Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keempat Puluh Dua


__ADS_3

Suasana puskesmas tampak ricuh, ada wartawan yang mewawancarai kru puskesmas terutama yang menjadi sasaran pertanyaan adalah Pak Tarmidi sebagai ketua di sana.


Wartawan menanyakan kebenaran tentang dokter yang telah melakukan pembunuhan.


Pihak puskesmas jelas menyangkal karena kejadian kemarin adalah benar pasien meninggal alami, dan pihak keluarga pasien juga ada di dalam ruangan tersebut.


Bahkan anak muda yang melakukan ancaman kepada dokter Anton juga hadir saat pasien meninggal dan tahu bahwa pasien yang merupakan kakeknya meninggal secara natural.


Namun motif yang dilakukan anak itu untuk mengancam dokter Anton dan salah satu karyawan puskesmas lainnya yaitu Jaya, belum diketahui apa yang mendasarinya.


Hanya keterangan dari beberapa masyarakat yang sempat melihat kejadian tadi pagi, sempat terdengar ada sejumlah nilai rupiah yang diminta oleh salah satu teman dari cucu pasien yang kemarin meninggal kepada dokter Anton.


Sampai saat ini keberadaan dokter Anton dan Jaya masih belum diketahui oleh siapapun karena terakhir terlihat mereka melarikan kendaraannya karena dikejar oleh cucu pasien berikut teman-temannya.


Fajar menanyakan kepada Mela kapan terakhir mereka saling berkomunikasi, karena sampai hari Rabu pagi ini Anton masih sulit dihubungi.


Sementara Fajar membaca berita bahwa di kota Cirebon kemarin ini telah terjadi kerusuhan di salah satu puskesmas yang melibatkan nama dokter AW dan karyawan administrasi bernama JP, mereka berdua hendak di keroyok oleh keluarga pasien yang diduga meninggal di tangan dokter AW.


Salah satu keluarga pasien yaitu cucunya merasa tidak terima sehingga menuntut ganti rugi kepada dokter AW sejumlah nominal tertentu.


Namun dokter AW yang merasa sudah melakukan tindakan sesuai prosedur kedokteran dan pasien juga dinyatakan meninggal dunia alami, menolak untuk memberikan sejumlah uang yang diminta tersebut.


Namun keluarga pasien tersebut memaksa sehingga terjadi baku hantam di halaman puskesmas antara dokter, karyawan puskesmas dan keluarga pasien. Bahkan keluarga pasien saat mendatangi puskemas dengan senjata tajam lengkap seperti pisau, parang, rantai besi dan sejenisnya.


Dokter AW yang sempat didorong oleh salah satu pengancam sampai kaki palsunya terlepas. Namun kaki palsu tersebut akhirnya digunakan untuk membela dirinya dari hujaman pisau yang akan ditancapkan oleh pengancam tadi.


Sampai saat ini keberadaan dokter AW dan JP masih belum diketahui karena terakhir mereka melarikan diri dari amukan keluarga pasien yang semakin menjadi dengan sepeda motornya.


Fajar membaca berita itu melalui gawainya saat dia melihat sumber berita terpercaya memuat berita itu.


"Terakhir saya dan Anton saling telepon hari senin siang, lalu mulai sore harinya sampai pagi ini masih sulit dihubungi. Kata Jaya masih sibuk ada acara,"Mela menjelaskan dengan polosnya, menunjukkan dia amat jarang melihat atau membaca berita terkini.


Fajar menganggukan kepalanya dan mempersilahkan Mela kembali bekerja. Dia juga paham istrinya belakangan ini sibuk dengan pekerjaan dan juga anak bayi mereka, sehingga jarang juga membaca berita. Dan sekarang Fajar mulai khawatir kalau sampai mertuanya mengikuti berita terkini, bagaimana cara menjelaskannya sementara dia sendiri masih tidak tahu pasti harus bagaimana.


Jaya memasuki halaman kantor Polisi sambil membonceng Anton di belakang motornya.


Lalu setelah parkir mereka segera menghadap polisi yang berjaga di pos depan.


Mereka melaporkan bahwa telah terjadi tindakan pengancaman dan juga pemerasan yang dilakukan sekelompok anak muda yang mengaku keluarga dari pasien yang sehari sebelumnya telah meninggal dunia di puskemas Jamblang.


Yang sedang berjaga hari itu adalah BRIPTU Baskoro bersama dengan ABRIP Doni. Lalu Jaya dan Anton juga diberikan beberapa pertanyaan mengenai kebenaran kasus itu, apakah mereka sebenarnya pelaku atau mereka benar korban.


"Apa benar anda yakin bahwa pasien yang anda tangani meninggal secara alami dan tidak ada unsur kekerasan yang mendasarinya?"tanya BRIPTU Baskoro kepada Anton penuh selidik.


Anton kembali menjelaskan kejadian kemarin sore secara detail, bahkan dijelaskan saat itu keluarga pasien juga hadir di ruangan dan menyaksikan bahwa kakek Sapto meninggal dunia sesuai dengan kehendak Ilahi bukan karena salah tindakan atau sejenisnya.


Karena melibatkan nama lain yaitu Rizal dan juga kepentingan penyelidikan ke TKP, sementara Anton dan Jaya diamankan di Polsek tersebut.


BRIPTU Baskoro segera melaporkan kepada atasannya yang saat itu berada di kantor yaitu AIPTU Novan yang hari itu diberi wewenang, karena siang itu Kapolsek dan perwira lainnya sedang ada urusan lain ke POLRES di kota.


AIPTU Novan segera memerintahkan BRIPTU Baskoro untuk segera ke tempat kejadian perkara mencari informasi yang lebih akurat serta melakukan penyelidikan lebih detail atas beberapa nama terkait yang harus segera dituntaskan.


Japar tidak pergi kemana-mana, dia melangkah ke bangunan kecil mirip ruangan kamar yang terletak di halaman belakang rumahnya.


Ruangan itu memang benar sebuah kamar, di dalamnya dilengkapi AC dan ada tempat tidur besar serta sebuah kamar mandi. Disekeliling kamar itu adalah taman bunga kecil yang sedang mekar berwarna-warni.


Saat Japar membuka kamar itu, terlihat seorang wanita yang hampir seusianya yaitu sekitar awal empat puluh tahunan. Wanita itu tergolek tak sadarkan diri, hidupnya dibantu alat ventilator karena sudah tidak bisa bernafas sendiri.


Wanita itu adalah Sriningsih, istri kesayangannya yang telah melahirkan dua orang anak baginya. Sriningsih kedapatan kanker otak stadium akhir, setelah menjalani beberapa operasi namun tetap tidak bisa memulihkan kesehatannya.


Sudah hampir satu tahun lamanya hidup seperti itu, tidak sadarkan diri namun masih bernafas. Dokter sudah angkat tangan, hanya tinggal waktu saja yang menjemputnya atau keajaiban dari Tuhan yang bisa menyadarkannya.


Japar hanya bisa memandangi wanita yang pernah memberikan kebahagiaan dan juga menemaninya sekian tahun lamanya dalam suka dan dukanya.


Kedua anak Japar tinggal di luar negeri, yang sulung seorang wanita sudah berumah tangga dengan orang Australia, sementara anak keduanya seorang lelaki masih menimba ilmu di negara Jerman.


Dia memejamkan matanya, lalu tampak berpikir. Setelah itu dia menelepon seseorang dan memintanya melakukan sesuatu.


Tak hanya itu, kemudian dia juga menelpon orang lain lagi memesan sesuatu.


Setelah dia seperti melakukan transaksi bank melalui gawainya, membayar sejumlah nilai uang yang diminta oleh orang yang hendak menjual barang sesuai pesanan Japar.


Kemudian setelah beres dia mengecup kening istrinya dan keluar dari kamar tersebut, dan dimuka pintu dia berpesan kepada perawat profesional yang selama ini merawat istrinya untuk tidak membiarkan orang lain masuk selain dia dan perawat itu.


Anton dan Jaya sementara diamankan di Polsek tersebut, selain khawatir dengan keselamatan mereka juga karena saat ini sedang berlangsung penyelidikan atas pelaporan yang mereka sampaikan ke kepolisian setempat.


Dan memang hari itu puskemas tidak bisa menjalankan operasionalnya dengan semestinya. Selain ramai oleh wartawan, juga sekarang pihak kepolisian juga datang.


Rizal yang pertama diinterogasi karena saat kejadian kakek Sapto meninggal diketahui ada dirinya terlibat di ruangan praktek Anton


Pak Tarmidi tak mau ambil pusing, dia meminta salah seorang karyawan untuk menjemput Karno selaku anak pasien yang kemarin meninggal di tempat itu.


Pihak puskesmas meminta Karno sebagai saksi kunci bahwa kematian kakek Sapto adalah sewajarnya bukan karena salah tindakan atau kesengajaan yang telah dilakukan oleh dokter Anton.


Karno justru terkejut mendengar kisah bahwa anaknya telah melakukan tindakan tidak terpuji tadi pagi bersama kawan-kawannya.


Karno juga sangat menyesalkan perbuatan Romi anaknya, namun saat ini Romi masih tidak diketahui berada dimana setelah terakhir banyak saksi mengatakan dia dan kawan-kawannya mengejar dokter Anton dan Jaya.


Sementara di suatu tempat ada seorang ahli kimia ilegal sedang menyiapkan pesanan Japar, mencampurkan beberapa senyawa kimia yang akan membuat jantung dan otak berhenti bekerja. Saat ini campuran senyawa itu sedang dikemas dan siap dikirimkan.


Suasana puskesmas memang sangat berantakan. Namun pak Tarmidi beserta kru mulai merasa tenang karena mendengar Anton dan Jaya sudah berada di tempat yang aman.


Namun saat ini masih berlangsung interogasi yang dilakukan oleh BRIPTU Baskoro yang ditemani ABRIPDA Samsul yang bertugas mencatat dan memfoto tempat kejadian perkara.


Tanpa mereka sadari ada seseorang karyawan dalam puskesmas dengan begitu tenang melakukan sesuatu. Orang itu mengetik sesuatu dan mencetaknya, kemudian masuk ke ruangan praktek Anton. Diam-diam membuka laci kerja Anton dan membubuhkan cap yang tertera nama dan nomor registrasi kedokterannya.


Setelah itu dia melihatnya dan dimasukan kedalam sebuah amplop.


Tindakannya begitu tenang sehingga tak satupun orang yang mencurigai dirinya.


Anton dan Jaya bermalam di kantor polisi, sementara Jaya harus mengangkat telepon genggamnya Anton dan menjawab setiap penelepon masuk dengan menyampaikan bahwa Anton sedang sibuk sekali.


Mela, Anita dan beberapa orang lainnya menghubungi Anton untuk kepentingan masing-masing. Setiap Jaya menjawab seakan Anton dalam kondisi baik-baik saja namun sedang sangat sibuk sehingga memintanya untuk membantu menjawab panggilan telepon.


Padahal Anton sedang tergolek di dalam sel yang tidak terkunci. Kepalanya sakit sekali namun pihak kepolisian belum bisa memulangkan mereka selain alasan keselamatan karena dikejar komplotan yang belum tertangkap, juga alasan penyelidikan yang belum tuntas.

__ADS_1


Jaya juga merasa lelah, tapi dia kasihan melihat kondisi sahabatnya. Lalu dia menyelonjorkan dirinya di atas lantai sel tersebut sambil sesekali menjawab panggilan dari Handphonenya Anton.


Sementara anak-anak galau dan kacau masih berada di rumah Japar. Mereka ditempatkan di suatu ruangan, diberi makan dan minum dipersilahkan menonton televisi yang memuat film-film aksi. Tapi tidak bisa keluar dari tempat itu.


Hari berganti, AKP Rudi Banjarnahor tampak memeriksa berkas yang disampaikan oleh anak buahnya dan dengan cermat membacanya.


Beliau sambil membaca berkas lalu menatap kepada Anton.


"Saudara Anton anda seorang difabel?" tanyanya dengan tatapan lurus ke mata Anton.


"Betul pak, saya telah kehilangan kaki beberapa tahun lalu karena kecelakaan," jawab Anton dengan sopan.


"Coba aku lihat kaki palsunya, boleh bukan?" tanya pak Rudi lagi dengan antusias.


"Silahkan pak,"Anton lalu menyingkap celana panjang bagian kirinya.


AKP Rudi merunduk sambil tangannya mengetuk-ngetuk kaki palsu tersebut.


"Wah ini mahal yah...pasti yang buatan Jerman yah, lain ini materialnya,"kata beliau sambil mengetuk kaki palsu tersebut.


"Bukan pak, bukan buatan luar negeri. Asli produksi buatan Indonesia, hanya memang materialnya dari serat karbon jadi lebih ringan dipakai melangkah, cuma memang harganya lumayan tinggi. Tapi bahan ini yang paling nyaman selama saya gunakan," Anton menyampaikan tentang kaki palsunya kepada AKP Rudi.


"Yah benar...adik saya juga pengguna kaki palsu dengan serat kelapa ciptaan orang Maluku, tidak mahal tapi nyaman juga dikakinya,"AKP Rudi menceritakan adiknya yang juga difabel.


Lalu mereka berdua saling bercerita soal kaki palsu dan macam-macamnya. Ada yang seperti Anton pakai dengan berbentuk seperti kaki, ada juga yang sebagiannya menggunakan stainless.


Dibeberapa negara maju bahkan sedang diadakan penelitian kaki palsu ditanam ke dalam tubuh, namun itu masih perlu dipertimbangkan karena menanamkan bahan tertentu kedalam tubuh belum tentu setiap tubuh bisa menerimanya.


Jaya tertegun melihat keduanya saling berbincang, seakan tidak membahas kalau mereka sedang dirudung masalah karena ada tuduhan yang tidak jelas.


"Kalian tidak bersalah, tapi kami akan membantu mengawasi agar kalian tetap aman. Kami akan meningkatkan pengawasan agar anak-anak bengal itu bisa segera kami amankan,"kata AKP Rudi akhirnya membahas juga masalah mereka.


"Banyak laporan tentang anak-anak usia sekolah seperti mereka yang bengal. Melakukan tindakan kriminal seperti menjambret atau mencuri, uangnya digunakan untuk mabuk atau narkoba. Kasihan sekali generasi muda sekarang, maka dari itu kami jajaran kepolisian terus berusaha mencari orang-orang seperti mereka untuk kemudian kami bina agar kedepannya menjadi orang berguna".


Lalu Anton dan Jaya diperbolehkan untuk meninggalkan kantor polisi, dan mereka dijamin keamanannya selama 24 jam karena mereka dalam pengawasan.


Tujuannya adalah pihak kepolisian bisa menangkap anak-anak bengal tadi.


Ketika mereka keluar kantor polisi, tiba-tiba ada seorang pria berkulit putih berwajah ramah turun dari sebuah mobil besar yang berharga mahal dan mendekati Jaya yang sedang mulai menyalakan motornya.


"Mas Jaya...dokter Anton....apa kabar... waduh kemarin ada insiden yah... pasti kalian berdua sangat lelah hari ini. Ayolah ikut sebentar ke rumah kami," kata pria itu dengan begitu ramah tapi kedua sahabat malah bingung karena merasa belum pernah mengetahui orang dihadapannya itu siapa.


"Kang Japar...aku Kang Japar...masa kalian lupa...hahahahha,"kata Japar lagi dengan begitu ramahnya.


Kedua sahabat berpandangan karena mereka memang tidak kenal dengan pria ramah itu.


"Ayo kalian mampir dulu ke pondok saya, jangan kalian ragu. Saya tidak bermaksud buruk hanya mengundang kalian berdua. Rumahku dekat sini dan aku kenal baik AKP Rudi Banjarnahor, beliau kawan baik saya,"ujar Kang Japar dengan penuh kelembutan dan sopan santun.


Jaya memandang Anton, sementara Anton mengangkat bahu menyerahkan lagi kepada Jaya.


Setelah Jaya berpikir sebentar lalu dia menyetujui untuk ikut berkunjung ke rumah pria yang menyebut dirinya Kang Japar itu, lalu keduanya mengikuti mobil besar tadi memasuki halaman rumah pria tersebut.


"Bro..aku merasa tidak enak hati yah pas barusan masuk ke halaman sini," seloroh Anton kepada Jaya sambil matanya memandang sekeliling halaman besar itu.


Memasuki ruangan mewah, ada lukisan kuda berlari dengan ukuran sangat besar sekali.


Keduanya lalu diajak masuk ke ruangan selanjutnya, terlihat meja panjang yang diatasnya terhidang berbagai masakan yang menggoda selera.


Keduanya selama dua hari ini hanya makan ala kadarnya, melihat sajian di meja seperti itu tentu membuat perut kehilangan santunnya.


Suara keruyukan terdengar kencang dari perut yang membuat sang pemilik kehilangan harga diri.


Tapi untung kang Japar memahami dan segera mengajak keduanya makan siang bersama.


Setelah makan siang keduanya masih dimanjakan dengan ditunjukkan sebuah kamar yang sangat mewah interiornya.


Terdapat dua tempat tidur singel yang empuk dan nyaman. Tak kuat mata terasa berat, akhirnya mereka tertidur pulas sekali.


Menjelang malam terbangun, mereka segera terjaga menuju keluar kamar dan di depan kamar sudah ada Japar menanti mereka.


"Silahkan duduk di sini, kalian masih lelah bukan....sebentar lagi ada pemijat yang akan menghilangkan letih kalian,"kata Japar dengan senyum yang begitu ramah, tak lama keduanya disuguhkan dua orang wanita sambil membawa seperangkat keperluan memijat.


Lalu kedua wanita itu menggiring Anton dan Jaya kembali ke kamar yang tadi mereka tempati untuk tidur. Saat ini keduanya tengah menikmati di pijat seluruh tubuhnya oleh dua orang wanita pemijat profesional.


Badan enak dipijat, perut kenyang dan mereka tertidur lagi dengan pulasnya.


Hati sebenarnya bertanya-tanya ada apa gerangan maksud orang yang dipanggil kang Japar itu. Memberikan fasilitas yang luar biasa kepada mereka yang nota bene adalah sesama orang asing yang baru saling mengenal.


Keesokan paginya setelah keduanya menikmati sarapan yang nikmat ala hotel bintang lima, masuklah Japar dan kali ini diiringi dua orang pria bertubuh besar kekar dengan tato di sepanjang lengannya masing-masing.


Disitulah Anton dan Jaya merasakan bahwa sesungguhnya mereka berada dalam sebuah jebakan yang sangat manis.


Keduanya menelan ludah sambil berpikir bertanya-tanya ada apakah dibalik semua ini.


Japar memang luar biasa, dia begitu santai menyapa kedua sahabat ini.


"Selamat pagi....luar biasa kalian begitu tampak segar dan cerah walau masih memakai pakaian kemarin.... hahaha!!!".


"Tak masalah bukan...tapi aku juga tak punya pakaian yang pas untuk kalian... terlalu mahal harga pakaian kelasku untuk kuberikan kepada kalian," Japar memulai pagi ini dengan sapa ceria tapi terasa nyelekit di telinga yang mendengar.


"Kalian sudah selesai sarapan, mari ikuti aku.....guys...bawa mereka!!!," Japar meminta kedua sahabat mengikutinya sambil menjentikkan jarinya tanda memerintahkan kedua pengawalnya untuk membawa Anton dan Jaya.


Bagaikan di film-film laga, saat ini Anton dan Jaya digamit lengannya oleh para pengawal tadi.


Mereka berjalan mengikuti Japar menuju suatu ruangan besar yang tampak dari luar seperti sasana olah raga.


Ada pintu geser yang terbuat dari besi dengan ukuran yang lebar. Pintu tersebut dijaga oleh dua orang yang sama seperti yang sedang memegang lengan Anton dan Jaya dengan kuatnya.


Saat Japar mendekat, pintu segera digeserkan terbuka untuk Japar masuk ke dalamnya.


Setibanya di dalam, Anton dan Jaya terkejut luar biasa. Ternyata anak-anak konyol dan bengal yang kemarin hampir menghabisi nyawa mereka berdua ada di dalam sana.


Begitu juga anak-anak itu semuanya terkaget-kaget melihat kedatangan Japar bersama Anton dan Jaya.


Lalu Japar duduk disebuah kursi yang sengaja dibawa oleh pengawalnya.

__ADS_1


Dia menatap semua yang ada diruangan itu sambil tersenyum yang seakan penuh kehangatan tapi menyiratkan sesuatu yang mematikan.


"Selamat pagi semuanya, sungguh luar biasa merupakan suatu penghargaan untuk seorang kang Japar bisa menjamu kalian semua sebagai tamu kami di tempat ini,"Japar memulai sambutannya kepada semua yang ada di ruangan.


"Kalian semua sudah merasakan fasilitas yang aku berikan terutama kepada tujuh sekawan pemuda ini. Kalian sangat kompak saling menolong satu sama lain, bahkan saling bantu dalam percobaan pemerasan dan menghilangkan nyawa orang lain.....aku suka kalian".


"Dan kepada dua orang sahabat yang saling menjaga dan saling memberikan perhatian, sungguh suatu persahabatan yang tidak akan bisa dinilai dengan apapun".


Japar menghentikan bicaranya lalu memandangi ketujuh anak yang sekarang tampak pucat ketakutan, lalu dia juga melihat seorang dokter cacat dan seorang pegawai kesehatan yang terlihat tenang tapi tampak wajah mereka sedang berpikir.


"Baiklah aku harus mempersingkat waktu, kau Romi...benarkah dokter Cina yang cacat ini yang telah membunuh kakekmu dengan cara mencekiknya?.... tolong jawab yang jujur....karena aku mau membantumu...," Japar menatap Romi dalam-dalam menanti jawaban jujur dari anak muda yang galau itu.


Romi menelan ludah berkali-kali, dia menatap Jabrik mencari dukungan tapi yang ditatap malah menundukkan kepalanya.


Begitu juga keenam kawan lainnya semua menunduk dan melengos tak mau membalas tatapan Romi.


Japar masih tersenyum menatap Romi sambil menanti jawaban anak itu.


"Maafkan saya....sebenarnya bukan seperti itu...dokter itu tidak membunuh kakek saya...Tapi kakek saya meninggal dunia saat diperiksa dokter itu....,"Romi menjelaskan dengan perlahan sambil tubuhnya gemetar ketakutan.


Japar menunduk lalu mengangkat wajahnya sambil terbahak,"Hahaha.... dari kemarin aku sudah tahu kalian berbohong kepadaku...apa alasannya kamu mengarang cerita bahwa dokter ini membunuh kakekmu.....".


Romi menghela nafas lalu sambil matanya terpejam dia berkata," Alasannya karena dia Cina....dokter itu keturunan Cina....Hanya itu alasanku... cuma aku disuruh Jabrik memperbesar masalah agar Cina itu mau membayar kami uang".


"Hahahahha....anak -anak bodoh...mau memeras mereka....berapa kalian minta kepadanya?"tanya Japar dengan tampang meledek.


Romi menyenggol Jabrik, memintanya menjawab pertanyaan itu karena yang tahu soal berapa nilai yang diminta adalah Jabrik.


"Aaaaa.....aku memintanya dua puluh lima juta rupiah," sahut Jabrik dengan terbata.


"Murah sekali....nyawa kakek anak itu murah sekali...betul kalian semua... BR*NGS*K!!!" awalnya tenang kemudian Japar membentak mereka.


"Kalian memang anak- anak tak tahu diri...punya uang hanya untuk mabuk.. aku tahu siapa kalian semua,"Japar melihat mereka bertujuh sambil menyipitkan matanya.


Lalu dia meminta pengawalnya untuk memberikan kepadanya sebuah amplop coklat besar. Dan setelah diterima di tangannya, dibukanya amplop itu dan dia mengambil sesuatu dari dalamnya lalu dilemparnya ke lantai.


Ketujuh anak tadi serentak terkejut, yang dilempar adalah foto keluarga mereka masing- masing.


"Kalian mau uang akan kuberikan.... keluarga kalian akan sejahtera...Tapi kalian tak akan bisa keluar dari sini...,"Japar berjalan sambil menatap ketujuh anak itu satu per satu.


Anton dan Jaya berpandangan, ternyata manusia yang berwajah ramah itu sebenarnya iblis berbahaya.


"Akan ada surat resmi kepada keluarga kalian, pernyataan bahwa kalian bekerja bersamaku...Tapi kalian tak akan bisa keluar dari genggamanku...kalau berani kabur...maka orang-orang dalam foto itu akan habis satu per satu...,"Japar mengancam mereka tapi sambil memancarkan kekuatan jahatnya.


Lalu pengawal-pengawalnya membawa ketujuh anak tadi ke sebuah ruangan lain. Mereka meronta- ronta tapi tak mungkin bisa lepas dari cengkeraman para pengawal itu.


Japar lalu beranjak menuju Anton dan Jaya, ketika mereka saling berhadapan Anton memberanikan diri bertanya kepada Japar.


"Akan dijadikan apa anak-anak itu?".


Sambil senyum Japar berkata,"Kurir minuman keras, usahaku menjual minuman keras ke berbagai tempat di Indonesia. Tiap bulan ku kirim uang kepada keluarganya".


"Kalau mereka tertangkap polisi bagaimana?"tanya Anton lagi.


"Kau peduli sekali...kalau terlihat mereka akan tertangkap...maka salah satu pengawalku akan segera menembaknya...beres bukan".


Lemas lutut Anton dan Jaya, mereka memang sering mendengar dari media ada pemuda-pemuda yang tak dikenal terbunuh di jalanan. Tanpa identitas, dan tak ada yang tahu penyebabnya. Mungkin itu salah satu pekerjaan Japar.


Anton dan Jaya dibawa oleh Japar ke halaman belakang rumah, disana ternyata ada taman bunga kecil. Hampir semua bunga tumbuh berwarna-warni dengan indahnya. Penataan taman kecil itu mirip seperti kisah di buku-buku cerita anak-anak kecil.


Mereka dibawa masuk kedalam bangunan kecil yang merupakan kamar Sriningsih yang tengah tergeletak koma.


"Ini istriku namanya Sriningsih, wanita pertama yang paling aku cintai. Tak akan ada yang bisa menggantikan dirinya. Dia terlalu berarti buatku," Japar duduk disamping wanita itu dan menggenggam tangannya.


Suara hembusan nafas dari ventilator, selangnya menancap kerongkongan wanita itu, menggambarkan bahwa tubuh itu hanya menanti penjemputan sang kuasa atau terbangun lagi karena keajaiban sang Khalik.


Di sisi kasur ada alat suntik dan sebotol kecil cairan yang jelas Anton ketahui amat berbahaya karena biasanya untuk menghentikan jantung dan otak.


Cairan jenis itu biasanya digunakan di kepolisian untuk hukuman mati bagi narapidana.


"Anton aku tak mungkin terlalu lama membiarkan istriku menderita, kau tahu cairan itu apa...Kau isi alat suntik itu dan masukkan kedalam selang infus istriku,"Japar dengan tenang memerintah Anton untuk melakukan suatu pembunuhan.


Anton terdiam, jelas perbuatan ini melanggar kode etik kedokteran. Dan dia juga ingat pernah berada di posisi itu, tak mungkin dia melakukan kejahatan seperti ini.


"Kau menolak...padahal kau sudah menandatangani surat kematian istriku,"Japar memperlihatkan secarik kertas berisikan data kematian Sriningsih yanh ditandatangani oleh dokter Anton Wiharja.


"Gila...Kau memperalat kami, apa sebenarnya mau mu itu tanda tangan palsu ?"Jaya yang sedari tadi diam mulai bersuara.


"Aku hanya ingin Anton mengisi alat suntik itu dengan cairan itu kemudian menusukkannya kedalam selang infus istriku...paham!!!".


"Kalau Anton tak mau kau mau apa!!!!" teriak Jaya dengan kesal.


"Hahahaha....!!!!" Japar terbahak-bahak sambil menggelengkan kepalanya.


"Kau tentu kenal baik Fajar Sanjaya... suami dari Anita Wiharja kakakmu.... Kau tak maukan...Mereka kubantai malam ini juga...,"Japar menyampaikan ancamannya dengan cara yang sangat lembut.


Anton lemas terduduk, tak menyangka terjebak dalam situasi yang sangat menyudutkan dirinya.


"Data kalian lengkap padaku, bahkan data Bagus Permana dan istrinya Ismawati...aku tahu...," Japar tertawa memandang kedua sahabat yang sekarang dalam kondisi tidak bisa memilih lagi selain harus melakukan apa yang diinginkan iblis di depan mereka.


"Kau lakukan...Lalu kalian bebas. Ingat jangan berkoar bacot kalian kalau tak mau mati...".


Setelah bergulat dengan dirinya dan pikirannya, akhirnya dibawah ancaman yang akan membantai keluarganya. Maka Anton mengisi alat suntik tadi dengan cairan itu, lalu dia suntikan ke selang infus Sriningsih.


Suara hembusan nafas dari ventilator semakin lama semakin melemah... melemah...dan akhirnya terhenti.


Japar memungut botol dan alat suntik yang ada sidik jari Anton dengan tissue lalu dia masukan kedalam plastik lalu menyimpannya.


Anton dan Jaya paham kalau itu akan menjadi bukti kuat kalau Anton telah melakukan kejahatan.


Lalu Japar juga menunjukan kalau ruangan ini ada CCTV yang sejak tadi merekam semua pembicaraan dari awal.


Kedua sahabat itu dipersilahkan keluar dari rumah itu, dan gerbang tinggi yang menutup rumah itupun terkunci saat keduanya melajukan motornya menuju rumah mereka.


"Fajar Sanjaya....suatu hari kita akan bertemu di Batam...ada hutang darah diantara kita....".

__ADS_1


__ADS_2