Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kedelapan Puluh Satu


__ADS_3

Kamis, 27 April


"Jaya, besok Bapak dan Ibu naik kereta api dari Solo ke Bandung. Kami menginap di Bandung saja yah, Ibumu tidak mau ke Cirebon karena merasa pasti akan kesal melihat rumah berantakan olehmu," kata Pak Suwandi Permana kepada Jaya anaknya.


"Yah tidak apa-apa, nanti Jaya yang akan ke Bandung menemui Bapak dan Ibu," sahut Jaya kepada ayahnya.


"Jadi sekarang benar kamu akan mengenalkan calon istri kepada kami?"tanya ayahnya lagi.


"Insyaallah Pak, nanti Jaya pertemukan dengan Bapak dan Ibu".


"Jaya...awas yah jangan perempuan aneh-aneh lagi yang kamu bawa yah...," Ibunya tiba-tiba menyela pembicaraan Jaya dengan ayahnya.


"Ya Bu, Insyaallah sekarang wanita baik-baik kok,"ujar Jaya sambil mulai merasa sebal karena kedua orang tuanya selalu curiga kepadanya.


Jaya mengusap wajahnya ketika selesai berbicara dengan orangtuanya lewat telepon genggamnya.


"Hmmm...yang akhirnya punya pacar juga," goda Murni kepada rekan kerjanya.


"Iya dong, masa aku harus menjadi jomblo keren terus," tukas Jaya.


"APA!!! JOMBLO KEREN!!!" Murni menjerit.


Para pasien yang sedang menunggu menengok ke arah suara jeritan berasal.


"Sssttt...jangan berisik nanti semua orang tahu kalau aku jomblo keren," kata Jaya sambil menahan tawa melihat mimik muka Murni yang tampak sebal kepadanya.


"Miranti, besok pagi temui aku di kantor Cirebon, sebab Slamet pimpinan cabang di sini tiba-tiba hendak mengundurkan diri. Besok pagi ketemu saya di sini," kata Handoko Direktur Mentor perusahaan tempat kerja Miranti.


Belum juga Miranti menjawab apapun, Handoko sudah menutup teleponnya.


Miranti menghela nafas, berarti besok pagi dia harus mengemudi sendirian ke kota Cirebon.


"Haikal, nanti Sabtu ulang tahunku. Aku ingin sekali kamu memberi aku bunga," kata Aprilia dengan manja saat turun dari motornya Haikal tepat di depan stasiun radio tempatnya bekerja.


"Oke nanti aku bawakan buatmu bunga yang besar sekali, tapi janji kamu harus cium aku," ujar Haikal menggoda pacarnya.


"Iiihhh...kan sudah dilarang ciuman, nanti aku kena marah lagi," Aprilia merajuk kepada kekasihnya.


Haikal hanya tertawa, lalu dia pamit karena harus segera ke Puskemas.


Pagi itu Anton sudah berada di ruangan pak Tarmidi, disana juga sudah ada dua orang utusan dari Direktorat Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat.


Anton diminta untuk mempresentasikan rencana yang sudah dibuatnya apabila terpilih sebagai Kepala Puskemas.


Maka seharian itu Anton sungguh sibuk luar biasa karena selain presentasi juga ada beberapa test yang harus dia kerjakan.


Dan besok hari menurut jadwal akan ada ujian serta wawancara online dengan pejabat terkait masalah tersebut.


Ibu Cahyani sangat bahagia sekali setelah mendapat balasan telepon dari Isman kalau dia bersedia mengantarkan dirinya untuk menemui Aprilia.


Setelah itu dia menekan ponselnya mencari nomor kontak Mela.


"Mela...ini Mamah Cahyani, nanti Sabtu Mamah akan kesana karena Apri ulang tahun," kata Ibu Cahyani dengan sangat bahagia.


"Oh iya Mamah Cahyani, tentu kami tunggu sekali kedatangannya," sambut Mela melalui ponselnya.


"Tapi ini kejutan yah Mela, jangan dikatakan dulu kepada Apri".


"Siap Mamah Cahyani, pasti Mela rahasiakan dulu kepada Apri".


Hari kamis ini tidak ada yang terlalu heboh, semua berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun.


Jum'at, 28 April


"Aku on the way ke Cirebon menyetir sendiri, nanti siang aku hubungi".


Itu adalah pesan chat Miranti kepada Jaya di subuh hari setelah sholat Subuh.


Miranti di pagi buta itu sudah turun dari apartemennya menuju parkir mobil di basement apartemen tersebut.


Setelah mengirim chat kepada Jaya, dia segera melajukan mobilnya menuju kota Cirebon.


Setelah Sholat Subuh seperti biasa Jaya pasti tidur lagi dan baru bangun sekitar jam setengah tujuh pagi.


Dan dia sangat terkejut ketika melihat ponselnya dan mendapatkan pesan singkat dari Miranti.


Tapi dia tak mungkin menghubungi kekasihnya karena takut sedang menyetir malah nanti membahayakan dirinya.


Pukul delapan pagi Miranti sudah berada di kantor cabang dan dia segera turun menemui kepala cabang di sana.


"Selamat pagi Ibu Miranti, selamat datang. Kasihan pagi-pagi begini sudah tiba dengan mengemudi sendirian,"ujar Slamet ketika Miranti tiba di kantor itu.


"Aduh Slamet, kamu mau kemana sih kok tiba-tiba mengundurkan diri?"tanya Miranti sambil duduk dan merasa lelah.


"Saya mau hijrah Bu, saya dan istri sepakat untuk berniaga seperti ajaran Nabi," jawab Slamet dengan mantap kepada Miranti.


"Alhamdulillah, menarik sekali Slamet, tidak semua orang berani berhijrah. Aku sangat menghargai sekali keberanianmu mengambil langkah ini," Miranti memuji Slamet yang mantap berhijrah.


Pagi itu Miranti diajak sarapan nasi Jamblang oleh Slamet sambil dia menceritakan kalau dia sudah mantap berhijrah.


Miranti mendengarkan dengan seksama apa yang membuat Slamet berhijrah, ternyata Slamet memang selama ini benar-benar menjalankan agama dan lewat bimbingan seorang kyai dia semakin bulat tekadnya untuk berniaga.


Kembali ke kantor setelah sarapan, ternyata sudah ada Handoko yang mempunyai jabatan Direktur Mentor.


Saat itu Handoko menunggu kedatangan Miranti dan Slamet di dalam ruangan kerja Slamet sambil duduk dan kakinya naik ke atas meja.


Wajahnya terlihat kesal karena keputusan Slamet untuk mengundurkan diri sangat tiba-tiba sekali.


"Duduk kamu Miranti dan kamu Slamet ambil kursi satu lagi lalu tutup pintu," kata Handoko dengan nada marah.


Handoko memandang Slamet dan Miranti, lalu berkata,"Miranti coba kamu pikir, apa perbuatan Slamet mengundurkan diri dengan alasan ingin Hijrah dan berniaga itu masuk akal?".


Handoko mencari dukungan Miranti untuk memojokkan Slamet.


Miranti terdiam sejenak lalu menjawab," Saya rasa masuk akal Pak, karena Slamet ingin menjalankan perintah agama dan sebaiknya perusahaan menghargai keputusannya".


Handoko melotot mendengar jawaban Miranti, tidak menyangka manajer kebanggaannya malah berkata demikian.


"Apa maksudmu Miranti !!!... kamu malah berpihak kepadanya...apakah sama kamu juga sudah hilang akal?!!!".


"Saya tidak hilang akal Pak, hanya menyampaikan kalau perusahaan sebaiknya menghargai karyawan yang mengundurkan diri untuk alasan keagamaan,"sahut Miranti mencoba kukuh menyampaikan pendapatnya.


"Sungguh aku tak sangka kamu bisa mempunyai pendapat begitu,"kata Handoko sambil menatap tajam kepada Miranti.


"Slamet, masalahmu selesai sebentar lagi, aku tanda tangan surat pengunduran dirimu, lantas sana kamu sampaikan kebagian keuangan dan ambil gaji terakhirmu lalu pulang... beres...mau jungkir mau balik kamu diluar sana...aku tak peduli lagi," Handoko berkata sambil menyipitkan matanya menunjukkan betapa kesal dirinya.


"Sedangkan aku sekarang harus memikirkan siapa yang tepat menggantikanmu disini dan itu tidak mudah".


"Sana pergi !!!....ambil suratnya ini !!!!"teriak Handoko sambil melempar surat yang sudah ditanda tanganinya kepada Slamet.


Sambil Istighfar di dalam hati, Slamet mengambil surat yang dilempar Direksinya itu dari lantai dan dia keluar dari ruangan itu.


Sungguh Handoko memang seorang Direktur yang sangat kasar kalau berkata-kata dan tak pernah peduli karyawan mau sakit hati atau tidak.


Ini juga merupakan salah satu pemicu Slamet mengundurkan diri karena tak tahan mendapatkan perlakuan buruk dari Direkturnya.


"Coba Miranti katakan siapa kandidat yang tepat untuk menggantikan Slamet?"tanya Handoko sambil masih terlihat sangat kesal.


"Saya saja pak," jawab Miranti.


"APA !!!"teriak Handoko dan itu membuatnya terlihat semakin marah.


Bahkan Slamet yang saat itu hendak keluar dari ruanganpun tersentak kaget mendengar ucapan Miranti.


"Jelaskan apa alasanmu mau menempati posisi menggantikan Slamet?"tanya Handoko dengan tatapan dan nada sinis.


"Posisi saya sebagai manajer area banyak yang melirik, dan saya rela untuk melepasnya dan turun jabatan menempati posisi menggantikan Slamet".


Handoko memukul meja dan menepuk dahinya.


"Sejujurnya saya ada rencana menikah dengan orang di kota ini, sehingga saya memutuskan untuk menetap di kota ini," jawab Miranti mencoba menjelaskan alasannya kepada Handoko.


"Hahahaha....seorang Miranti memutuskan menikah...hahaha


...luar biasa sekali...wanita penuh idealisme tinggi, pengejar karier dan sekarang mau menikah".


"Apakah salah pak kalau seorang karyawan di perusahaan ini hendak menikah?" tanya Miranti kepada atasannya.


"Tak salah, silahkan saja. Hanya itu tidak berlaku untukmu Miranti, seorang Miranti ingin menikah...tak masuk akal".


"Maaf pak, saya seorang wanita dan manusia biasa yang punya hak untuk menikah dan berkeluarga," Miranti sekarang menatap atasannya dengan berani karena merasa tersinggung dengan ucapannya.


"Aku sudah punya rencana mempromosikan dirimu untuk posisi yang lebih tinggi, tapi kamu memilih sama bodohnya dengan Slamet. Sungguh aku tak paham dimana otakmu".


"Perempuan sepertimu tak pantas menikah, lebih baik kamu mencari uang dan carilah lelaki untuk bersenang- senang denganmu".


"Untuk apa kamu menikah, wanita sepertimu tak seharusnya menikah...cari uang yang banyak untuk perusahaan dan dapatkan bonus besar untuk senang-senang," kata Handoko sambil melebarkan tangannya.


"Maaf pak Handoko, saya tidak butuh posisi atau jabatan apapun. Maafkan saya, semua ucapan bapak sangat menyinggung harga diri saya".


"Mohon maaf sepertinya saya juga akan mengikuti langkah Slamet untuk mengundurkan diri. Ini kunci mobil perusahaan, ini tanda pengenal karyawan, tapi mohon waktu sampai besok untuk mengosongkan apartemen di Bandung," kata Miranti sambil meletakan kunci mobil dan tanda pengenal dengan kasar ke ataa meja.


Hati terasa sakit atas ucapan Direksinya itu, ternyata selama ini dia hanya dinilai seperti itu oleh perusahaannya.


"Miranti, dengar dulu maksudku bukan itu maksudku, coba kamu dengar dulu," kata Handoko mencoba mencegah Miranti keluar.


"Maaf pak, saya rasa tekad saya sudah bulat dan saya tidak akan menarik ucapan saya lagi,"ujar Miranti dengan mata merah menahan tangis dan kekecewaan.


"Baik...oke...kamu pasti akan menyesal dan akan mengemis sambil menangis kepadaku meminta pekerjaan lagi".


"Insyaallah tidak akan pak, maaf saya permisi dulu," kata Miranti sambil meninggalkan kantor cabang itu.


Anton, Jaya dan juga Haikal berjalan kaki menuju Puskesmas setelah selesai menunaikan ibadah Sholat Jum'at di Mesjid dekat sana.


Ketika memasuki pintu utama, Jaya sangat terkejut karena ada Miranti duduk di ruang tunggu pasien.


"Hei...kok bisa ada di sini ?" tanya Jaya sambil melihat halaman karena tak nampak mobil Miranti.


"Mana mobilmu?"tanya Jaya lagi.


"Aku lapar, temani aku cari makanan, nanti sambil makan aku ceritakan semuanya,"kata Miranti sambil tersenyum.


Lalu Jaya menemaninya mencari makanan dan mendengarkan semua penuturan Miranti kepadanya.


"Sungguh keterlaluan atasanmu berkata demikian, lelaki macam apa yang tega berkata seperti itu kepada wanita," ujar Jaya terlihat geram dan dia mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Sudahlah, toh aku sudah mengundurkan diri. Aku sudah tak ada urusan lagi dengan perusahaan itu. Sebentar lagi aku ke Bandung naik shuttle bus, lalu mengemasi barang dari apartemen dan mencari kost sewaan," kata Miranti dengan santainya.


"Naik motor sama abang mau tidak ke Bandungnya?".


"Maksudnya?".


"Besok kan aku akan mempertemukanmu dengan orang tuaku, lupa yah".


"Astagfirullah...iya baru ingat, maafkan aku karena masalah ini".


"Hmmm...jadi bagaimana berani tidak ke Bandung naik motor berdua abang?".


Miranti tersenyum lebar," Siapa takut..".


Ibu Cahyani memesan kue ulang tahun untuk anak gadisnya, dia ingin memberikan kejutan dengan membawa kue bertabur coklat dan juga calon tunangan anaknya itu.


Dimata Ibu Cahyani seorang Isman adalah pemuda yang sangat membanggakan untuk dijadikan menantu.


Selain tampan juga memiliki posisi yang tinggi di Bank Swasta nasional terkenal.


Besok siang akan mengunjungi anaknya yang sedang berada di rumah keponakannya di kota Cirebon.


Beliau juga mempersiapkan diri karena rencananya akan menginap di kediaman Anton dan Mela.


"Haikal...besok mau bawa kue tidak untukku...kalau iya yang kecil saja yah biar tidak diminta oleh Mbak Mela," kata Aprilia sambil bermanja kepada kekasihnya.


"Mengapa jadi pelit sama Mbak Mela sih, kan Mbak Mela juga selama ini sangat baik sama kamu sayang".


"Iya sih tapi Mbak Mela tuh belakangan ini aneh, makannya jadi banyak dan seperti orang selalu kelaparan deh,"ujar Aprilia menceritakan istri kakak sepupunya.


"Apakah Mbak Mela hamil?" tanya Haikal sambil terlihat memikirkan sesuatu.


"Entahlah...kalau hamil seharusnya Kak Anton tahu, tapi mereka tidak mengatakan apapun soal hamil. Mungkin Mbak Mela stress, biasa bekerja sekarang hanya menjadi Ibu rumah tangga".


"Jangan gitu ah, Ibu rumah tangga itu pekerjaan yang luar biasa loh. Tidak ada cuti dan tak bisa mengenal lelah, aku sangat salut kepada wanita yang mau hanya menjadi Ibu rumah tangga,"sahut Haikal memuji posisi Ibu rumah tangga.


"Kalau kita berjodoh juga mau dong jadi Ibu rumah tangga".


"Jangan ah...kamu tidak enak masakannya".


"Iiihhh...jahat...".


Dan Haikal harus kesakitan karena dicubit pinggangnya oleh Aprilia.


Sabtu, 29 April


Hari ini Anton mendapat libur spesial dari pak Tarmidi, karena sudah selama seminggu ini Anton berkutat ujian dari pagi bahkan pulang sampai malam hari.


Dia tengah menikmati teh jahe hangat ditambah perasan lemon buatan istrinya.


"Mi kok dari tadi menggenggam sepotong jahe dan terus diciumi, untuk apa sih?"tanya Anton yang merasa heran melihat tingkah istrinya.


"Aku lebih suka mencium bau jahe daripada mencium bau deodoran yang Pi pakai, baunya aneh sekali. Pasti deodoran Pi kadaluwarsa," jawab Mela sambil tetap menciumi jahe yang dia genggam dari tadi.


Anton masih juga belum paham kalau istrinya mulai hamil, dipikirnya hanyalah salah satu ciri khas kegalauan orang yang biasanya bekerja dan sekarang hanya diam di rumah saja.


Biasanya sering disebut dengan istilah Post Power Syndrome, tapi hal seperti itu tidak akan lama bertahan asal pasangan bisa memberi perhatian lebih dan selalu mendukung istri yang sedang dalam fase itu.


Anton sadar beberapa minggu ini setelah kemarin bulan madu singkat, kemudian dia harus berkutat dengan kesibukan ujian dan sebagainya.


"Mi...maaf yah aku hampir sebulan ini sibuk terus jadi tidak memperhatikan Mi sama sekali," kata Anton kepada Mela.


"Tidak apa-apa kok Pi, aku paham. Kan apa yang Pi lakukan juga untuk kesejahteraan kita nantinya," Mela memberikan jawaban yang melegakan suaminya.


"Tapi mengapa Mi tidak mau duduk di sebelah aku sih?".


"Bau...Pi sungguh bau membuat aku pusing jadi aku tak mau duduk dekatmu," kata Mela sambil menahan mual kalau ingat betapa suaminya saat ini sangat berbau aneh.


Anton menciumi bau tubuhnya sendiri dan merasa baik-baik saja, lalu dia bangkit dari duduknya dan masuk ke kamar memeriksa semua wewangian untuk tubuh yang biasa dia gunakan.


Sementara Mela segera meraih stoples berisi kue wafer kotak- kotak kecil rasa coklat dan menikmatinya sambil memegang erat tempat kue nya seakan tidak mau berbagi dengan orang lain.


Memang orang hamil suka aneh- aneh dan pasangan suami istri ini masih belum juga sadar akan hal itu.


Miranti dan Jaya tiba di Bandung tengah malam tadi, mereka jadi naik motor berdua dari Cirebon ke Bandung.


Perjalanan santai, mereka berhenti beberapa kali di beberapa kedai makanan di sepanjang jalan antar kota itu.


Setibanya di apartemen, Jaya tidur di sofa dan Miranti di kamarnya, lalu pagi ini mereka mengemasi semua barang-barang milik Miranti.


Tidak banyak ternyata hanya sekitar 3 koper pakaian dan sepatu saja, sebab barang-barang elektronik dan lainnya adalah fasilitas dari perusahaannya dulu.


Setelah seluruh koper dibawa mereka tertawa sendiri, karena Miranti tidak tahu harus kemana sekarang.


Dia yatim piatu, dan sekarang pengangguran tidak punya pekerjaan dan tempat tinggal.


"Begini saja, sekarang kita cari tempat kost sewaan saja dan sementara kamu tinggal disitu sambil mencari pekerjaan lain," Jaya mencoba memberikan saran.


Miranti diam lalu menatap Jaya sambil berkata," Katanya malam nanti mau mengenalkan aku kepada keluargamu. Apakah hanya sekedar berkenalan saja atau aku benar akan diajak menikah nanti olehmu?".


Jaya tersentak ditanya demikian lalu menjawab ," Aku sudah bilang akan menikahimu, aku mengenalkan kepada orang tuaku nanti sebagai calon istri pilihanku".


"Lalu kalau memang aku akan dinikahi, mengapa masih disuruh tinggal di kota ini. Aku bisa kan mencari kerja di kotamu,"ujar Miranti menatap Jaya dengan serius.


"Hmmm...oke kalau benar itu mau mu tentu aku mendukung, lalu bagaimana dengan barang sebanyak ini dikemanakan?"Jaya tampak bingung melihat semua koper besar milik Miranti.


Lalu dia meminta kertas dan meminjam spidol sambil meminta tolong pihak apartemen menghubungi salah satu perusahaan ekspedisi pengantaran barang ke luar kota yang merupakan rekanan pengelola apartemen tersebut.


"Sayang...ini jaman teknologi, tolong tulis alamatmu di kertas ini. Karena nanti semua barang ku akan dikirim ke alamatmu".


"Baru nanti setelah kita kembali ke kotamu, temani aku mencari rumah sewaan sambil aku mau bekerja atau apalah disana," ujar Miranti dengan santainya.


Jaya kagum dengan Miranti, dia tak menyangka wanita ini sangat tenang sekali padahal dia baru saja kehilangan seluruh kenyamanan yang dirasakannya selama bertahun-tahun.


Miranti dulu bekerja dengan giat sampai tak memikirkan apapun hanya kerja dan kerja agar mendapatkan kenyamanan dan kemewahan.


Sekarang hilang dengan tiba-tiba saja, lenyap semuanya fasilitas mewah dari perusahaannya hilang lenyap begitu saja.


Tapi dia tidak terlihat putus asa atau tertekan, malah tertawa- tawa saja menghadapinya.


Jaya sekalian yakin memilih wanita ini untuk menjadi pasangan hidupnya, karena ternyata dibalik pesona cantiknya wanita ini sangat tegar menghadapi gelombang kehidupan.


Tak lama datang mobil dari salah satu perusahaan ekspedisi dan mengambil koper Miranti. Setelah ditimbang dan diperiksa kelengkapan alamat dan segalanya, lalu Jaya membayarkan semua tagihan kiriman itu.


Miranti menyisakan satu koper kecil yang berisi pakaian untuk keperluan satu atau dua hari ke depan.


Kemudian Miranti memilih sebuah penginapan sederhana yang lokasinya dekat dengan hotel tempat orang tuanya Jaya menginap.


"Kamu di penginapan ini tak masalah kah?"tanya Jaya dengan ragu.


"Hahahaha...sekarang kan bayar sendiri, sayang kalau di hotel mahal. Kan di sini juga bersih dan nyaman kok,"jawab Miranti dengan santai.


"Aku yang akan bayarkan kamu pilih dimana yang kamu mau," kata Jaya dengan semangat.


"Sudah sana temui orang tuamu sayang, nanti sore aku susul ke tempat kalian. Sampaikan saja nama cafenya nanti aku jalan kaki ke situ," kata Miranti sambil tersenyum manis.


Jaya mengelus pipi wanita kesayangannya itu, lalu pamit untuk menemui orang tuanya.


Setelah Maghrib terlihat Miranti berjalan kaki dari penginapannya menuju hotel berbintang yang letaknya berdekatan.


Jaya menanti kekasihnya di lobby hotel berbintang itu, dan tak lama terlihat sosok Miranti berjalan kaki mendekati tempatnya berdiri.


Setelah bertemu keduanya berjalan sambil saling bergenggaman tangan menuju ke cafe yang ada di hotel itu karena ditunggu oleh orang tua Jaya untuk makan malam bersama.


Sebenarnya Miranti sangat berdebar jantungnya karena dia tidak tahu nanti apakah akan diterima dengan baik atau tidak oleh orang tuanya Jaya.


"Waduh Bu...lihat itu calon istri Jaya sangat cantik sekali," kata Pak Suwandi ayahnya Jaya saat melihat anaknya bergandengan dengan wanita yang berkulit putih dan cantik jelita.


"Mana Pak....?"tanya Istrinya sambil membetulkan letak kacamatanya.


Dan ternyata benar anaknya sedang menuju mereka dengan menggenggam tangan seorang wanita cantik.


"Assalamualaikum, selamat sore Bu...selamat sore Pak...saya Miranti," ujar Miranti sambil menyalami kedua orang tuanya Jaya dengan santun.


Ibunya Jaya memandang Miranti yang masih berdiri, dilihatnya wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kakinya.


Miranti tambah berdebar jantungnya karena sering mendengar mitos kalau calon ibu mertua pasti akan seperti itu dan ternyata benar saja terjadi pada dirinya.


"Ayo nak duduklah, ayo Jaya temani dia duduk," Pak Suwandi lebih ramah kepada Miranti, sementara Ibu Suwandi masih saja meneliti Miranti dari berbagai sisi.


Karena makanan yang dipesan juga sudah tersedia, maka mereka makan bersama.


Sambil makan pak Suwandi menanyakan asal usul Miranti, dan tentu saja Miranti menjawab apa adanya.


Dia yatim piatu, sekarang tidak bekerja dan tidak punya lagi tempat tinggal.


Pak Suwandi malah kagum dengan penjelasan Miranti yang apa adanya, beliau menilai Jaya tak salah memilih wanita yang tegar seperti dia.


Ibu Suwandi masih tidak bertanya apapun, hanya makan sambil terus meneliti calon menantunya.


Setelah makan Miranti mohon ijin mencuci tangan dan juga butuh ke toilet.


Ketika Miranti tak ada, disitu Ibunya Jaya berkomentar kepada anaknya.


"Jaya, wanita secantik itu pasti materilistis, apalagi katanya yatim piatu dan tak punya pekerjaan. Pasti nanti dia hanya akan mengincar uangmu saja," katanya dengan logat madura yang kental dan tentu saja wanita Madura mapan di tangan dan lehernya penuh perhiasan.


Ibunya Jaya asli Madura, sementara ayahnya asli Cirebon. Orang asli Madura cara bicaranya keras dan tegas, tapi walau begitu hatinya baik dan lembut.


Hanya memang sikapnya begitu karena mungkin sudah dari sananya kalau orang Madura bicara seperti orang marah padahal tidak sama sekali.


"Bu, haduh...Jaya punya apa sih. Cuma karyawan Puskesmas yang pendapatannya juga tidak besar".


"Kalau benar dia melihat materi, mana mungkin mau sama Jaya,"ujar Jaya mencoba membela kekasihnya.


"Sekarang giliran Ibu yang kan banyak bertanya sama dia, kalian diam. Aku ingin tahu siapa wanitamu itu sebenarnya,"kata Ibu Suwandi dengan tegas.


Tak lama Miranti duduk kembali di meja tadi bersama Jaya dan orang tuanya.


"Miranti, katamu tadi sudah tidak bekerja. Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"tanya Ibu Suwandi sambil memandang tajam ke arah Miranti.


"Hmmm....saya belum tahu Bu, yang pasti setelah ini mencari kontrakan di Cirebon. Sambil mencari pekerjaan, mungkin saya juga berdagang. Dulu waktu Ibu saya masih hidup, kami adalah penjual kue".


"Saya dan Almarhumah ibu saya setiap hari membuat kue risol, kroket, kalau kue manisnya kelepon, kue lapis atau bugis dan sejenisnya," kata Miranti menjelaskan kepada Ibunya Jaya.


"Makanya aku bisa naik skuter, karena aku harus mengantarkan pesanan atau menitipkan kue ke warung- warung sambil pergi sekolah atau kuliah,"lanjut Miranti sambil memandang Jaya.

__ADS_1


Jaya menjadi terenyuh mendengar cerita itu, dia memandang kekasihnya dengan penuh haru.


Ibu Suwandi cukup terenyuh mendengar kisah itu, tapi beliau masih ingin menguji calon istri anaknya itu.


"Lalu kalau misalkan kamu menikah dengan Jaya, pesta besar macam apa yang kamu inginkan?"tanya Ibu Suwandi lagi sambil tetap menatap tajam ke arahnya.


"Kalau misalkan Bang Jaya benar mau menikah dengan saya, maka saya tidak meminta pesta apapun. Saya hanya butuh surat nikah resmi yang menyatakan saya sebagai istri Bang Jaya yang sah secara agama dan hukum".


"Mohon maaf, saya tidak mau mengulangi kebodohan Almarhumah ibu saya yang hanya mau dinikahi secara siri dan tidak punya selembar surat apapun".


"Saya tidak ingin kalau kelak saya diberi kesempatan memiliki keturunan, hidupnya akan seperti saya tidak jelas ayahnya siapa. Saya mau anak saya mempunyai surat lahir yang jelas dan juga memiliki ayah yang bertanggung jawab kepadanya,"jawab Miranti sambil mengangkat kembali kisah hidupnya.


"Kamu perempuan pasti punya mimpi menikah dengan pesta besar dan diberi perhiasan banyak juga oleh calon suamimu, masa kamu tidak punya keinginan seperti itu?".


"Mohon maaf Ibu, saya hanya wanita yatim piatu. Kalau ada yang mengajak menikah hanya di kantor KUA saja, tentu saya sudah bahagia. Dan untuk perhiasan, kebetulan saya alergi logam. Jadi saya tidak punya dan tidak butuh perhiasan apapun untuk menghiasi tubuh saya," jawab Miranti sambil tersenyum lebar.


Malam itu mereka tidak banyak lagi yang ditanyakan kepada Miranti, tak lama kedua orang tuanya Jaya kembali ke kamar hotelnya.


Jaya mengatarkan Miranti sampai ke depan pintu utama penginapan, lalu kembali menemui orang tuanya.


Dan malam itu, orang tua Jaya menghubungi kakaknya Jaya dan mereka semua berdiskusi sampai akhirnya ada satu keputusan baik untuk Jaya dan Miranti.


Di kota lain, tepatnya di tempat kediaman Anton dan Mela pada sore hari itu kedatangan tamu.


Ibu Cahyani dan juga calon menantu pilihannya yaitu Isman.


Rencananya Ibu Cahyani mengajak Isman menginap di tempat Anton, karena kebetulan ada kamar kosong yang bisa ditempati.


Melihat ibunya datang bersama pria pilihan Ibunya membuat Aprilia menjadi tidak bahagia.


Padahal hari ini adalah ulang tahunnya yang ke dua puluh tiga tahun.


Sejak Ibunya datang, dia terlihat diam saja tidak bersemangat karena ada lelaki yang bernama Isman bersama mereka.


"Mbak Mela, Mamah itu benar aneh sekali deh. Untuk apa coba membawa lelaki itu kemari. Rasanya kesal sekali," bisik Aprilia kepada Mela yang sedang memasak mie ulang tahun yang merupakan budaya keluarga Wiharja.


Aprilia memang bukan keluarga Wiharja, dia keluarga Hidayat.


Tapi sekarang sedang berada diantara keluarga Wiharja, maka tentunya kebiasaannya harus sedikit mengikuti gaya keluarga Wiharja.


Anton sedang berbincang dengan Isman, awalnya enak tapi lama kelamaan mulai terasa oleh Anton kalau lelaki itu selalu bicara menjulang tinggi sampai sulit menggapainya.


Selalu mengeluarkan kalimat milyaran rupiah, ratusan juta rupiah, luar negeri, barang bermerek dan sebagainya.


"Hahaha...saya sih cuma karyawan biasa saja mas Anton, paling saya beli jam tangan juga merek COLEX. Tak mahal sih, kebetulan sedang promosi jadi cuma sekitar dua ratus jutaan lah".


"Saya olah raga golf, kemarin baru membeli stick baru. Kebetulan murah hanya lima ratus juta saja, maklum sedang promo".


"Enak juga yah, istri mas Anton pandai memasak, saya sih setiap hari makan di rumah makan atau di restoran hotel berbintang. Jadi agak boros sih, sekali makan bisa sampai satu atau dua jutaan deh".


Anton mulai merasa kesal dengan perbincangannya dengan Isman yang terus menyombongkan dirinya.


Masakan Mela sudah selesai, lalu dibawa ke meja makan dan dia mengajak semuanya untuk makan bersama.


"Mbak, nanti dulu dong. Aku masih menanti Haikal," kata Aprilia dengan polosnya.


Tentu saja Mela dan Anton terkejut mendengarnya, mereka bertatapan tapi tak tahu harus berkata apa.


Tak lama terdengar suara motor berhenti di halaman rumah tersebut.


Aprilia terlihat bahagia karena Haikal datang menemuinya, sementara Haikal saat turun dari motor melihat ada mobil lain di halaman rumah itu.


Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah sedang ada acara keluarga atau sedang ada tamu.


Tapi dia tetap mencoba masuk ke dalam rumah itu. Anton dan Mela kembali bertatapan dan mulai merasa gelisah.


Eti yang juga diminta tolong oleh Mela untuk tidak pulang sore untuk membantunya, karena ada tamu dan ada acara ulang tahun Aprilia.


Ternyata Eti juga menjadi ikut tegang karena di rumah itu ada calon tunangan Aprilia atas pilihan ibunya, juga ada Haikal yang dia ketahui adalah kekasihnya Aprilia.


"Waduh...alamat ribut yah... ribut...eh jangan...Ya Allah semoga jangan rubit...eh..ribut," kata Eti sambil bicara sendiri di dapur.


"Assalamualaikum," Haikal memberi salam.


"Walaikumsalam,"sambut Aprilia dengan gembira.


Ibu Cahyani merasa heran ketika anak gadisnya menyambut senang lelaki yang baru saja datang.


Beliau memandang anak muda itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Lelaki muda berjaket kulit hitam, di dalamnya memakai kaos T- shirt berwarna hitam dan bergambar lidah menjulur yang merupakan logo grup Band Rock luar negeri jaman dulu.


Celana panjangnya blue jeans, dengan model sobek-sobek di lutut dan pahanya.


Sepatunya sepatu boot warna hitam dengan model retsleting di pinggirnya.


Ibu Cahyani melihatnya dengan sebal, karena terlihat seperti anak muda urakan.


Padahal kalau Ibu Cahyani tahu, yang dikenakan Haikal sebenarnya harganya selangit tapi Haikal tidak pernah sombong.


Semua yang Haikal kenakan barang original dari luar negeri asli.


"Mah kenalkan ini Haikal teman Apri," kata Aprilia dengan sumringah.


Ibu Cahyani hanya mengangguk ketika Haikal memberi salam kepadanya.


"Ayo Haikal, masuklah kita makan bersama," ajak Mela kepadanya.


Lalu Haikal masuk ke dalam ruang makan atas undangan Mela.


Setibanya di ruang makan ada seorang lelaki lain berdiri di sana dan lelaki itu memandang dirinya dengan tatapan sombong.


"Kenalkan itu calon tunangannya Aprilia," kata Ibu Cahyani kepada Haikal memberitahukan posisi lelaki lain yang ada di ruangan itu.


Haikal menganggukan kepala, lalu menyodorkan tangannya saling berjabatan tangan dengan Isman.


"Isman, calon tunangan Apri".


"Haikal, pacarnya Apri".


Kedua lelaki itu beradu pandang, dengan tatapan dingin menusuk.


Anton dan Mela saling bertatapan, Ibu Cahyani terlihat kesal, Eti gemetaran di dapur.


Sementara Aprilia tenang-tenang saja senyum gembira.


"Ayo makan, silahkan mie ulang tahunnya di ambil dan dimakan. Semoga enak," ujar Mela berusaha mencairkan suasana.


Di rumah itu kebetulan meja makannya besar dengan enam buah kursi makan.


Ibu Cahyani duduk diujung utara dan Isman diujung selatan.


Anton bersebelahan dengan Mela, dan Aprilia seperti sengaja duduk disamping Haikal.


"Kerja dimana Haikal?"tanya Isman sambil makan.


"Di Puskemas barengan Bang Anton," sahutnya sambil menyuapkan mie ke dalam mulutnya.


Ibu Cahyani melirik ke arah Anton, dan Anton menunduk sampai merasa sangat sulit menelan makanannya.


"Jadi apa di Puskemas?".


"Biasalah bagian kebersihan".


"Oh...pegawai rendahan, kirain dokter".


Aprilia ingin meralat omongan Haikal, tapi Haikal menyenggolnya. Seketika dia paham dan terdiam.


Selesai makan, Ibu Cahyani mengeluarkan kue ulang tahun yang berukuran besar yang sudah dibelinya.


Kemudian menyalakan lilin dan meminta Aprilia meniup juga memotong kue itu.


Aprilia memotong kue dan memberikan potongan pertama malahan untuk Haikal bukan kepada Ibunya.


Haikal kemudian mengeluarkan sebuah kotak yang di atasnya ada rangkaian bunga, lalu ketika kotak dibuka isinya adalah sebatang coklat berukuran cukup besar buatan luar negeri.


Aprilia sangat bahagia sampai tak sadar dia memeluk Haikal setelah menerima hadiah itu.


"Anak sialan kamu!!!!" Ibu Cahyani menarik Aprilia yang tengah memeluk Haikal.


PLAK!!!!....PLAK...!!!!


Pipi kiri dan kanannya ditampar oleh ibunya.


"Anak tak tahu diri, kurang ajar, sini kamu bereskan semua pakaianmu. Malam ini juga kembali ke rumah....Cepaaaatttt!!!"teriak Ibu Cahyani sambil menyeret tangan Aprilia masuk ke kamar tidurnya.


"Mi...coba tenangkan Mamah Cahyani," kata Anton kepada istrinya.


"Cepat bereskan semua pakaianmu, bodoh, sialan kamu!!!" Ibunya terus memaki Aprilia.


Haikal ingin menolong tapi ditahan oleh Anton.


Setelah semua pakaian Aprilia masuk ke dalam koper, lalu dia kembali diseret oleh Ibunya keluar.


"Ayo nak Isman, kita kembali ke kota kita, disini Apri malah menjadi rusak".


"Mamah Cahyani, maaf dengarkan dulu kami....," Mela mencoba menenangkan tapi Ibu Cahyani malah mendorong tubuhnya sampai jatuh.


"Kalian sama saja, Anton dan Mela, kalian jahat kepadaku, seperti aku menitipkan anak ayam ke burung elang, Sialan kalian," kata Ibu Cahyani sambil menyeret Aprilia keluar rumah.


Aprilia menangis sambil diseret oleh ibunya dengan kasar.


Haikal tak bisa membantu karena terlihat Ibu Cahyani begitu marah dan emosi.


Lalu Aprilia didorong masuk ke dalam mobil Isman, Haikal mengejar sampai ke halaman. Tapi mobil itu sudah melaju jauh meninggalkan kediaman Anton dan Mela.


"Aduh....sakit," kata Mela sambil memegang perutnya.


"Mi...kenapa sayang," kata Anton sambil memegang istrinya yang terjengkang di lantai.


Mela terlihat kesakitan perutnya karena jatuh didorong Ibu Cahyani, Anton terkejut lalu tak sengaja dia memegang tangan istrinya dan terpeganglah nadi di tangan istrinya.


"Masyaallah...Mi...kamu...," Anton terkejut lalu dia menggendong istrinya yang masih kesakitan itu.


Dia meminta Haikal mengambil kunci mobil dan minta tolong dibukakan pintunya.

__ADS_1


Lalu Mela dia simpan di kursi belakang, lalu dia meraih kunci mobilnya dari tangan Haikal.


Tanpa pikir panjang lagi dia bawa istrinya menuju rumah sakit terdekat.


__ADS_2