
Kehamilan Mela memasuki bulan keenam saat Anton mendapatkan kabar kalau dia sudah lulus ujian menjadi Pegawai Negeri Sipil.
Anton begitu bahagia dan bangga dalam keterbatasan fisiknya ternyata masih mampu mengerjakan ujian dengan sebaik mungkin sampai meraih predikat tertinggi.
"Selamat yah Pi, kerja keras selama ini membuahkan hasil,"kata Mela sambil mengelus punggung suaminya.
"Aku sungguh tak sangka Mi, sekali ujian bisa langsung lulus. Sementara orang lain banyak yang ikut berkali-kali dan masih juga tidak lulus," sahut Anton sambil mengelus perut istrinya yang mulai terlihat membuncit.
"Rejeki anak kita Pi, walau belum lahir tapi dia sudah mendoakan yang terbaik untuk Pipi nya,"ujar Mela dengan bahagia.
"Iya nak, Pipi akan berusaha bekerja keras untukmu kelak. Semoga nanti kamu akan menjadi anak kebanggaan Pipi dan Mimi selamanya," Anton mencium perut istrinya.
Setibanya di Puskemas, Anton bertemu dengan Jaya yang juga tampak senang karena dia juga lulus menjadi Pegawai Negeri Sipil.
"Wah Bro dokter, akhirnya terjawab doa kita semua,
Bro dokter lulus dan segera menjadi Kepala Puskemas yang akan memajukan pelayanan kita terhadap masyarakat" ujar Jaya sambil menepuk bahu Anton.
"Bro Jaya, selamat juga yah, akhirnya lulus juga setelah tiga kali gagal ujian," Anton menyalami sahabatnya itu.
"Iya nih akhirnya, berkat doa orang tua dan istriku tercinta,
hahahaha," sahut Jaya dengan gembira.
"Sombong...yang sudah punya istri sekarang... hahahaha," goda Anton kepadanya dan disambut tawa juga oleh Jaya.
"Tapi Bro, aku tak enak hati karena setahu aku Pak Tarmidi akan segera ditarik ke Pusat. Masa aku harus segera menggantikan beliau,"ujar Anton tiba-tiba merasa tak enak hati dengan pak Tarmidi.
"Bro dokter ini bagaimana sih, seharusnya senang diberikan kesempatan untuk menjadi pimpinan. Ayo semangat, kita sama-sama saling bahu membahu memajukan Puskemas kita untuk pelayanan yang lebih baik untuk masyarakat," ujar Jaya terus memberi semangat kepada sahabatnya.
Anton menganggukan kepalanya dan melihat kepada sahabatnya, lalu mereka saling menempelkan kepalan tangan tanda setuju untuk maju bersama.
" Dokter Anton, saya sudah mendapatkan pemberitahuan kalau dokter dan mas Jaya sama-sama lulus, untuk itu saya ucapkan selamat," kata Pak Tarmidi kepada Anton yang sedang duduk di ruangannya.
"Mas Jaya nanti harus ikut pelatihan selama dua bulan lamanya ke Pusat Jakarta, sedangkan untuk dokter Anton tidak perlu pelatihan tapi tetap di sini dan mengikuti fit dan proper test untuk menjadi kepala Puskemas," lanjut Pak Tarmidi lagi.
"Selama dua bulan ke depan ada tim dari Pusat berada di sini melakukan penilaian terhadap kinerja dokter dan juga mengambil alih masa transisi di sini sebagai pimpinan".
"Mengambil alih? Memangnya Pak Tarmidi akan kemana?" tanya Anton keheranan.
"Saya sudah hampir pensiun di awal tahun depan, sehingga saya ditarik ke Propinsi untuk bertugas di sana. Puskemas ini selama tidak ada pimpinan akan ditangani oleh tim Pusat, sambil memberikan ujian dan pelatihan khusus kepada anda selama dua bulan ke depan," Pak Tarmidi memberikan penjelasannya lagi.
"Baik Pak Tarmidi, akan saya laksanakan sebaik mungkin, kelulusan kami juga berkat dukungan Bapak selama ini kepada saya dan Jaya,"sahut Anton dengan rendah hati.
"Oh iya, dokter Anton, ada hal lain yang perlu diketahui juga. Konsep yang kemarin ini dokter ajukan ke dinas, sudah mendapat persetujuan".
"Kebetulan memang budget yang diajukan sebenarnya sudah ada, hanya kesalahan saya selama ini terlalu takut gagal sehingga tidak berani mengambil langkah seperti konsep yang anda buat".
"Besok ada penyelia dan Staff bagian umum dari Dinas Pusat beserta dengan seorang kontraktor. Akan melihat bangunan untuk memulai tahapan renovasi Puskemas sesuai dengan konsep yang anda sampaikan kemarin ini," kata Pak Tarmidi menjelaskan secara rinci kepada Anton.
Hal itu membuat Anton tentu merasa terkejut saat mendengarnya karena selama ini sama sekali tidak menyangka bahwa idenya untuk perbaikan Puskemas ini akan disetujui.
"Sudah kita lihat besok saja yah, kita tunggu saja kabar selanjutnya," kata Pak Tarmidi sambil menepuk bahu Anton.
Sesampainya di rumah, Anton menyampaikan berita itu kepada istrinya.
Tentu saja Ibu hamil yang tambah tembem itu sangat bangga dan bahagia mendengar berita tersebut.
"Alhamdulillah Pi sayang, siang malam aku berdoa untuk kemajuan kita. Dan Allah memberi berkah yang sangat luar biasa untuk kita," kata Mela sambil memeluk suaminya.
"Semoga nanti aku bisa menjaga amanah saat menjadi pimpinan. Sebab dimanapun pasti akan banyak godaan. Terutama godaan uang, semoga aku tak sampai jatuh ke lubang itu," kata Anton sambil menatap istrinya.
"Aku yakin Pi bisa melakukan itu, karena kejujuran adalah modal bagi seseorang untuk bisa maju dalam karier dan keluarga,"sahut Mela memberi semangat kepada suaminya tercinta.
Benar saja keesokan harinya petugas yang dari Dinas Pusat dimaksud oleh Pak Tarmidi akhirnya datang juga.
Mereka memanggil Anton dan Jaya, kepada Jaya diberikan surat tugas untuk menjalani pelatihan selama dua bulan lamanya, terhitung di awal bulan depan.
Sedangkan Anton mendapat perlakuan khusus sesuai dengan permintaan Pak Tarmidi untuk ke depannya dijadikan pengganti dirinya di Puskemas ini.
Staff dari Dinas Pusat datang berdua, satu orang penyelia, satu orang dari bagian umum dan mereka membawa seorang kontraktor yang akan merenovasi bangunan Puskesmas.
Begitu datang mereka langsung meminta Anton untuk rapat di ruangan pak Tarmidi, sementara pemilik ruangan yaitu pak Tarmidi sendiri sudah tak mau ikut campur lagi.
"Pak Anton, di dalam konsep yang anda buat, ruangan ini akan anda jadikan sebuah ruangan praktek. Nanti akan dibuat Poli apa di sini?"tanya Staff Bagian Umum kepada Anton.
"Rencana saya ruangan ini akan dijadikan Poli Spesialis Kandungan dan kebidanan," jawab Anton dengan tegas.
"Lantas anda sendiri nanti kalau sudah jadi Kepala Puskemas, ruangannya dimana. Kok didata tidak ada ruangan untuk anda?"tanya Staff tersebut lagi.
"Nanti bersama dengan tim administrasi saja, disana masih cukup luas untuk menambah satu meja lagi untuk saya,"sahut Anton menjelaskan kepada staff tadi.
"Pak, maaf apakah tidak sebaiknya kita sambil berjalan saja ke setiap ruangan, agar saya bisa sekalian paham bagian mana yang akan di renovasi," kata Kontraktor meminta agar pembahasan sambil berjalan kaki menuju setiap ruangan.
Lalu mereka berempat mulai berjalan ke setiap ruangan dan Anton menjelaskan konsep yang sudah dibuatnya.
"Rencananya saya nanti di ruangan ini saja, menambah 1 meja saja atau kalau misalkan perlu agak spesial yah tinggal ditambah sekat saja. Tak masalah bagi saya sih,"ujar Anton ketika berada di dalam ruangan tempat Jaya dan Murni.
Lalu Anton menjelaskan nanti di depan ruangan akan menambah 1 meja dan 1 unit komputer plus printer untuk nanti ditempatkan seorang karyawan membuat surat keterangan sehat.
Karena permintaan tersebut cukup banyak, para pencari kerja sangat membutuhkan surat keterangan seperti itu sebagai salah satu syarat memasukan lamaran pekerjaan ke perusahaan.
Staff Umum memahami dan mencatat hal tersebut.
Lalu mereka maju lagi ke ruangan praktek Anton, dan kembali dijelaskan bahwa nanti ruangan ini akan dijadikan Poli Spesialis Anak.
Dan di seberang ruangan Anton adalah ruangan Haikal, dan nantinya akan menjadi ruangan Poli Spesialis Gigi.
"Lantas dokter Umum akan praktek dimana?"tanya Staff Pusat lagi kepada Anton.
Anton menunjukkan ruangan komputer dan IT yang merangkap ruangan untuk memantau CCTV.
"Pak, ini ruangan yang paling luas di bangunan ini, sayang hanya untuk dipergunakan sebagai ruangan komputer dan memantau CCTV saja".
"Ruangan seluas ini, bagian tembok yang menghadap jalan bisa dibongkar dan dibuat pintu. Kita jadikan ruangan Instalasi Gawat Darurat, dan dokter Umum bertugas di sini," kata Anton menjelaskan idenya untuk ruangan besar itu.
Kontraktor mengamati ruangan itu dan dia setuju dengan ide Anton.
"Lalu ruangan Komputer dan CCTV dipindahkan kemana?" tanya Staff Pusat merasa bingung.
Anton menunjukkan dapur Puskemas yang lumayan besar juga.
"Ruangan dapur ini bisa dibagi dua pak, dapur hanya untuk makan siang saja dan mencuci piring atau gelas kotor, tidak ada kegiatan memasak apapun".
"Saya pikir ruangan disekat, ruangan dapur menjadi bentuk huruf L dan sebelahnya digunakan untuk ruangan komputer tadi".
"Tidak perlu ada seorang IT duduk terus memantau di ruangan ini, nanti rencana saya tenaga IT duduk di ruangan administrasi juga bersama saya. Sesekali dapat ke ruangan komputer jika diperlukan, sisanya kan bisa mengerjakan hal lain seperti membantu bagian administrasi dan lainnya," ujar Anton lagi menjelaskan perlunya efisiensi pekerjaan.
Semuanya mulai memahami pemikiran Anton, bahkan staff penyelia pusat yang sejak tadi tidak bicara, tapi memberi penilaian sangat baik terhadap Anton.
"Lalu ada ruangan seperti gudang yang letaknya tak jauh dari ruangan pak Tarmidi sekarang. Nanti apa rencanamu?" tanya Staff Penyelia tiba-tiba kepada Anton.
"Oh, itu akan saya bongkar pak, tembus ke ruangan IGD nanti. Nah mungkin itu yang nanti akan membuat biaya renovasi cukup besar, karena rencana saya di atas dijadikan ruang rawat inap," kata Anton sambil menatap semuanya.
"Tapi itu standar Puskemas kota besar, bukan di daerah seperti ini,"sanggah penyelia tadi.
__ADS_1
"Benar pak, tapi kalau bapak membaca laporan saya, di dalamnya sudah saya sampaikan jumlah kenaikan pasien dari tiga tahun lalu sampai per saya buat laporan. Telah terjadi kenaikan sebesar 200 persen, karena kami berusaha meningkatkan pelayanan kami selama ini," Anton juga mengemukakan pendapatnya.
"Walau kemarin ini belum ada sarana yang memadai, tapi kami berusaha memberikan pelayanan kepada pasien yang kecelakaan dan sebagainya".
"Bahkan pernah ada orang kecelakaan, tapi keluarganya jauh di luar kota. Dari kontak telepon dipastikan keluarganya baru dapat kemari keesokan harinya".
"Orang kesakitan, tak ada sanak keluarga. Terpaksa saya suruh menginap di Puskemas saja, dan saya mengeluarkan kocek pribadi untuk makan orang itu berikut pegawai Puskemas yang berjaga".
"Tapi itu bukan masalah bagi saya, namun masalahnya adalah jika ada ruang rawat inap khusus tentu akan menambah image baik pelayanan di sini dan juga kita akan mengubah manajemen Puskesmas ke arah yang lebih baik lagi," panjang lebar Anton mengemukakan pendapatnya untuk kemajuan Puskemas.
Penyelia dan staff umum pusat terdiam, mereka menyadari kalau Anton benar-benar ingin tempat ini menjadi maju lebih baik lagi dalam pelayanan.
Lalu semua masuk kembali ke ruangan pak Tarmidi dan membahas lebih lanjut lagi soal renovasi tadi bersama dengan kontraktor.
Akhirnya kontraktor pamit, dan rencananya akan segera memberikan perhitungan biaya renovasi puskemas itu secepatnya.
Tinggal mereka bertiga di dalam ruangan, yaitu Anton, staff Penyelia dan Staff umum pusat.
"Dokter Anton, bulan depan akan mulai renovasi dan juga akan ada pengiriman kendaraan sebanyak dua unit".
"Satu unit berupa Ambulans dan satu unit lagi kendaraan dinas Kepala Puskemas. Silahkan dokter Anton pilih mau mobil apa, ini daftar kendaraannya,"Staff Pusat memberikan daftar kendaraan khusus untuk Kepala Puskemas.
"Pak, saya tidak perlu kendaraan dinas roda empat yang mahal seperti ini. Kami disini butuh minibus yang cukup besar ukurannya, karena karyawan di sini sesekali butuh membawa obat atau ada keperluan ke tempat lain," sahut Anton menolak daftar mobil mahal yang disodorkan orang tadi.
"Lalu dokter Anton sendiri nanti menggunakan kendaraan apa?"tanya Staff tersebut lagi.
"Saya punya sepeda motor yang masih layak pakai walau bekas, dan ada juga mobil pribadi walau tahun keluaran lama. Semuanya masih bisa digunakan dengan baik".
"Kalau operasional dinas tidak boleh di bawa pulang bukan? Jadi saya tidak butuh mobil dinas untuk dibawa pulang".
"Kami butuh kendaraan dinas untuk operasional Puskemas, bukan kendaraan dinas yang bisa saya bawa pulang," kata Anton menjelaskan cukup panjang lebar lagi kepada staff tadi.
Penyelia tadi ingin tahu seperti apakah Anton dan dia mencoba memancing pribadi Anton.
"Anda sok menolak kendaraan dinas, apakah anda mencari pencitraan diri?"tanya penyelia tadi mengujinya.
Anton tertawa mendengar hal itu, lalu berkata ," Saya pribadi tidak peduli Pak, mau dinilai pencitraan, mau dinilai apa terserah. Yang saya ucapkan dan saya lakukan adalah jujur dari lubuk hati terdalam. Tidak ada niatan mencari sanjungan atau apapun".
Penyelia tadi tidak bicara lagi, tapi dalam diamnya orang itu memberikan penilaian yang sangat baik sekali untuk Anton.
Sementara di rumah, Mela sedang merasa suntuk sekali, dia selama hampir enam bulan ini keluar rumah hanya saat periksa kandungannya sebulan sekali ke dokter Dhani Ramlan.
Sisanya hanya di rumah saja, selain mengurus rumah bersama Eti juga mengurus dagangan kosmetiknya yang sekarang sudah bisa dilakukan secara online.
Jika ada pesanan, lalu dia menyampaikan pembelian Anita dan dari pihak Anita langsung kirim ke alamat tujuan.
Bahkan sekarang cabang usahanya sudah banyak, ada Atikah adik iparnya yang baru saja melahirkan.
Lalu ada Miranti yang memasok ke pemilik salon yang garasinya disewa untuk menjadi toko dan kedai kue.
Selain itu juga Miranti melebarkan sayap ke teman-teman lamanya yang masih bekerja di perusahaan tempat dia kerja dulu.
Bahkan sekarang sudah semakin jauh lagi pesanan kosmetik itu, sudah sampai ke Semarang. Ternyata Triana juga menebar bisnis kosmetik itu, bahkan sampai saat ini tercatat sebagai pemesan terbanyak.
Memang kalau dipikir dari satu paket Kosmetik itu Mela mendapat keuntungan lima belas ribu rupiah, tapi dia berbagi kepada kaki cabangnya.
Mela hanya mendapat lima ribu rupiah saja, dan kaki di bawahnya mendapat sepuluh ribu rupiah per satu paket.
Tapi itu tidak masalah baginya, menolong orang lain jauh lebih berkah menurut pemikirannya.
Triana menjadi mempunyai usaha sampingan yang lumayan hasilnya, sehingga dia tidak hanya mengandalkan dari Wongso suaminya. Sebab Triana juga merasa tak enak hati, dia punya dua anak yang tak mungkin semuanya dibebankan kepada Wongso.
Sementara Miranti juga membagi pendapatannya dengan Melati Salon, dari sepuluh ribu dibagi dua lagi tapi keduanya sama-sama mendapatkan untung.
Bahkan Atikah adik iparnya yang baru saja melahirkan bayi perempuan juga merasa bahagia. Dia bisa membeli pakaian bayi yang lucu-lucu untuk anaknya tanpa harus meminta dari Rahman suaminya yang cuma bekerja sebagai sekuriti Bank.
Ibu hamil itu sekarang hanya bekerja dengan jari saja melalui ponsel dan laptopnya.
Laptop lama suaminya dimintanya untuk bekerja di rumah, sementara Anton sudah membeli lagi yang baru.
"Mbak Melaaaaaa!!!!....
Assalamualaikum!!!!....," teriakan Aprilia dari pagar depan terdengar sampai ke dalam rumah.
"Walaikumsalam...Ya masuk saja Apri, tidak dikunci kok. Lewat pintu garasi saja yah...!!!"teriak Mela juga kepada sepupu suaminya itu.
"Astaga...embem banget Mbak...hahahaha...ampun Mbak yu Mela....dikau bulat sekali....hahahah," Aprilia menertawakan Mela ketika dia masuk dan melihat istri sepupunya itu menjadi gemuk sekali.
"Hmmm...rasakan nanti yah kalau suatu saat kamu hamil juga, namanya Ibu hamil mana ada yang kurus," sahut Mela sambil sebal kepada Aprilia.
"Ya ampun judes amat bu, hahahaha...Iya deh yang hamil mah bebas mau gemuk juga...hahahah,"Aprilia malah makin meledek Mela.
"Jam berapa dari kotamu, tumben jam segini sudah tiba di sini?"tanya Mela sambil melirik jam.
"Cepat kok Mbak, kebetulan tidak ada macet jadi tadi jam sembilan pagi dari sana dan sekarang sudah di sini. Cuma empat jam saja, benar tumben cepat sekali bis nya," kata Aprilia sambil menghitung lamanya perjalanan di bis tadi.
"Sudah makan belum?"tanya Mela lagi.
"Sudah tadi di bis, sekarang masih kenyang".
"Kamu capek tidak? Aku suntuk loh...jalan yuk Apri".
"Hayuk dong, mbak mau kemana?"tanya Aprilia dengan semangat.
"Kita ngerumpi yuk di kedai kue nya Mbak Miranti, sudah lama aku tak jumpa dia setelah mereka menikah".
"Wokeh Mbak...setuju bingit... aku pesan taksi online yah... mbak siap-siap saja dulu. Secara Bumil pasti banyak bawaan".
Mela berpesan kepada Eti, kalau nanti akan pulang jangan lupa mengunci pintu dan jendela, kunci dibawa saja karena Mela membawa cadangannya.
Lalu dia juga menelpon suaminya minta ijin pergi ke kedai Miranti bersama Aprilia, dan Anton setuju nanti pulang kerja akan menjemput Mela di sana.
Aprilia juga mengirimkan chat kepada Haikal, memberitahu kalau dirinya sudah ada di kota Cirebon dan sekarang menuju kedai Miranti bersama Mela.
"Apri, kamu waktu ada Mamah Aryani di sini kok tidak mau kemari sih?"tanya Mela saat di dalam taksi online menuju kedai Miranti.
"Aduh Mbak, kalau aku kemari nanti emak satu lagi ingin ikut karena ada kakaknya di sini. Satu aja sudah pusing kan Mbak, apalagi ada dua...ayo ngaku...hahahahah," sahut Aprilia sambil tertawa melihat Mela yang juga menahan tawa.
"Kamu tuh yah, mau bilang iya takut dosa...hahahah...
soalnya sama mertua say..
...hahahah," ujar Mela yang akhirnya tertawa juga.
"Hahahaha...iyalah Mbak, jujur saja mertua Mbak sama Mamah aku tuh sama saja. Sebelas dua belas, yang satu cerewet tak bisa disangkal, yang satu lagi Mamahku galak luar biasa... hahahaha," Aprilia melanjutkan pembahasan tentang ibunya dan mertua Mela.
Mela hanya senyum saja, tak berani berkata apa-apa lagi, berat soalnya kalau sudah menyangkut mertua.
Kalau soal ibu kandungnya yang sama cerewet dan tak mau kalah sih Mela berani saja komentar. Tapi soal Ibu Aryani mana berani, karena salah ucap saja pasti panjang tali kelambu. Urusan tak bisa hanya selesai dengan kata maaf saja, dan dia sudah sering merasakan hal itu.
"Kamu sudah tidak siaran lagi di tempat Brandon?" tanya Mela lagi kepada Aprilia selagi melewati jalan tempat stasiun radio itu berada.
"Aku kan sekarang sudah jadi tamu Mbak, besok akan siaran jam sembilan pagi sampai jam dua belas siang. Selama sebulan ini aku di sini sambil membantu mengurusi persyaratan Haikal," kata Aprilia menjelaskan kepada Mela.
"Iya sepertinya kehadiran Lady Bro sangat ditunggu penggemar loh, kalau aku dengar siaran pasti saja ada pendengar yang bertanya tentang dirimu," Mela memberitahukan kepada Aprilia kalau dia banyak yang menanti.
__ADS_1
Sopir taksi online tenyata mencuri dengar, dan langsung berkata kepada Aprilia.
"Mbak, maaf apakah benar Mbak ini Lady Bro? Younger FM?"tanya sopir taksi online itu.
Aprilia membenarkan sambil malu-malu kepada sopir itu.
"Astaga Mbak...tak sangka tenyata memang asyik orangnya yah...asli rock and roll banget Mbak ini," kata sopir taksi online itu merasa takjub dengan Aprilia yang super cuek.
"Biasa saja mas, saya bukan artis loh...Cuma penyiar radio...hahahah," kata Aprilia sambil tertawa lebar.
"Tapi nanti saya mau minta foto bareng, boleh tidak Mbak?"tanya sopir taksi online itu.
"Siap mas, nanti kita berpose rock and roll yah...hahahaha".
Tak lama mereka tiba di depan kedai kue Miranti, dan tentu saja disambut oleh pengantin baru itu.
Sementara Aprilia sedang berfoto bersama dengan sopir taksi online di depan mobil taksinya.
Lalu setelah selesai berfoto, Aprilia masuk ke dalam kedai kue yang ternyata sudah didandani lagi oleh Miranti menjadi tempat yang enak untuk nongkrong.
"Wah Mbak enak banget di sini, bisa buat tempat pacaran kayak gini sih," kata Aprilia sambil menikmati suasana kedai kue Miranti yang sangat nyaman sekali.
Lalu Miranti mengajak kedua sahabatnya ke kamarnya di atas.
"Mbak Miranti memangnya masih tinggal di sini?" tanya Mela yang terengah-engah naik ke lantai atas itu.
"Ya tidaklah, aku kan sekarang tinggal di rumah Mas Jaya. Tapi kan sewa tempat ini masih lama habisnya, jadi kamar ini masih aku pakai untuk aku istirahat siang hari setelah selesai membuat kue," kata Miranti menjelaskan kepada Mela.
"Iya sih, pasti lelah yah Mbak kalau membuat kue itu. Apalagi sekarang kue Mbak Miranti tambah banyak saja varian dan rasanya,"ujar Mela lagi sambil menatap Miranti yang memang terlihat lelah.
"Ya memang lelah, tapi karena memang aku senang dan hobi membuat kue jadi kadang tidak terasa. Baru terasa kalau memang sudah lelah sekali, dan aku bisa tidur nyenyak di kamar ini," sahut Miranti bercerita kepada Mela.
"Memangnya di rumah Mas Jaya tidak bisa istirahat siang Mbak?"tanya Aprilia sambil mengigit dan meniup kue risol yang masih panas berasap.
"Masih panas sekali Apri, kamu tuh tak sabaran main gigit saja," kata Mela sambil geleng kepala melihat tingkah Aprilia.
"Di rumah Mas Jaya kan masih ada Ibu dan Bapaknya, mana enak aku tidur siang di sana. Kan tidak enak hati jadinya sama mertua," kata Miranti lagi sambil melirik Aprilia yang sibuk meniup kue yang masih panas.
"Tapi untung mertuaku tidak apa-apa kalau aku tidur siang," kata Mela sambil tertawa kecil.
"Kamu enak sudah hamil, mau tidur siang juga bebas. Lah aku bagaimana, baru sebulan menikah sudah disindir terus karena belum ada tanda hamil," keluh Miranti terlihat sedih.
"Hahaha...Mbak...sama saja say...dulu aku juga begitu, bahkan sempat tidak diajak bicara beberapa bulan karena aku belum hamil. Begitu tahu aku hamil, baru Mamah Aryani jadi baik lagi sama aku... Hahaha," Mela menceritakan bahwa dia juga pernah merasakan hal yang sama.
Lalu ketiganya jadi larut ngerumpi di dalam kamar, untungnya terpotong suara Adzan Ashar.
Setelah Sholat bergantian, lanjut lagi ngerumpi, dari cerita mertua, cerita keluarga, cerita suami, sampai cerita urusan ranjang juga dibahas dengan serunya.
"Aduh Mbak...masa sih harus begitu sama suami. Kok seperti di film gituan saja deh,"ujar Aprilia yang terlihat seperti ketakutan ketika dua wanita bersuami di depannya bercerita.
"Nah berarti kamu pernah nonton film begituan yah... hahahaha...ketahuan yah kamu!!"kata Miranti menggoda Aprilia, dan tentu saja gadis itu memerah wajahnya.
"Enak saja Mbak Miranti itu, mana pernah aku lihat yang seperti begitu," bantah Aprilia dengan wajah yang sangat merah.
"Hahahaha...Kalau belum pernah tapi kok merah wajahmu...hahahah," Mela juga ikut menggodanya.
Lalu mereka tertawa ramai saling menggoda satu sama lain.
Saat ketiganya terlihat begitu bahagia di kamar atas, hingga mereka tak sadar kalau suami dan kekasihnya sudah ada di depan kedai.
Jaya mengajak Anton dan Haikal untuk duduk santai di salah satu meja yang ada di kedai situ.
"Mau minum apa bro? Ada kopi susu hangat, ada teh lemon jahe juga loh, dapat menu dari istrimu...hehehe," ujar Jaya kepada Anton sambil terkekeh.
"Wah...royalti dong, mana royaltinya...Hahaha...resep keluargaku loh itu,"tukas Anton sambil menggoda Jaya.
"Minta sama Ibu Miranti Permana saja yah nanti... hahahaha," balas Jaya kepada Anton.
Tak lama Sumarni, pelayan di kedai itu datang membawa dua kopi susu hangat untuk Jaya dan Haikal, juga teh jahe lemon hangat untuk Anton.
Sumarni juga menyuguhkan beberapa buah kue risol dan kroket yang masih panas.
Kedua macam kue itu adalah produk utama kedainya Miranti, dan yang mengolah dari mulai tepung sampai jadi memang semua dari tangan Miranti.
Sumarni hanya bagian menggoreng saja dan menyuguhkan kepada tamu atau membungkus sesuai pesanan pembeli.
"Bro, tadi bagaimana dengan orang Pusat? Seharian habis sudah waktumu bersama mereka,"Jaya menanyakan tentang kedatangan orang Pusat tadi.
"Masih lama mereka akan disini, entah minggu depan akan datang lagi bagian lain. Semuanya menguji aku, pertanyaannya menjebak dan mengesalkan semua," kata Anton menceritakan tentang orang Pusat.
"Sabar Bang, ini ujian...,"kata Haikal yang disambut tawa oleh Jaya dan Anton.
Kalimat yang diucapkan Haikal itu sekarang sudah menjadi meme dimanapun baik di media sosial bahkan di iklan televisi.
Lalu Anton membahas panjang lebar tentang kemungkinan ke depannya Puskesmas, karena selama ini mereka juga merasa tempat kerjanya monoton tidak ada kemajuan.
Anton membahas rencananya kalau misalkan dia jadi kepala Puskemas, dan tentu saja kedua sahabatnya sangat mendukung sekali.
Ketiga wanita di atas akhirnya paham kalau para prianya sudah datang dan tengah menikmati sajian makanan sore hari.
Wanita telinganya lebih panjang dari pria, walaupun mereka di atas tapi yang para pria bahas terdengar oleh mereka.
"Kalau Mas Jaya sih harus ke Jakarta selama dua bulan katanya, dan tadi siang surat tugasnya sudah diterimanya. Nanti tanggal satu bulan depan harus sudah di sana," kata Miranti menyampaikan yang suaminya katakan siang tadi.
"Kalau Pi Anton sih tetap di sini, tapi selama dua bulan juga dia akan sibuk dikejar test dan juga urusan renovasi. Bahkan Pi Anton sudah wanti-wanti jangan sampai aku marah kalau pulang malam," Mela juga mengutarakan yang suaminya katakan siang tadi.
"Aku pikir kalau sudah lulus ujian menjadi Pegawai Negeri Sipil, tidak usah ada apa-apa lagi. Ternyata masih panjang prosesnya yah," Aprilia ikut mengomentari apa yang dikeluhkan Mela Dan Miranti.
"Eh iya Bro, nanti gantinya Haikal itu dokter cewek loh,lulusan dari Jakarta. Namanya kalau tak salah adalah Rossie...Tapi nama belakangnya aku lupa," kata Anton mengabarkan kepada sahabatnya.
"Wah...akhirnya dokter Cewek Alhamdulillah...ada segar juga di Puskesmas. Selama ini cewek cuma Murni, kalau ada cewek lain sih oke dong," sahut Jaya dengan antusias.
Jaya tak sadar dari atas ada yang mendengar apa yang barusan dia ucapkan.
Saat sedang berbincang, tiba-tiba ada motor masuk ke halaman kedai. Dan turunlah seorang wanita yang sangat cantik dan seksi, juga memakai pakaian olah raga tenis yang sangat minim sekali.
Wanita itu membuka helm dan mengangguk ke arah tiga pria yang sedang memandangnya.
Lalu wanita tadi menemui Sumarni dan berkata ,"Mbak, saya mau ambil pesanan kue. Mbak Rantinya mana sih?".
"Sedang di atas, Mbak Bella, ada tamu dan itu para suaminya menanti di bawah," sahut Sumarni dan wanita bernama Bella hanya mengangguk saja.
Setelah mengambil pesanan kuenya lalu dia juga pamit pulang kepada Sumarni, sambil menitip salam untuk Miranti dan dia juga kembali menganggukan kepala kepada ketiga pria yang kembali memandangnya.
"Giliran ada yang bening saja pada melotot, dasar cowok.... kelakuannya nyebelin deh...," biasa Melati Salon tiba-tiba hadir dan langsung nyinyir.
"Memangnya siapa sih cewek tadi? Kasih tahu dong Neng Melati cantik," rayu Jaya kepada Melati sambil mengedipkan matanya.
"Janda muda, namanya Bella, dia pelatih tenis di lapangan dekat kelurahan sana," sahut Melati Salon sambil lenggak lenggok dihadapan ketiga pria tersebut.
"Wah Bro dokter, kita tenis yuk. Beli raket simpan di kantor, nanti pulang kerja kita latihan. Raket simpan lagi di kantor baru pulang. Ayolah...bisa kan tenis,"Jaya berkata sambil menyenggol lengan Anton.
Tiba-tiba telinga Jaya terasa sakit dan panas, ada tangan putih halus memelintir telinganya.
"Ganjen amat sih, dari tadi cewek terus yang dibahas. Sempat main tenis, aku laporkan ke Ibu dan Bapak," kata pemilik tangan itu sambil mengomel panjang lebar.
__ADS_1
Semua yang melihat tertawa melihat Jaya dimarahi Miranti, apalagi Melati Salon tentunya dia yang paling keras tertawa terbahak-bahak.
Semalaman Jaya berusaha merayu istrinya meminta maaf dan menjelaskan kalau yang dia ucapkan itu hanya omong kosong belaka.