
Hari minggu yang jauh dari kata cerah, matahari tak memunculkan sinarnya sama sekali.
Langit mendung di pagi ini, sementara Jaka sedang menunggu taksi online datang menjemputnya di depan sebuah apartemen.
Dia baru mengantar pulang Miranti ke apartemennya, dan dia hanya pamit di muka parkiran tanpa mampir dulu ke atas.
Miranti mengintip dari jendela lantai 7 dari kamar apartemennya melihat pria yang semalaman menemaninya mencurahkan isi hati dan kehidupannya.
Dia merasa aneh, padahal dia tidak pernah mengenalnya dengan baik, tapi entah mengapa dia merasa begitu dekat dengan lelaki itu.
Taksi online melaju meninggalkan apartemen tempat Miranti tinggal dan sekarang menuju Wiharja Farma.
"Bro, aku boleh nebeng tidur?".
Itu adalah chatnya Jaka kepada Anton di pagi ini.
Kamar yang biasa Anton tempati rencananya siang nanti akan dibongkar, akan ada orang dari tim dekorasi yang akan mendandani kamar pengantin.
Taksi online tiba di depan bangunan apotik Wiharja Farma membawa seorang lelaki yang tertidur di kursi belakang.
Pengemudi taksi online pelan-pelan membangunkannya, lalu Jaya turun setelah membayar tagihannya.
Anton membuka pagar sambil menuntun sahabatnya ke mess belakang rumahnya. Kebetulan ada kamar kosong karena kemarin ada sekitar dua orang mengundurkan diri jadi ada kamar kosong.
Jaya langsung menjatuhkan diri ke atas tempat tidur dan berkata nanti saja akan cerita panjang kepada Anton.
Sementara di dalam rumah Kaysan terus menangis, sejak dia bangun tadi pagi terus menangis.
Tangannya menunjuk ke arah luar ke halaman apotik.
"Kenapa sayang...Jangan menangis terus nak... apa yang kamu inginkan nak,"Anita menggendongnya dan memeluknya tapi anaknya masih terus menangis.
"Ton tolong periksa dong, dia tidak panas tapi dari tadi menangis terus. Mengapa yah anakku?"tanya Anita kepada adiknya.
Lalu Anton memeriksa Kaysan, tapi tidak menemukan kejanggalan. Suhunya diukur normal, perutnya di ketuk-ketuk juga tidak kembung. Mulutnya dibuka, diperiksa gusi-gusinya, kemungkinan akan tumbuh gigi baru.
"Mungkin dia mau tumbuh gigi baru lagi atau mungkin ingin bisa segera jalan,"kata Anton kepada kakaknya.
"Tapi aneh dia tidak biasanya menangis seperti ini, aku khawatir. Mana ayahnya lama sekali perginya,"keluh Anita yang merasa kesal juga karena suaminya belum kembali juga.
"Ko Fajar kemana memangnya...
apakah masih setiap minggu bersama Papah dan Mamah ikut senam jantung sehat ?"tanya Anton kepada Anita sambil menggendong Kaysan karena anak itu menjulurkan tangannya ke arah Anton.
"Biasanya jam delapan pagi sudah kembali, ini sampai jam sembilan belum kembali juga. Mungkin Mamah belanja dulu,"sahut Anita dengan wajah yang tampak sekali gelisah melihat anak bayinya tidak berhenti menangis.
"Bunda....Bunda....angin di luar besar sekali bunda...lihat sini bunda,"Keiza memanggil ibunya karena dari jendela terlihat angin bertiup kencang sekali.
Anita memandang jendela dan memang terlihat angin berhembus kencang sekali menerpa daun-daun di pepohonan seakan semuanya rontok karena tiupannya.
Mela dan ibu Sinah juga naik ke lantai dua menuju kamarnya Anita, keduanya juga ikut khawatir melihat Kaysan terus menangis tidak berhenti dari tadi pagi.
"Nita maaf apakah boleh ibu memijatnya dan membalurkan minyak kayu putih yang sudah diberi remasan bawang merah ini ke tubuh dedek bayi?"tanya Ibu Sinah takut-takut kepada Anita, karena memang tidak semua orang akan percaya begitu saja jika bayinya di pijat orang lain.
"Boleh bu, silahkan saja siapa tahu metoda kampung bisa menenangkan dirinya,"Anita lalu mengambil anaknya dari gendongan Anton.
Lantas Kaysan dibuka seluruh bajunya dan mulai ibu Sinah memijat perlahan sambil membalurkan ramuan minyak kayu putih itu ke seluruh tubuh Kaysan.
Bayi itu mereda tangisnya mungkin karena merasa enak tubuhnya dipijat dan dia juga lelah menangis, akhirnya dia tertidur dengan nyenyak sekali.
Perlahan baju kecilnya dikenakan kembali ke tubuhnya lalu dia ditidurkan di tempat tidur orang tuanya.
"Mungkin dia pegal Nita, bayi juga bisa merasa pegal tapi belum bisa bicara jadi menangis, kalau orang di kampung pasti hampir semuanya melakukan seperti ini kalau bayi menangis terus menerus,"ibu Sinah menjelaskan kepada Anita.
Anton tampak termanggu, memang ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan secara kedokteran atas sakitnya seseorang walau masih sekecil Kaysan.
Fajar memarkirkan mobilnya tepat di bawah papan besar di halaman apotiknya, papan itu bertuliskan nama apotik dan juga deretan nama-nama dokter yang praktek di klinik tersebut.
Gerimis mulai turun saat itu, mertuanya sudah turun ke dalam terlebih dahulu, Fajar mengambil beberapa bungkusan dari bagian belakang mobil lalu dengan tangan penuh tentengan dia menutup pintu mobil dan segera berlari ke dalam rumah.
Benar rupanya Aryani berbelanja dulu bahan makanan, buah-buahan, sayuran dan juga membeli panganan cemilan lainnya.
Maklum orang sudah tua pasti selalu ingin berusaha membelikan anak dan cucunya segala macam walau belum tentu juga bisa habis karena yang dibelinya banyak sekali.
Melihat suaminya datang segera Anita menceritakan semua kejadian saat tadi Fajar pergi, kalau Kaysan terus menangis dan baru diam setelah merasa enak dipijat tubuhnya oleh Ibu Sinah.
Fajar naik ke kamarnya dan melihat bayi kecilnya masih tertidur lelap sekali.
Lalu dia bergegas mandi, ketika baru saja selesai mandi. Tiba-tiba...DUAAARRRRRRRR !!!!!!
Terdengar suara petir menggelegar kencang sekali suaranya, otomatis bayi kecil terjaga dan kembali menangis kencang karena terkejut.
Fajar segera berlari dan memeluknya, anaknya terus menangis lagi seperti tadi.
Dibawanya anak itu turun untuk disusukan kepada ibunya, namun Kaysan tidak mau menyusu.
__ADS_1
Di luar hujan sangat lebat sekali, petir menggelegar bersahutan dan angin bertiup kencang sekali. Seperti terjadi badai saja saat itu.
Kaysan menangis di pelukan ayahnya dan tangan kecilnya menunjuk ke arah luar rumah ke halaman apotik.
Dia terus meronta ingin Fajar membawanya kesana, lalu dia mencoba membawa bayinya ke sana sesuai keinginannya.
Kaysan terus menangis tangannya menunjuk ke arah mobil Fajar yang sedang terparkir di halaman apotik.
Dia menangis terus sambil tangannya terus menunjuk ke arah mobil itu. Sesaat Fajar sadar kalau anaknya tengah memberitahu dia sesuatu.
Mungkin dia ingin mobil dipindahkan, lalu Fajar mengambil kunci mobil dan menitipkan anaknya kepada Anton.
Fajar berlari menuju mobil karena memang hujan sangat lebat sekali, lalu dia segera memindahkan mobil ke depan pintu garasi.
Tak lama Fajar selesai memarkirkan mobilnya di depan garasi, lalu angin tiba-tiba bertiup kencang sekali dan terdengar suara KRAAAAAAKKKK......GUBRAAAAKKKKKK!!!!!
Papan besar di halaman apotik tiba- tiba jatuh tumbang ke bawah. Dan jatuhnya tepat di tempat tadi mobil terparkir.
Andai tidak segera dipindah mungkin mobil sudah hancur tertimpa papan besar itu.
Kaysan lalu terdiam, dan dia memeluk erat pamannya. Anton dan Fajar bertatapan seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sejak pagi tadi memang Kaysan menangis karena mencari ayahnya, dan dia sekarang meminta ayahnya memindahkan mobil.
Andaikan terlambat sedetik saja pasti mobil hancur tertimpa papan besi itu.
Tak bisa diungkapkan oleh logika tapi kenyataan berkata seperti demikian.
Anita dan semua orang rumah keluar dan terkejut melihat papan besi sebesar itu bisa roboh tumbang tertiup angin kencang.
Karena hujan masih sangat lebat maka sementara papan itu dibiarkan dulu saja sambil menanti reda nanti.
Mereka semua masuk kembali ke dalam rumah sambil membahas soal papan besar yang jatuh barusan.
"Untung kamu berinisiatif memindahkan mobil yah, coba kalau tidak pasti mobilmu hancur,"kata pak Salim kepada menantunya, dan Fajar tak bisa menjawab hanya tersenyum sambil memeluk bayinya.
Karena hujan masih turun dengan lebat, walau angin sudah mereda maka acara ke pameran dibatalkan.
Anton dan Mela iseng menyetel televisi, dan keduanya terkejut karena muncul berita terkini yang mengejutkan.
"Pameran elektronik terbesar di kota Bandung diterpa amukan angin puyuh. Yang telah terjadi sekitar pukul sebelas siang ini".
"Di lokasi tersebut tenda-tenda berterbangan dan ada beberapa alat elektronik yang melayang terbawa angin dan mengenai beberapa pengunjung".
"Sampai berita ini diturunkan ada sekitar 17 orang yang luka-luka terkena hempasan tenda dan barang-barang elektronik yang terbawa angin tersebut".
"Apakah benar Kaysan indigo... tadi ketika kita hendak pergi, anak itu menangis dan minta digendong olehmu atau aku,"Mela jadi ingat kejadian tadi pagi sebelum bayi itu di pijat ibunya.
"Iya yah,...kalau diingat dia mulai menangis saat kita sudah bersiap hendak ke pameran. Tiba-tiba dia menangis sampai cici Anita kewalahan,"Anton juga jadi ingat kejadian tadi seakan Kaysan melarang mereka berdua pergi ke pameran tersebut.
Anita berdiri di belakang sofa yang sedang diduduki oleh Anton dan Mela, wajahnya terlihat bingung.
Dia melihat anak bayinya sekarang sedang tertawa-tawa bersama kakek dan neneknya sambil berdiri di paha neneknya, dia melompat- lompat sambil dipegangi neneknya di ruangan lain.
Fajar segera berdiri disamping istrinya dan merangkulnya. Lalu Anita menatap suaminya, adiknya dan juga Mela calon adik iparnya.
"Anton...Mela....kalian ingat beberapa minggu yang lalu. Saat aku mengatakan sebaiknya kalian menikah tanggal hari ini karena kebetulan hari minggu. Tapi saat itu Kaysan marah dan menangis, lalu ayahnya membawakan dia kalender dan seperti orang dewasa dia menunjuk Jumat depan tanggal pernikahan kalian".
Mela juga mengatakan kesaksiannya saat Anton koma beberapa waktu yang lalu.
"Sungguh cici...Mela memang tak terlalu memperhatikan tapi waktu itu saya melihat dia berdiri merayap sepanjang tempat tidur sambil seperti memanggil Anton... seperti ini eemm... bamum... eeemm.. bamum".
Anton menutup matanya sambil kedua tangannya menutup kelopak matanya, dia seakan ingat sesuatu.
"Aku antara sadar atau tidak, tapi saat itu aku serasa berjalan di lorong hitam. Lalu melihat sinar terang dan ada Kaysan disana memanggilku. Dia tertawa sambil menepuk badanku meminta aku masuk ke sana".
"Setelah itu aku merasakan wajahku basah dan lengket oleh air liurnya karena dia menciumi aku...hahahahha".
Fajar kemudian memberikan analisanya," Ada beberapa orang yang memiliki kemampuan demikian. Semacam indigo yang dalam bahasa psikologi disebut ESP atau Extrasensory Perception dan beberapa orang ada juga yang menyebut dengan istilah prekognisi".
"Apakah itu akan berbahaya untuk Kaysan, aku takut dia kenapa-napa saat besar nanti,"Anita mengkhawatirkan keadaan anaknya.
"Tugas kita bun...tugas kita untuk mengarahkan anugerah yang dimilikinya dan kemampuannya menjadi suatu kebaikan untuk sesamanya kelak,"kata Fajar sambil memegangi bahu istrinya.
"Cici Anita ....Koko Fajar... punten* ini Encum ikut ngomong, sehari-hari kan Encum sering bersama Dede Kaysan... dan memang Dede sering seperti itu memperingatkan kalau ada sesuatu,"Encum yang sedari tadi mencuri dengar ikut bicara.
*punten\=maaf
"Pernah waktu itu Encum teriak-teriak ada ular di halaman belakang, karena saat itu Dede yang menunjuk ke arah batu".
"Dede Kaysan nangis terus sambil tangannya nunjuk ke arah batu. Saat batu di angkat sama Wahyu, ternyata benar ada ular terus di tangkap dan dibuang ke sawah belakang".
"Encum...kalau bisa jangan sampai Papah dan Mamahku tahu yah, takutnya mereka jadi berpikiran yang tidak-tidak yah,"kata Anita mencoba mengakhiri percakapan karena ayah dan ibunya tampak memasuki ruangan tempat mereka berbincang.
Segera semua bersikap seolah tidak terjadi hal yang aneh di rumah itu.
__ADS_1
Sore harinya Fajar, Anton dan Jaya sedang duduk di depan apotik melihat ada orang yang sedang memperbaiki papan besar yang roboh siang tadi.
"Bro maaf yah, aku benar- benar tak tahu ada kejadian ini. Aku ngantuk sekali karena semalam asli tidak tidur sama sekali,"kata Jaya sambil menghirup kopinya kepada Anton.
"Kamu dari mana sih... ngapain sama Miranti?"tanya Anton kepada sahabatnya.
"Wow...kok cemburu bro... hihihi," goda Jaya kepada Anton, dan dibalas dengan kepalan tinju ke arah wajahnya sehingga membuat Jaya tertawa.
"Kami ke kota Lembang ke sebuah cafe yang kebetulan buka 24 jam. Dia mencurahkan isi hatinya kepadaku, tapi entahlah benar atau tidak. Aku hanya mencoba mendengarkan dan menasehatiku,"kata Jaya menjelaskan kemana dirinya semalam.
"Karena aku tidak tidur semalaman jadi tadi sungguh sangat mengantuk sekali".
"Kalian hati-hati saja dengan wanita seperti dia, jangan sampai terjebak. Aku menduga dia punya dendam masa lalu yang pahit, lalu dia seakan ingin membalas dendam terhadap kisah masa lampaunya itu,"kata Fajar mencoba menyampaikan analisanya.
"Tapi semalam dia bilang ingin minta maaf kepada ko Fajar karena kemarin sempat merendahkan koko, juga mau minta maaf kepada Anton karena dia pernah mencoba menggodanya,"kata Jaya sambil menaikan alisnya ke arah sahabatnya.
Fajar mendelik tajam ke arah Anton yang saat ini hanya bisa senyum kecut karena ketahuan pernah ada hubungan dengan Miranti.
Sebuah kapal besar merapat di Pelabuhan Batam Center, isi kapal itu banyak sekali peti kemas.
Salah satu dari peti kemas itu adalah pesanan dari SriFan Butik Cirebon berisi tas wanita dari salah satu negara bebas di Eropa.
Namun kemarin kantor Bea Cukai Batam dan juga Kepolisian Batam telah menerima laporan akan datang kiriman minuman keras impor ilegal dengan tas wanita sebagai motif untuk menutupinya.
Karena hari ini hari minggu maka semua peti kemas tidak bisa turun ke pelabuhan, sehingga masih tetap bermalam di atas kapal.
Salah satu anak buah Kang Japar sudah siap dengan sejumlah uang untuk menyuap petugas pelabuhan, agar mereka bisa mengeluarkan peti kemasnya malam ini.
Namun petugas saat ini tidak berani berbuat seperti itu lagi, karena saat ini akan ada sanksi tegas apabila ketahuan ada yang berani menerima uang suap.
Dan kebetulan hal-hal curang selalu saja ketahuan, ada yang cepat ketahuannya tapi ada juga yang lambat, namun tetap saja akan berakhir di penjara.
Malam itu anak buah Kang Japar yang mencoba menyuap petugas pelabuhan sedang diamankan di pos jaga pelabuhan sambil menanti kedatangan polisi.
Sementara di kota Bekasi di sebuah sasana latihan karate, di sana ada satu ruangan tersembunyi dan saat itu Romi sedang diinterogasi oleh polisi yang berjalan Nugroho.
Saat ini Romi adalah saksi kunci untuk kasus sindikat minuman legal impor ilegal yang diedarkan olehnya.
Romi menceritakan kepada polisi itu dari awal sampai dia bisa menjadi pesuruh penjahat untuk mengedarkan minuman keras tersebut.
Dia juga menjelaskan ada beberapa teman senasibnya yang masih terkurung disana, dan sekarang dia tidak tahu bagaimana nasibnya.
Nugroho malam itu menelepon AKP Yansen Simanjuntak menyampaikan apa yang dia dengar dari saksi kunci.
Besok pagi mereka akan rapat untuk membahas masalah ini di kantor Kepolisian Bekasi. Dan karena ini nantinya melibatkan kota lain, maka harus dipikirkan cara mengirim saksi da juga penjagaan keselamatannya.
Miranti membuka tasnya, mengambil kotak rokok dari dalamnya lalu menarik satu batang dari kotak itu.
Ketika ingin dinyalakan, tiba-tiba terlintas wajah Jaya dipikirannya maka seketika itu dia mengurungkan niatnya untuk merokok.
Entah mengapa semalam dia bisa begitu mudah menyampaikan semua yang dia lakukan selama ini kepada seorang Jaya Permana.
Lelaki itu memang cukup tampan tapi tidak termasuk kriterianya.
Jaya memiliki kulit kecoklatan, tapi dia tergolong pria tampan dan gagah.
Hanya tubuhnya tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan dokter Anton.
Sementara dokter Anton cukup masuk kedalam kriterianya, hanya dia tak menyangka sama sekali kalau sebenarnya dokter itu seorang difabel.
Miranti selama hidup sampai usia 27 tahun sekarang ini sangat hormat kepada penyandang cacat. Dia dulu mempunyai kakek yang sangat menyayangi dirinya dan merupakan seorang difabel.
Ada rasa bersalah kepada Anton karena pernah ingin menggoda dan merusak hubungannya dengan kekasihnya.
Semalam juga bisa-bisanya dia bilang kepada Jaya bahwa dia sudah hilang kesucian saat masih duduk dibangku SMA.
Tapi kekasihnya meninggalkan dirinya dengan pindah ke kota lain, karena kebetulan pacarnya dulu anak seorang pejabat yang sering berpindah tugas dari kota ke kota lain.
Sejujurnya selama ini dia tidak pernah benar-benar tidur dengan pria lain, dia selalu membuat seorang pria masuk dalam jeratannya.
Setelah itu diajak kencan ke sebuah hotel, lalu dia membubuhkan obat yang dapat membuat seseorang tidak sadarkan diri.
Lalu setelah itu pria itu dilucuti pakaian atasnya dan segera ditutupi selimut. Setelah itu dia membuka pakaian sebatas dada, segera dia melakukan swa foto seakan dirinya dan pria tadi telah melakukan hubungan intim.
Miranti memandang wajahnya di kaca meja riasnya, lalu dia kembali ingat salah satu perkataan Jaya semalam.
"Mira...usiamu tak akan tinggal di satu titik saja, akan merangkak naik. Dulu ibumu pernah menjalani kesalahan dalam hidup. Apa kamu mau berakhir sama seperti ibumu...".
"Padahal aku yakin dulu saat ibumu ada selalu doa terbaik untukmu dipanjatkan olehnya kepada Tuhan. Pasti ibumu juga tidak mau kamu mengalami nasib seperti dirinya dulu".
"Pikirkan Mira...selagi masih ada waktu dan kesempatan untuk merubah hidup maka cobalah berubah. Bila kamu butuh bantuan maka aku akan tulus ikhlas membantumu".
Miranti duduk di pinggir tembok kamar apartemennya sambil memeluk kedua kakinya. Dia menangis merasa dirinya saat ini kotor dan hina sekali.
Malu...yah kata itu sekarang melekat dan terasa pada diri dan hatinya. Tapi apa yang mau dikata, semua sudah terjadi. Apakah ada kata kesempatan seperti yang Jaya sampaikan kepada dirinya.
__ADS_1
Semoga waktu berpihak kepadanya sehingga dia merubah dirinya menjadi wanita yang lebih baik.