Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keempat Puluh Sembilan


__ADS_3

"Hoek...Hoek.. Hoek...!!!"


Jaya sedang muntah-muntah di wastafel toilet pria di sebuah mall besar di kota Bandung pada siang itu.


Masih merasa mual, dia masuk ke kubik toilet, membuka penutup closet dan kembali muntah- muntah.


Lalu saat keluar dari kubik dan mencuci tangan ada seorang bapak melihatnya dan bertanya,"Nak kenapa....masuk angin atau salah makan?".


Jaya melihatnya sambil mengatur nafas dia menjawab ," Ah tidak apa-apa kok pak...saya baik-baik saja".


Lalu ada bapak-bapak lain yang baru keluar dari salah satu kubik toilet, sambil mencuci tangan dia juga mengomentari Jaya," Istrinya lagi ngidam yah...sabar yah dulu juga begitu kok saya yang mual-mualnya".


Jaya hanya senyum tak membalas komentar bapak itu sambil mulutnya basah karena dia habis berkumur berkali-kali membersihkan mulutnya.


Dalam hatinya menjerit penuh dengan luka batin....ada apa gerangan yah....


Beberapa saat sebelumnya memang terjadi insiden menghancurkan harga dirinya, tapi karena sudah ada janji terucap dari mulutnya maka semuanya harus dijabani.


Jaya sudah tiba di kota Bandung sejak kemarin malam, dan hari ini adalah hari sabtu.


Seharusnya Jaya masih masuk kerja, tapi dia ijin ada urusan mendadak yang penting.


Murni sempat ngomel tapi Jaya punya kartunya, dia bilang kalau Murni protes maka soal dia suka memerintah Komar membuat surat akan dia bongkar ke pak Tarmidi.


Dengan kesal akhirnya Murni sepakat kalau hari sabtu ini dia yang akan full bertugas sampai selesai.


Tapi dia memohon Jaya nanti harus membawakannya oleh-oleh makanan terkenal yaitu Pisang Bolen Coklat Keju.


Jaya waktu itu hanya mengedipkan sebelah matanya sambil tidak berjanji akan membawakan keinginan Murni dengan alasan naik bis akan repot membawa oleh-oleh.


Murni mencebik kesal tapi tidak bisa berkata apa-apa.


Nah balik lagi ke mall...Jaya sabtu siang itu bersemangat sekali menemani Anton dan Mela.


Semalam Anton sempat berkata kalau akan segera menikah dan hari ini rencananya akan mengambil cincin pernikahan yang telah mereka pesan beberapa waktu yang lalu.


Setibanya di dalam Mall, mereka segera menuju toko perhiasan yang dulu tempat Anton dan Mela memesan paket cincin pernikahan dan juga untuk mas kawinnya.


Mela mengeluarkan nota bukti bayar dan juga nota pengambilan barang titipan beberapa waktu yang lalu.


Siang itu yang melayani di toko itu adalah seorang wanita, lalu Mela mendekatinya dan bertanya," Maaf mbak apakah saya bisa bertemu dengan mas Arifin?".


Sambil memperlihatkan nota- nota tadi tertera nama Arifin orang yang telah menangani mereka beberapa waktu lalu.


"Oh...iya...Mona...sebentar yah saya panggilkan dulu Mona nya,"jawab pelayan wanita tadi sambil membalikan badannya menuju bagian belakang toko tersebut.


Mela kembali ke arah Anton dan Jaya sambil menahan tawa," Sayang...tahu tidak orang yang dulu melayani kita itu dipanggilnya Mona...hihihi".


"Oh ya...hihihihi....kebetulan sekali yah....kita juga bawa penggemarnya," sahut Anton tersenyum lebar dan keduanya cekikikan membayangkan akan ada drama korea di toko ini sebentar lagi.


Benar saja tak lama Mona keluar dari balik bilik belakang toko dengan membawa kotak perhiasan yang telah dipesan oleh Anton dan Mela.


Dengan langkah gemulainya Mona tersenyum lebar ke arah Anton dan Mela sambil melambaikan tangannya.


"Astagfirullah....Anton sinting... aku dibawa tempat orang-orangan sawah lagi....," Jaya terlihat terkejut dan kesal saat melihat wujud Mona.


Tiba-tiba Mona tersadar saat melihat Anton duduk di kursi roda dan tidak ada kakinya satu lagi, berbeda dengan saat terakhir dia melihatnya.


"Omaigot...Oom ganteng... kenapose... aaiiihhh Mona kaget sekali...kenapa Oom ...kecelakaan yah....Mona turut bersedih,"kata Mona dengan memasang wajahnya penuh khawatir dan sedih.


"Saya tidak apa-apa kok...ini kan biar beda saja sama yang lain...keren kan saya punya kaki cuma satu,"sahut Anton sambil menggodanya.


"Idiiihh Oom bisa saja yah...Mona jadi kagum...mbak Cantik juga luar biasa sekali yah menerima cinta Oom walau seperti ini...Mona jadi gimanaaaaaaa gicyu....,"kata Mona sambil berekspresi seperti girl band dengan menempelkan kedua tangannya di pipinya sambil mengangkat salah satu kakinya.


Mela tak bisa berkata-kata hanya senyum-senyum terus menahan tawa.


Mona memperlihatkan pesanan Anton dan Mela berupa satu pasang cincin pernikahan dan mereka mencobanya ukurannya pas sekali di tangan.


Malah cincin Anton agak sedikit longgar sebabnya memang badannya menjadi sedikit kurus akibat kejadian koma kemarin.


Tapi tak masalah, karena dia yakin sebentar lagi juga akan normal kembali ke berat badan semula.


Mereka juga memeriksa ukiran nama di masing-masing cincin, takut ada salah ukir nama...kan bisa berabe.


Setelah yakin semua barang pesanan sudah sesuai dengan keinginan mereka, maka Mona membawa kembali barang pesanan itu ke dalam untuk dicatat dan diperiksa oleh atasannya.


Sambil tak lupa dia juga menyiapkan sertifikat untuk setiap perhiasan tersebut.


"Bro...dalam keadaan koma aku masih bisa mendengar apa yang orang lain katakan, tapi memang sulit membuka mata karena kerja otak melambat".


"Tapi aku bisa merekam perkataan setiap orang yang mencoba berbicara kepadaku "kata Anton kepada Jaya tiba-tiba menjelaskan hal seperti barusan.


"Hmmm...Lalu maksudmu apa bro?" tanya Jaya mimik wajah kebingungan.


"Kamu janji akan mencium banci salon dekat rumahmu jika aku sudah sadar... benarkan!!!" Anton menudingkan jari telunjuknya ke arah Jaya.


"Astaga bro...iya sih...tapi sudahlah... lupakan saja ... kan tidak penting juga... saat ini kamu sudah sehat juga kan...," kilah Jaya mencoba membela dirinya.


"Tidaklah....janji adalah janji...apalagi orang yang kamu janjikan menagihnya, dosa kalau kamu tidak melaksanakan janjimu,"Anton menegaskan kembali soal janji Jaya kepadanya.


"Waduuuhhh...ya sudah nanti saja kalau kita kembali ke rumahku nanti pasti aku lakukan deh," Jaya terlihat sebal sekali.


"Kelamaan bro, nanti kamu pasti ngeles dan menghindar lagi, aku tahu kamu bagaimana orangnya," Anton ngotot kepada Jaya.


"Lantas aku harus bagaimana, harus pulang sekarang dan membuat video hina seperti itu," Jaya tak mau kalah sengit kepada sahabatnya.


Lalu Mona kembali muncul, kalau di film sih pasti kemunculan Mona dibarengi hembusan angin menerpa rambut dan juga ada bintang berkelip di seluruh tubuhnya.


"Nah yang ini saja bro, nyata di depan mata...ayo tuntaskan janjimu,"Anton menaikan alisnya ke arah Jaya.


"Sumpah bro....menyesal aku berjanji seperti itu, apalagi kamu juga bisa dengar ..apes sekali nasibku,"keluh Jaya sambil memandang Mona dengan mimik muka menahan ngeri.


"Mona yang baik hati, ini teman saya mau kenalan, dia senang melihatmu katanya,"Anton memanggil Mona untuk mendekat.


"Oooowwww....Oom ini manis banget hitam manis seperti kue brownies... aduh cucok meong...," pekik Mona bahagia saat diberitahu Anton ada penggemar dirinya.


Mona segera menyerahkan pesanan perhiasan kepada Mela dan Anton lalu dia bergegas mendekati Jaya.


"Oom ganteng...tampan, siapa namamu


akikah Mona Ratu Liuk... meliuk-liuk kayak ikan duyung....,"Mona bergaya meliukan badannya dihadapan Jaya lalu tangannya mencubit pipi Jaya.


Anton dan Mela sudah mulai tak kuat menahan tawa melihat mimik muka Jaya.


Lalu Anton memberi kode agar Jaya segera menuntaskan janjinya kepada dirinya.


Lantas tanpa ba bi bu...Jaya berdiri dan langsung...CUP....dia mengecup pipi Mona sambil segera berlari keluar toko.


Mona langsung meloncat kegirangan seperti mendapatkan durian runtuh.


Jaya kabur segera mencari toilet karena merasa mual tingkat dewa.....


Hahahahahahaha.....Anton dan Mela tertawa sampai perutnya kesakitan, tak bisa bicara terus terpingkal-pingkal melihat Jaya kabur ketakutan.


Mela mengirim pesan chat kepada Jaya kalau dia dan Anton menunggunya di food court lantai 2.

__ADS_1


Anton dan Mela sebenarnya khawatir kawannya ini marah dan tak kembali lagi ke mall.


Tapi ternyata tidak, dari kejauhan Jaya muncul dan Mela segera melambaikan tangan memanggilnya.


"Anton sinting... untung saja kamu itu sahabatku, kalau bukan sudah dari tadi kubenamkan ke dalam sumur yang banyak hantunya," Jaya mengomel sambil menghempaskan dirinya ke salah satu bangku di depan Anton.


"Hahahaha....bukan salahku dong...kan kamu sendiri yang janji...bukankah janji harus ditepati....hahahaha," Anton kembali tertawa ngakak melihat sahabatnya berwajah masam.


"Ya sudah aku mengalah, tapi sekarang kamu harus bayarkan aku makanan yang paling mahal dan enak, karena aku lemas habis muntah,"kata Jaya sambil segera beranjak memandangi setiap konter makanan di sana.


"Oke siapa takut....pesanlah apa yang kamu mau nanti aku bayar sebagai tanda terima kasih telah menghibur aku hahahahah".


Lalu dia bergerak menuju salah satu mini resto di deretan konter makanan di sana.


Dan dia memesan makanan paling mahal di sana, tak lama dia kembali dan menyerahkan nota pesanannya kepada Mela.


"Nih bayar makanan pesanan ku," katanya sambil memberikan nota pesanan itu kepada Mela dan dia berlagak masih marah.


Mela melihat nota itu dan dia terkejut karena harga yang tertera cukup fantastis.


Lalu dia meminta dompet Anton untuk membayar pesanannya Jaya.


Anton segera memberikan dompetnya lalu Mela segera bangkit menuju kasir.


Tak lupa dia juga memesan makanan untuk dirinya dan Anton, setelah itu dia membayar semuanya dan kembali ke meja tempat Anton dan Jaya berada.


Tak lama pesanan makanan datang, Jaya memesan paket steak daging impor yang sangat tebal, di atas piring juga ada pure kentang dan irisan wortel juga buncis. Minumannya jus jeruk murni yang segar.


Sementara Anton dan Mela memesan sup tom yam dan rebusan sayur, dan mereka makan satu porsi berdua dengan mesranya.


Saling mengambilkan potongan daging lalu saling menyuapi satu sama lain.


Tentu saja yang jomblo iri hati melihat kemesraan itu.


"Heran aku sejak kenal Anton selalu saja ketemu semacam wewe gombel seperti tadi...kalau sekali lagi ketemu seperti itu aku akan.....".


Jaya belum tuntas bicara langsung dipotong oleh Mela.


"Hai...jangan sembarangan menyebut sesuatu nanti jadi bumerang lagi buat mu oom,"Mela mengingatkan Jaya yang sudah dia anggap kakak sendiri itu.


Jayapun terdiam dan melanjutkan makannya, dia takut juga kalau harus ketemu sama wanita jadi-jadian lagi.


Anita dan Fajar duduk berhadapan dan saling adu argumentasi.


Bagi Anita sangat tidak masuk akal kalau anak bayinya itu disebut indigo.


Fajar hanya menyampaikan apa yang dia rasakan dan dia amati selama beberapa hari ini apalagi waktu itu Kaysan yang membuat Anton bisa bangun.


"Kamu tega sih menilai anak kita indigo segala, aku tak percaya dan tak akan pernah mengakui perkataanmu".


"Dia masih kecil sekali, aneh pikiranmu tak masuk akal, "Anita kesal sekali kepada suaminya, seumur mereka menikah baru sekali ini dia merasa begitu kesal dan sakit hati karena suaminya menilai anak bayinya indigo.


"Bukan begitu bunda...aku hanya menyampaikan bahwa kemungkinan anak kita punya kemampuan seperti itu. Tidak ada maksud aku mengatakan anak kita buruk kok,"Fajar mencoba menentramkan hati istrinya.


"Ayah...dengar yah...sembilan bulan lebih aku mengandung dia, mual-mual, muntah-muntah dan semakin hari semakin berat perutku semua aku tanggung sendiri dengan ikhlas".


"Sekarang kamu seenak perut bicara seperti itu....aku tidak terima....sungguh aku tidak ikhlas...!!!"Anita berapi-api mengungkapan kekesalannya kepada suaminya.


"Sssttt...nanti dia bangun... sudah... sudah....aku minta maaf, aku salah menduga....maafkan aku yah,"kata Fajar mencoba membuat istrinya tidak naik pitam lagi.


"Sekali lagi ayah mengatakan Kaysan yang tidak-tidak, lebih baik kita pisah ranjang, sana tidur di luar selamanya. Aku tidak akan mengampunimu," Anita beranjak mendekati bayinya yang sedang terlelap di atas tempat tidurnya, lalu dia berbaring memeluk menciumi anaknya itu.


Fajar menghela nafas dalam-dalam sambil memandang istri dan anaknya, memang seorang ibu pasti sulit menerima kenyataan kalau ada yang aneh dengan anaknya.


Tot...tot...tot...tot...


Bunyi truck yang membawa peti kemas memasuki pintu gerbang besar, menuju masuk ke garasi suatu bangunan.


BLAAAMMM....


Garasi tertutup, kemudian setelah truck berhenti parkir, pintu peti kemas dibuka.


Lalu naiklah empat orang tinggi kekar masuk ke dalam peti kemas tadi untuk mengangkuti tumpukan dus-dus yang ada didalamnya.


Teeeeetttttt......


Suara forklift truck melaju menuju pintu peti kemas yang terbuka, dus besar diangkat dan ditumpuk diatas garpu forklift, kemudian dibawa dimasukan ke dalam satu ruangan besar.


Di dalam ruangan besar itu ada sekitar lima belas orang pemuda sedang menanti kedatangan dus - dus besar tersebut.


Ketika dus sudah disimpan di lantai segera dibuka satu per satu dan terlihat tumpukan tas wanita.


Satu per satu plastik pembungkus tas wanita itu dibuka, lalu tas tersebut dirobek dengan pisau dan di dalam tas tersebut masing- masing ada sekitar empat botol minuman keras berlabel luar negeri.


Semua minuman keras itu barang ilegal, dikirim dari salah satu negara bebas di Eropa sana.


Total dus memang hanya 100 dus, sudah turun 20 dus di Batam, 20 dus di Palembang dan sisanya untuk di pulau Jawa.


Dalam satu dus ada 20 buah tas wanita, di dalam surat jalan tertera total jumlah ada sekitar 2.000 tas.


Dalam 1 tas tersimpan 4 botol minuman keras, dikalikan dengan 2.000 tas.... maka luar biasa.....ada 8.000 botol minuman ilegal dalam satu peti kemas.


Dijual ke toko-toko dan warung yang nakal yang berani menjual minuman keras dengan dibandrol harga dua ratus ribu per botol, dan warung menjual lebih mahal lagi dari itu.


Pengiriman rutin setiap dua minggu sekali dengan angka yang sama, dalam satu bulan kang Japar mendapatkan omset milyaran rupiah dari uang haram tersebut.


Belum lagi kalau ada pesanan khusus maka akan semakin berlipat lagi keuntungan yang diraih oleh Kang Japar.


Ya benar dia memang Kang Jap Fan.... dia adalah adik kandung dari pemilik restoran dan rumah judi tempat ayah dan ibunya Fajar Sanjaya dahulu bekerja di kota Batam.


Resto California merupakan kamuflase dari rumah judi milik seseorang yang bernama Kang Jap Wan.


Kang Jap Wan dan Kang Jap Fan adalah kakak beradik. Keduanya gembong mafia, selain judi juga ada bisnis haram lain berupa minuman keras ilegal impor dari luar negeri.


Ada satu lagi adik perempuan mereka Kang Jap Lin, wanita itu juga sama bejat, dia pemilik usaha rumah bordil.


Mereka aslinya adalah warga negara Singapura yang membuka usaha haram di negara Indonesia.


Bermodalkan kartu tanda pengenal palsu, mereka pura-pura menjadi orang asli Indonesia.


Pangsa pasar mereka sebenarnya adalah turis-turis asing yang datang ke kota Batam, walau tak tertutup juga bangsa kita sendiri yang mempunyai ahlak buruk.


Restoran California sendiri dari tampak luar terlihat kecil, namun di balik dapurnya ada ruangan besar tempat judi ilegal.


Berpuluh tahun Joni Sanjaya dan Ahoa istrinya bekerja sebagai penjaga malam dan juga pelayan pengantar makanan.


Suatu hari Ahoa mengantar makanan pesanan majikannya pesanan dari tamu-tamunya, dia naik ke lantai atas sambil membawa semua makanan yang diinginkan majikannya itu.


Ahoa masuk ke dalam ruangan penuh asap rokok dan bau alkohol menyengat. Sesungguhnya dia tak suka tapi semua demi perut dan juga demi anaknya Fajar, maka dia mengesampingkan hal itu dan terus bekerja ditempat itu.


Sambil dia menata makanan di atas meja untuk disajikan kepada tamu majikannya terdengar olehnya sang majikan yaitu Kang Jap Wan seperti sedang murka kepada seseorang.


DOOORRR!!!!


Orang yang sedang dimarahi oleh majikannya itu ditembak kepalanya oleh adik majikannya yaitu Kang Jap Fan.

__ADS_1


Lalu mayatnya dibawa oleh anak buah mereka yang bertubuh kekar bertato ke halaman belakang bangunan itu dan dikuburkan dengan tidak layak.


Dia beberapa kali mendapati kejadian itu, tapi dia diancam harus tutup mulut atau anak mereka Fajar akan menemui ajalnya.


Joni Sanjaya apalagi, dia paling merasa hidupnya sangat kotor, karena dia yang disuruh menggali tanah untuk dipakai menguburkan mayat- mayat yang ditembak majikannya.


Baik Joni maupun Ahoa tutup mulut, mereka khawatir anak mereka akan dibunuh komplotan itu.


Suatu hari ada seorang polisi bertugas menyamar memasuki tempat haram itu berpura-pura sebagai pelayan.


Polisi itu diam- diam merekam setiap kejadian kejahatan yang terjadi di dalam bangunan itu mempergunakan telepon genggamnya.


Tak sengaja Joni mengetahui hal itu, dan dia mendukung aksi polisi itu.


Tapi ternyata dinding bertelinga dan jendela mempunyai mata.


Ada yang mengetahui aksinya, sebelum dia ditangkap Kang Jap Wan polisi itu memberikan telepon genggam itu kepada Joni untuk diberikan kepada kepolisian suatu saat nanti.


Joni lalu menyimpan telepon genggam itu ke dalam baju dalam Ahoa disaat istrinya akan pulang ke rumahnya.


Setiap malam memang istrinya akan lebih dulu pulang daripada dirinya.


Ahoa berlari secepatnya untuk pulang rumahnya lalu mengambil kantung plastik dan menyembunyikan telepon genggam itu ke celah dinding dekat pintu kamar mandi rumah mereka.


Orang lain pasti tidak akan peduli akan celah itu, karena seperti celah jalan tikus, bahkan Fajar sendiri tidak tahu kalau celah kecil di dekat pintu kamar mandinya tersimpan bukti kejahatan seseorang.


Polisi tadi akhirnya tertangkap anak buah Kang Jap Wan dan polisi itu tutup mulut ketika ditanya dimana bukti alat rekamnya.


Karena terus tak menjawab maka dengan mudahnya letusan peluru tertancap di kepalanya.


Kang Jap Fan mencurigai Joni dan istrinya paham sesuatu, suatu hari dia datang menggeledah rumah mereka.


Waktu itu Fajar baru saja bangun tidur setelah semalaman belajar bersama kawan-kawannya karena dia akan mengikuti ujian guna mendapatkan beasiswa.


Dia bertanya kepada orang tuanya ada apa sampai mereka diancam lalu rumah digeledah oleh orang tadi.


Kedua orangtuanya berkata tidak ada apa-apa semua baik-baik saja, hanya tamu berkunjung.


Ketika Joni dan Ahoa mendapat kabar anaknya diterima kuliah di pulau Jawa, mereka bahagia sekali.


Setidaknya anak mereka aman kalau di pulau Jawa sana, mereka selalu berkata


agar anaknya jangan pernah kembali ke Batam.


Joni dan Ahoa memperbaiki keimanan mereka dan mereka berdua mendatangi masjid untuk menyatakan dua kalimat Syahadat dipandu oleh seorang Ustad.


Mereka berkonsultasi dengan Ustad perihal masalah yang mereka lihat dan juga mereka perbuat.


Ustad memberikan pencerahan kalau kebenaran harus tetap disampaikan walau akhirnya ajal taruhannya.


Mereka sudah tak tahan hidup penuh dengan lumpur dosa, saat anaknya tiba dengan selamat di pulau Jawa, segera keduanya melangkah ke kantor Polisi.


Kepolisian Batam segera bertindak atas laporan kedua orang tua Fajar.


Resto California hanyalah topeng dari perjudian ilegal itupun digerebek dan dihancurkan oleh kepolisian kota Batam.


Polisi menerobos dapur, dan segera pintu penghalang diterjang tampaklah ruangan judi yang sangat luas saat pintu dibuka.


Kang Jap Wan berhasil ditangkap namun adiknya lolos melarikan diri.


Halaman belakang rumah di gali dan banyak kerangka dan banyak mayat bergelimpangan salah satunya mayat polisi yang menyamar.


Kang Jap Fan tidak terima kakaknya dilaporkan dan ditangkap, malamnya dia membunuh Joni dan Ahoa di saat hujan lebat.


Kang Jap Wan dijatuhi vonis hukuman mati karena perbuatannya.


Kang Jap Fan kabur bersama istrinya dan kedua anaknya ke kota Palembang tempat kelahiran istrinya.


Polisi mencari rumah adik perempuan mereka dan menggeledah rumahnya.


Setelah diacak-acak ditemukanlah kenyataan bahwa rumah itu adalah tempat prostitusi dan perdagangan perempuan.


Kang Jap Li mencoba untuk kabur tapi letusan polisi tepat mengenai dadanya, maka ambruklah dia seketika itu juga.


Telepon genggam milik Kang Jap Li ditemukan ada sms dari Kang Jap Fan yang memberitahukan bahwa mereka ada di Palembang.


Kepolisian Palembang lantas dihubungi oleh Kepolisian Batam, segera mereka bergerak menuju ke lokasi.


Kang Jap Fan sekeluarga sudah hilang, mereka kabur lagi ke pulau Jawa ke kota Cirebon.


Disana dia mengubah namanya menjadi Kang Japar, pura-pura seakan mereka adalah orang Jawa Barat.


Besok malam ada 15 orang pemuda akan diturunkan ke lima kota sambil masing-masing membawa sepuluh botol minuman keras ke dalam ransel.


Anton dan Mela sekalian berbelanja untuk keperluan pernikahannya mereka nanti.


Lumayan mumpung ada Jaya jadi bisa bergantian mendorong kursi roda Anton.


Sebenarnya sih tidak harus selalu Anton didorong-dorong tapi baik Jaya apalagi Mela masih ada rasa khawatir terjadi lagi sesuatu kepada dirinya.


Sepatu, baju dan lain-lain, sebenarnya sih untuk tradisi kalau mau menikah harus melengkapi kebutuhan pribadi pengantin.


Sementara untuk baju pengantin mereka masih bingung apakah harus membeli atau menyewa, biarkan saja nanti mereka akan bahas di rumah dengan Anita.


Mela lupa membeli parfum minyak wangi dan mereka mencari toko yang menjual minyak wangi.


Anton sudah cukup lelah jadi dia membiarkan Mela saja yang mencari minyak wangi untuk dijadikan barang seserahan nanti.


Jaya berdiri disamping kursi roda mengamati orang-orang yang sibuk memilih berbagai macam parfum di toko itu.


Tiba-tiba matanya tertuju kepada seseorang yaitu Miranti Chandra, kebetulan dia sedang ada di toko tersebut.


Jaya iseng mendekati berharap wanita itu mengenali dirinya.


Tapi ternyata dilirikpun tidak, terlihat Miranti konsen memilih berbagai parfum untuk dirinya.


Penasaran sekali hati Jaya, lalu dia mencoba menyapanya.


Miranti memandangi dengan wajah tak senang, lalu dia melengos balik badan meninggalkan Jaya.


Sungguh Jaya terkejut dan kecewa karena dia belum pernah sekalipun ditolak atau diremehkan wanita.


Tapi Miranti seakan tak peduli kepada dirinya, memang Miranti sangat anti kepada pria hidung belang model Jaya.


Dia sebenarnya sama dengan Jaya, suka dengan pria polos yang bisa dia bohongi bahkan kalau bisa dihancurkan kehidupannya.


Miranti melangkah menuju pintu keluar toko, dia tidak jadi membeli karena kesal merasa diganggu oleh Jaya.


Saat keluar pintu dia melihat ada pria yang wajahnya pernah dia kenal, tapi terlihat memakai kursi roda dan tidak ada kakinya satu.


Jadi dia hanya melihat lalu kembali melengos tak peduli.


"Untung dia tak mengenali aku, bahaya kalau sampai yang di dalam lihat,"ujar Anton dalam hati.


Dia tak sadar kalau ada sepasang mata mengintipnya, takut ada alasan play victim lagi.

__ADS_1


__ADS_2