Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keenam Puluh Lima


__ADS_3

Rombongan Hore sudah kembali ke tanah air, dan mengawali tahun yang baru dengan kegiatan seperti seperti sebelumnya.


Kehidupan kembali berjalan seperti semula, termasuk Anton yang kembali bolak balik Cirebon dan Bandung.


Mela masih harus di Bandung membantu Anita sampai Pertiwi selesai cuti melahirkannya.


Diperkirakan di awal bulan kedua tahun itu, Pertiwi baru bisa kembali bergabung di Wiharja Farma.


Cerita sekarang sampai ke depan murni urusan Anton dan Mela, sebab urusan lainnya sudah beres semua.


Waktu terus berjalan, hingga diperkirakan Anton dan Mela sudah menikah lebih dari dua bulan lamanya.


Ibu Sinah mulai merasa resah karena anaknya belum juga hamil.


Dalam pikirannya dia takut anaknya tidak melaksanakan kewajiban sebagai istri dengan baik.


Walau bagaimana juga seorang istri selain melayani suami dengan menyediakan masakan dan mempersiapkan pakaian, ada hal lain yang juga penting yaitu melayani di tempat tidur.


Suatu hari Ibu Sinah meminta Rahman untuk menyambungkan


ponselnya kepada Mela, beliau ingin bicara dengan anaknya.


Mela senang sekali Ibunya tiba-tiba menghubungi, saat itu dia masih tinggal di kediaman Wiharja sedang menanti suaminya kembali dari Cirebon.


Saat Mela masih menanyakan kabar Ibunya dan keluarga lainnya, tanpa banyak basa basi lagi ibu Sinah langsung saja memotong pembicaraan.


"Nok, kamu kok belum hamil saja. Bagaimana sih kamu... apa selama ini kalian tidak berhubungan atau kamu tidak melayani suami dengan baik?"Ibu Sinah langsung bicara yang cukup menghujam.


"Hmmm...maksud Mimi apa... selama ini Mela sama Mas Anton baik-baik saja kok,"tentu Mela mencoba membela diri.


"Ya tapi bagaimana ini, kamu belum hamil juga. Rahman dan Atikah baru satu bulan menikah juga Atikah sudah langsung hamil, dulu katanya kakaknya Anton juga begitu. Bahkan Mimi dulu juga seperti itu, baru seminggu menikah langsung hamil," ibunya langsung memberondong pernyataan soal hamil.


Sakit hati mendengar kata-kata itu tapi memang kenyataan begitu, dia belum merasakan ada tanda-tanda hamil.


"Coba kamu berusaha jadi istri yang baik, jangan suka menolak kalau masih sehat, usahakan segera hamil. Mimi sudah tua, ingin segera menimang cucu dari kamu".


Hamil...hamil...dan hamil...itu sekarang mulai menjadi kata yang sering didengarnya.


"Kok belum hamil mbak.."


"Sudah isi belum yah..."


"Kapan nih hamilnya, jangan suka menunda loh..."


Setiap hari, setiap bertemu orang, bertemu saudara, bertemu tetangga, bertemu siapapun pasti pertanyaan seperti itu yang akan didengarnya.


Kadang dia seperti orang stress, bila kedapatan haid, berarti gagal hamil.


Kadang kalau merasa haidnya telat, segera mengambil test pack di apotik lalu memeriksa air seninya dan hasilnya selalu negatif.


Tapi dia selalu mencoba berpikiran positif, toh baru mau tiga bulan menikah siapa tahu bulan depan hamil.


Yang membuat dirinya tidak terlalu tertekan adalah ibu mertuanya dan juga kakak iparnya tidak pernah menanyakan soal itu.


Padahal dia tidak tahu kalau ibu Aryani sering menanyakan soal kehamilan Mela kepada Anita.


Keduanya sering memperhatikan gerak-gerik Mela, ingin tahu apakah Mela sudah hamil atau belum.


"Masa yah Nita, itu Mela belum hamil juga. Apakah dia yang bermasalah atau Anton yang tidak bisa?"ibu Aryani mulai resah karena menantunya tampak anteng saja tidak ada tanda mulai hamil.


"Ya..entahlah Mamah...mungkin Anton juga kecapekan setiap minggu pulang pergi jadi kualitas bibitnya tidak bagus. Atau mungkin Mela juga tidak nyaman di rumah mertua...entahlah," sahut Anita mencoba membesarkan hati ibunya.


"Ya sudah minggu ini Mamah dan Papah tidur di rumah ini. Biarkan mereka menginap di rumah Mamah dan Papah berdua saja, pembantu biar Mamah liburkan,"ibu Aryani mencoba berusaha mencari cara agar menantunya bisa segera hamil.


Anton tak lama kemudian datang kembali dari Cirebon menuju kediaman keluarganya karena istrinya ada disana.


Hari itu Anton tampak lelah sekali, karena dalam seminggu belakangan ini banyak sekali pasien yang berobat kepadanya.


Sesampainya di rumah kediaman keluarganya itu, selain disambut istrinya juga disambut oleh kedua orang tuanya.


Anton merasa lapar sekali karena perjalanan jauh, sehingga dia segera dilayani makanan oleh istrinya.


"Mela coba kamu buatkan minuman segar untuk nanti setelah suamimu makan yah,"Ibu Aryani menyuruh kepada menantunya.


"Apakah Mamah dan Papah juga mau sekalian Mela buatkan?"tanya Mela kepada mertuanya.


"Ah tak usah, ayo cepat buatkan sana ke dapur,"kata ibu Aryani seperti setengah mengusir.


Mela segera beranjak ke dapur, dan kesempatan ini tak disia-siakan oleh Ibu Aryani untuk menanyai anaknya.


Beliau segera duduk di kursi sebelah Anton, sambil melirik ke dapur lalu menanyai anaknya.


"Ton, jawab pertanyaan Mamah dengan sejujurnya yah,"katanya kepada Anton.


Sambil mengunyah Anton mengangguk memberi tanda setuju.


"Apakah kamu setiap pulang kemari selalu berhubungan suami istri?" tanya ibunya dengan lugas.


Anton kaget mendengar pertanyaan seperti itu dari mulut Ibunya sendiri, sampai dia jadi tersedak.


"Uhuk...uhuk...ehem..ehem.. apa maksud Mamah?"tanyanya agak panik.


"Hmm...Mamah heran masa kalian sudah menikah hampir tiga bulan, lalu kemarin juga sempat bulan madu ke Singapura, masa istrimu belum ada tanda-tanda hamil....kalian ngapain saja selama ini?" Ibu Aryani langsung to the point kepada anaknya.


ibu Aryani saja yang tidak tahu kalau sebenarnya ke Singapura itu berantakan semuanya, bukannya bulan madu yang ada malah penuh tragedi.


"Untung saja Mamah tak tahu apa yang terjadi di Singapura,"ujar Anton dalam hatinya.


Anton sambil minum air di gelas, mencoba menjawab ibunya.


"Yah mungkin belum diberi kesempatan saja oleh Yang Kuasa, kami juga ingin segera punya anak kok Mamah," jawab Anton kepada ibunya.


"Ya masalahnya kamu yang tidak bisa atau kamu terlalu kelelahan..., atau Mela tidak mau melayanimu?"


kembali ibunya mendesak ingin tahu.


"Mamah...kami berdua baik-baik saja kok, selama ini kami sudah melakukan apa yang selayaknya suami istri lakukan,"jawab Anton lagi sambil sebenarnya merasa risih dengan pertanyaan ibunya.


Mela terlihat akan masuk ke ruangan makan sambil membawa minuman segar untuk suaminya.


Ibu Aryani segera mengakhiri pertanyaan sambil sebelumnya berkata," Ya sudah, pokoknya Mamah minta kalian segera mewujudkan apa keinginan Mamah. Cepat beri Mamah cucu dari anak lelaki Mamah".


Lantas ibu Aryani beranjak dari kursi sebelah Anton, lalu pergi sambil menatap Mela dengan cemberut.


Mela melihat ibu mertuanya seperti kesal kepadanya, jadi kaget dan bertanya-tanya dalam hati apakah dia sudah melakukan kesalahan.


Ingin rasanya bertanya kepada suaminya, tapi melihat Anton makan dengan nikmat maka diapun tak mau membuat suasana jadi tak menyenangkan.


Setelah makan Anton duduk sebentar di ruang keluarga menemani ayahnya yang sedang iseng mengisi teka teki silang.


"Papah itu mengisi buku seperti ini agar tidak pikun, sudah tua otak harus tetap bekerja. Betulkan teori kedokteran juga mengatakan begitu,"kata Pak Salim kepada anaknya.


Anton tersenyum sambil segera duduk disamping ayahnya membantu mengisi kotak-kotak teka teki silang dengan jawaban.


"Ton, bagaimana rumah yang kalian inginkan sudah ada atau belum.... kalau sudah ada berapa harganya... Biarkan Papah yang nantinya akan membayarkan semuanya," Ayahnya berbisik kepada anak lelakinya.


"Ada sih Pah, cuma belum final harganya, lagipula Anton juga harus mencari pinjaman Bank untuk mencicilnya,"sahut Anton sambil meneguk minuman buatan istrinya.


"Buat apa mencicil, dengar Papah sudah mempunyai uang simpanan untukmu. Rumah dan apotik disini akan Papah berikan kepada Anita. Maka kamu juga akan Papah belikan dan biayai rumah yang kamu inginkan agar adil," ujar Pak Salim bersikukuh ingin membelikan rumah untuk anak lelakinya.


"Hmmm iya deh Pah, kita lihat nanti saja yah. Yang pasti dalam waktu dekat kalau Pertiwi sudah masuk kerja kembali, maka Anton akan membawa Mela dulu ke Cirebon".


"Rencananya kami akan menyewa rumah dulu sambil mencari rumah yang tepat untuk kami tinggali,"


Anton mencoba menjelaskan kepada ayahnya.


Tiba-tiba Ibu Aryani masuk ruangan sambil menyeret Mela sambil berkata," Malam ini kalian tidur di rumah bukit, ayo cepat kemasi barang kalian".


Anton yang hari itu merasa lelah, maka dengan terpaksa harus mengikuti keinginan ibunya. Dia segera mengajak istrinya ke rumah orang tuanya yang ada di bukit.


Setibanya di rumah bukit, benar saja yang biasanya ada pembantu dan sopir yang menjaga. Sekarang benar-benar kosong tak ada siapapun.


Anton segera mengunci pagar rumah dan juga pintu masuk.

__ADS_1


Mela merapihkan kamar Anton dan juga menyusun pakaian yang dibawanya kedalam lemari pakaian Anton.


Setelah mengunci pintu, lalu Anton masuk kamar mandi dan menyiram tubuhnya dengan air hangat.


Keluar dari kamar mandi, badannya terasa enak tapi sangat mengantuk sekali.


Alhasil malam itu keduanya tidur tanpa melakukan apapun sebelumnya, Anton merasa kelelahan sementara Mela merasa kedinginan apabila tidur di rumah bukit.


Keesokan paginya setelah Sholat Subuh juga keduanya kembali tidur lagi karena yang satu masih kelelahan dan yang satunya masih kedinginan.


Pagi harinya Anton mencoba menghubungi pembantu yang bekerja di rumah bukit, minta dipanggilkan tukang pijat pria.


Tak lama tukang pijat tersebut datang dan Anton yang masih kelelahan minta dipijat olehnya.


Mela sehabis memasak dia duduk di depan televisi rumah bukit, banyak sekali video drama korea koleksi ibu mertuanya.


Lalu dia memilih salah satu dan menontonnya sambil menunggu suaminya selesai dipijat.


Sekitar dua jam Anton dipijat, dan Mela yang asik menonton tenyata tertidur di sofa.


Anton setelah dipijat lalu mengantarkan bapak tukang pijat sampai ke halaman depan rumah lalu masuk kembali ke dalam rumah.


Melihat istrinya enak tidur, dia juga jadi merasa ngantuk karena badan enak habis dipijat.


Dan malahan kembali ke kamar tidur dan segera melanjutkan mimpi.


Ibu Aryani dan Pak Salim diam-diam meminta sopir mengantarkan mereka ke rumah bukit sambil membawa makanan untuk anak dan menantunya.


Ketika masuk dilihatnya menantunya tidur di sofa dan anaknya tidur di kamar walau pintunya dibuka.


Keduanya saling berpandangan melihat pemandangan tersebut sambil merasa kecewa.


Pantas saja bagaimana bisa hamil, kalau ternyata keduanya tidur di tempat berbeda.


Mereka meletakan makanan di atas meja makan, lalu sambil berjingkat-jingkat kembali keluar rumah.


Sepanjang jalan menuju kediaman Wiharja, ibu Aryani hanya diam saja sambil meneteskan air matanya.


Setibanya di depan rumah segera beliau masuk dan menemui Anita lalu menangis sejadi-jadinya.


Fajar dan Anita mendengarkan apa yang orang tuanya sampaikan kepada mereka.


Intinya keduanya menduga kalau Anton ternyata tidak bisa melaksanakan kewajiban sebagai suami karena kekurangannya.


"Tidak mungkin Mamah, tidak boleh Mamah berpikiran kalau Anton tidak bisa melakukan itu semua," Fajar mulai bicara mencoba memberikan pandangan kepada mertuanya.


"Fajar yakin kok Anton bisa walau kakinya tidak sempurna. Kehilangan satu kaki tidak ada hubungan dengan kemampuan organ lainnya. Semua bisa berfungsi dengan baik".


"Entahlah Fajar, kami sendiri yang melihat bagaimana mereka tidur terpisah. Jadi selama ini kemungkinan mereka cuma sandiwara di depan kita semua,"Ibu Aryani terus merasa khawatir kalau anaknya yang tidak mampu sebagai suami.


"Ya sudah nanti saya dan Anita akan mencoba menanyai mereka secara terpisah. Sudah Mamah tidak usah khawatir lagi yah".


Lantas Anita dan Fajar saling menatap, kalau benar mau menanyakan juga bagaimana cara menyampaikannya.


Ada-ada saja yah, mau tak mau sebagai kakak mempunyai kewajiban untuk membuat segalanya menjadi baik.


Mela membuka matanya, lalu melirik jam dinding ternyata sudah hampir satu jam melewati waktu Dzuhur.


Dia segera duduk sambil menarik nafas, di televisi tayangan video drama korea Ya sudah selesai.


Lalu beranjak bangun dan segera mengambil wudhu untuk menunaikan sholat nya.


Selesai beribadah dia membangunkan suaminya agar segera sholat sambil dia bergegas ke dapur hendak mempersiapkan makan siang.


Ketika melewati meja makan, dia sangat terkejut melihat ada kotak makanan.


Mela membukanya dan kaget melihat ada masakan mertuanya berupa ayam goreng dan sayur asam.


Mela berlari ke depan rumah, dilihatnya tak ada siapapun. Lalu dia memeriksa kebun belakang rumah juga tak ada siapa-siapa.


Atau mungkin tadi saat dia ketiduran, mertuanya datangkah atau hanya sopir yang mengantarkannya.


"Kenapa Mi, kok tampak seperti orang bingung begitu?"tanya Anton saat melihat istrinya bengong sambil menatap kotak makanan.


"Ini ada kotak makanan di meja, aku buka kok masakan Mamah. Apakah tadi Mamah kemari?"tanya Mela sambil masih bingung.


"Iya siapa yang mengirim kemari tapi tidak membangunkan aku, mungkin sopir yah,"kata Mela mencoba menebaknya.


"Daripada pusing mending kita makan yuk, aku sudah lapar. Ayo Mi siapkan nasi da makanannya dong,"kata Anton sambil mencolek dagu istrinya.


Lantas Mela segera menyiapkan nasi beserta lauknya di atas meja makan, kemudian mereka makan siang bersama.


Menjelang malam hari selepas Maghrib Anton mengajak istrinya berjalan-jalan berdua saja ke mall.


Selama pacaran mereka belum pernah nonton bioskop, karena kebetulan ada film action terbaru maka mereka berdua memutuskan untuk menonton.


Anton sedang mengantri tiket, sementara Mela melihat-lihat film yang akan tayang.


Tiba-tiba matanya melayang ke seberang tempat dia berdiri, disana ada rumah makan ayam goreng tepung cepat saji yang terkenal.


Dan di dalamnya terlihat sosok Miranti Chandra sedang duduk bersama beberapa orang wanita berhijab dan juga anak-anak kecil. Ada sekitar dua puluh orang bersamanya di rumah makan itu.


Miranti memang tidak berhijab tetapi kepalanya ditutupi sebuah selendang panjang atau biasa disebut pashmina.


Terlihat Miranti begitu sibuk membagikan paket nasi ayam goreng untuk anak-anak tersebut. Setelah semua sudah mendapatkan jatahnya, baru Miranti duduk bersama beberapa wanita dewasa berhijab tadi. Dan kelihatan sebelum makan bersama ada seorang anak berdiri membacakan doa.


Mela tertegun dan menikmati pemandangan di seberangnya itu sampai tak sadar suaminya sudah ada disampingnya.


"Lihat apaan sih?"tanya Anton saat melihat istrinya begitu antusias kepada sesuatu hal.


"Pi...itu lihat di rumah makan sana ada siapa?" Mela menunjuk ke arah seberang tempat mereka berdiri.


"Hmm...wow...benarkah itu Miranti?"Anton sampai tak percaya dengan penampilannya.


"Aku kepo ah, mau aku sapa nih," kata Mela sambil senyum kepada suaminya.


Anton cukup terkejut saat tahu kalau istrinya punya nomor kontak Miranti, tapi dia diam saja tak berkomentar.


Mereka saling berkirim chat.


Mela : Assalamualaikum, mbak apa kabarnya? Sedang ada di mall yah...


Miranti : Walaikumsalan, iya say...Apakah dikau juga ada disini say...?


Mela baru tahu kalau Miranti memang gayanya bicaranya begitu kepada siapapun. Say, Beib, Honey, Dear, selalu terucap kepada siapapun.


Mela : Iya mbak, kebetulan saya sama suami sedang menonton tapi barusan sebelum masuk bioskop sempat melihat mbak Miran.


Miranti: Oh gitu yah Beib, iya say, ini kebetulan Ustadzah yang membimbing aku menggaji berulang tahun. Jadi sedang kami rayakan bersama.


Miranti: Sekalian anak-anak murid kecil juga semua dibawa biar semarak, begitu my dear.


Mela : Oh begitu yah mbak, oke mbak have fun yah...


Miranti: Oke Honey, terima kasih.


Mela memperlihatkan percakapan chatnya dengan Miranti kepada suaminya.


Lalu merekapun masuk ke salah satu gedung theater yang akan memutar film pilihan mereka.


Didalam theater Anton meminjam ponsel istrinya, dan percakapan antara istrinya dan Miranti ditangkap oleh kameranya dan segera dikirimkan ke ponselnya sendiri.


Lalu hasil tangkapan pembicaraan itu dia teruskan kepada Jaya sambil mengirimkan pesan "Bro, sepertinya terenyuh olehmu, ayo cepat kejar lagi".


Jaya yang saat itu sedang bermain game play station bersama Haikal hanya membaca tanpa memberi komentar.


Setelah menonton mereka berdua makan di sebuah rumah makan yang menyediakan masakan chinese food dan memesan cap cay dan cah kaylan, Anton kalau makan harus ada sayurannya.


"Tinggal pakai hijab saja yah rupanya mbak Miranti, tapi yah tidak bisa dipaksakan. Semua tergantung panggilan hati,"kata Mela ketika menanti masakan pesanannya datang.


"Mi dulu pakai hijab kapan?"


tanya suaminya sambil menatap istrinya penuh cinta.

__ADS_1


"Kalau tak salah saat lulus SMA, sebelum aku bekerja,"jawab Mela dengan senyum.


"Kirain saat putus sama tukang foto," goda Anton sambil melirik istrinya.


Mela terkejut dan memerah wajahnya, lalu bertanya ," Kok Pi tahu sih soal itu".


"Ya tahu dong, waktu kita menikah kemarin ada tukang foto memandang pengantin wanitaku dengan penuh perasan".


"Lalu pengantin wanita itu meminta sesuatu dari adiknya dan diberikan kepada tukang foto. Peniti buat hijab ternyata, berarti pakai hijab saat putus yah,"kata Anton santai sambil senyum-senyum menggoda istrinya.


Mela lalu cemberut sambil berkata," Aku cuma mengembalikan apa yang pernah dia beri saja kok, tidak ada apa-apa diantara kami".


Anton hanya tertawa melihat istrinya malah jadi cemberut, bukannya tidak cemburu, ada rasa cemburu tapi buat apa dibuat kesal toh Mela sudah menjadi istrinya.


Biasa perempuan kalau kekasihnya atau suaminya tahu tentang mantan pacarnya, pasti akan cemberut kesal.


Nah kalau perempuan tahu mantan pacar kekasihnya atau suaminya bukan cuma cemberut lagi, tapi pasti dijamin murka.


#authorjugasukabegitukokhihihi


Setelah puas menonton, makan dan berbelanja maka mereka pulang ke rumah bukit.


Ketika tiba di depan rumah bukit ternyata sudah ada ibu


Aryani dan Pak Salim.


Keduanya memasang wajah seperti kesal kepada Anton dan Mela, melihat itu maka segera mereka duduk dihadapan orang tuanya.


"Papah dan Mamah mau bertanya mengapa kalian tidur terpisah, satu di sofa dan satu di kamar. Ayo jawab, ini penting sekali demi kelangsungan keturunan Wiharja,"kata Pak Salim sambil menatap anak dan menantunya.


"Semalam kami tidur bersama kok, kalau tadi siang benar karena saya baru selesai dipijat dan Mela ketiduran di sofa sambil nonton drama korea,"sahut Anton mencoba memberikan penjelasan kepada kedua orang tuanya.


"Benarkah seperti itu Mela?" tanyanya kepada menantunya dan Mela mengangguk membenarkan.


"Hmmm....karena kalian belum juga ada tanda-tanda akan memberi cucu kepada kami. Maka sekarang kalian masuk kamar dan tidak boleh keluar,"ujar ibu Aryani kepada keduanya.


"Lalu bagaimana kalau kami lapar ingin makan atau haus ingin minum ?"tanya Anton kepada kedua orang tuanya.


"Semua sudah kami persiapkan di dalam kamar kalian, ayo masuk cepat. Pintu akan dibuka senin subuh saat Anton harus kembali ke Cirebon untuk bekerja," kata ibu Aryani sambil melotot kepada anak dan menantunya.


"Mamah sama Papah apa maksudnya sih, ini kurang kerjaan banget loh,"kata Anton sambil geleng-geleng kepala.


"Mamah merasa aneh sama kamu, katanya dokter tapi mengapa tidak bisa segera membuat istrimu hamil".


Anton menepuk dahinya lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mau marah tapi itu ibunya. Tidak marah tapi hati merasa kesal luar biasa.


"Pi...sudah kita ikuti saja apa kata Mamah dan Papah, siapa tahu saran terbuka sehingga aku bisa hamil," kata Mela yang paling merasa tertekan dengan kata hamil.


Anton menghela nafas, sambil menatap istrinya dia juga menganggukan kepalanya. Lalu dia berkata kepada orang tuanya,"Mamah....Papah...kami akan menuruti apa kata Mamah dan Papah, tapi kembali lagi soal hamil itu urusan Tuhan".


Pak Salim hanya menuruti saja keinginan istrinya, sementara ibu Aryani melipat tangannya di depan dadanya sambil tetap cemberut.


Anton dan Mela masuk ke dalam kamar mereka, memang di dalamnya ada kamar mandi jadi tidak takut kalau mendesak harus ke toilet.


Di dalam kamar terlihat sudah ada lemari es dan juga banyak makanan lainnya.


Anton hanya geleng kepala dan dia malas melihatnya, pintu kamar lalu terdengar dikunci dari luar pertanda mereka sudah menjadi tawanan orang tuanya.


"Mi...aku minta kamu jangan sampai stress kalau memang belum hamil. Aku tidak akan memaksakan apapun, karena hamil itu memang urusan Tuhan," Anton melihat istrinya sedih jadi berusaha menghibur.


"Iya Pi, aku juga hanya bisa pasrah saja, karena kita juga selama ini sudah mencoba tapi memang belum diberi kesempatan saja untuk hamil," sahut Mela sambil senyum tapi terlihat sedih.


Malam itu mereka memang bercinta, bahkan seperti biasa Anton selalu minta bonus lagi kalau sesudah sholat subuh.


Setelah sarapan pagi keduanya mulai dilanda bosan di dalam kamar berdua, lalu mulailah mencari kegiatan.


Tentunya tak mungkin bercinta terus seperti harapan Ibu Aryani, mereka memulai dengan bermain ludo yang ada di aplikasi ponsel.


Lumayan menyenangkan bahkan kalau kalah atau menang mereka saling menjerit atau berteriak.


Ibu Aryani yang rajin menjadi tukang menguping di pintu merasa senang, dipikirnya mereka saling menjerit karena kegiatan bercinta.


Beliau lalu segera memasak sup ayam ginseng, maksudnya agar anaknya menjadi lebih perkasa lagi dan menantunya juga semakin kuat rahimnya.


Puas bermain ludo sampai habis baterai ponsel, kemudian mereka kembali merasa bosan.


Acara di televisi tidak ada yang membuat mereka antusias, lalu Anton punya ide walau dia merasa takut mengatakannya.


"Mi...eeemmmhhh...kita main game online yuk, dari komputer ku mainnya,"ajak Anton sambil ragu-ragu.


Ya beberapa waktu lalu istrinya sempat marah gara-gara istrinya marah saat dia membeli hard disk External.


Maksudnya hard disk External itu akan dia pergunakan untuk menambah kapasitas senjata di permainan game online nya.


Anton memang sedang tergila- gila bermain game online perang-perangan dengan banyak orang di dunia maya.


Dia sebenarnya punya hard disk External lain di kamarnya ini, yang sudah disambungkan ke komputer yang ada di bekas meja belajarnya di kamarnya ini.


"Aku tidak suka game online, tetapi kalau game yang lucu dan gembira seperti menembak bola kelereng, atau mencari permen atau sejenisnya aku suka sekali," kata Mela menjawab ajakan suaminya.


"Oh ada kok, ada di laptop ku," kata Anton sambil mengeluarkan laptopnya.


Dia menyalakan laptop dan membuka file permainan game yang banyak sekali.


"Di sini banyak game anak-anak, suka aku pakai untuk anak-anak yang berobat agar tidak tegang jadi ketika diperiksa sambil aku perlihatkan mainan agar tenang".


Mela bahagia melihat banyaknya game anak-anak di sana dan dia menjadi semangat memainkannya.


Sementara Anton melihat istrinya serius bermain, dia juga menyalakan komputernya di meja dan sama-sama bermain game.


Pembantu membawa dua mangkuk sup ayam ginseng di atas nampan, lalu sopir membuka kunci pintu dan membantu pembantu di rumah itu untuk memasukan sup ayam tersebut.


Mereka takut-takut membuka pintunya, takut kalau tuan muda dan istrinya sedang melakukan percintaan, tapi ketika pintu terbuka dilihatnya keduanya sedang asik dengan bermain game nya masing-masing.


Setelah meletakkan sup di atas meja rias, mereka segera keluar dan mengunci pintunya lagi.


Sementara Anton dan Mela acuh tak acuh saja karena sibuk bermain game, bahkan mereka memakan supnya sambil mata tak lepas dari game tersebut.


Akhirnya setelah makan kenyang, mereka mulai mengantuk dan Mela tertidur di kasur sementara Anton di karpet di bawah meja komputernya.


Ibu Aryani baru pulang berbelanja dan dengan semangat dia bertanya kepada kedua orang pembantu dan sopirnya.


"Bagaimana...apakah sup ayam sudah dikirim ke dalam... dan tadi mereka berdua sedang apa?"tanya ibu Aryani dengan ceria berharap anak dan menantunya sedang memproses cucu untuk dirinya.


Pembantu dan sopir saling bertatapan tidak berani bicara, hal itu membuat ibu Aryani malah menjadi naik pitam.


"Ditanya malah diam saja..ayo jawab !!!!"teriaknya kepada kedua pembantunya itu.


"Maaf Ibu sepuh, tadi tuan muda dan ibu muda sedang bermain game di komputer,"sahutnya sambil merasa takut.


"APA !!!!"Ibu Aryani sambil mengepalkan kedua tangannya menahan geram langsung memutar kunci kamar dan membukanya.


Alhasil terlihat anak dan menantunya malah enak-enak tidur siang melepas lelah dan bosan dikamar berdua.


Melihat posisi tidur mereka yang berantakan, satu dimana dan satu dimana, maka menjeritlah beliau tak kuasa menahan kesal.


"Aaawwww....ANTON....MELA...!!!!!!".


Anak dan menantunya sontak terkejut dan terbangun, keduanya sambil mengucek matanya lalu menatap heran kepada ìbu Aryani.


"Mamah ngapain sih teriak-teriak?"


kata Anton sambil menyipitkan matanya karena silau.


"Kalian keterlaluan bukannya membuat cucu malah main game....Mamah kecewa!!!".


Lalu ibu Aryani segera minta sopir untuk mengantarkannya ke kediaman Anita.


Sementara Anton dan Mela santai saja, pintu terbuka maka mereka merasa bebas dan akhirnya keduanya sepakat berjalan-jalan lagi.


Mereka berdua menghabiskan hari dengan berjalan-jalan ke mall, makan berdua di cafe, dan malamnya mereka nonton bioskop lagi.


Benar-benar keduanya menikmati berduaan seperti orang yang berpacaran lagi.

__ADS_1


Esoknya ketika Anton sudah kembali ke Cirebon, dan Mela kembali ke kediaman Wiharja dengan naik taksi online, dia mendapatkan sambutan cemberut dari ibu mertuanya.


Yah titik awal tekanan batin soal kehamilan akan dirasakan oleh Melati Sekar Wangi.


__ADS_2