Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keenam Puluh Tujuh


__ADS_3

Suami istri mandiri tinggal berdua dalam satu rumah membuat sedikit kerepotan.


Apalagi pasangan yang menikah sudah beberapa bulan tapi selama ini enak segalanya fasilitas mertua, dan sekarang tiba-tiba harus berdua saja.


Mereka malam sebelumnya sempat berbelanja sedikit untuk keperluan sarapan pagi.


Tapi mereka belum punya beras, belum punya dispenser untuk menyimpan air minum dan bahkan galon air minumnya juga belum ada.


Sungguh ribet sekali ternyata, semua harus mendadak dibeli padahal mengingat sesuatu harus dibeli itu tidak semudah memutar telapak tangan.


Hal-hal kecil banyak sekali yang harus dipersiapkan, terkadang tidak langsung kepikiran.


"Pi, nanti ke puskemas naik mobil saja yah, motornya mau aku pakai buat belanja segala. Nanti aku juga harus ke pasar,"kata Mela kepada suaminya.


"Hmm...bawa mobil itu sesak di halaman puskesmasnya, bagaimana yah enaknya,"Anton sejenak berpikir.


"Aku kan tidak bisa menyetir mobil Pi, bagaimana caranya coba. Selama ini kan aku pakai motor kalau jaraknya dekat sih,"sahut Mela.


"Ya sudah aku pakai mobil saja, tapi Mi hati-hati yah, soalnya pasarnya cukup jauh loh hampir dua kilometer dari perumahan sini ".


"Siap Komandan, pasti hati-hati soalnya SIM aku sudah lama habis jadi tidak berani mengebut takut ditangkap Polisi,"sahut Mela sambil cekikikan.


"Astaga Mi...bahaya sekali kamu tidak punya SIM, sudah jangan pergi dulu kemana-mana bisa bahaya," Anton terlihat kesal sekali karena istrinya ternyata tidak punya lisensi mengemudi motor.


"Tapi aku musti belanja banyak Pi, beli beras, minyak goreng dan lainnya keperluan di dapur dan segalanya,"tukas Mela sambil menunjuk keadaan dapur yang masih kosong, hanya ada kompor gas tapi tabung gasnya belum ada.


Anton terdiam, dia tampak bingung karena sementara harus pergi ke puskemas untuk bekerja tapi urusan rumah belum beres.


Ada perasaan kasihan juga kalau Mela harus menyediakan segalanya sendirian.


"Sayur...Sayur...Bu Darwis Sayur...Bu Dadang Sayur....Bu Lukas Sayur....!!!"


terdengar suara teriakan tukang sayur keliling di jalan depan rumah mereka.


"Nah itu ada tukang sayur keliling Mi, coba beli sedikit-sedikit saja dulu. Nanti sabtu atau minggu aku antar berbelanja ke pasar atau ke supermarket,"kata Anton kepada Mela.


Mela mengangguk setuju, tapi dia ingat soal tabung gas," Kalau tabung gasnya bagaimana, aku tidak bisa memasak loh".


"Ya sudah, aku coba ke warung besar di depan perumahan siapa tahu ada. Mi belanja sayur saja di depan yah".


"Pi, di warung depan jalan kalau ada beras beli dulu yah, satu kilo saja dulu. Pamali kata orang tua kalau di rumah tidak ada beras sama sekali".


Anton mengangguk sambil menuju garasi rumah mengambil motornya untuk ke warung depan jalan.


Sementara Mela keluar pagar rumah menemui kerumunan ibu-ibu yang mengelilingi pedagang sayur.


"Pagi ibu-ibu, maaf ikut gabung yah," sapa Mela kepada semuanya.


"Oh iya, yang baru menempati rumah itu yah, duh ibu, itu rumah sudah lama kosong loh. Hati-hati siapa tahu saja ada apa-apanya,"Ibu Saidi mulai berceloteh, rumahnya di deretan ujung rumah Mela.


"Iya loh bu, kata orang suka ada penampakan," sambung Ibu Ismail padahal rumahnya cukup jauh di blok sebelah.


"Ah jangan di dengarkan bu Anton, kalau orang beragama tidak akan diganggu apapun," tukas ibu Dadang yang bersebelahan dengan Mela di sebelah kiri rumahnya.


"Iya betul bu Anton, orang saya pas dia seberang rumah itu juga tidak pernah melihat apapun. Sudah jangan didengarkan yah,"sama ibu Lukas yang rumahnya berseberangan dengan Mela juga memihaknya.


"Iya bu, tidak apa-apa saya sih sudah biasa melihat uka-uka atau penampakan...hehehe," sahut Mela dengan santainya.


"Eh bu Anton katanya suaminya dokter yah, bertugas di puskemas Jamblang yah,"ujar ibu Darwis yang rumahnya di sebelah kanan rumah Mela.


"Iya bu, cukup jauh dari sini. Tapi kebetulan kami mendapat sewa rumah di sini, milik temannya suami," jawab Mela kepadanya.


"Oh iya, rumahnya dokter Haikal, saya kenal dengan orang tuanya. Kasihan yah bu, dokter Haikal itu,"kata bu Darwis melanjutkan ceritanya.


"Yah begitulah, untung beliau orang yang tegar dan baik,"sahut Mela sambil memilih sayuran dan ikan segar.


"Jadi ini yang baru namanya Ibu Anton, saya mas Joko tukang sayur kesayangan ibu-ibu sini," kata pedagang sayuran memperkenalkan diri.


"Huh enak saja kesayangan, kalo kesayangan harus lebih murah lagi harganya," langsung ibu-ibu protes sambil mengomel.


"Iya harus yang segar, yang murah, kalau bisa gratis".


"Ya ampun ibu-ibu, saya menyerah saja," kata mas Joko sambil tertawa dan mengangkat kedua tangannya.


Yah resiko pedagang sayuran keliling harus kuat menghadapi omelan dan kicauan ibu-ibu perumahan.


"Oh itu yah suaminya yah, itu tuh pak Anton...dokter Anton katanya tuh," ibu-ibu berbisik-bisik tapi kedengaran saat melihat Anton kembali ke rumah membawa tabung gas, galon air dan sebagainya.


"Duh suaminya baik yah, kalau suami saya mana mau bawa-bawa begituan".


"Iya benar, suami saya apalagi pasti meminta orang lain bawa belanjaan seperti itu. Bersyukur yah suaminya baik".


Ibu-ibu memang penuh komentar kalau melihat apapun juga.


Mela hanya senyum-senyum saja, dia belum terbiasa dengan ibu-ibu perumahan yang penuh komentar dan celoteh.


Memang harus kuat hati dan telinga kalau mendengar ibu-ibu perumahan berkata-kata.


Mela tidak banyak berbelanja hanya sayuran, tahu tempe, ikan segar dan beberapa rempah untuk membumbui masakan.


Sesampainya di dapur dia melihat suaminya sedang memasang tabung gas, dan kompor sudah bisa dinyalakan.


Memang di rumah Haikal itu ada beberapa alat memasak seperti wajan, sutil wajan, panci, pisau dapur tapi tidak lengkap dan tidak sesuai selera Mela.


"Pi, lupa...tadi di mang sayur tidak ada sih, aku belum beli garam, kecap, merica seperti itulah...".


Anton sambil keringatan lalu berkata," Ya sudah bawa motor saja ke warung depan, tapi kesitu saja jangan ke tempat lain".


Lalu Anton ke kamar mandi, dan Mela segera naik motor ke warung membeli beberapa kebutuhan dapur yang belum tersedia.


Pagi itu Anton hanya sarapan roti dan susu, dan Mela juga belum sempat membuatkan bekal makan siang.


Padahal mereka sudah komitmen kalau setiap hari akan dibawakan bekal untuk makan siang oleh Mela.


Saat Mela kembali dari warung depan, ada saja ibu-ibu yang melihat dan langsung komentar.


"Bu Anton, kalau ada perlu sedikit-sedikit bisa ke warung Ibu Bagja itu di blok belakang, cukup komplit juga disana,"kata ibu Darwis memberitahu kepada Mela.


Mela berterima kasih sudah di beri informasi karena memang dia belum tahu apapun di perumahan tersebut.


Tak lama Anton sudah rapi dan siap berangkat bekerja, Mela memberi salam kepada suaminya sambil mengantarkan ke depan rumah.


Lalu Anton melaju membawa mobil meninggalkan rumah menuju tempat kerjanya.


Mela lalu membersihkan rumah seperti menyapu dan pel lantai, mencuci pakaian dan menjemur di halaman kecil dibelakang rumahnya.


Setelah itu memasak nasi dan memasak makanan, berjaga-jaga siapa tahu suaminya pulang makan siang.

__ADS_1


Jarak antara rumahnya dengan puskemas cukup jauh, apalagi kalau naik mobil bisa memakan waktu sekitar setengah jam.


Kalau naik motor mungkin lebih cepat sekitar lima belas menit saja karena tidak terlalu terhalang macet.


Setelah semua selesai pekerjaan rumah, lalu dia mulai mencatat semua keperluan lain yang harus dibeli.


Ternyata tidak mudah tinggal di rumah sendiri, banyak hal-hal kecil yang harus dibeli. Apalagi rumah sewaan, walau ada sebagian barang yang bisa digunakan tapi tidak semuanya sesuai keinginan Mela.


Ingin rasanya ke pasar naik motor, tapi karena suaminya tidak memberi ijin maka dia juga takut nanti ada apa-apa.


Maka siang itupun dia mencoba berkeliling perumahan untuk mengetahui ada apa saja disana.


Mela berkeliling dan akhirnya tahu ternyata ada warung kecil juga yang cukup komplit di blok belakang.


Lalu dia juga melihat ada rumah yang menjual masakan, dan juga penjual mie ayam.


Sebenarnya cukup lengkap tapi memang perumahannya tidak besar, di blok depan tipe rumahnya lebih besar-besar.


Sementara di blok belakang rumahnya lebih kecil ukurannya.


Lalu dia melintas ke sebuah rumah di ujung blok belakang, terlihat ada dua orang anak kecil sedang menangis.


Kedua anak itu menangis di halaman rumahnya tetapi terlihat pintu rumahnya terkunci. Rupanya mereka tidak bisa masuk ke dalam rumah tersebut.


Mela memperhatikan apakah di dalam rumah kedua anak itu ada orang atau tidak.


Tetangga sekeliling tampak tidak peduli melihat kedua anak itu menangis.


Lalu Mela menghentikan motornya di depan rumah itu.


"Nak...kalian terkunci di luar kah.. apakah mama nya tidak ada di rumah atau bagaimana?"tanya Mela karena merasa kasihan dengan kedua anak itu.


Tetangga sekitar yang melihat tampak seperti bagaimana ke arah mereka, ada yang melihat dengan kesal, ada pula yang melihat dengan sinis.


"Mbak...biarkan saja keduanya menangis, jangan dikasihani loh, nanti mbak yang disalahkan," seseorang berteriak kepada Mela.


"Iya mbak, Ibu anak-anak itu aneh, nanti mbak yang kerepotan loh".


Orang-orang sekitar melarang Mela menolong kedua anak itu.


"Tante, kami lapar belum makan dari pagi, Mamih nya engga ada, pergi dari pagi,"keduanya mengeluh kepada Mela.


Otomatis Mela merasa jatuh kasihan melihat kedua anak yang menangis dan kelaparan.


Tanpa menghiraukan lagi ucapan orang-orang sekitar dia lalu mengajak kedua anak itu naik ke motornya dan membawanya pulang.


"Wah...korban baru deh".


"Iya itu orang depan, baru pindah, pasti jadi korban lagi".


"Kasihan ibu itu, pasti nanti jadi ribut lagi dengan ibunya anak-anak itu".


Itulah ucapan yang keluar dari orang sekitar ketika melihat Mela pergi membawa kedua anak itu ke rumahnya.


Mela membawa kedua anak itu ke rumahnya, keduanya terlihat kelaparan sekali.


Tapi dia memasak ikan kuah pedas, tentu anak-anak tidak akan mau memakan ikan masakannya yang pedas.


Maka dia segera membuatkan telor dadar goreng dan juga nasi kecap untuk kedua anak itu.


Terlihat mereka sangat lahap makannya, sambil makan Mela bertanya kepada keduanya," Nama kalian siapa, dan kemana orang tua kalian?".


"Iya tante, Mamih sering mengunci kami di luar. Sering kami dikasih makan cuma malam nanti saat Mamih pulang," adiknya yang bernama Hera ikut menjawab.


"Kalau besok kalian terkunci lagi dan kalau merasa lapar, datang saja kemari. Nanti tante buatkan makanan lagi untuk kalian".


"Terima kasih tante, tapi nanti tante jangan kaget yah. Soalnya kalau Mamih tahu kami ada disini pasti tante juga dimarahi oleh Mamihku," kata Hiro menuturkan kepada Mela.


"Loh mengapa Mamih kalian harus marah?"tanya Mela merasa aneh kepada keduanya.


Tapi kedua anak itu menggelengkan kepalanya, mereka juga tidak tahu mengapa ibunya selalu marah saja setiap harinya.


Mela sangat merasa kasihan kepada kedua anak itu, lalu dia meminta keduanya mencuci tangan dan kakinya setelah makan.


Dan keduanya disuruh tidur siang di salah satu kamar di rumah itu.


"Assalamualaikum, Bu Anton....


Bu Anton....!!!"terdengar orang berteriak memanggil namanya di depan rumah.


Mela segera keluar menemui siapa yang memanggilnya.


"Walaikumsalam, oh...Bu Darwis, ada yang bisa saya bantu?"tanya Mela kepadanya.


"Bu Anton, Astagfirullah barusan membawa kedua anak itu kemari yah?"tanya Bu Darwis dan terlihat wajahnya panik.


"Iya bu, memangnya mengapa... ayo masuk dulu," kata Mela sambil membawa masuk tetangganya itu.


Sesampainya di dalam Ibu Darwis menceritakan bahwa ibu kedua anak itu kemungkinan agak terganggu pikirannya.


Kedua anak itu sering ditelantarkan dan tidak diberi makan sampai malam hari. Dan kalau ada tetangga menolong bukannya berterima kasih tapi malah memarahi setiap yang menolongnya.


Mela sampai terkesima mendengar cerita ibu Darwis, dia sangat terkejut mendengar kisah anak-anak itu.


"Kemungkinan karena ibunya itu marah kepada suaminya, dulunya dia itu istri kedua. Biasa merebut suami orang lain".


"Sekarang suaminya menikah lagi dengan wanita muda. Ibu itu tidak terima dan anak-anaknya itu selalu dijadikan bahan siksaan," kata ibu Darwis membuat Mela semakin bergidik mendengar penuturannya.


"Semoga saja ibunya tidak mencak-mencak kepada bu Anton yah, sabar yah bu. Di perumahan sih selalu saja ada yang aneh-aneh".


"Ya bu Darwis saya ucapkan terima kasih informasinya. Semoga saja ibunya tidak marah karena melihat saya tampang memelas".


Lantas keduanya tertawa karena Mela bisa juga melucu.


Triana terlihat kesal sekali ketika melihat kedua anaknya tidak ada di halaman rumahnya.


Berarti ada tetangga yang sok baik kembali menolong anaknya.


Dengan langkah besar dia mulai mencari dimana keberadaan anak-anaknya.


Dia sengaja hari itu membiarkan kedua anaknya kelaparan karena suaminya belum juga mengirimkan uang kepadanya.


Dia memeriksa setiap rumah, dan sampai ke depan rumah yang Mela tempati.


Sore itu sambil menunggu suaminya pulang, Mela menyapu halaman rumahnya agar terlihat bersih dan rapih.


Seharian dia terus bergerak membereskan rumah agar sesuai dengan hatinya, lantas siang tadi juga sudah selesai menyetrika pakaian.

__ADS_1


Triana melihat ada dua pasang sepatu yang sangat dia kenali, siapa lagi kalau bukan milik kedua anaknya.


"Hei...kamu, pasti kamu yang sudah menyembunyikan anak-anak saya di rumah ini yah?"tanya Triana tiba-tiba dan tentu saja Mela merasa terkejut.


"Oh, iya bu, tapi maaf bukan saya menyembunyikan tetapi mereka tadi siang kelaparan dan kelelahan. Sekarang keduanya sedang tidur siang," sahut Mela dengan ringan saja karena dirinya merasa tidak salah menolong anak-anak itu.


"Sekarang dimana anak-anak itu, cepat suruh mereka keluar!"teriak Triana sambil berkacak pinggang.


"Kasihan Bu, mereka sedang tidur siang. Tadi mereka sangat kelelahan sekali,"Mela berusaha membela kedua anak itu.


"IBUNYA ITU AKU ATAU KAMU!!!" Triana membentak Mela dengan suara keras.


Mela juga merasa kesal dibentak seperti itu, lalu dengan nada tinggi juga dia berkata," Dengar yah Bu, memang anda ibunya tapi masa anda tidak punya perasaan kepada anak sendiri".


Mela tidak takut menghadapi Triana yang mempunyai postur tubuh jauh lebih tinggi daripadanya.


Triana memang memiliki ukuran tubuh tinggi besar dibandingkan wanita lain pada umumnya.


Anton baru saja melewati portal perumahan, kebetulan hari ini pasiennya tidak terlalu banyak jadi dia bisa pulang tepat waktu.


Dia lalu melihat istrinya sedang berbicara dengan seorang ibu-ibu lain, dalam pikirannya istrinya sedang berbicara biasa dengan tetangga.


Maka Anton memarkirkan mobilnya di muka rumah, tidak dia masukan ke dalam garasi.


Pikirnya menghormati tetangga yang sedang berbincang dengan istrinya.


Ketika dia mematikan mesin mobil, mulai terdengar suara bernada aneh di luar sana. Seperti orang sedang meributkan sesuatu.


Anton keluar dari mobil, lalu dia segera didekati oleh Ibu Lukas tetangga seberang rumah.


"Pak Anton, cepat tolong istrinya, dia diserang orang stress," kata Ibu Lukas sambil meminta Anton segera menemui istrinya.


Memang terlihat istrinya seperti sedang dimarahi seseorang, tentu sebagai suaminya tidak akan terima melihat perlakuan seperti itu.


Anton bergegas mendekati istrinya dan juga ibu-ibu yang sedang marah-marah kepada Mela sambil membelakangi dirinya.


"Maaf bu, ada apa yah sampai marah-marah di rumah ini kepada istri saya ?"tanya Anton ketika tiba di halaman rumahnya.


Ibu itu langsung menoleh ke arah suara yang baru saja menegurnya, dan seketika matanya membelalak tak bisa berkata apa-apa lagi.


Begitu juga Anton, dia sangat terkejut melihat siapa wanita yang memarahi istrinya itu.


"Aaaanntttooonnn....,"kata Triana dengan perlahan dan terbata-bata.


Anton menghela nafas dan matanya menyipit lalu berkata ,"Kamu ada apa kemari, dan apa maksudnya marah-marah kepada istriku?".


"Dia istrimu?"tanya Triana dengan wajah penuh keterkejutan.


"Ya, ini istriku dan ini rumahku, lalu mengapa kamu kemari sambil marah-marah?".


"Aku hanya mau membawa anak-anakku pulang".


"Apa !!! Anak-anak...mana ada anak-anak di rumah ku?".


Lalu muncul kedua anak-anak Triana dari dalam rumah dan keduanya tampak ketakutan saat melihat Anton.


Begitu juga Anton sangat kaget melihat ada dua anak kecil keluar dari dalam rumah, dia memandang Mela yang sedang menunduk.


"Ini anak-anakmu...silahkan bawa pulang dan tak usah kemari lagi".


"Anton, maafkan aku, maafkan segala kesalahanku "kata Triana seraya seperti hendak memeluk Anton.


"Sudah...Aku lelah habis pulang kerja, silahkan kamu pulang bawa semua anak-anakmu".


Lalu Anton bergegas masuk ke dalam rumah diikuti oleh Mela.


Dan Triana memandang ke arah punggung Anton sambil matanya berkaca-kaca.


Sangat tidak disangka bisa bertemu lagi dengan Anton, selama ini dia merasa sangat bersalah karena telah berbuat dosa kepada mantan kekasihnya itu.


"Mi...sebenarnya ada apa sih, aku tidak habis pikir, baru satu hari kita disini sudah ada keributan,"Anton berkata sambil memandang Mela yang terlihat takut dirinya marah.


Lalu pelan-pelan Mela bercerita soal kejadian siang tadi, bahkan Ibu Darwis tetangga sebelah yang juga sudah memberitahukan dirinya mengenai ibu kedua anak tadi.


"Lalu mengapa harus repot-repot, Mi, sampai membawa anak-anak itu ke rumah ini?"tanya Anton dengan nada kesal.


"Pi, aku kasihan melihat mereka menangis kelaparan di depan rumahnya dan tak ada seorangpun yang menolong anak-anak itu," sahut Mela menjelaskan kepada suaminya.


Anton menghempaskan tubuhnya ke sofa di ruang tamu, dia bingung juga mau berkata apa.


Istrinya perempuan baik, pasti tidak akan tega kalau melihat orang lain menderita.


Sementara yang ditolongnya adalah anak-anak mantan kekasihnya yang sudah tega mengkhianati dirinya sampai dia menjadi seorang cacat.


Lalu dia menatap Mela yang masih tertunduk seakan takut suaminya murka.


"Mi, sudah lupakan yah. Hanya lain kali sudah tidak usah mengurusi anak orang itu lagi. Aku tidak suka istriku ribut-ribut dengan orang lain,"ujar Anton sambil bangkit berdiri menuju kamar tidurnya.


Malam harinya setelah mereka berdua makan malam dengan menyantap masakan Mela yang sangat enak di lidah Anton.


Tak lama keduanya pergi berbelanja ke sebuah supermarket ke arah kota.


Keduanya membeli cukup banyak belanjaan untuk keperluan rumah tangga sesuai dengan yang Mela catat siang tadi.


Mobil kecil mereka sekarang penuh dengan barang belanjaan, maklum banyak yang musti di sediakan karena di rumah belum ada barang yang sesuai dengan keinginan mereka.


Ada rasa ingin bertanya kepada suaminya, karena tadi Mela cukup merasa aneh kalau wanita tadi terlihat mengenal Anton.


Tapi dia pendam dulu sambil menunggu waktu yang tepat.


Setibanya di rumah, mobil segera masuk garasi lalu mereka mengeluarkan belanjaannya.


Anton kemudian mengunci pagar, garasi rumah dan memeriksa pintu ruang tamu.


Setelah yakin semua terkunci lalu dia segera membantu istrinya membereskan semua belanjaannya.


Dari ujung jalan terlihat seorang wanita menatap kediaman Anton sambil meneteskan air mata.


Ada rasa iri di hatinya melihat mantan kekasihnya begitu mesra kepada istrinya, andai dulu dia tidak berbuat bodoh mungkin saat ini dirinya yang diperlakukan seperti itu oleh Anton.


Setelah menatap lama akhirnya dia melangkah pulang karena kedua anaknya mencarinya.


Kadang dia sendiri tak habis pikir dengan dirinya sendiri, mengapa saat amarah kepada suaminya pasti dia menghukum kedua anaknya.


Padahal kedua anak kecil itu tidak bersalah dan tidak tahu apapun, ada rasa bersalah dan berdosa kepada kedua anaknya.


Tetapi rasa amarah dan kebencian kepada suaminya begitu tebal sekali sehingga sulit untuk mengendalikan dirinya.

__ADS_1


Hanya bisa berharap suatu saat ada jalan keluar dari segala masalah di antara dia dan suaminya.


__ADS_2