Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kedelapan Puluh Tiga


__ADS_3

Eti sedang menyapu halaman saat ada sebuah mobil putih besar bertuliskan Wiharja Farma berhenti di muka kediaman Anton dan Mela.


Pintu bagian sisi tengah mobil terbuka dan terlihat ada seorang Ibu tua tapi masih terlihat keren langsung menatap Eti dan memanggilnya.


"Mbak...sini kamu...tolong bawakan ini bungkusan ke dalam untuk Ibu Mela," kata Ibu Aryani sambil tangannya melambai memanggil Eti.


Eti segera membuka pagar dan mendekati mobil tersebut.


"Jangan bengong!!!, saya ini Ibu nya Anton, mertuanya Mela," ujar Ibu Aryani menghadirinya.


Lalu Eti segera menghampiri dan mengambil bungkusan plastik yang banyak dari dalam mobil.


Fajar juga membuka bagasi mobil dan menurunkan 2 buah koper besar milik mertuanya.


Pak Salim turun dari samping depan mobil, beliau memang tidak banyak bicara.


"Bu....eh Ibu....Bu Anton...itu ada mertua ibu datang...eh iya...galak yah...eh galak...,"kata Eti ketika masuk rumah sambil membawa banyak bungkusan plastik.


Mela saat itu sedang berbaring di sofa yang ada di ruang menonton televisi jadi tidak tahu ada yang datang.


Mela terhenyak lalu dia segera duduk dan perlahan bangkit dari sofa tadi, lalu berjalan ke depan rumah menemui mertuanya.


"Mela....!!!! Astagfirullah....!!!! Sudah diam saja di dalam, mengapa harus berjalan keluar segala. Kamu habis jatuh nanti malah ada apa-apa," Ibu Aryani malah terkejut saat melihat menantunya keluar rumah menyambutnya.


"Tak apa-apa kok, Mamah apa kabar...ayo silahkan masuk," sambut Mela dengan ramah.


Lalu Mela juga memberikan salam hormat kepada ayah mertua dan juga kakak iparnya.


"Sudah Mela, kamu lebih baik diam dulu jangan banyak bergerak atau berjalan. Mana tadi pembantumu?" ibu Aryani seperti biasa kalau ada apa-apa pasti langsung heboh.


"Iya...nyonya...iya...maaf tadi saya dari dapur dulu...eh...iya dari dapur," sahut Eti tergagap saat Ibu Aryani menyebut dirinya.


"Kamu saja yang membantu aku, jangan sampai menantuku kenapa-napa. Aku khawatir dia habis jatuh kemarin," kata Ibu Aryani kepada Eti.


Kemudian Mela mengajak kedua mertuanya dan kakak iparnya duduk di ruang makan.


"Mamah dan Papah mau makan apa? Maaf Mela belum memasak karena belum boleh banyak bergerak," Mela menanyakan kepada kedua mertuanya ingin dijamu apa.


"Mela sudah kamu diam saja, biar Mamah yang memasak bersama pembantumu. Akan Mamah buatkan yang spesial untuk calon cucu Mamah," kata Ibu Aryani begitu semangat ingin memberikan yang terbaik untuk menantunya dan jabang bayi dalam kandungan.


"Sudah Mela, ikuti saja apa kata Mamah yah. Kamu bereskan saja semua bungkusan yang tadi Mamah bawa yah," kata Pak Salim meminta Mela menuruti apa kata istrinya.


Pak Salim meminta Fajar untuk menghubungi Anton, namun karena hari ini hari Senin maka Anton sulit untuk minta ijin pulang.


Pak Salim meminta ingin tahu rumah yang akan dibeli oleh Anton, lalu Fajar menghubungi Haikal menanyakan bagaimana caranya bila ingin melihat rumah yang akan dibeli Anton.


Haikal lantas menghubungi Mas Harjo pegawai kakeknya, tak lama Mas Harjo tiba di kediaman Anton.


Lalu Mas Harjo mengantarkan pak Salim dan Fajar melihat rumah yang akan dibeli oleh Anton.


Pak Salim setuju dengan bangunan itu, hanya banyak yang harus diperbaiki karena sudah lama kosong dan banyak bagian yang bocor.


"Fajar, tolong hubungi Anton dan Haikal, Papah ingin nanti malam kita bertemu di kediaman Anton".


Fajar kembali menelepon keduanya dan meminta untuk berkumpul di kediaman Anton nanti malam sesuai keinginan mertuanya.


Siang itu Mela bahagia sekali, sebab Ibu Aryani sangat memanjakan dirinya.


Dia dibuatkan sup ayam yang sangat lezat sekali ditambah dengan perkedel kentang panggang isi macaroni dan sayuran.


Mela sampai menambah dua kali karena bawaan kandungan, dia selalu merasa lapar dan rasanya ingin makan banyak.


"Kata orang jaman dahulu, orang hamil seperti kamu itu namanya hamil kebo. Jarang mual dan muntah, tapi ingin makan terus," kata Ibu Aryani sambil memandang menantunya yang makan sangat lahap.


"Hanya Mela merasa semua yang disukai selama ini terasa bau aneh. Sabun, deodoran, pasta gigi bahkan Mela merasa Anton sangat bau walaupun sudah mandi sekalipun," ujar Mela sambil tertunduk malu.


"Hahahaha...kasihan sekali Anton, tapi mau bagaimana lagi yah. Dia harus terima kondisi ini," kata Pak Salim tertawa dan juga yang lain ikut tertawa.


"Masih mending Anton cuma disebut bau, waktu Anita hamil Kaysan malah aku yang mual dan muntah selama hampir lima bulan lamanya," kata Fajar mengingat bagaimana menderitanya dia sewaktu Anita hamil anak keduanya.


"Oh begitu yah...hahaha...lucu yah fenomena orang hamil, ternyata ada juga yang suaminya harus merasa mual dan muntah," kata Mela sambil cekikikan membayangkan Fajar pernah menderita seperti itu.


"Ya tak apa-apa dong, suami juga harus merasakan bagaimana repotnya istri saat hamil. Kan perempuan bisa hamil karena ulah siapa.... hahahaha," Ibu Aryani juga ikut berseloroh menanggapi pembicaraan tadi.


Setelah makan siang Ibu Aryani dan Pak Salim mengajak Mela berbincang tentang kasus Aprilia dan Haikal.


Mela hanya menyampaikan yang dia ketahui dan dia lihat saja.


Sementara Fajar sibuk terus dengan ponselnya tidak bisa berhenti, kalau tidak Anita, karyawan apotik, dokter rekanan, pasien konsultasi bahkan perusahaan obatpun menghubungi.


Tapi Fajar sabar dan menjawab setiap pertanyaan orang-orang yang menghubunginya dengan baik.


"Berarti Cahyani memaksakan perjodohan ini yah. Ternyata Aprilia tidak cinta dan lelakinya juga seperti acuh tak acuh kepadanya. Hmmm, aku malah jadi curiga ada udang di balik batu," kata Ibu Aryani setelah mendengar cerita dari Mela.


Sore harinya Anton pulang cepat, setelah selesai pasien dia segera pulang ke rumahnya karena ada orang tuanya.


"Papah....Mamah....Ko Fajar... Assalamualaikum...maaf baru bisa menemui," kata Anton ketika tiba di rumahnya.

__ADS_1


"Walaikumsalam, tak apa-apa, kami paham kamu sibuk banyak pasien," sahut Pak Salim sambil senyum bangga melihat anaknya yang baru pulang kerja dan masih mengenakan jas dokternya.


Mela menghampiri suaminya, memberi salam, mengambil tas kerja dan jas dokter suaminya.


Tubuhnya masih ramping namun pipinya sudah mulai terlihat tembem menggemuk.


"Papah berharap kalian sampai tua nanti bisa harmonis seperti itu yah, hidup itu apa yang dicari kalau bukan kebahagiaan dalam berumah tangga," kata Pak Salim yang begitu senang melihat keharmonisan anak dan menantunya.


"Anton, nanti setelah makan malam, Papah mau bicara sesuatu yah denganmu dan Mela juga. Ada yang penting yang ingin Papah katakan kepada kalian," kata Pak Salim sambil menepuk bahu anaknya.


Anton menganggukan kepalanya, lalu pamit untuk mandi karena hari menjelang Maghrib.


Lalu semua satu per satu mandi, dan mempersiapkan diri untuk sholat Maghrib.


Sofa di ruang televisi di geser, sehingga ada ruangan yang agak luas untuk melaksanakan ibadah berjamaah.


Kebetulan sekali Haikal dan Jaya tiba-tiba datang, dan mereka juga segera berwudhu dan sekalian ibadah berjamaah bersama keluarga Wiharja.


Fajar diminta sebagai Imam yang memimpin Sholat Maghrib berjamaah, dan Anton yang membacakan Iqomah sebelum sholat dimulai.


Selesai beribadah semua makan malam sambil menunggu Adzan Isya dan setelah akhirnya semua selesai, mereka mengikuti Pak Salim.


Pak Salim mengajak semua duduk di ruang televisi tapi tidak untuk menonton televisi melainkan beliau ingin membicarakan sesuatu.


"Anton...Mela....begini, tadi siang Papah sudah melihat rumah Haikal yang akan dijual".


"Dan tadi siang juga Papah sudah berbicara dengan Haikal melalui telepon, dan sekarang dia juga hadir di sini".


"Mela, Papah tahu kalau kamu tidak mau suamimu merepotkan Papah dan Mamah. Tapi begini, Papah sejak lama punya tabungan untuk anak-anak Papah".


"Anita sudah Papah berikan rumah dan juga usaha, dan Fajar yang mengelola semuanya".


"Sekarang Anton, dan Papah ingin membelikan rumah itu sebagai modal untuk kalian berdua. Papah hanya membelikan, tapi silahkan Anton yang memperbaiki atau bahkan merenovasi rumah itu".


"Ini bukan Papah memanjakan Anton, tapi Papah ingin adil berbagi dengan kedua anak Papah dan Mamah. Mela jangan punya pikiran kalau Anton seenaknya meminta, suamimu tak pernah meminta. Tapi ini keinginan Papah dan Mamah," kata Pak Salim dengan panjang lebar membahas soal dirinya ingin membelikan rumah untuk Anton.


"Iya Mela, sisanya nanti Anton cari uang sendiri, usaha sendiri untuk memperbaiki rumah itu karena banyak sekali yang harus diperbaiki," kata Ibu Aryani sambil mengelus punggung menantunya yang sedang hamil muda itu.


"Ya sudah, Mela sih tidak apa-apa, hanya tadinya tidak mau sampai nanti ada omongan orang. Seakan kami mengandalkan orang tua dan tak mau usaha sendiri, khawatir berimbas kepada Anton nantinya," sahut Mela berusaha menjaga nama baik suaminya.


"Aahhhh....Mela Tak usah dengar kata orang, aku ini bagaimana. Aku lelaki, tinggal di rumah Papah dan Mamah, meneruskan usaha keluarga Wiharja. Waduh...yang menilai negatif bukan hanya segelintir orang, tapi banyak sekali".


"Tapi aku berusaha jujur saja, memang Anita butuh bantuanku. Mau orang bicara apa silahkan, yang penting kita melakukan usaha dan pekerjaan kita dengan tulus dan jujur," kata Fajar menyemangati Mela dengan membandingkan dirinya.


"Ya itu dia, Fajar adalah menantu kebanggaan Papah. Tak ada Fajar, pasti usaha sudah terpuruk karena terhantam teknologi. Tapi Fajar membuat usaha apotik dan klinik kita maju dan tak kalah bersaing dengan apotik lainnya," pak Salim memuji Fajar sang menantu kebanggaan.


"Sudahlah Papah, biasa saja yang penting keluarga kita harus tetap kompak dan saling membantu. Karena yang saat ini dilakukan bukan untuk Fajar dan Anita tapi untuk kelak anak- anak kami dewasa," kata Fajar sambil merangkul mertuanya.


"Hmmm, penawaran pertama dulu satu milyar, tapi karena bang Anton mencoba menawar lebih rendah dan kebetulan saya juga memang sedang butuh sekali. Maka sesuai kesepakatan siang tadi yaitu hanya sebesar tujuh ratus lima puluh juta rupiah saja".


"Pertimbangan saya karena rumah sudah lama kosong , juga harus banyak yang di perbaiki maka harga terakhir saja saya sepakat untuk melepas rumah tersebut," kata Haikal menyampaikan kesepakatan untuk melepas rumah tersebut.


"Jadi dong motor Harley nih," kata Anton sambil mengangkat alisnya kepada Haikal.


"Tidak Bang, ini untuk pengobatan Papih, kemarin ini Papih saya jatuh dan terkena serangan stroke," sahut Haikal sambil terlihat bersedih.


Semua terkejut mendengarnya, dan Haikal menceritakan semua yang terjadi sampai masalah Siska istri kedua ayahnya yang akan datang merebut rumah besar milik kakeknya.


Yang mendengar ikut kesal, dan berharap Siska suatu saat akan mendapat balasan setimpal.


"Saya rencananya bulan depan akan mengundurkan diri karena akan menyusul Papih ke Papua," lanjut Haikal lagi.


"Hmmm, kamu bisa jadi pegawai negeri tanpa harus ujian loh, asal harus mengabdi di pulau Papua selama kurang lebih lima tahun," seru Anton memberi semangat kepada Haikal.


"Ya itu sudah menjadi pemikiran juga, selain mengurus Papih juga berencana mengabdi untuk masyarakat di sana," sahut Haikal dengan mantap.


"Tinggal cari jodoh saja nih, mau cari orang sana atau bagaimana ?" tanya Jaya yang tumben sedari tadi diam saja.


"Hmmm...entahlah, tadinya ada di sini orangnya sekarang kan sudah tak ada," sahut Haikal lesu.


"Berani tidak mengejar ke sana?" tiba-tiba Fajar membuka suara.


"Ya...kejar sana Haikal, Mamah paham sekarang. Adik Mamah yang salah,memaksakan kehendak dengan menjodohkan Apri dengan lelaki yang belum tentu juga cinta sama dia," kata Ibu Aryani yang juga mendukung Haikal.


"Ya bro, kejar sana. Besok aku yang memberi alasan kepada Pak Tarmidi. Kalau kamu benar sungguh mencintai Aprilia sebelum semua terlambat kejarlah ke sana," Anton juga mendukung Haikal.


Fajar lantas mengirimkan chat kepada Haikal, alamat tinggal Septa.


"Besok Septa akan bertemu Isman, dan aku yakin sekali akan terkuak siapa sebenarnya Isman. Jadi ada kesempatan untukmu Haikal untuk menunjukkan siapa sebenarnya yang pantas untuk Apri," Fajar juga turut mendukung Haikal.


"Ya sudah, sana pergi Haikal. Nanti subuh kamu kejar ke sana, naik motor paling tiga atau empat jam. Dulu Papah juga mengejar cinta Mamah ke kota yang sama," kata Pak Salim sambil memegang tangan istrinya dan Ibu Aryani menjadi tersipu-sipu malu.


"Baiklah akan aku kejar ke sana, aku buktikan kalau aku sungguh mencintai Apri," kata Haikal semakin bulat hatinya.


"Nah Jaya kesini mau apa ?"tanya Pak Salim tiba-tiba ke arah Jaya.


"Begini Papah dan Mamah, saya mau pinjam mobil Anton. Saya mau membawa orang tua dan Miranti ke kota ini," kata Jaya sambil terlihat malu-malu.

__ADS_1


"Silahkan saja bro, tapi apakah cukup secara mobilku kecil. Mungkin orang tuamu membawa barang banyak," kata Anton sambil memberikan kunci mobilnya.


"Ya jangan mobil Bang Anton, sudah pakai mobil kakek saya saja. Besar dan muat banyak orang dan barang," kata Haikal sambil mengajak Jaya ke rumahnya.


"Waduh bro, mobil mewah dan mahal itu. Mana aku berani membawanya," kata Jaya berusaha menolak.


"Bawa saja Bang, sekalian saya menitipkan sementara. Karena nanti ada Siska, saya tak mau mobil itu jatuh ke tangannya. Saya ada rencana mau membawa mobil itu ke Papua,"kata Haikal menjelaskan.


"Benar, mobil begitu di Papua sangat cocok karena sebenarnya itu mobil Jeep yang memang dipergunakan untuk di daerah pegunungan," kata Fajar membenarkan apa pemikiran Haikal.


"Tapi sebenarnya akan ada acara apakah, sampai orang tua Oom Jaya bersama Mbak Miranti akan datang kemari?"tanya Mela menyelidik.


"Eeemmm....hari Jum'at minggu ini kami akan menikah di KUA sesuai keinginan Miranti," jawab Jaya malu-malu.


"HAAAAHHHHH!!!!!!"


Semua terkejut mendengar ucapan Jaya, tapi Jaya menjelaskan kepada semuanya tentang hubungannya dengan Miranti sampai akhirnya Miranti berubah 100 persen penampilan dan juga pemikirannya.


Bahkan Miranti sendiri yang minta ingin menikah hanya di kantor KUA tanpa harus ada pesta atau apapun.


Sebab baginya yang penting adalah surat menikah yang sah agar kelak kalau punya anak hidupnya lebih baik daripada dirinya.


Akan ada ayah yang akan tanggung jawab atas kehidupan anak tersebut.


"Ya sudah, silahkan Haikal kejar Apri, Jaya jemput calon istri dan kita juga kembali ke Bandung, ayo Papah dan Mamah kita pulang ," ajak Fajar kepada kedua mertuanya.


"Tidak Fajar, kami akan menginap satu minggu di sini. Kamu kembali besok pagi saja, sekarang sudah malam," kata Ibu Aryani yang membuat Fajar kaget karena sejak tadi disangkanya mertuanya akan kembali pulang.


"Ko Fajar, kita iring-iringan saja yuk, sekarang ke rumah Haikal dulu nanti kita sama-sama ke Bandung," ajak Jaya dan tentu disambut dengan senang oleh Fajar.


Lantas Fajar dan Jaya mendatangi rumah Haikal, setelah diberitahu cara mengemudi dan lainnya lalu Jaya mencoba membawa kendaraan itu dengan sangat hati-hati.


Keduanya memasuki jalan tol beriringan dan sangat hati-hati karena sudah cukup malam juga waktu itu.


Flashback sebentar yah ke kisah perjalanan Aprilia di dalam mobil bersama Ibunya dan juga Isman.


"Isman...berhenti di rest area tol cepat, aku kebelet pipis!!!"teriak Aprilia dengan ketus kepada Isman.


"Astagfirullah, kamu yang sopan Apri...panggil nama seenaknya. Coba panggil calon tunanganmu dengan Mas Isman atau Kak Isman," kata Ibunya mengomel kepada anaknya.


"Cepat sajalah aku sudah sangat ingin buang air, atau aku buang air di mobil ini saja," tukas Apri seenaknya dan tak mau mendengar apa kata ibunya.


Isman tak berkata apapun, dan ketika melihat ada rest area di jalan tol tersebut lalu dia membelokkan mobilnya dan memasuki tempat tersebut.


"Sini aku minta uang seratus ribu, kamu kan calon tunangan. Masa tak mau memberi uang kepadaku," kata Aprilia ketika hendak turun dari mobil.


"Kok seratus ribu, bukankah toilet di sini gratis," sahut Isman sambil memandang Aprilia.


"Pelit amat...cepatlah cuma seratus ribu saja. Aku ingin jajan ke mini market setelah dari toilet".


Lalu Isman mengeluarkan dompetnya dan memberikan sehelai uang yang diminta Aprilia.


Aprilia segera menarik uang itu dari tangan Isman dan memasukan uang itu ke saku celana panjangnya lalu bergegas melangkah menuju toilet umum di sana.


"Maafkan yah nak Isman, memang anak itu suka seperti itu tingkahnya," Ibu Cahyani tidak enak hati kepada calon tunangan anaknya itu.


"Tak masalah kok Bu, memang dia unik," sahut Isman tapi sambil dalam hatinya mengutuki kelakuan Aprilia tadi.


Sehabis dari toilet umum, Aprilia masuk ke dalam salah satu mini market dan tentu saja membeli rokok satu bungkus berikut korek apinya.


Lalu kembali masuk mobil, dan ketika mobil melaju Aprilia membuka jendela sambil menyalakan rokok.


"Hei...jangan merokok di dalam mobilku, bahaya tahu...ini pakai AC dan juga bau kalau merokok di mobil!!!"teriak Isman melarangnya merokok.


"Loh...gue merokok kaga ganggu elu yah...kan gue duduk di belakang".


"Apri...Astagfirullah...kamu benar tidak sopan, ayo matikan rokokmu!!!"teriak Ibu Cahyani dengan kesal luar biasa.


"Mamah...Aku sudah menuruti apa kata Mamah, tapi soal merokok ini kan aku tidak merepotkan Mamah. Lagipula aku kan tadi diberi uang oleh Isman kok untuk membeli rokok ini," sahut Aprilia dengan santai sambil mengepulkan asap rokoknya ke atas langit-langit mobil.


"Hmmm...memang kamu anak kurang ajar, tak tahu adab....ingin ku hajar kamu...sini kamu....," kata Ibu Cahyani yang duduk di kursi samping pengemudi dan sekarang mencoba bergerak ke belakang untuk menyiksa anaknya.


"Ibu... sudah...sudah biarkan saja Apri dengan keinginannya, jangan banyak bergerak di mobil karena kita sedang di jalan tol," Isman jadi panik melihat Ibu Cahyani yang terlihat emosi sampai hendak melakukan sesuatu kepada anaknya.


Sebenarnya bukan urusan Isman, tapi karena mereka sedang di dalam mobil Isman dan kalau terjadi sesuatu tentu akan menjadi tanggung jawab dirinya.


Aprilia tertawa keras-keras mengejek Ibunya dan dia terus merokok, dan puntung rokoknya dibiarkan berserakan di lantai mobil itu.


Satu lagi kejahilan Aprilia, dia mengunyah permen karet dan setelah sudah tak ada rasanya lagi permen karet di tempelkan di sepanjang jok kursi belakang.


Lalu dia cekikikan sendirian karena merasa cukup puas mengerjai mobilnya Isman.


Itu sekilas kejadian malam dimana Aprilia dibawa pulang dengan paksa oleh Ibunya, dan selama beberapa hari kemudian di rumahnya, setiap hari diwarnai oleh keributan antara Ibu dan anak.


Ibu memaksakan kehendak namun anaknya sudah tidak bisa menerima perlakuan kasar ibunya yang selalu marah dengan penuh emosi kepada anaknya perempuannya.


Esok subuh Haikal akan mencari Aprilia, dia sudah diberikan alamat tempat tinggal kakaknya oleh Fajar tadi malam.

__ADS_1


Dan tengah malam ini terjadi sesuatu yang luar biasa, seumur hidup Haikal baru kali ini dia Sholat Tahajud.


Haikal memohon pengampunan dosa, memohon kesembuhan ayahnya dan juga memohon dibukakan jalan kalau memang Aprilia adalah jodohnya.


__ADS_2