
Acara pembukaan klinik indera telah berlangsung dengan sukses. Sejak pagi seluruh tim panitia yang digawangi oleh Anita sudah menjalankan tugasnya masing-masing sesuai perintahnya.
Di klinik Indera ini yang menjadi dokter mata rekanan klinik tersebut adalah dokter Fabian Danubrata yang dipanggil dokter Bian.
Bian sesungguhnya adalah teman seangkatan Anton, hanya karena dulu Anton sempat terputus hampir dua tahun maka Bian lebih dulu lulus.
Bian sudah menamatkan spesialis mata sekitar dua tahun lalu, sehingga dia sekarang sudah mempunyai ijin praktek spesialis mata dan juga bisa membuka klinik sendiri.
Karena Bian juga bertugas di salah satu rumah sakit terkenal, dan tidak punya waktu untuk mengurus membuka klinik sendiri. Maka ketika Fajar mengajaknya bergabung tentu diterimanya dengan senang hati.
Bian mempunyai masalah pribadi yang cukup rumit, dia dulu menikah dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang wanita bernama Sofia yang merupakan anak teman baik ayahnya.
Bian menjalani pernikahan tanpa pernah merasakan jatuh cinta.
Walau sekarang sudah ada dua orang anak tapi Bian masih belum juga bisa merasakan jatuh cinta kepada istrinya.
Ketika acara pembukaan klinik indera di Wiharja Farma, dia bersalaman dengan seorang gadis yang sederhana namun membuat jantungnya tiba-tiba bedebar kencang.
Selama acara berlangsung pandangan matanya terus melekat kepada gadis itu.
Wajahnya cantik, polos namun ketika disapa pandai berkomunikasi. Dari logatnya dia menduga gadis itu bukan berasal dari kota ini.
Fabian ingin sekali mengajak gadis itu berbincang lama namun waktu tak berpihak kepadanya karena dia juga bertugas di tempat lain sehingga dia harus segera pergi setelah acara beres.
Setelah acara berakhir, Mela membantu membersihkan dan merapihkan kembali ruangan.
Klinik Indera sendiri akan memulai operasionalnya hari senin mendatang dengan jadwal pukul 16.00 sampai selesai setiap harinya.
Fajar juga sedang mengusahakan untuk mencari dokter lain yang bisa bertugas di pagi hari.
Ketika ruangan sudah rapih kembali, Mela turun ke bawah kembali ke kantor apotik untuk membantu pekerjaan Pertiwi sambil meminta data untuk keperluan skripsinya.
Ketika sedang sibuk membantu Pertiwi tiba-tiba telepon genggamnya bunyi, ternyata Anton menghubunginya menyampaikan bahwa sore nanti dia akan ke Bandung.
Dan Mela mengiyakan juga berpesan agar hati-hati, dia akan menunggunya di sini.
"Duh yang sudah jadian nih, sekarang sih sudah bersayang-sayangan deh," goda Pertiwi kepada Mela.
Melapun langsung wajahnya semburat merah merasa malu.
"Mbak bisa saja deh, jadi malu deh aku," kata Mela dengan senyum malu-malu.
"Tidak apa-apa bagus kok, bahkan kalimat mesra harus terus digunakan dipertahankan sampai menikah nanti," ujar Pertiwi menasihatinya.
"Iya Mbak insyaallah saya akan selalu menjaga amanah dan juga menjaga keharmonisan dengan dokter Anton".
"Kok masih panggil dokter sih, cobalah memanggilnya mas atau kakak atau koko, pasti Anton akan lebih bahagia loh".
Mela terdiam sejenak, dia terkadang masih suka merasa kaku dengan Anton, walau sudah pakai tambahan sayang sekalipun.
Dia lalu mengiyakan Pertiwi dan akan mencoba memanggil kekasihnya dengan sebutan lain yang lebih bisa mendekatkan mereka.
Tak terasa waktu terus bergerak, sampailah kepada jam 20.00 saatnya apotik dan klinik untuk tutup.
Dahulu memang pernah apotik Wiharja Farma 24 jam, tapi seiring waktu dengan naiknya pajak juga efisiensi waktu dan tenaga, maka operasional dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam saja.
Mela sudah bersiap menanti Anton, tapi Anton kembali menghubunginya dan mengatakan maaf tidak jadi ke rumah Anita tapi langsung pulang ke rumah orang tuanya. Anton merasa lelah jadi mau langsung istirahat di rumah.
Walau sedikit kecewa tapi Mela memahami bahwa Anton seharian seminar lalu lanjut ke Bandung tentu memang akan menguras tenaga.
Sesungguhnya selama perjalanan dari Cirebon menuju Bandung, Anton dag dig dug terus jantungnya berdebar dan dia sangat resah.
Selama perjalanan di tol dia mencoba konsentrasi mengemudi sampai akhirnya dia tiba juga di rumah orang tuanya di utara kota Bandung.
Aryani dan Salim menyambut anak bungsunya itu sambil mengajaknya makan dan berbincang mengenai pekerjaannya di Cirebon juga tentang Mela.
Anton juga mengabari Mela kalau dia sudah sampai di rumah orang tuanya dan kepada orang tuanya juga dia menjelaskan ada Mela di rumah kakaknya.
Tetapi ternyata kedua orang tuanya sudah tahu karena kemarin Mela telah menelepon mereka.
Karena sudah mulai beranjak malam maka kedua orang tuanya harus istirahat, mereka sudah tidak sanggup menonton televisi atau berbincang sampai tengah malam.
Tinggal Anton duduk sendirian di sofa ruang keluarga sambil melihat televisi tapi sebenarnya pikirannya sangat tidak karuan.
Tadi siang di tempat seminar selepas sholat Dzuhur dan lanjut istirahat makan siang, Anton menerima chat dari nomor yang tidak dikenal. Ternyata itu chat dari Miranti, sungguh siang tadi Anton terkejut. Isi chat nya sederhana hanya bertuliskan "Dokter Anton, ini Miranti tolong disimpan yah nomor kontak saya".
Lalu Antonpun menyimpannya, dan tak selesai disitu ternyata sambil acara berlangsung Miranti terus mengirimkan pesan-pesan kepadanya.
Berawal soal pekerjaan karena menurut catatan PT. Golden Farmasi, dia adalah salah satu pemesan obat khusus tulang dari produksi mereka dengan jumlah yang cukup tinggi.
__ADS_1
Lalu berlanjut terus saling berkirim pesan sampai menjadi pesan-pesan yang mengarah ke masalah pribadi dan lainnya.
Yang membuat Anton takjub adalah wanita itu selama seminar berlangsung duduk di deretan depan berdampingan dengan beberapa petinggi.
Namun wanita itu sambil berbincang dengan para petinggi juga sambil mengirimkan pesan yang mulai berisi candaan kepada Anton.
Yang lebih membuat Anton heran adalah saat seminar berakhir, wanita itu bersama para petinggi berdiri di depan pintu menuju keluar dan menyalami semua peserta.
Ketika berhadapan dengan Anton dia juga tampak biasa saja sama sikapnya seperti kepada peserta lain.
Ketika mereka sudah masuk mobil yang dikemudikan oleh Jaya, kembali wanita
itu mengirimkan satu pesan yang isinya bernada canda menggoda ," Makasih yah Anton sudah duduk ganteng mendengar seminar tadi. Awas yah jangan sampai keingetan aku terus yah. Soalnya aku ini cewek ngangenin loh".
Sungguh Anton belum pernah merasa perlakuan seperti ini dari seorang wanita. Bahkan kedekatannya dengan Melapun selama ini tidak pernah diantara mereka mengirimkan pesan bernada menggoda seperti ini.
Anton merasa sangat galau dan dia merasa sudah mulai masuk kedalam godaan Miranti.
Malam ini dia nonton televisi yang acaranya menarik tetapi dia diliputi kegalauan, sisi hatinya terasa gatal ingin menghubungi Miranti.
Tapi dia urungkan saat melihat jarum jam menunjukkan kalau dua jam lagi sudah tengah malam.
Lalu dia bangkit untuk beranjak ke kamar tidur, namun tiba-tiba ada pesan chat masuk dan ketika dilihat dari Miranti, isinya singkat, padat dan membuat penasaran "Anton masih on kan?".
Akhirnya untuk menuntaskan rasa penasaran kepada Miranti, segera dia meneleponnya.
Dan benar saja pembicaraan mereka sungguh membuat Anton merasa terperangah, pembicaraan Miranti sangat mengusik kelelakiannya. Dari cara Miranti menarik nafas saat bicara bahkan cara tertawanya di teleponpun terasa menggemaskan.
Mereka berbincang lama sampai menjelang tengah malam dan itupun karena batere telepon genggamnya Anton mulai low.
Pagi harinya Aryani melihat anaknya tertidur di sofa ruang keluarga, dan diapun segera membangunkannya.
" Ton!! kenapa tidur disini, sudah Sholat subuh belum? udah jam berapa ini ," Aryani berkata sambil menepuk pipi anaknya.
Anton mengerjap terlihat jam dinding menunjukkan jam 6 pagi dan dia belum sholat subuh. Lalu dia mengambil tongkat yang ada disampingnya segera beranjak menuju ke kamar mandi.
"Ton, nanti jam sepuluhan kita ke rumah cici yah. Papah pengen lihat ruang klinik indera sama nanti kita ada makan siang di rumah cici dengan keluarga dokter Fabian,"Kata Salim kepada Anton sambil mengoles selai ke atas roti.
" Fabian? Fabian Danubrata kah?"tanya Anton.
"Hmm...Papah kurang paham nama lengkapnya, hanya tahu dari Fajar saja namanya Fabian".
" Ya tidak apa-apa, biasanya juga begitu kan. O,ya, papah dengar adiknya Mela juga kerja di apotik kita yah, kemarin Mela menelepon papah dan mamah menyampaikannya".
"Iya pah, dia baru lulus SMK Farmasi di Cirebon sana. Jadi daripada dia mencari kerja susah yah sudah Anton tanya ke cici kemarin ini butuh orang tidak, ternyata ada pembukaan klinik indera jadi Wahyu diterima kerja di apotik".
Aryani masuk ruangan makan sambil membawa sup dan lalu bertanya," Kamu sudah ketemu dengan orang tuanya Mela?".
"Sudah Mah beberapa waktu lalu," jawab Anton.
"Dia orang mana Cirebonnya, lalu orang tuanya kerja apa?"tanya Aryani.
"Orang desa Sindanglaut, ibunya pengrajin pepes tahu, ayahnya sudah meninggal. Adiknya dua orang laki-laki yang satu sekuriti di bank swasta dan satunya kerja di apotik kita kemarin," Anton menjelaskan perihal Mela kepada ibunya.
Dalam hati Aryani merasa tidak asing mendengar nama desa Sindanglaut.
Ketika jam menunjukkan jam 10 pagi mereka semua bersiap, seperti biasa kakek dan nenek selalu membawa sesuatu untuk cucu-cucunya. Mobil minibus kecil inipun penuh dengan barang-barang mainan dan baju untuk kedua cucunya.
Tak lama mereka tiba di rumah Anita, seperti biasa sang cucu perempuan yang cerewet menggemaskan sudah siap menyambut kakek, nenek dan pamannya.
Dia bercerita kepada pamannya bahwa sekarang ada oom baru yang lucu namanya Wahyu.
Dan oom itulah yang sekarang akan menjadi temannya bermain, Anton pura-pura sedih mendengarnya sehingga keponakannya memeluknya erat.
"Oom Ton jangan nangis, kan oom Ton dihati Kei selamanya".
Yang mendengar tertawa semua karena anak kecil itu selalu bisa saja menjawab dengan mimik yang lucu.
Sekarang semua berkumpul di ruang keluarga termasuk Mela, sementara Wahyu berada di belakang beradaptasi dengan teman-temannya.
Ketika sedang berbincang ramai, Fajar menerima telepon tenyata dari Fabian.
"Bro, langsung saja ke rumah sebelah apotik yah, gerbang coklat nanti saya minta sekuriti membukakan," katanya sambil setengah berlari ke halaman depan.
Tak lama Fajar tampak menyambut tamunya yang datang bersama keluarganya.
"Mela, maaf aku minta tolong yah bantu bi Encum menyiapkan minuman dan juga makan siang untuk tamu kita,"
pinta Anita kepada Mela yang juga didukung Aryani.
__ADS_1
Lantas Melapun segera pamit menuju ke dapur.
Anton terkejut melihat dokter Fabian ternyata benar adalah teman kuliahnya, dia juga merasa bahagia karena sudah lama tak berjumpa, merekapun saling bersalaman bergenggaman di atas dada.
Lalu Fajar mempersilahkan Fabian duduk diruang tamu bersama Anton dan juga mertuanya.
Sedangkan Sofia istrinya Fabian dan kedua anaknya ikut bersama Anita dan Aryani di ruang keluarga sambil memperkenalkan bayi Kaysan kepada tamunya.
" Jadi begini pah, saya mengundang Fabian hari ini sekalian makan siang bersama juga temu kangen yah Fabian dan Anton. Mereka teman kuliah dulu pah," Fajar membuka perbincangan mereka di ruang tamu.
" Sekalian juga ada kontrak kerja yang harus di tanda tangan oleh papah, saya dan juga Fabian,"lanjut Anton.
Salim hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Fajar.
"Iya oom Salim, saya dulu teman dekat Anton waktu kuliah. Cuma Anton mogok 2 tahun jadi saya duluan deh,"kata Fabian sambil menepuk bahu Anton.
"Iya bro namanya juga dulu masa muda masa galau," kata Anton sambil tertawa kepada Fabian.
Tiba-tiba dari arah dalam datang Mela membawa minuman, Fabian yang melihatnya langsung terkesiap.
Dia memandang Mela dengan tatapan yang dalam, dan Fajar si ahli menilai orang tak sengaja menangkap momen itu.
Langsung Fajar berkata," Nah bro ini calon istrinya Anton, kenalkan namanya Mela".
Mendengar itu Fabian langsung membulat matanya dan tampak kikuk, Fajar mulai mencium sesuatu dari gerakannya.
"Wah kapan dong bro peresmiannya nih, jangan lama-lama,"nada bicara yang sedikit bergetar dan terdengar tidak tulus meluncur dari bibir Fabian.
Fajar sangat peka, tapi dia diam saja berusaha mempelajari keadaan.
Sementara Mela hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya lalu berlalu kembali ke belakang.
Di momen itu Fajar segera mengikuti tatapan mata Fabian dan Anton. Dan dia merasa ada yang ganjil, Fabian menatap Mela dengan tatapan penuh hasrat, sementara Anton memandang Mela terkesan dingin.
" Ada yang kaga beres nih,"guman Fajar dalam hatinya.
Kemudian mereka kembali berbincang, saling menandatangani kontrak kerja sambil membahas masalah skema pekerjaan klinik indera nantinya.
Tak lama Anitapun memanggil suaminya untuk membawa semua ke ruang makan karena makan siang sudah tersedia.
Semua duduk berdampingan dengan pasangan masing-masing, sementara anak-anak makan di halaman belakang sambil bermain di kebun, dijaga oleh bi Encum dan juga Wahyu.
Fajar sambil mengajak berbincang sambil matanya tak lepas mengawasi gerak mata Fabian yang selalu diam-diam menatap Mela.
Sementara dia juga melihat Anton yang duduk disamping Mela, tapi gerak tubuhnya serasa jauh dari Mela.
Sementara Mela sendiri dilihatnya mulai berani memberikan perhatian dan juga tatapan cintanya kepada Anton.
Selesai makan siang ketika semua sudah mulai beranjak kembali ke ruangan keluarga, Fajar menahan tangan Anton.
"Kamu sama Mela baik-baik saja kan?" tanya Fajar menyelidik.
Sontak Anton yang ditanya demikian agak gelagapan dan matanya tidak berani menatap Fajar jadi dia menutupinya dengan berlagak kesulitan berdiri," Baik-baik saja kok, emang kenapa sih ko Fajar?".
"Syukur dong kalau begitu,"jawab Fajar sambil tersenyum, namun di dalam hati dia tahu bahwa Anton memang tidak pandai berbohong.
Menjelang sore hari Fabian beserta keluarga pamit pulang, begitu juga Anton dan Mela.
Sebelum pulang Mela memberikan wejangan-wejangan kepada Wahyu agar bekerja dengan baik dan jangan mempergunakan kedekatan dirinya dengan Anton sebagai alat menyombongkan diri kepada teman lain.
Mela minta agar Wahyu menempatkan dirinya sebaik mungkin dan bekerja dengan sepenuh hati juga mengikuti perintah atasannya.
Dengan berat hati mereka berpisah, namun Wahyu berjanji kepada kakaknya akan bersikap dan bekerja dengan baik.
Setelah berpamitan dengan seluruh keluarga Anton, merekapun melaju menuju Cirebon.
Saat sedang mengemudi tiba-tiba telepon genggamnya Anton berdering. Sebentar Anton menepi dan mengangkatnya ternyata dari Miranti.
"Maaf bu saya sedang menyetir, nanti saya akan menghubungi ibu kalau sudah tidak menyetir".
Lalu dia melajukan lagi mobilnya, Mela iseng bertanya," Siapa sih yang telepon yang?"
"Oh orang PT Golden,"jawab Anton.
"Tumben perusahaan hari minggu kok telepon,"kata Mela sambil merasa aneh sambil mengernyitkan keningnya.
"Biasalah say, marketing...mungkin dia dikejar target".
Panggilan cinta mereka.. yaitu Say dan Yang.... (glek dah....andai author bisa begini sama suami....hiks)
__ADS_1