
Jaya sedang mandi sementara Miranti membereskan rumah. Sehabis pulang dari kedai, Miranti tidak diam saja di dalam kamar.
Dia juga membereskan rumah yang terlihat masih sedikit berantakan.
Ibu Suwandi mertuanya juga melihat hal itu, dia mengakui kalau menantunya selain cantik juga orangnya rajin.
Tapi yang membuat Ibu Suwandi kesal karena sudah dua bulan menikah tapi tak ada tanda menantunya muntah-muntah karena hamil.
"Pak, aku yakin di keluarga kita tak ada yang mandul. Masa menantu kita cantik tapi mandul yah," bisik Ibu Suwandi kepada suaminya.
"Astagfirullah, Bu...eling... mereka menikah juga belum lama, sabar sajalah. Kan tiap orang tak sama, ada yang cepat ada juga yang lambat," pak Suwandi mengingatkan kepada istrinya.
"Ya tapi masakan si Jaya anak kita tidak melakukan hubungan badan sama istrinya. Aku yakin anak kita kan buaya darat, waktu belum nikah juga sudah ketahuan suka tidur di sana sini. Masakan sekarang menikah tidak begituan," kata Ibu Suwandi tampak sekali menunjukkan rasa kesalnya.
"Hmmm...Bu...eling ....Ya Allah, sudah biarkan saja anak mantu kita berusaha, jangan kita desak atau menekan mereka. Sudahlah lebih baik kita kembali ke Solo, siapa tahu kalau mereka berdua saja sih bisa lebih leluasa dan bisa segera memberi kita cucu," kata Pak Suwandi menasehati istrinya dan juga seraya mengajak kembali ke kota mereka tinggal.
"Tapi pak, Jaya kan mau pergi pendidikan dua bulan. Lalu Miranti disini sama pembantu, dan dia juga berjualan di kedainya. Bagaimana bisa hamil, yang ada menantu kita makin santai saja jualan tak berpikir hamil dan punya anak," Ibu Suwandi ngotot dengan pemikirannya.
"Ya terserah Ibu, tapi Bapak pingin kita pulang ke Solo. Rumah kita di sana, ini kan sekarang rumah anak kita. Bapak yakin kalau kita tidak disini pasti menantu kita akan hamil," kata Pak Suwandi lagi kepada istrinya.
Tapi Ibu Suwandi hanya diam saja tak menjawab ajakan suaminya.
Miranti mendengar semua percakapan kedua mertuanya, saat ini dia jongkok di dekat tempat cuci piring di dapur.
Tak kuasa menahan tangis, air mata berlinang tapi tak bisa bersuara, sedih hatinya.
Siapa wanita bersuami tak ingin segera hamil dan punya anak, semua pasti ingin tapi kenyataan bicara lain.
Jaya adalah termasuk suami yang sangat suka dengan hubungan badan, bahkan hampir setiap malam hal itu dia minta dan lakukan bersama istrinya.
Dia tipe yang kurang peduli dengan kondisi istri, mau lelah, mau sedang tidak enak badan atau tidak enak hati, pasti hal itu selalu saja diminta setiap malam.
Kadang Miranti suka menolak karena mungkin lelah, tapi Jaya selalu saja memaksakan kehendaknya walau Miranti tak membalas gairahnya tapi yang penting baginya harus melakukan hal itu.
Menurut kedokteran hal demikian dilakukan setiap hari justru menggangu kualitas bibit pria, seharusnya ada jeda beberapa hari sekali agar bibit pria memiliki mutu yang baik dan wanita dalam masa subur pasti akan menghasilkan kehamilan.
Tapi entah rupanya Jaya memang tipikal penyuka hubungan intim berlebihan, bahkan saat Miranti berhalanganpun selalu memaksakan istrinya melalukan dengan cara lain.
Tanpa dia sadari sebenarnya hal itulah penyebab istrinya belum hamil karena suaminya tidak punya bibit yang bermutu.
"Sayang sini dong kita pelukan," kata Jaya sambil meraih tubuh istrinya.
Miranti sebenarnya sedang sakit hati mendengar percakapan mertuanya tapi tak mungkin juga dia sampaikan kepada suaminya.
"Mas, Bapak dan Ibu masih bangun, dan mereka ada di ruang televisi. Malu dong kalau mas minta, nanti sabar sedikit dong," Miranti mencoba menolak suaminya.
"Biarkan saja mereka juga pernah muda, makanya ada aku di dunia kan pasti karena mereka dulu begini. Ayo sayang, aku tak tahan sih," rengek Jaya kepada istrinya dan mau tak mau Miranti harus melayani kewajibannya sebagai istri.
Malam ini sudah hampir lewat jam sepuluh, tapi Anton masih saja berkutat dengan laptopnya.
Dia mencari referensi dan bahan test yang mungkin akan diberikan kepadanya.
Dia sedang menelusuri dunia maya mencari bahan "Fit and Proper Test".
Mela mendekati suaminya sambil bertanya," Pi, besok jadwal periksa ke dokter Dhani, apakah Pi akan mengantar atau nanti aku minta ditemani Apri saja?".
Anton terdiam, lalu menatap Mela yang sekarang sudah semakin buncit lagi.
"Mi, sepertinya aku tak bisa mengantar, besok sore minta tolong Apri menemani saja, nanti pulang kerja aku langsung ke klinik dokter Dhani," kata Anton sambil meraih tangan istrinya dan menciumnya.
Anton lalu mengelus dan mencium perut istrinya sambil berkata," Maafkan Pipi sayang, besok ke dokter bersama Mimi dan tante Apri yah. Nanti pulangnya Pipi jemput di klinik yah".
"Ya tak apa-apa Pi, mumpung ada Apri dan dia juga sudah mau menemani aku besok ke dokter," ujar Mela menenangkan suaminya.
Keesokan paginya Aprilia terlihat sedang menelepon Haikal sembari terlihat jengkel sekali.
"Aku tak paham, kok bisa kamu tak menemukan Akte lahir dan Kartu Keluarga asli. Itu salah satu data yang diminta oleh pihak KUA. Selama ini kamu cuma foto copy dan di lembar itu di copy lagi berulang-ulang".
"Sekarang copy yang kamu miliki sudah kabur tampilannya, sudah tak jelas dan tak bisa di copy lagi. Aku sungguh tak paham, bagaimana kamu bisa menyepelekan dokumen pribadi,"Aprilia terlihat kesal saat berbicara di ponselnya dengan Haikal.
"Aku harus bongkar kamar kakek dulu yah, sabar yah sayang. Soalnya aku juga sibuk, karena Bang Anton sedang sibuk urusan renovasi gedung dan juga melakukan berbagai test. Sehingga semua pasien aku yang menangani," sahut Haikal meminta Aprilia agar sedikit bersabar untuk urusan dokumen dan sebagainya.
"Terserah kamu saja deh, masalahnya aku sudah minta dokumen itu sejak awal bulan lalu. Dan kamu tak pernah mencari, sedangkan tanggal pernikahan kita juga semakin dekat. Pihak KUA minta semua data harus masuk paling lambat dua minggu sebelum tanggal pernikahan," kata Aprilia lagi dengan nada kesal kepada Haikal.
"Maaf yah, nanti aku segera cari. Sekarang aku banyak pasien, nanti disambung lagi yah".
Aprilia menutup ponsel dengan kesal, dan membanting benda itu ke meja.
Hatinya dongkol sekali karena Haikal terlihat santai sekali, sementara banyak sekali dokumen yang seharusnya segera dipenuhi, tapi sampai hari ini Haikal belum mengurus sama sekali.
Harapannya dalam minggu ini dia bisa membantu Haikal mencari dokumen pribadinya dan mengurus beberapa surat keterangan lainnya ke kelurahan atau kecamatan setempat.
Sementara di tempat lain juga terlihat Anton mendapat tekanan pekerjaan cukup tinggi.
Masalahnya pak Tarmidi juga sudah lepas tangan dari urusan Puskesmas, padahal banyak hal yang masih terpending.
Permintaan persediaan obat-obatan mulai menipis dan belum ada permintaan ke Pusat.
Selama ini permintaan dilakukan oleh Kepala Puskemas, padahal seharusnya bisa dilakukan oleh bagian administrasi saja.
Ada honor beberapa karyawan kontrak yang belum turun, dan juga masalah permohonan persetujuan renovasi.
Ada orang Pusat di Puskemas ini, tapi ternyata tidak juga membantu memberikan solusi semua harus Anton lakukan sendiri.
Dengan kesabaran dan ketelitian dia mencoba membenahi semua perihal yang tertunda.
Anton juga memohon kepada Haikal agar bisa menangani dulu pasien karena Anton sangat disibukkan oleh berbagai urusan di Puskemas yang belum terselesaikan.
"Pak Anton, nanti sore selepas jam kerja tolong jangan pulang dulu yah, ada semacam kuis yang harus anda kerjakan yang berhubungan dengan kesehatan," kata Petugas Personalia dari Pusat yang baru datang pagi tadi.
Anton hanya bisa mengiyakan karena dia sangat sibuk sekali.
Mela diberitahu oleh Aprilia kalau dirinya ternyata tak bisa menemani ke dokter untuk memeriksa kandungannya bulan ini.
Sebenarnya Mela berani saja pergi sendiri, tapi pasti nanti akan membuat suaminya malah menjadi khawatir.
Lalu dia mendekati Eti dan bertanya apakah bersedia menemaninya periksa ke dokter Kandungan.
"Ayo Ibu Anton nanti Eti antar, tapi sekarang ijin pulang sebentar yah. Nanti Eti kemari lagi sama tukang becak yah Bu," ujar Eti dengan semangat ingin mengantar Mela.
Mela setuju dengan Eti, lalu dia membiarkan Eti pulang dulu ke rumahnya.
Sekitar pukul lima sore, Eti datang lagi membawa tukang becak dan mereka berdua naik becak itu ke klinik dokter Dhani Ramlan.
"Mi, jadi kan diantar Apri ke dokter? Naik apa ke sananya? Di bonceng motor oleh Apri atau naik taksi online?"tanya Anton kepada Mela.
Anton belum bisa pulang karena masih harus menyelesaikan hal-hal tertunda dan juga mengerjakan berbagai test dari personalia.
"Aku sama Mbak Eti naik becak," sahut Mela memberitahu suaminya.
"Waduh, jalan ke situ kan ramai, kok naik becak sih. Nanti ada apa-apa repot lagi deh. Memang Apri kemana ? Katanya mau mengantar?" tanya Anton terkesan panik saat tahu istrinya naik becak ke klinik kandungan.
"Tenang Pi, ini mang becak tetangganya Mbak Eti kok. Menjalankan becaknya juga pelan-pelan. Jadi Pi tenang saja yah,"ujar Mela menenangkan hati suaminya.
"Ya sudah, nanti selesai urusan di sini, segera aku jemput Mi yah. Tunggu di klinik, jangan pulang naik becak," Anton berkata menegaskan istrinya.
Mela dan Eti memasuki ruangan utama klinik, lalu mendekati meja pendaftaran.
"Ibu Melati yah, nomor urut delapan yah. Tapi dokter Dhani belum datang, nanti biasanya habis maghrib baru hadir," kata petugas pendaftaran sambil mengambil buku check up dari tangan Mela.
Kemudian Mela dan Eti mencari tempat duduk kosong, di ruangan penuh dengan wanita hamil yang sama-sama menanti urutan panggilan.
"Eti sih dulu waktu hamil ke dukun saja Bu, boro-boro ke dokter untuk ke bidan saja tak ada uang. Tapi Alhamdulillah kedua anak Eti baik-baik saja... hahahaha,"ujar Eti sambil mengamati setiap wanita hamil di ruangan tunggu itu.
"Ya saya kebetulan saja ada rejekinya Mbak, jadi bisa periksa di dokter. Tapi ada juga orang mampu tetap tak mau periksa ke dokter, entahlah pilihan tiap orang itu sih," sahut Mela sambil mengelus perut buncitnya.
"Iya dong masa istri dokter Anton periksa ke dukun bayi....hahahah...gengsi dong...eh...gengsi...hihihi," kata Eti sambil melirik Mela.
"Dasar Mbak Eti, sok tempe saja deh".
Sambil menunggu dokter datang, terdengar suara panggilan ibadah.
__ADS_1
Dan mereka berdua pun mencari Mushola yang ada di klinik tersebut.
"Bu...hati-hati licin, jangan tergesa-gesa," kata Eti memegangi Mela yang tengah mengambil wudhu.
"Tenang Mbak, lantai di klinik ini khusus dibuat tidak licin karena banyak wanita hamil di sini,"sahut Mela ketika selesai berwudhu.
Eti menginjak-injak lantai di tempat wudhu itu dan benar lantainya tidak licin, dia bertanya-tanya dalam hati terbuat dari apa lantai tadi.
Setelah keduanya selesai sholat, Mela merasa lapar sementara dokter juga belum datang.
"Mbak Eti cari makanan dulu yuk, aku lapar sekali," kata Mela sambil memegangi perutnya merasa kelaparan.
"Mau makan apa Bu Anton, apa tidak tunggu pak dokter saja? Nanti makan sembarangan pak dokter marah loh,"ujar Eti memperingatkan Mela.
"Habis aku merasa lapar sekali Mbak, di depan itu ada tukang nasi goreng. Kita kesitu yuk, aku kelaparan," ajak Mela dan tentu saja Eti tak bisa menolak untuk menemaninya.
"Bu Anton jangan nasi goreng nanti dokter marah, nasi cap cay saja yah. Biar Eti pesankan, sudah Bu Anton duduk saja di sini,"kata Eti meminta Mela menantinya di dalam.
"Mana boleh makan di dalam, sudah tak apa-apa. Kita bisa duduk sambil makan di kursi kayu di sana," ajak Mela sambil menunjuk kursi kayu panjang yang terlihat rapuh yang biasa disediakan pedagang makanan keliling.
"Mbak mau makan tidak?".
"Tidak Bu, saya masih kenyang".
Sementara Mela memesan makanan yaitu nasi cap cay, Eti terlihat memeriksa kursi kayu yang akan diduduki oleh Mela.
Kayunya agak rapuh mungkin karena kepanasan dan kehujanan, tapi tampaknya tidak terlalu mengkhawatirkan.
Eti duduk di bagian tengah kursi, setelah memesan makanan lalu Mela duduk di bagian pinggir kursi.
Mamang pedagang nasi tengah sibuk membuatkan pesanan Mela.
Begitu nasi cap cay pesanan Mela siap, maka Eti yang melihatnya terlalu berinisiatif.
Eti dan Mela tak sadar kalau kursi kayu seperti itu tidak seimbang, rentan orang terjatuh kalau duduk terlalu pinggir, kalau ada orang lain yang tiba-tiba berdiri dari duduknya di sisi lain.
Tentu orang yang duduk dipinggir pasti akan terjungkal.
Inipun terjadi, Mela duduk dipinggir sementara Eti di tengah, lalu saat melihat pesanan Mela sudah matang maka tanpa pikir panjang Eti langsung berdiri untuk mengambil nasinya Mela.
Otomatis Mela yang duduk dipinggir langsung jatuh terjungkal.
"ASTAGFIRULLAH, YA ALLAH YA RABBI...BU ANTON!!!!"seru Eti saat melihat Mela terjungkal lalu terduduk.
"Bu Anton, Astagfirullah... Ibu tidak apa-apa? Aduh maafkan Eti, Ya Allah...maafkan Eti yah Bu," kata Eti sambil menangis berurai air mata.
"Bu...tidak apa-apa? Ada merasa sakit atau bagaimana Bu?"pedagang nasi goreng juga ikut panik.
Lalu Mela ditolong beberapa orang untuk bisa bangkit berdiri.
"Sudah saya tidak apa-apa, jatuhnya juga perlahan kok. Cuma pinggul agak sedikit sakit...heheheh," sahut Mela sambil sedikit meringis.
"Seharusnya Ibu duduk di tengah, Mbak ini dipinggir," kata pedagang itu mengomel kepada Eti.
"Sudah tak apa-apa, saya mau makan saja lapar," kata Mela sambil meraih piring nasi cap cay dan sekarang duduk di bagian tengah kursi.
Sambil makan Mela merasa lucu melihat Eti yang berdiri tak jauh darinya, Eti berurai air mata tapi dia mengusir orang lain yang mau duduk di kursi tersebut.
Dia khawatir kalau ada orang lain duduk lagi, nanti bisa membuat Mela terjatuh lagi.
Selesai makan dan membayar, lalu Mela dan Eti masuk ke dalam. Ternyata dokter Dhani sudah datang dan sekarang sedang memeriksa wanita lain dengan nomor urut empat.
Setelah hampir setengah jam menanti akhirnya nama Mela dipanggil juga, Eti ikut masuk dengan terus berurai air mata.
"Hai Mela, sama siapa nih? Kok nangis sih?"tanya dokter Dhani Ramlan keheranan melihat Eti.
"Hehehe...ini Mbak Eti, tadi aku jatuh dari kursi kayu milik Mamang nasi goreng di depan, dok," sahut Mela dengan santai.
"Hah...!!! Kamu jatuh lagi? Ayo cepat berbaring, suster segera siapkan alat USG,"perintah dokter Dhani saat mendengar Mela jatuh lagi.
Perut Mela diperiksa dengan seksama, dan Alhamdulillah kondisinya baik-baik saja, dan memang hanya bagian pinggul Mela saja yang sakit dan memar.
"Hmmm...tidak ada trauma juga janin baik-baik saja, cuma anakmu posisi kepalanya masih di atas dan terlilit tali pusar. Waduh agak rumit ini ," kata dokter Dhani saat melihat posisi janin Mela melalui alat USG.
Eti yang sejak tadi ikut melihat layar monitor USG jadi bertambah terbawa perasaan, dia berpikir kandungan Mela bermasalah karena tadi jatuh dari kursi kayu.
"Mela harus banyak nungging yah, untuk membuka lilitan dan juga agar bayi Kepalanya bisa turun ke bawah,"dokter Dhani menjelaskan apa yang harus Mela lakukan.
"Usahakan setiap hari minimal 15 sampai 20 menit nungging atau mengepel lantai sambil nungging".
"Dan kalau malam tidur usahakan miring ke kanan yah, agar lilitan tali pusatnya terlepas," dokter Dhani kembali memberi penjelasan dengan detail.
"Nanti seperti biasa yah vitamin harus tetap diminum, lalu makan dijaga jangan terlalu banyak mengkonsumsi yang manis. Mela naik berat badannya agak berlebih, konsumsi makanan yang seimbang yah".
Mela hanya tersenyum sambil nyengir, karena dia merasa juga kalau selama ini makannya berlebihan.
"Kalau jenis kelaminnya apa sih dokter?"tanya Mela penasaran ingin tahu nanti anaknya berjenis kelamin apa.
"Nah itu dia, sejak bulan ke empat kemarin kakinya menekuk terus dan posisinya membelakangi. Harus USG empat dimensi, di klinik kami belum ada yang secanggih itu alatnya,"ujar dokter Dhani sambil menunjukkan posisi kaki dan punggung bayi dalam perut Mela.
"Baiklah dokter, apapun jenis kelaminnya dia selalu aku nanti. Sudah tak tahan ingin segera memeluknya," kata Mela dengan penuh harapan.
Anton mengemudi dengan kecepatan cukup tinggi, mengingat jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
Istrinya pasti menunggu dia di klinik kandungan, tentu saja Anton merasa khawatir kalau Mela nanti menunggunya terlalu lama.
Padahal di klinik masih banyak pasien dan semakin malam di depan klinik juga semakin banyak pedagang makanan.
"Mbak Eti belum makan, ayo mau makan apa sambil menunggu pak Anton," kata Mela mengajak Eti makan dan tentunya dia juga sekarang sudah merasa lapar lagi.
Dì depan tampak penjual ketoprak, siomay dan juga mie bakso.
"Bu, Eti kepingin ketoprak saja boleh tidak?"tanya Eti malu-malu.
"Ayo pesan, aku mau pesan siomay juga deh kelihatan enak sekali tuh," sahut Mela yang langsung berjalan menuju penjual siomay.
Eti mencari kursi untuk Mela, dia kapok tadi sempat membuat Mela terjungkal di kursi kayu.
Untung penjual siomay membawa kursi plastik yang kokoh, sehingga Mela bisa duduk di kursi itu dengan santai.
Eti duduk di tembok pot yang ada di trotoar jalanan, dan keduanya menikmati makanan yang mereka pesan masing-masing dengan gembira.
Anton segera memarkirkan
mobilnya saat tiba di depan klinik milik dokter Dhani Ramlan.
Setelah mengunci pintu mobil lalu Anton bergegas menuju ke dalam klinik, pandangannya menyapu ke seluruh ruangan dan tidak terlihat istrinya disitu.
Dipikirnya mungkin masih di dalam, sehingga dia bertanya kepada petugas yang duduk di meja di muka pintu ruangan praktek dokter Dhani.
Lalu petugas mengatakan kalau ibu Melati sudah selesai diperiksa sejak tiga puluh menit yang lalu.
Anton kaget mendengar itu, lalu dia berjalan ke depan klinik sambil mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Mela.
"Pi...!!! Pi...., sini!!!".
Anton mendongak dan mencari arah suara Mela memanggilnya, dan ternyata istrinya sedang duduk santai sambil memegang satu piring siomay.
"Astaga Mi, sudah berapa piring nih?"tanya Anton sambil geleng-geleng kepala dan Mela hanya senyum lebar saja.
Tapi karena Anton juga lapar maka dia juga jadi ikutan memesan siomay sama seperti istrinya.
Di dalam mobil Eti dengan segala kelebaiannya dia menceritakan saat Mela terjungkal dari kursi kayu.
Dia menangis sambil meminta maaf kepada Anton karena dia yang membuat Mela terjungkal.
Anton sudah tahu dari Mela dan sudah membaca catatan dokter Dhani di buku check up, sehingga dia paham kalau istrinya baik-baik saja.
"Karena Eti sudah membuat istri saya jatuh, maka nanti turun di depan saja yah. Jangan di depan rumah saya," kata Anton mencoba menggoda Eti.
"Ya Allah Pak...tega yah... Kalau Eti jalan dari sawah sini bisa saja pak ke kampung Eti, tapi takut Pak karena melewati kuburan," ujar Eti ketakutan di turunkan di depan sawah dekat perumahan.
__ADS_1
"Justru itu, sebagai hukuman karena tadi membuat istri saya terjungkal....hahaha," goda Anton dan membuat Mela juga tertawa karena Eti tampak berurai air mata lagi karena merasa takut diturunkan di dekat sawah itu.
Sementara Haikal dan Aprilia sedang berada di rumah besar milik kakeknya.
Rumah itu sudah kosong, sudah tidak ada lagi yang menempati selama dua bulan ini.
Terakhir Haikal di telepon oleh istri muda ayahnya, seorang wanita bernama Siska mantan sekretaris yang menjadi istri Bambang Subrata.
Wanita itu pernah menelepon Haikal dan berkata akan segera menempati rumah kakeknya.
Keesokan harinya Haikal dan tantenya langsung memberikan uang pensiun kepada seluruh pegawai di rumah itu.
Lalu menyelamatkan beberapa harta berharga milik almarhum kakeknya dan meninggalkan rumah tersebut.
Tapi Siska tak kunjung datang karena terhalang oleh tiket pesawat yang entah mengapa sulit dia dapatkan.
Sehingga sudah dua bulan lebih kondisi rumah besar itu kosong begitu saja.
"Sayang, banyak debu sekali yah. Aku merasa sesak di rumah ini," keluh Aprilia saat memasuki rumah besar itu.
"Iya tentu saja, sudah dua bulan tak ada yang menempati dan membereskan rumah ini. Suasana juga jadi horor loh," kata Haikal iseng menggoda Aprilia.
"Jahat deh, diam saja coba jangan cerita seram-seram deh,"Aprilia kesal karena merasa ditakuti.
Mereka berdua naik ke lantai dua, lalu Aprilia merasa bulu kuduk berdesir. Mungkin tak ada apa-apa di sana, hanya Haikal sesekali menakuti dirinya jadi dia tersugesti ketakutan.
Lalu Haikal membuka kamar kakeknya, tercium bau lembab karena kamar itu memang sudah lama sekali jarang dibuka.
Mereka berdua lalu mulai membuka lemari dan memeriksa setiap sudut laci yang ada di dalam lemari besar tersebut.
Lalu beralih ke meja tulis yang ada di kamar itu, dan setelah dibongkar tak ada sama sekali akte lahir atau apapun milik Haikal.
Aprilia membuka laci yang terletak di meja rias, dan isinya hanya perlengkapan dandan jaman dahulu. Mungkin itu milik neneknya Haikal ketika masih hidup.
Aprilia menatap kaca yang tergantung di atas dinding, rupanya antara kaca dan meja rias tidak bersatu.
Lalu dia iseng menyentuh kaca itu karena terlihat sangat tebal, ketika di tekan tiba-tiba kaca itu terbuka seperti lemari.
Aprilia kaget sampai terpekik, " Hah...Astaga !!!".
Haikal menoleh lalu mendekat ke arah Aprilia yang sedang tertegun melihat ada sebuah lemari besi di balik kaca rias tadi.
"Mungkin tidak yah berkasnya ada di dalam sana?"tanya Aprilia sambil menunjuk ke arah lemari besi.
"Bisa jadi sih, tapi apa sandinya untuk membuka lemari besi itu?" Haikal jadi bingung tak paham cara membuka lemari besi itu.
Keduanya saling pandang dan bingung tak tahu apa sandi untuk membuka lemari besi itu.
Aprilia memandang sebuah foto di samping kaca, mungkin itu foto pernikahan kakek dan neneknya Haikal.
Di bawah foto ada tercantum tanggal pernikahan keduanya yaitu 10 Januari 1965.
"Apakah mungkin tanggal itu adalah sandinya?"tanya Aprilia sambil menunjuk ke arah foto.
Haikal melihat dan dia mencoba memutar kunci lemari besi itu, dan ternyata bisa dua lapis kunci terdengar membuka.
Masih ada sisa dua lapis kunci lagi, dan keduanya tak tahu lagi apa sandinya untuk dua lapis terakhir.
Haikal duduk di kursi sambil mengingat sesuatu, dulu sebelum meninggal, kakeknya pernah berkata kalau tanggal lahir Haikal akan membuka segalanya.
Apakah dulu itu sebuah petunjuk yang kakeknya sampaikan untuk membuka lemari besi itu.
Dia bangkit dan mencoba memutar angka sesuai tanggal, bulan dan tahun lahirnya.
Dan Klik....terbukalah pintu lemari besi itu, dan ketika dibuka benar saja semua dokumen ada di dalam sana.
Akte lahir Haikal, Kartu Keluarga, sertifikat rumah dan tanah, juga surat kepemilikan mobil kakeknya.
Haikal segera mengambil ranselnya dan memasukan semua berkas tadi ke dalam tas ranselnya itu.
Di bagian dalam lemari besi ada tas kecil berwarna hitam, lalu Haikal meraihnya dan memasukan tas kecil itu ke dalam ransel tanpa dia lihat lagi apa isinya.
Lalu dia segera menutup lemari besi tadi dan keluar kamar lalu mengunci lagi pintu kamar tersebut.
Haikal memasuki kamar tidurnya dan memeriksa sebentar siapa tahu ada barang yang tertinggal.
Lalu di atas meja ada beberapa lembar uang, rupanya dulu itu uang yang terselip di saku celana lalu dikumpulkan oleh pegawai di atas meja beberapa waktu yang lalu.
Haikal mengantongi lagi uang itu, siapa tahu ada yang membutuhkan pikirnya.
Ketika menutup pintu kamar, terlihat ada mobil masuk ke pekarangan depan, sorot lampunya menembus ke bagian dalam rumah.
Haikal bertanya-tanya ada siapa yang datang ke rumah kosong kakeknya itu.
Tak lama terdengar suara pintu mobil ditutup dan ada langkah suara sepatu wanita mendekati pintu depan rumah itu.
"Sialan rumah kotor sekali dan gelap sekali, tapi pintu gerbang tak dikunci. Kalau ada pencuri bagaimana?"terdengar suara wanita mengomel dan ketika Haikal mengintip dari atas terlihat sosok Siska masuk ke dalam rumah itu.
"Gawat...Siska datang, kalau tahu kita di sini pasti panjang urusan. Kacau deh kita bisa dilaporkan yang tidak-tidak nih," bisik Haikal kepada Aprilia.
"Tadi kita kan lewat dapur belakang, kita balik lagi saja lewat sana. Sepertinya dia tak tahu ada kita,"bisik Aprilia juga sambil mengintip Siska yang terlihat sibuk membawa koper besar.
"Kurang ajar sekali, tak ada satupun pegawai di rumah ini. Sialan sekali mereka semua, tapi tenang aku pasti mudah mencari pembantu,"terdengar Siska mengomel dan dari kejauhan terlihat dia tak sendiri tapi ada sosok pria menemaninya.
"Pasti itu pacar barunya Siska, hmmm...tampaknya aku akan mengerjai mereka,"ujar Anton dalam hati sambil tersenyum sendiri melihat mereka berdua.
Haikal dan Aprilia berjingkat menuruni anak tangga dan menuju ke dapur. Lalu mereka membuka pintu dapur perlahan agar tidak terdengar oleh Siska dan kekasihnya.
Untung mobil mewah kakek sudah diamankan sejak beberapa waktu lalu disimpan di rumah tante Linda.
Mereka berdua lalu menuju motor yang disimpan di samping garasi.
Karena Haikal sejak kecil tinggal di rumah itu jadi dia tahu cara untuk membuat Siska akan ketakutan di rumah itu.
Dia berlari menuju pohon di belakang rumah, dan dia menarik tali lalu mengikatkan tali itu ke jendela ruangan gudang.
Rupanya itu tali yang penuh dengan kaleng rombeng bergantungan, diikat ke jendela dengan harapan kalau jendela tertiup angin akan menggerakan tali kaleng rombeng tadi.
Haikal dan Aprilia cekikikan membayangkan pasti Siska akan ribut marah-marah dan ketakutan saat mendengar kaleng tadi bunyi.
Diam-diam sambil mengendap-endap, Haikal mendorong motornya ke luar pekarangan rumah.
Dari dalam terdengar suara Siska yang tampaknya marah besar karena rumah itu kosong dan banyak debu, lalu tak ada satu orangpun yang bisa disuruh untuk bersih- bersih.
Setelah agak jauh dari rumah kakeknya, Haikal baru menyalakan motornya dan tiba-tiba dia berhadapan dengan Hansip perumahan.
"Mas sini sebentar," panggil Haikal kepada hansip itu.
"Ada apa Mas Haikal?"tanya Hansip tadi.
"Mas, maaf yah ingat Siska tidak? Itu yang mengganggu keluarga saya dulu," kata Haikal kepada Hansip tadi.
"Oh perempuan jahat itu, iya saya tahu dan saya juga dengar dari Mas Harjo dan istrinya kalau perempuan itu meninggalkan pak Bambang padahal sedang sakit," Hansip itu rupanya tidak suka juga kepada Siska.
"Nah itu dia Mas, besok pagi pasti dia akan minta dicarikan orang untuk bekerja di sana".
"Ini ada sedikit uang, maaf Mas bukan saya menyuap, cuma tolong Mas beri uang setiap ke asisten rumah tangga di sekitar sini agar jangan mau diminta tolong oleh Siska mencarikan pegawai untuk dirinya".
"Ini bukan uang suap, tapi maaf ini cuma uang lelah saja karena Mas pasti nanti harus memberitahu asisten rumah tangga di sekitar sini," kata Haikal kepada Hansip itu.
"Tenang Mas Haikal, aku juga paham kok. Uang aku terima untuk rokok dan kopi, juga untuk aku bayari bakso para asisten rumah tangga di sini. Aku jamin tak ada yang mau menolong Siska si jahat itu," kata Hansip itu dengan semangat dan menerima uang dari Haikal.
Kebetulan uang selipan di saku yang ada di meja dia bawa tadi sehingga semua dia berikan ke hansip itu.
Setelah itu mereka berdua menuju rumah Anton dan menyiapkan berkas untuk pernikahan mereka bulan depan.
Semalaman Siska marah besar karena mendengar suara berisik dari belakang rumahnya tapi ketika dicari tak ada yang mencurigakan.
Tentu saja tali penuh kaleng tadi diikat ke pojok tempat tersembunyi dan hanya Haikal yang tahu tempat itu.
Esok harinya Siska mencari asisten rumah tangga di sekitar situ dan minta dicarikan temannya untuk membantu bekerja di rumah besar milik kakek Haikal.
__ADS_1
Semua orang menolak dengan alasan orang di kampungnya sudah bekerja semua di kota.
Siska semakin geram karena tak ada satupun yang mau membantu dia, sekarang hanya dia dan kekasih barunya yang harus membereskan rumah itu.