Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Bonus 3 : Baby Boy


__ADS_3

"Mi, aku duluan berangkat yah. Nanti Mi sama Ibu saja naik taksi online. Masalahnya aku harus sepagi ini ke Puskesmas untuk memastikan semuanya," kata Anton sambil merapihkan kaos polonya dan dia juga menenteng satu buah kemeja batik untuk dipakai saat acara nanti.


Anton memasukan kemeja dan tas juga ke dalam mobilnya.


Sebenarnya Mela ingin mengatakan sesuatu, karena sejak subuh tadi perutnya serasa seperti linu dan ada sedikit air merembes ke celana dalamnya.


"Pi...sebentar....aku...," kalimat Mela terhenti.


"Apa Mi? Nanti saja yah di Puskemas, aku harus cepat-cepat ke sana," kata Anton sambil masuk ke mobilnya dan melaju menuju tempat kerjanya.


Mela ingin bertanya kepada Ibu Sinah, tapi hati kecilnya berkata takut kalau bertanya kepada Ibunya pasti nanti tidak mengijinkan pergi ke acara di kantor suaminya.


Memang terkadang sifat kekanakan masih saja suka melekat pada diri Mela.


Jadi dia diam-diam lmemasang pembalut saja, karena dipikirnya itu keputihan biasa. Dia tak tahu sebenarnya itu adalah rembesan air ketuban.


Usia kehamilannya memang sudah mencapai 37 minggu lebih hampir masuk ke minggu ke 38, kemarin ini dokter Dhani berkata seharusnya Mela melahirkan di minggu ke 39 tapi bisa jadi sebelumnya sudah bisa lahir karena kepala bayi sudah ada tepat di jalan lahir.


Saat awal hamil suaminya sibuk dengan segala macam ujian untuk menjadi Kepala Puskemas.


Sekarang mau melahirkan suaminya juga sibuk dengan urusan untuk acara pisah sambut yang akan diadakan hari ini di Puskemas.


Belum lagi rencananya setelah selesai acara, Anton akan rapat dengan seluruh tim untuk operasional baru yang aka segera dilaksanakan pada hari Senin mendatang.


Sekarang sudah pukul delapan pagi, rencananya setengah jam lagi Mela dan Ibu Sinah baru akan menyusul ke Puskesmas.


Tiba-tiba Mela mendapat telepon dari Aprilia, dan mengajak bersama dengan mereka.


Saat itu Haikal dan Aprilia belum ke Papua, mereka masih mengurus beberapa dokumen Haikal yang masih terpending.


"Mbak tunggu yah, kami rombongan nih. Kebetulan Mommy juga ingin melihat rumahnya jaman dulu," kata Aprilia kepada Mela.


"Ya, mbak tungguin di sini,"sahut Mela.


Tak lama benar saja rombongan datang, Ada Haikal dan Aprilia, lalu Ibu Nova dan Daddy James.


Mereka naik mobil minibus milik tante Linda, karena mobil Haikal sudah dikirim ke Papua lewat kapal cargo.


Dan yang duduk paling belakang di mobil itu adalah Tante Linda bersama Sheera dan Jacob.


Lalu semua turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang sekarang ditempati oleh Anton dan Mela.


"Masih sama seperti lima belas tahun yang lalu aku tinggalkan," kata Ibu Nova sambil melihat taman dan merinding.


Mela menyambut mereka semua masuk ke dalam, dan Ibu Nova melihat masih banyak sekali furniture dan perabotan lain yang dulu dia sempat miliki.


"Tak ada yang berubah kok Mommy, semua masih sama. Kecuali bangunan di depan yang sudah dijual kepada dokter Anton," kata Haikal sambil merangkul ibunya.


"Mommy juga tak mau melihat lagi rumah itu, terlalu sakit rasanya," jawab Ibu Nova sambil senyum kecut.


"Rumah kakek sekarang parah sekali Mommy, seperti rumah hantu. Tak ada lagi yang tinggal di sana," kata Aprilia kepada Ibu mertuanya.


"Nanti rencananya akan dihibahkan saja untuk dijadikan pesantren atau panti asuhan atau panti jompo. Saat ini masih dipikirkan mana yang lebih baik," kata Haikal kepada istrinya.


"Coba nanti suatu saat bicarakan dengan Koko Fajar, kan beliau memang menjadi pengurus suatu Pesantren," kata Aprilia kepada Haikal.


Daddy James mengerti istrinya menjadi kurang nyaman saat berada di rumah yang sekarang ditinggali oleh Mela.


Beliau lalu merangkul Ibu Nova, memberi semangat agar jangan sampai merasa sedih dan larut dalam kenangan masa lalu.


Ibu Nova paham dan beliau menyandarkan kepalanya ke dada suaminya yang bidang.


"Kami nanti hari senin sudah berangkat ke Papua loh Mbak, jadi hari ini sekalian acara sekalian pamit karena besok kami harus sudah ke Jakarta," kata Haikal kepada Mela ketika duduk di ruang makan yang juga sekaligus ruang berkumpul.


"Oh begitu, cepat sekali sih. Padahal belum lama kalian di sini," sahut Mela.


"Ya mbak, soalnya mas Haikal harus segera menemui Papih. Dan rencananya Papih akan dibawa oleh Mommy dan Daddy ke Australia," kata Aprilia menerangkan kepada Mela.


"Mommy dulu pernah stay in here bersama Bang Haikal. Why sekarang this home diberikan ke orang lain?"tanya Jacob kepada Ibu Nova.


"Mereka bukan orang lain sayang, mereka adalah saudaranya kakak Apri. Jadi masih saudara dengan kita," kata Ibu Nova sambil mengelus kepala Jacob.


"Oh, mereka masih family. How i should panggil mereka Daddy?"tanya Jacob kepada ayahnya.


"Hmm...call them Kakak saja...Kakak Mela and her husband Kakak Anton," kata Daddy James menjelaskan.


"Kakak Anton? Where dia sekarang Daddy?"kata Jacob bertanya lagi.


"Jacob, cerewet sekali !!!Sekarang kita akan ke acara di kantor Kakak Anton," seru Sheera kakaknya yang tampak kesal mendengar pertanyaan adiknya.


"No, hari ini kita ke party Bang Haikal. Daddy said to me kalau Bang Haikal akan ke acara Farewell Party,"tukas Jacob kepada kakaknya.


"Dengar yah, Bang Haikal dan Kakak Anton kerja di tempat yang sama. Dan Kakak Anton itu menjadi Pimpinan di kantornya," kata Sheera lagi sambil melotot kepada Jacob.


"Mommy, apa itu Pimpinan? Apakah sama with Headmaster in my school?"tanya Jacob dengan polos kepada Ibunya.


"Ya sama, tapi Kakak Anton itu di Puskemas, hmmm....rumah sakit kecil," kata Ibu Nova menjawab pertanyaan Jacob.


"Oh, hospital kecil. Aku mau lihat dong hospital kecil," kata Jacob dengan semangat.


Semua hanya senyum saja melihat tingkah Jacob yanh selalu banyak bertanya dan ingin tahu segala apapun.


Sementara Sheera kakaknya cemberut karena bagi dirinya Jacob terlalu rewel banyak bertanya.


Lalu mereka semua naik ke mobil hendak menuju ke Puskesmas, semua masuk berhimpitan tapi semua gembira saja.


Ser...Ser...ada tetesan mengalir ke pembalut di celana dalam Mela.


"Uncle James, mengapa yah perut saya selalu terasa seperti digigit semut sejak tadi pagi?"tanya Mela kepada Daddy James.


"Wah, kamu harus be carefull sebab mungkin saja itu pertanda akan segera melahirkan," sahut James sambil menengok ke wajah Mela.


"Ya benar Mela, apakah ada keluhan lain?"tanya Ibu Nova sambil memegang perut Mela yang sangat besar itu.


Mela melirik Ibunya, kembali dia merasa takut kalau mengatakan sekarang ada air membasahi bagian bawahnya.


Jadi dia hanya senyum saja sambil geleng kepala.


"Oh, mungkin hanya kram biasa saja. Memang sering begitu saat hamil,"ujar Ibu Nova berusaha membuat Mela tenang.


Lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan segala perbincangan ringan dan menyenangkan. Terutama topik hangat adalah soal perjodohan Tante Linda dengan kawannya Daddy James.


Tante Linda hanya mencebik bibir saja ketika semua yang ada di mobil mulai menggodanya.


"Jujur dong Tante, naksir tidak sama Achmad Yusuf. Secara masih ganteng dong di usianya yang sudah lima puluh tahun," kata Haikal kepada Tantenya.


"Iya loh Linda, dia tampak naksir berat sama kamu dan sekarang sedang belajar bahasa Indonesia," kata Ibu Nova ikutan menggoda sang adik.


"Hmmm...ketemu saja belum, kok sudah ribut naksir. Mana aku tahu dia seperti apa orangnya," ujar Tante Linda mencoba menyangkal perasaannya.


"Lihat dong fotonya, apakah Tante Nova punya?"tanya Mela kepada Ibu Nova.


"Oh ada dong, ini dari ponsel Uncle James yah. Ini foto profilnya dokter Achmad Yusuf orang keturunan Turki tapi sudah menjadi warga negara Australia," kata Ibu Nova sambil memperlihatkan foto profil dokter tersebut dari ponsel suaminya.


"Wah, ganteng dong. Seperti aktor Turki yang suka ada di televisi yah,"sahut Mela yang mengakui ketampanan dokter tersebut.


"Iya loh ganteng, wah kalau Ibu masih muda sih pasti naksir sama dokter itu...hahahaha," Ibu Sinah juga ikut menggoda Tante Linda yang tampak merah wajahnya karena malu.


Rombongan tiba di depan puskesmas, sudah banyak orang di sana tapi belum terlihat ada tamu dari luar.


Sebagian besar masih karyawan dan anggota keluarga.


Murni tampak sibuk mengatur meja prasmanan beserta dengan orang dari catering.


Miranti juga sudah datang dengan membawa sekitar seratus lebih kotak kue.


Dan tentu saja sekarang dia sudah punya tukang becak langganan yang bisa disuruh untuk mengantarkan pesanan kemana saja.


Kue ditumpuk di belakang meja penerima tamu sehingga setiap tamu datang nanti akan diberikan satu kotak setelah mengisi buku tamu.


Ketika rombongan Haikal datang, disaat bersamaan Anton sedang memeriksa Trisno dan Jaya yang sedang menguji coba sound system.


Microphone sudah bisa mengeluarkan suara dengan baik.


Lalu Anton memeriksa Murni yang sedang mengatur makanan, dan Murni memastikan kepada pimpinannya kalau semua sudah siap. Piring, sendok, garpu dan air mineral gelas.


Lalu jumlah makanan juga dipastikan agar jangan sampai tamu kekurangan makanan.


Saat memeriksa tim penerima tamu, datang rombongan Haikal bersama istri dan mertuanya.


Anton segera menyalami mertuanya dan juga semua yang datang, sedangkan Mela dia cium keningnya. SO sweet sekali Anton yah.


"I know you, abang with one leg...ternyata abang ini my family yah. Bolehkah aku call you abang doctor one leg?"tanya Jacob kepada Anton.


"You know boy, i feel cute with one leg," sahut Anton kepada Jacob menepuk bahunya.

__ADS_1


"Ow, i feel cute too, tapi aku tak mau cuma punya one leg," sahut Jacob yang selalu pintar menjawab.


"You are very smart boy, i like you," kata Anton lalu saling menempelkan salam kepal.


"Jacob yang sopan, jangan panggil seperti itu. Panggil saja abang doctor,"kata Ibu Nova ketika mereka duduk bersama.


Jacob meminta maaf dan dia berjanji kepada Ibunya akan memanggil Anton dengan sebutan Abang doctor saja.


Anton memerintahkan kepada tim penerima tamu kalau rombongan keluarga karyawan jangan dulu diberikan kue, nanti setelah tamu hadir semua kalau ada sisa silahkan ambil.


Tapi rupanya Miranti sudah punya cadangan, dan dia mendekati rombongan keluarga Haikal dan juga Mela beserta Ibu Sinah.


"Mela, coba ini kuenya, maaf yah kalau misalkan kurang enak. Soalnya saya belakangan ini lidah terasa kebas dan makan apapun mual saja. Mungkin saya masuk angin karena kecapekan," kata Miranti sambil menyodorkan sekotak besar kue yang dia buat untuk acara ini.


Semua mencicipi kue tersebut, dan mulai memberikan komentar atas rasanya.


"Brownies ini kok, aku suka sekali," komentar Sheera yang mengambil brownies potong.


"Kroketnya enak Mbak, cuma karena aku suka asin jadi bagiku masih kurang asin sedikit lagi," komentar Aprilia sambil mengunyah kue itu.


"Ah enak kok, ini tante makan risolnya enak, ya kan Ibu Sinah," kata Ibu Nova sambil mencari tahu juga kira-kira apa komentar ibunya Mela.


"Enak kok, nak Miranti ini pandai membuat kue. Saya pingin belajar loh, siapa tahu nanti di kampung bisa jualan yang begini,"ujar Ibu Sinah.


"Terima kasih buat semuanya, masukannya dari Apri juga saya catat. Ayo Ibu Sinah, menginap di rumah saya nanti saya ajarkan semuanya,"jawab Miranti terlihat senang.


"Kalau kata aku sih Mbak, cabe rawitnya kurang. Soalnya aku suka pedas," kata Haikal karena di tiap risol dan kroket hanya tersedia satu cabe rawit.


"Ah dasar saja Bang Haikal itu seperti merak, doyan pedas. Makan apa juga harus pedas,"Istrinya menukas perkataan suaminya.


"Kalau kata aku kenapa Kakak membuat cake only three macam saja. If banyak macam tentu lebih enak," Jacob ikut komentar.


"Jacob, you talk too much. Cerewet sekali,"biasa Sheera memprotes adiknya.


"Ah tidak, ayo nanti kalau kamu ke Indonesia lagi akan kakak buatkan kue yang banyak. Asal mau menginap di rumah kakak," sahut Miranti sambil senyum lebar.


"Mommy, look kakak Sheera selalu angry saja sama aku," Jacob mengadu kepada Ibunya.


"Sheera....,"panggil Daddy James sambil mendelik tajam kepadanya, dan Sheera segera menunduk.


"Maaf yah Miranti, biasa anak-anak saya selalu saja begitu. Dimanapun ribut, tapi kalau tak ada satu saling mencari,"kata Ibu Nova kepada Miranti.


"Tak apa-apa, saya senang kok melihatnya. Karena saya tak pernah merasakan hal seperti itu," sahut Miranti.


"Sama Mbak, saya juga tak pernah merasakan!!!," seru Haikal sambil tertawa lebar.


Dan semua jadi ikut tertawa juga.


Mela tak banyak bicara, dia diam saja sambil merasakan perutnya sesekali terasa melilit.


Tak lama rombongan tamu mulai hadir, rupanya banyak orang penting yang hadir.


Selain perangkat desa, ada juga wakil dari Kecamatan.


Lalu hadir juga Kepala Dinas Direktorat Kesehatan beserta rombongan.


Pak Tarmidi juga ikut hadir bersama rombongan dari Pusat itu.


Anton, Jaya beserta Rossie turut menyambut tamu undangan tersebut.


Hadir juga Kepala Polisi Sektor setempat, Lalu beberapa Kepala Puskemas dari Kecamatan.


Ada juga tamu dari Tamadi Corporate, dan yang hadir adalah Riyu Tamadi kakaknya Rossie.


Dan hadir juga rombongan dokter Spesialis yang akan segera praktek di Puskemas itu.


Anton sibuk menyalami dan berbincang dengan para tamu undangan, khususnya dengan tamu spesial dari Dinas Pusat.


Jaya berputar menyapa tamu penting lainnya sambil sigap menyambut tamu lain yang terus hadir.


"Permisi, saya boleh duduk di sini?"kata seorang Ibu berusia sekitar tiga puluh tahunan sambil menunjuk kursi sebelah Mela.


"Silahkan, kosong kok," sahut Mela sambil senyum.


"Maaf apakah Ibu ini istrinya Pak dokter Kepala?"tanya Ibu tadi kepada Mela.


"Iya, saya istri dokter Anton. Maaf dengan siapa yah ?"tanya balik Mela kepada Ibu tadi.


"Perkenalkan saya Bidan Ayu, nanti saya juga bertugas di sini bersama dokter Dhani Ramlan," kata Bidan Ayu sambil menghaturkan salam kepada Mela.


"Wah senang sekali berkenalan dengan Ibu Bidan, nama saya Mela. Panggil saja nama saya jangan sungkan karena saya lebih muda," sahut Mela kepadanya.


Setelah itu Bidan Ayu meminta ingin memegang perut Mela, dan tentu saja dipersilahkan oleh dirinya.


"Mbak Mela, sepertinya sudah mau lahiran deh. Kepala bayi sudah dibawah sekali loh, apa tidak merasakan sesuatu?"tanya Bidan terlihat terkejut.


Lalu setengah berbisik Mela mengatakan apa yang dia rasakan dari pagi.


"Waduh, ayo kita cari ruangan saja, biar saya periksa," kata Bidan Ayu sambil membantunya berdiri.


Dan nyata Mela sudah sangat sulit berdiri karena merasakan sakit perutnya.


Ibu Sinah serta Aprilia segera menolongnya, lalu Miranti mencari Jaya dan berbisik minta dicarikan ruangan untuk Mela.


Lalu Jaya segera meminta Mantri Deni untuk memberikan satu ruangan praktek untuk Mela.


Anton tak paham apa yang terjadi dengan Mela, dia sungguh sibuk menemani tamu dan tak lama datang juga rombongan kyai beserta anak yatim.


Acara segera dimulai dengan membaca doa dan ayat suci Al Quran, lalu ada ceramah singkat dari kyai yang intinya menjadi seorang pemegang jabatan jangan sampai jatuh ke dalam godaan harta, tahta dan wanita.


Setelah ceramah lalu sambutan dari Kepala Dinas Kesehatan Pusat, sambutan dari wakil Camat, sambutan dari Kepala Polsek dan terakhir dari Anton sambil memperkenalkan tim dokter baru yang akan mulai praktek pada Senin depan.


Setelah itu, acara pisah sambut berupa serah terima jabatan dari Pak Tarmidi kepada Anton, juga dari dokter Haikal kepada dokter Rossie.


Masing- masing memberikan sepatah dua patah kata sebagai tanda perpisahan dan juga dari Rossie sebagai tanda permulaan.


"Terima kasih atas kesempatannya, nama saya Rossie Tamadi. Posisi saya sebagai dokter umum menggantikan dokter Haikal. Usia saya baru dua puluh satu tahun, saya kebetulan dokter paling muda saat ini," kata Rossie ketika diminta memperkenalkan dirinya.


"Kok namanya Rossie, seperti perempuan," tiba-tiba ada tamu yang nyeletuk bertanya.


"Saat saya lahir bersamaan dengan munculnya Valentino Rossie menjadi juara dunia balap motor, jadi beliau terinspirasi dengan nama itu," jawabnya sambil membungkukkan badan ala Jepang.


Kakaknya yang hadir hanya senyum saja mendengar adiknya menjelaskan asal usul namanya.


Lalu setelah itu doa makan dibawakan oleh seorang anak panti, dan sambil tamu mengambil makanan diiringi oleh Marawis rebana yang dibawakan oleh anak-anak panti.


"Anton, aku pamit yah. Sorry loh aku tak bisa lama karena harus ke klinik ada yang mau melahirkan. Aku juga paling di sini seminggu dua atau tiga kali yah, nanti yang praktek setiap harinya adalah Bidan Ayu," kata dokter Dhani Ramlan saat pamit kepada Anton.


Lalu Anton mengiyakan tapi sambil kaget karena dia sungguh lupa mengenalkan Bidan Ayu, karena sejak tadi tidak nampak.


Tapi Anton tak sempat bertanya dan mencarinya karena dia masih harus menemani tamu makan siang.


"Mbak Mela, ini sudah bukaan enam loh, sudah hampir lahir ini. Dan air ketuban apakah sejak tadi sudah merembes?"tanya Bidan Ayu sangat terkejut.


"Iya sejak pagi ada cairan keluar sedikit- sedikit, tapi saya tak paham jadi saya pakai pembalut saja," jawab Mela kebingungan.


"Sekarang mulas atau tidak bu?"tanya Bidan Ayu sambil memeriksa perut Mela.


"Tidak sih, cuma sesekali ada mulas lalu hilang lagi. Saya pikir angin saja," memang Mela belum paham kalau dia sudah waktunya melahirkan.


Ibu Sinah yang mendengar otomatis wajahnya tegang, dia takut sekali ada apa-apa dengan Mela dan bayi dalam kandungannya.


Miranti berusaha menenangkan beliau, sementara Aprilia memanggil suaminya lalu menceritakan apa yang terjadi.


"Apakah harus diinduksi sekarang Ibu Bidan?"tanya Haikal kepada Bidan Ayu.


"Seharusnya sih, karena Mbak Mela tidak mulas, air ketuban mulai habis takut bayi kekeringan di dalam," sahut Ibu Bidan Ayu.


"Sebentar saya tanya dokter Dhani Ramlan, kalau tak salah beliau masih di sini," kata Haikal sambil berusaha mencari dokter Dhani.


Dan sialnya dia mendapat jawaban kalau dokter Dhani sudah pamit karena tadi ada telepon bahwa akan ada yang melahirkan di klinik miliknya.


"Bu Bidan, yang punya wewenang mengeluarkan instruksi infus induksi itu dokter Dhani tapi beliau sudah pulang. Paling menunggu dokter Anton tapi beliau masih sibuk sekali," kata Haikal menjelaskan kepada Bidan Ayu.


"Ya saya tidak berani juga main induksi dokter, kalau belum ada perintah dari salah satunya," kata Bidan Ayu terlihat cemas.


Haikal tampak berpikir, lalu dia menemui Rossie dan menceritakan kejadian yang sedang berlangsung.


"Saya dokter baru, saya belum tahu kewenangan saya sebatas mana," jawab Rossie yang sama merasa ragu.


Pada saat bersamaan terlihat Anton sedang menyalami tamu yang mulai berpamitan setelah makan.


"Dokter Anton, mulai senin nanti operasikan saja semua yah. Bahkan rawat inap juga, nanti saya kirim seorang dokter umum lagi untuk giliran jaga," kata Kepala Dinas Kesehatan sambil menyalami Anton.


Kedua dokter muda segera menemui Anton ketika terlihat sedang sendirian sehabis mengantar tamu pulang.

__ADS_1


"Bang, itu Mbak Mela sudah mau melahirkan. Sudah bukaan enam tapi belum mulas dan harus diinduksi," kata Haikal kepada Anton.


Sejenak Anton bingung, lalu tanpa bicara dia langsung bergegas masuk ke dalam ruangan Puskemas mencari dimana istrinya.


Ternyata sedang dibaringkan di salah satu tempat tidur di ruang IGD.


"Oh Bidan Ayu ada di sini rupanya, bagaimana dengan istri saya?"tanya Anton dengan panik.


Bidan Ayu menjelaskan yang terjadi, sementara Mela terbaring lemah tanpa ekspresi karena dia merasa bingung dan khawatir.


"Haikal dan Rossie, maaf tolong temani tamu. Apabila ada yang bertanya sampaikan maaf karena istri saya mau melahirkan," pinta Anton dan tentu saja disetujui oleh keduanya.


"Apri, tolong ambilkan ponselku di ruangan depan yah. Dan Ibu Bidan tolong pasangkan infus induksi," kata Anton mulai menguasai keadaan.


"Mi, tenang saja yah. Aku yang akan menangani kelahiran anak kita," kata Anton sambil mencium kening istrinya dan Mela menitikan air mata tanpa bisa berkata apapun.


Aprilia memberikan ponselnya Anton yang diambil dari ruangan depan.


Lalu Anton menghubungi dokter Dhani Ramlan dan menceritakan apa yang terjadi.


"Aduh Anton elu kebiasaan deh, lagi dulu hamil elu kagak tahu. Eh sekarang mau melahirkan juga sama saja kagak tahu. Gue kagak bisa kesana, ini mau menangani besar caesar!," kata dokter Dhani setengah memekik.


"Pokoknya elu sekarang sudah memberi induksi kan, berarti tunggu sampai dia mulas. Kalau sudah mulas nanti siap melahirkan. Ada Bidan Ayu pasti sudah paham kok".


"Kalau misalkan diperlukan lakukan episiostomi yah, sekitar 4 cm saja cukup," jawab dokter Dhani Ramlan mencoba menjelaskan kepada Anton.


*Episiostomi adalah membuat sayatan pada jalan lahir agar memudahkan bayi untuk keluar.


Anton paham lalu dia bersama dengan Bidan Ayu akan saling menolong saat nanti Mela mulai mulas.


Di ruangan depan tempat acara terdengar orang mulai berkurang, pertanda tamu undangan sudah mulai pulang.


Perawat Susi diminta bantuan untuk membuat air hangat untuk nanti memandikan bayi ketika lahir.


Semua saling membantu dan tampak senang karena setidaknya istri dokter Anton akan menjadi pasien pertama yang melahirkan di Puskemas ini.


Sekitar tiga puluh menit Mela mulai merasa mulas yang tidak terhingga sakitnya.


Dia mulai menjerit, dan Ibu Sinah memegangi tangannya.


Dokter Anton menunggu dari tempat jalan lahir, sedangkan Bidan Ayu meminta Mela untuk mulai mengejan sambil mengusap perutnya.


"Jangan sambil memejamkan mata yah Ibu, terus mengejan tapi tidak boleh terpejam," kata Bidan Ayu mengingatkan Mela.


Miranti juga berdiri tak jauh dari ruangan IGD, dia ingin melihat proses melahirkan tapi ternyata tempat Mela terbaring ditutupi tirai.


"Mi, ayo mengejan lagi, aku menunggu di sini," Kata Anton memberi semangat kepada istrinya.


Mela terus menarik nafas lalu mengejan, menarik nafas lagi lalu mengejan lagi.


Anton merasa kasihan kepada Mela, tapi mau tak mau hal ini harus mereka lalui. Dan bagi Anton suatu keuntungan dokter umum seperti dia bisa melihat dan melakukan proses istrinya melahirkan anak mereka.


"Bu, coba lihat kepalanya sudah mau muncul tapi seperti tertahan sesuatu," kata Anton memberitahu Bidan Ayu.


"Maaf dok, sepertinya harus Episiostomi".


Anton paham lalu minta perawat memberikan gunting khusus yang sudah disterilisasi untuk membuat sayatan kepada jalan lahir istrinya.


Setelah membaca Bismillah, lalu dia memotong bagian itu sekitar empat sentimeter sesuai anjuran dokter Dhani.


Dan benar saja setelah itu Mela mengejan lagi dua kali dan lahirlah bayi mereka seorang lelaki mungil.


Anton begitu bahagia saat menangkap anaknya yang baru lahir dari mulut rahim istrinya.


Lalu dia dekap bayi penuh darah itu lalu meletakkannya di perut Mela.


Dan bayi kecil itu mengesot di atas perut Mela mencari ibunya.


Mela menangis saat bayi itu sampai di atas dadanya, sementara Anton menjahit bekas sayatan yang dia buat tadi.


Bidan Ayu segera menangkap bayi yang ada di dada Mela dan segera membersihkannya.


Setelah bersih lalu bayi yang dibungkus selimut itu diserahkan lagi kepada Anton dan dibisikan Adzan dan Al Fatihah.


Lalu bayi mereka diberikan kepada Mela, dan ditidurkan disampingnya.


"Terima kasih sayang, kamu istri yang luar biasa, ibu yang hebat sekali," kata Anton sambil mengelus kepala istrinya dan mencium keningnya lagi.


Ibu Sinah luar biasa senang karena akhirnya mendapat cucu baru lagi dan seorang bayi lelaki.


Anton segera mengabari keluarga di Bandung, tentu saja Ibu Aryani dan Pak Salim bahagia sekali.


"Nak Anton, siapa nama cucu ibu ini?"tanya Ibu Sinah.


Lalu Anton menatap Mela dan juga bayi kecil mereka.


Mela tampak menyerahkan


kepada Anton soal nama anak mereka.


Sambil senyum Anton berkata ," Namanya Gibran Satria Wiharja, yang artinya Satria yang pandai dan berbudi luhur".


Mela mengerjapkan matanya tanda setuju dengan suaminya.


Lalu Anton menghubungi rumah dan menelepon Eti, minta disediakan beberapa pakaian untuk dirinya, keperluan mandi Anton dan juga koper Mela yang sedianya sudah ada untuk dibawa kalau dia melahirkan.


Mela dan bayi sudah dipindahkan ke lantai dua ruang rawat inap.


Jacob ikut masuk ke ruangan itu saat Ibu Nova dan keluarga ingin melihat bayi yang baru lahir.


Dia terkesima saat melihat bayi kecil mungil tertidur disamping Mela.


Lalu dia berbisik kepada anak Anton dan Mela itu,


"Hai little brother".


Bayi kecil menggeliat saat dipanggil oleh kakak sepupu jauhnya itu.


Malam itu Anton tidur di Puskemas menemani istrinya dalam proses pemulihan.


Sambil dia juga menanti dokter Dhani yang akan memeriksa Mela, juga dokter Farhan Spesialis anak yang juga akan memeriksa anak mereka.


Sambil berbaring di tempat tidur rawat inap yang berdampingan dengan istrinya, dia terus melihat anaknya yang tidur dalam box khusus bayi yang diletakkan diantara tempat tidur mereka.


Mela terlihat tertidur karena kelelahan, sementara Anton tidak bisa tidur sama sekali.


Matanya tak sanggup untuk terpejam, dia terus menatap takjub bayinya dan juga sesekali mengelus kepala istrinya.


Ibu Sinah menginap di rumah Wiwit dan Surya, keduanya setelah tahu Mela melahirkan ikut bahagia sekali.


Dan rencananya besok akan menjenguk sambil membawa anak mereka yang sudah mulai bisa jalan.


Sementara Jaya dan Miranti juga sedang berbahagia, sudah hampir seminggu lebih Miranti selalu menggigil kedinginan dan mual-mual.


Lidahnya kebas seperti tak bisa merasakan rasa apapun, dan tadi siang Bidan Ayu menjelaskan kalau Miranti mungkin hamil.


Nanti di rumah diminta agar Miranti memeriksa sendiri dengan test pack dan kalau benar positif nanti diminta harus segera menemui Bidan Ayu.


Dan benar saat subuh Miranti bangun lalu memeriksa air seninya dengan test pack, terlihat dua garis merah yang tebal dan jelas.


Artinya Miranti juga sedang dalam kondisi hamil, dan tentunya Jaya sangat bahagia sekali.


Keesokan harinya rombongan Bandung tiba di Puskemas, dan tentu saja Ibu Aryani begitu semangat ingin segera memeluk cucunya.


"Astaga, besar sekali anak ini. Berapa beratnya Anton?"tanya Ibu Aryani saat melihat cucunya yang sedang tidur.


"Tiga koma empat kilogram, panjangnya lima puluh dua sentimeter, lahir jam empat sore," jawab dengan detail.


"Nanti Mela dan bayi dibawa dulu ke kampung yah, setelah empat puluh hari baru kamu bawa pulang yah nak Anton," ujar Ibu Sinah mulai cari perkara dengan besannya.


"Tak usah ke kampung dong, kalau mau main bawa sih ke Bandung saja. Nanti biar saya yang urus bayi dan juga Mela," sanggah Ibu Aryani.


"Ibu Aryani, maaf yah adat masih berlaku kalau anak perempuan melahirkan maka harus dirawat dulu oleh ibu kandung selama empat puluh hari lamanya," Ibu Sinah terlihat mulai ngotot.


"Ya tak bisa, asal Ibu tahu kalau Pak Salim masih memegang adat juga. Kalau menantu melahirkan maka tugas mertua yang merawat dan menjaga menantu dan juga cucunya," sama Ibu Aryani juga ikut ngotot.


Saat sedang adu mulut datang dokter Dhani memeriksa Mela dan mengatakan baik-baik saja lalu mempersilahkan Mela dan bayi dibawa pulang.


Begitu juga dokter Farhan memeriksa bayi kecil dan ternyata sehat lalu sama seperti dokter Dhani sudah memperbolehkan mereka pulang.


"Ini bayi bapaknya dokter, kita mah dipanggil cuma buat prosedur saja. Sudah saya mau pulang saja, hari minggu mau tamasya," kata dokter Dhani Ramlan sambil pamit pulang.


Anton tertawa mendengar itu sambil mengucap terima kasih kepada kedua teman sejawatnya itu.


"Mamah, Ibu, sekarang Mela dan bayi akan saya bawa pulang. Pulang ke rumah yang kami tinggali, tidak ke kampung apalagi ke Bandung".

__ADS_1


"Ibu tidur di kamar biasa yang dulu ditempati Apri, lalu Mamah dan Papah di kamar sampingnya. Tapi awas kalau terus ribut soal urus bayi, nanti saya yang akan antar pulang satu per satu," ucap Anton dengan tegas kepada Ibu dan juga mertuanya.


Keduanya bungkam sambil saling cemberut.


__ADS_2