
Dokter Haikal belakangan ini jauh berbeda dari biasanya, tutur katanya kepada pasien juga sikapnya kepada sesama teman di puskemas berbeda sekali.
Dulu dia tidak ramah kepada siapapun, bahkan bicara juga terkesan ketus. Sekarang ini dia jauh lebih santun dan lebih bijaksana dalam bertutur.
Belakangan ini dia mulai bergabung dengan Anton dan Jaya, terlihat siang ini mereka sedang makan siang bersama di satu warung nasi pilihan Jaya.
Lokasi rumah makannya jauh dari puskesmas, harus menempuh waktu sekitar setengah jam untuk ke lokasi itu.
Rumah makan yang dituju ternyata tempatnya sederhana, namun bersih karena lokasinya berada di pemukiman penduduk.
Sebenarnya tempat mereka makan itu sedianya untuk garasi mobil pemilik rumah tapi kemudian disulap menjadi warung nasi dengan nuansa kekinian.
Makanan yang disajikan agak berbeda dari biasanya, di warung nasi ini lebih menyajikan makanan khas menado seperti Ayam Rica-Rica, ayam woku, ikan sambal dabu-dabu, sup ikan kuah asam dan sebagainya.
Masing masing memesan makanan sesuai seleranya, selain enak dan segar makanan di sana, apalagi kalau bukan ada yang lain yang tampilannya juga menyegarkan.
Pemiliknya memang suami istri asal Manado, mereka punya anak gadis yang cantik dan bertubuh indah yang sering membantu melayani pembeli.
"Sinting Jaya, tahu saja kalau ada yang bening. Tempat sejauh ini juga bisa saja dapat infonya....luar biasa,"Anton tak habis pikir kalau sahabatnya selalu up to date untuk info perempuan cantik di mana saja.
Seharusnya dia menjadi mata-mata seperti CIA di Amerika tapi khusus untuk mencari wanita cantik.
Dokter Haikal mulai merasa senang ternyata kalau berteman dengan Anton dan Jaya, tidak ada kekakuan, mereka ceplas ceplos saja apa adanya.
Dia jadi paham kalau Jaya ternyata gudang info wanita cantik, siapa tahu dia juga bisa mendapatkan salah satunya atas rekomendasi Jaya.
"Kalau yang ini enak diajak ngobrol bro, aku punya nomor kontaknya tapi hati-hati yah... selain bapaknya galak, dia juga tidak mungkin kita nikahi. Beda keyakinan bro," Jaya menerangkan kondisi si cantik ini.
"Kok bisa dapat kontaknya bagaimana caranya?"Haikal tampak bingung tidak mengerti caranya.
"Bro...jangan disebut Jaya dong kalau cuma nomor kontak saja sih, bahkan nomor ukuran lainnya juga aku tahu ... hahahahha," Jaya menyombongkan keahliannya.
"Sudah jangan kamu dengar, dia buaya darat, nanti kamu terbawa-bawa rusak sama dia bahaya,"Anton mencoba menasehati Haikal agar jangan sampai terbawa Jaya.
Masalahnya Jaya ilmu rayunya tingkat dewa, kalau yang belum paham jangan sok-sok an merayu wanita yang ada pasti mendapat malu karena pasti ditolak mentah-mentah oleh wanita.
Sambil menikmati makan siang yang enak dan menikmati indahnya pemandangan yang sedang melayani pembeli, tibalah obrolan menjadi masalah rumah dan tanah.
"Jadi begitu bro, rencananya nanti setelah aku dan Mela menikah untuk sementara bolak balik dulu Cirebon Bandung karena kakakku masih butuh bantuannya".
"Tapi aku juga harus segera mencari rumah sewa atau kontrakan untuk sementara, sambil mencari tanah untuk membangun rumah dan apotik seperti di kediaman keluargaku di Bandung," Anton menceritakan rencananya kepada Jaya dan Haikal.
"Hmm...maaf aku panggil kalian abang saja yah biar lebih santai, oke kan," Haikal tiba- tiba berkata demikian dan dua orang yang duduk di depannya setuju-setuju saja.
"Begini bang Anton, yang abang sedang cari barusan aku punya keduanya. Siapa tahu abang berkenan kapan-kapan aku antar untuk melihat lokasinya, siapa tahu bisa cocok,"Haikal menawarkan kepada Anton kalau dia punya info tanah dan rumah yang akan dijual atau di sewa.
"Kok bisa kamu punya info seperti itu bro?"tanya Jaya sambil menyeruput jus jeruknya.
"Beda koleksi bang, kalau abang ahli koleksi yang cantik, sementara aku ahli koleksi tanah dan rumah,"jawab Haikal dengan cerdas, dan sontak membuat Anton tertawa mendengarnya.
Gabungan POLDA Batam dan Bea Cukai Batam menggeledah Pelabuhan umum dan bongkar muat peti kemas.
Salah satu yang mereka incar adalah peti kemas kiriman dari Eropa atas pesanan SriFan Butik.
Hal ini tercium oleh media, beberapa teman wartawan mulai mencari informasi terkait karena tiba-tiba datang sekelompok anggota POLRI dan juga petugas Bea Cukai.
Ditambah lagi kecurigaan teman media melihat ada seseorang yang diamankan di kantor petugas pelabuhan.
Sekarang ada tiga orang berjaga di depan salah satu peti kemas tersebut, mereka diam-diam mempersiapkan pisau yang diselipkan di sepatu bootnya masing-masing.
Mereka adalah sopir truck dan dua orang pegawai lain yang juga merupakan antek-antek sindikat penyelundupan minuman keras impor ilegal.
"Coba buka pintu peti kemasnya," kata salah satu anggota Polisi kepada ketiga orang yang berjaga di peti kemas tersebut.
"Maaf pak, apakah bapak ada surat tugas untuk memeriksa peti kemas kami?"tanya sopir truck dengan gaya menantang.
"Kami dari Bea Cukai berhak memeriksa isi peti kemas yang masuk ke wilayah perairan Indonesia,"sahut salah satu petugas Bea Cukai yang berdiri berdampingan dengan Polisi tersebut.
"Baik, tapi mengapa harus membawa polisi segala, kami kan tidak bersalah apa-apa,"sopir truck kembali ngotot merasa tidak suka dengan kehadiran polisi.
"Kami dari Kepolisian mempunyai hak dan kewajiban untuk mendampingi petugas Bea Cukai, memangnya anda membawa apa kok terlihat keberatan seperti itu?"tanya Polisi kembali masih mencoba berbicara baik-baik.
"Tapi kami tidak membawa apapun yang melanggar hukum, sehingga kami
merasa keberatan apabila Kepolisian, turut memeriksa seakan-akan kami membawa barang ilegal "salah satu teman sopir itu mulai ikut bicara menolak kehadiran Polisi.
"Betul pak, anda membuat seakan-akan kami ini penjahat yang sedang membawa barang ilegal, kami tidak terima diperlakukan seperti ini,"yang satu lagi juga mulai ikut buka suara.
"Baik, tapi kalau memang tidak ada barang ilegal tidak masalah dong kami dari Kepolisian ikut melihat-lihat. Katanya tas wanita mahal, siapa tahu kami membeli untuk istri di rumah," Bapak Polisi masih terlihat tenang dan santai mencoba berbicara dengan ketiga orang itu.
Ketiganya saling bertatapan, lalu salah satu dari mereka membuka pintu peti kemas dan mengeluarkan satu dus yang diberi tanda untuk mengelabui petugas Bea Cukai seperti biasanya.
"Ini pak silahkan lihat sendiri, isinya hanya tas wanita saja," kata salah satu orang penjaga peti kemas itu sambil menyobek dus besar dan mengeluarkan isinya.
Lalu Polisi memeriksa tas tersebut dan berkata,"Saya dan tim akan memeriksa dus besar lainnya, karena kami mendapat laporan kalau di dalam peti kemas ini ada sesuatu barang yang melanggar hukum".
"Pak Polisi, tas wanita ini apanya yang melanggar hukum, bukankah bapak sendiri sudah melihat yang kami akan bawa ini hanya tas wanita saja," sopir truck kembali ngotot tidak mau dus-dus lainnya dibuka dan diperiksa oleh Polisi.
"Tapi sikap anda sangat mencurigakan kami, tolong anda bertiga beri kami jalan untuk memeriksa dus lainnya. Jangan sampai kami bertindak dengan kekerasan",Polisi mulai geram dengan alasan-alasan yang disampaikan oleh ketiga orang tadi.
Mereka bersikeras menghalangi upaya polisi membuka dan membongkar dus-dus lainnya sampai akhirnya tim kepolisian turun hingga akhirnya salah satu Polisi menodongkan senjata kepada ketiganya.
Sambil anggota Polisi lainnya mulai menurunkan dus-dus di dalam sana dan membongkarnya.
Satu dus bagian terdalam diturunkan dan dibuka paksa, plastik pembungkus tas wanita di buka plastiknya dan ketika kancing tas di buka tampak terlihat ada 5 botol minuman keras impor ilegal di dalamnya.
Bukan hanya satu tas saja atau satu dus itu saja, semua dus dan tas dibongkar, ternyata isinya sama semua.
__ADS_1
Ketiganya diam tak bisa bicara lagi saat Kepolisian beserta petugas Bea Cukai menggeledah dan membongkar isi peti kemas tersebut.
Sang sopir diam-diam mengeluarkan pisau yang diselipkan pada sepatu bootnya .
Lalu seketika dia menggores tangan polisi yang menodongkan senjatanya ke arah mereka tersebut.
Dan dia mendorong Polisi itu hingga jatuh, lalu ketiganya melarikan diri.
Anggota Polisi segera mengejar dan menembakkan timah panas ke udara, tapi ketiganya terus berlari.
Akhirnya Polisi membidiknya lalu menembakan timah panas itu ke kaki salah satu kawanan penjahat itu sehingga jatuh terjungkal.
Yang satu melihat kawannya jatuh langsung jongkok sambil mengangkat tangannya tanda menyerah.
Satu lagi masih berlari, dan ketika berhadapan dengan satu Polisi yang menghadang di depannya, dia mengeluarkan pisaunya mencoba melawan anggota Polisi tersebut.
Disabetkannya pisau ditangannya ke arah wajah Polisi, namun Polisi bisa berkelit menghindar.
Lalu dicobanya lagi pisau itu diarahkan ke perutnya Polisi untuk dihujamkan, dan Polisi segera menepis pisau itu hingga jatuh ke tanah.
Dia tak tinggal diam, Polisi itu dilawan dengan cara berusaha melayangkan tendangannya ke arah dada Polisi.
BRUK.....Polisi terjatuh tersungkur, merasa Polisi akan kalah kemudian dia menyerang lagi melayangkan tinjunya ke arah Polisi.
Pak Polisi menghindar hingga kepalan tinju itu mengenai tanah, seketika Polisi meninju wajah orang itu hingga darah segar keluar dari hidungnya.
Lalu Polisi bangkit dan sekali lagi memukul pipi orang itu dengan sangat keras hingga terjungkal ke belakang.
Kerah kausnya di tarik dan badannya segera dibalikkan dengan kasar lalu kedua tangan orang itu ditariknya dan segera dibelenggu borgol mengunci kedua tangannya.
Polisi tadi menyeret orang itu kembali dibawa ke hadapan peti kemas tadi dimana anggota lainnya berkumpul membongkar isi peti sampai semuanya terbuka.
Dari hasil pembongkaran itu akhirnya dihitung ada sekitar sepuluh ribu botol minuman keras di dalam peti kemas tersebut.
Kang Japar alias Kang Jap Fan begitu geram dia meremas gelas minuman yang ada ditangannya hingga pecah, sampai pecahan kacanya melukai tangannya.
Darah menetes dari tangan kirinya itu, sepanjang dia berjalan terus menetes ke seluruh ruangan kediamannya itu sambil tak peduli terus saja berjalan memasuki ruangan pribadinya.
Dengan geram dan penuh amarah dia menelepon seseorang, "Cari dan habisi anak jah*n*m itu, dia sudah merusak semua usahaku. Bunuh dia secepatnya atau kau yang aku habisi".
Mela sedang mencoba salah satu gaun gamis pengantin di suatu salon rias pengantin yang dulu pernah dipakai mendandani Anita saat dulu menikah beberapa tahun yang lalu.
Letaknya tidak terlalu jauh dari rumah kediaman Wiharja, jadi dia barusan diantar adiknya naik motor ke lokasi tersebut.
Mela ditinggal oleh Wahyu karena pasti akan lama, nanti kalau sudah selesai tinggal menghubungi adiknya untuk dijemput kembali.
Dari beberapa pilihan warna dan ukuran yang sesuai dengan tubuh mungilnya, akhirnya terpilih warna putih tulang atau sering disebut warna broken white.
Dirinya mematut-matut berputar-putar di depan cermin besar yang ada rumah tempat merias pengantin tersebut.
Tadinya dia ingin bersama ibunya ke tempat itu, tapi tadi ibunya mengatakan terserah Mela saja nanti ibunya malah lelah berlama-lama di salon kecantikan itu pasti bosan.
Karena kulit Mela sudah sangat halus, licin dan kuning merata maka tidak perlu lagi harus di cuci facial atau di beri masker kecantikan. Hanya bagian alis dan rambut diperbaiki agar nanti pas malam pengantin rambutnya akan indah tatapannya.
Rambut Mela hitam, keriting gelombang seperti ombak. Setiap helainya tebal dan melingkar- lingkar. Kalau saja dia tidak berhijab pasti banyak yang menyangka dia gadis dari Indonesia Timur, apalagi dulu kulit wajahnya kecoklatan.
Untung sekarang sudah berubah ke warna aslinya, kuning langsat sehingga menambah manis penampilannya.
Sudah hampir dua jam dia di salon kecantikan itu, gaun pengantin dan aksesoris sudah siap, rambut sudah dirapihkan begitu juga alis matanya.
Sekarang dia sedang duduk di ruang tunggu tempat itu untuk menanti fotografer, untuk membicarakan teknisnya nanti bagaimana saat hari H pernikahannya.
"Yang mana orangnya?"terdengar suara seorang pria bertanya kepada kawannya. Lalu kawannya menunjukkan ke arah Mela yang sedang duduk sambil melihat- lihat album berisi beberapa contoh foto pernikahan orang-orang lain.
Fotografer itu tertegun melihat gadis yang sedang duduk membuka-buka album foto, dia benar-benar tak menyangka setelah sekian tahun bisa melihat gadis itu lagi.
"Mela....???"dia mencoba memanggil nama gadis itu.
Dan Mela mendongak mencari tahu siapa yang memanggilnya.
"Edwin...???" Mela juga terhenyak ketika melihat sosok lelaki yang sedang berdiri menatap dirinya.
"Mela ...benar kamu Mela kan?"tanya Edwin nama fotografer itu seakan tak percaya.
"Hai Edwin, ini benar aku,apa kabarmu?" tanya Mela dengan senyum manisnya yang merekah.
"Walah....Mela...mimpi apa aku bisa ketemu kamu disini...hampir sepuluh tahun kita tak bertemu yah...luar biasa...kamu tambah cantik saja," Edwin begitu terpana melihat mantan kekasihnya saat SMA dulu.
Waktu itu Mela masih kelas satu SMA, dia anak baru yang tergolong anak pintar di sekolahnya.
Edwin adalah kakak kelas tiga, mereka berkenalan saat masa orientasi siswa kelas satu masuk ke sekolah itu.
Saat itu Edwin tertarik kepada Mela, dan dia berusaha mendekati dirinya dan waktu itu berhasil.
Mela membalas perasaan Edwin, kalau hendak berangkat sekolah pasti Edwin menanti dirinya di jembatan dekat sekolah lalu berjalan berdua menuju sekolah mereka.
Saat pulang sekolah pun sama mereka berpisah di jembatan itu tadi.
Setiap hari saat jam istirahat sekolah mereka bertemu di kantin atau di perpustakaan sekolah.
Hari Sabtu dan minggu sekali diisi dengan kegiatan pramuka, pengajian atau apa saja yang sekiranya bisa mempertemukan mereka.
Selama satu tahun lamanya mereka hampir setiap hari bertemu seakan tak akan terpisahkan.
Sampailah di hari kelulusan Edwin, dan dia diterima di suatu Perguruan Tinggi Negeri di kota Surabaya.
Mela dan Edwin pada hari itu bertemu terakhir kalinya untuk berpisah. Tak ada janji terucap dari bibir Edwin kalau dia suatu hari akan kembali untuk Mela.
__ADS_1
Saat itu Mela hanya diam sambil menitikkan air mata menanti ada ucap dari bibir lelaki yang ada dihadapannya kalau suatu saat akan kembali untuk dirinya.
Lelaki yang bernama Edwin itu hanya memegang kedua tangan Mela saat itu, lalu memberikan peniti penjepit kerudung berbentuk bunga berwarna merah muda.
Sampai hari ini bahkan saat ini penjepit itu masih dipakainya.
"Edwin...apa kabarmu, ternyata kamu fotografer untuk pernikahanku nanti?"tanya Mela dengan merasa terkejut sekali bisa bertemu dengan pria yang pernah mengisi hatinya.
"Astaga Mela...aku mimpi apa bisa ketemu kamu...Masyaallah Kamu akan segera menikah juga yah," kata Edwin dengan wajah yang tampak sedih.
Edwin duduk dihadapan Mela, sedari tadi tatapannya tak bisa lepas dari wajah Mela.
"Edwin...halo...aku di sini...bagaimana soal teknis foto pernikahan kami nanti?" Mela melambaikan tangannya di depan muka Edwin.
"Oh..ya...ya...maafkan aku... jadi kapan tanggal dan hari pernikahanmu ?"tanya Edwin namun entah mengapa hatinya berasa pecah saat itu.
Bertemu lagi dengan gadis yang bertahun- tahun lalu pernah mengisi hatinya, lama sekali tak pernah bertemu dan sekalinya bertemu di dalam kondisi gadis itu akan menikah dengan lelaki lain.
"Hari jumat minggu ini, beberapa hari lagi. Kami tidak menggelar resepsi, hanya akad nikah sederhana saja," Mela mencoba profesional kepada Edwin walau sebenarnya hatinya juga sama retaknya.
Edwin terlihat salah tingkah dan tidak konsentrasi saat berhadapan dengan Mela sekarang.
Lalu dia memejamkan matanya sambil menghela nafas berusaha menahan diri dan berusaha konsentrasi saat berbicara dengan Mela.
"Ryana...Ryana...bisa tolong aku sebentar,"panggil Edwin kepada rekan bisnisnya.
Ryana adalah rekan bisnis Edwin yang nanti akan merias Mela di hari pernikahannya nanti. Mereka sebenarnya sudah bersama-sama sejak lima tahun ini merintis usaha rias pengantin dan fotografer pernikahan.
Ryana datang menghampiri Edwin sambil bertanya,"Ada apa Win?".
"Ryana tolong aku sebentar, tiba-tiba flu menyerang aku mau ke belakang dulu. Tolong tangani dulu mba Mela ini yah,"pintanya sambil segera berlalu ke ruangan belakang rumah itu.
Mela menjadi bingung, dan Ryana segera cekatan melayani Mela.
"Mbak Mela maaf mas Edwin mungkin tiba-tiba sakit, maaf yah sudah menunggu lama tapi tidak mendapat penjelasan dari mas Edwin," Ryana mencoba membuat nasabahnya nyaman.
"Hmmm...tak masalah, tapi saya juga tidak bisa terlalu lama juga di sini karena masih banyak urusan pekerjaan. Jadi intinya kami minta pihak fotografer membawa beberapa layar sebagai latar belakang foto".
"Undangan kami hanya keluarga dan kerabat saja, tidak mengundang orang banyak. Jadi kami minta beberapa layar yang bagus. Begitu saja," Mela menerangkan keinginannya.
Ryana lalu menyepakati menyampaikan kepada Edwin kemauan Mela, dan mereka akan tiba di kediaman Wiharja tepat waktu.
Tanpa setahu Mela dan Ryana, saat itu Edwin sedang menangis merasa dirinya begitu bodoh meninggalkan Mela dan selama bertahun-tahun tak pernah menghubungi dirinya.
Miranti mondar mandir di ruangan kerjanya, dia memegang ponselnya seperti ingin menghubungi seseorang.
Tapi hatinya sangat galau, karena dia ingin menghubungi Jaya Permana.
Biasanya dia tak pernah pikir panjang kalau ingin menelepon pria-pria yang bisa dia goda.
Tapi saat ini dia merasa resah dan malu kalau harus mendahului menghubungi seorang Jaya.
Sudah tiga hari lamanya sejak terakhir mereka jalan bersama namun sampai hari ini Jaya tak pernah menghubungi dirinya sama sekali.
Setiap hari dia membaca status chat, berharap saja Jaya membuat status jadi bisa dia jadikan alasan untuk komentar tapi tak pernah muncul.
Lalu dia kemarin sengaja membuat status chat, dengan harapan Jaya akan mengomentari dirinya. Tapi ternyata hening, padahal dia periksa sih Jaya telah membaca status dirinya.
Kalau menghubungi duluan takut disangka hanya ingin menggoda Jaya, karena merasa diri dulu dia wanita penggoda.
Kalau tidak menghubungi, ada rasa kangen juga sama Jaya. Miranti sungguh merasa bimbang dan resah, antara malu tapi juga rindu.
Jarum sekali ini dia benar-benar galau, tak pernah dia sebelumnya menahan rasa seperti saat ini.
Di kota lain ada tiga lelaki yang sedang duduk mengobrol di ruang tunggu pasien sebuah puskemas.
Hari sudah menjelang sore dan kondisi puskemas sudah sepi.
Dua orang diantara para lelaki itu sedang mendengar ocehan satu orang temannya yang sedang menggebu- gebu membahas wanita yang bernama Miranti Chandra.
"Aku sungguh akan menerima dia kalau misal Miranti mau denganku. Tak peduli cerita dia yang katanya sudah tidak perawan lagi, aku juga dulu b*jing*n dan sudah pernah tahu rasanya perawan".
"Asalkan dia dan aku mau sama-sama komitmen setelah kami bersama tidak akan berpaling lagi kepada yang lain. Aku pasti akan menikahinya bro, kasihan juga dia sebenarnya hidupnya hampa," Jaya sedang berkoar-koar dihadapan dua teman dokternya.
"Katamu sudah beberapa hari tak saling menghubungi, darimana kamu tahu dia suka padamu?"tanya Anton sambil pasang wajah mengejek.
"Itu politik Jaya dong, aku sengaja tidak menghubunginya. Dan aku tahu dia ada sedikit hati padaku, kemarin dia memasang status chat, foto cafe yang waktu itu kami kunjungi".
"Dan dia membuat judul status chat nya yaitu "Pernah di sini bersamanya"...kan itu artinya memancing komentar aku dong...," Jaya memasang wajah sok gantengnya di hadapan kedua temannya.
"Wah abang memang jago sekali politik wanita...nah sekarang abang yang harus memancing dia untuk menghubungimu,"Haikal juga ikut mengomentari Jaya.
"Nah itu yang aku pikirkan dari tadi, mau pasang status apa yang tidak tampak ingin tapi sebetulnya ingin....hahahaha," Jaya ternyata bingung tidak tahu harus memancing Miranti dengan cara bagaimana.
"Basi Jaya...masa raja buaya tak bisa memancing mangsa kelinci keluar dari liangnya...memalukan sekali.... hahahaha,"Anton mentertawakan Jaya yang terlihat sedang bingung soal status chat.
"Gini saja bang....tidak usah foto, tidak usah kata yang panjang...Cukup pasang tanda tanya saja.....lalukita tunggu reaksinya,"Haikal memberi ide kepada Jaya.
"Maksudmu tanda "?" Seperti itu saja?" tanya Jaya merasa aneh.
Haikal mengiyakan dan Jaya mencoba membuat status iyu
1.....2....3....4....5....dan ting....
Ada pesan chat masuk ke ponsel Jaya, dari Miranti Chandra.
"Lucu deh kamu kok bikin tanda tanya...apa maksudnya?"isi chat Miranti kepada Jaya.
__ADS_1
Dan Jaya langsung naik ke atas bangku sambil berteriak,"YES....YES...YES....".