
Jum'at, 29 Desember
Anita sedang menjunjung tangan Kaysan yang ingin berjalan sendiri, tapi anaknya itu memang belum bisa berjalan sendiri.
Hanya anak kecilnya ini sering membuat keajaiban-keajaiban yang sulit diterima akal sehat.
Namun Anita sama sekali tidak ingin mengungkapan atau membahas tentang masalah anaknya ini.
Baginya Kaysan tetaplah anak bayi kecilnya yang lucu menggemaskan.
Tanggal 31 Desember nanti anaknya akan berulang tahun yang ke satu tahun.
Betapa senang hati seorang ibu, anaknya akan berulang tahun di negara lain.
Rencananya tanggal 31 Desember nanti mereka akan berlibur ke Singapura.
"Bun, apakah semua perlengkapan anak kita sudah masuk semua ke dalam tas?"tanya Fajar kepada istrinya sambil menyisir kamar hotelnya.
"Rasanya sudah semua kok, bahkan mainan kesayangan Kay juga sudah masuk ke tas besar,"jawab Anita sambil menimang anak bayinya yang mulai besar.
Kaysan anak yang penuh semangat, walau belum genap satu tahun dia sudah terus berusaha ingin lancar jalan.
Kalau soal merangkak sudah sangat jagonya, bahkan Anita sampai selalu kewalahan kalau anak itu sedang merangkak cepat entah kemana.
Fajar sudah membeli tiket kapal ferry ini sejak beberapa hari lalu melalui aplikasi online.
Setelah para pria menunaikan sholat Jum'at, mereka akan check out dan naik kapal Ferry menuju ke Singapura.
Adalah seorang pegawai rumah makan California jaman dahulu yang pernah bekerja bersama ayahnya Fajar.
Pria itu adalah salah satu pegawai kesayangan Kang Jap Wan yang merupakan kakaknya Kang Japar alias Kang Jap Fan.
Dia orang yang licik, walaupun saat ini kondisinya sudah cacat dan miskin, tapi dia tetap tidak punya hati yang bersih.
Kemarin dia melihat sosok anaknya almarhum Joni Sanjaya di sebuah pemakaman, saat itu dia kebetulan lewat pemakaman tersebut.
Dari jauh dia melihat Fajar, yah dia pasti kenal dan hafal kepada Fajar. Karena jaman dahulunya sering bertandang ke rumah Joni Sanjaya ketika masih hidup.
Orang itu dipanggil Si Kampak, tapi entah siapa nama aslinya yang pasti di lengan kanannya ada sebuah tato bergambar kampak.
Kampak kakinya tertembak polisi saat dahulu rumah makan California disergap dan dihancurkan oleh Kepolisian Batam.
Dia berhasil lolos dan sekarang pekerjaannya entah apa tapi yang pasti tidak jauh dari dunia kejahatan.
Entah itu menodong, merampok atau bahkan membunuh orang.
Tergantung kepada permintaan dan orang jahat lainnya yang menyuruh agar tangannya tidak berlumuran darah.
"Kau yakin dia anaknya Joni..., berarti dia sedang kembali ke Batam. Hmmm...benar-benar pucuk di cinta ulampun tiba," kata Kang Japar sambil menatap ke luar jendela.
"Benar boss, dan saya mengikuti dia sejak dari makam orang tuanya lalu ke bekas rumah lamanya,"kata si Kampak menjelaskan kepada Kang Japar.
"Kampak, apakah kau melihat mereka menemukan sesuatu seperti ponsel atau sejenisnya yang ada rekaman gudang bawah tanah tempat ribuan botol minuman kerasku berada?"tanya Kang Japar sambil menatap Kampak dengan dingin.
"Nah perkara itu, saya tidak tahu boss. Polisi bisa mendapatkan rekaman dari mana. Itu sungguh aneh sekali,"jawab Kampak kepada bossnya.
"Di berita disampaikan bahwa rekaman itu dari ponsel yang ditemukan di reruntuhan rumah Joni. Katanya kau mengikuti mereka, masa kau tidak tahu?" Kang Japar mulai berkata dengan lembut tapi nadanya mematikan.
"Sungguh boss...saya kan naik sepeda saat mengikuti mereka. Jadi terlambat ketika tiba di bekas rumahnya, hanya terakhir melihat Fajar bersama anak dan istrinya keluar dari reruntuhan rumah itu".
"Sekarang mereka dimana yah?" tanya Kang Japar sambil geram.
"Maaf boss, tampaknya mereka akan ke Singapura. Kemarin saat kami berselisih jalan, anaknya berbicara kepada istrinya Fajar soal rencana ke Singapura".
"Oke , kampak kau punya paspor tidak ?"tanya Kang Japar sambil menatap Kampak.
"Aku tak punya boss, tapi aku bisa menerobos naik dari kapal nelayan. Malam ini aku ikut nelayan menuju ke Singapura," jawab Kampak meyakinkan Kang Japar.
"Baiklah, sekarang antar aku ke pelabuhan Batam Center, aku akan ke Singapura sekarang juga".
Jam menunjukkan pukul dua siang, rombongan Hore sudah tiba di pelabuhan Batam Center.
Sekarang mereka sedang antri untuk masuk ke dalam kapal Ferry.
Kampak mengantarkan Kang Japar dengan naik sepeda, untung jaraknya tidak terlalu jauh.
Kang Japar masih mendapat tiket untuk keberangkatan satu jam lagi.
Kampak menanti boss nya di pinggir dermaga sambil melihat-lihat orang yang akan naik ke dalam kapal Ferry.
Tiba-tiba matanya tertuju kepada seorang lelaki yang sedang menggendong anak bayi kecilnya.
Kampak berlari memberitahukan Kang Japar, telunjuknya menunjuk ke arah Fajar.
Kang Japar merasa seperti didukung alam semesta, dia tidak usah mencari Fajar terlalu lama.
Kemudian panggilan kepada seluruh penumpang yang akan naik kapal di jam lima belas agar segera bersiap-siap.
Rombongan Hore juga segera bersiap-siap menuju kapal Ferry.
Kapal Ferry sudah berlayar meninggalkan dermaga sekitar lima belas menit.
Jaya seperti biasa matanya jelalatan mengincar wanita cantik, tapi sialnya wanita cantik yang dia goda hampir semuanya pasti membuang muka.
Mungkin Jaya sedang kehilangan aura tampannya.
Anton dan Mela duduk berdua sambil bermesraan, memang pengantin baru keduanya tak mau lepas selalu lengket dimanapun juga.
Keluarga Serina dan Bang Cak tak usah disebut lagi, baru juga kapal berlayar lima menit. Keduanya sudah tertidur pulas, memang keduanya kalau naik kendaraan apapun pasti segera terlelap.
Septa sedang jepret sana dan sini, dia memang sangat hobi sekali fotografi.
Mahendra sih sudah jelas anak seusia dia jaman sekarang tak akan bisa lepas dari gawai.
Kaysan tertidur di kursi dorongnya, sementara Keiza tidur di pangkuan ibunya.
Fajar terlihat lelah sekali, dia duduk di sebelah istrinya sambil menatap kedua anaknya yang sangat enak terlelap.
Anita menyandarkan kepalanya ke bahu Fajar, dia juga merasa sangat mengantuk sekali.
Saat Fajar sedang duduk sambil memegangi kereta dorong anaknya, tiba-tiba di belakang punggungnya ada sesuatu yang menyundul.
Kang Japar dari balik saku jaketnya menodongkan pistol ke arah Fajar, namun dia memasang aksi seperti orang yang sedang mengobrol.
"Kau jangan tiba-tiba bergerak dengan mencurigakan, aku memegang pistol. Aku bisa saja membunuhmu dan juga keluargamu sekarang juga," kata Kang Japar dengan nada lembut seakan tidak mengajukan ancaman.
Fajar langsung lemas, dia meminta Anita bangun untuk minta ijin mau berbincang sebentar dengan kawan lama.
Anita mengijinkan sambil dia memeluk Kaysan memindahkan ke gendongan tangannya.
Fajar dan Kang Japar berjalan melalui Anton dan Jaya, otomatis kedua sahabat itu terperanjat saat melihat orang dibelakang Fajar.
Tapi untung saat itu baik Jaya maupun Anton sedang memakai kacamata hitam, sehingga Kang Japar tidak mengenalinya.
Keduanya terus berjalan menuju ke geladak kapal, untung saja Fajar memang orang yang tenang.
Walau saat ini pistol ditodongkan ke punggungnya tapi dia tetap berjalan dengan tenang.
Sekarang mereka ada di geladak kapal, lalu Fajar berdiri menghadap Kang Japar.
"Ada apa sebenarnya pak...saya tidak kenal dengan anda, lalu tiba-tiba anda menodongkan pistol kepada saya. Apa salah saya ?" tanya Fajar sambil memandang ke arah wajah Kang Japar.
"Semalam gudang minuman kerasku dihancurkan polisi, dan setahu aku yang paling tahu gudang itu adalah almarhum ayahmu Joni. Artinya kau anak si Joni, pasti kau telah melaporkan gudang itu ke polisi," kata Kang Japar dengan menatap tajam.
"Aku tak tahu apa maksud bapak, dan aku juga tidak pernah melaporkan apapun kepada siapapun. Kami sekeluarga sedang berlibur," kata Fajar menerangkan kepada Kang Japar.
"Hahahah...lalu siapa yang melaporkan gudang minuman kerasku, kalau bukan kau... Karena hanya Joni yang tahu pasti tempat itu," Kang Japar menekan dada Fajar dengan telunjuknya.
"Mungkin bapak salah orang, saya tidak paham apa yang bapak maksud,"sahut Fajar masih dengan santai menatap Kang Japar.
"Begini saja, daripada kau terus mengelak. Besok antarkan rekaman dari ponsel yang kau temukan di reruntuhan rumahmu".
"Aku tunggu jam sepuluh pagi di depan Merlion Park, jangan sampai kau lalai anak muda,"bisik Kang Japar ke telinga Fajar.
Tanpa keduanya sadari dari tadi Septa terus mengambil gambar mereka berdua, dengan pura-pura sebagai turis yang sedang memfoto pemandangan pulau Batam dan Singapura.
Fajar terdiam dan dia tidak berani mendekati keluarganya. Dia tahu dirinya sedang diikuti, jadi dia harus berpura-pura hanya sedang bersama keluarga kecilnya saja.
Tiba di Singapura, lantas mereka naik mobil yang sudah disewa sebelumnya.
Fajar selalu meminta istrinya naik belakangan dan terus berusaha tidak bicara dengan sepupu lainnnya agar dikira orang yang di dalam mobil bukan keluarga besarnya.
Mereka menuju hotel di sekitar Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura, di sekitar Chatsworth Road.
Antara hotel tersebut dengan KBRI di Singapura hanya beberapa langkah saja.
Mereka berencana akan berkunjung ke kediaman tante Hasni di KBRI di Singapura pada keesokan harinya.
Hari ini sudah menjelang malam, maka mereka memutuskan makan di hotel saja karena kebetulan sedang ada promo harga akhir tahun.
Anton dan Jaya mendekati Fajar, begitu juga Septa. Lalu Fajar bercerita tentang ancaman dari Kang Japar kepadanya yang rupanya tahu soal rekaman video.
Semua pria disitu ikut berpikir, bagaimana caranya agar Fajar bisa lolos dari kejaran Kang Japar.
"Sudahlah aku pasang badan saja, yang penting keluargaku selamat".
Sabtu, 30 Desember
Tante Hasni mengundang keluarga besarnya yang sedang berlibur ke Singapura untuk makan siang bersama di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura.
Rombongan berjalan kaki bersama, dan ketika mereka tiba dihadapan penjaga, ternyata data nama mereka sudah masuk ke dalam daftar jadi mereka dapat segera masuk kedalam gedung KBRI.
Fajar diam saja dari semalam tidak banyak bicara sama sekali, hatinya sangat galau dia bingung entah harus bagaimana.
Mereka diundang pukul sembilan pagi ini, dan tak mungkin bagi dirinya tiba-tiba menghilang ke Merlion hanya untuk sekedar menemui Kang Japar yang tidak jelas itu.
__ADS_1
Suatu kebanggaan bagi mereka semua bisa bertemu dengan tante Hasni dan juga suami nya yang seorang duta besar yaitu Syahbudin Akmal.
Sebagai seorang duta besar tentu beliau akan bersikap formal kepada tamu kenegaraan, namun kali ini beliau bertemu dengan keponakan dari pihak istrinya tentu saja menyambut dengan sangat santai sekali.
Mereka diundang berbincang santai di sebuah ruangan pribadi khusus keluarga Duta Besar.
Semua bergembira hanya Fajar yang sejak tadi terlihat resah, tapi dia berusaha menutupinya.
"Nita, ini cucu-cucuku belum sempat aku belikan hadiah, maafkan yah. Kalian sampai kapan di sini, biar aku sempatkan membeli hadiah untuk mereka?"tante Hasni tersenyum gemas melihat kedua anak Anita.
"Besok Kaysan ulang tahun yang pertama. Tapi tante sudah tidak usah repot-repot," Anita berbasa- basi padahal mengharap tantenya memberi hadiah untuk anaknya.
"Oowww....Dear...anak Anita besok ulang tahun, kita rayakan disini saja yah..,"tante Hasni berkata kepada suaminya minta ijin.
"Oh...really...Oke...rayakan saja disini, kami senang sekali. Besok saya suruh staff saya untuk mempersiapkan segalanya,"kata Syahbudin Akmal Duta Besar yang baik hati.
Anita semakin berbunga- bunga memang itu yang dia kehendaki dari waktu itu. Hubungan Anita dengan Hasni memang dekat, waktu Anita kecil sangat disayangi oleh Hasni karena beliau tidak punya anak perempuan.
Jadi sampai sudah dewasa dan punya anak juga Anita tetap manja kepada tantenya ini.
Mereka kemudian diundang makan oleh tante Hasni, makanan enak-enak berlimpah ruah. Dari makanan melayu sampai makanan Tionghoa.
Waktu menunjukkan menjelang sore hari, rombongan diantar oleh sopir dan mobil kedutaan untuk berjalan-jalan di negara Singapura yang besarnya tidak lebih dari kota Jakarta.
Kehidupan di negara ini tidak terlalu berbeda jauh dengan di kota Batam, hanya di Singapura segalanya lebih megah dan jauh lebih bersih.
Mereka tiba di Marina Bay dan segera menuju Garden by the bay, yaitu sebuah taman yang terletak di sebuah gedung pencakar langit. Di sana banyak beraneka ragam bunga bermekaran dan juga pepohonan yang rimbun. Semakin malam semakin menyenangkan karena lampu-lampu berkelap-kelip menerangi semua pepohonan disana.
Anita saking terpesona melihat bunga-bungaan dan pepohonan
disana, dia tak menyadari kalau Kaysan ada yang menggendong.
Dan di roda dorongnya diselipkan secarik kertas.
"Kaysan dimana yah...siapa yang menggendong ?"tanya Anita dalam hati sambil menatap saudaranya satu per satu mencari siapa yang tengah menggendong anaknya.
"Ayah...Kaysan dimana?" tanyanya kepada Fajar mulai panik.
"Loh tadi kan dia di kursi dorongnya sambil makan biskuit,"ujar Fajar yang juga terkejut.
"Tidak ada Ayah....dia dimana, anakku dimana?!!"Anita mulai menangis ketakutan anaknya hilang.
Fajar mencari anaknya, semua sepupunya sekarang menjadi ikut panik saling menuding Kaysan bersama salah satu dari mereka.
"Terakhir aku melihat dia didekati seorang kakek, tapi aku tidak memperhatikan lagi karena kukira hanya ingin menyentuh pipinya saja,"Mahendra ikut bicara.
Bang Cak mengajak Fajar dan Septa untuk mencari petugas keamanan dan melihat CCTV.
Akhirnya mereka mendapatkan ijin untuk memeriksa tayangan CCTV sekitar satu jam yang lalu.
Dan terkejutlah Fajar, dia melihat Kang Japar mengajak Kaysan bicara dan lalu menggendongnya.
Wajah pria yang ramah tapi berhati iblis, hendak dibawa kemanakah anak bayinya.
Mereka diantar petugas kembali ke tempat dimana keluarga lainnya menanti, dan Anita terus menangis.
Tak lama Polisi juga tiba di lokasi, dan segera diperlihatkan tayangan tadi.
Septa juga tak lupa memberikan polisi Singapura itu copyan rekaman video yang dia dapat dari ponsel lama yang tersimpan di laptopnya.
Utusan dari KBRI juga datang untuk menjemput Anita yang tengah menangis terus.
Mereka semua dibawa kembali ke gedung KBRI atas perintah bapak Duta Besar.
Fajar melihat di kereta dorong anaknya ada selipan kertas kecil.
Merlion Park, tulisan yang tertera di kertas kecil itu.
Fajar ingat kalau dirinya memang ditunggu tadi pagi oleh Kang Japar di tempat tersebut.
Namun karena ada acara keluarga yang tidak bisa ditinggalkan maka dia tidak menemui Kang Japar.
Sekarang Kaysan ada ditangannya, maka Fajar segera bergegas meminta antar petugas kedutaan menuju tempat itu, Septa ikut serta dengannya
Anton dan Mela menemani Anita yang terlihat sangat lemah sekali.
Jaya berjaga-jaga di depan kedutaan bersama petugas, dia memeriksa jalan dengan alat peneropong.
Anton memeriksa kakaknya dan menjaganya agar jangan sampai depresi berlebihan.
Serina menemani Anita dan Mela menjaga Keiza agar anak itu juga tidak ikut panik.
Bang Cak menghubungi KAPOLDA Batam, menceritakan kejadian yang menimpa sepupunya di Singapura.
KAPOLDA Batam lalu menghubungi Interpol Singapura dan mengirimkan semua data yang diterimanya.
Officer Michael Wang, petugas Interpol Senior di Singapura memeriksa semua tayangan rekaman CCTV dan juga rekaman kiriman dari KAPOLDA Batam.
Bersama rekannya Officer Najib Khan yang mencari data orang dalam tayangan tersebut.
Lalu muncullah data Kang Jap Fan, ternyata seorang warga negara Singapura yang kabur ke Indonesia.
"Mike, that's him... the person we've been looking for...let's catch that bad guy..,"kata Officer Najib Khan saat muncul data lengkap tentang Kang Japar.
(\=Mike, itu dia orang yang selama ini kita cari, mari kita tangkap penjahat itu)
Fajar menyusuri taman Merlion, dia begitu gemetar dan sedih karena anaknya menghilang diculik Kang Japar.
Sudah satu jam lamanya dia berkeliling taman Merlion, setiap sudut taman dia datangi mencari keberadaan anak bayinya.
Matanya memandang ke sekeliling taman patung singa yang menjadi kebanggaan warga negara Singapura.
Dari kejauhan di sebuah sudut taman yang agak gelap, dia melihat seorang pria sedang duduk bersama bayi Kaysan, anak itu terlihat santai saja sambil makan biskuit.
Fajar segera mendekati orang itu sambil berkata," Tuan Jap Fan, mengapa kau membawa anakku. Lepaskan dia, bayi itu tak bersalah!".
Kaysan melihat ayahnya dan tertawa-tawa kepadanya, dia tampak duduk tenang di samping pria jahat itu.
Pakaiannya sudah kotor sekali, dan pokoknya juga terlihat sudah penuh. Tapi luar biasanya anak itu santai saja makan biskuit, entah biskuit apa.
Fajar berdiri sekitar dua meter dari bangku taman yang diduduki oleh Kang Jap Fan dan bayi Kaysan.
Di belakang mereka terlihat sosok pria tinggi berwajah seram dengan hanya memakai kaus oblong, di kedua tangan orang itu penuh tato dan salah satunya bergambar kampak.
Si Kampak terlihat seperti menjaga keamanan Kang Jap Fan.
"Kemarin aku memintamu datang menemui pagi tadi di taman ini. Tapi kau keterlaluan, aku menunggu lama dan kau tidak datang,"seperti biasa Kang Jap Fan berbicara lembut tapi penuh tekanan.
"Baiklah aku memang salah tadi pagi tidak datang karena memang ada sesuatu yang membuatku tidak bisa,"sahut Fajar mengakui kesalahannya.
"Lalu...apa....mana rekaman video itu...aku yakin si Joni dulu merekam aku...mana sekarang alat perekam itu?" tanya Jap Fan dari mulut dan hidungnya menghembuskan rokok dan asapnya mengenai Kaysan.
Fajar begitu kesal dan sakit hati, anaknya selama ini dijaga dari apapun yang kotor dan tidak sehat. Sekarang bayi itu malah dihembusi asap rokok, ingin rasanya memukul orang itu. Tapi dia harus hati-hati jangan sampai anaknya yang akan celaka.
"Lalu apa urusannya, kau marah padaku tapi kau culik anakku. Lepaskan dia, biar kuberikan dia kepada istriku lalu kau mau apakan aku silahkan saja,"Fajar mencoba bernegosiasi dengan Jap Fan.
"Hmmm....mudah sekali kau bicara, kau pikir aku senang dengan bayi ini. Aku muak dari tadi dia bau sekali, tapi aku butuh rekaman itu. Berikan rekaman itu atau anak bau mu ini aku tenggelamkan ke laut," kata Jap Fan sambil tersenyum licik kepada Fajar.
Fajar merasa tidak berdaya, dia memang tidak memegang apapun. Semua bukti sudah diserahkan kepada polisi di Batam.
Si Kampak terlihat sedang siap-siap menyiapkan sebuah karung berisi batu, dan rencananya Kaysan akan dimasukan kedalam karung itu lalu dilemparkan ke laut.
"Jap Fan, aku tak pernah merasa punya urusan denganmu. Lalu apa salahku. Urusanmu dulu dengan ayahku," Fajar mencoba lagi menukas omongan Japar.
"Hahahaha....Si Joni memang sudah mati, tapi masa orang mati bisa menghancurkan gudang minuman kerasku...pasti kau punya bukti rekaman atau foto yang kau berikan kepada polisi".
"Kau sama bedebahnya dengan ayahmu...si Joni dulu melaporkan keluargaku, sampai semua mati.... maka kubunuh ayah dan ibumu yang bodoh itu".
"Lalu kau hilang, tapi saat kau datang malah menghancurkan sisa usahaku....sialan kau!!!"Japar memaki-maki Fajar dengan amarah memuncak.
Fajar diam saja tak membantah, dia berpikir keras bagaimana cara untuk meraih Kaysan lalu membawanya berlari meninggalkan penjahat itu.
Sedikit demi sedikit dia maju dan mendekat ke arah anaknya.
SREEET.....SREEETTT....Kampak terkejut lalu dia memeriksa rerimbunan tanaman dibelakangnya.
BUG....seseorang berusaha meninju wajahnya Kampak, tapi mungkin kurang kuat sehingga orang itu sekarang yang dipegang tangannya dan diseret Kampak kehadapan Japar.
Ternyata Septa, dia dari tadi bersembunyi di rerimbunan mencoba mencari kesempatan memukul Kampak, tapi sayang Kampak lebih lihai dari dirinya.
Septa diseret dan dilempar ke samping Fajar berdiri, lalu Fajar mencoba menolongnya. Tapi Septa masih terduduk kesakitan karena kakinya terluka kena batu taman saat diseret tadi.
Fajar tetap memikirkan cara untuk membawa kabur Kaysan.
Tadi sebelum pergi dia ingat Jaya mengatakan kalau dari taman Merlion lalu berjalan lurus terus akan tiba di depan KBRI.
Septa masih terduduk kesakitan, tiba-tiba ada seekor kucing mendekati dirinya. Tapi dia tak peduli dengan kucing taman itu.
Kaysan mencoba meraih sandaran kursi taman, lalu dia berdiri sambil tangannya memegang erat kursi taman.
"Yah...Yah...meng...meng...,"
Fajar melihat Kaysan tiba-tiba menunjuk kucing di dekat Septa.
"Ya nak...itu kucing nak...,"biasa bukan kalau anak kecil seumur dia pasti senang melihat kucing.
Lalu anak itu memberi kode lagi kepada ayahnya, dia melangkah sambil memegang erat sandaran kursi mendekati Japar.
Lalu tangan kecilnya menepuk- nepuk pipi Japar, untungnya Japar membiarkan saja kelakuan Kaysan karena pikirnya anak bayi biasa begitu.
Dia kan tidak tahu kalau Kaysan bayi yang sangat istimewa.
Ooooh...Fajar paham maksud anak itu, cuma dia harus memikirkan bagaimana cara menyampaikan pesan kepada Septa.
Dia berpikir keras mengingat suatu kalimat, dan akhirnya dia ingat juga.
__ADS_1
"Bro, ucing na alungkeun ka bengeut jelema eta," dia mencoba menyampaikan pesan dalam bahasa sunda ala bahasa istrinya sehari-hari.
(\=lemparkan kucing itu ke wajah orang itu)
Septa mencoba mencerna apa maksud Fajar, lalu mencoba mengulangi lagi kalimat tadi.
Karena Fajar memiliki logat Melayu Riau, lalu berbahasa Sunda, tentu menjadi aneh terdengar oleh Septa.
Japar tidak paham bahasa Sunda, apalagi Kampak mereka berdua orang Singapura dan orang Batam.
Septa melihat kucing tadi masih ada disampingnya duduk tenang sambil menjilat-jilat kakinya.
Diam-diam dia memegang kucing itu, lalu dia memberi kode kepada Fajar.
Dalam hitungan detik, tiba-tiba kucing tadi dilemparkan oleh Septa tepat mengenai wajah Japar.
Kucing itu kaget juga sehingga sempat melukai pipi Japar, sehingga dia kesakitan.
Disaat itulah Fajar meraih Kaysan, menggendong anaknya itu dan dia berlari lurus menuju gedung KBRI.
Japar marah sekali melihat kejadian itu , lalu dia juga mengejar Fajar sambil mengacungkan pistolnya.
Kampak melihat Septa melakukan perbuatan tadi, lalu mengeluarkan sebilah pisau dan dihunuskan kepada Septa.
Untung Septa bisa secepatnya membalikkan badannya sehingga tidak tertancap pisau Kampak.
Saat Kampak mencoba menghujam Septa lagi, tiba-tiba datang serombongan Polisi.
INTERPOL!!!!!! INTERPOL!!!!!
RAISE YOUR HAND !!!!
PUT YOUR KNIFE DOWN!!!!
(\=Angkat tangan, buang pisau ke bawah)
Tapi Kampak tidak takut dengan ancaman Polisi, dia kembali berusaha menancapkan pisau ke tubuh Septa.
Dan.....DOOOORRRRR!!!!
Sebuah peluru berasal dari Officer Najib Khan tepat mengenai dada kiri, menembus jantung Kampak.
Robohlah Kampak seketika itu juga melepaskan rasanya.
Officer Michael Wang melihat Fajar dikejar oleh Japar, maka dia juga segera mengejar keduanya.
Sehingga terjadilah aksi saling kejar mengejar, Fajar terus berlari sambil memeluk erat Kaysan.
Dibelakangnya Japar alias Kang Jap Fan mengejarnya sambil berusaha menembak Fajar, namun karena Fajar bergerak terus berlari secara zig zag, membuat dirinya sulit menembak Fajar.
Officer Michael Wang juga terus berusaha mengejar mereka dengan berlari sekuat tenaga.
Septa ditangani oleh petugas ambulans, officer Najib Khan menanyakan kemana rencananya Fajar berlari membawa anaknya itu.
Lantas Septa mengatakan kalau Fajar berusaha berlari menuju KBRI.
Maka secepat kilat Officer Najib Khan segera membawa beberapa anggota Polisi lain, bergerak menuju ke KBRI menyusul Officer Michael Wang.
Fajar tidak tahu dia berada dimana, apakah dia sudah tepat dijalan yang ditunjukkan oleh Jaya atau bukan.
Sekarang dia merasa sangat lelah sekali, dadanya tersengal-sengal, nafasnya kembang kempis. Untung anaknya paham kondisi itu, dia hanya diam saja sambil memeluk ayahnya.
Fajar bersembunyi di balik sebuah tembok mencoba mengumpulkan tenaga untuk berlari lagi.
Japar juga terlihat kelelahan, sambil dia juga menarik nafas, matanya menjelalat mencari keberadaan Fajar dan Kaysan.
Fajar berjongkok di balik tembok besar, dia mendengar langkah kaki yang berasal dari sepatu Japar.
Lalu terlihat sosok Japar berada di dekat mereka, sekitar satu meteran di arah tempatnya berdiri.
INTERPOL!!!!!! INTERPOL!!!!!
RAISE YOUR HAND !!!!
PUT YOUR GUN DOWN!!!!
Terdengar teriakan seorang Polisi dari arah belakang Japar.
Polisi itu adalah Officer Michael Wang, yang sedang mengarahkan senjatanya ke arah Japar.
Melihat dirinya ditodongkan pistol oleh Polisi bukannya takut malah dia menembak ke arah Polisi tadi, untungnya tidak kena.
Melihat Japar sedang lengah kepada dirinya, maka Fajar kembali berlari lagi sambil mendekap erat Kaysan.
Japar kesal lalu dia menembak lagi ke arah Michael Wang sambil berlari lagi mengejar Fajar.
Bila kita masuk ke KBRI Singapura, setelah melewati pintu gerbang maka kita akan menaiki anak tangga untuk masuk ke lobby kantor KBRI.
Jaya sedang berdiri di atas anak tangga sambil meneropong ke arah jalan.
Dari kejauhan dia melihat ada orang berlari, Jaya memutar peneropong dengan mode dekat dan terlihat jelas Fajar sedang berlari sambil mendekap Kaysan.
Dibelakangnya ada orang mengejar sambil membawa pistol, lalu Jaya berteriak kepada Tentara Petugas yang berjaga di depan pintu gerbang KBRI.
"Sir...please open the gate...my brother ran over here!"seru Jaya kepada kedua petugas itu.
Petugas langsung melihat Fajar sedang berlari mendekat sambil membawa Kaysan.
"FAJAR....CEPAT....!!!!!" teriak Jaya memberi semangat agar Fajar cepat masuk ke halaman KBRI.
Bila warga negara Indonesia di negara lain dikejar penjahat maka masuklah ke KBRI, maka akan aman karena sudah beda wilayah dan kedaulatan.
Fajar terus berlari dan ketika sudah dekat pintu gerbang KBRI dia segera meloncat dan menjatuhkan punggungnya ke tanah.
Kaysan masih tetap ada dalam pelukannya dan sama sekali tidak terluka, bayi itu sekarang juga masih memeluk erat ayahnya yang masih tersengal- sengal kelelahan habis berlari sejauh itu.
Seluruh tubuhnya merasa kelelahan luar biasa, nafasnya sudah hampir putus tapi dia bahagia karena sekarang sudah aman di dalam KBRI.
Kang Japar marah sekali, tapi orang itu selalu nekat karena hati dan pikirannya tertutup oleh kejahatan.
Dia masih berusaha menembak Fajar yang ada di dalam pagar, Tentara penjaga pintu gerbang segera bersiap juga mengacungkan senapan mereka ka arah Japar.
Disaat bersamaan Officer Michael Wang berlari mendekat sambil terus berteriak-teriak.
INTERPOL!!!!!!
INTERPOL!!!!!
DO YOU HEAR ME !!!
RAISE YOUR HAND !!!!
PUT YOUR GUN DOWN!!!!
Japar sambil tersengal-sengal masih mengacungkan pistolnya ke arah Fajar yang masih terkapar di halaman KBRI karena kelelahan.
Michael Wang terus mendekat sambil meneriakan peringatan kepada Kang Japar.
HI YOU !!!!"
PUT YOUR GUN DOWN!!!!
Karena kesal tidak bisa menembak Fajar, maka sekarang pistolnya diarahkan ke Officer Michael Wang.
DOOORRRRR!!!!!
Sebuah peluru berdesing melesat menembus kepala Kang Japar, dan ambillah dia seketika itu juga, yang tertinggal hanya raganya.
Michael Wang jauh lebih ahli menembak, dia lulusan terbaik di akademi Kepolisian Singapura, dalam kondisi apapun dia jauh lebih handal dalam mempergunakan senjata.
Tamatlah sudah kisah Kang Japar alias Kang Jap Fan, seluruh usaha garamnya hancur dan dia sendiri juga harus membayar kejahatannya dengan nyawanya.
Anita berlari dari dalam gedung KBRI, dia segera memeluk Kaysan lalu dia juga memeluk suaminya.
Mereka bertiga berpelukan, Keiza tak mau kalah dia juga segera berlari sambil menangis bahagia memeluk ayahnya.
"Kay..Kay..kamu kotor dekil sekali nak...dan bau sekali...tapi
bunda bahagia sekali anak bunda sudah kembali,"kata Anita sambil memeluk dan menciumi anak bayinya itu.
Minggu, 31 Desember
Siang itu di ruangan khusus keluarga KBRI di Singapura, penuh dengan kegembiraan.
Kaysan genap 1 tahun, bayi istimewa yang memiliki anugerah dari Tuhan yaitu indera ke enam dan juga kemampuan entah itu Kinesiologi atau sejenis indigo.
Fajar belum bisa mempelajari lebih lanjut, hanya yang pasti antara dirinya dan anaknya bisa bersinergi saling memberikan sinyal untuk mengetahui sesuatu hal yang sulit dipecahkan.
Tapi itu adalah talenta yang Tuhan berikan jadi sebagai orang tuanya harus bisa mengarahkan agar menjadi kebaikan.
Siang itu Kaysan juga gembira melihat badut yang melucu di hari ulang tahunnya itu.
Ada kue tar besar berbentuk mobil, diatasnya ada lilin angka satu.
Opa Akmal dan Oma Hasni memberi mainan mobil-mobilan besar yang bisa dinaiki anak kecil. Tinggal orang tuanya sekarang yang bingung harus membayar kelebihan bagasi.
Selain itu Kaysan juga mendapat berbagai macam hadiah mainan lainnya dari semua paman dan bibinya.
Tanggal 31 Desember adalah hari terakhir sebagai penghujung tahun karena esok hari sudah berganti tahun.
Maka lupakan semua kenangan yang tidak baik, mulailah dengan sesuatu kebaikan yang baru.
Malamnya mereka makan malam di Artemis Sky Resto, sebuah rumah makan kelas Internasional yang letaknya berada di puncak sebuah gedung pencakar langit.
Mereka semua termasuk bapak Duta Besar dan istri turut serta di malam itu, dan saat pergantian tahun mereka melihat keindahan pesta kembang api di seluruh Wilayah di Singapura.
__ADS_1
Dari puncak menara terlihat ribuan kembang api bersahut-sahutan di udara, suasana bertambah semarak jadinya.
Keesokan paginya mereka kembali ke tanah air membawa sejuta cerita dalam perjalanan rombongan Hore ini.