Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Bonus 2 : Karier Anton


__ADS_3

Setelah kembali dari pernikahan Haikal dan Aprilia di luar kota, maka Mela meminta Ibu Sinah untuk tinggal bersamanya karena perkiraan bulan depan dia harus sudah melahirkan.


"Kemarin dokter Dhani bilang, kemungkinan melahirkan antara pertengahan bulan depan sampai ke akhir bulan. Tapi tak tertutup kemungkinan akan maju di awal bulan karena letak bayi sudah di jalan lahir," kata Mela kepada Ibu Sinah.


"Yah berarti tak lama lagi, untung kamu menuruti perintah dokter setiap hari mau nungging jadi bayi nya mau turun ke bawah,"ujar Ibu Sinah sambil menatap Mela yang terlihat sangat gemuk sekali.


"Kamu naik berapa kilo sih nak? Kok gemuk dan besar sekali sih ," kata Ibu Sinah sambil memegang pipi Mela.


"Hahahaha...sepertinya naik dua puluh kilo lebih, aku juga merasa sesak sekali tapi bawaan anak selalu saja ingin makan terus," kata Mela yang terlihat sekali pipinya tembem dan hidung membesar berwarna kemerahan.


"Ya nanti kalau sudah melahirkan kamu harus jaga badan, malu dong istri dokter tapi gemuk begitu...hahahaha," sindir ibu Sinah sambil tertawa.


"Astaga Mi, memang siapa yang mau gemuk. Ini juga karena hamil saja aku jadi besar begini," kata Mela sambil mengusap perutnya.


"Ya itu resiko perempuan, kalau mau menikah dan disayang suami yah harus mau hamil dan jadi gemuk".


"Semoga nanti kalau sudah melahirkan aku bisa kurus lagi yah Mi".


Lalu Ibu dan anak itu tertawa geli saat melihat wajah Mela di kaca yang sekarang jadi bulat sekali.


Anton sudah resmi menjadi Kepala Puskemas dan Surat Keputusan pengangkatan dirinya juga sudah diterimanya.


Senin sore ini Anton sedang memimpin rapat untuk acara pisah sambut dan juga peresmian gedung setelah direnovasi yang akan diadakan di Puskemas dua minggu lagi.


"Murni nanti jadi bagian konsumsi, kita akan mengundang tamu sekitar seratus orang. Tapi yang datang mungkin akan lebih, jadi nanti kamu pesan seratus lima puluh porsi saja yah," kata Anton yang menunjuk Murni sebagai bagian konsumsi.


"Tapi dokter, bukankah harus ada kue dan juga minuman segar. Apakah boleh saya memesan ke Mbak Miranti saja ?"tanya Murni kepada Anton di ruang rapat itu.


"Ya, nanti sebelum acara dimulai, para tamu diberikan dulu snack box, karena khawatir ada yang belum sarapan juga. Ini acara pagi hari jadi saya berharap kita harus sudah siap sedia sejak awal," kata Anton kepada semua staf Puskemas tersebut.


"Dokter, di acara nanti apakah pembawa acara kita sewa dari luar atau kita berdayakan saja tim di dalam?"tanya salah satu staf pendaftaran pasien.


"Saya sih inginnya dari tim di dalam saja, pasti diantara kalian yang muda ini pernah menjadi pembawa acara di sekolah atau di kampus. Silahkan ajukan diri, saya ingin kalian berani menunjukkan kemampuan kalian,"kata Anton menanggapi pertanyaan yang diajukan tadi.


Semua karyawan kontrak yang relatif masih sangat muda belia saling menatap satu sama lain.


Akhirnya Dewi bagian pendaftaran yang bertanya tadi mengajukan diri untuk menjadi pembawa acara.


Anton sangat mengapresiasi atas keberanian Dewi, dan dia menjadikannya contoh sebagai anak muda yang berani bersikap.


"Nanti akan ada sedikit bahan yang akan saya kemukakan melalui infocus, dan nanti yang menangani adalah saudara Trisno,"lanjut Anton dalam rapat itu.


"Sedangkan untuk bagian dokumentasi belum ada, siapa diantara kalian lagi yang mau menjadi bagian dokumentasi. Kamera digital sudah tersedia, hanya yang mengoperasikan siapa ?"kembali Anton memancing keberanian dengan mengemukakan ke dalam rapat tersebut.


Kembali pemuda- pemudi kontrak saling tatap, akhirnya ada lagi satu orang yang bernama Fatah mengajukan diri karena sewaktu sekolah dia selalu menjadi bagian dokumentasi.


Anton sekali lagi mengapreasi karyawan yang berani mengajukan diri tersebut.


Memang Anton tipe pemimpin yang terbuka dan selalu ingin memberi kesempatan kepada seluruh karyawan untuk berkembang.


"Nanti juga saya minta beberapa dari kalian untuk membantu Mas Komar mengirimkan undangan ke beberapa pejabat setempat, selain itu ada juga undangan khusus untuk ke Yayasan Yatim Piatu dan kita akan mengundang penceramah dari pihak mereka".


"Untuk itu saya juga minta salah satu dari kalian untuk menyampaikan undangan khusus ini kepada Kyai di Yayasan tersebut," ujar Anton lagi kembali melempar kepada seluruh peserta rapat.


"Saya saja dokter, dan nanti saat acara berlangsung, saya juga yang akan menjemput Kyai dan juga anak-anak panti tersebut,"ujar seorang mantri kesehatan yang bernama Deni.


"Terima kasih saudara Deni, saya sangat mengapresiasi pengajuan anda," sahut Anton sambil bertepuk tangan.


"Baik masih ada Perawat Yani dan Perawat Susi, bagaimana kalau anda berdua nanti di hari H membantu Ibu Murni untuk mempersiapkan meja prasmanan dan juga membagikan snack box. Bersedia kan?"tanya Anton dengan santun kepada keduanya.


Kedua perawat tadi tentu saja bersedia membantu.


"Dan komar kamu nanti selain membagikan undangan ke beberapa instansi setempat, nanti di hari H kamu juga membantu Ibu Murni untuk menyisir piring kotor atau sampah bekas kue".


"Nanti kamu ajak beberapa orang di kampung belakang untuk membantu mencuci piring dan membantumu membersihkan segalanya. Honornya memang tidak ada di dalam budget, tapi untuk keperluan itu nanti dari kantong pribadi saya," kata Anton menjelaskan tugas Komar.


"Nah nona ini anak magang yah, saya minta bantuan juga yah. Nanti menjadi penerima tamu. Tugasnya nanti duduk di sebuah meja yang ditempatkan di depan pintu utama, lalu setiap tamu datang dipersilahkan untuk mengisi buku tamu," kata Anton sambil menunjuk seorang siswi SMK yang sedang bertugas magang di Puskesmas tersebut.


Dan siswi itu dengan senang hati bersedia membantu.


Jaya sebenarnya sudah hadir dan sudah dilantik sebagai Pegawai Negeri Sipil, dan memang dia beruntung ditempatkan di kota dan kantor semula.


Biasanya kalau rapat dia paling banyak bicara, tapi hari ini dia diam saja mencatat setiap pembahasan tanpa banyak bicara.


"Baik untuk teknis dan budget pelaksanaan, nanti akan kita bahas lagi tersendiri dengan bagian yang harus mengeluarkan dana".


"Sekarang saya mau menjelaskan kinerja kita yang akan segera dilakukan pada saat setelah acara Pisah Sambut tersebut".


"Saya mohon semua yang hadir dapat mendengarkan dulu penjelasan yang akan saya sampaikan, dan setelahnya apabila ada pertanyaan akan kita bahas bersama. Mohon ponsel di nada hening, terima kasih," kata Anton yang akan menjelaskan jalannya operasional Puskesmas mulai minggu depan.




Akan ada beberapa dokter baru, yaitu penambahan dokter umum, dokter spesialis anak, dokter gigi dan mulut, dokter spesialis kandungan berikut seorang bidan.




Lalu akan ada penambahan perawat tiga orang untuk ketiga dokter spesialis tersebut.




Pak Deni sebagai Mantri Kesehatan nanti bertugas di Instalasi Gawat Darurat bersama dengan dokter umum. Sehingga pasien datang di periksa tekanan darah, lalu ditanya dan dicatat keluhannya, baru setelahnya nanti ditangani oleh dokter umum. Tugas perawat Yani dan Susi adalah bersama dengan dokter umum di ruangan tersebut bersama dengan Pak Deni.




Dokter umum nanti ada yang baru pengganti dokter Haikal Subrata, bernama Rossie Tamadi. Selain dokter tersebut, dokter Anton juga akan turun tangan di ruangan tersebut menangani pasien kalau jumlahnya banyak.




Tidak ada ruangan khusus untuk Kepala Puskemas, ruangannya bersatu dengan tim administrasi. Sistem kerja terbuka tidak ada yang ditutupi, yang punya aspirasi silahkan bebas untuk mengemukakan.




"Dokter, bagaimana dengan ruangan saya. Sekarang sudah sangat sempit sekali dan dingin pula karena isinya server dan ruang rekam CCTV," kata Trisno mengajukan protes.


"Begini mas Trisno, ruangan perekam CCTV tidak perlu dipelototi setiap saat. Untuk email sekarang setiap unit punya satu alamat, dan anda tidak harus selalu diam memperhatikan email masuk setiap saat".


"Karena anda paham komputer , maka saya perbantukan anda untuk semua bidang. Membantu bagian administrasi membuat surat keterangan sehat bagi orang yang membutuhkan. Lalu membuat system penomoran pasien di ruang tunggu".


"Nanti anda punya meja sendiri di sebelah ruangan administrasi, satu meja lengkap dengan komputer, printer dan saya sudah minta perangkat anda nanti yang mempunyai kapasitas paling besar dan paling canggih," Anton menjelaskan kepada Trisno tentang pekerjaan barunya.


"Maaf dokter, apakah penambahan pekerjaan akan menambah uang gaji saya?"tanya Trisno lagi, dan pertanyaan itu membuat Jaya yang tadi lemas menjadi tegak dan tampak kesal.


"Mas Trisno ini bisa saja, saya juga sekarang tambah pekerjaan loh menjadi Kepala Puskemas dan saya juga tidak naik gaji. Kenaikan gaji kan setiap awal tahun dan gaji kita disesuaikan dengan keputusan pemerintah," sahut Anton sambil senyum.


"Memang wajar anda bertanya begitu mas Trisno, tapi maaf yah anda masih muda seharusnya anda tunjukkan dulu kinerja anda baru mempermasalahkan masalah gaji," ujar Jaya yang menjadi geram dengan pertanyaan bodoh seperti itu.


Trisno tertunduk dan terdiam dengan wajah yang sangat merah padam karena malu, semua mata memandang dia sambil terlihat sebal kecuali Anton.


"Sudah pak Jaya, tenang nanti masalah gaji pasti akan ada kenaikan dan memang itu di awal tahun. Untuk akhir tahun ini Insyaallah saya yang akan mengajukan ke Pusat, kebetulan awal tahun juga sebentar lagi kok," kata Anton sambil menepuk bahu Jaya yang terlihat masih kesal kepada Trisno.


"Jadi saya mohon kita tunjukan dulu kualitas kita agar saya juga bisa menyampaikan ke Pusat penilaian setiap kinerja individu dengan sebaik mungkin. Karena dasar acuan penilaian adalah kinerja kita".


Anton menjelaskan sambil memandang kepada setiap staff nya di dalam ruangan itu.


"Saya memberikan penilaian kepada anda semua, lalu saya ajukan ke Pusat. Dan saya juga dinilai langsung oleh Pusat bagaimana kinerja saya selama setahun," Anton menambahkan lagi agar semua bisa paham akan hal tersebut.


Memang banyak karyawan suka salah paham, banyak yang berpikir kalau jadi pimpinan itu enak bisa asal perintah saja.


Padahal pimpinan yang baik justru sebaliknya, lebih banyak memikirkan kesejahteraan karyawan daripada dirinya sendiri.


Kalau saja Trisno paham, maksud Anton sebenarnya menambahkan pekerjaan untuknya adalah sebagai tambahan poin penilaian bagi dirinya.

__ADS_1


Semakin seorang karyawan menunjukkan loyalitas pekerjaannya dan juga memperlihatkan kinerja yang baik, maka pimpinan pasti tak akan ragu memberikan nilai yang sepadan.


"Maaf dokter, bagaimana dengan jam kerja yang akan diterapkan. Selama ini kita operasional dari jam delapan pagi sampai jam empat sore. Nanti ada ruang Instalasi Gawat Darurat juga ada ruang rawat inap. Mohon dapat dijelaskan kepada kami," kata Pak Deni Mantri meminta kejelasan dari Pimpinan.


"Baik akan saya jelaskan, untuk rawat inap akan mulai dioperasikan pada awal tahun nanti dengan ketentuan operasional buka 24 jam. Dan saya akan merekrut lagi satu orang dokter umum, dua orang Mantri kesehatan, dan empat orang perawat".


"Nanti setiap individu yang berkenaan langsung dengan kesehatan seperti dokter umum, Mantri dan Perawat akan mendapat jadwal pembagian kerja".


"Jadi nanti setiap orang akan kebagian kerja pagi, siang atau malam. Kecuali bagian administrasi nanti Pak Jaya yang akan mengatur. Oh iya, saya juga dokter umum jadi nanti saya akan kebagian juga bekerja di malam hari," kata Anton menjelaskan dengan sangat rinci kepada semua bawahannya.


Semua mulai memahami kalau Anton ternyata punya gaya kepemimpinan yang berbeda dengan yang sebelum- sebelumnya.


Benar- benar bukan orang yang asal perintah tapi dia juga mau terjun langsung ke lapangan.


"Nah untuk Instalasi Gawat Darurat sendiri sebelum rawat inap di operasikan, akan buka sampai jam berapa dokter ?"tanya perawat Susi kepada Anton.


"Sementara sampai akhir tahun masih sama seperti jam operasional yang berlaku sekarang, tapi kalau ada kasus per kasus yang harus segera ditangani kita semua harus siap segera bertindak. Walau rumah saya cukup jauh dari sini tapi sewaktu diperlukan jam berapapun maka saya akan datang,"begitu Anton menjelaskan kepada perawat tersebut.


Semua mengangguk memahami kalau Anton begitu peduli dengan kemajuan dan pelayanan kepada masyarakat, sehingga nanti suatu saat pasti Puskemas ini akan menjadi semakin maju.


"Satu lagi, ponsel saya siaga 24 jam, sehingga siap dipanggil kemari kapan saja, tengah malam juga kalau diperlukan saya akan hadir".


"Saya nanti akan siapkan satu ponsel lagi khusus untuk pekerjaan dan yang sekarang masih bisa dihubungi hanya nomornya gabung dengan pribadi," kembali Anton menunjukkan kalau benar- benar menjadi dokter yang menjalankan sumpahnya.


Setelah rapat selesai, semua bersiap untuk pulang karena memang rapat barusan dilaksanakan saat puskemas sudah tutup jam operasional.


"Bro dokter, luar biasa semua disampaikan terbuka dan semua staff harus paham. Saya salut sama bro dokter," kata Jaya sambil berjalan disamping Anton menuju ke ruangan bersama.


"Hmmm, terus kenapa hari ini lemes amat. Seharian banyak diam saja, ada masalah apa ?"Anton malah bertanya yang lain.


Jaya hanya senyum saja, tak mau menjawab pertanyaan Anton.


Saat bersiap hendak pulang, tiba-tiba Trisno mengetuk pintu ruangan kerja Anton dan Jaya.


"Maaf dokter dan pak Jaya, saya mau minta maaf tadi sudah bertanya yang tidak baik saat rapat," kata Trisno dihadapan Anton dan Jaya.


"Ya sudah tak masalah, wajar kok ada yang bertanya demikian. Kan saya sudah jelaskan juga tadi. Maka sekarang tak ada masalah yah," sahut Anton sambil menepuk bahu Trisno.


Anak muda itu berterima kasih dan berjanji akan bekerja lebih baik, dia sadar kalau sekarang punya pimpinan yang sangat bijak.


Saat hendak menuju mobil kembali Anton bertanya kepada Jaya," Bro, baik- baik saja kan?".


Jaya senyum lagi lalu dengan malu berkata," Aku tak ada masalah, cuma hari ini memang lemas sekali".


"Kelelahan habis dari Jakarta yah, banyak istirahat bro jangan tidur malam," kata Anton kepada sahabatnya.


"Bukan gitu bro, hahahah.... aku pulang dari Jakarta hari sabtu malam jam delapan malam baru sampai rumah".


"Lalu?".


"Dari hari sabtu malam jam sepuluh, baru bisa tidur jam sepuluh malam di hari minggunya".


"Wah kenapa? Apa ada masalah atau istrimu sakit?".


"Bukan dok...kami bercinta 24 jam...hahahah... berhenti cuma kalau makan, atau buang air. Sisanya begitu terus...hahahaha".


Anton hanya bisa menganga sambil matanya menjuling lalu menutup mulutnya, tak bisa memberi komentar lagi, dia hanya melambaikan tangan sambil masuk mobil.


Jaya juga tertawa - tawa sambil menyalakan motornya, lalu keduanya kembali ke rumah masing-masing.


Tiba di rumah Mela langsung menyambut suaminya, setelah Anton mandi dan sholat kemudian mereka makan malam bersama dengan Ibu Sinah.


Waktu tak terasa sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.


Lantas mereka semua mulai memasuki kamar untuk beristirahat.


Sebelum tidur Anton menceritakan apa yang terjadi dengan Jaya dan Miranti, dan Mela tertawa mendengarnya sambil merasa kasihan kepada Miranti.


"Mi, jadi pengen nengokin anak kita deh," kata Anton sambil menaikkan alisnya.


Mela cuma tersenyum saja dan membiarkan suaminya mulai memeluk dirinya.


Memang menurut mitos maupun ilmu kedokteran lebih baik ayah jabang bayi sering menengok disaat kandungan mulai membesar agar memudahkan jalan lahir.


Diam-diam dia turun dari tempat tidur dan keluar kamar menuju ke dapur.


Membuka lemari makan tak ada sisa makanan lagi, lalu membuka lemari es yang ada hanya telur dan buah-buahan.


Memasak telur di malam hari tentu malas rasanya, tapi perut sungguh sangat kelaparan.


Tiba-tiba dari luar terdengar bunyi tok tok tok, rupanya penjual bakso cuanki masih lewat padahal waktu sudah lebih dari jam sepuluh malam.


Mela segera berjalan cepat membuka pintu rumah dan memanggil penjual makanan itu.


Penjual segera mendekat dan melayani pesanan Mela.


"Waduh Ibu kelaparan yah, tak biasanya membeku bakso saya jam segini," kata penjual bakso cuanki itu.


"Mamang juga jam segini tumben masih lewat sini," tukas Mela sambil memilih beberapa macam siomay dan baksonya.


"Sekalian pulang bu, kebetulan masih ada sisa untuk beberapa mangkuk. Alhamdulillah ibu membeli baksonya,"sahut penjual bakso.


Mela segera membayar setelah semua pilihan makanan tersedia di mangkuknya dan segera masuk ke dalam rumah.


Anton yang tidur, lalu berbaring ke sebelah kiri dan tangannya mencari tubuh istrinya.


Tapi dirasakan tidak ada sosok istrinya, jadi dia segera membuka mata dan memang istrinya tak ada disampingnya.


Anton turun dari tempat tidur lalu memeriksa kamar mandi ternyata istrinya tidak nampak.


Lalu dia keluar kamar dan disaat bersamaan Mela sedang menghabiskan bakso terakhir masuk ke dalam mulutnya.


"Mi, makan apa kamu? Ya Ampun jam berapa ini?"tanya Anton sambil matanya menyipit karena silau dan masih mengantuk.


"Bakso cuanki kebetulan mamangnya lewat sini dan masih ada baksonya," sahut Mela sambil tersenyum lebar.


"Ya sudah nanti kalau sudah selesai, segera tidurlah. Sudah malam sekali ini," ujar Anton sambil kembali ke kamarnya.


Tak lama Anton keluar lagi dan berkata kepada Mela," Mi, mang baksonya masih ada tidak yah. Kok aku juga jadi lapar".


Mela mengintip dan kebetulan mang bakso masih ada melayani pak Hansip yang sedang memesan juga.


"Mang, ini satu mangkuk lagi seperti tadi. Ini saya bayar sekalian pesanan pak Hansip juga," kata Mela sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.


Lalu Mela membawa masuk mangkuk yang sudah terisi bakso untuk suaminya.


Anton makan hanya beberapa butir saja karena sudah terlanjur kenyang dan mengantuk.


Sisa baksonya sudah pasti diraih Mela dengan sukacita dan mempertemukan bakso tadi dengan teman-temannya di dalam lambungnya. Hihihi.


Sementara di rumah Jaya malam itu Miranti terlihat sedang cemberut, dia tak mau lagi disentuh suaminya.


"Mas, tak kira-kira deh. Semua pelanggan kue mempertanyakan karena dia hari aku tak jualan. Sumarni juga bingung, dia sudah ke kedai dan aku tak muncul,"celoteh Miranti sambil sebal kepada suaminya.


"Tapi kan hari ini sayang jualan kan, banyak yang membeli kan sayangku?"kata Jaya masih terlihat lemas sekali.


"Ya jualan dong, untung saja banyak yang membeli. Besok aku ke pasar lagi pinjam motornya mas," kata Miranti kepada suaminya.


"Kamu tuh yah, waktu bapakku di sini ditawari mobil, kamu tolak. Lalu Bapakku mau membelikan motor baru, kamu tolak juga. Sekarang pinjam lagi motorku, masalahnya sudah tidak ada Haikal jadi aku repot kalau pulang kerja," keluh Jaya kepada Miranti.


"Oh, baru tahu aku selama ini kamu tak ikhlas kalau aku pakai motornya. Baiklah, aku paham, sudah tak perlu aku bisa naik becak," kata Miranti sambil beranjak berdiri dari samping suaminya.


"Bukan begitu sayang, dengar dulu. Maksudku kenapa waktu itu kamu menolak saat Bapak menawari akan membelikan kita mobil atau motor baru?"tanya Jaya sambil menghadang istrinya.


Miranti memejamkan mata lalu membukanya sambil berkata ," Mas, aku sih malu kalau sudah menikah tapi masih berharap diberi orang tua atau berharap dibantu orang tua. Malu dong, yang ada seharusnya kita bisa memberi kepada mereka".


"Iya sayang, aku paham. Tapi kata Bapak waktu itu kan ingin memberi hadiah pernikahan untuk kita. Karena kita menikah sederhana sekali, jadi bapak ingin memberikan sesuatu kepada kita," kata Jaya menjelaskan kepada istrinya.


"Terserah Mas saja, tapi kalau aku pribadi malu. Aku tak punya apa-apa, tak bisa memberi kepada mertua. Maka aku tak mau merepotkan mereka. Kalau Mas mau terima yah silahkan saja, kan mas anak Bapak," sahut Miranti sambil masuk ke kamar sambil membanting pintu.


Jaya terdiam melihat istrinya terlihat tersinggung kepadanya.


Malam harinya Miranti tidur memunggungi suaminya.

__ADS_1


Dan keesokan harinya ketika selesai sholat subuh seperti biasa Jaya suka tidur lagi.


Ketika dia bangun istrinya tidak ada di rumah, dan motor masih ada di garasi.


Rupanya benar Miranti tadi subuh berangkat ke pasar dengan naik becak.


Ternyata dia naik becak ada keuntungan tersendiri, mang becaknya menawari kerjasama bahkan mang becak jaman now punya gawai pintar.


"Bu, nanti ibu kirim chat saja belanja apa saja nanti tinggal bayar belanjaannya dan saya kirim ke rumah Ibu semua pesanannya," kata mang becak yang masih lumayan muda itu.


"Wah mang bersaing dengan ojek online dong".


"Iya dong bu, tukang becak jaman now juga harus cerdas," sahut mang becak tadi.


"Saya sih selalu belanja bahan keperluan kue di toko Ceria, dan mereka juga sudah kenal dengan saya," kata Miranti menjelaskan kepada tukang becak itu.


"Ya sudah, nanti Ibu chat ke pemilik toko Ceria belanja apa saja, nanti saya ambil. Toh bayar kan bisa di ponsel kan," kata Mang becak tadi.


"Wah benar Mang cerdas sekali deh, jadi saya tak usah capek ke pasar lagi yah".


"Ya itu bu, banyak pelanggan saya kok. Mau belanja sayur atau ikan juga bisa, tinggal chat lalu saya belikan nanti saya antarkan pesanan ke rumah Ibu. Ganti saja uang belanja plus ongkos kirim".


Miranti tertawa senang karena kebetulan sekali mendapatkan mang becak yang pandai dan gaul.


"Mang, namamu siapa sih biar aku simpan nomor kontakmu di ponselku?"tanya Miranti kepadanya.


"Doni bu...hahahah".


"Keren amat tukang becak namanya Doni".


"Hahaha...aslinya Romdoni, tapi biar kelihatan gaul jadi Doni saja yah bu".


"Hahaha...siap deh Doni".


Dan ternyata pemilik toko langganan Miranti juga bisa menerima pesanan lewat chat dan pembayaran melalui E-Banking.


Maka sudah pasti pengantaran pesanan ke tokonya bisa dilakukan oleh mang Doni.


Sampai Jaya mau berangkat kerja, Miranti belum juga kembali.


Saat Jaya menemui ke kedai, hanya ada Sumarni yang sedang merapihkan kedai.


Di kantor Jaya terlihat sedih dan dia sama dengan kemarin diam saja tak banyak bicara.


Anton saat ini banyak menghabiskan waktu di Instalasi Gawat Darurat menangani pasien yang hendak berobat ke dokter umum.


Jadi dia hanya bisa sesekali saja ke ruangan kantor memeriksa e-mail atau menanda tangani berkas saat pasien kosong.


"Bro, kenapa sih murung begitu. Pasti ada masalah deh, seorang Jaya tidak akan seperti itu kalau tidak ada masalah," kata Anton sambil menandatangani beberapa berkas.


"Biasalah, nanti aku ceritakan deh kalau lagi santai," sahut Jaya.


Dan memang Anton tidak santai, dia segera ke tempat praktek lagi karena pasien menanti.


"Selamat siang, apakah saya bisa bertemu dengan dokter Anton?"tanya seorang pria muda berkacamata dengan kulit yang sangat putih dan bermata sipit.


"Oh ada, sedang menangani pasien. Apakah mau berobat?"tanya gadis bagian pendaftaran kepada pemuda itu.


"Oh tidak, tapi saya dari Jakarta untuk bertemu dengan dokter Anton," sahut pemuda tadi dengan santun.


Petugas pendaftaran memintanya untuk duduk di kursi tunggu pasien.


Lalu petugas tadi bergegas menemui dokter Anton di ruangan Instalasi Gawat Darurat.


Kebetulan di hari tersebut tidak terlalu banyak pasien jadi Anton bisa segera menemui pemuda tadi setelah diberitahu ada yang mencarinya.


"Selamat siang, saya Anton ada yang bisa saya bantu?"sapa Anton kepada pemuda itu.


"Selamat siang dokter, saya Rossie Tamadi yang akan bertugas di Puskesmas ini," sahut pemuda tadi sambil membungkuk kepada Anton.


"Wah, ternyata ini dokter Rossie, ayo saya kenalkan kepada seluruh staff," kata Anton sambil berjalan mengenalkan Rossie kepada setiap pegawai di Puekesmas.


Jaya sempat tersentak karena dia sudah berpikir dokter Rossie adalah seorang wanita, ternyata meleset jauh yang datang seorang dokter pria muda belia.


"Nah dokter Rossie, hari ini sepertinya anda mencari tempat tinggal dulu atau bagaimana? Karena saya tidak diberitahukan untuk mencarikan anda tempat tinggal"tanya Anton kepada Rossie.


"Maaf dokter Anton, rumah saya tidak jauh dari sini. Jadi saya kemari juga naik motor dan sebenarnya saya sudah siap bertugas?"kata Rossie menjawab pertanyaan Anton.


"Loh tapi bukannya anda dari Jakarta yah?" Anton terheran-heran.


"Iya benar, saya dan orang tua memang tinggal di Jakarta. Tapi usaha ayah saya di kota ini, jadi beliau kebetulan punya pabrik di sini dan ada mess yang bisa saya tinggali," jawab Rossie lagi sambil membungkukkan badannya lagi.


"Dari tadi ngobrol kok kayak orang Jepang?"tanya Anton lagi.


"Ayah saya memang orang Jepang tapi sudah menjadi warga negara Indonesia, sedangkan ibu saya memang asli orang Cirebon,"jawab Rossie lagi kepada Anton.


"Oh pantas, jadi pabrik apa yang orang tuamu miliki disini?".


"Papa saya kebetulan punya pabrik rotan tapi sekarang dikelola oleh kakak saya. Dan sekarang Papa dan Mama punya galeri furniture di Jakarta".


"Wow...anak pengusaha kok mau jadi dokter, di Puskemas pula prakteknya?"Anton bertanya setengah menggodanya.


"Justru itu dokter Anton, tenaga medis untuk di daerah masih sangat kurang. Saya tergerak untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, banyak orang tak mampu yang tak bisa berobat ketika sakit. Maka saya ingin membaktikan diri untuk melayani masyarakat," jawab dokter Rossie yang sangat membuat Anton sangat kagum kepada pemuda itu.


"Tapi anda kan istilahnya punya back up orang tua yang mapan yang mungkin saja bisa menempatkan anda di rumah sakit terkenal ," Anton mencoba mengujinya lagi.


"Nah itu dokter, saya tidak mau tergantung kepada orang tua, saya ingin berjalan dengan kaki sendiri, dan saya ingin menunjukkan kalau saya akan bahagia menjadi dokter yang membaktikan diri untuk masyarakat bukan dokter yang mencari nama dan popularitas di rumah sakit terkenal," sahutnya lagi sambil membungkuk lagi gaya orang Jepang bicara.


Anton lalu menggodanya dengan memperlihatkan kaki palsunya.


"Saya sih jalannya pakai kaki palsu loh bukan pakai kaki sendiri....hahahaha".


Rossie kaget dan lalu dia juga memuji Anton, lalu mereka bersama ke ruang Instalasi Gawat Darurat karena ruang kerja mereka di sana.


Kepadanya dijelaskan semua konsep kerja di Puskemas dan juga rencana ke depannya, dan luar biasa pemuda itu sangat tertarik dan bersemangat mendengar penuturan yang disampaikan oleh Anton.


"Bro, masa tak hafal semua karyawan Tamadi Corporate kan berobat di sini semua, lupa yah?"kata Jaya mengingatkan kepada Anton.


"Rossie Tamadi, lalu Tamadi Corporate. Oh...berarti dia anak dari Eiji Tamadi, pengusaha kaya raya itu sih bro,"kata Anton membulat matanya.


"Ya itu dia, luar biasa yah orangnya sangat sederhana sekali. Gaya Haikal lagi ini sih, santai tapi lihat dong motornya mirip punyamu loh,"sindir Jaya kepada Anton.


Anton juga memang berasal dari keluarga berada tapi sama dia juga sangat sederhana.


"Beda bro, ini keluaran tahun kapan dan punyaku sudah hancur," tukas Anton sambil menjulurkan lidah.


"Eh dia kemana bro?".


"Tuh sudah praktek, langsung tugas dong di IGD".


Anton dan Jaya memuji loyalitas yang ditunjukkan Rossie.


Kebetulan ada dokter Rossie jadi Jaya meminta waktu sebentar kepada Anton dan dia mencurahkan semua masalahnya dengan istrinya.


"Sungguh aku bicara terlepas begitu saja bro, baru setelah istriku marah aku paham dia rupanya sakit hati dan tersinggung," cerita Jaya kepada Anton.


"Parah bro, pasti marah dong istrimu. Soal motor saja kamu jadikan masalah, tapi mengajak dia bercinta seenaknya. Tak bisa begitu dong".


"Istri juga berhak merasa bahagia bersama suami jangan dipaksa bercinta sesukamu. Dan lagi mengalah demi istri kan tak masalah, kamu lelaki bisa saja pulang mau bagaimana caranya juga," Anton menasehati sahabatnya.


"Ya itu bro, bingung aku sekarang musti bagaimana. Bapakku sebenarnya sudah memberikan uang kepadaku agar membeli motor baru untuk istriku".


"Tapi dia kan menolak terus dengan alasan aku merepotkan orang tuaku sendiri, tak mau mandiri," kata Jaya menjelaskan lagi kepada Anton.


"Bro, lebih baik seperti aku kemarin ini. Papahku yang bicara langsung kepada Mela bahwa beliau memang ingin membelikan rumah untuk aku karena cici sudah diberi rumah besar di Bandung," kata Anton memberi masukan kepada Jaya.


"Ya aku coba deh nanti biar Bapak bicara sendiri kepada Miranti".


"Hmmm...Nanti balik minta maaf sama istri, tapi jangan suka dipaksa lagi bro. Kasihan dong sama istri," kata Anton sambil menyenggol bahu Jaya.


Malamnya Jaya meminta maaf kepada Miranti, tapi istrinya itu diam saja karena masih merasa kesal kepada Jaya.


Memang tidak bisa begitu saja minta maaf apalagi setelah berbicara yang menyinggung perasaan.

__ADS_1


Kadang kalimat sederhana yang diucapkan dengan seenaknya justru bisa membuat orang yang mendengar menjadi luka hati.


__ADS_2