Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Keempat Puluh Delapan


__ADS_3

Komar ijin tiga hari tidak akan masuk kantor karena ada keperluan keluarga mendadak ke kota Bekasi.


Tentu saja membuat Murni jadi uring-uringan, sebab tidak ada yang bisa disuruh untuk membeli cemilan dan juga tidak ada yang bisa dia suruh mengetik surat.


Selama ini Murni selalu meminta bantuan Komar, kalau ada yang minta surat keterangan sehat, surat keterangan sakit, surat keterangan bebas buta warna, surat keterangan kematian dan lainnya.


Apabila ada seseorang datang konsultasi ke dokter dan minta pengantar untuk menerbitkan surat keterangan, maka setelah mendapat ijin dari dokter lalu orang tadi menghubungi bagian administrasi menerbitkan surat keterangan tersebut.


Selama ini Murni paling malas mengurusi hal seperti itu, karena kalau orang datang minta surat keterangan Sehat hampir setiap hari ada untuk keperluan melamar pekerjaan atau lainnya.


Yang lebih menyebalkan kalau orang membawa jenazah dan minta surat keterangan kematian, pasti Murni menyuruh Komar yang membuat dengan alasan takut malamnya dihantui.


Hari ini dia kesal sekali karena baru selesai melayani orang membuat surat keterangan sehat sebanyak lima orang.


Dan menjelang istirahat siang ada orang membawa Jenazah, setelah diperiksa dokter Haikal lalu segera bagian administrasi harus membuat surat keterangan kematian.


"Muka kayak kantung plastik isi terasi masuk comberan, kenapa sih?"ta ya Jaya saat masuk ruangan kerjanya setelah seharian dia diminta pak Tarmidi ke rumah sakit pemerintah terdekat untuk mengambil obat-obatan.


"Kamu enak jalan-jalan, lah aku ketemu mayat....jengkel weeeewww,"sahut Murni sambil ketus lalu menjulurkan lidahnya kepada Jaya.


"Badan saja gede sama mayat takut, memalukan sekali ibu ini,"ejek Jaya dengan menahan tawanya.


"Biarin saja memangnya ada hukumnya orang tidak boleh takut sama mayat," cetus Murni sambil tambah cemberut dan tanpa sadar tangannya mulai menyobek kemasan keripik kentang.


"Biasanya juga kamu yang membuat kenapa sekarang reseh ngomel-ngomel,"tukas Jaya sambil mendelik kepada partner kerjanya itu.


"Tentu bukan akulah, buat apa ada Komar... biasa juga dia yang aku suruh membuat surat- surat keterangan seperti itu sih,"jawabnya santai sambil mulai memasukan satu keripik ke dalam mulutnya.


Deg...Jaya kaget...ternyata Murni selama ini menyuruh Komar membuat berbagai macam surat keterangan.


"Kan kalau membuat surat seperti itu harus memakai login dan passwordmu, memangnya Komar tahu?"selidik Jaya kepada Murni.


"Ya tahulah...gitu aja kok repot," sahut Murni tambah ketus sambil satu lagi keripik memenuhi mulutnya.


Dasar bodoh, keluh Jaya dalam hati tapi dia tak bisa berkata apapun selain menyesalkan betapa bodohnya temannya ini.


Sambil menghela nafas lalu dia mendekati meja Murni lalu merebut bungkusan keripik kentangnya dan membawanya keluar sambil dia remas hancur isinya lalu melemparnya ke tong sampah.


Kesal sekali dia punya teman sebodoh dan seceroboh Murni, pantas saja Komar bisa membuat surat keterangan kematian Sriningsih dengan seenaknya.


Murni juga marah dan berteriak-teriak kesal saat melihat Jaya merebut, meremas hancur lalu membuang begitu saja keripik kentang favoritnya.


Fajar begitu tercengang ketika bayi kecilnya diduga mempunyai indera keenam dan kelebihan khusus seperti indigo.


Jadi dia memberikan beberapa test kepada anaknya dan dia membongkar foto masa lalu keluarga istrinya.


Lalu Fajar mencoba menunjuk foto kakek buyut istrinya, dia ingin tahu


dan anak kecil mungil itu berkata,"


Bubun...bubun...".


Fajar terkejut karena anak kecil yang dihadapannya yang penuh dengan air liur bisa menyebut nama kakek buyut istrinya dengan benar. Memang kakek buyut istrinya bernama Bunadi Wiharja.


Dia mencoba lagi membuka halaman album foto berikutnya ada foto ayahnya pak Salim dan Fajar menunjukan lagi kepada Kaysan lalu anak itu berkata,"


Hahahaha...ca...ca..ca".


Ya benar Santosa Wiharja adalah kakek istrinya alias ayah dari mertuanya.


Masih tidak percaya lalu dia membuka dompetnya dan memang disela-sela dompetnya ada foto orang tuanya.


Lalu Fajar kembali menunjukkan foto itu. Dan Kaysan berseru," Apppaaaaa.... ammmaaaa".


Fajar memeluk anaknya erat-erat menciumnya tak menyangka anak kecilnya ternyata punya bakat indigo.


Anak indigo tak melulu bisa melihat mahluk tak kasat mata, tapi ada juga jenis indigo yang bisa menerawang masa lalu atau masa depan.


Mungkin Kaysan masuk kategori kedua atau mungkin juga bisa keduanya, hal seperti itu sulit dibuktikan dengan akal sehat walau mungkin ada ilmunya.


Fajar memeluknya sambil mengingat bagaimana tadi pagi anaknya begitu rewel ingin masuk ke kamar Anton, dan menurut cerita Mela dan Encum, Ksysan kekeh minta naik ke tempat tidur.


Lalu kata mereka Kaysan merangkak menyusuri tubuh pamannya dan mencium wajah pamannya, hanya anehnya anak itu seperti bisa berkata meminta pamannya bangun walau tidak terlalu jelas.


Tapi Fajar berpikir untuk tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapapun termasuk kepada istrinya, biar dia saja dulu yang paham sambil mencoba mempelajari anaknya lebih lanjut.


Mengenai nama Kang Jap Fan, memang pernah ada dalam masa lalu Fajar.


Menurut informasi yang dia dapat dari tetangganya kalau yang membunuh kedua orang tuanya adalah orang yang mempunyai nama itu tadi.


Fajar sendiri tidak terlalu ingat, cuma memang orang yang bernama Kang Jap Fan pernah beberapa kali ke rumah orang tuanya dan tampak tidak bersahabat orangnya.


Bahkan pernah tak sengaja dia dengar orang itu mengancam ayah dan ibunya, namun saat Fajar bertanya pasti kedua orang tuanya selalu menutupinya.


Tapi apakah cerita Jaya kepadanya tentang perbuatan Kang Japar kepada Anton adalah orang yang sama dengan Kang Jap Fan yang dikenali.


Komar sedang berada di kota Bekasi, dia berangkat sejak subuh tadi menggunakan sepeda motornya menuju kota itu.


Berbekal kartu keluarga dan juga beberapa foto adiknya dia memasuki halaman kantor polisi Kota Bekasi.


Disana dia diterima oleh BRIPDA Suhatma yang kebetulan menangani kasus penembakan pemuda yang tepat mengenai kepalanya, karena kejadian tersebut tepat dihadapan matanya.


"Boleh saya lihat keterangan yang anda bawa?"tanya Suhatma kepada Komar.

__ADS_1


Lantas Komar memberikan kartu keluarga dan foto-foto adiknya.


"Adik saya bernama Kosim pak, usianya baru menginjak 19 tahun, dia lahir tanggal 18 Maret 20xx dan mempunyai tanda lahir seperti noda berwarna coklat di paha kanan bagian atas,"Komar menerangkan identitas dan ciri-ciri adiknya.


BRIPDA Suhatma juga memegang laporan dari tim Forensik Kepolisian Kota Bekasi tentang ciri-ciri fisik mayat pemuda tersebut.


"Coba apakah anda bisa menjelaskan kepada kami ciri-ciri fisik lainnya kalau benar ini adik kandung anda?"tanyanya kepada Komar.


"Dia tidak terlalu tinggi sekitar 165 cm, cuma kulitnya lebih putih daripada saya, matanya lebih sipit dan hidungnya lebih pesen dan juga ada tahi lalat kecil di kelingking kaki kirinya,"kembali Komar memberikan keterangan akurat tentang fisik adiknya.


"Dari keterangan yang anda sampaikan sesuai dengan data yang kami terima dari tim forensik".


"Namun ada pertanyaan lain, dilihat dari kartu keluarga kalian berasal dari kota Cirebon, lalu adik anda kepentingan apa berada di kota Bekasi?"tanya Suhatma sambil menatap tegas ke arah Komar.


"Mengenai kepentingannya mungkin karena pekerjaan pak, terakhir dia memang ijin ada yang mengajak bekerja keluar kota,"Komar menjawab pertanyaan polisi tersebut.


"Lalu anda mengetahui korban penembakan ini adalah adik anda apakah dari sketsa kepolisian yang ditayangkan di televisi?"kembali Suhatma menyelidik ke arah Komar.


"Ya benar pak, saya melihat berita di televisi dan melihat tayangan sketsa wajah adik saya".


"Apakah anda tahu adik anda bekerja di perusahaan apa, di kantor apa atau di rumah siapa. Dan apakah anda tahu alasan adik anda membawa minuman keras dalam jumlah banyak di dalam tasnya?"Suhatma memberondong pertanyaan kepada Komar.


"Saya tidak tahu pak, sudah tiga bulan kami tidak bertemu. Saya tidak tahu tempat adik saya bekerja. Beberapa waktu yang lalu dia hanya ijin ikut temannya bekerja. Apalagi minuman soal keras, sama sekali tidak tahu," Komar menjelaskan ketidaktahuannya kepada polisi.


BRIPDA Suhatma tidak bisa menyelidiki lebih lanjut karena Komar tetap pada keterangannya tidak mengetahui apa yang adiknya perbuat.


Lantas beliau membawa Komar ke rumah sakit POLRI untuk melihat jenazah adiknya.


Karena sudah tidak punya orang tua lagi, Komar menyerahkan kepada pihak rumah sakit untuk pemakaman adiknya dengan selayaknya.


Dan dia membayar sejumlah uang untuk proses pemakaman tersebut, sehingga jenazah di makamkan di kota itu tidak dibawa pulang ke kota kelahirannya.


Sekarang sudah tengah minggu, Jaya masih merasa jengkel atas kebodohan rekan kerjanya.


Dia tak habis pikir mengapa Murni bisa begitu malas dan bodoh, membiarkan dirinya memberikan kode login dan password untuk membuka sistem komputer dengan seenaknya kepada orang lain yang bukan bagian dari pekerjaan tersebut.


Mau marah percuma, mau kesal juga memang iya tapi sulit menyampaikan sesuatu kepada Murni yang kadang suka keras kepala.


Tidak marah menjadikan dirinya kesal sendiri, tapi mau membuka perbuatan Murni tapi pasti akan merembet kemana-mana.


Sementara sekarang saatnya belum tepat untuk mengungkap segalanya.


Dia hanya bisa diam saja dengan kesal karena tak tahu harus berbuat apa untuk menyelesaikan semua perkara ini.


Jaya menyeruput kopinya di warung pinggir puskemas, dia sama dengan Anton bukan lelaki perokok karena yang namanya asap rokok membuat tubuh menjadi bau.


Mereka berdua adalah dua pria yang selalu menjaga aroma tubuhnya selalu segar, sehingga keduanya anti hal-hal yang membuat tubuh menjadi bau kecuali saat berolah raga.


"Mas Jaya itu sama saja dengan dokter Anton, dua-duanya tidak suka gula. Hhhmmm apa enaknya sih...yang satu sukanya kopi pahit...satunya teh pahit...padahal hidup sudah pahit loh mas..,"ujar mbakRatna pemilik warung pinggir puskesmas.


Tiba- tiba telepon genggamnya berbunyi dan terlihat nama Bro Anton.


Dia kaget ada panggilan dari Anton sahabatnya, tapi kan kondisi sahabatnya masih koma, mungkin Mela yang menghubunginya.


Lantas dia menjawab panggilan itu,"Halo Mela ada apa ?".


"Kok Mela....kenapa Mela... mana assalamualaikum nya?"terdengar suara pria yang sangat dikenalnya dari seberang sana.


"Assalamualaikum, maaf dengan siapa yah?"Jaya masih sangsi dengan pendengarannya khawatir yang menelepon salah satu kerabat Anton mengabarkan hal buruk.


"Walaikumsalam....ini aku Anton..


cowok paling ganteng se Jawa Bali....," sahut orang dari seberang sana lagi.


"Anton???...dokter Anton ???"tanya lagi menekankan meminta kepastian.


"Iya ini aku....ya Allah....kenapa sih tidak senang mendengar suaraku....hahaha,"


Jaya seakan berada di alam mimpi bisa mendengar lagi suara tawa renyah sahabatnya.


"Bro... serius kamu sudah bangun bro?" tanya Jaya lagi pelan-pelan.


"Ya tentu sudahlah....kalau belum bangun tentu aku tida telepon...hahaha,"


Anton kembali tertawa dengan renyahnya.


"Alhamdulillah Ya Allah.... alhamdulillah mukjizat apa membuatmu cepat bangun bro...aku bahagia sekali mendengar suaramu,"Jaya terharu mendengar suara sahabatnya dan dalam hatinya sangat bersyukur sahabatnya pulih kembali.


"Ya pastinya mukjizat dari Yang Kuasa bro...hei...apakah kamu tidak mau ketemu aku?"tembak Anton kepada sahabatnya.


"Wah tentu mau lah...memang kamu ada dimana?".


"Aku ada di rumah keluargaku di Bandung, kamu mau tidak kemari menjemputku?".


"Aku mau ijin sabtu nanti, Jumat malam aku meluncur ke Bandung. Tapi aku tak akan bilang yang lain, kejutan buat mereka nanti,"Jaya mengakhiri percakapannya dengan sahabatnya.


Matahari sangat terik menyinari Pelabuhan Batam Centre, sopir truck bersama satu orang pegawai suruhan Kang Japar tampak gelisah saat ada dua orang pegawai bea cukai berjalan mendekati mereka.


Dua minggu lalu mereka bisa lolos dari pemeriksaan petugas bea cukai, namun hari ini tampaknya sulit untuk kabur.


Karena minggu lalu terbongkar kasus penyelundupan senjata ilegal, maka sekarang bea cukai dan kepolisian memperketat pengawasan barang impor yang akan masuk ke Indonesia.


"Buka pintu peti kemasnya, kami wajib memeriksa setiap barang impor masuk," kata petugas bea cukai Kota Batam

__ADS_1


Lalu sopir truck itu membukanya dan terlihat banyak tumpukan dus besar.


"Apa ini isinya, kami harus bongkar satu dus untuk memastikan bukan barang ilegal,"kata petugas tadi meminta sopir menurunkan satu dus dari tumpukan dalam peti kemas tersebut.


Sesuai petunjuk dari atasannya dia menurunkan dua yang diberi tanda titik hitam kecil.


Dus itu disimpan di atas tumpukan yang mudah dijangkau, dan kondisinya masih tersengal rapi.


Petugas bea cukai tidak tahu kalau dus yang diturunkan itu sudah dimanipulasi isinya.


Dus besar dibongkar, ketika dibuka isinya tas wanita. Petugas memeriksa surat jalan juga pajak impornya.


Tercantum jelas dua ribu tas wanita impor pesanan "SriFan Butik" kota Cirebon.


"Mengapa pesanan untuk kota Cirebon masuknya ke pelabuhan Batam, bukankah seharusnya ke tanjung priok?"Petugas bertanya sambil menyelidik.


"Maaf pak, setahu saya nanti beberapa dus tas ini dikirim ke cabang di kota Batam dan Palembang, baru sisanya ke pulau Jawa,"sopir berusaha menjelaskan kepada petugas bea cukai tersebut.


Dan memang benar ada alamat tujuan kota Batam dan juga kota Palembang tertera dalam dokumen surat jalan.


Akhirnya petugas percaya dan dus tadi ditutup kembali dan dimasukan ke dalam peti kemas lagi.


Lalu lembar pemeriksaan ditanda tangan oleh pegawai Kang Japar yang mengaku utusan dari SriFan Butik.


Lalu petugas berlalu dan mereka berdua menghela nafas lega. Padahal di dalam dus lainnya memang benar berisi tas wanita juga, namun di dalam setiap tas ada minuman keras ilegal berbagai merk kiriman dari suatu negara di Eropa sana.


Di ruang keluarga kediaman Wiharja semua sedang berkumpul ada pak Salim dan ibu Aryani, Fajar Dan Anita juga kedua anaknya.


Lalu ada Anton, Mela dan Ibu Sinah.


Anton masih memakai kursi roda karena belum bisa seimbang jika berdiri.


"Anton, begini papah dan mamah ingin kamu segera menikah dengan Mela. Kalau bisa lebih cepat lebih baik, karena papah dan mamah ingin juga punya cucu dari anak lelaki kami,"pak Salim membuka pembicaraan di malam itu.


Mela hanya diam menahan malu, tangan kanannya sedang digenggam oleh Anton sementara tangan kirinya memegang pegangan dorongan kursi roda.


"Iya papah, saya dan Mela juga sudah membahas masalah pernikahan. Dan rencananya di awal tahun depan kami akan segera menikah,"sahut Anton kepada ayahnya.


"Kok awal tahun sih, bulan depan saja deh jangan kelamaan,"sela Anita kepada adiknya.


"Benar, mamah juga kepingin cepat saja jangan lama-lama. Awal tahun masih dua bulan lagi kelamaan, sudah bulan depan saja,"Aryani juga mengutarakan keinginannya.


"Kalau ibu Sinah bagaimana bu, apakah ada sarannya ?"tanya Fajar kepada ibunya Mela.


"Saya pribadi terserah anak-anak, cuma kalau bulan depan mungkin rumah kami belum selesai karena masih direnovasi. Sedangkan kalau harus diadakan resepsi di gedung pasti mahal,"kata ibu Sinah menjelaskan kondisi rumah yang sedang diperbaiki.


"Mimi maaf, tapi Mela dan Anton berencana tidak akan resepsi. Kami hanya ingin akad nikah saja, kasihan Anton kan tidak boleh terlalu lelah,"kata Mela kepada ibunya.


"Kalau tidak mau resepsi hanya akad nikah yah sudah di rumah ini saja bagaimana?"Anita menyampaikan idenya.


"Anton tidak lelah, dan kita juga tidak mengundang orang banyak. Nanti setelah menikah, paling kita syukuran kecil-kecilan di rumahnya Mela dan juga untuk teman-teman puskesmas,"kata Anita meneruskan idenya agar pernikahan adiknya segera terwujud.


Ibu Sinah terdiam, terlihat berpikir tapi kemudian beliau berkata,"Boleh juga...jaman now tidak usah repot yah. Akad nikah di rumah ini, nanti di kampung sih sekalian syukuran rumah dan syukuran pernikahan. Nanti saya adakan pengajian lalu membagikan nasi kotak sebagai bungkusannya".


"Nah kalau di puskemas tinggal pesan nasi tumpeng saja sembari syukuran kesembuhan Anton,"ibu Sinah akhirnya membuka saran lebih simpel lagi.


"Kalau ibu Sinah sudah setuju demikian untuk apa bulan depan, bagaimana kalau minggu depan saja," ide Fajar malah lebih heboh lagi.


"Nah sudah begitu saja, jaman now....nanti besok saya ke kampung dulu meminta surat pengantar tinggal dari keluarga pak Salim yang mengurus masalah penghulunya," Ibu Sinah tampak semakin bersemangat sampai dari tadi keluar dari mulutnya kata jaman now terkesan kekinian sekali.


"Ibu tidak usah kembali ke kampung dulu nanti lelah bolak balik, besok saya fotokan KTP Mela untuk minta pengantar dari desa di sana kepada Rahman. Paling satu hari selesai, nanti teman saya Jaya mengambilnya,"kata Anton menjelaskan kepada calon mertuanya.


"Jadi hari apa dan tanggal berapa tepatnya karena saya harus mengurus ke KUA terdekat,"Fajar juga jadi semangat mengurusinya.


"Hari minggu saja dua minggu lagi!!," seru Anita bersemangat sekali sambil menunjuk kalender.


Tapi tiba-tiba Kaysan menangis saat ibunya menyebutkan hari dan tanggal tersebut.


Fajar seketika paham lalu segera menggendong anaknya yang sedang bermain, tiba- tiba menangis.


Lalu dia membawa Kaysan mendekati kalender dinding, sambil berkata," Kemarin kan Kaysan yang membangunkan pamannya, biar dia juga yang akan menunjukan tanggal pernikahan pamannya".


Anita mengernyitkan kening tak memahami, dia hanya memperhatikan suaminya mendekatkan Kaysan menunjuk suatu tanggal di awal bulan berikutnya.


Fajar menyetujui karena memang hari dan tanggal yang ditunjuk anaknya sangat masuk akal. Hari Jumat pertama di awal bulan berikutnya.


Dua hari kemudian Jaya benar datang ke rumah Anton, dan dia bahagia sekali melihat sahabatnya sudah kembali sehat.


Lebih kurus memang badannya karena selama dua minggu tak ada makanan utuh masuk ke dalam tubuhnya.


Mereka berdua seperti orang yang sudah puluhan tahun tak berjumpa, dari Jaya tiba tadi jam 20 malam sampai sekarang tengah malam mereka masih berbincang.


Sampai Anita turun memperingatkan mereka karena sudah malam baru mereka beranjak masuk ke kamar.


"Bro...apa tidak ada kamar lain, masa aku harus satu tempat tidur denganmu?"Jaya mulai protes karena mereka bersamaan tidur di kamar bawah dan mau tak mau harus satu kasur.


"Di atas sekarang dipakai orang tuaku, Mela dan ibunya di mess belakang. Paling ada juga sofa di ruang keluarga," Anton menjelaskan posisi dan kondisi saat ini di rumahnya.


"Aku di sofa sajalah, risih aku harus tidur didekatmu. Kayak pecinta sesama saja, malas banget bro,"kata Jaya dengan muka sebal kepada sahabatnya.


"Ya sudah dorong aku ke sofa, kan ada dua sofa lebar dan panjang di sana. Jadi kita adil..okay," ajak Anton.


Lalu mereka bersama ke ruang keluarga lagi, dan mereka lanjut lagi berbincang ditambah nonton siaran sepak bola tengah malam.

__ADS_1


Pagi harinya Anita melotot melihat tengah rumahnya seperti kapal pecah, ada sisa popcorn berserakan rupanya sempat tumpah, gelas bekas minuman dan yang paling mengerikan adalah posisi tidur mereka yang saling berpelukan di atas karpet ruangan itu.


Kata author sih ngapain repot- repot pindah tidur di ruang keluarga yah kalau akhirnya mereka tidur berpelukan juga.... semoga mereka tidak goyah....hihihihi....


__ADS_2