
Januari 2020
Fajar memesan masker medis dalam jumlah cukup banyak, dan menurut pihak pabrik farmasi juga pemesanan seperti itu cukup banyak.
Namun rencana Fajar bukan untuk dijual semua masker tadi, tapi sementara akan dia simpan untuk antisipasi sewaktu-waktu akan banyak orang membutuhkan.
Keluarga besar Wiharja tentu memantau setiap pemberitaan yang ada di televisi.
"Ah walau bagaimanapun, Mamah dan Papah sepakat tetap akan pergi karena ketua panitia nanti adalah teman sekolah Papah. Dan beliau mengatakan kalau kita akan aman-aman saja," Ibu Aryani bersikukuh kalau mereka akan tetap berangkat walau berita tentang virus sudah sampai ke seluruh pelosok negeri.
"Tapi Mamah dan Papah jangan tidak percaya loh, sebab menurut berita Amerika dan Australia sudah ada yang terkena virus itu," kata Anita berusaha mencegah rencana keberangkatan kedua orang tuanya itu.
"Ini sudah direncanakan dari dua tahun lalu, yang mau berangkat juga sekitar seratus orang lebih dari berbagai angkatan di sekolah Papah dulu. Sekalian reuni akbar loh agenda perjalanan ini tuh," Pak Salim ngotot menjelaskan bahwa rencana berangkat nanti itu bukan rencana yang baru sebentar disusunnya.
Malam harinya pasangan Fajar dan Anita, Anton dan Mela melakukan telepon video konferensi dengan Haikal dan Aprilia.
Terlihat Aprilia mulai gemuk badannya karena sudah hamil empat bulan.
"Bro, bagaimana soal virus di Papua? Apakah ada yang terjangkit?"tanya Anton kepada Haikal.
"Papua aman bang, yang sudah kena sih Australia tapi cuma satu atau dua orang kok," sahut Haikal.
"Iya di Indonesia juga cuma ada satu atau dua orang saja tapi di kota Jakarta. Semoga tidak menyebar ke kota lain," kata Anton juga kepada Haikal.
"Tapi aku khawatir loh, semoga saja tidak menyebar banyak yah. Karena khawatir jadi pandemi," ujar Fajar terlihat khawatir.
Lalu ketiga pasangan juga membahas hal lain, dan semua saling mendoakan agar jangan sampai terjadi penyebaran virus di negara ini.
Februari 2020
Anton dan Mela duduk di ruang televisi di rumah mereka, malam itu Gibran sudah tidur.
Mela memegang tangan Anton dan terasa sangat dingin sekali, kemudian Anton menggenggam tangan istrinya.
Mereka sedang melihat berita terkini bahwa di kota Jakarta ada beberapa orang tenaga kerja yang pulang dari negara China terindikasi mengidap virus tapi lolos di pemeriksaan bandara sehingga sekarang menularkan kepada banyak orang.
Bahkan sudah ada beberapa korban meninggal dunia karena penyakit tersebut.
"Ya Allah, ini adalah virus flu yang bermutasi menjadi penyakit mematikan. Semoga saja yang terkena bisa segera di sembuhkan oleh tim dokter di Jakarta," kata Anton yang tiba-tiba merasa khawatir.
Dia banyak melihat tayangan baik di televisi maupun di media sosial pada akhir tahun lalu.
Banyak tenaga medis yang terpaksa harus tinggal di rumah sakit karena jumlah pasien banyak.
Mereka tak bisa pulang, karena kalau pulang ke rumah bisa membahayakan keluarganya.
Benar saja di mana saja di berbagai media mulai banyak himbauan pemerintah untuk sering mencuci tangan memakai sabun atau membawa hand sanitizer alias cairan pembasmi kuman atau virus.
"Pap, bagaimana ini yah. Aku baru saja membayar sewa kedai ke Melati. Tapi ada berita begini jadi khawatir yah, siapa tahu ada pelanggan salon atau pembeli kue itu orang dari luar negeri," kata Miranti kepada Jaya.
"Iya yah Mam, tapi lihat saja dulu deh. Itu yang sakit kan di kota besar, di kota kecil sih mungkin saja tidak terjadi. Secara kemampuan medis mereka lebih hebat dari kita di daerah,"sahut Jaya sambil melihat Solana yang tengah tidur lelap.
"Aku khawatir sama Solana, anak bayi rentan tertular penyakit," kata Miranti sambil mengelus pipi anak bayinya.
"Banyak berdoa Mam, kita bisa apa hanya berserah kepada yang Kuasa," Jaya menguatkan hati istrinya.
Akhirnya Miranti tetap membayar sewa kedainya kepada Melati Salon untuk satu tahun ke depan.
Sampai pertengahan Februari ini, Anton banyak menerima pertanyaan seputar virus itu.
Entah orang bertanya langsung atau melalui telepon, tapi Anton tidak bisa menjawab dengan detail karena dia sendiri belum paham.
Senin minggu ke empat bulan Februari 2020, Anton menatap surat edaran dan juga surat keputusan yang diterimanya tanpa berkedip.
Kedua surat tersebut ditanda tangan langsung oleh Menteri Kesehatan, sehingga merupakan tugas yang tak mungkin ditolak.
Pada surat edaran tertulis bahwa mulai awal Maret 2020 Puskesmas tempat yang dipimpinnya harus ditutup sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Semua karyawan akan dirumahkan, dan sama batas waktunya juga akan ditentukan kemudian.
Lalu ada surat keputusan dinas, tercantum nama Anton Wiharja dan Rossie Tamadi mulai hari selasa esok hari akan dikirim ke rumah sakit di Jakarta Pusat, karena kekurangan tenaga medis.
Karena sejak minggu kemarin jumlah pasien terjangkit setiap harinya ada ratusan orang, sehingga dokter yang berada di daerah yang belum terjangkit virus untuk sementara waktu harus di tarik ke Jakarta.
Mela menangis hampir semalaman, dia tak tahu harus bagaimana kalau suaminya bertugas ke Jakarta yang merupakan daerah terjangkit.
Lagipula tercantum ditugaskan untuk batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Dia juga menerima edaran dari pemerintah setempat kalau untuk sementara waktu menutup usaha apotiknya karena pertemuan banyak orang sangat rawan terjadi penularan.
Seluruh keluarga besar Wiharja diberitahu tentang hal tersebut, tapi mau bagaimana karena Anton harus melaksanakan tugas yang sudah diperintahkan.
Karena kalau sampai menolak tentu malah akan kena sanksi yang menghancurkan kariernya.
Dan esok paginya ada sebuah mobil minibus besar menjemputnya di depan rumahnya.
Mela sangat sedih sekali saat menatap punggung suaminya memasuki mobil yang menjemput itu.
Ingin rasanya menarik suaminya agar jangan masuk ke sana, tapi tentu tak bisa sebagai istri seorang dokter juatru harus mendukung kinerja suaminya.
Harapan dan doanya adalah semoga suaminya akan baik-baik saja dan kembali lagi ke rumah dengan selamat.
Kebetulan anak-anaknya Eti sudah besar, jadi dia juga pamit kepada suami dan anaknya untuk tinggal di rumah Anton menemani Mela dan Gibran.
Anton bersama Rossie dan beberapa orang dokter lain dari puskemas berbeda tiba di sebuah rumah sakit pemerintah terkenal di Jakarta.
Ternyata banyak juga dokter dari berbagai daerah lain untuk diperbantukan di Jakarta.
Mereka ditunjukkan loker untuk menyimpan perlengkapan mereka, lalu masing- masing diberi baju hazmat lengkap.
Setelah makan lalu mereka semua diberi pengarahan dan mereka dibagi dalam beberapa kelompok.
Rossie Tamadi masuk ke dalam kelompok dokter yang akan menangani pasien kritis, sementara Anton masuk kelompok dokter yang menangani pasien yang sudah lewat masa kritis menuju ke pemulihan.
Alasannya adalah karena mereka punya catatan rekor masing-masing dokter, karena Anton difabel maka hasil dari pertimbangan dewan dokter dimasukan ke dalam kelompok tersebut.
Tapi jangan salah, orang yang masa pemulihan belum dapat dinyatakan 100% bebas virus, jadi setiap dokter tetap harus memakai baju hazmat dan menjalankan protokol yang berlaku.
Minggu pertama jumlah pasien yang menuju pemilihan masih terhitung sedikit dibandingkan pasien yang terjangkit.
Anton bersama dengan lima dokter dan lima perawat harus menangani sekitar seratus orang, jadi setiap dokter kebagian sekitar dua puluh orang pasien.
Seminggu pertama Anton di Jakarta, setiap malam Gibran menangis mencari ayahnya.
Dia tak mengenali ayahnya yang berkontak video sambil memakai baju hazmat lengkap, seperti seorang astronot saat di luar angkasa.
Mela berusaha tegar menghadapi hal itu, walau saat ponsel ditutup dia tak sanggup lagi menahan air mata.
Maret 2020
Diberbagai media setiap hari diberitakan jumlah orang yang terjangkit virus tersebut.
Ada ratusan orang sakit setiap harinya, ada yang meninggal karena virus dan juga ada yang masa pemulihan.
Sekarang sudah bukan seratus lagi, tapi sudah hampir mencapai tiga ratus orang dalam masa pemulihan.
Sekali lagi orang dalam masa pemulihan, bukan orang yang segera sembuh tapi orang yang baru selesai melewati masa kritis.
Dan orang- orang tersebut masih punya potensi untuk menularkan virus kepada orang lain.
Untuk itu, Anton sekuat tenaga mematuhi standar yang sudah diberlakukan, walau baju hazmat itu membuat dirinya sangat gerah tapi dia tak mungkin melepaskannya saat di ruang pasien.
Virus mulai merambah ke kota tempat tinggal keluarga Wiharja dan juga tempat tinggal istri dan anak Anton.
Dia saat ini jauh dari mereka menghadapi banyak pasien sakit, sementara keluarganya jauh di sana dan tentunya membuat pikirannya juga terbagi kepada anak dan istrinya.
"Mi, jangan keluar rumah dan jangan menerima tamu siapapun juga yah," pesan Anton kepada istrinya.
"Ya Allah, Pipi juga jaga kesehatan juga yah di sana. Mimi pasti tidak akan kemana-mana karena khawatir Gibran sakit," kata Mela kepada suaminya sambil berurai air mata.
"Mana Gibran Mi?"tanya Anton.
Lalu Mela memindahkan ponselnya, mengarahkan kepada Gibran yang sudah berjalan lancar.
Anaknya sedang main bola ditemani Eti, dan Gibran melambaikan tangannya saat melihat ayahnya di ponsel ibunya.
Tak terasa air mata berlinang di pipi Anton, dia tak tahu kapan bisa memeluk dan mengangkat tinggi anaknya lagi.
Dia rindu tawa anaknya dan tangisnya, dia rindu segalanya tentang anaknya.
Tapi tak mungkin saat ini dia kembali, karena pasti akan membawa virus jahat kepada keluarganya.
__ADS_1
Suami Eti otomatis jadi pengangguran, proyek tempat dia kerja dihentikan untuk waktu tak terbatas.
Pikirannya kalut, kedua anaknya sekarang belajar di rumah secara on line.
Kuota internet habis maka anak tak bisa belajar. Mau kerja mencari dimana lagi, melihat di berita ratusan orang karyawan pabrik besar dirumahkan.
Setiap hari mau makan harus menunggu di depan rumah dokter Anton, nanti Eti istrinya keluar memberikan lauk dan nasi untuk dibawa pulang ke rumah.
Untung keluarga Anton orang baik, ditengah pandemi juga masih mau berbagi makanan.
Tapi setiap hari begini juga malu rasa hatinya, tapi Slamet hanya bisa merenung sambil berusaha mencari jalan mencari rejeki.
Karena tak ada pekerjaan lalu dia merapihkan rumah, dia membongkar satu kamar kosong bekas almarhum mertuanya yang lama tak terpakai.
Dia melihat ada mesin jahit tua dan banyak tumpukan kain, dulu Ibu mertuanya adalah penjahit pakaian.
Tapi Eti malah tak punya kepandaian seperti ibunya, dia lebih senang memasak daripada menjahit.
Dulu Slamet sempat bisa menjahit saat mertuanya ada orderan membuat syal pramuka dan pernah juga membuat saputangan.
Tapi jaman sekarang mana ada lagi orang memakai saputangan pikirnya dan dia hanya membersihkan ruangan itu lalu menutupinya kembali.
"Walah...parah...gara-gara pandemi begini aku jadi tak bisa jualan ke pasar, semua pasar ditutup. Aku mau keliling menjajakan ikan, tapi tak bisa karena dicegah polisi harus memakai masker," kata salah satu tetangga Slamet mengeluhkan nasibnya sambil duduk di teras rumahnya.
"Mengapa kau tak membeli masker lalu memakainya?" tanya Slamet kepada tetangganya yang seorang penjual ikan basah keliling.
"Ah Slamet...kemana saja kamu, masa pandemi begini masker harganya ratusan ribu. Mana ada aku uang untuk membeli masker seperti yang dipakai orang rumah sakit," sahut tetangganya itu yang terlihat sedih.
"Andai saja ada masker kain yang murah tentu mampu membelinya karena bisa aku cuci untuk dipakai berkali-kali," lanjutnya lagi sambil berlalu dari teras rumah Slamet.
"Masker kain?"guman Slamet sambil berpikir sesuatu.
"Seperti apakah masker kain?".
Lalu dia meminta anaknya mencari di media sosial seperti apa yang dimaksud masker kain itu.
Anaknya mencari dan memang ada petunjuk cara membuat masker dari kain. Ada yang diikat dengan karet dan ada juga yang diikat dengan kain.
Slamet memperhatikan dengan seksama, dan cara membuat masker kain tak jauh berbeda dengan saat jaman dulu dia membantu mertuanya membuat syal dan saputangan.
Cara memotong hampir sama begitu juga cara menjahitnya.
Slamet segera memasuki ruangan bekas kamar mertuanya dan memeriksa kondisi mesin jahit, ternyata masih baik hanya tinggal diberi minyak dan sedikit di kencangkan baut-bautnya.
Lalu dia mengambil satu kain dan memotongnya sesuai petunjuk dari media sosial tadi dan mencoba membuat masker kain dengan tali diikat.
Dan ternyata jadi satu buah, lalu dia mencobanya dan merasa terharu.
"Ya Allah, semoga ini bisa menjadi jalan untuk kami mencari rejeki untuk anak-anak kami," ucap Slamet sambil menitikan air mata dan memohon petunjuk yang Kuasa.
Lalu dia memulai memotong beberapa kain lagi dan akhirnya jadi cukup banyak, lalu dia menjual kepada tetangga sekitar dengan harga sangat murah dan terjangkau.
Semua orang tertarik membelinya dan bahkan beberapa orang memesannya. Lalu ada juga beberapa permintaan dari beberapa wanita berhijab agar dibuatkan khusus untuk hijab.
Sejak saat itu dia terus mencoba membuat masker dengan berbagai variasi, ada yang gagal di coba lagi dan lagi sampai sesuai dengan keinginan pelanggan.
"Alhamdulillah yah Mba Eti, akhirnya mas Slamet bisa punya usaha," kata Mela kepada Eti yang sudah dianggap layaknya saudara saja.
"Ya itu Bu, dulu Ibu saya tukang jahit, eh saya malah tak bisa. Untung Mas Slamet bisa jahit..eh iya...bisa jahit," sahut Eti yang selalu saja ada unsur latahnya.
Karena ada himbauan harus berjemur diri setiap hari antara pukul sembilan pagi sampai pukul sepuluh pagi, ternyata pesanan kosmetik malah meningkat.
Kaum hawa ingin berjemur tapi takut wajah tidak kinclong lagi, maka pemakaian krim anti matahari tetap berjalan.
Dan lumayan pesanan masih bisa jalan melalui media sosial dan dikirim melalui ojek online ke tempat pemesan.
Memang tak banyak tapi masih berjalan, juga pemesanan vitamin ke apotiknya masih ada walau kondisi apotik tutup.
Untuk tetangga sekitar dilayani sebatas pagar saja, karena Mela tak menerima tamu.
Bahkan Ibu Sinah juga tak berani keluar rumah padahal rindu berat kepada cucunya.
Ibu Aryani dan Pak Salim juga harus membatalkan perjalanan, karena semua maskapai penerbangan tidak boleh melakukan perjalanan.
Perekonomian dunia mendadak mati, hanya bisa mengais rejeki dari hal- hal kecil saja.
Jaya yang dirumahkan juga sekarang membantu istrinya mengantarkan pesanan masakan, Miranti putar otak karena suami mendadak dihentikan pekerjaannya.
Yang bolak balik ke pasar adalah tukang becak bernama Doni, dan dia memakai kantung plastik untuk menutupi tubuhnya dari virus. Ada saja akalnya, karena dia tak mau jatuh sakit.
"Bu Miranti, di pasar juga terbatas karena yang berjualan juga hanya sampai jam sembilan pagi saja,"ujar Doni sambil menggantung belanjaan di pagar.
Dan uang pembayaran sudah digantung di pagar juga oleh Miranti.
Hal sama berlaku saat Jaya mengantar masakan ke rumah pemesan, dia memakai masker sambil naik sepeda mengantar pesanan ke rumah tetangga.
Sungguh semua tatanan berubah, tak ada orang yang saling bertatap muka berdekatan, tak ada orang bersalaman, bahkan tak ada lagi tempat ibadah agama manapun yang dibuka untuk umum.
Semua mall besar ditutup, karyawan mall, perkantoran dan pabrikan juga banyak yang dirumahkan karena tak ada pergerakan roda ekonomi.
Anton dipindahkan ke wisma olah raga, karena jumlah pasien terjangkit sudah ribuan, sehingga rumah sakit sudah tak bisa menampung lagi.
Semantara Mela di rumah semakin galau, melihat tayangan televisi ada sejumlah perawat dan dokter yang dinyatakan terpapar virus. Bahkan ada dokter terkenal yang meninggal dunia karena virus tadi.
"Mbak Eti, aku takut. Nanti Pipinya Gibran gimana yah. Mana sekarang ada ribuan orang yang sakit karena virus itu," Mela menangis di pelukan Eti, sementara Eti hanya bisa memintanya selalu Istighfar berserah kepada Yang Maha Kuasa.
Anton sedang bergantian istirahat dengan dokter lain, dia membuka kotak makanan bagiannya dan mulai makan siang.
Masih ingat Hernowo, teman seangkatan yang bertemu dengannya beberapa bulan lalu di sebuah cafe saat berkumpul dengan teman satu almamater.
"Elu Anton kan? Kok bisa ada di sini bro?"kata Hernowo yang saat itu hanya memakai pakaian biasa saja tidak menggunakan hazmat dan lain-lain.
Anton mendongak dan terkejut dengan penampilan temannya itu.
"Wo, kok tak memakai pakaian hazmat, bahaya bro," kata Anton memperingatkan kawannya itu.
"Biarin, gue sengaja biar gue mati. Percuma hidup juga, istri gue selingkuh di depan mata. Buat apa gue hidup lagi," jawab Hernowo dengan santai dan dia malah menyalakan rokok di ruangan istirahat itu.
Sontak para dokter dan perawat lain yang sedang makan segera menegur Hernowo, tapi tampaknya dia tak peduli akan teguran semua orang di sana.
Anton yang kebetulan sudah selesai makan, segera bangkit dan mencoba merebut rokok dari tangan Hernowo.
Sial sekali rokok tersebut melubangi baju hazmat tepat di dekat pergelangan tangannya, tapi rokok berhasil direbut dan dimatikan olehnya.
"Elu mau bunuh diri silahkan, tapi jangan di sini. Kita capek tahu!!!! Banyak orang yang musti diurus, jadi elu kaga usah cari perhatian di sini. Silahkan elu pergi!!!" Anton naik pitam melihat kelakuan Hernowo.
"Eh Anton, elu kaga tahu perasaan gue. Sama gue juga capek ngurusin orang banyak, tapi istri gue malah selingkuh di saat gue di sini untuk membaktikan diri gue buat orang banyak!!!" Hernowo juga tak mau kalah, dia berbalik marah kepada Anton yang dianggap tak paham tentang dirinya.
"Dengar Wo, urusan elu dikhianati atau tidak, itu masalah pribadi elu. Tapi di sini kita semua sedang tugas, menolong orang banyak sekali. Please, jangan membawa masalah pribadi kemari dan jangan marah-marah di sini. Silahkan kamu ijin pulang dan selesaikan masalah pribadi," kata Anton sambil menatap tajam dan jari telunjuknya menunjuk ke wajah Hernowo.
Kemudian Hernowo pergi meninggalkan ruangan itu dan berjalan entah kemana, lalu Anton kembali lagi ke tempat tugasnya untuk memeriksa kondisi pasien.
"Dokter Anton!!!, tolong ke bagian gawat dulu di gedung seberang. Ada beberapa anak kecil yang terkena virus, tapi dokter ahli anaknya tak ada, jadi tolong bantu kami sebentar," salah satu dokter meminta bantuan Anton dan tentu saja dia segera bergerak menuju ke bagian gawat tersebut.
Berbeda dengan bagian yang selama ini dia tangani, di gedung seberang ini pasien banyak sekali dan semuanya terlihat sangat mengerikan.
Ada yang terkulai lemas, ada yang muntah-muntah, ada yang batuk-batuk juga ada yang harus memakai alat bantu nafas karena sesak dadanya.
Dibagian pemulihan saja sudah lelah setengah mati, apalagi yang menangani bagian pasien gawat dan kritis.
Anton ditunjukkan ke suatu ruangan bagian anak-anak kecil yang terpapar, dan hatinya kembali berdebar karena dia ingat di rumah juga ada anak kecil.
Rasa khawatir Gibran bisa terkena virus kembali menghantui pikirannya.
Anton memeriksa ada sekitar tiga puluh anak kecil yang sakit dan kondisinya kritis.
"Dokter, kok bajunya bolong ada lubangnya ini," kata seorang anak kecil dengan polosnya sambil memasukan satu jarinya mengorek baju hazmatnya.
Anton terkejut setengah mati saat ada jari kecil mengenai kulit lengannya, secara otomatis sekarang Anton terpapar virus itu.
Karena anak kecil yang jarinya mengorek lengan baju hazmatnya adalah seorang anak yang sedang dalam kondisi kritis tingkat tinggi karena terpapar virus mematikan itu.
Anton diam saja sambil tersenyum kepada anak kecil yang kondisinya lemas tak bertenaga itu sambil mengelus kepala anak itu.
Tapi Anton meneruskan memeriksa dan merawat kondisi pasien anak-anak kecil yang terjangkit virus mematikan itu.
Tapi ternyata bukan anak tadi saja, karena dokter Anton orangnya baik dan ramah, jadi hampir semua anak kecil yang melihat ada lubang di lengan baju Anton tak tahan untuk mengoreknya.
Hampir setengahnya anak- anak yang ada di ruangan itu jarinya mengorek lubang yang ada di lengan baju hazmatnya Anton.
Malamnya ketika akan memasuki mess, setiap petugas kesehatan harus melepas baju hazmatnya untuk segera dihancurkan oleh petugas khusus.
__ADS_1
Ketika membuka hazmat, terasa tubuhnya merinding seperti sedang masuk angin, suhu tubuhnya panas dan tenggorokannya terasa panas dan sakit.
Anton duduk termenung, dia membungkukkan badannya sambil memegang kepalanya.
"Kenapa dokter ?"tanya perawat Irma yang selalu mendampinginya.
"Suster Irma, saya terpapar jangan mendekat," ujar Anton dengan wajah memucat sambil memandang perawat Irma.
"HAH !!! Ya ampun, dokter selama ini kan selalu hati-hati. Kenapa bisa dokter?" kata perawat Irma sambil lemas terduduk sekitar dua meter jaraknya dari tempat Anton duduk.
"Saya mau menemui dokter Rossie Tamadi untuk memeriksa saya, dan ini ponsel saya. Tolong kalau istri saya atau siapapun dari keluarga saya menghubungi katakan saya sedang sibuk sekali," kata Anton sambil beranjak berdiri dan berjalan menuju gedung tempat pasien dewasa yang kritis terpapar virus.
Dokter Rossie terkejut saat melihat Anton datang tanpa memakai baju hazmat menghampiri dirinya, dan lebih terkejut lagi saat Anton memintanya untuk memeriksanya.
Suhu tubuhnya lebih dari tiga puluh delapan derajat, penciumannya hilang, lidah terasa kebas dan tenggorokannya sakit.
"Maaf dokter Anton, anda harus segera kami rawat di bagian pasien kritis tapi ada ruang khusus untuk tenaga medis yang terpapar," kata dokter Rossie sambil lemas melihat rekan kerja yang sudah dia anggap sebagai kakak sendiri.
Dokter Rossie mengantarkan Anton sambil berjalan tak terasa di sudut mata Rossie ada setitik air menetes.
Di dalam ruangan khusus tenaga medis yang terpapar ada sekitar sepuluh orang yang sedang dirawat dan salah satunya ada yang sudah dipakaikan ventilator atau alat bantu nafas.
"Itu dokter siapa yang terlihat parah sekali?"tanya Anton sambil menatap tempat tidur paling ujung tempat salah satu dokter yang sudah dipakaikan alat tersebut.
"Itu dokter Hernowo, semalam ditemukan pingsan karena sesak nafas. Dia sudah sekitar lima hari terpapar, tapi saat dirawat kabur dan menulari banyak dokter lain," sahut dokter Rossie Tamadi sambil memandang kesal kepada Hernowo yang sedang tergelak tak berdaya.
"Aku mau di tempat tidur sebelah Hernowo," kata Anton dengan santai.
"Jangan, dokter Anton masih di tahap dini jadi bisa segera kami tangani agar tidak sampai kritis seperti dokter Hernowo," Rossie mencoba mencegah Anton.
"Percaya padaku, aku harus di sebelahnya dia. Kondisinya setengah sadar, dan aku harus menolong dia," kata Anton memaksa.
Akhirnya tempat tidur untuk Anton disediakan di sebelah Hernowo yang tengah berbaring setengah sadar dan bernafas juga dengan ventilator yaitu alat bantu nafas berupa selang dimasukan ke dalam mulut dan hidung lalu dihubungkan dengan alat pengatur oksigen.
"Hai, aku Susan teman Hernowo, kamu pasti Anton yah dokter yang difabel," kata seorang wanita di seberang tempat tidur Anton.
"Hai juga, iya saya Anton, salam kenal dokter Susan," sahut Anton sambil senyum ramah.
"Kamu juga masuk kemari karena dia kah?"tanya dokter Susan sambil menunjuk Hernowo dan Anton tidak menjawab cuma senyum saja.
"Aku sudah mau tidur di mess malam itu, tiba-tiba Hernowo menggedor pintu sambil berteriak memanggil namaku. Jadi aku bangun menemuinya, lantas dia memegang pipiku sambil bercerita kalau dia diselingkuhi istrinya,"cerita Susan kepada Anton.
"Dia berkata tak jelas meracau menceritakan soal istrinya yang kedapatan selingkuh. Bawa minuman keras, merokok, batuk- batuk dan ketika akan pulang dia mencium pipiku. Esoknya aku dibawa kemari karena demam tinggi," lanjut Susan sambil memandang kesal kepada Hernowo.
"Kalian bisa kenal dekat darimana?" tanya Anton sambil matanya melirik ke arah Susan dan Hernowo.
"Kami bekerja di Rumah Sakit yang sama, aku dokter umum dan dia spesialis anak. Dan jeleknya dia mantan kekasihku, kami putus karena perbedaan suku".
"Aku asli dari Padang dan dia dari Jawa Timur. Orang tuaku tak setuju, lalu aku dijodohkan dengan pilihan mereka, punya anak satu perempuan dan kemudian berpisah. Mantan suamiku sudah menikah lagi, anak ikut denganku,"ujar Susan sambil tersenyum.
"Hmmm...tampaknya akan ada peluang untuk kalian bersama lagi dong," kata Anton menggodanya.
"Tidaklah, lihat saja masa aku harus memilih lelaki bodoh seperti dia," sahut Susan dengan mencibirkan bibirnya.
Anton menatap Hernowo lalu bangkit mendekatinya sambil berbisik,"Dasar bodoh, bisanya cuma bikin runyam saja. Membuat semua orang tertular, lalu kamu pikir ini akan berakhir".
"Bangun bodoh, ingat anakmu. Kamu mati dan anakmu dibesarkan istrimu yang menurutmu dia perempuan br*ngs*k. Memangnya kamu akan bahagia di alam baka melihat anakmu juga akan menjadi sama dengan ibunya. Pikir pakai otak, jangan emosi saja. Dokter anak macam apa kamu ini," bisik Anton mengeluarkan kalimat pedasnya, karena dia paham pasti Hernowo mendengarnya walau tampaknya dia tak sadar.
Dan benar saja tangan Hernowo bergerak tanda otaknya merespon perkataan Anton.
Menurut versi Susan, setelah mereka putus karena Susan menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya, lalu Hernowo jadi sering memasuki klub malam untuk mabuk-mabukan.
Disitulah dia berkenalan dengan wanita bernama Ana, dan entah bagaimana suatu hari mereka bangun tidur di dalam kamar hotel dengan keadaan tanpa busana.
Sebulan kemudian Ana hamil dan Hernowo terpaksa menikahinya, lalu mereka punya anak perempuan juga bernama Arabella yang dipanggil Bella.
Sejak bayi Bella lebih sering diurusi oleh Ibunya Hernowo sementara Ana istrinya sama saja seperti dahulu masuk keluar klub malam hampir setiap hari.
Bella sekarang bersama ibunya Hernowo dan adik kandung Hernowo yaitu Herdanu yang masih kuliah.
Disaat virus melanda seperti ini, Hernowo tidak bisa pulang ke rumah karena harus melayani anak-anak kecil yang terpapar virus.
Sehingga Bella yang baru berusia hampir dua tahun juga dia dititipkan di rumah orangtuanya karena dia juga merasa khawatir kalau Bella bersama istrinya malah akan tidak diawasi.
Benar saja, karena klub malam tutup maka pesta poranya dia pindahkan ke rumahnya, karena toh suaminya juga tak ada di rumah.
Suatu hari Herdanu harus mengambil pakaian Bella dan juga harus mengambil persediaan susu kaleng keponakannya, dia nekad menembus masuk rumah kakaknya untuk mengambil keperluan keponakannya itu.
Dan di dalam rumah kakaknya, ternyata Ana kakak iparnya terlihat sedang mabuk parah tanpa busana bersama seorang pria.
Herdanu marah besar, lalu dia memotret semua keadaan rumah yang kacau balau dan juga kakak iparnya yang sedang berangkulan dengan seorang pria di sofa.
Keduanya masih tak sadar diri karena pengaruh alkohol yang banyak, jadi tak paham kalau Herdanu memotret mereka.
Lantas dia mengambil semua barang milik keponakannya, lalu dia pergi dari rumah kakaknya itu.
Dan sambil emosi dia kirim semua foto yang dia ambil tadi kepada Hernowo, dan itu yang membuat Hernowo terguncang dan mabuk- mabukan lagi.
Hari kedua Anton dirawat, dia masih demam, bersin dan tenggorokannya sakit, sesekali dia mulai batuk.
"Apakah aku akan sama dengan dia juga nantinya?" tanya Anton kepada Susan sambil menunjuk Hernowo.
"Oh jangan dong, aku sudah hampir satu minggu di ruangan ini. Sama denganmu juga waktu itu, obatnya adalah tetap berpikir positif jangan menyerah. Ingat kamu juga masih ada anak dan istri menanti di rumahmu,"ujar Susan sambil menatap Anton memberi semangat.
"Istriku tak tahu kalau aku ada di ruangan ini, ponsel aku titipkan di perawat Irma agar dia menjawab kalau aku sibuk sekali," sahut Anton terlihat sedih ingat Mela dan Gibran.
"Anton kamu salah, mustinya jujur saja katakan apa adanya. Mereka juga berhak tahu kondisimu, dan kalau kamu tahu doa keluarga juga menjadi penyemangat kita," lanjut Susan menasehati Anton.
"Setiap hari aku melakukan telepon video dengan anakku, dan itu yang membuat aku cepat sembuh. Ayo nanti kalau ada perawat masuk titip pesan agar ponselmu diambil saja dari perawat Irma".
Sejenak Anton merenung, dia memikirkan apa yang barusan disampaikan oleh dokter Susan, ada benarnya juga karena pasti sekarang Mela bertanya-tanya tentang dirinya.
"Mbak Eti, aneh yah kok dokter Anton selalu sibuk tak bisa dihubungi sudah tiga hari ini. Gibran menangis terus ingin bicara dengan Pipinya," kata Mela mencurahkan isi hati kepada Eti.
"Sabar Bu, mungkin memang benar dokter sibuk banyak yang sakit. Kan di televisi juga jumlah orang sakit bertambah terus setiap harinya,"sahut Eti berusaha menenangkan hati Mela.
"Biasanya walau sibuk, pasti Pipinya selalu menyediakan waktu menyapa anaknya. Tapi tiga hari ini malah tidak sama sekali, dan setiap di telepon pasti perawat Irma yang menjawab. Aku khawatir mbak Eti, takut ada apa-apa dengan dokter Anton," kata Mela lagi sambil mulai menangis.
Eti tidak bisa melakukan apa-apa selain memberikan semangat kepada Mela agar tidak berpikir yang buruk.
Hari kelima Anton batuk parah, tapi dia tetap semangat terus meminum obat dan vitamin.
Hari ketujuh ponsel baru bisa dia terima karena perawat Irma baru bisa dikonfirmasi oleh perawat yang bertugas di ruangan itu.
Demam sudah turun dan sakit tenggorokan sudah mulai mereda, begitu juga dengan batuk dan bersinnya.
Anton berdebar hatinya lalu menghubungi istrinya, dan ketika kontak teleponnya tersambung, tak kuasa dia menahan air matanya melihat istrinya sedang duduk sambil memangku anaknya.
"Pipi kemana saja?"tanya Mela juga sambil berurai air mata.
Anton perlahan menceritakan apa yang terjadi dan Mela sangat terkejut sekali. Lalu Mela menangis tersedu-sedu karena sangat khawatir dengan kondisi suaminya.
"Mi sayang, lihat aku juga semangat loh. Masa Mimi sayang yang jadi seperti itu, menangis begitu. Ayo sayang kamu harus percaya aku akan bisa melewati segalanya," kata Anton dengan penuh semangat kepada istrinya.
Benar apa yang dikatakan dokter Susan, dengan mengatakan apa adanya kepada keluarganya ternyata menjadi energi yang membuat dirinya menjadi kuat.
Hernowo sudah bisa lepas dari alat bantu pernafasan tapi masih terlihat lemas tak bertenaga.
"Enak benar bro, bisa telepon sama anak istri. Sementara aku apa, cuma lelaki tak berguna,"keluh Hernowo ketika melihat Anton baru selesai berkontak video telepon dengan anak dan istrinya.
"Anakmu perempuan kecil kan hampir seumuran dengan anakku. Dia pasti senang kalau papanya meneleponnya, papa yang penuh semangat menyapa dia daripada punya papa yang berkeluh kesah terus," sindir Anton mencoba membangkitkan semangat temannya.
"Aku lebih baik mati sajalah, untuk apa hidup juga sudah hilang harga diriku punya istri selingkuh di depan mata," keluh Hernowo lagi sambil menunduk.
"Mati saja sana, ibumu juga tak akan hidup sampai seratus tahun, adikmu akan punya rumah tangga. Lalu Bella sama siapa, tentu kembali ke ibunya dan nanti diajari mabuk dan hidup bebas," sahut Anton lagi dengan cueknya.
Hernowo terdiam dan terlihat berpikir apa yang dikatakan oleh Anton. Lalu dia memandang Anton sambil berkata," Sialan kamu, mana aku mau anakku kelak jadi pemabuk".
Anton hanya mengangkat kedua bahunya lalu menarik selimut dan memejamkan mata.
Yang pasti di hari ke empat belas, Anton dinyatakan sehat tapi belum boleh kembali ke kotanya. Dia tetap harus bertugas lagi, sementara waktu selama empat belas hari lagi dia tetap di karantina di suatu tempat di wisma olahraga.
Dokter Susan sudah lebih dahulu sehat dan sudah bertugas lagi, sementara Anton juga sudah mulai kembali sehat seperti sedia kala.
Hernowo yang belakangan menyusul ke tempat karantina terdengar sedang menelepon adiknya untuk meminta bantuan pengacara terkenal.
Dia akan menceraikan istrinya dan mengambil hak asuh anak penuh ditangannya, karena dia punya bukti kuat kalau istrinya tidak menjaga anaknya dengan baik.
Lalu dia berkata kepada Anton, mengucapkan terima kasih karena menyadarkannya.
Hernowo berjanji akan menjaga anaknya, dan dia harus tetap hidup demi anaknya.
__ADS_1