
Mela semalam tiba kembali ke kota kelahirannya. Karena hari sudah malam, maka Mela menginap di rumah Wiwit.
Kangen juga rasanya pada Wiwit walau sebenarnya selama ini mereka tidak terlalu akur.
Tapi semenjak kejadian kemarin malah sekarang mereka suka sering saling mencurahkan isi hati baik melalui pesan chat atau sms, bahkan sering teleponan sambil saling menangis.
Kalau kata anak gaul sekarang sih lebai-lebaian....hihihihi...
"Entah dari kemarin aku selalu tak bisa menghubunginya....selalu Jaya yang mengangkat teleponnya....yang bikin kesal seharian ini sama sekali tidak aktif teleponnya, "cerita Mela kepada Wiwit karena merasa sebal kepada kekasihnya.
"Sabar cyiiinnn....Mungkin memang benar dia sibuk...kan bisa saja pasien membludak banyak yang sakit, "kata Wiwit sambil berselonjor di kasurnya lalu mengelus lengan sepupunya.
"Masa sih di puskemas saja, sampai bisa sebanyak itu pasiennya. Rasanya aneh deh, "Mela masih kesal sambil memeluk bantal yang ada di kasur situ.
"Waduuuhhh....ada yang lagi manyun nih...pacarnya hilang... hahahahah...," goda Surya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Iya nih...nona sedang galau kekasihnya tak bisa dihubungi, " Wiwit menimpali candaan suaminya.
"Kayaknya Anton digondol sama suster ngesot loh....Hahahaha," kembali Surya menggoda Mela yang sekarang sudah menjadi sepupunya.
Mela tambah manyun lalu dia melempar Surya dengan bantal yang sedang di dipeluknya, sontak Surya dan Wiwit jadi tertawa.
Selama bertahun-tahun saat masih bekerja di toko Wak Haji Darma, selama itu pula Mela tidur di kamar sempit dekat gudang.
Sekarang wak Atin tidak ada, maka dia sekarang menjadi tamu maka sekarang menempati kamar khusus untuk tamu.
Pagi harinya masih saja telepon Anton tidak aktif, beberapa kali mencoba menghubungi Jaya juga sama saja tidak ada hasilnya.
Pagi itu Mela didandani oleh Wiwit dengan cara berbaring di ranjang pengantinnya Wiwit dan Surya.
Karena Wiwit sama sekali tidak boleh berdiri kelamaan sehingga diambil cara mendandani seperti begitu.
Wiwit menyiapkan berbagai keperluan mendandani wajah di sekitar tempat tidurnya.
"Kulitmu sekarang lebih halus merata say...kamu perawatan yah...,"kata Wiwit sambil memoleskan alas bedak ke wajah Mela.
"Ya gitu deh...kakaknya Anton itu loh cici Anita yang menyuruhku bahkan membayari semua biayanya, "sahut Mela dengan mata terpejam karena Wiwit mulai mewarnai kelopak matanya.
"Bagus dong keluarganya sayang kepadamu....jadi jangan khawatir... Anton pasti tidak akan berani macam-macam, " Wiwit membesarkan hati sepupunya.
Sekarang Mela sedang menata kerudungnya, wajahnya sudah dihias oleh Wiwit walau sederhana tapi memancarkan kecantikan dirinya.
"Waaaahhhh sudah cantik nih yang mau ketemu pacar...ehm...ehm...ehm...,"
kembali Surya menggoda sepupu istrinya.
Mela mendelik lalu mencebikkan bibirnya, Surya hanya tertawa-tawa saja melihatnya.
"Mela...bagaimana apakah Anton sudah bisa dihubungi?"wak Darma tiba-tiba bertanya dari depan pintu kamar.
"Belum wak...dari kemarin belum bisa saja,"jawab Mela sambil tampak kesal.
"Sudah kamu bersama wak dan Surya saja, nanti kalau Anton menghubungi tinggal minta menyusul ke lokasi,"wak Darma memutuskan seperti itu karena waktu sudah sangat mepet harus segera berangkat ke rumah orang tuanya Mela.
Mela pamit kepada Wiwit karena harus segera ke desanya untuk mengantarkan Rahman ke pernikahannya.
Surya mencium kening istrinya yang sampai saat ini masih harus terus beristirahat di kasur atau istilahnya bed rest, karena sama sekali tidak boleh banyak bergerak sebab kondisi kandungannya yang sangat rentan keguguran kalau sampai salah bergerak.
Tak lama mobil wak Darma meluncur menuju kampungnya Mela dengan Surya sebagai pengemudinya.
Lain dulu lain sekarang sudah menjadi menantu wak Darma, penampilan Surya jauh lebih rapih dan lebih santun.
Pagi itu wak Darma dan Surya memakai kemeja batik kecoklatan dengan corak mega mendung khas batik Cirebonan.
Mela sepanjang jalan masih mencoba menghubungi Anton atau Jaya, pesan chat yang terkirim hanya centang saja.
Lalu beberapa kali telepon namun terus tidak aktif. Kesal dan sebal rasa hatinya sekarang, wajahnya merengut cemberut di belakang.
Surya mengintip dari kaca spion tengah sambil tertawa kecil melihat sepupu barunya sedari tadi resah memikirkan kekasihnya.
Andai saja Mela tahu, pastinya dia akan jatuh pingsan, karena bersamaan saat itu di suatu tempat Anton dan Jaya sedang di bawah tekanan dan ancaman dari seseorang untuk menyuntikkan cairan yang mematikan kedalam tubuh seorang wanita yang sudah tak berdaya.
BRUUUKKKK!!!!
Anton jatuh tersungkur saat motor yang dikendarai Jaya tiba di teras depan rumahnya.
Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, seluruh tubuhnya seperti dibalut es sangat dingin sekali.
"Bro....bro...Astagfirullah...sadar .... sadar bro...nyebut bro...ya Allah ya Rabbi....,"Jaya segera menepuk-nepuk wajah sahabatnya itu dengan penuh rasa khawatir.
"Jaya...aku jahat Jaya...aku bodoh.... aku tak berguna...aku biadab!!!!"
Anton terisak sambil tangannya memukul-mukul lantai.
"Percuma aku jadi dokter... percuma..!!!" Anton begitu kesal dengan diri sendiri merasa tak berarti hingga bisa saja diperintah berbuat hal yang melanggar hukum dan merendahkan martabatnya.
"Sabar bro...Sabar...bukan salahmu... kalau aku diposisimu juga pasti akan melakukan hal yang sama bro...," Jaya berusaha menenangkan sahabatnya.
"Sel penjara menantiku Jaya... puluhan tahun vonis sudah terbayang olehku... lebih baik aku mati saja sekalian...,"
Anton terpukul dengan perbuatannya tadi, tapi dia tak bisa berbuat apapun selain melakukan apa kata kang Japar.
Ancaman keluarganya akan dibantai menjadi ketakutan tersendiri, sehingga terpaksa dia menyuntikkan cairan tadi ke tubuh istrinya Japar.
Dan dia dipaksa melihat bagaimana tadi istrinya Japar meregang nyawa karena dari suntikkan cairan pembunuh yang dia masukan ke tubuh wanita yang sudah tak berdaya itu.
Entah siapa yang sudah memalsukan tanda tangan dan juga membubuhkan cap atas namanya.
Entah siapa juga yang sudah berani mengeluarkan surat resmi dan berlogo puskemas Jamblang juga di sana ada tertera namanya sebagai pembuat surat itu.
Surat pernyataan kematian Sriningsih meninggal dunia karena serangan jantung, tertera hari dan tanggal juga jam kematiannya, dan yang membuat pernyataan adalah dokter Anton Wiharja lengkap dengan nomor induk registrasi kedokterannya.
"Bro...sudah bro...kita harus sabar... suatu saat pasti terkuak siapa yang menjadi pengkhianat di kantor kita... percaya padaku bro...jika kita saat ini bungkam pasti Japar juga pasti diam...".
"Hanya kebenaran harus diungkapkan... seiring berjalan waktu tetaplah kita lakukan yang terbaik untuk menebus kesalahan kita".
"Jangan patah semangat bro...kau ini dokter kesayangan ratusan pasien di puskemas kita. Tunjukkan dedikasimu...
Jangan patah semangat bro," Jaya terus memberi semangat kepada sahabatnya yang saat itu sangat terpuruk.
Anton lalu menyandarkan kepalanya ke tangan Jaya yang sedang memegang bahunya.
"Eeeemmm...tapi jangan begini juga bro...nanti orang sangka kita penyuka sesama...emang gue cowok apaan...," kata Jaya meringis dan dibalas Anton dengan menepis tangan Jaya dari bahunya lalu dia tiup-tiup bahunya.
Matahari sudah mulai condong ke barat, tapi acara pernikahan belum selesai. Memang kalau di daerah Cirebon dan sekitarnya pesta pernikahan bisa saja berlangsung sehari semalam lamanya.
Karena kebanyakan resepsi diadakan di rumah pengantin wanita sehingga waktu penyelenggaraannya tidak dibatasi kecuali diadakan di gedung sewaan pasti ada pembatasan jamnya.
Anton dan Jaya tertidur di sofa karena kelelahan sampai menjelang sholat Ashar, mereka baru terbangun dan segera menyalakan telepon genggam yang sedari kemarin padam.
Saat telepon genggamnya mulai aktif, masuklah berbagai pesan baik pesan chat, sms, sosial media dan lainnya.
Disitulah mereka baru sadar kalau hari ini sehausnya ada janji dengan Mela akan mengantarkan keluarganya Mela ke pernikahan adiknya.
Mereka tersentak terutama Anton yang menjadi sangat tidak enak hati.
"Bro..sudah kita sekarang datang kesana, Mela mau marah atau tidak sudah kita terima saja. Yang pasti kita tetap simpan masalah ini sementara, jangan sampai mereka tahu, "kata Jaya mengajak sahabatnya itu untuk segera bersiap menghadiri acara pernikahan adiknya Mela.
Anton setuju lalu segera membersihkan diri dan bersiap langsung berangkat menuju ke acara pernikahan Rahman.
Sepanjang jalan Anton masih terlihat resah, bagaimana tidak tadi pagi ada kejadian yang begitu berat yang harus dia tanggung selamanya.
Memang hal itu terjadi atas desakan permintaan orang, tapi semuanya melanggar kode etik kedokteran yang harus dia pegang teguh selama dia bertugas sebagai dokter.
Dia banyak diam dan Jaya memahami dengan apa yang dirasakan oleh Anton. Dia juga merasa tidak enak hati atas kejadian itu, dia diam-diam akan menyelidiki dan melaporkan kejadian ini suatu saat nanti kepada polisi.
Selama ini memang polisi sudah cukup kesulitan melacak rumah Japar, walau banyak yang bilang kalau rumahnya sangat dekat dengan polsek setempat.
Pagar rumah yang panjang dilengkapi dengan perangkat elektronik. Terlihat dari luar di satu sisi merupakan besi, di sisi lain adalah tembok.
Sesungguhnya tembok itu menyatu dengan sebuah pagar lainnya.
Sepanjang muka rumah sesungguhnya ada dua jajar pagar elektronik, setiap malam keduanya bergerak. Misalkan hari ini tembok ada di kiri, besok hari ada di kanan bergantian terus setiap hari.
Dan setiap malam juga ada tim khusus yang mengubah tampilan tembok yang menempel di pagar itu. Tujuannya untuk mengecoh orang yang akan mencari tempat tinggalnya.
Akhirnya Mela membawa Rahman adiknya dan ibunya dengan mobil wak Darma menuju ke rumah pengantin wanita.
__ADS_1
Banyak rombongan pengantar dari pengantin pria, termasuk Aris anak kuwu Bahar.
Aris yang sudah lama mengejar cinta Mela mulai berulah ketika dilihatnya Mela hanya sendirian tidak ditemani kekasihnya.
"Hhhmmm mana pacarnya.... putus yah...kesian amat nasibmu....susah- susah cari dokter ...eh dapat yang cacat...ngapain cari suami cacat....cari yang sempurna dong...contohnya aku...,"ledek Aris kepada Mela yang hanya didiamkan saja oleh Mela.
Tak lama rombongan meluncur menuju rumah pengantin wanita.
Berbagai macam seserahan dibawa oleh keluarga besar pengantin pria.
Ada pakaian, perlengkapan dalam, tas sepatu, wewangian bahkan ada juga perabotan-perabotan rumah tangga seperti kompor, gelas, piring makan dan lain-lain.
Beda kampung beda adat juga, bahkan ada yang lebih ruwet sampai membawa lemari, sofa dan ranjang.
Setibanya di rumah pengantin wanita ada adat bertukar pantun, pihak wanita menyampaikan pantun pertanyaan apa maksud kedatangan keluarga pria kemari.
Lalu dari pihak pria menyahut bahwa tujuannya mengantarkan Rahman untuk menjadi pendamping Atikah.
Setelah itu ada tradisi penyambutan bebawaan seserahan dari pihak pengantin pria untuk diserahkan kepada keluarga pengantin wanita.
Tak lama Rahman duduk di hadapan penghulu disandingkan dengan Atikah.
Selesai ijab kabul kedua pengantin melakukan sungkeman kepada orang tuanya masing-masing.
Dan khusus untuk Mela, keduanya memberikan satu paket baju kebaya modern berwarna merah dilengkapi sepatu dan tas dengan warna yang senada sebagai tanda pelangkah.
Setelah itu dimulailah meja prasmanan dibukakan untuk tamu dan pihak keluarga Mela dipersilahkan terlebih dahulu menikmati hidangan yang sudah disediakan.
Sambil tamu undangan makan dihibur oleh organ tunggal dan penyanyi dangdut, ada salah satu keluarga pengantin wanita menebarkan saweran uang ke penyanyi dangdut juga kepada orang-orang yang sedang berjoget.
Riuh kerumunan orang di bawah panggung berebutan uang saweran semakin menambah semarak pesta pernikahan itu.
Sampai setelah Ashar masih belum ada kabar dari Anton, dan telinga Mela semakin panas dengan sindiran dari Aris yang terus meledeknya karena ketidakhadiran Anton.
Sementara Wahyu adik bungsunya pamit kepada ibu dan kedua kakaknya, sore itu juga untuk kembali ke Bandung. Dia merasa tidak enak bila harus cuti lama-lama karena dia sudah tidak ada kepentingan lagi.
Selagi Mela diam duduk sendiri sambil melihat orang-orang sedang berjoget dangdut, tiba-tiba ada yang memegang bahunya dan dia sangat terkejut sekali.
Saat menoleh ke belakang ternyata pria kecintaannya yang memegang bahunya barusan itu.
Antara kesal, sebal tapi rindu setengah mati mengisi hatinya, lalu dia segera berdiri mendekati Anton lalu mencubit lengannya.
"Ampun ya Allah...kamu kemana saja... Masyaallah...aku sampai kesal sekali menghubungimu, "jarinya masih belum bergerak mencubit lengan dan tangan lainnya meraih bahu Anton untuk dia berbisik mengutarakan kekesalannya.
Sambil meringis dan badannya condong miring ke arah Mela, dia berkata," Aku sibuk beneran...tanya Jaya...suwer... sibuk sekali".
Lalu Mela menghempaskan tangan Anton dan sambil tetap cemberut dia bertanya," Kalian sudah makan belum?...Kalau belum ayo aku antar mengambil makanan".
"Belum dong...ayo antar dong...tapi gandeng tanganku yah...,"goda Anton kepada Mela yang masih cemberut.
Mela langsung nyengir dan mencebikan bibirnya lalu bergegas menuju meja prasmanan.
Jaya menyenggol Anton sambil kepalanya menunjuk ke arah Mela.
"Ngamuk yah bro....hihihi...".
"Biasa cewek nanti aku rayu juga luluh... hihihi..," lalu Anton dan Jaya cekikikan melihat Mela yang bertampang masam.
Untuk menuju ke meja prasmanannya, mereka harus melewati pelaminan.
Dan keduanya memberikan selamat kepada kedua mempelai, sambil Anton memohon maaf kepada ibunya Mela karena tadi pagi sempat salah janji.
Namun ibu Sinah mengatakan tidak masalah asalkan nanti hari sabtu saat Mela wisuda jangan sampai terlupa. Antonpun menyanggupi dan berusaha akan menepati janjinya.
Keduanya lalu mengambil makanan dari meja prasmanan dan mereka makan dengan lahap karena sejak siang tadi memang belum ada makanan masuk.
Apalagi setelah kejadian tadi, membuat selera makan hilang, tapi Anton terus berusaha melupakan dulu sejenak permasalahan dirinya.
Walau rasa salah masih menggelayut tapi dia berusaha untuk tetap tenang dan tegar.
Sambil makan Anton dan Jaya melihat Aris sedang berjoget di atas panggung.
Hari menjelang sore sehingga tidak banyak tamu, sehingga hampir semua tamu yang berjoget adalah masih dari kerabat kedua pengantin.
Anton sedang menikmati makanan penutup yaitu buah-buahan dan es krim yang dibawakan oleh Mela.
Tiba-tiba dari arah panggung namanya dipanggil oleh sang biduan.
"Bang Anton....bang Anton... maju bang....joget bang... maju... maju...!!!" panggil biduan dengan suara genit menggoda sambil melambai ke arah yang namanya disebut.
Pengantin juga mendukung dengan meminta Anton untuk bergoyang bersama biduan di atas panggung.
Mela tertawa-tawa sambil menarik tangan Anton untuk maju naik ke atas panggung, tentu saja Jaya juga mendukungnya.
Mau tak mau akhirnya Anton beranjak naik juga, dan serentak semua riuh menyambutnya.
"Abang mau lagu apa bang?"tanya biduan dengan suara manjanya.
"Wah bebas deh...saya tak paham lagu dangdut,"jawab Anton dengan kaku di atas panggung tapi yang melihat menjadi tertawa karena nyata Anton sangat salah tingkah.
"Kalau begitu lagu bang Mandor saja yah bang...tapi saya ganti ah jadi bang Anton yaaahhh," kembali biduan manja menggoda itu menawarkan lagu dan mengganti liriknya menjadi bang Anton.
Lalu musik mulai dimainkan dan biduan mulai bernyanyi,"Duh bang Anton...kok Abang belum melamar.....".
Anton terpaksa bergoyang dengan gayanya yang kaku jadi tampak seperti robot. Membuat semua yang melihat tertawa terbahak-bahak...Anton juga diminta untuk mengeluarkan uang saweran...untung Jaya paham segera dia mengeluarkan uang lima ribuan dari dompetnya.
Anton meraih dan dia berikan kepada biduan sambil joget bergoyang. Mela tertawa sampai keluar air matanya karena melihat kekasihnya berjoget dengan badan kaku seperti itu.
Benar-benar seperti robot dalam film-film di televisi.
Ketika sedang ramai melihat Anton berjoget, tanpa diundang naiklah Aris ke atas panggung.
Matanya terlihat merah seperti habis mengkonsumsi minuman keras.
Aris naik panggung dan berjoget seperti orang kesurupan. Aksi jogetnya mulai menendang-nendang ke arah Anton.
Anton berusaha menghindar, tapi Aris terus berjoget dengan gerakannya yang kasar berusaha mendesak jatuh dan menendang ke arah tempat Anton berdiri.
Surya datang menghampiri karena mulai mencium gelagat tidak baik.
Segera dia naik ke atas panggung, dia berjoget tapi gerakannya mencoba menghalangi tendangan Aris ke arah Anton.
Mela juga merasa Aris seperti akan membuat kekacauan, dia segera bergerak menghampiri panggung mendekati Anton berdiri.
Dari bawah dia mencoba berteriak memperingatkan Anton agar segera turun saja.
Namun suara sound speaker sangat kencang ditambah orang-orang riuh bersorak-sorak jadi teriakan Mela tidak terdengar.
Posisi tubuh Anton menyamping ke arah kiri, dan Aris tampak paham kalau sisi kiri Anton adalah titik lemahnya.
Di suatu kesempatan Aris berlagak berjoget tapi sikutnya mengenai wajah Surya sehingga dia tersungkur jatuh.
Lalu kaki nya menendang tubuh Anton, kaki palsu Anton tidak bisa segera menahan dirinya maka serta merta dia limbung jatuh ke bawah panggung
Untung di bawah panggung tempat Anton berdiri ada Mela, dengan sigap Mela menangkap dan menahan tubuh Anton yang beratnya dua kali tubuhnya.
Sehingga Anton tidak terjerembab jatuh ke tanah.
Jaya melihatnya dan segera menolong Mela dan Anton.
Biduan masih bernyanyi menyelesaikan lagunya, Jaya dengan geram naik ke atas panggung dan dia berjoget.
Sambil tangannya menarik Surya untuk berdiri, lalu di suatu kesempatan dia bergaya pencak silat seakan mengikuti irama lagu dan tanpa diduga dia segera meluncurkan kepalan tangannya ke arah muka Aris hingga jatuh di atas panggung itu.
Hal itu terjadi bersamaan saat lagunya selesai dinyanyikan , dan Aris bangkit sambil terlihat kesal kepada Jaya.
"SITU SIAPA??? NGAJAK URUSAN SAMA KITA???"teriak Aris kepada Jaya di atas panggung.
"Situ juga ngajak urusan sama kita... tadi situ menyikut teman saya lalu menendang teman saya satu lagi,"
jawab Jaya dengan santai.
"Itu gerak Jaipong pencak silat...paham tidak...ya... kalau ada yang kena sikut atau tendangan itu wajar tahu!!!" Aris bernada kasar kepada Jaya.
"Sama dong...saya juga barusan menari Jaipongan pencak silat... jadi situ tidak usah marah dong kalau kena pukul barusan, "Jaya tak kalah pintar dalam menghadapi Aris.
"Hhhmmm....nantang kita ceritanya... ayo kita joget Jaipong lagi....kita bikin serius.... Joget sampai ada yang jatuh tersungkur jatuh dari panggung,"tantang Aris kepada Jaya sambil mendekatkan wajahnya ke depan hidung Jaya.
__ADS_1
"Siapa takut...tapi...yang tersungkur bayar dua ratus ribu untuk biduan....deal tidak?"tantang balik Jaya kepada Aris.
"Oke deal....,"sahut Aris dengan wajah sombong.
"Neng....Koplo Jaipong neng...!!! Nanti ada saweran besar buat neng!!!!"teriak Jaya kepada sang biduan.
Lalu musikpun mulai mengalun dengan nada menghentak, keduanya mulai berjoget Jaipong dengan gerakan pencak silat.
Aris tak paham kalau Jaya terakhir saat sekolah sudah menyandang sabuk biru tanda dia sudah termasuk golongan senior dalam pencak silat.
Sementara Aris hanya sok-sok an saja, dia tak pandai bela diri hanya bersikap seolah dirinya jagoan.
Aris bergerak berusaha menendang ke arah Jaya, tapi dengan lincahnya bisa mengelak dari tendangannya.
Beberapa kali Aris membuat gerakan memukul dan menyikut Jaya, tapi ya itu kembali bisa ditepis dengan gaya yang tidak kentara kalau mereka sebenarnya sedang serius berkelahi.
Orang - orang yang melihat tidak ada yang paham mereka sedang beradu fisik di atas panggung , seakan sedang menari Jaipong pencak silat.
Aris terus berusaha menendang dengan membabi buta, namun karena gerakan kaki nya ada yang salah maka dengan mudah Jaya menepis dan mendorong hingga dia terjengkang dari panggung.
Semua orang berteriak melihat Aris yang hendak tersungkur dari panggung. Dia juga sudah pasrah kalau dirinya akan jatuh, dan dia menutup matanya.
Namun hingga beberapa detik dirinya serasa mengapung di udara, tidak sampai tubuhnya menyentuh tanah tapi dia menggantung di antara panggung dan tanah.
Jaya terlihat sedang menarik belakang kemejanya Aris dan segera menariknya naik lagi.
Aris tersengal dan dia merasa malu juga kesal kepada dirinya sendiri.
Jaya tersenyum miring dan tangan kanannya dia tengadahkan menagih uang kepada Aris.
Sambil kesal Aris membuka dompetnya dan mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu lalu disimpan di tangan Jaya.
Jaya lalu memberikan uang itu kepada sang biduan, para tamu yang melihat bersorak bertepuk tangan serasa disuguhkan aksi pencak silat sambil menari oleh yang punya hajat.
Sesampainya di bawah Jaya disambut oleh Anton, Surya dan Mela sambil tertawa-tawa.
"Berani sekali orang itu.. Jaya dilawan hahahahahaha".
Malamnya pesta pernikahan berakhir, ibu Sinah dan Mela berpelukan dengan Rahman.
"Ang Mela...cepat menyusul yah...maaf hadiah pelangkahnya bukan barang mahal...,"kata Rahman sambil memeluk erat sang kakak.
"Idiiihh kamu yah...orang aku suka loh diberi kebaya yang bagus...makasih yah...buat besok aku pakai wisuda," sahut Mela dengan gembira.
Lalu Atikah juga berpelukan dengan Mela," Mba...cepat menyusul kami mba....maaf Atikah mendahului".
"Tikah....aku bahagia punya adik perempuan sekarang, Kalian yang akur yah...samawa selamanya...,"ujar Mela sambil memeluk Atikah dan Rahman yang hari ini sudah resmi menjadi suami istri.
Wak Darma dan Surya sudah lebih dulu pulang karena Wiwit menelpon suaminya minta segera dibawakan pepes intip tahu karena sudah sangat ngiler sekali. Maklum orang hamil pasti kalau ingin makan sesuatu tidak bisa ditahan keinginannya.
Mela dan ibunya pulang bersama Anton dan Jaya.
"Bu maaf yah saya tadi pagi tidak bisa mengantar karena benaran masih ada kesibukan,"kata Anton mengulangi lagi permintaan maafnya.
"Laaahhh...nak Anton ini...Orang sudah beres kok...kenapa dipikirkan segala," sahut ibu Sinah tidak ambil pusing dengan keterlambatan Anton.
"Cuma nanti hari sabtu ibu mau minta tolong merepotkan nak Anton, minta menemani Mela wisuda,"lanjut ibu Sinah memohon bantuan Anton.
"Insyaallah bu saya usahakan, tadi saja sudah ada yang bibirnya maju lima senti, kalau sabtu saya lupa mungkin majunya dua puluh senti,"sahut Anton sambil iseng menyindir Mela.
Yang merasa tersindir reflek mencubit lengan kekasihnya sambil berkata," Kamu juga yang bikin kesal tidak bisa dihubungi, sampai aku kira kamu digondol suster ngesot".
Jaya dan ibu Sinah sontak tertawa mendengar keributan kecil pasangan itu.
"Suster ngesot tidak akan pilih aku lah...sukanya sama cowok seperti Jaya...hahahaha".
"Loh...kok Aku yang kena sasaran.... hahahaha," Jaya protes karena namanya terbawa-bawa.
Mela dan ibu Sinah menginap di rumah Wak Darma malam ini. Anton dan Jaya turun untuk sekedar bertandang ke rumah pak Darma.
"Pak Darma...maaf saya mau bicara," kata Anton kepada haji Darma.
"Waduuuhhh...masa panggil pak... panggil aku Wak Darma...kau nanti juga akan menjadi menantu keponakanku," kata Wak Darma sambil menepuk bahu Anton dan mempersilahkan duduk bersamanya.
"Ada apa Anton...coba kau sampaikan saja".
"Hhhmmm...begini wak...saya ada rencana ingin memperbaiki rumah Mela di kampung sana. Kebetulan saya ada sedikit tabungan siapa tahu cukup untuk biaya perbaikannya,"kata Anton menjelaskan niatnya kepada Wak Darma.
"Haaahhh kebetulan sekali, Aku juga ada rencana seperti itu, bahkan wak sudah menyiapkan tukangnya".
"Rencananya wak membangun tanah di belakang menjadi satu rumah lagi. Kasihan Rahman belum mampu membeli rumah, daripada menyewa lebih baik dibuatkan di belakang," Wak Darma mengutarakan rencananya kepada Anton.
"Ide bagus wak, saya juga setuju. Jadi setidaknya nanti ada yang membantu mengawasi bunya, "dukung Anton kepada Wak Darma.
"Sudah begini saja Anton, kamu punya budget berapa....nanti dari wak ada berapa kita gabungkan. Biar wak yang atur yang penting kamu percaya saja wak yang kerjakan," wak Darma menyampaikan idenya lagi.
"Tentu saya percaya wak, makanya saya memberanikan diri bicara kepada Wak," Anton dengan santun kembali menyetujui saran tersebut.
Antonpun menyebutkan sejumlah nominal kepada Wak Darma, dan beliau menyetujuinya. Lalu dengan gawainya Anton melakukan E-Banking ke rekening wak Darma, setelah nilai berpindah rekening lalu terlihat keduanya bersalaman.
"Mela...besok sore kamu dan ibu menginap saja di rumahku. Jadi sabtu pagi bisa langsung berangkat dari rumahku saja,"ajak Jaya kepada Mela.
"Hhhmmm...harus tanya ibu dulu mau tidaknya. Tapi di rumah mas Jaya ada kamar untuk kami kan???...,"tanya Mela sambil menggaruk kepalanya.
"Makanya aku mengajak itu karena ada dong....aduh....Neneng ini cantik-cantik tapi lambat mengunduh yaaahhh...," celetuk Jaya dengan nada meledek.
"Bilang aja LOLA....loading lambat.... udah biasa....itu cowok yang sedang bicara sama Wawak aku juga sering bilang begitu....Sebal deh..,"Mela mengomel kesal diledek seperti itu.
"Eits...jangan marah dong...kalau kenyataan...hahahaha,"ledek Jaya lagi sambil tertawa.
Otomatis Mela jadi manyun lagi.
"Ada apa sih ini...dari tadi berantem terus...kamu itu masih saja seperti anak kecil...sedikit- sedikit marah...kenapa sih...,"ibu Sinah tiba-tiba masuk dan menegur anak gadisnya yang dari tadi terdengar mengomel terus.
Mela terdiam dan menunduk saat ibunya menegur.
"Ingin segera dinikahkan dia itu... hahahahah," wak Darma tiba-tiba ikut nimbrung dan ikutan meledek Mela.
Mela tambah merah wajahnya karena kesal dan malu.
Anton hanya senyum-senyum saja melihat kekasihnya yang memang suka manja merajuk.
"Wak Darma, saya mohon maaf saya besok sore berencana membawa Mela dan ibu ke rumahnya Jaya. Agar sabtu pagi langsung berangkat ke tempat Mela wisuda,"Anton memohon ijin kepada Wak Darma lagi.
"Silahkan kalau ibu Sinah mau yah silahkan,"sahut Darma kepada Anton.
"Ya benar bu, sekalian nanti sabtu juga ibu ikut kami ke Bandung. Nanti berkenalan dengan orang tua saya,"Anton juga memohon ibu Sinah agar bersedia menerima ajakannya.
Ibu Sinah menatap Mela sambil bertanya,"Priben nok...beli apa-apa tah ...?".
(\=bagaimana nak....tak apa-apakah)
"Terserah mimi bae, Mela nurut bae,"jawab Mela menyerahkan lagi kepada ibunya.
"Ya sudah boleh saja, cuma mungkin ibu harus pulang dulu ke kampung karena cuma membawa baju ganti sedikit,"kata ibu Sinah tiba-tiba ingat tidak membawa banyak pakaian ganti.
"Sudah nanti aku ambilkan beberapa baju Atin....aku tahu yang mana yang sudah tidak dia pakai lagi...Nanti kau bawa saja Sinah,"Darma memberikan solusi kepada adiknya.
Dan Sinah akhirnya menurut apa kata kakaknya.
Tak lama Anton dan Jaya berpamitan pulang dan berjanji besok hari jumat sore akan menjemput Mela dan ibunya menginap di rumah Jaya.
"Bro...sabtu sore kamu ikut ke Bandung yuk..setelah selesai Mela wisuda,"ajak Anton kepada Jaya untuk beserta ke Bandung.
"Ah nanti aku jadi obat nyamuk... malaslah... ,"tukas Jaya sambil menyetir.
"Bro...nona dan ibunya disimpan di markas besar...kita nanti menginap di rumah orang tuaku di bukit...dingin Bro...kita begadang yuk," ajak Anton kepada sahabatnya lagi.
"Nanti orang tuamu bagaimana kalau aku menginap di sana?"tanya Jaya ragu- ragu.
"Mereka baru perjalanan pulang dari Garut juga sabtu malam Bro... santailah mereka orangnya asik kok,"kata Anton sambil memberitahukan kalau orang tuanya tidak akan banyak urusan.
"Okelah kalau begitu...tapi kasih tahu tempat banyak cewek cantik yah...awas saja kalau kau bohong,"ancam Jaya kepada Anton sambil menggodanya.
"Siaaaaappppp.....!!!!".
Dan keduanya tertawa- tawa di dalam mobil sambil melaju menuju kediaman mereka.
__ADS_1