
Pagi itu Mela sudah rapih dan dia sedang membersihkan paviliun seperti biasanya.
Anton sengaja belum berangkat dia berpura-pura masih sarapan dengan meneguk susu di gelasnya dengan perlahan-lahan.
Dia melihat Mela sedang beres-beres membersihkan kamarnya Anton sambil di telinganya menempel ear set yang kabelnya tersambung ke telepon genggamnya yang disimpan di sakunya.
Dia menyapu sambil bersenandung mengikuti nada-nada yang mengalun dari musik yang sedang didengarnya dari gawainya.
Seolah tidak ada masalah, dia santai bersenandung ceria.
Ketika Mela sudah mulai membersihkan ruang tamu , Anton bangkit berusaha mengajaknya bicara.
Mela melihatnya seketika tangannya bergerak memberi tanda Stop.
Dan Mela berjalan keluar seakan sedang menerima telepon. Dia tidak memberi Anton kesempatan untuk mengajaknya bicara.
Anton menunggunya dan Mela tak kembali lagi ke paviliun sementara dia harus segera ke puskesmas.
Mau tak mau waktu beranjak terus dan Antonpun berangkat ke puskesmas.
Sampai di ruangannya di puskesmas, dia mencoba mengirimkan pesan chat kepada Mela.
"Say... aku mau bicara dong berdua".
Pesan itu sudah terlihat tanda dibuka dan dibaca, namun tak dibalas.
Antonpun mulai menerima pasien dan diperiksanya satu per satu. Waktu tak terasa, matahari sudah di atas kepala. Dan pesannya kepada Mela masih tak dijawab juga.
Ada beberapa pesan masuk dan salah satunya dari Miranti. Tapi dia malas sekali untuk membuka membacanya.
Saat istirahat siang dia mencoba menelepon Mela, dan tak dijawabnya juga.
Sambil iseng mengutak-atik telepon genggamnya dan terbacalah status chat dari Mela yang isinya " Da aku mah apa atuh cuma angka nol dibelakang koma, engga ada artinya".
Anton paham maksudnya pasti ada berkenaan dengan peristiwa kemarin.
Lalu dia mengirim pesan lagi dengan menempelkan status tadi ke chatnya Mela, mempertanyakan apa maksud statusnya.
Dan kali ini dibalas dengan hanya mengirim emoji tersenyum kepada Anton, lantas tak ada lagi kata apapun.
Sore hari Anton pulang, langsung dia mencari Mela, namun Narti mengatakan Mela ijin ke kampus sejak sejam lalu.
Selepas maghrib Anton membawa motornya kembali mencari Mela ke kampus. Dia mencari dari kelas ke kelas dan memang tidak ada, lalu mencoba menemui bagian administrasi dan bertanya mengenai Mela. Lalu bagian administrasi memeriksa data komputer dan muncul data bahwa Mela memang untuk akademik Mela sudah lulus semua hanya tinggal menyelesaikan skripsinya saja
Kebetulan pihak administrasi melihat bahwa masih ada biaya yang harus dilunasi.
Saat itu juga Anton bertanya berapa jumlahnya segera melunasi semua biayanya dengan menggunakan e banking melalui gawai pintarnya.
Setelah ada muncul bukti setor dia melakukan capture untuk disampaikan ke petugas administrasi tersebut.
Lalu dia menanyakan nama dosen pembimbing juga jadwal bimbingannya Mela, petugas memberitahukan namanya namun hari ini bukan jadwal Mela bimbingan.
Besok baru ada jadwal Mela jam 18.30 sampai 20.00.
Antonpun kembali lagi ke paviliun, dia yakin Mela sedang membalasnya mengerjai dia tapi tidak mau diajak bicara. Membuat hatinya cukup kesal dan penasaran dengan ulah Mela.
Benar saja ketika dia kembali, terlihat Mela sedang makan bakso di depan toko bersama dengan Narti dan Japri.
Anton langsung mendekati mereka dan dia juga langsung memesan bakso dan makan bersama dan langsung duduk disamping Mela.
Mela tampak santai saat Anton duduk disampingnya namun tak menyapanya, mulutnya menyuap baksonya satu per satu dengan cueknya.
Narti dan Japri mulai merasa ada yang tidak beres, tapi mereka tidak mungkin juga meninggalkan Mela begitu saja.
"Kalian mau kemana ?"tanya Anton kepada mereka bertiga.
Hening.... Mela diam saja, maka Japri yang menjawab," Anu dok mau ke pasar malam, cuma agak jauh sekarang di belakang kelurahan desa seberang".
"Lah naik apa emang ke sana kalau emang jauh? "tanya Anton lagi.
"Tadinya habis makan mau bonceng tiga...hehehe, "jawab Japri sambil terkekeh.
Mela mendelik ke arah Japri Dengan tatapan galak tapi bibirnya diam saja.
"Oh ya sudah naik mobil saja sama saya yuk... , "ajak Anton.
"Waduh gimana yah.. jalannya kecil kesana tuh, dan agak rusak jalannya. Sayang kalau pake mobil nanti takut lecet atau ban nya rusak," Narti mencoba menghalangi ajakan dokter, karena dia sudah tahu tentang mereka dari Mela semalam.
"Oh begitu, ya sudah saya ikut gabung saja pakai motor, boleh kan...Japri sama Narti dan saya sama Mela," ujar Anton sambil mengangkat kedua alisnya kepada Japri.
Japri paham lalu mengatakan," Jadi lah dok!".
Mela tambah mendelik kepada Japri yang sedang terlihat berbisik kepada Narti dan kemudian Narti mengangguk tanda paham.
__ADS_1
Anton membayar semua pesanan bakso mereka, lalu dia bersiap di motornya dan meminta Mela membonceng di jok belakangnya.
Mau tak mau akhirnya dengan berat hati Mela naik di motornya Anton.
Sebelum motor melaju Anton berkata kepada Mela,"Kalau kamu tidak pegang pinggang aku, ini motor tidak akan jalan. Ayo cepat pegangan!!".
Mela menatap Anton dengan kesal tapi mau tak mau akhirnya dia berpegangan ke pinggang Anton.
Anton mengikuti Japri dari belakang, dan memang jalannya cukup berliku dan cukup jauh dari kediaman mereka.
Setelah memarkirkan motor, Mela turun dan segera mencari Narti. Lalu setelah mereka bertemu merekapun jalan bersama, melihat-lihat berbagai pedagang jajanan, pakaian, alat rumah tangga dan sebagainya.
Juga ada berbagai permainan rakyat seperti kincir angin, perahu kora, balap motor tong setan, komidi putar, korsel kuda, trampolin dan sebagainya.
Anton lalu mendekati Japri dan lalu memegang bahunya, " Pri...pahamkan cewek lagi ngambek... aku mau culik dulu yah... kamu culik satunya biar aku ada alasan".
"Ah siaaapp boss dokter, hahaha....
semoga sukses yah....hahahah," ujar Japri sambil mengacungkan jempolnya.
Lalu diam-diam Japri mengajak Narti kabur saat Mela sedang lengah.
Mela saat itu sedang melihat anak kecil yang bermain pancingan ikan sangat lucu-lucu sekali, karena Mela fokus hingga dengan mudah Japri mengajak Narti pergi berdua.
Anton lalu berdiri disamping Mela, dan dia tak sadar bahwa saat ini sudah bukan Narti di sampingnya. Dengan santai Mela menggandeng tangan yang di sebelahnya yang disangkanya Narti. Tapi dia merasa berbeda dan menoleh melihat ternyata Anton, seketika dia melepaskannya dan langsung pergi sambil cemberut.
Anton mengejarnya memegang lengan
Mela, namun dikibaskan oleh Mela.
Masih belum berhasil juga, akhirnya pas ada kesempatan dia merangkul bahu Mela.
Dia rangkul dengan kencang sampai Mela sulit bergerak.
Dibimbingnya Mela menuju motor, lalu disuruhnya naik.
"Aku mau nunggu Narti,"kata Mela.
"Tidak bisa dia sudah pergi tadi dengan Japri, " Anton memberitahu Mela soal Narti.
"Kok kamu tahu?"tanya Mela dengan kesal.
"Kan aku yang nyuruh Japri mengajak Narti pergi," jawab Anton santai sambil duduk di atas motornya.
"Aku mau kamu naik dan duduk di jok sini, lalu kita pergi".
"Pergi kemana?"tanya Mela judes.
"Ikut saja, ayo naik cepetan neng ".
Mau menolak tapi Mela sadar ini sudah malam, tak ada orang lain yang dia kenal dan jarak tempat ini ke tempat tinggalnya jauh.
Akhirnya dengan berat hati Mela naik ke boncengan motor Anton, dan sama seperti sebelumnya Anton memintanya memegang pinggangnya.
Motor terus melaju perlahan menyusuri jalan entah kemana yang penting laju berputar-putar.
Tangan Mela ada di pinggang Anton, sengaja tangan kirinya Anton mulai memegang tangan kanan Mela, dan Mela memberontak mencoba menarik tangannya.
Tapi genggaman Anton lebih kuat, jadi terpaksa Mela pasrah sambil kesal.
Lalu sedikit- sedikit Anton menarik tangannya Mela lebih ke tengah agar serasa Mela mendekapnya.
Mela merasa sebal, lalu tangan kirinya mencoba mencubit pinggang kiri Anton. Tapi tak bisa karena tertutup jaket tebal.
Tangan kiri Mela berusaha terus coba mencubit dan memukul sampai lelah sendiri.
Dan selama itu Anton hanya senyum sendiri menahan tawa dan gemas dengan tingkah Mela.
Akhirnya Mela menempelkan kepalanya di punggung Anton dengan bertatakan tangan kirinya, karena lelah dan kesal.
Sementara tangan kanannya masih berada di genggaman Anton.
Setelah lelah berputar-putar akhirnya mereka tiba di warung bubur sup ayam yang terkenal yang terletak di desa Gempol, Palimanan, Kabupaten Cirebon.
Anton mengajak Mela turun, sambil cemberut dia turun dan bersama-sama masuk ke dalam warung.
Karena Anton sudah tahu porsi makan Mela, tanpa bertanya lagi dia memesan 2 porsi. Biasanya perempuan pasti pesan setengah porsi karena memang penjual bubur ini menyediakan porsi besar. Cuma karena Mela istimewa, maka Anton yakin satu porsi pasti akan habis dimakannya.
Mela sudah lebih dulu duduk di salah satu bangku, lalu Anton duduk di sebelahnya dan berusaha bergeser mendekati sang gadis yang sedang manyun.
" Apaan sih dekat-dekat, reseh deh,"ujar Mela sambil melotot dan ketus.
"Galak amat neng, jangan galak gitu sih
__ADS_1
.... lagi marah yah...cemburu yah...," goda Anton kepadanya.
"Idiiihh kegeeran sekali yah saudara, emang siapa anda, apa pedulinya saya yah, sorry sorry to say deh..."tukas Mela sambil mendelik galak.
"Ya maaf kirain neng cemburu sama aku, kan kalau cemburu tandanya neng Mela sayang sama aku kan...,"Anton terus berusaha menggodanya.
"Kasihan sekali yah aku ini, udah cacat terus engga disayang juga sama kekasihnya. Merana sekali hidupku".
"Beuh... orang kemarin enak-enakan dicium orang cantik, sekarang merasa tidak ada yang sayang.... play victim.. sekali saudara ini yah".
"Bukan play victim, aku beneran korban kok kemarin. Aku pria baik-baik yang tiba-tiba menjadi korban tercium oleh seorang wanita lain. Dan kebetulan di sana ada kekasihnya yang melihat. Kekasihnya melihat si pria tak berdaya bukannya nolongin, eh malah kabur.... siapa yang kejam coba".
"Hellooowww.... mana ada sejarahnya cowok jadi korban karena di cium cewek cantik, yang ada hepi banget... sana pergi cari tuh cewek cantik, seksi, bohay....sebel iihh".
Mela merengut terus, sementara Anton senyum-senyum sambil terus mencoba mengajak baikan.
"Kalau cowok kemarin itu hepi pasti membalas perlakuan cewek itu. Tapi cowok itu kan tidak membalas, berarti dia korban dong....bener engga neng".
"Tahulah... bodo amat... Emang gue pikirin...".
"Cowok kemarin cuma sayang sama Melati Sekar Wangi loh, bukan sama cewek kemarin.. percaya tidak ?"tanya Anton pasang muka memelas.
"Terus cewek itu apa maksudnya, pasti itu kan si beib yang suka telepon kan... bohong kamu sama aku... kamu pasti sama si beib itu juga punya hubungan spesial kan?".
"Dia itu marketing obat, aslinya beneran dia manager pabrik farmasi, aku kenal dia saat seminar kemarin ini".
"Nah dia itu memang seperti itu lagak gayanya kepada setiap orang, bukan hanya ke aku saja. Dan kemarin bawa kue juga karena ada dananya dari kantornya, jadi dia sambil kunjungan kebetulan pas berbarengan aku ulang tahun," Anton mencoba menjelaskan untuk meredakan amarah Mela.
"Tapi apa maksudnya coba pakai cium pipi seperti itu, lalu kalau bicara pakai beib...beib.. Apa coba maksudnya.... jengkel aku melihatnya ...," Mela masih kesal tapi sambil makan lahap.
Dan itu yang membuat Anton terpesona, gadis itu makin marah makin banyak makannya.
Anton memesan 1 bungkus bubur lagi untuk mang Solihin penjaga malam.
Setelah itu mereka menuju pulang.
Dan Anton masih tetap meminta Mela memegang pinggangnya dan kembali sambil melaju dia menggenggam tangan kanan Mela. Namun sekarang sang gadis sudah tidak memberontak seperti sebelumnya.
Antonpun tersenyum geli sendiri.
Lalu setiba di gerbang, bubur ayam tadi diberikan kepada mang Solihin penjaga malam.
#dasarcowokbisasajangasihpenutupmulut.
Lalu dia membawa Mela duduk di depan teras paviliun, Anton duduk disebelah Mela.
Mereka terdiam, lalu Mela mulai bicara dengan nada dingin," Aku paham siapa aku, cuma perempuan kampung, miskin dan bodoh. Jabatannya juga pembantu bukan manager. Aku tahu diri, walau bagaimana juga kamu dokter tidak akan sepadan dengan aku".
Anton mendelik melihat Mela yang masih cemberut terhadapnya.
"Kalau aku memilih cewek kemarin, ngapain harus capek-capek mencari perempuan kampung kemana-mana. Dua hari aku dikerjain sama perempuan kampung. Aku ke kampusnya, lalu muter-muter mencari sekitar kampus. Eh tidak tahunya perempuan kampung itu malah enak-enak tidur dikamarnya".
"Tadi juga habis maghrib, aku pergi ke kampus mencari perempuan kampung itu. Sampai bertanya jadwal ke bagian administrasi, ternyata perempuan itu sudah tidak ada jadwal kuliah, dan jadwal bimbingannya bukan hari ini tapi besok. Untung saat pulang tadi aku melihatnya sedang makan bakso".
"Ngapain nyari-nyari kurang kerjaan saja, " tukas Mela masih judes dan sengit.
"Ya aku cari dong, takut dia hilang, aku sayang sama dia lalu hilang karena ngambek.. kan repot dong,"goda Anton sambil mencoba mencubit pipi Mela.
Mela menangkis tangan Anton, tapi dengan sigap Anton menyambar tangan Mela dan menariknya ke pelukannya.
Mela berusaha mendorongnya tapi Anton tenaganya lebih kuat jadi sekarang dia dalam pelukan Anton.
Dan sekarang air matanya menetes di pipinya, lalu Anton berbisik pelan sambil memeluk erat Mela,"Dasar gadis bodoh, kalau aku tidak sayang dan cinta sama kamu buat apa aku susah-susah sampai mengurusi skripsimu, aku harus menjemputmu dan mencarimu. Terserah perempuan lain mencoba menggoda aku, tapi aku tetap akan menikahimu nanti. Aku sayang dan cinta sama kamu, cuma memang aku tidak bisa romantis seperti tokoh di film atau di buku novel. Kamu harus yang percaya dan yakin aku tidak akan berpaling darimu".
Mela menoleh lalu menatap Anton mencari kebenaran di sorot matanya, lalu Anton berkata lagi, "Dunia kerjaku seperti itu, pasti banyak wanita seperti dia mencoba menggoda, karena mereka bukan perempuan yang menjaga kehormatannya".
"Tapi aku akan tetap memilihmu, maka jagalah kehormatanmu, tetap percaya padaku. Segeralah lulus, aku akan menikahimu".
Mela semakin mengalir air matanya dan Anton menyekanya dengan jari-jari tangannya sambil memegang kedua pipi Mela.
Lalu dia mendekatkan bibirnya dan mencium kening Mela.
"Aku yang akan mencium wanita yang aku sayangi, karena aku memeteraikan cintaku kepadanya".
Mela tak bisa berkata-kata apa-apa lagi, dia mengangguk sambil masih berlinang air mata.
Setelah mereda tangisnya Anton mengantarnya ke kamarnya, dan saat itu waktu sudah cukup malam.
Namun keduanya bertemu dengan Wiwit yang sedang berjingkat-jingkat meninggalkan rumahnya. Tanpa mengindahkan mang Solihin yang berada di pintu gerbang, Wiwit berlari menuju ujung jalan karena ada Surya menantinya di atas motornya.
Mang solihin mendekati Anton dan Mela," Saya takut, mereka setiap malam pergi dan pulang subuh. Nanti bu haji tahu saya bisa bahaya nih".
Anton dan Mela bertatapan, lalu Anton menepuk bahu mang Solihin sambil memintanya untuk sabar.
__ADS_1