
Cakra Wijaya Dirgantara adalah seorang pengusaha sukses, dan namanya terkenal di seantero negara ini.
Orang yang sangat ramah, bersahaja, bijaksana dan sangat mencintai keluarganya.
Sampai sebelum pertengahan tahun ini, dia kerap terlihat sering muncul di media elektronik maupun media sosial melakukan berbagai kegiatan sosial ke masyarakat dengan didampingi istrinya Serina Mustika.
Bang Cak panggilannya adalah seorang asli Betawi, dari hasil pernikahannya mereka dikaruniai dua orang anak gadis dan satu orang jejaka.
Yang dua gadis sudah beranjak dewasa dan sekarang mereka melanjutkan studi di Singapura. Sementara yang jejaka masih duduk di bangku SMP.
Diawal tahun ini ibu kandung Bang Cak yang sudah berusia hampir sembilan puluh tahun jatuh sakit dan dirawat dikediamannya.
Ibu tua itu sudah tidak bisa berjalan sendiri, hampir seluruh sisa hidupnya duduk di kursi roda.
Serina sebagai menantu yang baik selalu membantu mengurusi mertuanya, karena dia diajarkan oleh orang tuanya harus mencintai mertua layaknya orang tua kandung sendiri.
Namun karena dia juga sibuk menemani suaminya, juga sibuk di organisasi wanita, maka atas dasar kesepakatan keluarga besar Bang Cak, ibu tua akan dicarikan perawat untuk mengurusinya.
Akhirnya setelah melakukan seleksi dari berbagai tempat yang menyediakan Jasa Perawatan Home Care, maka terpilihlah perawat bernama Endah.
Usianya sekitar awal tiga puluh tahun tapi sudah menjadi orang tua tunggal karena suaminya dulu tukang mabuk, judi dan selingkuh.
Sesuai kontrak kesepakatan antara keluarga Bang Cak dan pengelola Jasa Home Care, perawat Endah akan tinggal bersama di kediaman Serina.
Tugasnya khusus melayani dan mengurus semua keperluan ibu tua yang sudah tak berdaya tersebut.
Kontrak ditanda tangani dengan sejumlah nilai nominal pembayaran tiap bulannya dan juga fasilitas yang akan didapatkan oleh perawat selama tinggal di rumah Serina tersebut.
Intinya perawat itu tidak akan sampai kekurangan sandang pangan selama tinggal bersama di kediaman Serina.
Diawal tahun ini sebentar lagi akan diadakan kegiatan Pemilihan Kepala Daerah serempak di seluruh Wilayah Negeri.
Termasuk wilayah tempat tinggal Bang Cak dan Serina, di pinggiran kota Jakarta sehingga boleh dikatakan sudah masuk ke wilayah Tangerang.
Bupati Tangerang harus berganti kepemimpinan, dan salah satunya kandidatnya adalah kader yang didukung oleh partainya Bang Cak.
Sehingga mau tak mau baik Bang Cak maupun Serina kebagian tugas untuk mendukung kandidatnya mereka.
Bang Cak adalah salah satu kader Partai Besar berbendera Merah, dan posisinya disana sudah merupakan tokoh penting sehingga dia sampai duduk sebagai wakil rakyat di pusat negara ini.
Rapat dan rapat, pertemuan dan pertemuan hampir setiap hari harus mereka lakukan, sehingga jarang sekali ada di rumah.
Untung saja anak bungsunya Mahendra sangat mengerti kesibukan orang tuanya, karena sejak kecil sering ditinggal sendiri membuatnya menjadi anak mandiri.
Perawat Endah sangat sopan santun dan terlihat sangat telaten merawat ibu tua, sehingga Serina merasa aman dan nyaman ketika harus pergi meninggalkan mertuanya.
Ketika semua orang sudah pergi, maka mulailah aksinya.
"Dasar nenek tua tak berguna, merepotkan aku saja. Makan nih buburmu...buka mulutmu cepat...reseh sekali...cepat buka!!!!"kata perawat Endah sambil menarik mulut ibu tua itu dan memaki-makinya.
Siti pembantu rumah tangga mendengar ada keributan di kamar nenek, segera berlari ingin tahu ada apa disana.
"Sus...sus...suster...ada apa?!!"teriak Siti terkejut mendengar ada keributan.
Setibanya di depan pintu kamar dia melihat semua baik-baik saja. "Ada apa suster, tadi saya mendengar seperti ada orang marah-marah?"tanya Siti kepada suster Endah.
"Tidak ada apa-apa bibi Siti, ini tadi ada sinetron di televisi. Saya belum hafal remotenya jadi yang ditekan malah volume membesar,"perawat Endah menyampaikan kebohongan kepada bibi Siti.
"Kirain ada apa...kalau perlu bantuan saya untuk mengurusi nenek nanti panggil saja yah..saya ada di dapur,"kata bibi Siti dan diiyakan oleh perawat Endah.
Tanpa bibi Siti perhatikan, nenek sedang menangis sambil tangannya berusaha melambai meminta pertolongan Siti. Tapi rupanya Siti tidak melihat karena buru-buru harus kembali ke dapur takut masakannya nanti gosong.
Setelah Siti pergi kembali perawat Endah menyuapi nenek makanan dengan kasar.
Tak hanya itu saja saat memandikan nenek, saat membersihkan kotorannya nenek selalu sambil mengomel dan menyiksa nenek.
Orang setua itu yang bahkan berbicarapun sudah sulit apalagi bergerak selalu di siksa dan diperlakukan kasar apabila tidak ada orang lain.
Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, nenek diperlakukan seperti layaknya seekor binatang. Pernah nenek dijatuhkan dari kursi rodanya dan disuruh merayap untuk memakan rotinya.
Sangat kejam sekali perawat itu, hatinya dipenuhi dengan iblis. Dia ingin menguasai rumah itu beserta dengan seluruh isinya.
Endah begitu dengki melihat kemesraan Bang Cak dengan istrinya Serina, mereka selalu saling merangkul, berpelukan bahkan saling mencium pipi atau bibir pasangannya kapan pun saja.
Entah itu sedang berbincang, sedang menonton televisi bahkan apabila saling ijin mau pergi pasti selalu mereka mengumbar kemesraan.
Suatu malam pernah Bang Cak pulang larut malam setelah habis menghadiri rapat di gedung DPR. Sambil letih dan lelah, dia membuka sepatunya di dekat pintu garasi dalam dan masuk ke rumah melalui dapur rumah mereka.
Setibanya di ruang makan dilihatnya perawat Endah sedang berdiri pura- pura habis minum sambil memegang gelas, dia memakai pakaian tidur yang sangat tipis menerawang sehingga bagian dalam tubuhnya terlihat.
Bukannya senang melihat wanita berpakaian demikian, malahan Bang Cak memarahinya dan mengancam akan memecatnya bila sampai sekali lagi terjadi perawat Endah berpakaian yang tidak selayaknya seperti barusan.
Perawat Endah semakin sakit hati dan semakin kesal karena usahanya merayu majikan lelakinya itu tidak berhasil.
Mahendra lama-lama merasa curiga kalau perawat Endah telah memperlakukan neneknya dengan tidak semestinya.
Diam-diam dia beberapa kali mengintip kelakuan perawat Endah, bahkan beberapa kali pernah terpergok perawat itu sedang memaki-maki neneknya.
Suatu kali nenek dibawa ke halaman belakang, dan kursi rodanya di simpan di atas bebatuan yang menjorok ke arah kolam renang.
Kemudian di pangkuan nenek di simpan sebatang pohon yang cukup berat, bila batang kayu diangkat pasti kursi roda nenek akan merosot meluncur ke arah kolam renang.
Perawat Endah pura-pura ke dapur untuk membuatkan susu untuk nenek, di rumah tidak ada siapa-siapa lagi. Siti sedang ke pasar, sekuriti rumah ada di depan.
Hanya Mahendra yang baru saja bangun tidur. Saat membuka jendela kamarnya dia terkejut melihat neneknya ada dekat bebatuan yang menjorok ke kolam renang, lalu Mahendra segera lari turun ke halaman belakang mendekati kursi roda neneknya.
Nenek berteriak-teriak agar Mahendra jangan mendekat tapi karena teriakan nenek tidak dipahaminya karena hanya erangan saja yang keluar dari mulutnya.
"Heeehhh....heeeehhhh...hhheeehhhh....," sambil tangan lemahnya mengibas-ngibas menyuruh Mahendra pergi.
Tapi anak baik hati itu tak paham, dia terus saja berlari mendekat dan mengambil batang kayu dipangkuan neneknya itu.
Seketika kursi roda bergerak meluncur ke kolam renang, dan nenek terjungkal tenggelam ke dalamnya.
Mahendra segera terjun berenang menyelamatkan neneknya, dan dia menangkap tubuh tua itu membawanya ke tepi kolam.
Dia berteriak-teriak minta tolong, dan tentu saja perawat Endah berhati iblis itu pura-pura menjerit ketakutan melihat nenek sudah tergolek lemah.
Orang tuanya segera dihubungi padahal saat itu sedang menghadiri acara penting. Segera mereka kembali ke rumah, di sana sudah ada dokter keluarga mereka yang dipanggil Mahendra.
Namun sayang, nenek tak tertolong karena di dadanya terlalu banyak air sehingga tak bisa bernafas. Nenek kembali menghadap sang Khalik dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
Perawat Endah menjadikan momen ini sebagai bahan ancaman untuk Mahendra. Dia menakut-nakuti Mahendra, dia memojokkan Mahendra bahwa dia akan mengatakan kepada semua orang kalau pembunuh nenek adalah Mahendra.
Tentu saja anak SMP ini menjadi tertekan batinnya, walau semua orang tidak ada yang menyalahkannya tapi karena ada wanita iblis yang memegang kartunya maka dia sangat ketakutan.
Dirinya yang dulu anak yang ceria sekarang menjadi penakut, pendiam dan tidak banyak bicara.
__ADS_1
Perawat Endah melakukan drama kepada Serina, dia minta agar tetap diijinkan bekerja walau nenek sudah tak ada.
Hati Serina memang baik, maka dia meminta perawat tetap bekerja mengurusi keperluan Mahendra. Tentu saja hal itu yang diinginkan dirinya agar bisa leluasa menteror anak itu.
Suatu hari Serina ibunya Mahendra akan pergi keluar kota beberapa hari lamanya.
Serina menitipkan anaknya kepada perawat Endah untuk mengurusi anak lelakinya.
Mahendra begitu tahu ibunya akan keluar kota, dia menangis ketakutan. Tapi Serina yang tak paham situasinya malah memarahinya agar menjadi anak lelaki yang tidak cengeng.
Masih melekat di benak Serina saat itu dia pergi keluar kota sambil kesal melihat anak lelakinya terus menangis, dipikirnya anak itu cengeng saja, biasa anak bungsu kadang suka berulah manja.
Dan itu membuat dirinya menyesal saat ini.
Bang Cak mengetahui istrinya pergi keluar kota bersama dengan beberapa istri pejabat lainnya dalam rangka tur keliling memberikan sumbangan kepada pengusaha kecil di beberapa daerah.
Suatu malam Bang Cak pulang larut seperti biasanya, setibanya di rumah dia sangat haus. Dan di atas meja makan terlihat ada secangkir kopi hangat, dipikirnya Siti telah membuatkan dirinya kopi tersebut.
Tak pakai pikir panjang dia meminum kopi tersebut, dan dalam hitungan detik dia jatuh pingsan.
Memang kalau orang jahat pasti dibantu iblis, wanita perawat itu sanggup menyeret tubuh tinggi besarnya Bang Cak sampai ke kamar tidurnya.
Lalu dia menaikan badan Bang Cak yang tak sadarkan diri itu ke atas tempat tidur, dan dia membuka kemejanya Bang Cak.
Tak berhenti sampai situ, dia memanggil Mahendra dan membawanya ke kamar ayahnya.
Sambil menodongkan pisau ke leher ayahnya dia minta Mahendra untuk memfoto dirinya dan ayahnya yang tak sadarkan diri itu.
Dia membuka pakaiannya sendiri sebatas dadanya, lalu membentangkan selimut untuk menutupi dirinya dan Bang Cak.
Mahendra disuruh memfoto mereka berdua yang tampak seperti sedang bermesraan di atas tempat tidur.
Kalau anak itu tak mau menurut maka ayahnya akan dibunuh, dengan ketakutan dia melakukan apa yang disuruh penjahat wanita itu.
Foto itu diambil dari kamera milik wanita jahat itu, lalu dia menyekap Mahendra dan Bang Cak di kamarnya masing-masing.
Seluruh kartu ATM Bang Cak diambilnya, dan dia mengancam anaknya akan dibunuh kalau tidak memberitahukan nomor pin nya.
Ayah dan anak itu hanya diberi makan sehari sekali, tangan dan kakinya diikat dan hanya diberi waktu sehari sekali untuk sekedar membuang air.
Kebetulan di setiap kamar rumah itu ada kamar mandinya.
Siti dan penjaga pintu diancam untuk tidak membebaskan atau memberitahu siapapun perbuatannya.
Anak perempuan wanita iblis dipanggil ke rumah itu untuk bersenang-senang merasakan kemewahan.
Dan anak itu diberi tugas untuk mengintai Siti dan penjaga pintu.
"Kalau sampai kalian kabur atau kalian memberitahu orang lain bahkan polisi...maka kedua majikan kalian aku bunuh dan kalian yang akan aku tuduhkan telah membunuhnya," itu ancamannya kepada Siti dan Penjaga yang bernama Ajit.
Lalu dia mengirimkan fotonya yang sedang memeluk Bang Cak kepada Serina, dari telepon genggam milik Bang Cak.
Seakan-akan suaminya sudah berselingkuh dengan dirinya, dan tentu saja Serina sangat hancur hatinya saat menerima foto itu.
Sampai hari ini, sudah hampir dua bulan lamanya dia belum kembali ke rumahnya karena merasa kecewa dan sakit hati.
Diruangan tengah kediaman Wiharja saat ini sudah ada Anita, Fajar, Mela dan Septa yang sengaja dipanggil Anita untuk mendengarkan langsung cerita tentang masalah Serina kehadapan mereka.
"Ceu Serin....aku baru lima tahun saja sejak menikah dengan Anita mengenal sosok Bang Cak. Tapi aku yakin dia bukan lelaki yang sebejat itu,"kata Fajar kepada sepupu istrinya itu.
Dia menatap wajah Bang Cak, memperbesar foto itu dengan tangannya.
"Fajar...coba Kamu lihat...ini terlihat rekayasa, di mataku terlihat Bang Cak seperti tak sadarkan diri....benar tidak dugaanku....,"kata Septa seraya memperlihatkan foto itu kepada Fajar.
"Seharusnya dilihat dari komputer yang canggih, pasti akan terlihat jelas," sahut Fajar saat memperhatikan foto itu.
"Septa...bukankah adikmu ahli komputer.... Janwar kan sarjana komputer....,"kata Anita kepada sepupunya.
"Iya sih cuma dia kan ahli jaringan, mana bisa dia melihat dan mengecek foto...beda keahlian," kata Septa kepada sepupunya.
Mela diam saja mengingat sesuatu, lalu dia berkata," Bagaimana kalau minta tolong tukang foto kemarin saat aku menikah, dia kan temanku".
Semua merasa agak aneh ketika Mela mengatakan teman, tapi saat ini tidak ada yang berpikir apapun, bahkan semua meminta Mela memanggilnya.
Akhirnya Mela menghubungi Rayna, dia menceritakan sedikit permasalahan yang ada sambil meminta tolong Edwin dan Rayna untuk datang membawa laptop atau komputer canggih untuk memeriksa sebuah foto.
Untungnya Rayna dan Edwin bersedia karena kebetulan mereka juga akan mengantarkan album dan CD foto pernikahan Anton dan Mela.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka tiba, dan ketika foto di transfer ke lap top Edwin yang memang ada aplikasi khusus untuk melihat seluruh bagian foto.
Tampaklah disana kejelasan, Bang Cak memang terlihat tak sadarkan diri, lalu dekat leher Bang Cak yang dikira kilatan lampu ternyata adalah ujung pisau.
Lalu terlihat jelas lagi, kaki kanan Bang Cak menjuntai dan terlihat ujung celana panjangnya.
"Ini rekayasa, tapi siapa yang memfoto mereka. Pasti orang yang disuruh memfoto itu di bawah ancaman, karena wanita itu membawa pisau ditangannya,"Septa meneliti setiap sudut foto dibantu oleh Edwin.
Serina menangis sejadinya, berarti hilangnya suaminya dalam dua bulan ini bukan karena sedang berselingkuh tapi ada kemungkinan sedang ada dalam ancaman.
Dia teringat Mahendra, karena dia juga kesulitan menghubungi anaknya, sempat kepala sekolahnya menelepon dirinya menyampaikan kalau Mahendra lama tak masuk sekolah.
Sekarang dia menangis bukan karena ingin bercerai, tapi menangis karena takut terjadi sesuatu yang buruk kepada anak dan suaminya.
"Ceu Serina...kita harus bertindak, kalau kita mendatangkan polisi pasti Bang Cak dan Mahendra akan dibunuh dan orang lain pasti akan dituduhkan menjadi pelakunya," Septa menganalisa kondisi rumah Serina di Tangerang sana.
"Apakah Ceceu punya nomor tetangga yang bisa dihubungi dan dipercaya?" tanya Fajar menyelidik.
Serina memutar otak, dia memang tinggal di daerah elit yang tak mungkin dalam keseharian duduk mengobrol dengan tetangga.
Kawasan daerah elit pasti semuanya masing-masing tidak akan ada yang saling ramah mengobrol di sore hari atau malam hari, semua orang acuh tak acuh saja.
Dia memeriksa semua nomor telepon sambil mengingat siapa yang paling bisa punya akses untuk menghubungi orang rumahnya.
Tiba-tiba muncul nama "Mamat Sayur", diponsel milik Serina.
"Paling ini dia Septa, Bang Mamat tukang sayur yang setiap hari lewat rumah, aku punya nomor teleponnya untuk memesan sayuran, buah atau ikan,"kata Serina kepada sepupu-sepupunya.
"Coba hubungi dia dan tanyakan keadaan rumahmu bagaimana?"kata Septa kepada Serina sambil menjentikkan jarinya.
Bang Mamat sayur sangat terkejut malam itu ketika dia dihubungi oleh Ibu Serina.
Sudah lebih dari dua bulan Bang Mamat tidak menerima pesanan dari ibu Serina, dan kini yang belanja selalu Siti saja.
Siti juga tidak pernah banyak bicara, hanya membeli beberapa sayuran dan daging lalu masuk lagi ke dalam rumah tak banyak bicara.
Akhirnya Serina memohon kepada Mamat untuk merahasiakan pembicaraan ini, nanti dia akan menghubungi lagi untuk meminta pertolongan Bang Mamat. Untung Bang Mamat paham dan bersedia membantu.
Septa menelepon istrinya meminta ijin akan di Bandung dulu beberapa hari bersama Ceceu Serina Mustika.
__ADS_1
Lalu dia menghubungi Janwar adiknya, menanyakan apakah paham soal CCTV atau semacamnya. Dan adiknya tentu saja paham karena dia ahli komputer jaringan.
Lalu Septa meminta bantuan agar bisa mengambil cuti kerja beberapa hari untuk menolong sepupunya.
Janwar meminta waktu dan nanti akan menghubungi lagi kakaknya.
Malam itu Septa dan Fajar menginterogasi Serina layaknya seorang detektif swasta yang sedang melakukan penyelidikan.
Menanyakan dimana saja ada CCTV, lalu minta dijelaskan letak box listrik pusat juga menanyakan letak monitor pengontrol CCTV.
CCTV ada di hampir setiap ruangan, kecuali kamar tidur. Yang ada CCTV nya hanya kamar nenek dulu.
Box listrik ada di tembok garasi di sebelah pintu dapur.
Monitor dan komputer pengontrol CCTV ada di ruangan kerja Bang Cak.
Esok paginya di salah satu kawasan elit kota Tangerang, tampak Siti sedang membeli sayur Bang Mamat.
"Nih ikan murah, udah elu ambil aja. Tapi dalemnya periksa, gue lupa udah gue bersihin atau belum?"kata Bang Mamat kepada Siti sambil seraya memberikan kode tapi Siti jelas tak paham
Siti mengambil ikan dan membayarnya tanpa banyak bicara, dari kejauhan ada sepasang mata jahat mengintainya yaitu anak perempuan perawat Endah yang bernama Vivi.
"Elu ngomong apa sama bang sayur?"
tanya Vivi dengan kasar saat Siti masuk rumah.
"Gue nawar ikan...masalah buat elu kalo gue nawar ikan...entar gue bayar mahal elu marah juga sama gue...,"padahal Siti bukan orang yang kasar, tapi karena dia benci dengan Vivi dan ibunya maka dia menjawab juga dengan kasar.
Vivi menyipitkan matanya ke arah Siti sambil mengacungkan jari tengahnya ke arah Siti, memang gadis yang tak tahu adab dan etika.
Di dapur dia mengambil pisau lalu membelah ikan, tiba-tiba dia melihat ada gulungan kertas kecil dalam perut ikan.
Dia menengok ke kanan dan kiri, lalu segera masuk ke kamar mandi, dengan gemetar dia membuka kertas itu.
"Siti, ini ibu Serina...tolong besok kamu kasih tahu bang mamat kondisi bapak dan Mahendra bagaimana....bakar kertas ini setelah kamu baca".
Siti menangis ternyata ibu Serina masih hidup, karena wanita iblis itu bilang Ibu Serina mati bunuh diri.
"SITIIIIII....NGAPAIN ELU DI KAMAR MANDI LAMA SEKALI, ITU IKAN DIGONDOL KUCING BARU NYAHO!!!!"
Siti melipat kertas tadi sekecil mungkin lalu dibuangnya ke kloset kamar mandi.
"Gue baru ber*k, elu mau t*i gue haaahhh....," jawab Siti sambil melotot ke arah Vivi saat keluar dari kamar mandi.
Tentu saja Vivi wajahnya kesal sekali menahan amarah kepada Siti.
Sementara ibunya Vivi si wanita jahat sedang sibuk berbelanja online menggunakan ATM juga kartu kredit atas nama Bang Cak sebagai alat bayarnya, segala rupa perhiasan dan pakaian mahal, tas mahal juga sepatu mahal dibelinya.
Tak lupa kosmetik jutaan rupiah dipesannya tanpa harus memikirkan uangnya.
Dokter Haikal malam itu menginap di rumah Jaya dan sesuai keinginan Jaya malam itu dia membawa tiga puluh tusuk sate Ayam yang enak.
"Untung sate ayam, coba kalau sate kambing....dokter Anton pasti kelabakan,"Jaya sudah mulai kembali ngocol seperti sedia kala, rupanya seluruh isi hatinya sudah tercurah malam kemarin.
"Hahahahah....makanya saya paham bro Jaya, soalnya kalau sate kambing nanti dokter Anton sibuk cari jepitan jendela kan repot.....hahahahah,"Haikal juga mulai ikutan Jaya kalau bicara suka ngawur.
"Mending kalau jepitan pintu atau jendela saja sih, takutnya malam-malam mencari lubang semut itu baru repot bro....hahaha,"Jaya dan Haikal tertawa bersama meledek dokter Anton yang sedang cuek menikmati makanannya.
"Terserah kalian mau ngomong apa, yang penting aku kelaparan,"sahut Anton sambil meneruskan makannya.
Setelah semua selesai makan, mereka mengobrol di teras rumah Jaya dan disitu Haikal membuka pembicaraan.
"Begini bro...aku mau menyampaikan sesuatu pada abang berdua, tapi maaf jangan emosi yah...kita ngobrol santai saja nih....,"kata Haikal mulai membuka pembicaraan kepada kedua kawannya.
"Cerita saja bro...memang ada apa sih sebenarnya," kata Jaya sambil menghirup teh pahit hangat.
Lalu Haikal menceritakan pembicaraan antara dia dan Komar beberapa waktu yang lalu, bahwa Komar kemarin ini mengakui kepada Haikal telah melakukan kejahatan yang mencatut nama dokter Anton.
Apa yang dikatakan oleh Komar kepada Haikal semuanya dia sampaikan kepada kedua kawannya malam itu.
Anton terlihat mulai emosi, karena apa yang Komar lakukan itu dampaknya mengerikan bagi dirinya.
Jaya melihat situasi yang menjadi tidak kondusif segera membawa mereka semua masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah Anton dan Jaya menceritakan apa yang telah terjadi dan utamanya adalah yang terjadi kepada diri Anton.
Haikal sontak terkejut begitu mendengar cerita dari Anton dan Jaya.
Kemudian Haikal berpikir sebentar, lalu berkata,"Kalau anak itu ku suruh kemari apakah kalian tidak akan emosi?".
"Kalau dia laki-laki datang kemari dan bicara dengan aku baik-baik, karena aku juga butuh penjelasan dari dia," ujar Anton terlihat menahan emosinya.
Dan Haikal menghubungi Komar, memintanya menemui dirinya di rumah Jaya. Tentu saja Komar paham dimana rumah Jaya, karena dulu dia sering kemari bahkan menginap di rumah Jaya.
Setelah menanti sekitar setengah jam, akhirnya Komar datang, Jaya menjaga agar Anton jangan sampai naik pitam.
Komar diajak masuk oleh Haikal, dan setibanya di dalam dia menangis sambil berlutut di kaki Anton dan Jaya. Yang tadinya ingin memukul, tentu saja menjadi batal karena melihat orang yang ditunggu menyerahkan diri sambil menangis.
Komar menceritakan alasannya mengapa sampai berbuat begitu. Adiknya disekap oleh Kang Japar untuk dijadikan pengantar minuman keras, dia berusaha membebaskan adiknya.
Tapi yang ada malah disuruh membuat dulu surat kematian seperti yang diinginkan oleh Kang Japar.
Mau tak mau nama dokter Anton yang dicatutnya dengan harapan adiknya akan dibebaskan setelah ditukar dengan surat tersebut.
Tapi ternyata adiknya ada di kota Bekasi dan Kang Japar mengatakan besok hari akan dikembalikan kepada Komar.
Tak tahunya adiknya dibunuh dengan cara ditembak kepalanya di kota Bekasi, ketika adiknya tak sengaja bertemu dengan polisi yang menyapanya di malam hari.
"Komar...besok kita bertiga mau tak mau harus menghadap kepada Polisi, kita harus melaporkan kejadian ini. Aku yakin pemberitaan yang tengah viral di media juga ada kaitannya dengan kasus kita,"kata Anton dengan tegas meminta Komar dan dirinya juga Jaya melaporkan kejadian ini kepada Polisi.
Pagi berikutnya Siti tampak mengangkat-angkat telur satu persatu dihadapkan ke cahaya matahari. Kalau ada yang melihat dari jauh pasti mengira dirinya tengah membahas telur dengan pedagang sayur.
Padahal dia sedang berbicara sambil diam-diam direkam oleh Bang Mamat Sayur, dia sedang menceritakan kondisi rumah saat ini.
Sementara Vivi dari kejauhan mengintip dan benar dalam benak Vivi dia berpikir Siti sedang memilih telur untuk dimasaknya nanti.
Kang Japar alias Kang Jap Fan sedang siap-siap di terminal bus kota Cirebon, dia akan naik bus lintas sumatera tujuannya ke Pekan Baru.
Rencananya setiba Pekan Baru nanti akan naik bus atau menumpang truck menuju pulau Batam.
Dia tidak mungkin naik pesawat atau naik kapal laut, karena nanti kalau diperiksa oleh petugas akan berbahaya bagi dirinya.
Namanya sudah muncul disegala pemberitaan media dan juga mungkin sedang dicari kepolisian.
Maka pikirnya saat ini yang teraman adalah naik bus karena tidak akan terlalu ketat pemeriksaannya.
Dia membawa semua barang berharga miliknya, lalu diam-diam pergi meninggalkan kota Cirebon bahkan tanpa diketahui oleh seluruh anak buahnya.
__ADS_1