Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keempat Puluh Empat


__ADS_3

Pak Tarmidi mendengarkan dengan antusias keterangan dari Anton dan Jaya perkara kemarin ini, namun tak semua bisa mereka ungkapkan.


"Saya sudah mengajukan dokter tambahan satu orang lagi. Nanti ada dua dokter di puskesmas kita, katanya beliau akan datang senin nanti. Kebetulan bukan orang luar kota masih orang Cirebon,"kata pak Tarmidi kepada Anton dan Jaya.


"Maaf dokter bukan saya menilai kinerja anda tidak baik, anda selama ini sangat baik sampai puskesmas kita penuh dan kegiatan lainnya berjalan sesuai prosedur. Hanya saya menimbang jika ada dua dokter kemungkinan salah satu berhalangan ada yang lain dapat menangani".


"Tiga hari kemarin kami kewalahan juga, banyak sekali pasien datang dan protes karena tidak ada dokter yang bisa menangani. Ada mantri juga tentu terbatas pengetahuan tentang penyakit dan juga obat-obatan, karena mereka belajar khusus untuk mendampingi dokter,"lanjut pak Tarmidi menjelaskan lagi keadaan di puskemas kemarin.


"Saya harap dua hari ini dokter Anton bisa maksimal menangani pasien yah..karena ada beberapa pasien memang tidak mau berobat ke tempat lain, kekeh ingin ditangani dokter Anton....".


"Baik pak Tarmidi, kami mohon maaf sampai ada kejadian tidak enak di puskesmas gara- gara kami ini,"kembali Anton bertutur memohon maaf nya kepada seluruh jajaran puskesmas.


"Pak Tarmidi...maaf apakah CCTV yang ada di puskemas ini juga bisa merekam kejadian di dalam ruangan kerja atau hanya terbatas untuk mengawasi kegiatan di luar ruangan saja?" tanya Jaya tiba-tiba ingat masalah CCTV yang ada di puskemas.


"Nah itu juga sedang saya ajukan ke pusat untuk penambahan unit CCTV, ketika kejadian kemarin posisi kita kurang kuat karena CCTV terbatas di luar ruangan kerja saja".


"Maka saya minta penambahan lagi untuk di setiap ruang kerja juga ada sebagai antisipasi kalau timbul fitnah dan lain-lain lagi seperti kemarin,"Pak Tarmidi menjelaskan lagi masalah CCTV yang masih belum mumpuni jumlahnya di gedung tersebut.


"Pak saya mohon ijin apakah boleh saya melihat rekaman-rekaman kejadian beberapa waktu yang lalu?"Jaya mencoba meminta ijin memeriksa rekaman CCTV beberapa hari ini.


"Silahkan saja, langsung saja kepada Trisno, sampaikan saja sudah ada ijin dari saya,"Pak Tarmidi mengijinkan Jaya memeriksanya.


Setelah mengucapkan terima kasih keduanya ijin meninggalkan ruangan tersebut.


"Bro....aku banyak pasien... nanti kamu saja yang memeriksa rekaman CCTV tersebut yah...,"ujar Anton meminta Jaya sendirian yang melihat rekaman tersebut.


"Siap....cuma Aku sedang menyusun kata diotak...bagaimana cara berbicara dengan Trisno...dia kan tak pernah kumpul seperti kita...setiap hari hanya menghadapi komputer memeriksa program," dasar Jaya ada-ada saja kalau menilai orang lain.


"Hmmm coba kamu beri dia link-link koleksimu itu....mungkin ahli IT seperti dia akan bisa lebih paham apa maksud kita....hahahaha," Anton juga sama saja suka memberi ide yang kacau.


"Cerdas juga kamu dokter...iya akan aku coba...siapa tahu kalau sudah kenal link-link koleksiku dia jadi lebih bisa mengobrol seperti manusia pada umumnya yah...hahahahahha," Jaya menyambut ide kocak Anton sambil tertawa-tawa.


Siang hari saat jam istirahat Jaya menemui Trisno di ruangannya.


Trisno adalah seorang sarjana lulusan Teknik Informatika, dan dia sekarang bekerja di puskemas sebagai salah satu tenaga ahli di bidang komputer, software, sistem jaringan dan juga memantau sistem operasi CCTV.


Sambil berjalan ke arah ruangan Trisno sebenarnya Jaya juga ada sedikit menaruh curiga kepadanya karena anak muda itu jelas sangat paham urusan komputer, bisa saja dia memalsukan data atau lainnya.


Tapi dipikir lagi, kemungkinan itu kecil karena Trisno orang yang tidak pernah ikut campur atau sekedar berbincang dengan siapapun di puskemas.


Kalau sore hari teman-teman lain berbincang-bincang sambil terbahak bercanda, dia hanya anteng saja dengan dunianya.


Jaya juga sempat berpikir mungkin Murni rekan satu timnya yang berbuat memalsukan data Anton. Tapi dipikir lagi, tampaknya Murni tidak mungkin sepandai itu.


Kadang hanya untuk mengetik surat atau menginput data juga pasti ruwet minta tolong sana sini karena dia memang tidak pandai mengoperasikan komputer.


Kepandaian Murni hanya satu dan itu belum ada yang bisa mengalahkan di puskemas sini, yaitu mengunyah...tiada hari tanpa mulutnya mengunyah kecuali bulan ramadhan. Dan selama tiga puluh hari itu dia sangat menantikan waktu halangan agar hobinya tersalurkan.


Sambil kerja mengunyahnya jalan terus, apa saja dia makan, keripik, kue atau gula-gula, makanya badannya tambah hari tambah melar. Sering sekali dia dimarahi Anton kalau kedapatan mengunyah sesuatu secara berlebihan.


Kadang kalau ada Anton dia berdrama diam tidak makan sesuatu, saat Anton pergi langsung kudapan yang dia sembunyikan terbang ke dalam mulutnya.


Anton sering jahil dengan diam lama lama diruangan administrasi agar Murni tidak bisa mengenal.


untung saja suaminya sayang sekali kepadanya, kalau tidak sayang mungkin sudah berpaling ke wanita lain karena sang istri bobotnya naik terus.


"Trisno...sorry mengganggu, tadi pagi saya sudah ijin ke pak Tarmidi untuk melihat rekaman CCTV beberapa hari yang lalu," pinta Jaya sambil merasa jengah kepada Trisno karena mereka memang tidak akrab.


Trisno melirik lalu tangannya sibuk membuka sesuatu di komputernya.


"Ini file videonya mulai dari hari Selasa pagi sampai kemarin sore, silahkan lihat sendiri saya permisi ke pantry ," jawabnya datar tanpa ekspresi sambil berlalu ke arah dapur kantor.


Jaya membuka satu persatu file video tersebut, ada rekaman saat mereka ribut di halaman puskesmas.


Dia malah merasa geli sendiri campur kesal saat melihat adegan-adegan baku hantam disana.


Seterusnya muncul rekaman suasana puskesmas saat diserbu wartawan dan juga didatangi polisi.


Terekam juga saat satu persatu karyawan Puskesmas di interogasi oleh polisi.


Sayangnya CCTV hanya merekam kegiatan di halaman depan, belakang juga sekitar kantor. Sedangkan di dalam hanya merekam ruangan tunggu dan lorong yang mengarah ke ruangan- ruangan yang ada di situ.


Saat mengamati tiba-tiba matanya tertuju kepada seseorang, dia adalah orang terdekat Jaya. Dari rekaman terlihat ketika suasana ramai penuh wartawan dan ada polisi juga, tapi dia dengan tenang seperti akan pergi ke suatu tempat.


Di depan pintu utama terlihat orang itu memasukan amplop coklat ke dalam tas selempangnya, dan Jaya ingat itu seperti amplop yang sama dengan yang ada ditangan Kang Japar beberapa waktu yang lalu.


Trisno masuk ke ruangannya sambil membawa mie instan, lalu Jaya bertanya rekaman CCTV dari kamera mana yang bisa menyorot ke ruangan administrasi.


Sambil makan Trisno mencari, dan ada tampilan CCTV dari depan ruangan Pak Tarmidi yang berseberangan dengan ruang administrasi.


Dari rekaman itu tidak terlihat jelas orang itu ada diruangan administrasi sedang melakukan sesuatu seperti mengetik di komputer, hanya Jaya belum berani menduga kalau dia pelakunya baru kemungkinan saja.


Kalau digabungkan semua rekaman itu, terlihat setelah dari ruang administrasi kemudian orang itu masuk ke ruangan praktek Anton.


Hanya sayangnya pada CCTV terekam langkahnya ke ruangan Anton tidak jelas karena hanya terlihat sepotong badannya saja tidak terekam utuh.


Yang paling jelas dari beberapa cuplikan rekaman adalah saat dia hendak meninggalkan puskesmas di saat semua orang kewalahan.


Dia dengan tenang tampak pergi ke suatu tempat dengan membawa amplop yang diduga surat palsu atas nama Anton.


Hari itu Anton dan Jaya berangkat dengan membawa mobilnya Anton ke puskesmas karena sepulang kerja akan menjemput Mela dan ibunya.


Sore hari ketika keduanya sudah di dalam mobil, sambil melaju menjemput Mela dia berkata,"Bro...dari beberapa potongan CCTV ada yang aku rekam ke gawaiku. Silahkan kamu lihat sendiri".


Lalu Anton membuka gawainya Jaya sesuai petunjuknya dan dia melongo melihat orang yang Jaya tunjukkan.


"Tapi masa bro...mana mungkin dia bisa senekat itu dan apa hubungannya dengan kang Japar?" Anton merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat di rekaman itu.


Jaya juga hanya bisa mengangkat bahu karena dia juga tidak mengerti anak itu bisa berbuat senekad itu.


Sambil memejamkan matanya Anton berpikir keras, karena dia tahu sekali bagaimana sosok itu sebenarnya.


Karena mereka sudah sampai di rumah wak Darma untuk menjemput Mela, maka pembicaraan dihentikan.


Ibu Sinah dan Mela sudah berkemas bersiap menunggu dijemput. Sambil ibu Sinah juga membawa makanan yang tadi siang dimasaknya untuk dimakan bersama nanti malam di rumah Jaya.


Setelah berpamitan dengan wak Darma dan pasangan suami istri Surya dan Wiwit, mereka melaju meninggalkan kediaman keluarga itu dan menuju ke rumah Jaya.


"Oom Jaya...apakah disekitar rumah ada salon kecantikan? tidak usah yang mahal yang biasa saja untuk besok berdandan memakai kebaya,"Mela mencoba mencari tahu apakah dekat rumah Jaya ada salon untuk mempercantik dirinya besok pagi.


"Sepertinya ada tapi aku belum pernah ke tempat itu, nanti sekalian lewat yah kita mampir sebentar,"kata Jaya sambil mencoba mencarikan salon untuk keperluan esok hari.


Sebelum belok ke arah rumah Jaya ternyata ada sebuah salon kecantikan dan potong rambut di papan depannya terpasang tulisan " Salon Melati".


Mela turun diantar oleh Jaya, karena Jaya yang meminta agar dia saja yang turun bersama Mela.


Pintu diketuk salon diketuk dan tak lama dibuka oleh seorang cantik tapi bukan wanita.


"Oom ganteng...ada yang bisa Melati bantu ?"tanyanya dengan genit sekali.


Mela terpana dan dia menahan tawa.


Jaya dengan sebal berkata," Ini adik saya besok wisuda, apakah bisa besok pagi berdandan disini?".


"Cinta....aduh cantik sekali... tentu bisa sayang...besok kakak Melati tunggu yah...jam 6 pagi...,"kata sicantik bukan wanita itu kepada Mela.


"Baik kakak Melati...besok pagi saya kemari...,"sahut Mela sambil senyum.


"Oom gantengnya mau sekalian potong rambut tidak...biar Melati yang layani...," pemilik salon itu mencolek dagu Jaya sambil mengedipkan matanya.


Jaya bergidik lalu tanpa sepatah kata apapun langsung berlari menuju mobil.


Si Melati cantik bukan wanita itu lalu mendengus kesal, dia menatap Mela,sambil berkata," Sebel iiihhh...Oom nya sombong".


Mela sambil pamit berkata," Oom itu jomblo kakak Melati...nanti saya sampaikan salam dari kakak yah....".


Tentu saja Melati itu gembira saat Mela menuturkan seperti itu.

__ADS_1


Di dalam mobil Anton tertawa sampai terpingkal-pingkal melihat Jaya dicolek wanita jadi-jadian.


"Amit-amit Mela...kamu besok mau didandani orang tadi?"kata Jaya dengan sebalnya.


"No problem Mela sih...aman kok kalau Mela sih....hahahah...tidak akan diapa-apakan olehnya".


"Tadi kakak Melati itu titip salam buat Oom ganteng," Mela menggoda Jaya dan yang digoda cemberut kesal.


"Bro biar kita sama punya pasangan namanya Melati... kita kompakan yuk.. hahahaha,"Anton meneruskan ledakan Mela kepada Jaya.


"Dasar dokter sinting...mending tukeran aja deh ...hahahahah,"Jaya menukas ledekan Anton.


"Enak saja...hahahahah,"sahut Anton dan semua yang di dalam mobilpun tertawa.


Setelah tiba di rumah Jaya, kemudian ditunjukkan kamar untuk Mela dan ibunya.


Malamnya mereka makan bersama hasil masakan Mela dan ibunya, dan Jaya tentu saja sampai menambah lagi karena enak rasanya.


Setelah selesai makan malam sambil menonton televisi di ruang keluarga, Anton dan Mela duduk di sofa panjang.


Karena memang sering sakit kepala, maka Antonpun mulai manja kepada Mela.


"Sayang...kalau aku minta tolong, kamu mau kan...???"tanya Anton dengan nada manja.


"Minta tolong apa...asal Aku bisa pasti aku lakukan, "jawab Mela menatap wajah Anton.


"Aku ingin kepalaku di remas-remas... kayak dipijat di salon gitu say...,"pinta Anton dengan manja lagi.


"Oh boleh saja...sini saja kepalamu tidurkan saja di pangkuan,"kata Mela sambil menyiapkan bantal kursi di pangkuannya.


"Kok pake bantal lagi...Pahamu saja jadikan bantal,"rajuk Anton sambil merengut.


"Hhhmmm rewel...ya sudah sini," sahut Mela mulai judes.


Anton segera berbaring dan kepalanya dia tidurkan dipahanya Mela.


Dia menikmati remasan tangan Mela di kepalanya sampai terpejam-pejam.


"Ya ampun...bro dokter enak bener yah dipijat kepala sampai merem melek begitu,"biasa.... siapa lagi kalau bukan Jaya yang protes melihat kemesraan mereka.


"Jomblo ribut aja deh...sana ke salon Melati minta dipijat plus plus pasti lebih mantap ,"ledek Anton kepada Jaya yang ribut protes.


"Mana ibu yah, aku laporkan kalau anak gadisnya disuruh yang bukan-bukan sama pacarnya".


"Dasar jomblo reseh tukang merusak kebahagiaan orang".


Mela hanya tertawa saja melihat dua sahabat saling ribut tak jelas.


"Sayang besok aku mengantarmu ke tempat wisuda, tapi aku tidak mengikuti acaranya yah...aku harus kembali praktek ke puskemas,"kata Anton sambil kepalanya masih di remas oleh Mela.


"Kok tidak ikut acara, padahal aku salah satu lulusan terbaik tapi mengapa kamu tidak mau menemaniku," Mela lalu menghentikan remasan tangannya di kepala Anton.


"Maaf sayang...aku tidak enak kalau besok ijin lagi...baru hari ini praktek, masa besok mau ijin lagi nanti jadi omongan di puskemas," Anton lupa kalau Mela tidak tahu dia baru praktek lagi hari ini.


"Maksudmu apa? Baru praktek hari ini? Lantas 3 hari kamu tidak bisa aku hubungi itu kamu pergi kemana?" Mela memberondong pertanyaan kepada Anton.


Seketika Anton sadar bahwa dia sudah keceplosan bicara, mulai ada keringat di kening dan bingung tak tahu apa yang harus dia jawab.


"Kok diam saja? Apa yang sebenarnya terjadi sampai kalian berdua tidak bisa aku hubungi sama sekali," Mela mulai kesal merasa dibohongi.


Jaya yang tak sengaja mendengar segera menengahi.


"Melaaa....maksudnya tidak praktek di puskemas, kami kemarin berkeliling, dokter Anton kan kesayangan manula jadi banyak kakek dan nenek yang sudah tidak bisa berjalan atau sudah dalam kondisi kritis dikunjungi satu per satu sampai ke pelosok desa,"Jaya mencoba menyampaikan argumen agar Mela percaya.


"Benarkah...kok aku seperti baru tahu ada dokter puskesmas sampai bekerja seperti itu," Mela menyipitkan matanya tak percaya.


"Benar...kerjaku berbeda dengan dokter di rumah sakit besar, aku hanya melayani masyarakat menengah ke bawah. Jadi sebagai dokter kampung aku harus bisa memberikan pelayanan terbaik kepada kakek dan nenek itu," lemas rasanya Anton harus berkata yang tidak sebenarnya kepada Mela.


Mela menatap Anton berlama-lama dengan memperlihatkan wajah tak suka atas apa yang Anton sampaikan kepadanya.


Lalu Mela beranjak berdiri dan masuk ke kamarnya, ibunya sudah terlelap lalu dia membaringkan diri disamping ibunya sambil menitikan air mata.


"Sudahlah bro...pasti besok Mela akan memahaminya,"Jaya menyemangati Anton.


Esok paginya Mela setelah menunaikan ibadah subuh segera membantu ibunya menyiapkan sarapan pagi.


Kedua pria setelah ibadah subuh lanjut tidur lagi, Mela banyak berdiam diri tak banyak bicara.


Ketika jarum jam menunjukkan pukul enam pagi, dia segera berjalan kaki menuju salon Melati untuk sekedar berdandan untuk acara wisudanya.


Kakak Melati juga sudah siap untuk mendandani Mela.


"Aiihhh nek....kulit mukamu halus sekali say...cucok ciiinnnnn....akikah sukria sama kulit halus begindang,"kata kakak Melati sambil mulai membersihkan wajah Mela dan memoleskan alas bedak ke wajah mulusnya.


(\=aih kulitmu halus sekali, bagus sekali, aku senang dengan kulit sehalus ini)


Mela hanya senyum saja antara lucu dan juga tidak paham bahasanya.


Ternyata kalau dasarnya pria tentu mempunyai ekspektasi lebih kepada wanita, begitu juga saat kakak Melati ini mendandani Mela. Dia membuat Mela menjadi sangat berbeda, kalau saja Mela pengantin pasti sudah disebut pangling atau manglingi.


"Cantik sekelong ciiinn...cucok....bisa bikin lekong metong kalau melihat prewong secantik indang?"kata kakak Melati memuji Mela yang didandaninya. (\=cantik sekali, luar biasa, bisa mati laki-laki melihat gadis secantik dirimu)


Sekarang Mela sudah memakai kebaya yang diberikan oleh Rahman dan Atikah kemarin sebagai hadiah pelangkah.


Kakak Melati pandai memilin kerudung Mela diikat menjadi kerudung kekinian.


Tak lama mobil Anton tiba menjemput, di dalamnya sudah lengkap Jaya, Anton dan ibu Sinah.


Anton iseng membuka kaca memanggil kakak Melati," Kakak Melati..!!!.dicari sama oom ganteng!!!".


Tangan Anton menunjuk kepada Jaya yang tengah memegang kemudi.


"Aaawww....oom ganteng sindang oom...akikah cintrong setengah metong sama oom ganteng....,"Kakak Melati melihat Jaya lalu melambaikan tangan dan meniupkan cium di udara.


(\=aaww Oom ganteng sini oom, aku cinta setengah mati kepada oom ganteng)


Jaya tidak meladeni hanya diam saja sambil sebal setengah mati.


Setelah Mela masuk mobil, dia segera melajukan mobil dengan kencang.


"Santai bro bawa orang tua nih," kata Anton sambil menahan tawanya.


Dan Jaya sambil tetap cemberut mulai mengurangi kecepatan mobilnya.


Anton sesekali melirik Mela, terpesona dengan kecantikan kekasihnya, tapi yang dilirik sedang merasa jengkel jadi diam saja pura-pura membuang muka ke luar jendela.


Setibanya di depan sebuah gedung pertemuan, Jaya menghentikan mobil setelah mendapatkan tempat parkir.


Anton segera turun dan membukakan pintu untuk Mela.


Mela menatap Anton pandangannya yang tajam dan galak, lalu turun dari mobil sambil tetap membisu.


"Maafkan aku sayang, benar aku tidak bisa menemani acara, nanti siang aku jemput dan kita foto bersama dulu. Aku janji sama kamu,"kata Anton mencoba merayu Mela yang masih tampak marah.


Mela mengangguk tapi tak berucap sepatah katapun.


"Wes Mela...Anton kan masih harus bekerja, sudah kamu jangan seperti anak kecil begitu. Coba mengerti calon suami itu sibuk,"ibu Sinah meredakan amarah anaknya dan menasehati agar bisa memahami Anton.


Anton segera pamit dan menyalami ibu Sinah, lalu Mela juga menyalami Anton.


Sebelum Mela melangkah menuju gedung, Anton menarik tangan Mela," Kamu cantik banget hari ini, cuma aku mau tanya tadi kamu berganti pakaian di depan kakak Melati atau ada kamar ganti?".


Mela diam lalu timbul ide iseng dan menjawab, "Mau tahu saja atau mau tahu banget?".


Lalu dia melepaskan tangan Anton dan berjalan menuju ke dalam gedung.


"Kenapa mukamu sebal begitu bro... kayak celana tiga bulan tidak dicuci," Jaya mengemudi sambil mengomentari wajah sahabatnya yang cemberut.

__ADS_1


"Bro...Mela tadi jalan kaki ke salon dari rumahmu memakai pakaian biasa, lalu saat dijemput sudah memakai kebaya. Coba kau pikir berarti dia bertukar pakaian di depan seorang trans gender tadi kan,"Anton terpikir kalau Mela bertukar pakaian di depan kakak Melati.


"Trus kenapa....dia trans gender pasti engga bakalan suka sama wanita


.... hahahaha ,"ujar Jaya menertawakan Anton.


"Hmmm....trans gender juga lelaki dasarnya bro....tiba-tiba melihat Mela ganti pakaian terus waras...bahaya dong ," rupanya Anton cemburu juga, ada rasa takut kakak Melati tadi menjadi sadar kembali menjadi lelaki saat melihat Mela bertukar pakaian.


Jaya tertawa melihat sahabatnya yang sedang cemburu kepada seorang cantik yang bukan wanita.


Hari Sabtu Puskesmas tidak banyak pasien, hanya beberapa kakek dan nenek yang sudah sering berobat rutin ke dokter Anton.


Anton dan Jaya memperhatikan gerak gerik seseorang yang mereka curigai. Memang belakangan ini anak muda itu agak aneh, dulu dia sangat ceria tapi sudah sekitar dua bulan belakangan ini sering menyendiri.


Namun keduanya sepakat belum saatnya mengkonfirmasi anak muda itu. Anton dan Jaya juga berlaku biasa saja, tak ada yang tahu kisah penyuntikan Sriningsih. Karena itu rahasia kelam bagi kedua sahabat itu.


Setelah selesai pasien terakhir juga waktu sudah menunjukkan tengah hari, waktunya puskemas untuk tutup.


Anton dan Jaya juga bersiap untuk menjemput Mela dan ibunya lalu langsung meluncur ke Bandung.


Saat hendak menuju mobil mereka tak sengaja bertemu Trisno si pendiam, dan timbul ulah iseng Anton.


"Trisno sebentar dulu saya mau minta tolong!" panggil Anton saat Trisno akan keluar pintu utama.


Anak muda itu hanya membalikkan badan tanpa menjawab ya atau tidak, dengan gayanya yang datarnya memandang Anton.


Lalu Anton mendekatinya sambil membawa telepon genggam milik Jaya.


"Ini kamu bisa tolong cek ada beberapa link aneh di telepon genggam ini, saya tidak bisa membukanya,"kata Anton sambil sebenarnya ingin tertawa.


Jaya melihat dari kejauhan dan ketika sadar yang sedang dipegang Trisno adalah telepon genggamnya maka dia segera menghampiri.


"Link mana yah... apakah yang ini?" tanya Trisno datar apa adanya sambil menunjuk satu tautan di telepon genggamnya Jaya.


Anton membenarkan lalu dengan satu sentuhan Trisno terbukalah tautan itu, dan muncullah sebuah video adegan 25 tahun ke atas.


Anton dan Jaya menahan tawa, tapi Trisno santai saja setelah melihat beberapa detik lalu dia menutup tautan tersebut.


"Saya sih lebih suka yang anime lebih seru...," ujarnya santai lalu memberikan telepon genggam tadi kepada Anton.


Sontak sahabat jahil itu kedua matanya membulat lalu tertawa terbahak sampai sakit perut saat mendengar pernyataan dari Trisno.


Sementara Trisno cuek melangkah meninggalkan mereka yang sedang tertawa tak putus-putus.


"Waduuuhhh...dasar otak komputer sukanya anime....hahahahahha....,"kata Jaya sambil terus tertawa tak berhenti.


Sepanjang jalan menuju tempat Mela wisuda keduanya masih membahas Trisno dan keduanya tertawa sambil membayangkan orang seperti Trisno kalau punya pacar seperti apa.... keduanya mereka-reka kalau Trisno punya pacar pastinya perempuan yang sama kaku dan kalau saling berbicara pakai bahasa komputer.


Sesampainya di tempat Mela di wisuda ternyata acara sudah hampir selesai tinggal sesi foto keluarga di sebuah photo booth yang sudah disediakan pihak kampus.


Anton dan Jaya mencari-cari Mela..... eh..author salah..Anton sibuk mencari Mela sementara Jaya semangat melihat banyak wanita cantik yang di wisuda.


Kesempatan tak akan dia sia-siakan... kalau ada yang tampak mencari seseorang untuk minta tolong difotokan maka segera Jaya gesit membantu.


Tentunya banyak wisudawati meminta tolong difotokan saat ingin berpose bersama kawan-kawannya.


"Kayak gini tiap hari seger deh....," Jaya bergumam sendiri saat melihat banyak gadis- gadis yang cantik.


"Pak...maaf pak ...boleh minta tolong fotokan kami,"tiba-tiba ada seorang lelaki muda minta tolong Jaya memfoto dia dengan kawan laki- laki lainnya.


"Duh maaf yah saya bukan tukang foto," tolak Jaya sambil terus berjalan dengan memasang wajah sombong.


"Dasar oom-oom mata keranjang giliran cewek aja mau,"kata lelaki muda tadi dengan kesal sambil memandang Jaya yang terus jalan menjauh.


Anton sudah bertemu dengan Mela, dan dengan gembira Mela menarik tangan Anton dan berfoto di tempat foto booth.


Mela sampai minta beberapa kali foto dengan membayar sendiri lagi karena jatah gratis dari kampus sudah dipakai tadi berpose bersama ibunya.


Kepala Anton mulai terasa pusing karena banyak orang dan sebagian besar wanita yang pasti memiliki timbre suara melengking di hampir setiap sudut ruangan.


Namanya wanita masih muda sedang wisuda, ketemu teman yang ini menjerit terus pelukan lalu berfoto.


Jalan lagi sebentar ketemu lagi teman yang lain saling menjerit lagi pelukan lagi dan berfoto lagi.


Aneh memang entah apa yang harus dijeritkan... benar-benar rahasia Tuhan saat menciptakan wanita selalu diisi dengan jeritan...


Merasa bahagia menjerit, sedang sedih apalagi marah....pasti jeritannya lebih kencang lagi.


Anton pasrah saja apa kata Mela walau dia pusing melihat banyak orang lalu lalang seperti itu.


Karena kalau menolak lagi pasti akan ada yang cemberut lagi dan kalau sudah kelewatan kesal kepada Anton pasti entah lengan atau pinggangnya akan panas, perih dan membiru.


Dan lelaki tidak boleh marah kalau pasangannya berbuat demikian.


Setelah satu per satu mulai orang- orang mulai meninggalkan tempat wisuda, maka Anton dan Mela juga menuju mobil.


Tak jauh dari mobil sudah menanti ibunya yang sedang duduk disamping Jaya sambil menikmati sebotol minuman dingin.


Kelihatan sekali ibu Sinah juga lelah dan pusing melihat begitu banyak orang dan sangat berisik sekali.


"Yuk kita makan dulu di rumah makan, ini sudah siang sekali pasti ibu sudah lapar,"kata Anton kepada Mela mencoba mengajaknya segera pergi dari keriuhan tersebut.


Mela kembali memandang Anton dengan judes sambil menjawab," Yah hayuk saja sekarang kita jalan kasihan ibuku".


Dalam hati Anton merasa sebal, karena wanita memang aneh tadi pagi marah, barusan berfoto bahagia tertawa-tawa dan mau berpose mesra, sekarang mau pulang judes lagi.


Sesampainya di rumah makan Anton segera mencari meja untuk mereka duduk dan kebetulan ada empat kursi kosong.


Lalu mereka memesan beberapa menu makanan dan minuman. Sambil menunggu makanan datang Ibu Sinah ijin ke toilet, dan kesempatan itu dipakai Anton untuk berfoto berdua dengan Mela sambil minta tolong Jaya untuk memfotokan.


"Sekarang pose cium kening bro...Mela menghadap Anton tapi matanya merem yah...nanti Anton mencium kening Mela yah...Oke siap yah....,"kata Jaya mengatur pose dan memberi aba-aba.


Mela menghadap Anton dan matanya tertutup lalu...1...2....3.....CUP!!!!


Anton mengecup bibir Mela dan.... JEPRET!!!!!


Pose tersimpan di telepon genggam milik Anton.


Mela kaget dan langsung membuka matanya, wajahnya semburat merah merona.


Seperti biasa wanita pasti pura-pura marah...padahal hatinya senang berbunga-bunga. Andaikan bayangan bisa bergerak sendiri pasti bayangan Mela sedang salto sambil berteriak bahagia.


Tak lama ibunya Mela kembali ke ruangan makan dan semuanya kembali seperti semula.


Mela duduk disamping Anton, sambil tetap memasang tingkah ketus-ketus manja dihadapan ibunya, tapi tangannya dan tangan Anton bergenggaman di bawah meja.


Setelah selesai makan mereka tancap gas langsung meluncur ke Bandung, dan Jaya yang menyetir mobilnya.


Sambil berjalan Anton yang sangat jarang memperbaharui profil foto chat atau membuat status foto chat, hari itu dia menggantinya.


Profil diganti dengan fotonya yang sedang duduk berdekatan dengan Mela. Sedangkan pada status chat memajang beberapa foto berpose mesra baik saat Mela masih memakai toga, dan saat toganya sudah dilepas. Dan memasang judul "Selamat Wisuda kesayanganku".


Banyak orang yang melihat status baru Anton, tak terkecuali di suatu tempat nun jauh seorang Miranti Chandra juga melihatnya.


Perjalanan sekitar tiga jam akhirnya tiba di rumah kediaman keluarga Wiharja. Anita dan Fajar menyambut kedatangan mereka terutama menyambut ibu Sinah.


Wahyu juga segera masuk kedalam rumah keluarga Wiharja menyambut ibunya.


Mela sibuk berfoto bersama Anita dan Fajar karena kebetulan masih memakai pakaian kebayanya.


Sambil duduk ibu Sinah tak sengaja memandang foto keluarga yang besar seperti sebuah lukisan di ruangan itu.


Saat itu dia sedang menggenggam tangan Wahyu dan ketika melihat foto tadi, genggamannya seketika mengeras membuat Wahyu terkejut.


Lalu ibu dan anak itu berpandangan dan Wahyu menganggukan kepalanya.


Ibu Sinah menutup mulutnya sambil menatap Mela yang sedang tertawa gembira ditengah adik kakak Wiharja.

__ADS_1


Ibu Sinah berbisik kepada Wahyu menanyakan apakah kakaknya sudah mengetahuinya lalu Wahyupun menggelengkan kepalanya.


"Astagfirullah ....Ya Allah....semoga ini bukan menjadi hal yang buruk".


__ADS_2