
Sewaktu penyergapan ke kediaman Kang Japar, selintas media tak sengaja mengambil gambar Jaya yang sedang berbicara dengan Polisi.
Keesokan harinya saat membantu membereskan kasus di rumah sepupunya Anton yaitu di rumah Ibu Serina Mustika, tak sengaja oleh media gambar Jaya terekam lagi.
Untungnya sudah memakai pakaian pria lagi bukan ala-ala banci seperti ketika sedang memijat Endah.
Pagi itu Miranti sedang bersiap hendak ke kantor, dia duduk di sofa depan televisi di apartemennya sedang mengoleskan body lotion ke tangan dan kakinya.
Tayangan di televisi pagi itu adalah berita mengenai penyergapan di Cirebon.
Miranti memandang televisi cukup antusias melihat penggerebekan gudang minuman keras dan juga ada percobaan peledakan granat.
Saat sedang serius, dalam tayangan ada selintas wajah pria yang dia terlihat muncul di televisi terlihat sedang berbicara dengan seorang Polisi.
Matanya sontak membelalak sampai dia berdiri dan melangkah mendekati layar televisi.
Di tayangan itu seorang komandan Polisi sedang diwawancara dan dibelakangnya ada sosok pria itu sedang berbicara dengan seorang Polisi.
Tidak diketahui pria itu sedang apa disana hanya terlihat cukup jelas dan tayang sekitar 1 menit.
Miranti menutup mulutnya dengan kedua tangannya, merasa senang melihat penampakan wajah itu walau hanya menjadi latar belakang saja.
Setelah tayangan itu diselingi oleh pariwara dulu, sambil sebelumnya pembawa berita menyampaikan setelah pariwara akan memberitakan kejadian di rumah salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Kota Tangerang.
Miranti mulai memasukan ponsel, tissue, bedak, lipstik dan lainnya ke dalam tas kerjanya.
Di televisi pembawa berita mulai memberitakan kejadian kemarin di rumah salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang mendapat teror dan disekap selama dua bulan oleh seorang perawat.
Kemudian muncul tayangan rumah tempat kejadian perkara, tampak ada seorang wanita sedang dimasukan ke dalam mobil polisi dengan tangan terborgol.
Di setiap tayangan kriminal pasti ada seorang polisi di wawancara oleh media, saat ini yang di wawancara adalah AKP Bahrudin.
Miranti sedang meminum sisa kopinya sambil melihat tayangan itu, tapi tiba-tiba di belakang Polisi yang sedang diwawancara itu muncul lagi wajah pria yang selalu ada di dalam benaknya.
Pria itu tampak sedang berbicara dengan seseorang entah awak media atau siapa tak jelas.
Miranti sampai tersedak sampai terbatuk-batuk saat terlihat tayangan pria itu.
Setelah reda batuknya, dia lalu menghempaskan punggungnya ke sofa sambil bertanya-tanya dalam hatinya" Apakah aku sudah mulai gila... masa di tiap tayangan berita selalu terlihat ada dia....Masyaallah...".
Miranti lalu mengambil remote dan mematikan televisi, lalu bergegas pergi ke kantornya.
Sementara di kota lain di saat yang bersamaan, ada dua lelaki sedang bersorak-sorak sambil saling lempar bantal kursi saat melihat dalam tayangan berita tersebut.
Salah satu diantara mereka berdua muncul terus di televisi menjadi latar belakang saat ada polisi di wawancara.
"Hahahaha....sungguh aku tak tahu kalau masuk televisi, saat di Cirebon aku sedang ditanya sesuatu oleh seorang Polisi dan saat di Tangerang aku sedang berdiri bersama Septa...Hahahahah,"kata Jaya sambil terus tertawa geli sampai berguling-guling di sofa.
"Lumayan yah bro jadi cameo, dapat bayaran berapa nih...hahahah,"kata Anton sambil geli juga melihat sahabatnya masuk tayangan televisi.
"Cameo gratis....hahahaha, sayang aku tak tahu akan tersorot kamera...Kalau tahu akan masuk tayangan televisi harusnya aku saja yah yang di wawancara....Hahahaha,"ujar Jaya sambil masih merasa lucu karena dirinya muncul di berita di televisi.
"Maunya kamu itu sih...media juga tahu mana yang berbobot mana yang tidak....hahahah,"ledek Anton kepada sahabatnya itu.
"Hahahah..biarin deh yang penting aku lumayan terkenal sekarang...siapa tahu ada yang naksir aku setelah melihat aku muncul di televisi.... hahahah," tukas Jaya tak mau kalah.
Fajar sedang menekan-nekan telinganya yang terlihat memerah sehabis bertelepon dengan Serina Mustika.
Ampun ibu pejabat itu kalau sudah kembali bahagia, cerewetnya luar biasa. Entah bagaimana caranya menarik nafas saat sedang bicara, seperti kereta api express yang melaju cepat.
Tadi Serina memberikan banyak instruksi untuk rencana keberangkatan ke Batam dan Singapura di akhir tahun nanti.
Sementara nama-nama peserta yang diwajibkan ikut oleh beliau adalah sudah pasti Fajar dan Anita beserta anak-anaknya.
Lalu Anton dan Mela ditambah Jaya, luar biasa nama terakhir diminta ikut oleh Serina secara khusus.
Sebagai tanda terima kasih, sudah merelakan dirinya terlibat langsung dengan perawat Endah yang psikopat, bahkan membantu melumpuhkan walau perutnya kesakitan karena ditendang oleh orang gila itu.
Sisanya Septa dan Lisma bersama anak-anak mereka, hanya Lisma tidak ikut berwisata. Dia minta ijin pulang ke Palembang saja bertemu keluarga dan orang tuanya.
Sehingga nanti setelah Septa selesai mengantarkan istri dan kedua anaknya ke Palembang baru akan menyusul ke Batam.
Ada cadangan yang sebenarnya harus ikut yaitu Janwar, tapi karena istrinya sedang hamil besar maka belum diputuskan apakah akan digantikan oleh adiknya Aprilia atau bagaimana.
"Ayah...kenapa telinganya?"Anita bertanya ketika melihat suaminya sedang menekan dan mengusap-usap telinganya.
"Tidak apa-apa hanya barusan habis mendengar suara tembakan, jadi telinga terasa panas dan mendenging,"sahut Fajar sambil tertawa kecil.
"Tembakan apa maksud ayah... dari tadi hening-hening saja kok,"Anita masih merasa aneh saat suaminya berkata seperti itu.
"Berondongan peluru dari bibir Serina Mustika....Bun...waduh luar biasa sekali, aku sampai tak habis pikir bagaimana caranya menarik nafas sambil bicara seperti itu yah...,"jawab Fajar menjelaskan kalau dia baru selesai bertelepon dengan kakak sepupu istrinya.
"Hahahaha...dia itu aneh memang, kalau merasa bahagia pasti akan terus bicara dan orang lain hanya mendengarkan saja. Malah kita yang akan capek kalau terus melayaninya bicara....hahahah," Anita menceritakan bagaimana sepupunya itu kalau merasa bahagia akan berbicara terus tanpa bisa berhenti.
"Alhamdulillah...aku ketemu jodoh namanya Anita Wiharja, walau galak dan ketus tapi tidak secerewet sepupunya...hahahahah,"kata Fajar tertawa senang menggoda istrinya.
Dan sekarang istrinya yang menjadi melotot karena disebut galak dan ketus.
Mela sedang membereskan pakaiannya dan pakaian suami nya ke dalam koper karena akhir minggu ini dia akan ke Cirebon.
Rencananya ibu Sinah akan membuat syukuran atas pernikahan Mela dan Anton, sekalian syukuran renovasi rumah sudah selesai.
Sambil membereskan pakaian, pikirannya menerawang ingat kejadian minggu lalu saat pulang dari Tangerang sehabis membantu Serina.
Suaminya begitu bersemangat pada malam harinya karena ingin bercinta dengan dirinya. Tapi begitu tahu hari itu Mela sedang halangan, maka dengan merasa sebal, suaminya memaksa dan mengajak Jaya yang ikut menginap di sana malam itu untuk main play station sampai pagi.
Selama beberapa hari ini suaminya setiap telepon atau saling mengirim chat pasti selalu bertanya apakah halangan sudah selesai atau belum.
Jadi ingat dulu waktu dia masih gadis suka mencuri dengar kalau ibu-ibu di kampung suka saling bercerita kalau yang mempunyai suami yang kerja di luar kota, saat pulang dan mendapati istrinya sedang halangan pasti jadinya marah-marah.
Ternyata dia baru paham apa sebabnya setelah mempunyai suami, waktu gadis dulu dia hanya bingung saja kalau mendengar obrolan ibu-ibu seputar hal itu.
Tiba-tiba ponsel milik Mela terdengar berdering lagi, dan suaminya yang meneleponnya lagi.
"Mi...nanti jumat kan datang kemarinya, aku pesan hotel saja yah untuk selama kamu di sini,"kata Anton dengan terkesan nada bicaranya menggebu.
"Aku sih bagaimana Pi saja, paling nanti aku jelaskan sama ibu kalau kita tidak tidur di rumah sana," sahut Mela menyerahkan apa kata suaminya.
"Ya sudah, aku sudah pesan hotel kok untuk tiga malam, nanti aku yang bilang sama ibumu kalau kita tidak menginap di rumah sana. Nanti aku bilang mau menginap di hotel, biar cepat memberinya cucu," Anton malah menggoda istrinya.
Mela hanya tertawa-tawa saja mendengarnya, apalagi kalau suaminya sudah menanyakan kondisinya dan lucunya suaminya sampai minta kepastian juga keputusan kalau jumat malam nanti Mela sudah tidak halangan lagi.
Padahal yang dokter itu siapa yah, Mela atau suaminya, harusnya suaminya bisa menghitung siklus istrinya.
Karena sudah rindu menggebu, maka dia sudah sulit menghitung lagi, yang ada cuma ingin segera berjumpa istrinya.
Ada-ada saja yah, dasar lelaki mungkin semuanya seperti itu, apalagi ini di awal pernikahan dan harus tinggal berbeda kota
Tentu saja setiap kali pulang akan menahan rindu dan hasrat yang sudah tidak terbendung lagi.
"Mela bisa kemari sebentar, kami mau minta tolong,"Anita memanggil adik iparnya yang sedang merapihkan pakaian ke dalam koper.
Mela segera mendekati kakak iparnya," Ya Cici, ada yang bisa Mela bantu?".
"Begini Mela, ini sedang ada promo hotel dan tiket pesawat sebesar 50%, tapi harus untuk orang yang pertama kali menggunakan aplikasi Tamasya ini, kamu kan belum pernah daftar dan menggunakan aplikasi ini bukan?" Fajar menanyakan sekaligus memberitahu bahwa sedang ada promo akhir besar- besaran untuk orang yang pertama kali menggunakan suatu aplikasi Tamasya.
"Ya tentu sajalah, aku mana ada uang untuk tamasya ke luar kota bahkan keluar negeri. Sekarang saja aku gemetar, nanti harus membuat paspor,"sahut Mela dengan lugunya.
"Hmmm...sekarang aku pinjam keterangan identitasmu, aku akan mendaftarkanmu untuk memesan hotel dan tiket pesawat nanti untuk ke Batam dan Singapura,"kata Fajar sambil meminta KTP nya Mela untuk membeli tiket pesawat dan reservasi hotel.
Lantas Mela memberikan semua keterangannya termasuk kartu ATM nya dan juga nomor rekeningnya untuk pendebetan pembayaran.
Kemudian Fajar mengunduh aplikasi tersebut dan mencantumkan nama Melati Sekar Wangi, dia mendaftarkan semua nama sesuai dengan petunjuk Serina.
Siang itu di kota Batam, tepatnya di daerah Tanjung Riau, di suatu daerah pemukiman padat penduduk, terlihat seorang pria yang sering di panggul Ah Bun sedang berdiri di atas reruntuhan sebuah bangunan rumah.
Rumah itu makin hari makin hancur karena tidak ada yang tinggal di situ.
"Kapan Ah Chiang pulang kemari yah, sayang rumahnya. Walau kata orang banyak hantu, tapi kalau aku perbaiki lumayan untuk usaha menjahit,"Ah Bun berkata dalam hati sambil memandang reruntuhan rumah orang tuanya Fajar.
Ah Bun alias Bunawan, tetangga dan juga sahabat Fajar dari kecil.
Di daerah rumahnya Fajar dipanggil Ah Chiang, karena dia sebenarnya memiliki nama Marga Tionghoa pemberian almarhum kakeknya yaitu The Nien Chiang.
Jadi orang-orang sekitar rumahnya pasti memanggil dia Ah Chiang.
Nama Marga Tionghoa itu sebenarnya kebiasaan saja untuk masyarakat keturunan Etnis Tionghoa, mereka umumnya memiliki dua nama.
Nama Tionghoa dan juga nama Indonesia, namun umumnya yang terdaftar pada akte kelahiran pasti nama Indonesianya.
Lulus SMA dulu Ah Bun langsung bekerja di sebuah industri rumahan yang memproduksi pakaian jadi.
Di sana Ah Bun belajar menjahit, dan untung dia pemuda yang terampil sehingga dia cepat belajar.
Sampai sekarang dia masih bekerja di sana, tapi dia juga ingin punya usaha sendiri, hanya tak punya tempat untuk dijadikan tempat usahanya.
Melihat bangunan rumah Fajar, terbesit dibenaknya ingin memperbaiki rumah itu dan menjadikannya tempat usaha menjahit sendiri.
"Dimana aku bisa mencarimu Ah Chiang, sudah lama sekali tidak bertemu. Apakah mungkin kamu kemari lagi,"Ah Bun merindukan kawan lamanya itu.
Dari kecil mereka bersama main di sungai, mencari ikan, mengumpulkan kaleng bekas atau botol plastik bekas kemudian dijual dan uangnya mereka pakai untuk jajan mie ayam bakso.
Masih ingat satu mangkuk berdua, isinya mie dan empat butir bakso, mereka berdua membagi makanan itu dengan adil.
Dari kecil mereka berdua kalau ingin makan enak selalu putar otak, berusaha mencari uang entah mencari rongsokan atau membantu membawakan belanjaan ibu-ibu di pasar.
Paling bahagia kalau hujan, mereka berdua selalu menjadi tim ojek payung di daerah perkantoran. Lumayan memberikan jasa memayungi orang kantoran pulang kerja agar tidak kehujanan.
Ah Bun cuma bisa berharap suatu saat Ah Chiang akan kembali ke Batam dan bisa bertemu walau sekejap saja.
Jadwal keberangkatan disesuaikan dengan jadwal libur puskemas tempat kerja Anton dan Jaya.
Rencananya nanti saat Mela di Cirebon mereka bertiga akan mengurus paspor untuk keberangkatan nanti.
Semua kamar hotel di Batam dipesan atas nama Melati Sekar Wangi.
"Bunda...nanti di Batam aku akan mencari makam orang tuaku yah, sekalian aku juga ingin melihat rumah lama kami,"kata Fajar sambil menerawang menatap jendela.
"Memangnya istrimu tidak akan diajak untuk mengunjungi makam mertuaku?" tanya Anita sambil menatap wajah suaminya.
"Tentu saja akan ku ajak kalau Bunda mau sih, cuma aku tak tahu apakah Bunda akan nyaman kalau ikut ke daerah rumahku jaman dahulu," Fajar menatap istrinya dengan mata sendu.
"Memangnya mengapa rumah jaman dulumu, kalau aku kesana ada bomnya kah?"tanya istrinya sambil senyum dan memeluk suaminya.
__ADS_1
Fajar membalas pelukan istrinya dan menciumi kepala istrinya,"Rumah masa kecilku berada di pemukiman kumuh, kami miskin bahkan untuk makan pun harus berusaha keras dulu untuk bisa membuat perut ini kenyang".
Anita mempererat pelukannya kepada suaminya sambil berkata,"Mau kumuh atau seperti apapun rumahmu dulu, aku harus tahu dan anak-anak mu juga harus tahu bagaimana ayahnya dulu".
Fajarpun membalas pelukan istrinya, dia bahagia mempunyai istri yang begitu indah hatinya.
Miranti melihat pakaian salah satu staff di kantornya. Setiap hari gadis yang bekerja dibagian administrasi itu selalu memakai pakaian tunik berbahan batik.
"Marwah coba kamu kemari sebentar!" panggil Miranti kepada Marwah gadis bagian administrasi.
Gadis yang bernama Marwah itupun langsung beranjak menuju ruangan Miranti.
"Permisi bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya gadis itu dengan sopan kepada atasannya.
"Sini duduklah, tidak ada apa-apa kok saya hanya mau bertanya saja,"jawab Miranti sambil menyuruh gadis muda itu duduk di kursi dihadapannya.
Marwah dengan takut-takut duduk di kursi dihadapan Miranti sambil otaknya berpikir apakah ada kesalahan input data yang sudah diperbuatnya.
"Marwah jangan tegang begitu, aku cuma mau tanya kamu hampir setiap hari memakai pakaian tunik batik berganti-ganti. Kamu beli dimana pakaian sebagus itu?"tanya Miranti sambil senyum lebar.
Marwah sekarang yang terkejut, dia tidak menyangka seorang ibu boss sekelas Miranti menanyakan pakaiannya.
"Aduh bu, ini hanya tunik batik biasa saja. Saya membelinya lewat teman administrasi di cabang cirebon yang bernama Gita," Marwah menjelaskan kepada atasannya.
"Gita....maksudmu Gita yang di bekerja di kantor cabang Cirebon?"tanya Miranti seakan butuh penegasan lagi dari Marwah.
"Iya bu benar sekali, Gita itu rumahnya di sekitar kampung batik Trusmi di Cirebon. Dia selalu menawarkan kepada teman-teman di seluruh cabang. Pakaian berbahan batik khas kota Cirebon, karena ibunya kebetulan pandai menjahit, sementara ayahnya bekerja di toko kain batik".
"Sehingga ayahnya mendapatkan kain dengan harga khusus karyawan, lalu ibunya yang memproduksi kecil-kecilan di rumahnya".
Miranti antusias mendengar penjelasan Marwah, hanya dalam hatinya mengapa harus dari kota Cirebon asalnya pakaian gadis itu.
Miranti memeriksa telepon genggam miliknya mencari nama Gita, tetapi tidak ada nama itu, yang dia miliki hanya kontak atasannya.
"Marwah coba nanti kamu kirimkan nomor kontak Gita kepadaku. Akupun mau mencoba memesan pakaian kepadanya,"kata Miranti meminta kontak gadis di Cirebon kepada Marwah.
"Tapi bu, harga pakaian ini murah bu, paling mahalpun hanya sekitar seratus ribuan, masakan ibu memakai pakaian murah-murahan begini," Marwah dengan malu-malu menjelaskan harga pakaiannya.
Sambil mencebikan bibirnya Miranti berkata," Memangnya selama ini kalau saya memakai pakaian ada bandrol harganya. Kamu kan tidak tahu saja berapa harga pakaian saya".
Marwah tersenyum sambil tertunduk malu, lalu dia pamit keluar ruangan Miranti.
Tak lama Miranti sudah berhasil menghubungi gadis yang bekerja di kantor cabang Cirebon tersebut, dan sekarang sedang saling berkirim chat.
Dia melihat foto-foto pakaian dan corak-corak kain kiriman Gita, dia sangat tertarik untuk memesannya.
"Bu, maaf sekali, ibu kan berbeda dengan Marwah," di chatnya Gita menulis seperti itu kepada Miranti sambil ada emoji tanda malu-malu.
"Beda apanya sih?"tanya Miranti dengan aneh.
"Marwah kan badannya lurus saja, mohon maaf kalau ibu kan depan belakang besar jadi harus diukur khusus,"jawaban Gita sambil memasang emoji malu dan tertawa.
"Wkwkwkwkwk," itu jawaban Miranti yang akhirnya paham maksudnya gadis itu.
Memang benar selama ini kalau dia membeli pakaian cukup bermasalah di bagian dada dan bokong.
Kalau menjahit pakaian, berarti pastinya bagian-bagian tersebut harus diukur secara khusus agar nanti dipakainya nyaman.
Mau tak mau kalau ingin pesan pakaian batik kepada Gita, maka dia harus ke kota sana untuk diukur.
Masih ingat Laila, dia biduan dangdut sepupunya Atikah istrinya Rahman.
Dia sedang mencari-cari rumah Atikah dan Rahman.
Rumah ibu Sinah sudah selesai di renovasi oleh pak Darma dan Anton, maka sekarang Rahman dan Atikah menempati rumah baru tepat di sebelah rumah ibu Sinah.
Tanah milik almarhum ayahnya cukup luas, sehingga bisa dijadikan dua rumah berdampingan bahkan khusus untuk Rahman bagian depannya diberikan ruangan untuk membuka warung.
Atikah sendiri beberapa waktu lalu sudah keluar kerja, sekarang dia hanya menjaga warung saja, sementara Rahman masih tetap menjadi sekuriti di Bank Perkreditan Rakyat.
Laila berjalan kaki di bawah terik matahari, sambil bertanya-tanya dimana rumahnya Atikah dan Rahman.
Lalu ada yang memberitahukan dimana letaknya, ternyata harus masuk dari halaman Kantor Kuwu.
Setelah berjalan sedikit dari muka Kantor Kuwu, tampaklah Atikah sedang merapihkan dagangan di warungnya.
"Tikah....!!!!"seru Laila saat melihat sosok Atikah dari dalam sebuah warung kecil.
"Astagfirullah...Laila....ayo masuk...," sambut Atikah saat melihat sepupunya tiba-tiba saja datang di siang hari bolong.
Laila masuk dan lantas memeluk sepupunya sambil menangis.
Atikah terkejut, lalu dia membawa masuk sepupunya ke dalam rumahnya.
Sambil tersedu-sedu Laila mulai menceritakan nasib yang menimpa dirinya.
Atikah sampai tak bisa berkata-kata, namun menurut Atikah hal yang terjadi menimpa Laila harus segera diselesaikan.
Karena hal seperti ini tak mungkin kalau Laila harus menanggungnya sendirian.
Ibu Sinah sedang sibuk memesan nasi kotak untuk acara syukuran hari sabtu nanti.
Kebetulan ada tetangga yang pandai memasak dan memang terbiasa menerima pesanan nasi dan lauk pauk dalam jumlah banyak.
Rencananya sabtu siang setelah Sholat Dzuhur akan diadakan pengajian di rumahnya yang baru selesai diperbaiki dan juga syukuran pernikahan Mela dan Anton.
Beliau juga memesan nasi bancakan, yaitu nasi dan lauk pauk dihidangkan di atas tampah dan nanti dimakan bersama-sama sambil duduk bersila mengelilingi tampah tersebut.
Sekitar 10 tampah dipesannya untuk tamu-tamu dari puskesmas tempat kerja Anton yang ingin berkunjung juga ingin tahu rumah mertuanya dokter Anton.
Rahman yang sekarang bingung, karena baik Anton maupun Mela mengirimkan dia uang untuk diberikan kepada ibunya.
Karena kalau dijumlahkan, uang untuk acara yang sederhana tersebut akan menjadi banyak sekali.
Tapi Rahman tak mau pusing dia serahkan saja semua uang tersebut kepada ibunya, karena itu amanat dari kakak dan kakak iparnya.
Anton sedang menelusuri gawainya mencari aplikasi hotel di kota Cirebon yang sedang promosi.
Akhirnya dia mendapatkan sebuah hotel yang lumayan ternama dan bagus, dengan harga yang sangat murah karena ada harga promosi dari kartu kredit Bank tertentu dan kebetulan dia memilikinya.
"Sombong sekali dokter kita ini, besok menginap di hotel dong tiga malam.... ckckckck.... mau ngapain saja di sana," goda Jaya kepada Anton yang sedang terlihat melakukan transaksi reservasi melalui aplikasi hotel tersebut.
"Jomblo tuh bertapa saja, berharap seseorang yang diinginkan menjadi berubah sikapnya dan mau menurut kepada jalan yang benar,"sahut Anton sambil mendelik kepada sahabatnya.
"Hmmm maaf yah, status boleh jomblo tapi biar begini juga banyak yang antri dong menanti diajak nikah sama aku," tukas Jaya dengan sombongnya.
"Huuhhh...antrinya lewat telepon doang, tiap malam menghamburkan pulsa telepon tak jelas...rayu sana rayu sini".
"Jadi lelaki itu harus berani datangi satu yang paling disukai lalu ajak nikah, nah itu baru jantan,"timpal Anton sambil mencibir ke arah Jaya.
"Hahahaha...nah itu bro masalahnya.... yang paling aku sukai ternyata paling kacau hidupnya...ngenes hidupku... hahahah,"seloroh Jaya sambil tertawa.
"Bayangkan bro, dari wanita yang aku kenal cuma dia yang paling segalanya. Wajah cantik, body seksi banget dan kulitnya bro...putih mulus...cuma itulah sayang bisa begitu".
"Sudah pernah kamu hubungi lagi belum, sekedar bertanya kabar atau apa...siapa tahu sudah berubah,"ujar Anton mengingatkan Jaya.
"Entahlah....aku takut merasa kecewa... hahahah....cuma perempuan ini yang bisa membuat aku takut kecewa.... Hahahaha..,"jawab Jaya sambil terlihat merenung.
Anton cuma geleng-geleng kepala saja melihat sahabatnya sedang sakit karena cinta.
Jum'at siang Mela minta ijin kepada mertuanya dan juga kepada iparnya untuk pulang dulu ke Cirebon.
Dia akan naik shuttle bus saja karena dia sendirian saja kembali ke kampungnya.
Mela diantar Wahyu adiknya ke pool shuttle bus, dan Wahyu juga minta maaf tidak bisa pulang karena sibuk di apotik.
Setelah membeli tiket, kemudian Mela menanti kedatangan kendaraan tersebut dari pool lainnya, baru menuju tempatnya menunggu sekarang.
Tak lama kendaraan datang, lalu nama Mela dipanggil dan dia segera naik.
Di dalam kendaraan penuh dengan penumpang, sepertinya kebanyakan orang yang berdinas.
Mela duduk disebelah seorang wanita yang sangat wangi sekali, rambut wanita itu panjang ikal bergelombang dan berwarna merah.
Sesekali wanita itu mengibaskan rambutnya sambil memainkan ponselnya.
Dan kibasan rambutnya itu sebagiannya selalu mengenai wajah Mela.
"Bukannya diikat yah rambutnya
panjangnya itu, malah mengenai wajahku berkali-kali,"Mela menggerutu dalam hati.
Mela menyondongkan duduknya ke arah kiri diantara lorong antar kursi, sambil mendengus kencang.
Wanita wangi itu menoleh dan matanya membelalak ketika menatap Mela.
"Mbak...istrinya dokter Anton yah... benarkan mbak Mela kan...," seru wanita itu sambil tersenyum lebar.
Mela menoleh dan dia tersentak, ternyata wanita itu Miranti Chandra dan dengan terpaksa dia membalas senyuman Miranti.
"Ya Allah...harus aku bersama dia... Astagfirullah....mohon diberikan kekuatan mengahadapi cobaan ini,"jerit Mela dalam hatinya.
"Apa kabar say, luar biasa yah kita bisa berbarengan,"kata Miranti dengan tetap ramah kepada Mela.
Masakan orang sudah ramah, kita akan tetap dingin-dingin saja. Tentu tidaklah, maka Mela juga akhirnya membalas keramahan Miranti walau belum bisa total.
Akhirnya mereka saling berbincang, Miranti menceritakan kalau dia ke Cirebon dalam rangka tugas kerja juga akan mencari pakaian tunik batik.
Mela juga bercerita bahwa dia pulang dulu, karena akan ada syukuran pernikahan di kampungnya, dan juga berencana akan mencari rumah kontrakan untuk ditinggali sementara dengan suaminya nanti.
Suami Mela adalah dokter Anton, tentu saja dokter Anton mempunyai sahabat yang bernama Jaya.
Rasanya ingin bertanya soal Jaya, tapi bibirnya terasa berat sekali.
"Mela, bolehkah aku meminta nomor kontakmu?"tanya Miranti.
"Ehmm...boleh saja, ini nomor saya," Mela memberitahu nomor kontaknya.
"Siapa tahu suatu saat aku mencarimu untuk belajar memakai hijab," ujar Miranti yang membuat Mela terkesiap.
"Alhamdulillah....iya mbak Insyaallah saya akan membantu kalau misal mbak mau belajar berhijab,"jawab Mela dengan tulus ingin membantu.
Miranti menggenggam tangan Mela dan mengucapkan terima kasih, namun ada setitik air di ujung mata Miranti.
__ADS_1
Mela jadi merasa aneh melihatnya, dan dia bertanya," Mbak Miranti, apakah baik-baik saja?".
Miranti tersenyum sambil mengangguk, seraya memberi tanda kalau dia baik-baik saja.
Setelah hampir 3 jam perjalanan, maka tibalah mereka di kota tujuan
Mela sudah dijemput suaminya, ketika Mela turun dari shuttle bus tersebut, Anton membunyikan klakson mobilnya dan Mela segera melihatnya.
Lalu Anton turun menyambut istrinya yang terlihat membawa koper cukup besar.
Saat dia berjalan mendekati istrinya, tampak ada mobil berhenti di dekat dirinya dan terlihat tulisan PT.GOLDEN FARMA.
Kemudian terlihat ada wanita lain turun dari kendaraan itu selain istrinya, dan wanita itu pamit kepada istrinya juga menyapanya.
Anton kaget sekali melihat ternyata istrinya sepanjang jalan bersama Miranti, tapi dia melihat Mela tampak biasa-biasa saja kepada Miranti.
Dan yang membuat Anton tambah kaget melihat cara berpakaian Miranti yang sangat berbeda sekali.
Di dalam mobil Mela bercerita tentang Miranti yang tadi setengah mencurahkan hati kepadanya.
Miranti sedang berharap bisa diberikan kesenjangan kedua untuk bertemu dengan lelaki yang telah berarti membuatnya berubah.
Tapi Mela tidak tahu siapa lelaki itu, hanya berharap semoga saja Miranti bisa segera dipertemukan dengan jodohnya.
Anton sesungguhnya tahu siapa yang dimaksud Miranti kepada istrinya, tapi dia memilih diam saja.
Pikir Anton biarkan saja waktu bicara soal Jaya dan Miranti, hanya bisa membantu mendoakan yang terbaik.
Anton dan Mela segera menuju rumah ibunya, dan setibanya disana mereka disambut dengan gembira.
Ibu Sinah tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada menantunya karena sekarang rumahnya sudah lebih baik lagi.
Lalu beliau juga menjelaskan uang yang dikirim dari anak dan menantunya dipakai untuk apa saja dan untuk memesan apa saja.
"Nak Anton, uang kirimanmu masih banyak tersisa. Ini ibu kembalikan saja yah,"benar mertua Anton sama polos dan jujur dengan anaknya.
"Tidak usah bu, sudah dipegang saja oleh Ibu. Siapa tahu nanti dibutuhkan," jawab Anton sambil merangkul bahu mertuanya.
Dan ibu Sinah bahagia sekali punya menantu lelaki sebaik Anton, dalam hatinya berharap semoga anak dan menantunya selalu diberikan kebahagiaan.
"Mimi, ada pesan dari Mamah dan Papah, juga dari Cici Anita dan Koko Fajar, semua mohon maaf tidak bisa datang ke acara besok," kata Mela menyampaikan pesan dari keluarga suaminya.
"Ya sudah tidak apa-apa, mimi paham keluarga di Bandung sibuk. Tidak masalah yang penting doanya agar acara besok lancar,"jawab ibu Sinah memaklumi kalau keluarga Anton tidak bisa hadir.
Mela mencium pipi ibunya, lalu dia pamit sebentar karena dipanggil oleh Atikah.
"Mbak, maafkan Tikah, tapi karena ini amanat maka harus disampaikan kepada mbak,"kata Atikah tiba-tiba kepada Mela.
" Ada apa Tikah, katakan saja,"ujar Mela sambil menatap curiga.
"Mbak maafkan, apakah benar mbak Mela pernah punya rasa kepada Aris anak pak Kuwu?"tanya Atikah dengan ragu-ragu.
Mela mengernyitkan keningnya tak paham, lalu dia berkata," Ya ampun Tikah, apa maksudmu... kau harus tahu kalau orang itu bukan orang baik".
"Ya aku tahu mbak, aku bertanya ini karena ada seseorang yang ingin tahu tentang hubungan kalian,"Atikah mencoba menjelaskan mengapa dia bertanya seperti itu.
"Atikah, tolong aku sudah menikah, jangan sampai suamiku nanti salah sangka kalau sempat terdengar olehnya. Maaf aku tidak mau tahu soal Aris,"lalu Mela meninggalkan Atikah begitu saja.
Mela melihat Anton suaminya sedang berbisik-bisik dengan ibunya dan terlihat ibunya mengangguk-angguk memahami yang Anton sampaikan kepadanya.
"Bu, maaf Anton dan Mela tidak menginap disini yah, kebetulan Anton mendapatkan promo hotel jadi kami akan menginap di Hotel," ujar Anton meminta ijin kepada mertuanya.
"Iya ibu paham, sudah sana nanti kemalaman di jalan. Cepat berikan cucu buat ibu yah," mertuanya malah mendukung dan tentu saja Anton senang sekali.
Segera dia mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju hotel yang sudah dipesannya.
Setelah tiba di hotel, segera dia melakukan registrasi lalu segera menuju kamar yang sudah dipesannya.
Segera dia membersihkan dirinya lalu naik ke atas tempat tidur, sambil menunggu istrinya yang sedang membersihkan dirinya juga.
Akhirnya Mela keluar juga dari kamar mandi, dan membuat Anton terkejut sekali. Malam itu Mela memakai pakaian tidur yang sangat menerawang.
Lalu Mela mematikan lampu besar dan menyalakan lampu tidur yang remang-remang.
Anton sangat menggebu-gebu menahan gejolak rindu kepada istrinya.
Mela mendekati tempat tidur dengan memasang wajah sok cuek.
"Pi...aku masih halangan loh".
"HAAAHHH...masa iya sih kok bisa lama sekali?"tanya Anton merasa heran dan dongkol.
Lalu Mela menatap suaminya dengan tajam sambil berkata.
"Tapi aku bohong.....".
Anton menghela nafas lega, dan tak ambil waktu lama lagi dia segera menerkam istrinya.
Setelah Sholat subuh Anton mengantarkan istrinya ke rumah mertuanya, sementara dia kembali ke puskemas karena masih bertugas.
Mela dari pagi itu sudah membantu ibunya untuk persiapan acara siang nanti.
Sementara di puskemas juga semua orang bersiap-siap nanti siang akan makan siang bersama di rumah mertuanya dokter Anton.
Para karyawan laki-laki kebanyakan membawa motornya masing-masing.
Sementara karyawan perempuan ikut dengan mobil dinas pak Tarmidi.
Setibanya di rumah Ibu Sinah acara pengajian sudah dimulai, Mela menyambut suami dan juga rekan kerja suaminya.
Setelah pengajuan ada kajian yang disampaikan oleh Ustadz di desanya.
Setelah selesai kajian, semua orang pamit sambil dibagikan nasi kotak satu persatu beserta sekantung cindera mata lainnya.
Ketika semua tamu sudah pulang, tinggal karyawan Puskemas yang masih ada disana, lalu ibu Sinah mengeluarkan nasi bancakan yang sudah dipesannya.
Pesanan nasi ini memang khusus untuk tamu teman-temannya Anton.
Para tamu segera menempati tempat duduk dan kelompoknya sendiri untuk makan nasi bancakan yang sudah disediakan itu.
"Jaya...untung saja kita dapat nasi bancakan, tadinya sudah putus asa kukira kita hanya makan nasi kotak," Murni berkata kepada Jaya sambil merasa kegirangan.
Saat semua sedang menikmati makan nasi bancakan tersebut, tiba-tiba Aris muncul dengan lagaknya yang sok tengik dan berteriak-teriak di depan rumah ibu Sinah.
"Mela.....Mela....untuk apa kamu menikah dengan dokter kalau menikah seperti ini saja. Tak ada pesta....tak ada organ tunggal... hanya sedikit tamu... hahahahha".
"Bodoh kamu bukannya menikah dengan aku, tentu aku bisa memberikan apapun lebih dari dia," kata Aris dengan setengah mabuk dan menunjuk ke arah Anton.
Tentu saja semua yang ada di rumah Ibu Sinah merasa terganggu dengan teriakan-teriakannya Aris.
Rahman segera mendekati Aris, begitu juga Anton dan tak ketinggalan Jaya.
"Bro, maaf kami sedang ada acara, tolong kalau merasa tidak suka kepadaku, kita bicara baik-baik saja di sana,"kata Anton sambil mengajak Aris untuk bicara di tempat lain.
"Mau apa, mau memukul aku yah...atau kalian mau mengeroyok aku?"kata Aris dengan gaya tengilnya.
"Bukan itu maksudku, bukankah lebih enak kita bicara baik-baik secara jantan dan antar lelaki," kata Anton sambil berusaha menahan emosi.
Jaya dan Rahman sudah mengepalkan tangannya, ingin segera memukuli Aris, tapi melihat Anton tetap tenang maka mereka juga menahan diri.
Motor dokter Haikal baru saja memasuki pekarangan rumah ibu Sinah, dan dia melihat tampaknya ada yang tidak beres karena Anton sedang ditunjuk-tunjuk mukanya oleh seseorang.
Haikal segera turun dan mendekati mereka, sambil bersiap-siap siapa tahu dokter Anton butuh bantuan.
"Dengar yah...aku tidak terima Mela dinikahi lelaki cacat macam kamu...
harusnya dia memilih aku daripada lelaki tak berguna seperti dirimu," jari telunjuk tangan Aris ditujukan ke dada Anton dengan kasarnya.
"Hei...jaga mulut yah...atau aku akan hancurkan mukamu," Jaya mulai geram kepada Aris.
Saat terjadi drama saling dorong dan tunjuk itu, tiba- tiba Laila muncul dari arah rumah Rahman.
"Aris...!!!!...aku.hamil....!!!!"teriak Laila membuat semua mata memandangnya.
Saat itu Aris yang tengah siap mendorong tubuh Anton, serentak menghentikan aksinya dan dia terdiam.
"Aris....!!!! ini anakmu dalam rahimku... kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu....!!!!".
Petugas Hansip Desa berlari-larian ke arah rumah Ibu Sinah bersama pak Kuwu Bahar ayahnya Aris.
Padahal pak Kuwu belum lama baru meninggalkan rumah ibu Sinah karena tadi beliau juga mengikuti pengajian di rumah itu.
Pak Kuwu menghentikan langkah kakinya saat melihat ada seorang wanita berjalan kaki sambil berteriak memanggil nama anaknya dan berkata dirinya hamil.
"Aris !!!!! sedang apa kamu disana, pasti mengacau lagi....,"Kuwu Bahar berjalan cepat ke arah anaknya yang sedang berhadapan dengan Anton, Jaya dan Rahman.
"Maafkan saya nak Rahman, maafkan saya nak Anton, maaf bila Aris berbuat onar lagi," Kuwu Bahar memohon maaf dengan rendah hati kepada keluarga Ibu Sinah.
Bahkan pak Kuwu juga dengan menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada, beliau memohon maaf kepada semua tamu yang hadir di rumah Ibu Sinah karena sudah terganggu kenyamanannya.
"Kau jangan pura-pura diam saja dan pura-pura tidak tahu Aris...ini anakmu dalam rahimku, kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu padaku,"Laila mendekati Aris sambil memukuli dadanya dan meminta Aris bertanggung jawab atas kehamilannya.
"Aku tidak memaksa kita berbuat hal itu, kamupun kemarin ini melakukannya dengan suka-suka denganku," Aris mulai menjalankan aksi mengelak dari kenyataan.
"Kamu siapa nona?," tanya pak Kuwu Bahar kepada Laila.
"Saya Laila pak, saya dihamili oleh Aris dan sekarang saya mau minta tanggung jawab atas perbuatannya,"jawab Laila kepada pak Kuwu sambil berurai air mata.
Kuwu Bahar merasa pening sekali dengan kelakuan anaknya, lalu dengan terlihat sangat marah dia berkata,"Aris bawa perempuan ini ke kantorku, kita selesaikan di sana".
Lalu Aris dan Laila diapit oleh Hansip Desa berjalan mengikuti langkah Kuwu Bahar menuju kantornya.
ibu Sinah beserta anak dan menantunya memohon maaf kepada yang sedang makan atas gangguan barusan.
Atikah mendekati Mela dan memanggil namanya," Mbak Mela...".
Mela melihatnya lalu memeluknya sambil berkata," Ya aku paham".
Jaya kembali duduk ke tempat nasi bancakannya untuk melanjutkan makannya, dan ketika sampai di tampahnya hanya tersisa nasi untuk beberapa suap saja juga sepotong tahu.
Di sudut terlihat Murni duduk sambil pura-pura tidak paham, rupanya selagi ada keributan dia sambil melihat kejadian sambil terus mengunyah.
Hampir seluruh makanan yang ada di tampah itu pindah ke dalam perutnya.
__ADS_1
Jaya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan rekan kerjanya itu.
Anton tertawa terbahak-bahak, dan untung saja masih ada persediaan sehingga Jaya dan Anton melanjutkan makan bersama.