
"Pak Polisi, sungguh saya tidak tahu apa yang nyonya perbuat. Saya cuma disuruh mengantar nyonya saja, selebihnya saya hanya menunggu di mobil saja," kata Junedi sopirnya Supriatin ketika dia diminta menjadi saksi di kantor polisi.
Junedi juga dipanggil oleh Kepolisian Kabupaten Cirebon, karena dia selama ini yang mengantar jemput Supriatin bila mengunjungi kediaman mbah Wiro.
"Kamu berarti paham dimana tempat tinggal mbah Wiro itu?,"tanya AKP Sucipto sambil menatap tajam kepada Junedi.
"Saya tahu pak, karena saya sering mengantar nyonya kesana".
Lalu AKP Sucipto memanggil timnya dan mereka menyusun rencana untuk menangkap mbah Wiro dan istrinya tersebut.
Menurut informasi dari Junedi, di kediaman mbah Wiro itu dijaga oleh pasukan keamanan sekitar 5 orang yang berjaga-jaga disekitar rumah Wiro.
Dipilihnya Bripda Astuti dan Bripda Gatot akan berpura-pura menjadi sepasang kekasih yang berencana menggugurkan kandungan.
Di telinga keduanya dipasangi alat komunikasi yang bisa juga didengar oleh seluruh tim nya.
Mereka berdua naik motor sementara tim kepolisian lainnya yang di bawah Komando IPDA Purnomo mereka bergerak menuju ke tempat sasaran bersama Junedi sebagai penunjuk jalan.
#author : BRIPDA adalah Brigadir Polisi Dua, IPDA adalah Inspektur Polisi Dua.
Pangkat IPDA lebih tinggi dari BRIPDA.
Lokasi tempat tinggal Suprayitno atau yang biasa dipanggil mbah Wiro terletak di pedesaan yang cukup jauh dari kota kabupaten Cirebon. Tepatnya di suatu kampung yang bernama desa Bango.
Disekitar desa Bango masih banyak hamparan sawah dan perkebunan, antara satu rumah ke rumah lainnya berjauhan harus melewati persawahan dahulu.
Tibalah mereka di suatu perkebunan tebu, disampingnya ada jalan yang cukup hanya bisa dilalui oleh 1 mobil saja.
Mobil melaju sekitar 1 kilo ke dalam jalan itu dan dari kejauhan tampaklah sebuah rumah yang halamannya luas. Di sana tampak ada sekitar 5 orang penjaga yang sedang duduk-duduk santai di teras rumah itu.
Aksi pertama dimulai, Bripda Astuti dan Gatot naik motor mendekati bangunan itu. Tampak keduanya langsung dicegat dan ditanya oleh orang-orang tadi.
Salah satu dari orang-orang itu tampak melihat ke kanan dan kiri memastikan bahwa kedua pasangan ini tidak ada yang mengikuti.
Setelah tahu maksud dan tujuannya merek, lalu keduanya diajak masuk
oleh salah satu penjaga tadi.
Dan disuruh menunggu di sebuah ruangan.
Tak lama keluarlah Sutiyem istri mbah Wiro dan bertanya kepada mereka,"Ada keperluan apa kalian berdua kemari?".
Bripda Astuti melancarkan aksinya dengan berpura-pura menangis, lalu Bripda Gatot menjelaskan bahwa mereka bermaksud menggugurkan kandungan karena mereka belum menikah.
Lalu Sutiyem memeriksa nadi Astuti, dan memang benar Astuti sedang hamil muda tapi dengan suaminya sendiri. Sehingga Sutiyem tidak curiga mereka berbohong.
Tak lama muncul seseorang yang dipanggil mbah Wiro, lalu menatap tajam ke arah mereka berdua.
Kalau benar dia adalah paranormal asli pasti tahu kalau kedua orang yang ada di depannya adalah hanya teman bukan kekasih.
"Kalian mengapa mau menggugurkan kandungan, apakah kalian ditentang orang tua?"tanya Wiro sambil duduk dan memasang wajah sedikit seram.
"Bukan mbah, saya sudah punya istri jadi saya tidak mungkin punya anak dari pacar saya ini mbah," Gatot menjawab sambil dirinya geli sendiri tapi dia tetap memasang wajah serius.
"Kalau neng ini sudah menikah juga?"
tanyanya kepada Astuti.
"Mbah saya ini wanita simpanan polisi, tidak mungkin saya mempertahankan bayi ini. Karena nanti pasti akan jadi masalah besar," dengan lancar Astuti mulai melancarkan dramanya sambil menangis.
"Kalian sudah tahu syaratnya?"tanya mbah Wiro dengan suara yang sengaja diberat-beratkan.
"Saya hanya membawa uang satu juta mbah,"jawab Gatot sambil menyerahkan amplop uang kepada mbah Wiro.
"Satu Juta tidak cukup, proses seperti ini mahal anak muda. Kami harus melakukan pembuangan dengan benar. Dan janin juga harus dimakamkan dengan layak. Minimal 3,5 juta itu sudah yang paling sederhana".
"Kau sudah berbuat sekarang mau kau buang tentu ada harganya," Mbah Wiro menolak uang dari Gatot.
Wiro tidak tahu kalau pembicaraan mereka ini sejak tadi terdengar oleh seluruh tim penyergap dan sudah di
direkam oleh salah satu petugas polisi.
"Mbah lakukan saja dulu nanti saya kembali membawa sisa uangnya," kata Gatot mencoba bernegosiasi dengan mbah Wiro.
"Tidak bisa, kalian bawa dulu uangnya baru kami lakukan. Dan kami tidak akan bertanggung jawab atas diri perempuan ini kalau misal terjadi pendarahan atau lainnya. Kami terima putus saja, tidak mau dilibatkan apapun, "tegas Wiro kepada Gatot.
Astuti berdrama lagi dengan menangis lebih keras. Dia menjerit-jerit sehingga para penjaga di depan mulai lengah.
Kelimanya mendekati ruangan dimana Astuti sedang menjerit karena ingin mengetahui terjadi apa di sana.
Saat itulah tim kepolisian masuk ke halaman dan menyergap kelimanya. Mereka melawan namun tim kepolisian jauh lebih terlatih soal beladiri maka kelimanya berhasil ditaklukkan.
Mbah Wiro dan Sutiyem mencoba untuk kabur lewat jalan lain, namun Gatot dengan sigap bisa menaklukannya.
Begitu juga Sutiyem dengan mudah ditarik oleh Astuti sampai terjatuh, walau dia hamil tapi dia masih sigap menjatuhkan sang penjahat.
Mereka semua digelandang ke kantor polisi, dan satu per satu diperiksa dan diberikan berbagai pertanyaan yang sangat mendetil terutama kasus aborsi ilegal.
Dari hasil pemeriksaan terungkaplah sesungguhnya yang selama ini telah mendanai mbah Wiro dan Sutiyem adalah Supriatin.
Kisahnya dimulai saat lima tahun lalu, saat itu Supriatin sedang makan di suatu kedai makan bersama dengan ibu-ibu arisan sosialita.
Dari kejauhan tampak ada gerobak sampah yang menggelinding sendiri karena batu penahan rodanya terlepas.
__ADS_1
Suprayitno yang saat itu sedang berdiri di dekat kedai segera memberitahukan kepada Supriatin bahwa akan ada gerobak yang akan menabrak kedai.
Disuruhnya Supriatin menyingkir dan benar saja beberapa detik kemudian gerobak tadi menghajar tempat yang tadi diduduki Supriatin.
Melihat hal itu Supriatin mendekati Suprayitno dan berkata,"Wah bapak hebat bisa meramalkan akan ada gerobak menabrak saya".
Suprayitno yang saat itu pengangguran dan butuh uang segera mengiyakan dan mengarang cerita bahwa dia seorang paranormal.
Mendengar itu Supriatin malah tertarik lalu mengajaknya duduk dan lalu minta diramal tenang kehidupannya.
Tentu saja Suprayitno yang memang sedang terdesak butuh uang, mulailah dia menjual kebohongan dan mulai juga meramalkan sesuatu yang sebenarnya ramalan itu adalah kenyataan umum kehidupan orang kaya.
Namun entah bagaimana caranya Supriatin sangat percaya kepada ramalannya itu.
Sutiyem istri Suprayitno mempunyai pekerjaan menjadi buruh cuci setrika dari rumah ke rumah. Namun sesekali dia juga suka diminta untuk memijat orang yang badannya pegal-pegal dan ternyata pijatan tangannya cukup mantap.
Suprayitno pulang ke rumah membawa uang yang cukup lumayan dan dia juga menceritakan tadi dia bertemu dengan seorang wanita kaya raya yang percaya dengan segala tipu dayanya bahwa dia peramal.
Lalu Sutiyem saat itu malah mendukung menyarankan kepada suaminya agar sekalian saja drama ini dijadikan nyata agar orang kaya tadi semakin percaya.
Dan merekapun mulailah berkolaborasi dan menjadikan diri mereka duo paranormal hebat.
Apabila ada orang sakit pegal minta dipijat oleh Sutiyem, maka didramatisir bahwa orang tersebut kena guna-guna dan suaminya bisa membantu mengusir guna-guna tersebut.
Maka mulailah beraksi Suprayitno yang sekarang menjadi Mbah Wiro dan dia memberikan mantera-mantera palsu seakan mengusir guna-guna dari orang tadi.
Memang akhirnya orang yang sakit pegal tersebut sembuh karena pijatan Sutiyem, namun karena termakan mulut manis paranormal palsu percaya saja sakitnya karena guna-guna.
Suprayitno yang sudah menjadi Mbah Wiro memang pandai memainkan kata-kata, sehingga membuat orang lain seakan terhipnotis dan percaya kepada segala ucapannya.
Suatu hari Supriatin berjanjian bertemu lagi dengan Suprayitno di suatu cafe untuk diramal, dan saat itu Sutiyempun dibawa oleh Wiro.
Saat berbincang terlihat Supriatin kerap mengibaskan tangan kirinya beberapa kali karena pegal, tapi Sutiyem dan Wiro memanfaatkan keadaan itu dengan berpura-pura menerawang bahwa ada yang iri hati kepadanya.
Mendengar itu semakin percayalah Supriatin kepada mereka.
Apalagi dengan bumbu bahwa yang iri hati adalah orang terdekat, maka pikiran nya langsung tertuju pada Mela.
Suatu kali Wiro dan Sutiyem kedapatan ada yang minta diaborsi karena hamil di luar nikah.
Mereka tanpa takut dosa malah melihat peluang untuk mendapat banyak uang.
Maka dia dan istrinya bekerjasama melakukan pengguguran kandungan terhadap wanita-wanita hamil di luar nikah dan putus asa.
Mereka minta bantuan dana dari Supriatin untuk memfasilitasi mereka dengan dalih bahwa semakin banyak janin yang diaborsi akan semakin menambah kekayaan Supriatin.
Akhirnya Wiro alias Suprayitno beserta istrinya Sutiyem dan juga Supriatin mendekam dipenjara sambil menunggu sidang pengadilan atas kesalahan yang mereka perbuat.
Suatu siang itu di apotik Wiharja Farma, Wahyu sedang menerima telepon untuk pendaftaran pasien yang melakukan konsultasi psikologi," Maaf mohon agar disebutkan nama dan nomor telepon bapak yang bisa dihubungi?"
"Baik pak sudah saya catat, nanti saya konfirmasikan dulu dengan ahlinya dan nanti saya akan segera menghubungi bapak untuk waktu konsultasi, "ujar Wahyu yang sekarang sudah lancar menerima telepon pendaftaran pasien.
Lalu percakapan teleponpun diakhiri dan Wahyu segera menemui Fajar yang saat ini berada di kantor apotik bersama istrinya.
Terlihat Fajar dan Anita sedang serius membicarakan sesuatu hal.
"Menurutku kita juga perlu kesepakatan tertulis dengan seluruh apotik yang merasa dirugikan oleh PT. GOLDEN FARMASI itu loh, agar apabila suatu saat apabila pihak mereka mencoba menanyakan setidaknya kita punya bukti , "kata Anita kepada suaminya.
"Ya aku juga berpikir begitu, tadi di grup chat sudah dibahas, dan ada rencana sabtu ini akan berkumpul lagi untuk membahas hal ini,"Fajar menjelaskan kepada istrinya.
Tiba-tiba Wahyu masuk, "Maaf ko Fajar, barusan ada yang mendaftar ingin konsultasi kira-kira jam berapa bisa saya sampaikan kepada orangnya?".
"Hari ini paling bisa malam nanti pukul 19.00 an, karena siang sampai sore nanti saya ada jadwal konsultasi dan pengajian di pesantren Al Ikhlas. Ada dua anak korban narkoba yang butuh bimbingan khusus untuk bisa hilang kecanduannya, "jawab Fajar kepada Wahyu.
"Baik nanti saya sampaikan kepada orang tadi jam 19.00 untuk bisa hadir
di sini. Terima kasih,"ujar Wahyu sambil pamit dari ruangan itu.
Setelah Wahyu keluar ruangan, kembali Fajar dan Anita membahas lagi masalah yang sebelumnya sedang mereka bahas
Wahyu segera menghubungi pendaftar tadi untuk hadir tepat waktu malam ini.
Memang Fajar membuka konsultasi psikologi dengan perjanjian, karena jadwalnya di luar juga cukup padat.
Terutama bimbingan kepada siswa pesantren Al Ikhlas yang kebanyakan siswanya berasal dari keluarga broken home, frustasi atau yang berkebutuhan khusus lainnya.
Fajarb tidak pernah menentukan tarif khusus untuk konsultasi di kliniknya, dan semua pendapatan konsultasi dia berikan untuk berbagai kebutuhan di pesantren.
Malampun tiba waktu bergulir jarum panjang menunjukan angka 12 dan jarum pendek di angka 7, sebuah sedan berwarna merah terlihat memasuki halaman apotik.
Lalu keluarlah seorang pria berusia sekitar 40 tahunan, dan dia masuk ke dalam apotik.
"Selamat malam pak, ada yang bisa kami bantu?"tanya Wahyu kepadanya.
"Saya yang tadi telepon sudah daftar untuk konsultasi dengan pak Fajar Sanjaya, "jawabnya kepada Wahyu.
"Oh atas nama Jaka Suryana yah pak, silahkan tunggu sebentar...Oh Maaf pak sekalian kami pinjam KTP untuk kami untuk dijadikan data pasien".
Lalu orang tadi membuka dompet dan menyerahkan KTPnya untuk dipindai oleh Wahyu.
Sebentar wahyu memindai KTP itu dan disimpan di folder komputer, setelahnya dikembalikan lagi kepada calon pasien tadi.
Kemudian pria tadi masuk dan duduk di ruang tunggu sementara Wahyu ke dalam memanggil Fajar.
__ADS_1
Fajarpun segera masuk menuju ke ruang konsultasinya yang berada tepat di samping kantor apotik dan meminta Wahyu memanggil calon pasien tadi.
Sambil menunggu diapun membuka komputer di mejanya dan melihat data pasien berdasarkan KTP yang sudah dipindai oleh Wahyu.
Terbaca nama Jaka Suryana, tempat lahir di Batam, dan saat ini usianya sudah 42 tahun.
Pria tadi masuk ke ruang konsultasi yang pintunya dibukakan oleh Wahyu.
"Permisi, Assalamualaikum, "sapanya kepada Fajar.
"Walaikumsalam, silahkan masuk pak, silahkan duduk, "sambut Fajar sambil menyalami pria tadi.
Sambil duduk Fajar langsung memulai percakapan,"Rupanya bang Jaka ni dari Batam, sama awak juga dari sana". (\=Rupanya bang Jaka ini dari Batam, sama saya juga dari sana)
"Ah..sungguh..kau orang mana rupanya, kampung awak* Lubuk Baja di Batu Selicin, "Jaka cukup terkejut ternyata Fajar berasal dari daerah yang sama dengannya.
*awak \= aku/saya
"Kampung awak Sekupang di Tanjung Riau, Bang, "jawab Fajar sama bahagia mendapatkan pasien orang sedaerah.
"Wah... dunia ni sempit...lasak* kali kau sampai bisa ke Bandung, "goda Jaka kepada Fajar.
*Lasak \= aktif/tidak bisa diam
"Hahahaha.... lantak* awak ni Bang, lah* yatim piatu jadi merantau kemari,"jawab Fajar sambil tertawa.
*Lantak\=nekad
*Lah \= sudah
"Di KTP abang ni dokter, macam mana awak bisa bantu masalah abang?"tanya Fajar lagi.
"Teruk* awak ni, masalah berat. Malu sebenarnya awak, apalagi setelah tahu kita sama sekampung,"jawab Jaka yang jadi merasa malu kepada Fajar.
*Teruk \= parah
"Justru kita sekampung bang, jadi bisa lebih selesa* dengan awak, macam adik beradik*, "Fajar mencoba meyakinkan Jaka.
*Selesa \= nyaman/santai
*Adik beradik \= Adik kakak/saudara
Akhirnya Jakapun mulai menceritakan dari awal ihwal permasalahan dengan wanita bernama Miranti Chandra yang membuat dirinya saat ini tersudut.
Bahkan saat ini keluarga besarnya baik dari pihak dirinya bahkan pihak istrinya sepakat untuk menceraikan mereka dan mencoret nama Jaka dari keluarga besar mereka.
Karena menurut sejarahnya tak pernah ada perselingkuhan di keluarga besar mereka.
"Sekarang awak lah di usir dari rumah, tinggal di tempat kost. Awak tak boleh ketemu anak, itu yang membuat berat, pikiran ni buntu, "Jaka mencurahkan semua permasalahannya kepada Fajar.
"Maaf bang, permasalahan ini terjadi sebenarnya abang atas ulah abang sendiri. Kalau abang tidak menggubris wanita itu tentu tidak akan menjadi sekacau ini, " kata Fajar sambil menatap Jaka dan tersenyum simpul.
"Untuk itu abang harus dengan sabar mengembalikan semuanya ke keadaan seperti semula lagi. Di sini ujian untuk abang, kesabaran tingkat tinggi karena sulit terutama bagi keluarga abang untuk menerima kenyataan ini ".
"Ya itu Fajar, awak ni bengak* kali* bisa terpancing wanita itu. Bahkan diantara kami tidak ada komitmen apapun, kami hanya bersenang-senang saja. Tak ada niat aku menikah lagi dengan dia".
*Bengak \= bodoh
* Kali \= sangat
"Kalau saya dengar cerita abang, wanita itu pun sama tidak ingin dinikahi. Tapi saya curiga wanita itu punya kelainan jiwa, seperti senang melihat keluarga orang lain hancur, "Fajar menyampaikan analisanya.
"Nah itu dia, awak berpikir begitu juga. Ternyata benar kau pun menilai sama yah, "Jaka membenarkan pendapat Fajar.
"Mungkin begini bang, saran saya tahap pertama abang harus menyembuhkan diri abang, maksudnya kembalikan rasa percaya diri abang. Memintalah maaf kepada diri abang sendiri dan berjanji tidak akan pernah lagi jatuh ke masalah yang sama, "saran Fajar kepada Jaka.
"Sebab bila abang belum memaafkan diri abang sendiri, maka akan sulit juga mengembalikan semua kepercayaan istri abang kepada abang ".
"Saat ini istri abang merasa dirinya yang paling terluka, begitupun abang merasa paling disudutkan. Tidak akan ada titik temu kalau terus demikian".
"Bagaimana caranya awak benar-benar tidak bisa berpikir, " ujar Jaka putus asa.
Lalu Fajar mendekatinya dan menepuk bahunya Jaka.
"Sudah Sholat Isya belum, kalau belum ayo kita berjamaah. Nanti setelah itu saya sampaikan apa yang harus abang perbuat".
Lalu mereka berdua menuju musholla yang ada di klinik, setelah berwudhu mereka sholat berjamaah dengan Fajar menjadi imam.
Setelah sholat mereka kembali lagi ke ruangan konsultasi dan terlihat setelah berdoa Jaka juga tampak lebih tenang.
"Bang, memaafkan diri sendiri ada 10 tahap, tapi kita jalankan setahap demi setahap yah. Saya minta abang dalam seminggu ini lakukan 3 hal dulu, yaitu Berdamai dengan diri abang, Ikhlaslah bahwa sesuatu yang telah terjadi tidak akan bisa diubah dan abang juga jangan pernah menutupi kesalahan abang tidak boleh abang sangkal".
"Lakukan dulu 3 hal tadi, minggu depan kita jadwalkan lagi pertemuan ini di hari dan waktu yang sama. Dan ingat abang jangan memaksakan kehendak agar istri segera percaya kepada abang".
"Tidak bisa secepat itu, mari saya bantu prosesnya, jangan lupa selalu berpikiran positif dan tetap sholat berserah diri kepada Yang Kuasa, "Fajar mengakhiri sesi pertemuannya dengan Jaka.
"Waduh awak malu, kau ni lebih muda dari awak tapi bijak pemikiranmu".
"Sama bang, saya juga belajar. Masih banyak kekurangan, dari kasus yang saya tangani semakin banyak belajar mengkaji diri".
Jaka terkagum-kagum terhadap Fajar dan sambil terus memujinya.
"Berapa biaya konsultasinya per sekali sesi kedatangan?, " Jaka bertanya sembari mengeluarkan dompetnya.
__ADS_1
"Se ikhlas abang saja, masukan saja ke kotak yang tersedia di dekat kasir. Nanti setelah terkumpul cukup banyak selalu kami pergunakan sebagai keperluan di pesantren Al Ikhlas".
Jaka tak bisa berkata-kata lagi selain semakin kagum terhadap Fajar yang sudahlah bijaksana, rendah hati, juga sangat loyal dalam keagamaan.