketuk, masih juga tidak dibuka. Sampai akhirnya keduanya mengira ibu Sinah sudah tertidur.


"Ya Allah...berikan aku kekuatan untuk menghadapi masalah ini. Karena sudah saatnya terungkap,"seru ibu Sinah dalam hatinya memohon pertolongan Tuhan.


Saat pak Salim dan ibu Aryani hendak berbalik ke ruangan dalam, tiba-tiba pintu kamar Mela terbuka dan keluarlah ibu Sinah.


"Pak Salim....bu Salim....,"undang ibu Sinah dengan wajah cemas.


Ibu Aryani menengok ke belakang diikuti suaminya, dan seketika terkejutlah keduanya.


"Ibu Sinah...Astagfirullah...!!!,"


pekik Ibu Aryani tertahan sambil mematung tak bisa bergerak.


Pak Salim juga hanya melongo terkejut melihat wanita yang ada dihadapannya.


"Ibu Sinah...maafkan kami bu...maafkan huhuhuhu...," Ibu Aryani langsung berlari dan memeluk ibunya Mela.


Lalu mereka masuk ke dalam kamar Mela dan bertangis-tangisan.


Pak Salim juga menyalami ibu Sinah sambil wajahnya memancarkan rasa bersalah yang mendalam.


Kemudian mereka mencurahkan semua isi hatinya, betapa selama sekian tahun ini mereka juga ingin menemui ibu Sinah, namun karena usia mereka lupa jalan menuju kampungnya ibu Sinah.


Sampai pernah sekali ke Cirebon ingin mencari tapi sama sekali tak ingat jalan harus kemana.


Kemudian mereka juga menceritakan bahwa anak mereka yang menabrak suaminya ibu Sinah, sempat koma tak sadarkan diri selama 5 bulan.


Bahkan disangka sudah tidak akan hidup kembali, tapi ternyata Tuhan memberikan kesempatan kedua walau kakinya harus hilang satu.


Ibu Sinah dan ibu Aryani berpelukan sambil keduanya saling menangis. Yang satu tak kuasa menahan rasa bersalah, yang satunya tak kuasa juga memikirkan apa yang akan terjadi sebentar lagi jika Mela sudah mengetahuinya.


Anita merasa aneh karena ayah dan ibunya lama sekali menjemput ibunya Mela. Lalu dia beranjak ke dapur untuk melihat dari jendela dapur ke belakang rumahnya.


Dan matanya membulat, dia baru saja ingat kalau ibu Sinah pasti ingat siapa orang tuanya.


"Ayah...sini sebentar,"Anita memanggil suaminya, lalu Fajar mendekat dan dia diperlihatkan apa yang barusan dilihat istrinya.


Seketika lemas kakinya melihat mertua dan ibunya Mela sedang bertangisan. Lalu dia menatap istrinya dan berharap semoga semuanya baik- baik saja.


Mela dan Anton hanya duduk diruang makan, mereka masih belum paham apa yang sedang terjadi.


Jaya malahan sibuk bercanda dengan Keiza dan juga sesekali menggoda Kaysan yang sekarang duduk dikursi bayi didengarnya karena akan makan bersama.


Wahyu saat itu duduk disebelah Encum di depan pintu dapur, dia juga gemetar tak tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi saat ibunya beserta pak Salim dan ibu Aryani masuk kedalam rumah.


"Ibu Aryani ...Pak Salim... Saat ini Mela belum tahu bahwa ayahnya tiada karena bertabrakan dengan Anton. Begitu juga Anton belum tahu kalau Mela adalah anak dari orang yang ditabraknya".


"Tapi kita sebagai orang tuanya harus meluruskan ini semua, tak mungkin akan terus ditutupi apalagi jika memang benar mereka saling mencintai.


Maka mereka harus bisa menerima kenyataan, "Ibu Sinah memantapkan dirinya untuk segera meluruskan masalah ini.


"Benar bu,i sebaiknya kita selesaikan dulu acara ini dan nanti kita akan sediakan waktu untuk kita sampaikan kepada mereka,"pak Salim berusaha menengahi masalah ini dan mencari cara terbaik untuk menyampaikannya.


Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah, dan melanjutkan makan siang bersama.


Hanya Anton dan Mela merasa agak aneh, sebelumnya begitu meriah namun saat makan ini semuanya terlihat diam-diam saja.


Sejam kemudian mereka berkumpul di dalam ruangan keluarga.


Fajar sebelumnya sudah berbincang dengan para orang tua dan saatnya kini dia yang harus menyampaikan apa yang seharusnya Anton dan Mela ketahui.


Sekarang semua berkumpul di ruang keluarga, sementara anak-anak kecil sesudah makan mereka tidur siang di atas ditemani oleh Encum.


Anton dan Mela tampak santai saja saling berbincang saat Fajar masuk dan mengambil tempat duduk dihadapan mereka berdua.


Lalu Fajar mulai membuka pembicaraan kepada mereka berdua.


"Anton dan Mela...maaf koko di sini sekarang diminta oleh papah dan mamah juga ibu Sinah untuk menyampaikan beberapa pertanyaan kepada kalian seputar hubungan kalian,"kata Fajar memulai pembicaraannya dengan serius.


"Sebagai menantu laki-laki di sini, koko mewakili keluarga harus meluruskan hubungan kalian berdua".


"Sebelumnya koko mau tahu kalian sudah saling kenal berapa lama dan apa yang membuat kalian ingin mempersatukan diri dalam ikatan pernikahan kelak?"Fajar mencoba berhati- hati bertanya agar dia juga paham seberapa dalam cinta kedua adiknya ini.


"Kalau tidak salah kami saling kenal sejak Kaysan bayi merah, berarti sekitar 10 bulan dan baru dekat hubungan kami ini sekitar 7 bulan yang lalu, benarkan sayang..."Anton menjelaskan sambil meminta dukungan dari Mela.


Dan Mela menganggukan kepalanya menyetujui apa yang Anton sampaikan.


"Kalau masalah perasaan, karena bagi saya Mela wanita yang bisa memahami dan menerima segala kekurangan saya,"lanjut Anton lagi sambil menatap kakak iparnya.


Lalu Fajar meminta jawaban Mela, dan dia mendapat jawaban," Kalau Mela sih karena Anton baik, perhatian kepada Mela dan juga keluarga Mela".


"Masalah kekurangan Anton secara fisik bukan halangan untuk Mela, justru itu yang membuat Mela kagum karena Anton dalam keterbatasannya tetap menjalankan ibadah tanpa pernah sekalipun meninggalkannya walau saya yakin itu sulit dia lakukan," panjang lebar Mela menjelaskan kekagumannya kepada kekasihnya.


"Baik kalau begitu, jadi kalian akan tetap saling mencintai kah walau misalkan ada sesuatu hal yang buruk dan yang membuat tidak enak di hati tiba- tiba menjadi penghalang atau rintangan bagi kalian berdua ?"tanya Fajar lagi meminta ketegasan mereka berdua.


Anton dan Mela bertatapan dan serempak keduanya berkata sambil saling bergenggam tangan.


"Insyaallah kami yakin akan tetap saling mencintai walau seburuk apapun yang akan terjadi".


Lalu Fajar mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sambil mengambil nafas dalam-dalam.


Karena dalam beberapa detik kedepan dia harus menyampaikan segala kebenaran yang selama ini ditutupi.


Jaya sebagai tamu di ruangan itu hanya duduk diam sambil menunggu apa yang akan disampaikan lagi oleh Fajar.


Kemudian Fajar menatap kedua kekasih itu dalam-dalam sambil berkata," Anton apakah kamu masih ingat nama bapak Suganda orang yang sudah kamu tabrak secara tidak sengaja beberapa tahun yang lampau?".


Anton kaget dengan pertanyaan dari kakak iparnya itu dan dia mengiyakan kalau dia ingat.


Mela juga terkejut, dan sambil masih terkejut, Fajar bertanya lagi.


" Mela...siapakah nama ayahmu dan bagaimana kisahnya waktu ayahmu meninggal dunia...".


Keduanya tak bisa berkata-kata selain saling terhenyak dan serasa disambar petir mendapati kenyataan bahwa diantara mereka ada keterkaitan dengan kisah kecelakaan tujuh tahun yang lalu.


Anton lemas seketika dan menjatuhkan punggungnya ke belakang kursi sambil memegang kepalanya.


Mela menutup wajahnya sambil mulai menangis.


"Apa maksudnya ini semua...apa maksud ko Fajar....mengapa kalian selama ini diam....MENGAPA....!!!!" Mela mulai menjerit tak percaya atas apa yang terjadi pada dirinya.


Ibu Sinah segera beranjak dan bergegas mendekati memeluk anaknya.


"Mimi tahu..?...apakah Mimi tahu siapa Anton?"tanya Mela kepada ibunya dan ibunya menganggukan kepalanya.


Mela mundur menghindari ibunya, dia menangis sambil menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Ada apa dengan kalian semua? Apakah kalian selama ini baik kepadaku hanya untuk menutupi masalah ini....," Mela menggelengkan kepalanya tak percaya tiba-tiba harus merasa menanggung budi baik dari keluarga yang telah menghilangkan nyawa ayahnya.


Semua diam karena kondisi begini pasti sulit untuk menjelaskan realita di balik kejadian tabrakan itu.


Anton bangkit berusaha berbicara dan mendekati Mela.


"Mela maafkan aku, sungguh aku baru tahu hari ini kamu anak pak Suganda. Aku tidak tahu sebelumnya".


"Bukankah selama ini kita sepakat untuk tidak saling bertanya apapun tentang cacatku dan kematian ayahmu," kata Anton berupaya agar Mela ingat kalau selama ini ada kesepakatan diantara mereka untung tidak saling bertanya tentang masa lalu.


"Ya Allah...kenapa harus kamu...kenapa harus kamu Anton... AKU BENCI...AKU BENCI KAMU!!!!" Mela berlari keluar rumah menuju pintu gerbang yang kebetulan saat itu terbuka sedikit karena penjaga sedang membeli jamu gendong di depannya.


Mela dengan cepat keluar dari pintu gerbang itu, Anton dengan tertatih-tatih berusaha mengejarnya.


Tanpa melihat kanan kiri Mela segera menyeberang jalan, Anton mengejar dari kejauhan tampak sebuah mobil berwarna merah melaju dengan sangat kencang ke arah mereka.


Anton segera mendorong Mela ke trotoar seberang jalan, dan mobil tadi mendekat lalu mendecit kencang menginjak rem agar tidak menabrak Anton.


Pas lima sentimeter lagi jarak antara muka mobil itu dengan kaki Anton, pengemudi mengerem sejuta tenaga.


BRUUUKKKK!!!!!!

__ADS_1


Anton roboh ke jalan, tidak ada luka sama sekali hanya sekarang dia tak sadarkan diri.


__ADS_2