Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Ketiga Puluh Delapan


__ADS_3

"Bun....Bun...sssttt.....sinikan chimtau nya....tuh disitu sinikan...ini Kay sudah tidur...," Fajar memanggil istrinya dengan berbisik karena anak bayinya tidur dipangkuannya.


"Chimtau itu apaan?"tanya Anita sambil berbisik juga tak paham.


"Aduh...itu Bun....yang buat kepala Kay... yang bentuk beruang itu tuh..., "kata Fajar sambil menunjuk bantal kecil berbentuk kepala beruang.


"Oohhh..bantal....ini bantal pak.... bukan apa tadi...chim..chim..apaan tadi tuh...


Mana aku ngerti....hihihi..., "Anita mengomel sambil menunjukkan bantal kepada suaminya dan diselingi cekikikan.


"Ya maaf ....kadang suka nge hang.... ingatnya pakai kata yang tadi....sinikan bantalnya...ini anak sudah pulas, "lalu Fajar meletakan anak bayinya perlahan saat Anita sudah meletakan bantal anaknya di dekat suaminya.


Sering keduanya cekcok manja soal perbedaan kecil seperti tadi, karena suaminya kental berbahasa Melayu juga Tiochiu sementara istrinya kental sekali berbahasa Sunda.


Tapi keduanya selama pernikahan tidak pernah beradu mulut sampai leher harus menegang keluar otot-ototnya karena amarah membara.


Mereka membawa perbedaan pendapat, pemikiran atau apapun dengan santai. Sehingga keharmonisan rumah tangga mereka selalu terjaga.


Mela berdiri di depan kamar Anita dan Fajar, dia ragu-ragu mau mengetuk pintu. Hari memang belum terlalu malam masih sekitar jam delapan malam.


Apotik menjelang tutup dan itu bukan tugas Mela, tapi tugas adiknya.


Mela ingin ijin pergi sebentar ke supermarket terdekat untuk membeli keperluan pribadinya.


Saat hendak mengetuk, tak tahunya keduluan Anita yang tiba-tiba keluar mau mengambil sesuatu ke dapur di bawah.


"Mela...ada apa....?"tanya Anita saat melihat Mela di depan pintu kamarnya.


"Eh...cici...Mela minta ijin mau ke supermarket dekat pasar sana sebentar mau beli keperluan pribadi," Mela meminta ijin kepada calon iparnya itu.


"Bersama siapa kesana nya... apakah bersama Sila atau Wahyu ?"tanya Anita cukup heran karena Mela jarang pergi keluar sendirian.


"Saya sendiri saja...kan cuma sebentar saja kok...habis membeli segera pulang lagi,"ujar Mela meyakinkan Anita.


"Ya sudah sana hati-hati yah... kalau tidak sudah diantar saja sama Wahyu naik motor tidak apa-apa kok, "Anita kembali menegaskan agar Mela diantar adiknya saja.


"Tak apa cici...cuma sebentar ini nanti kalau perlu dijemput nanti saya menghubungi Wahyu".


Anitapun mengijinkan Mela pergi. Lalu Mela segera menyeberang jalan menanti angkutan umum yang melewati supermarket tersebut.


Fabian sudah tidak ada pasien, hari ini hanya tujuh orang saja jadi dia bisa pulang agak cepat.


Dia melihat Mela berada di seberang jalan sedang menanti angkutan umum. Lalu dia segera masuk mobilnya dan menyalakan mesinnya berusaha menyusul Mela.


Namun terlambat Mela sudah naik ke dalam angkutan, Fabian mengikutinya dari belakang.


Tak lama Mela turun dari angkutan umum dan memasuki supermarket yang lumayan besar di sana. Supermarket tutup pukul sepuluh malam, jadi Mela harus segera membeli keperluan pribadinya secepatnya.


Mela mencari deretan pembalut wanita dan mengambil salah satu merek yang sesuai dengan kebiasaannya.


Karena sudah di supermarket maka dia juga sekalian membeli keperluan lainnya seperti sabun mandi, pasta gigi, shampoo, deodorant dan lainnya untuk dirinya dan juga untuk adiknya.


Mela asik memilih-milih berbagai merek keperluan pribadinya, dia tidak menyadari sedari tadi ada Fabian yang berpura-pura berbelanja padahal menguntit dirinya.


Fabian diam- diam mendekati Mela, dia sengaja berdiri di belakang Mela dengan harapan saat Mela berbalik pasti menabrak dirinya.


Dan benar saja setelah Mela mengambil deterjen, lalu dia berbalik dan menabrak Fabian.


"Astaga...dokter Bian....maaf saya tidak sengaja, "kata Mela cepat-cepat minta maaf dan ingin segera berlalu, dia kaget dan tidak merasa nyaman ada Fabian.


"Mau kemana kamu Mela, sudah menabrak terus mau pergi begitu saja....enak sekali kamu.., "Fabian pura-pura tidak suka telah ditabrak Mela.


Sambil menghela nafas, Mela berkata," Kan saya sudah minta maaf barusan kepada dokter. Sekarang saya mau pulang karena sudah malam".


"Kemarikan belanjaanmu, sekalian aku bayar ke kasir, " Fabian merebut keranjang belanjaan Mela.


"Tidak usah dokter, saya juga bawa uang sendiri," Mela berusaha merebut kembali keranjang belanjaan itu.


Tapi tenaganya lebih lemaj jadi dia tak berhasil merebutnya dari tangan Fabian, sekarang dia setengah berlari mengejar Fabian yang sudah membawa keranjang belanjaanya ke kasir.


Fabian membayar semua belanjaan Mela. Lalu setelah di masukan ke dalam kantong plastik oleh petugas kasir, Fabian tetap memegang erat kantong belanjaan tersebut.


Mela lalu mendekati Fabian sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Dokter..maaf tadi belanjaan saya semuanya dua ratus ribu rupiah. Maaf dokter ini uangnya, saya kembalikan kepada dokter, "kata Mela sambil dia gelisah sekali karena belanjaanya ada di tangan Fabian.


"Kata siapa dua ratus ribu...semuanya seratus sembilan puluh delapan ribu tiga ratus lima puluh rupiah. Sembarangan kamu bilang dua ratus ribu...maaf aku tidak terima uangmu... masukan lagi ke dompet!," perintah Fabian kepada Mela dengan tetap memegang kantong belanjaanya.


Mela dengan sebal menatap Fabian, lalu berkata," Ya saya masukan lagi, terima kasih dokter sudah membayarkan. Tapi maaf sekarang sudah malam saya harus segera pulang. Saya mau minta kantong belanjaan saya".


"Boleh... tapi ambilnya di dalam mobil saya, "Fabian segera berjalan cepat menuju mobilnya.


Mela kesal tapi mau tak mau dia mengikuti Fabian menuju mobilnya.


Fabian sudah memasuki mobil, sementara Mela masih berdiri di sisi mobilnya. Lalu kaca belakang di dekat Mela berdiri terbuka, dan Fabian berkata," Ayo masuk...aku antarkan kamu pulang...cepatan !!!!".


Dengan ragu-ragu Mela membuka pintu belakang itu dan duduk di jok belakang. Dalam hatinya masih cukup tenang karena duduknya tidak dikursi disamping Fabian.


Mobil Fabianpun melaju, dan dia memberikan kantong belanjaan tadi kepada Mela. Mobil melalui petugas parkir yang menjaga di bagian pintu keluar halaman supermarket.


Fabian membayar parkir, dan menuju keluar halaman supermarket tersebut. Seharusnya menuju arah apotik Wiharja Farma dari arah supermarket tersebut adalah belok ke kanan.


Namun mobil sekarang berbelok ke kiri jalan dengan cepat melaju di jalanan.


"Dokter!!!!....salah jalan....harusnya ke arah belakang sana....!!!! Dokter!!!!! Berhenti!!!!!!!," Mela berteriak-teriak mulai ketakutan karena Fabian membawanya entah kemana.


Mela mencoba membuka pintu namun tak bisa, lalu mencoba pintu sebelahnya sama tak bisa juga. Dia berpikir akan loncat saja dari jendela tapi sama jendela juga terkunci. Rupanya Fabian sudah merencanakan semua ini sehingga dia mengaktifkan child safety lock atau kunci keamanan anak, sehingga tidak bisa dibuka dari dalam.


Sepanjang jalan mencoba memukuli jendela agar pecah tapi tak bergeming.


Mela mulai menangis dan Fabian hanya diam saja tak mempedulikannya.


"Wah...Acoy....masa kalah sama pak Dokter....bikin malu saja nih...," kata Ojan Hansip penjaga malam di sekitar rumah Jaya saat melihat kawannya sesama Hansip yang dipanggil Acoy kalah telak main catur dari Anton.


"Hahahaha.... Anton dilawan.... ayo maju Ojan....masa juara RT kalah sama aku....Hahahaha,"kata Anton di teras rumah Jaya malam itu.


Mereka sedang asik bermain catur, sampai saat ini Anton masih jadi pemenang setelah mengalahkan Acoy yang katanya juara RT saat lomba Tujuh Belas Agustus yang lalu.


"Siaplah... ayo pak Dokter....mari kita bertarung.... Sekarang pakai taruhan ah....biar rame dong , "kata Ojan menantang Anton.


"Oke ...yang kalah harus memijat yang menang.... bagaimana ?"tantang Anton kepada Ojan.


"Siap komandan ..ini pertaruhan harga diri.....kemon coy dampingi aku di sini," ujar Ojan sambil menyingsingkan lengan bajunya.


Sementara Jaya tampak anteng duduk di dekat pintu sambil bermain chatting dengan wanita-wanita koleksinya.

__ADS_1


Karena Anton sedang sibuk dengan pertarungannya, maka telepon genggamnya disimpan di dalam kamarnya.


Mobil Fabian menuju ke sebuah tempat penginapan yang entah berada dimana. Mela berurai air mata sambil merasa lelah berteriak dan memukul-mukul jendela sedari tadi. Kaca mobil Fabian terlalu gelap untuk dilihat dari luar sehingga dia berusaha meminta tolong kepada orang-orang lewatpun percuma saja tak ada yang melihatnya.


Fabian lalu menyuruh Mela turun, dan diapun turun sambil ditangannya membawa kantong belanjaanya.


Lalu Fabian mengajaknya masuk ke dalam penginapan. Sepanjang Fabian memesan kamar, tangannya memegang erat tangan Mela dan sangat sulit dilepaskan.


Petugas hotel tampak terbiasa dengan pemandangan seperti itu sehingga mereka acuh saja melihat lelaki membawa wanita menangis atau membawa wanita nakal sekalipun.


Maklum ini adalah penginapan murah yang letaknya jauh dari keramaian dan memang seringnya orang- orang hanya mempergunakannya untuk berbuat hal-hal seperti itu.


Mela terus menangis, dia menyesal mengapa tadi tidak menurut kata Anita untuk dirinya diantar oleh Wahyu saja. Sekarang dia menyesal setengah mati, tapi dia akan mencoba untuk bisa melepaskan diri dari Fabian.


Akhirnya mereka ditunjukkan ke salah satu kamar yang bernomor 201, walau sekilas tapi Mela ingat nomor itu.


Setelah pintu ditutup Fabian langsung memeluk Mela, dan Mela meronta mendorongnya.


Tentu hal ini membuat Fabian semakin penasaran, dia membuka kemejanya dan kembali menarik Mela sambil langsung memegang *********** Mela....disitu Fabian tersadar bahwa kemungkinan Mela sedang haid.


Karena terpegang olehnya ada seperti pembalut wanita di balik celana Mela.


Segera Fabian mendorong Mela sambil berkata dan menatap dengan beringas dan nafasnya terdengar menderu," Kamu tak bisa kunikmati tapi mulutmu bisa kupakai".


Mela ketakutan sekali saat Itu, dia merogoh kantong belanjaanya dan terpegang olehnya deodorant semprot. Lalu dia segera mengambilnya dan menyemprotkan ke arah muka Fabian.


Fabian bisa menghindari dengan menghalangi wajah dan matanya dengan kedua tangannya. Kesempatan itu diambil Mela dengan masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.


Badannya gemetar sekali, dia merogoh tas selempangnya untung telepon genggamnya dibawanya.


Dia mencoba menelepon Anton tapi tak diangkat juga walau sudah dua kali dia mencoba menghubunginya. Lalu dengan tangan gemetar mencari lagi nama lain lalu memijit nama Anita.


"Bun...enak banget pijitan bunda tuh... mana mungkin aku mencari wanita lain...istriku pandai segala-galanya... makin cinta aku sama bunda, "kata Fajar sambil menikmati pijatan tangan istrinya di bahunya.


"Gombal kali abang ni, mulut manis ... lelaki dimanapun sama saja. Awak mati tiga hari .... abang nikah lagi, " sahut Anita sok berlogat batam sambil mencibirkan bibirnya di atas kepala suaminya.


"Tak baik adek ni buruk sangka kepada awak, tak usah tunggu mati...besok awak kawin dua...hahahahha,".


Sontak bahunya ditekan keras oleh istrinya sambil rambutnya yang tipis dijambaknya juga.


Tiba-tiba terdengar telepon genggam miliknya berdering, dengan malas dia mengambilnya dari meja riasnya sambil mendumel," Siapa malam-malam begini telepon....bikin kesal saja".


Lalu dilihatnya nama Mela dan diapun mengangkatnya," Aya Naon atuh Melaaaaa...?". (\= Ada apa sih Mela)


"Cici....tolong....tolong....aku di sekap...," Mela meminta tolong sambil setengah berbisik dengan bibir yang gemetar dan bicara terbata-bata.


"Haaahhh...kamu dimana?"tanya Anita kaget sekali, terdengar dari belakang Mela ada suara gedoran pintu dan juga teriakan seorang lelaki memanggil nama Mela sambil memaki-maki.


"Engga tahu dimana....saya disekap Fabian...sekarang saya bersembunyi di kamar mandi....Fabian mencoba masuk kemari tapi saya kunci pintunya," Mela menangis tersedu-sedu karena takut sekali kalau Fabian yang sedang berteriak-teriak sambil menggedor pintu kamar mandi tiba-tiba masuk.


"Ayah.!!!!..ini Mela disekap Fabian..tapi Tak tahu dimana !!!!"Anita dengan panik berteriak-teriak kepada suaminya.


"Mana...mana...sini Handphonenya," Fajar segera mendekati dan meraih handphone istrinya.


"Mela.....Mela.....tenang...ini Fajar... kamu tarik nafas...tarik nafas.....nah... Sebentar lagi kamu matikan telepon. Lalu masuk ke aplikasi pesan chat mu, disana cari namaku lalu kamu bagikan lokasimu padaku..pahamkan...paham..


oke... lakukan dengan tenang yah....," Fajar selalu bisa mengendalikan suasana panik seperti apapun.


Untung Mela segera paham maksud Fajar dan dia melakukan apa yang di sampaikannya.


Wahyu yang saat itu sedang santai segera berlari menemui Fajar.


Kemudian Fajar memintanya segera membuka pintu garasi dan halaman, kemudian Wahyu disuruhnya segera naik ke dalam mobil.


Encum menggendong Kaysan ditangan kanannya dan tangan kirinya memeluk bahu Keiza, kedua anak ikut menangis karena orangtuanya panik.


Semua orang di apotik yang sudah hampir tertidur jadi terjaga karena mendengar teriakan dari Fajar dan Anita.


Anita mencoba menelepon adiknya berkali-kali tapi tak diangkat juga.


"Wahyu coba kamu pantau terus yah.. petunjuk arah ini..aku mau menelepon menghubungi kawanku....eh....di titik merah itu tertulis apa yah...".


"Eeemm...titik merah yang ini kan... penginapan Melati XXX di jalan CikXXX," jawab Wahyu yang masih tak paham ada apa sebenarnya.


"Maaf ini kita mau kemana sih Ko Fajar?tanyanya Polos kepada Fajar.


"Kakakmu disekap si Fabian, "jawabnya sambil terus mengemudikan mobilnya ke arah sesuai petunjuk jalan dari gawainya.


Wahyu sontak terdiam dan dia tak bisa berkata apa-apa, dipikirannya saat ini membayangkan kakaknya yang sedang dilukai oleh Fabian.


Fajar mempunyai dua telepon genggam dengan dua nomor berbeda yang satu digunakan di gawai pintar, sementara satu lagi masih dipakai di handphone masa lalu yang masih berfungsi.


"Bang...kau dimana bang, awak nak minta tolong ?"Fajar menelpon Togar dari handphone jaman dulunya.


"Ah Kepri kenapa pulak kau, aku masih di jalan ini..mengapa kau?"tanya Togar kepada sahabatnya.


"Bang kau paham penginapan Melati XXX di jalan CikXXX?"tanya Fajar lagi.


"Pahamlah...mau apa pulak kau tanya, penginapan ecek-ecek .....baahhh!".


"Bang dengar...adekku disekap orang disana....aku butuh bantuan abang...".


"AIDAAAHHH....bergerak kami kesana!!! Lalu Togarpun mengajak kawan-kawan lainnya, dia menyampaikan kalau Kepri minta bantuan.


"Bro...itu telepon dari tadi bunyi terus.. angkat dulu coba...nanti pacarmu pikir bro dokter sedang aku bawa ke karaoke dangdut... gawat bro...nanti Jaya lagi yang kena sasaran tuduhan, "Jaya mengingatkan kalau dari tadi telepon genggamnya Anton terus berbunyi.


"SKAKMAT..!!!!... Hahahaha.... yes..... menang lagi....!!!!"teriak Anton girang saat menang lagi yang kedua kali melawan Ojan.


"Dokter memang terus.....punya ajimat sepertinya nih...Hahahaha , "Ojan dua kali tekuk lutut menghadapi permainan caturnya Anton.


"Kamu saja yang tidak bisa....hahaha.... masa kaki buntung punya ajimat.... hahahah, "kata Anton sambil beranjak dan berjalan ke kamarnya.


Telepon berbunyi terus dan tercantum nama kakaknya, segera dia mengangkat telepon genggamnya itu.


"Assa... ," belum selesai Anton berucap salam Anita langsung berteriak-teriak dari seberang sana.


"Toooonnn....darimana saja kamu...!!!Mela.....Tooonnn....Melaaaaa...dijahatin Fabian.....aduh Ton.. Cici bingung harus gimana...ko Fajar sedang mencarinya..,"


Anita meracau tak tahu harus bicara apa soal Mela yang tengah disekap Fabian.


"Sabar....sabar....gimana sih...ada apa sebenarnya?" tanya Anton mencoba menenangkan kakaknya.


Lalu Anita mencoba menjelaskan lagi, dan Anton terkejut sekali. Tangannya mengepal merasa geram mendengar apa yang kakaknya sampaikan.


"Jaya...tolong aku..Mela disekap orang," Anton memohon bantuan kepada Jaya untuk mengantarnya ke Bandung.

__ADS_1


"Waduh...ayo sini aku yang menyetir mobilmu".


Anton dan Jaya malam itu juga segera meluncur menuju Bandung, dan Jaya yang mengemudikan mobil. Sebelumnya mereka menitipkan rumah kepada Ojan dan Acoy.


Fajar tiba di depan penginapan Melati XXX sesuai petunjuk lokasi yang Mela kirimkan dari aplikasi pesan chat.


Dilihatnya mobil Fabian ada terparkir di sana, lalu Fajar mengajak Wahyu turun. Dan Anak itu tampak tak sabar ingin segera menemukan kakaknya.


Fajar mendatangi resepsionis, bertanya pemilik mobil di depan ada di kamar mana. Bukannya menjawab baik-baik malah resepsionis tadi memanggil orang-orang bertubuh besar dan kekar semacam tukang pukul.


Tiga orang datang menghadapi Fajar yang bertubuh kecil dan Wahyu yang gemuk, mereka tampak senang ada pekerjaan menghabisi orang Cina seperti Fajar.


"Mau apa tanya-tanya, mau kuhajar kalian....Cina tengik mau mengganggu penginapan kami...siapa Kamu hah!!!!" tanya salah satu orang berbadan besar itu sambil menunjuk wajah Fajar.


Fajar walau bertubuh tidak terlalu tinggi dan badannya agak kurus, tapi dia tak bergeming. Dia tatap orang itu sambil berkata," Aku cuma tanya dimana kamar yang memakai mobil itu, ada urusan aku dengan orang itu bukan dengan kalian!".


"Waaaahhh....berani yah...minta dipukul rupanya orang ini yah...".


Togar menghentikan mobil angkutan umum miliknya saat terlihat minibus putih bertuliskan Wiharja Farma di halaman sebuah penginapan , berarti Kepri sahabatnya ada di dalam sana.


Dia membawa lima orang Medan yang bertubuh kekar, kawan-kawannya di terminal dan kebetulan mereka juga kenal dengan Kepri yang baik dan sering menolong mereka.


Tanpa ditunda lagi segera menyusul masuk ke dalam ruang resepsionis, dan disana terlihat si Kepri sedang diancam akan dipukul oleh seseorang.


"HHEEEEIIII!!!!.KAU MAU KUPATAHKAN LEHERMU ATAU NYAWA KAU KU BUAT MELAYANG!!!!" teriak Togar dengan kencang kepada orang itu.


Orang itupun terkejut saat tiba-tiba Togar dan kawan-kawannya masuk ke ruangan itu.


"Bang Togar, mengapa kemari Bang?" tanyanya saat tahu yang datang adalah sang tokoh yang disegani di terminal angkutan umum.


"TUNJUKKAN KAMAR ORANG ITU KEPADA SAUDARAKU....CEPAT ATAU KAU KUBANTAI HABIS!!!!".


"Iiiyyyaaa...Bang...mmaaafff... Bang... ayo ikut saya".


Mela menangis terus saat melihat pintu kamar mandi sedikit demi sedikit mulai terbuka oleh dorongan tubuh Fabian yang saat itu sedang kesal karena Mela menolak memuaskan birahinya.


Sambil berjongkok di sudut dinding kamar mandi sambil berdoa dalam hati, semoga Allah mendengarkan dan menjawab doanya.


Dia sambil terus menangis ketakutan sambil mulutnya tak putus memohon diberikan pertolongan.


Akhirnya pintu kamar mandi terbuka dan Fabian melihat Mela berjongkok di sudut dinding, lalu mendekatinya sambil berusaha membuka retsleting celananya sendiri.


Ditariknya kerudung Mela dengan kasar sampai terlepas, dan jarum penahan kerudungnya menggores panjang dagu Mela hingga berdarah.


Lalu Fabian menjambak rambut Mela sambil mendonggakan kepalanya, tanpa ada rasa kasihan tangan satunya menekan pipi Mela memaksa membuka mulutnya lebar-lebar.


Lalu ketika dia akan mengeluarkan ***********, tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah Fajar menarik bahu Fabian lalu menghajar wajah Fabian dengan tinjunya.


"Baj*ng*n kau....bangs*t!!!!!!!" teriak Fajar sambil menghujamkan tinjunya.


Fabian terjatuh dan dari hidungnya keluar darah segar.


Lalu Fajar menarik tangan Mela segera disuruhnya keluar dan di depan pintu Wahyu adiknya sudah menunggu lalu segera memeluk kakaknya.


Fabian bangkit dan mencoba menghajar balik Fajar, namun perutnya terasa sakit karena anak buah Togar menghantam perutnya dengan kepalan tangannya.


Fabian kembali terjatuh tersungkur, lalu dia diseret oleh Fajar dan kawannya ke dalam kamar.


Petugas hotel datang dan berkata," Maaf silahkan selesaikan masalahnya di luar saja yah...jangan di penginapan kami....maaf segera anda semua pergi jangan ada keributan di sini, kami tidak mau sampai berurusan dengan polisi".


Fajar kembali menyeret Fabian dengan kasar keluar dari kamar.


Kunci mobil Fabian diambil oleh Fajar, dan sesampainya di depan penginapan Fabian diseret dimasukkan ke dalam angkutan umum, didorong ke belakang dan dijaga oleh tiga orang anak buah Togar yang berbadan kekar.


Mobil Fajar dikemudikan oleh Togar dan di dalamnya ada Mela yang masih terus menangis sambil dipeluk Wahyu.


Fajar mengemudikan mobilnya Fabian, dan kini mereka semua meluncur menuju kediaman Fajar.


"Sabar bro...sabar....tenang yaaahhh.... aku mencoba mengemudi dengan secepat mungkin asal kamu tenang yah....kamu jangan terlalu tegang bro," Jaya berusaha membuat tenang hati sahabatnya yang sekarang terlihat mulai sakit kepalanya.


Jaya memang mengemudikan dengan sangat cepat dan berusaha konsentrasi tingkat tinggi agar bisa segera sampai ke rumah sahabatnya itu di Bandung.


Mela langsung di peluk Anita saat turun dari mobil dan segera dibawa ke kamar kosong di lantai atas rumahnya.


Sambil mengobati luka di dagu Mela, dia juga meminta Sila membawakan baju ganti untuk Mela.


Encum membawakan air teh manis hangat untuk Mela.


Sambil menangis di pelukan Anita, dia menceritakan kejadian dari awal sampai tadi diselamatkan oleh Fajar.


Anita sungguh tidak menyangka Fabian begitu bejat sekali, padahal dia adalah seorang dokter ahli spesialis mata yang cukup terkenal dan juga mempunyai rumah tangga yang harmonis.


Lalu Anita, meminta Sila untuk tidur di kamar atas itu menemani Mela yang masih tampak terpukul.


Anita keluar kamar itu kedua tangannya menangkup di depan dadanya. Dia juga


merasa sedih dan merinding saat tadi mendengar kisah Mela, untung Mela tidak sampai ternoda.


Jaya memasuki halaman parkir Wiharja Farma, karena tampak masih terbuka lebar dan ada beberapa buah mobil lainnya di depan situ.


Wahyu segera menemui Anton, dan ketika melihatnya langsung memeluk Anton sambil mencucurkan air mata


Anton juga tidak bisa berkata apa-apa hanya menepuk bahu Wahyu mencoba memenangkannya.


Lalu Anton mengajak Jaya masuk ke dalam rumahnya, sementara Wahyu dan beberapa kawannya duduk di halaman apotik sambil menjaga kendaraan.


"Cici....bagaimana Mela?"tanya Anton kepada kakaknya saat masuk ke bagian dalam rumahnya dari pintu apotik.


"Masyaallah... Anton...sini duduk dik.... tadi Mela minta ijin pergi sendirian ke supermarket dekat pasar, mau membeli keperluan pribadinya".


"Tak tahunya Fabian mengikutinya dan lantas Fabian membawa kabur dia ke penginapan lalu mencoba melecehkan dirinya. Untung saja Mela menyemprot Fabian dengan deodorant semprot dan segera bersembunyi di kamar mandi sampai ko Fajar dan kawan-kawannya tiba menolongnya, "Anita menceritakan kronologis kejadian sampai Mela bisa disekap Fabian.


"Bagaimana sekarang kondisi Mela sekarang?"tanya Antonkhawatir akan kekasihnya.


"Dia barusan tidur ditemani Sila, sudah besok saja kamu temui dia. Kasihan kalau sekarang kamu temui, pasti dia akan tambah terpukul lagi," kata Anita memberi saran kepada adiknya agar besok saja menemui kekasihnya.


Lalu Anita memberitahu kalau Fajar dengan beberapa kawannya ada di garasi samping rumah, dan juga ada Fabian di sana.


Anton langsung beranjak melangkah ke garasi walau kakaknya melarangnya. Jaya segera menemaninya agar tidak terjadi huru hara.


Saat memasuki garasi terlihat Fabian tengah terikat di kursi, wajahnya babak belur habis di hajar.


Anton tak kuasa menahan emosi dan dia juga melayangkan tinjunya ke wajah Fabian.


Segera Jaya memegangi tangan Anton, juga Fajar dan lainnya melerainya.

__ADS_1


"Sudah Ton...percayakan kepada aku untuk membereskan masalah ini".


__ADS_2