Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keempat Belas


__ADS_3

"Halo Ton, kamu tidak pulang minggu ini nak?"tanya Aryani kepada Anton anaknya.


"Heeemmmhhh....minggu depan saja Mah, karena seminggu ini masih mau pengenalan lingkungan dulu,"jawab Anton dengan setengah sadar karena masih mengantuk.


"Kamu kedengaran masih ngantuk jam segini? Apakah semalam kurang tidur?" tanya Aryani lagi kepada anaknya.


"Engga juga Mah, biasa semalam jalan sama teman sesama orang puskesmas," jawab Anton lagi dengan masih lemas.


"Ya sudah istirahat, jaga kesehatan yah, jangan pulang malam, nanti kamu sakit disana bagaimana coba. Kabari kami nanti kalau mau pulang ke Bandung yah".


"Iya Mah siap, Mamah dan Papah juga jaga kesehatan di rumah yah".


Lalu merekapun mengakhiri pembicaraan setelah saling memberi salam.


Anton melihat jam di dinding, sudah jam 07.00 pagi, namun matanya masih sangat berat dan diapun tidur lagi.


Semalam tepat sebelum Adzan Isya berkumandang, Mela tiba di rumahnya. Dia disambut oleh ibunya dan juga kedua adiknya.


Mela membawakan beberapa macam kue dari kota untuk keluarganya, dan langsung disambar oleh Wahyu.


"Ang Mela, kesuwun yah wingi wis dilunasi kabeh biaya sekolah kita ning aang,"ujar Wahyu sambil mulutnya penuh kue dia mengucapkan terima kasih kepada kakaknya.


(\=Kak Mela, terima kasih yah kemarin sudah dilunasi semua biaya sekolahku oleh kakak)


Mela hanya tersenyum sambil mengacak rambut adik bungsunya itu.


"Cung* ira baka mangan aja ngomong, beli sopan jeh",ujar ibunya memperingatkan anak bungsunya.


*Cung atau kacung adalah panggilan untuk anak laki-laki atau biasanya anak bungsu laki-laki.


(\=Nak, kamu kalau makan jangan sambil bicara, tidak sopan)


"Nok mandi disit mana, mengko mangan bareng,"kata ibunya kepada Mela.


(\=Nak mandi dulu sana, nanti kita makan bersama)


Mela lalu mandi, sholat Isya dan kemudian makan bersama ibu dan kedua adiknya.


Setelah makan mereka berbincang di teras rumah sambil mencari angin.


"Mimi...Aang...amit..Rahman pengen ngomong",tiba-tiba Rahman berkata kepada ibu dan kakaknya.


(\=Ibu...Kakak...maaf Rahman ingin bicara)


"Pengen ngomong apa Man, duwe masalah apa ira e?"tanya ibunya.


(\=Mau bicara apa Man, punya masalah apakah kamu?)


"Amit Mimi, sekien Rahman duwe demenan. Aslie wong wetan, kampung Sarajaya, menggawe ning mini market sebelah tempat kita menggawe," ujar Jaya malu-malu mengutarakan bahwa dia sekarang sudah mempunyai kekasih.


(\=Maaf ibu, sekarang Rahman punya kekasih. Berasal dari daerah timur, kampung Sarajaya, bekerja di mini market yang bersebelahan dengan tempat saya bekerja)


"Ya bagus dong, bawalah ke rumah kenalkan sama aang dan mimi,"sahut Mela dengan gembira.


"Aang kuh, blenak kita yong aang gen durung duwe demenan. Ko kita nglangkai aang priben jeh,"kata Rahman lagi dia merasa tidak enak hati kepada sang kakak.


(\=Kakak tuh, aku tidak enak hati karena kakak juga belum punya kekasih. Nanti aku melangkahi kakak bagaimana loh)


"Ya tidak apa-apa Man, jodoh orang kan siapa tahu. Mungkin Rahman dulu yang dapat jodoh, nanti jodoh aang pasti akan datang kok," Mela menenangkan adiknya sambil tersenyum.


Sementara ibunya memandang Mela sambil dalam hatinya merasa iba karena anak gadis tertuanya belum mendapatkan jodohnya.

__ADS_1


Waktu tidur adalah waktunya Mela bermanja kepada ibunya, dia tidur seranjang bersama ibunya.


"Nok, wingi kah ana Mang Bahar marani mene karo Aris, nakoni nok, gelem bli baka nok dilamar ning Aris,"Kata ibunya sambil mengelus rambut anak gadisnya.


(\=Nak, kemarin ini ada Mang Bahar kemari bersama Aris, mereka menanyakanmu, mau tidak kamu dilamar Aris)


Mela sambil berbaring menatap ibunya dan berkata," Mimi kuh, ya emonglah, kita weru Aris kuh priben wonge, mabokan bae, rumangsa wong sugih".


(\=Ibu tuh, jelas tak maulah, aku tahu Aris seperti apa, kerjanya mabuk saja, merasa dirinya orang kaya)


Ibunya hanya diam sambil memandangi wajah anak gadisnya yang mulai terlelap sambil terus mengelus rambutnya.


Dalam hatinya ibunya mendoakan anak gadisnya kelak mendapatkan jodoh yang terbaik.


Keesokan paginya Mela membantu Ibunya mengolah tahu untuk dibuat pepes yang terkenal dengan sebutan intip tahu oleh masyarakat sekitar sana.


Makanan ini adalah salah satu makanan khas Cirebon yang berasal dari kecamatan Sindanglaut.


Hampir seluruh desa disana mencari nafkah dengan menjadi pengrajin intip tahu, dan salah satunya ibu Sinah orangtuanya Mela.


Mela meminta 10 buah untuk nanti sore dibawa ke plumbon.


"Walah tumben nemen Wak Atin jaluk intip tahu,"ujar ibunya


(\=Wah tumben sekali Wak Atin minta dibawakan intip tahu)


"Dudu Mi, dudu kenggo wak Atin tapi kenggo dokter Anton kang nempati paviliun,"jawab Mela sambil mengipasi bungkusan intip tahu yang sedang dia panggang.


(\=bukan Bu, bukan untuk wak Atin tapi untuk dokter Anton yang tinggal di paviliun)


"Anton?.. dudu arane Harsono?" Ibunya merasa aneh karena dulu kalau Mela cerita pasti tentang dokter Harsono.


(\=Anton?..bukankah namanya Harsono)


(\=orang baru bu, dokter Harsono pindah ke kota Serang, sekarang yang datang orang dari Bandung bernama dokter Anton)


Ibunya mengangguk-anggukan kepala sambil sebenarnya beliau tidak pernah paham seperti apa wajah yang bernama dokter Harsono dan sekarang ada lagi nama baru.


Anton baru bisa benar-benar terjaga dari tidurnya ketika jam sudah menunjukkan jam 10.00 pagi.


Meraih tongkatnya dan mulai bergerak menuju ke kamar mandi.


Selesai dari kamar mandi diapun melangkah menuju dapur mengambil gelas dan diisi dengan air mineral.


Lalu dia menatap pintu lemari es ternyata ada catatan kecil disana.


"Dok, buah naga sudah dikupas ada di kotak bekal, lalu saya buat puding coklat. Semoga enak yah"


Rupanya dari kemarin sudah ada pesan itu, namun dari sejak kemarin sore, baru pagi ini dia melihat tulisan di lemari es. Karena kemarin sore dia sudah pergi dengan Jaya.


Lalu dia membuka lemari es nya dan terlihat ada puding coklat yang menggiurkan. Lalu dia juga mengambil kotak berisi potongan buah naga. Kemudian dia memakan potongan buah naga beserta potongan puding coklat tersebut.


Terasa segar sekali ditenggorokannya.


Kemarin Anton dan Jaya setelah sore hari berpesta durian di kampung duren Sinapel, kemudian mereka menuju ke salah satu mall di kota.


Hampir di setiap mall pasti selalu ada musholla dan merekapun. menunaikan sholat maghrib disambung sholat Isya.


Karena Anton tidak mungkin buka tutup kaki palsunya pasti setiap ibadah sore menuju malam dia selesaikan dulu sampai tunai.


Setelah itu mereka menuju bioskop yang ada di mall tersebut, kebetulan ada film action terbaru yang memang telah ditunggu lama oleh para penggemarnya.

__ADS_1


Menjelang tengah malam sehabis menonton film, Jaya membelokkan mobil ke arah Kuningan.


Dan dia mengajak Anton ke area wisata gemerlap malam disana, karena tidak berdaya maka Antonpun terpaksa ikut.


Mereka memasuki salah satu cafe remang-remang, penuh dengan asap rokok dan juga dentuman musik dangdut yang sangat kencang.


Ketika masuk Jaya disambut oleh para wanita penggoda disana. Anton merasa tidak suka dengan hal seperti itu, tapi yah mau apa lagi, saat itu kunci mobilpun ditangan Jaya.


Seperti biasa Jaya berlagak sok jutawan, dia pesan minuman beralkohol dan dicekokinya sang dokter muda itu.


Untung Anton sudah bisa menakar diri, sehingga dia bisa mengontrol diri agar tidak sampai mabuk parah.


Mereka kembali ke paviliun sekitar jam 3 pagi, dan Jaya segera pulang ke rumahnya.


Sebelum sholat subuh Anton membersihkan diri, lalu setelah selesai ibadah diapun tidur, sempat ditelepon ibunya tetapi dia tidak konsen dengan percakapan dengan ibunya tadi.


Diapun terlelap lagi sampai barusan dia bisa benar-benar bangun.


Siang itu Anton memesan makanan melalui ojek online, dan ketika pengantar datang betapa senangnya si pengantar saat melihat Anton.


"Semangat yah pak, kaum difabel pantang menyerah!!"


Petugas ojek online itu memperlihatkan kaki palsu bagian kanannya dan Anton menyambutnya dengan mengacungkan jempol.


Selepas Isya Mela mengetuk pintu paviliun, ditangannya ada sepiring intip tahu.


Lalu dia menjelaskan bahwa itu adalah salah satu makanan khas Cirebon yang berasal dari kampungnya dan kebetulan keluarganya salah satu penghasil panganan tersebut.


Sambil mencoba intip tahunya Anton menyampaikan perihal skripsi, dan juga menyebutkan lokasinya di Bandung.


Seketika Mela menjadi galau dan bimbang, bagaimana cara dia ke Bandung dan bagaimana pula dia memikirkan ongkos bolak baliknya juga resiko kemungkinan harus menginap kalau data masih kurang.


Saat Mela tertegun, Anton yang sedari tadi sudah menebak pemikiran Mela lalu berkata,


"Kamu tidak usah pusing, saya sangat kenal dengan pemilik usaha itu. Saya jamin kamu tidak perlu keluar uang sepeser pun. Kamu ke Bandung bisa bersama saya sekitar dua minggu sekali".


Mata Melapun berbinar dan dia sangat berterima kasih kepada Anton yang begitu mempedulikan dirinya


Tiba-tiba terlintas di pikiran Anton atas sesuatu yang mengganjal hatinya.


"Mela, kok dokter Harsono tidak pernah kemari lagi?", tanyanya sambil menanti reaksi Mela.


" Hah..mau apa kemari, kan beliau sudah bertugas ditempat lain,"jawab Mela sambil mengerucutkan mulutnya.


"Ya kali nengokin kamu, masa sama pacarnya engga peduli sih".


Lalu Mela terbahak dengan kerasnya


" Hahaha..pasti gosip dari Jaya itu sih, hahahaha....dokter Harsono itu sengaja mengatakan kepada Jaya kalau saya pacarnya. Karena beliau takut saya digoda oleh Jaya...hahahah".


Deg... Anton merasa agak lega mendengarnya tapi dia ingin lebih yakin.


"Tapi menurut Jaya, Kamu sering kan dibawanya ke berbagai acara- acara di puskemas".


" Hahaha... Iyalah dokter, saya dibawa untuk perbaikan gizi. Secara saya disini mendapat jatah makan mengenaskan, jadi kalau di acara -acara kan banyak makanan enak lumayan dong ...gratis pula ... hahahah".


Anton ikut tertawa sambil hatinya merasa sangat puas mendengar penjelasan Mela.


Dari kejauhan ada sepasang mata mengintip dari balik tirai jendela ruang tamunya, dan si pengintip merasa terkejut saat melihat kenyataan kondisi dokter Anton yang hanya berkaki satu.


"Dokter apa kuwen, sikile tugel mengkonon. Wah beli jelas. Wis beli sidalah karo anak kita, gawe isin bae mengko e,"wak Atin bergumam merasa kecewa dengan tampilan fisik Anton yang sesungguhnya.

__ADS_1


(\=Dokter macam apa itu, kakinya buntung. Tidak jelas. Sudah tak jadilah dia dengan anakku, nantinya akan membuat malu saja)


__ADS_2