
Miranti turun di hotel tempat yang sudah dipesankan perusahaannya.
Jaya mengantarkan dirinya hanya sampai lobby hotel tersebut.
Sebelum pamit pulang dia berkata kepada Miranti.
"Aku senang dengan semua perubahanmu. Tapi aku tidak tahu apakah perubahanmu ini karena aku atau keterpaksaan".
Miranti memandang Jaya, lalu dia tersenyum ," Aku melakukan ini semua karena Allah. Dan aku memang ingin berubah, kamu hanya perantara saja yang waktu itu pernah mencoba mengingatkan aku".
Jaya tersenyum dan berkata lagi," Besok kita kembali kepada kesibukan masing-masing lagi. Apakah ada harapan untukku bertemu lagi denganmu besok?".
"Harapan selalu ada, tergantung dari orangnya. Apakah akan mengambil harapan itu, atau membiarkan harapan itu berlalu dan mencari orang lain yang mendambakan harapan".
Jaya memandang wajah Miranti dengan lekat-lekat, seakan berat sekali melangkah meninggalkan wanita itu.
"Kamu sampai kapan di kota ini?" tanya Jaya.
"Surat tugasku hanya satu minggu ini saja, minggu depan aku kembali ke Bandung,"jawab Miranti.
"Kamu masih menyimpan nomor kontak ku bukan?".
"Ya tentu saja masih aku simpan".
"Baiklah, besok kalau kamu tidak sibuk nanti aku jemput. Hanya sekedar makan malam atau jalan-jalan".
"Baik tuan Jaya, aku tunggu besok di sini".
Lalu mereka berpamitan sambil tangan mereka bergenggaman dan sulit dilepaskan.
"Mereka pacaran yah?"tanya Aprilia kepada Haikal.
"Sepertinya sih begitu," jawab Haikal.
Mereka berdua di dalam mobil melihat pertunjukan romantis di depan lobby hotel itu.
Aprilia hanya diam saja lagi setelah bertanya itu.
Sebagai lelaki pasti timbul rasa penasaran dan iseng bertanya.
"Kok diam habis lihat orang pacaran, pasti lagi ingat pacarnya yah," basa basi lelaki yang ingin tahu status seorang gadis.
"Hmmm....basi deh,"jawab Aprilia sambil menghela nafasnya.
"Kalau basi buang dong, jangan dimakan lagi," tukas Haikal dalam rangka memancing.
"Hahaha...Iya yah...jangan di kasih ke kucing juga yah...kasihan nanti mules," sahut Aprilia sambil tertawa.
"Benar banget, soalnya kucing kalau mules reseh. Tidak mules juga suka reseh kok," sahut Haikal lagi.
"Tapi ada kok kucing yang tidak reseh," kata Aprilia.
"Kucing apaan emangnya?".
"Kucing dalam karung".
"Kok bisa kucing dalam karung tidak reseh?".
"Iyalah...kan di dalam karung, gelap sendirian, yang ada ketakutan".
"Hmm...kalau di dalam karung berdua sama pacarnya pasti senang dong bukannya takut," sahut Haikal lagi.
"Nah itu...kalau kucing berdua pasti reseh, coba kalau musim kucing kawin...berisik loh".
"Hahaha...kalau sendiri juga reseh suka mencuri".
"Makanya mending masukin ke dalam karung sendirian jadi tidak reseh dan tidak mencuri," sahut Aprilia tak mau kalah.
Lalu mereka berpandangan dan tertawa bersama karena jadi membahas kucing yang tak jelas.
Tak lama Jaya masuk dengan wajah cerah bersinar, karena hatinya berbunga-bunga.
"Aman Bang?"tanya Haikal.
"Aman banget bro,"sahut Jaya sambil memeluk bantal yang ada di mobil.
Lalu Haikal melajukan mobilnya menyusuri kota Cirebon, memperlihatkan suasana malam kota itu kepada Aprilia.
Tak lama Haikal tiba di perumahan, lalu dia berkata kepada Jaya.
"Bang, aku mau mengantar Apri dulu ke rumah Bang Anton. Mau ikut atau mau duluan ke rumahku?"tanya Haikal sambil berharap Jaya paham maksudnya.
Untung Jaya segera paham dan menjawab ," Aku turun di depan saja deh, nanti ke rumahmu jalan saja. Gerah ingin segera mandi".
Lalu Jaya benar turun di depan jalan menuju kediaman Haikal, dan Haikal melaju lagi menuju rumah Anton.
"Makasih yah sudah mengajak putar-putar barusan,"kata Aprilia.
"Aku tidak mengajak putar-putar kok takut pusing. Barusan sih berkeliling kota," sahut Haikal sambil senyum.
"Hahaha...Iya benar juga, kalau putar-putar bisa pusing yah. Makasih sudah mengajak keliling kota".
"Eh...Apri tolong dong sebentar ketik ini,"kata Haikal sambil memberikan ponselnya.
Aprilia tersenyum, lalu meraih ponsel Haikal dan mengetik nomor juga namanya.
"Terima kasih yah, siapa tahu aku nanti iseng telepon atau chat kamu. Secara kamu suka main game online kan,"kata Haikal sambil senyum.
"Oh... Iya kalau suntuk aku pasti main game online, boleh saja kita tanding," kata Aprilia sambil senyum.
Lalu dia mengepalkan tangan dan menempelkan kepalan tangannya kepada Haikal.
Salam kepalan tangan ala-ala kebanyakan kaum lelaki.
Dan kemudian Aprilia turun lalu masuk ke dalam rumah Anton.
Haikal memandangnya sampai Aprilia benar-benar masuk ke dalam rumah, sebelum masuk rumah Aprilia menengok dulu ke arah mobil Haikal.
"Yes...aku yakin dia tidak hepi karena perjodohan. Semoga saja aku mendapat kesempatan".
Anton dan Mela duduk berdua di meja makan sambil memakan buah potong.
Mereka membahas soal tawaran dari pak Tarmidi atasannya Anton di Puskemas.
Beliau menjelang pensiun dan berharap Anton bisa segera lulus test menjadi Pegawai Negeri Sipil.
Pak Tarmidi berharap Anton nanti bisa menggantikan posisinya.
Beliau selama ini adalah Sarjana Kesehatan, dan beliau berharap agar Puskemas nanti dipimpin oleh seorang dokter seperti di tempat lainnya.
Selama ini di Puskemas tersebut belum ada dokter yang posisinya tetap menjabat di tempat tersebut.
"Kalau aku sih mendukung sekali Pi, sayang kalau misalkan Pi tidak mengikuti test tersebut," kata Mela menanggapi dan mendukung suaminya.
"Aku juga akan mencoba Mi, setidaknya kalau menjadi Pegawai Negeri Sipil nanti siapa tahu ke depannya kita punya anak tentu anak kita terjamin masa depannya," kata Anton sambil terlihat menerawang jauh.
"Ya bukan itu saja sih Pi, setidaknya kalau menjadi Pegawai Negeri Sipil, posisi Pi lebih aman dalam bekerja. Daripada sekarang menjadi dokter tetapi status kerja kontrak".
"Sungguh aneh sekali, suatu saat ada dokter lain dengan posisi sudah Pegawai Negeri Sipil dan dinilai lebih kompeten maka Pi akan tersingkirkan dan harus mencari tempat lain lagi," Mela memberikan pendapatnya.
__ADS_1
"Iya benar juga, status di pekerjaan itu merupakan modal kalau aku akan membuka praktek sendiri di rumah. Salah satu syaratnya membuka praktek di rumah adalah tercatat sebagai dokter di suatu instansi kesehatan,"kata Anton lagi namun tersirat ada keraguan di wajahnya.
"Sekarang Pi ragu apa lagi...ayo harus semangat dan harus yakin pasti bisa," Mela memberi semangat kepada suaminya tercinta.
Anton tersenyum bahagia melihat istrinya begitu yakin, sehingga memberi motivasi juga kepadanya untuk lebih semangat belajar menjelang pelaksanaan ujian.
Keduanya menoleh ke arah pintu rumah yang terbuka karena Aprilia masuk ke dalam.
Setelah saling membalas salam, kemudian Anton menyuruh adik sepupunya itu duduk bersama di meja makan.
"Kamu besok akan mulai bekerja dimana, dan jam berapa berangkatnya?" tanya Anton kepada sepupunya itu.
"Ini sih alamatnya, disuruhnya sih pagi yah jam delapan aku sudah harus di lokasi,"jawab Aprilia sambil menyerahkan sebuah kartu nama dan tertera nama sebuah perusahan radio juga alamatnya.
"Aku tahu daerah ini, bisa satu arah dengan tempat kerjaku, jadi besok kamu bisa pergi bareng denganku," sahut Anton kepada sepupunya.
Aprilia hanya menganggukan kepalanya saja.
"Apri tadi Mamah Cahyani telepon kepadaku, titip kamu di sini katanya. Dan kata Mamah juga tolong angkat teleponnya kalau Mamah telepon," Mela memberitahukan kepada sepupu suaminya bahwa tadi ibunya menelpon.
"Kenapa sih bro kalau Mamah telepon tidak suka diangkat tuh. Dosa kamu begitu sama orang tua," Anton tampak kesal mendengar yang disampaikan istrinya barusan.
Aprilia diam sejenak, lalu sambil wajahnya ditekuk dia bicara kepada Anton.
"Kak Anton...Mbak Mela...aku tuh males sama Mamah. Karena Mamah ribut terus minta aku segera menikah dengan Isman. Aku kan belum mau menikah," ujar Aprilia sambil berkaca-kaca.
"Bukannya kamu sudah menerima lamaran Isman beberapa waktu yang lalu?"tanya Anton kepadanya.
"Belum lamaran kok, hanya pertemuan dua keluarga saja. Orang tuanya Isman ingin aku mau menikah dengan Isman".
"Tapi Apri suka tidak kepada Isman?"tanya Mela dengan heran.
"Mbak Mela...kalau aku suka buat apa aku ke kota ini. Salah satu alasan aku kemari adalah untuk menghindari Isman".
"Sekarang aku tanya nih, setahu aku Isman punya pekerjaan bagus, dia seorang manajer di Bank Swasta terkenal. Ayahnya juga seorang pengusaha sukses, lalu apa yang kurang dari dia?"tanya Anton kepada Aprilia.
Sambil menutup matanya Aprilia berkata ," Apakah cinta bisa diukur dengan harta... apakah seorang pria mapan seperti dia bisa memahami dan memberikan aku rasa bahagia...".
"Isman sukses punya segalanya, tapi dia tidak pernah bisa menghargai aku. Dia selalu menuntut aku menjadi sesuai keinginan dirinya," kata Aprilia terlihat kesal menceritakan soal Isman.
"Dia menuntut aku harus bergaul dengan kalangan sosialita, aku harus berdandan layaknya wanita bangsawan".
"Meminta aku begini dan begitu sesuai keinginan dia agar terlihat kalau aku pantas menjadi istri seorang pimpinan perusahaan kelak".
"Aku tidak bisa dan tidak suka hidup seperti itu, penuh drama dan kebohongan. Lalu dia sering menghina pekerjaanku. Dikatakannya pekerjaan anak gelandangan. Apa aku tidak kecewa dengan lelaki seperti itu," Aprilia mencurahkan seluruh isi hatinya kepada kakak sepupunya.
"Lantas mengapa kamu tidak membicarakan ini kepada keluargamu. Setidaknya kakak -kakakmu harus tahu hal ini agar bisa membantu memberikan alasan kepada Mamah Cahyani," kata Anton memberikan masukan.
"Kak Anton....Isman itu pilihan Septa, dia itu adiknya sahabatnya Septa. Kalau Janwar tahu sendiri orangnya tidak peduli dengan urusan orang lain," kata Aprilia memberi tahu yang sebenarnya.
"Jadi begini Mbak Mela, di keluarga besar Mamah itu yang orangnya senang mengatur anak adalah Mamah Cahyani".
"Kalau kakak- kakaknya yaitu Mamah Suryani dan Mamah Aryani alias Mamah mertua Mbak, orangnya pada cerewet dan bawel tapi lebih terbuka dan demokratis kepada anak," Aprilia membandingkan Ibunya dengan kakak-kakak Ibunya.
"Tidak boleh begitu Apri, kita semua lahir dari perut ibu. Justru Apri harus lebih bisa memahami karakter Mamah Cahyani".
"Kasihan loh beliau itu sejak kalian kecil sudah menjadi orang tua tunggal karena Papahmu meninggal saat kamu masih kecil sekali," Anton menasehati adik sepupunya itu.
Aprilia mulai meneteskan air mata saat mendengar apa yang dikatakan oleh kakak sepupunya.
Mela mendekati Aprilia sambil membawakan tissue dan mendekap adik sepupu suaminya.
"Mungkin sebenarnya Mamah Cahyani menjodohkanmu dengan Isman karena ingin kamu bahagia. Beliau tidak ingin kamu sampai hidup kesusahan seperti dirinya," kata Mela sambil dia juga ingat ibu nya selalu cerewet kepadanya karena mungkin ingin dirinya bisa dicintai dan dihargai oleh suami.
"Ya sudah menurutku nanti kalau kamu sudah tenang, coba sampaikan kepada Mamah Cahyani kalau kamu memang tidak bisa bersama Isman".
Aprilia hanya menganggukan kepalanya saja, lalu dia pamit untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Anton segera mengunci pintu, lalu masuk ke kamarnya dan beristirahat bersama istrinya.
Sementara Aprilia setelah mandi dan sholat, dia malah bermain game online sampai tengah malam.
Dia bertanding melawan Haikal sambil saling berkomunikasi karena di aplikasi permainan itu ada sarana untuk saling berbicara mengomentari permainan lawannya.
Pagi harinya jam dinding menunjukkan jam setengah tujuh pagi, dan Aprilia masih tertidur di kamarnya.
"Astagfirullah, ini anak belum bangun juga yah. Bisa terlambat kerja ini jadinya," Anton mengomel karena dia sudah rapih tapi sepupunya belum juga bangun.
"Mi apakah tadi sudah kamu coba bangunkan dia?"tanya Anton kepada Mela.
"Sudah tiga kali aku ketuk pintu kamarnya dan tidak ada jawaban," sahut Mela sambil mengangkat bahunya.
Anton segera menuju kamar yang ditempati Aprilia, dan ketika mencoba membuka pintunya.
Rupanya kamarnya tidak dikunci dan dia melihat gadis itu tidur dengan posisi sembarangan.
Bantal berceceran ke lantai, kakinya satu di tempat tidur dan kaki satunya lagi menjuntai ke bawah.
Badannya terlentang memenuhi tempat tidur tapi posisinya berlawanan arah dengan sandaran tempat tidur itu.
Sambil geleng- geleng kepala Anton memunguti bantal dan melemparinya ke wajah Aprilia.
"Bangun woi...katanya mau kerja tapi jam segini masih ngorok. Astagfirullah...perawan sarap kamu itu Apri," kata Anton sambil jengkel dan dia menarik kaki sepupunya itu.
"Duh Kak Anton reseh amat sih, aku masih mengantuk loh," kata Aprilia sambil mengucek matanya.
"Lihat jam berapa...katanya mau bareng aku ke tempat kerja," Anton berkacak pinggang dengan kesal.
Aprilia duduk sambil mendelik ke arah Anton.
"Iya bawel...ini udah bangun. Mau mandi dulu".
Anton menghela nafas sambil mengurut dada melihat tingkah adik sepupunya itu.
"Mbak...aku minta sabun mandi yang lain dong. Semalam aku pakai yang dikamar mandi belakang tidak enak terasa panas di kulit," kata Aprilia kepada Mela.
"Sabun mandi...oh iya aku lupa belum menyimpan sabun mandi di kamar mandi belakang," kata Mela sambil segera mengambil sabun mandi dari laci khusus penyimpanan stock perlengkapan mandi.
"Kamu memangnya pakai sabun apa semalam?".
"Itu sabun yang di botol biru, wangi sih tapi panas di kulit".
"Botol biru....astaga Apri...itu Sabun deterjen untuk mencuci pakaian bukan untuk mandi...hahahahha," Mela jadi tertawa karena Aprilia tidak bisa membedakan sabun dan deterjen.
Anton hanya geleng kepala, pusing dia melihat sepupunya seperti itu.
Memang Aprilia gadis super cuek, apapun yang dia lakukan selalu aneh di mata orang sekitarnya.
Padahal Aprilia selain sebagai seorang announcer yang suka membawa acara di radio.
Dia juga seorang jurnalis, dalam beberapa media daerah hasil tulisannya sangat tajam apalagi kalau tentang kehidupan masa kini.
Selain itu, setiap dia membawa acara di radio, selalu terselip pesan-pesan moral terutama mengenai minimnya toleransi kehidupan masa kini.
Dia selalu mengarahkan kepada para pendengarnya untuk selalu mengaji rasa dan juga berbagi kasih dengan sesama.
Hanya sayangnya gadis dengan julukan Lady Bro itu, hasil tulisan dan saat acaranya di mulai, tidak pernah ada orang di keluarganya yang membaca atau mendengarkan apa yang dia sampaikan.
Karena dia anak bungsu dan juga tingkahnya sok cuek, membuat keluarganya selalu beranggapan dia masih anak ingusan.
__ADS_1
Tidak ada satupun yang menyadari kalau Lady Bro adalah seorang yang kompeten dalam memberikan wawasan dan juga kritis dalam menulis.
Pagi itu setelah selesai mandi, dia segera menghampiri meja makan sambil masih membetulkan celana panjangnya dan juga hijabnya.
"Kamu nanti belajar cara memakai hijab yang benar sama Mbak Mela. Lihat istriku selalu rapih dan cantik,"kata Anton sambil sebal melihat sepupunya seperti itu.
Mela lalu menghampiri Aprilia dan membetulkan hijabnya, sementara gadis itu santai saja mengunyah roti bakarnya.
"Pasti belum pakai krim wajah yah...," kata Mela sambil mencolek wajah sepupunya.
Aprilia menggelengkan kepalanya, lalu Mela menuju kamarnya dan membawa krim wajah.
Lalu memoleskan krim itu ke wajah Aprilia, dan sama seperti barusan. Gadis itu santai sambil memasukan sisa potongan rotinya lalu meminum susu dengan cepat.
" Apri, kamu di sini kan rencananya akan tiga bulan. Selama itu, kamu tidak boleh sewa tempat kost. Harus tinggal di sini dan belajar jadi perempuan sama Mbak Mela".
Aprilia nyengir kesal kepada Anton lalu bibirnya cemberut.
Mela hanya tersenyum saja melihat kedua sepupu itu yang sejak kemarin selalu perang mulut.
Anton sedang mengemudi mobilnya dan Aprilia duduk disampingnya sambil bibirnya maju karena sebal mendengar Anton ternyata lebih cerewet dibandingkan keluarganya sendiri.
Mungkin kakak-kakak menganggap kelakuan minusnya itu sudah biasa.
Tapi bagi Anton itu bukan suatu yang lumrah kalau seorang perempuan bersikap demikian.
Apalagi Aprilia adalah sepupunya dan saat ini dia dipercaya oleh adik ibunya untuk menjaganya dan mengajarkan bersikap yang lebih baik.
Saat hendak berbelok ke jalan raya, sebuah motor dengan kapasitas silinder CC yang besar membunyikan klakson dengan kencang dan menyalipnya.
"Astagfirullah...Haikal sinting...pakai mengebut segala," kata Anton merasa kaget karena di salip oleh motor besarnya Haikal.
"Oh dua orang teman Kak Anton yang kemarin yah...mereka kerja dimana sih?"tanya Aprilia dengan polosnya.
"Barengan aku dong di Puskemas, masa kamu tidak tahu sih," jawab Anton.
"Oh...emang jadi apa sih Haikal di sana?".
"Astagfirullah...Apri...kan semalam kalian jalan-jalan yah. Masakan tidak saling mengobrol sih".
"Ngobrol sih...cuma aku tak tahu dia kerja apaan. Secara mereka teman Kak Anton semua".
"Haikal itu dokter sama dengan aku, dan Jaya adalah kepala administrasi Puskemas".
"Oh...dokter toh...pantesàn aja yah...".
"Pantesan apaan?"tanya Anton menyelidik.
"Ah tidak apa-apa, pantesan saja kayak Kak Anton...hihihi".
Anton diam saja sambil memasang wajah serius, sementara Aprilia jadi ingat kemarin dia sempat ditegur Haikal saat sedang merokok.
Mereka tiba di depan salah satu bangunan yang merupakan stasiun pemancar radio swasta baru.
Rencananya hari ini adalah siaran percobaan selama satu bulan dan Lady Bro akan membawakan acaranya selama satu bulan ini.
Setelah mengantarkan Aprilia, lalu Anton lanjut menuju ke tempat prakteknya di Puskemas.
Seperti biasa awal minggu pasti pasien sangat banyak, dan sudah pasti Anton sangat sibuk sekali.
Di pagi hari saja sudah ada antrian tiga puluh pasien, untung di bagi dua dengan Haikal.
Saat jam istirahat siang, setelah melaksanakan Sholat Dzuhur, Haikal terlihat sangat mengantuk dan kelelahan.
"Bang Anton, aku tidur sebentar di Musholla yah. Luar biasa mengantuk ," kata Haikal sambil matanya sudah sulit dia buka.
Anton menyetujuinya dan dia segera berlalu dari Musholla menuju pantri untuk makan siang.
Ketika sedang memakan bekal yang dibawakan oleh istrinya, Jaya masuk dan mulai mengoceh.
"Haikal tepar bro, semalaman dia tanding game online. Tadi pagi tidak bisa bangun, akhirnya aku siram mukanya pakai air es segelas...baru dia loncat," ujar Jaya menceritakan tentang Haikal tadi pagi.
"Ampun anak itu, pantas pagi tadi dia lemas sekali. Pasti main game online sama anak-anak sekolah deh," Anton menanggapi cerita barusan.
"Hmm...kata siapa sama anak-anak sekolah....hahahah... tanding dengan sepupumu... hahahah," Jaya tertawa puas ketika melihat Anton tampak kaget mendengar Haikal dan Aprilia semalaman bermain game.
"Pantas saja Apri juga tadi pagi sudah bangun. Ampun yah mereka itu, kesal sekali aku mendengarnya ," Kata Anton sambil mengunyah makanannya dengan kesal.
"Alamat ruwet lagi deh, masalahnya Apri sudah dijodohkan oleh ibunya kepada adik sahabatnya Septa. Dua keluarga sudah saling bertemu".
"Kalau kejadian Apri malah bersama Haikal, kacau deh aku. Pasti aku yang disalahkan deh,"kata Anton sambil memegang kepalanya.
"Jodoh itu Tuhan yang atur bro, mereka masih muda lah".
"Aku saja yang mulai tua sekarang masih galau, nanti malam tahap test ketegaran. Miranti akan tegar tidak kalau aku ajak susah," kata Jaya sambil mengangkat alisnya.
"Apa rencanamu soal ketegaran?" tanya Anton.
"Kau tahu kan motor Vespa antik ku, nah motor itu mudah mogok. Nanti malam aku bawa dia jalan-jalan naik motor itu," kata Jaya sambil senyum lebar.
"Hmmm...cewek dandan seperti dia naik motor begitu mana mau bro," kata Anton mengadu logika.
"Nah itu dia, kalau menolak yah sudah berarti selama ini dia memang hanya drama. Kalau mau yah lanjut lah," kata Jaya lagi.
Anton hanya mengangkat bahu saja, dia sendiri juga tidak bisa berkata apa-apa.
Baru selesai satu masalah kemarin, sekarang sudah antri masalah baru lagi.
"Selamat siang, Younger Boys dan Younger Girls...di siang ini masih ditemani oleh Lady Bro dalam siaran percobaan Younger Radio 878 FM".
"Matahari bersinar terik sekali siang ini, tapi semoga Youngers semua tetap bersemangat. Mungkin ada yang sibuk kuliah atau sedang sibuk di kantor, jangan patah semangat selalu berpikir positif dan agar hari kita selalu penuh berkah".
"Satu tembang terkini dari Lady Bro untuk menemani kegiatan kita semua dari penyanyi muda yang sedang merajai tangga nada minggu ini... selamat mendengarkan".
Itu suara merdu pembawa acara radio Younger FM yang baru akan di resmikan bulan depan.
Sementara saat ini masih siaran percobaan dengan seorang pembawa acara wanita yang dipanggil Lady Bro bergantian dengan dengan sang pemilik yaitu Brandon Law.
Haikal sambil menunggu pasien sambil mendengarkan siaran itu melalui streaming dari gawainya.
Kalau ada pasien dia kecilkan suaranya, tapi kalau pasien sudah selesai sambil menunggu yang lainnya dia dengarkan siaran percobaan itu.
Iseng mengirim chat menanyakan pulang jam berapa, lalu di jawab selesai jam delapan malam.
Ditanya lagi apakah dijemput oleh sepupunya, lalu mendapat jawaban tidak.
Penasaran bertanya lagi, apakah mau dijemput naik motor olehnya.
Baru sejam kemudian dapat jawaban singkat, " OK".
Haikal bahagia sekali, serasa mendapat lotre. Tinggal urusannya sama sang kakak sepupu, nah ini yang butuh keberanian lebih.
Sore harinya Haikal meminta ijin kepada kakak sepupunya Aprilia, sebelum menjawab sang kakak sepupu terlihat hanya memandangi dirinya saja.
Lalu sambil menghela nafas panjang Anton menjawab dengan nada sangat terpaksa.
"Boleh saja...silahkan tidak apa-apa tapi jangan kemalaman yah".
Lalu Anton menepuk pundak Haikal dan berjalan menuju mobilnya untuk pulang ke rumahnya.
__ADS_1