Cinta Anton Dan Mela

Cinta Anton Dan Mela
Kelima Puluh Lima


__ADS_3

Anton dan Mela bisa dikatakan sebagai salah satu pasangan pengantin paling santai.


Memang sengaja Mela tidak ingin membuat Anton banyak pikiran untuk pernikahan mereka, sehingga dia dan Anita kakaknya Anton membuat konsep pernikahan dengan se enjoy mungkin.


Pernikahan mereka akan digelar hari ini, Jumat pertama di bulan terakhir pada tahun itu.


Hari dan tanggalnya dipilihkan oleh bayi kecil yang nanti menjelang akhir tahun akan berulang tahun pertamanya.


Sejak pagi hari apotik Wiharja Farma kembali memasang pengumuman di pintu pagar apotik " Hari ini tutup, besok buka kembali seperti biasa".


Mela pagi ini sedang melakukan ritual calon pengantin perempuan pada umumnya, yaitu sedang melakukan pijat lulur pengantin, ratus V dan manicure pedicure.


Seumur-umur dia belum pernah merasakan nikmatnya di pijat lulur, seluruh rasa pegal ditubuhnya diurut perlahan, otot-ototnya yang pegal dikendurkan.


Facial wajah tidak dilakukan sekarang karena kulit wajahnya sudah halus dan bersih. Selama beberapa bulan ini rutin melakukan facial wajah karena Mela menjadi model percontohan di klinik dokter Wina.


Klinik dokter Wina juga diliburkan maka ruangan prakteknya pada hari ini bisa dipinjam oleh tim salon kecantikan dari Ryana untuk melakukan seluruh proses perawatan dan merias Mela sang calon mempelai.


Di lantai bawah di rumah kediaman Wiharja semua orang sibuk, Anita dan ibu Aryani tampak mengatur tatanan untuk para tamu undangan yang akan hadir.


Walaupun yang hadir nanti hanya kerabat dan teman dekat, tapi tetap saja harus mempersiapkan segalanya dengan sebaik mungkin.


Salah satu tim Ryana juga sedang merapihkan meja panjang untuk nanti digunakan sebagai meja prasmanan, di garasi samping rumah mereka.


Ibu Sinah juga tampak sibuk memeriksa dan mengatur makanan yang akan disajikan siang nanti.


Memang memesan paket prasmanan dari salah satu catering terkenal, namun menjelang pelaksanaan sebagai tuan rumah juga harus memeriksanya, ditakutkan ada yang terlupa atau kurang.


Fajar, pak Salim dibantu oleh Wahyu dan tim karyawan sedang mengatur bangku untuk nanti para tamu undangan duduk.


Selain itu mereka juga mengatur posisi meja untuk acara akad nikah nanti akan dilaksanakan.


Sementara di kamar pengantin Ryana dibantu beberapa tim lainnya sedang menghias tempat tidur pengantin juga menghias box untuk meletakan cincin dan mas kawin.


Tak lama tim fotografer yang akan mengabadikan dan merekam video seluruh kegiatan pernikahan hari itupun tiba di lokasi.


Edwin dibantu oleh beberapa orang mulai merekam kegiatan awal seluruh keluarga yang tengah sibuk mempersiapkan segala rupa untuk acara pernikahan nanti.


Lalu Edwin mengambil foto kamar pengantin yang sedang di hias oleh Ryana partner bisnisnya, sementara temannya merekam video kegiatan tersebut.


"Mas Edwin, ini kotak cincin dan mas kawin aku simpan di tempat tidur lalu diambil gambarnya bagus tidak?"tanya Ryana sambil menyimpan kotak tersebut di atas tempat tidur.


Sebenarnya Edwin masih merasa sedih karena hari ini dia harus menerima kenyataan mengabadikan pernikahan mantan kekasihnya di masa lalu.


"Ya bagus tidak apa-apa, coba kamu tambahkan saja bunga tangan diletakan disampingnya agar jadi lebih menarik," kata Edwin memberi saran kepada Ryana.


Memang keduanya sangat cocok, bertahun-tahun menjadi partner bisnis selalu saling membantu dan saling mendukung satu sama lain.


Tapi mengapa diantara mereka tidak pernah tercetus kata cinta, padahal mereka berdua tak bisa saling melepaskan diri, sudah lama mereka saling terkait.


Edwin tanpa Ryana sulit menjalankan profesi dan hobby nya, sementara Ryana juga tidak akan bisa memajukan keterampilannya dalam merias dan menghias pengantin bila tak dibarengi campur tangan Edwin.


Ryana selalu bisa menutupi kekakuan Edwin dalam berbicara dan berlaku, sementara Edwin selalu menjadi juru saran yang baik untuk Ryana saat sedang merias atau menghias.


"Ryana...sepertinya sprei bagian kiri kurang rapih lalu sebaiknya tambahkan bunga di sana,"saran Edwin saat melihat kondisi sprei ada yang kurang rapih, lalu segera Ryana merapihkan dan serta menyimpan kuntum bunga di atasnya.


Setelah itu keduanya beranjak ke ruangan tengah rumah itu untuk menghias meja akad nikah, keduanya sangat kompak saling mendukung dan memberi saran dalam memantaskan hiasan dalam ruangan tersebut.


Semua sibuk dengan tugasnya masing-masing untuk kelancaran acara pernikahan Anton dan Mela.


Dari tadi author cerita tapi kemana sang calon pengantin prianya yah... dari awal bab ini kok tidak diceritakan.


Hhhmmm sedang dimana dan sedang apa rupanya pria ini yah...


Rupanya Jaya dan Anton masih dalam perjalanan menuju kota Bandung dari kota Cirebon, tadi pagi Jaya adu argumen dulu dengan pak Tarmidi soal ijin mengambil cuti untuk mendampingi Anton.


Pak Tarmidi minta agar Jaya tidak usah mengantar Anton, karena seminggu lagi dari hari itu Anton juga akan membuat syukuran pernikahannya di puskemas.


Jaya memberikan alasan kalau dia khawatir Anton pingsan sewaktu-waktu di jalan, dia ingin memastikan agar Anton tiba di Bandung dengan sehat dan selamat.


Masalahnya pak Tarmidi kerepotan kalau tidak ada Jaya. Walaupun dia buaya darat tukang menggoda wanita tapi kalau bekerja sangat cekatan.


Lain dengan Murni kalau diminta tolong untuk memberikan laporan pasti susah dan lambat cara bekerjanya, dan kalau tidak ada Jaya sudah pasti Komar menjadi alat bantu dirinya.


Akhirnya setelah hampir setengah jam, pak Tarmidi menandatangani surat pengajuan cutinya dengan catatan sama dengan Anton di hari Senin pagi harus sudah ada di puskemas.


"Jaya kacau kamu, namaku jadi alasan padahal aku sudah bisa menyetir sendiri ke Bandung. Alasan saja kamu mau ketemu dia kaaannnn......,"Anton menohok Jaya yang saat ini sedang mulai melajukan mobilnya.


"Bro...suusdzon saja deh kepadaku , aku itu peduli sama kamu...khawatir kalau pengantin jalan sendirian nanti bisa kenapa-napa...,"ujar Jaya mencoba menyampaikan alasan kepada sahabatnya.


"Ah alasan saja, kalau benar karena peduli sama aku 100%, nanti jangan janjian dengan Miranti yah...ayo berani tidak?" Anton kembali mencoba membuka kartu alasannya Jaya.


"Maaf bang Anton, kalau yang itu sih sudah lebih dulu terjadi. Kami sudah ada janji besok hari sabtu akan pergi ke suatu daerah wisata dan menginap di sana ...hehehehe,"Jaya terkekeh merasa menang dari Anton.


"Waduh...aku yang menikah kok kamu yang bulan madu....dasar Jaya sinting...!!!!"Anton tampak sewot kepada Jaya dan yang disewoti hanya tertawa bahagia.


Anggota tim kerja Ryana yang sedang menangani Mela melakukan proses pijat lulur adalah seorang ibu yang usianya sudah tidak muda berkisar empat puluh tahunan, artinya sudah paham yang namanya asam garam rumah tangga.


Saat ini ibu itu sedang melakukan proses ratus V kepada Mela, dia mendirikan semacam tenda kecil, lalu menutupi tubuh telanjang Mela dengan dibalut sehelai kain.


Di dalam tenda kecil itu ada semacam anglo yaitu semacam tungku kecil yang terbuat dari tanah liat. Mela duduk di atas kursi khusus dimana di tengah kursi itu dilubangi dan dibawah lubang itu ada tungku anglo tadi.


"Ibu...ini untuk apa... saya kok seperti mau direbus?" Mela tampak gusar ketika disuruh duduk di atas kursi tersebut.


"Hahahaha...ini khusus untuk pengantin wanita agar kewanitaannya malam ini menjadi bersih, wangi dan rapat nanti suaminya tambah sayang loh,"kata ibu yang sedang merawat dirinya menjelaskan kepada Mela.


Mela masih tak paham tapi dia terpaksa duduk di kursi itu, dan benar saja dia mulai merasakan hawa panas dari bagian bawah tubuhnya.


"Neng kan sebentar lagi jadi pengantin, jadi harus serba wangi seluruh tubuhnya termasuk bagian intimnya juga agar suami menjadi tambah sayang dan lengket,"ibu itu menjelaskan lagi sambil senyum-senyum.


Mela merasa tidak nyaman, badannya ditutupi tenda hanya kepalanya saja yang terlihat. Dan dia merasa aneh saja mengapa harus diperlakukan seperti begini.


Seluruh tubuhnya mandi keringat, yang membuat dirinya agak sedikit nyaman adalah wangi aroma rempah yang dibakar dibawah tubuhnya.


Mela duduk selama sekitar tiga puluh menit dengan tubuh penuh keringat karena diasapi dari bagian bawah tempat duduknya.


Setelah tiga puluh menit, di bukalah tendanya dan sambil masih berbalut kain, tiba-tiba ibunya dan ibu Aryani calon mertuanya naik ke atas ke ruangan klinik dokter Wina.


Kemudian Mela dibawa ke tempat untuk membasuh tubuhnya, dan di sana sudah ada kursi juga satu ember air bertabur bunga.


Ibunya mengambil air dari cibuk yang ada di dalam ember dan menyiramkan ke tubuh anaknya, lalu bergantian dengan ibu Aryani juga melakukan yang sama.


Tak hanya kedua ibu tersebut, tak lama Anita juga naik membawa rombongan ibu-ibu pengajian, lalu semuanya ikut menyirami tubuh Mela sambil memberi ucapan doa yang terbaik.


Menjelang para pria menuju masjid untuk menunaikan ibadah jumat, sang pengantin pria baru tiba di halaman rumah kediaman keluarganya.


Pak Salim ayahnya sudah memasang wajah kesal karena sedari pagi sudah menunggu anaknya dengan was-was takut terjadi sesuatu di jalan.


Tak menunggu lama kaum pria semua bergerak menuju masjid yang kebetulan letaknya tidak jauh dari kediaman mereka.


Seluruh wanita juga melakukan ibadah sholat Dzuhur di kediaman Wiharja, begitu juga Mela menunaikan ibadah juga melaksanakan Jama Shuri yaitu menarik ibadah Asharnya karena suatu hal tertentu.


Setelah selesai ibadahnya akhirnya Mela memasuki tahap dirias sebagai pengantin, hal ini dikarenakan akad nikah akan dilakukan nanti setelah selesai ibadah Ashar.


Tamu undangan yang sebagian besar sudah datang, lalu menikmati hidangan makan siang bersama.


Mela juga disuapi oleh ibunya, sambil diberikan wejangan-wejangan untuk bekal setelah menikah nanti.


Setelah ibunya turun, tinggal dirinya bersama dengan Rayna yang tengah mendandani dirinya.


"Mbak Rayna...apakah sudah menikah?" tanya Mela saat kelopak matanya diwarnai oleh Rayna.


"Hahaha... sudah sangat banyak sekali aku mendandani pengantin tapi bagiku sendiri itu hanya mimpi,"dengan santai Rayna menjawab pertanyaan Mela.


"Aku kira mbak Rayna dan Edwin adalah sepasang kekasih," ujar Mela dengan polos seperti biasanya.


"Edwin hanya teman bisnis saja, sampai kapanpun tak mungkin berubah,"jawab Rayna lagi dengan cueknya sambil sekarang membentuk alis Mela.


"Tapi mbak Rayna ada rasa cinta tidak kepadanya?"tanya Mela langsung ke intinya.


Rayna melepaskan tangannya dari atas alis Mela dan dia tertawa, merasa lucu dengan pertanyaan Mela.


"Kok aku jadi ditanyain begini yah... Hahahaha....mbak Mela ada-ada saja deh...,"Rayna tertawa mendengar pertanyaan Mela.


Tapi Mela tak mau diam begitu saja, kembali dia bertanya sambil menatap mata Rayna.


"Ya tapi benarkan mbak Rayna ada rasa cinta kepada Edwin?"desak Mela dengan tatapan penuh mengarah ke relung hati Rayna.


Rayna jadi tersentuh, dan akhirnya dia berkata,"Kami sudah bersama-sama setiap hari lebih dari lima tahun lamanya. Kalau bilang tidak ada cinta dan rasa, aku bohong. Tapi kalau aku bilang adapun percuma saja, karena ini cuma perasaanku sementara Edwin sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama kepadaku".


Rayna tersenyum getir lalu kembali dia merias Mela menjadikannya ratu sehari.


Dasar lelaki tidak perlu banyak dandan, setelah sembahyang jumat Anton malah ikut makan siang bersama para tamu yang sebagian besar adalah kerabatnya.


Bahkan ada kerabat dari kota kelahiran ibunya yaitu Garut, sudah hadir sejak tadi pagi.


"Ton nanti kamu besok ke hotel aku yah, aku siapkan kamar untukmu sebagai hadiah bulan madu untuk kalian,"kata Septa sepupunya Anton yang baru saja membuka penginapan baru di kota Garut


"Wah keren sekali bro, beneran nih aku diundang kesana. Besok aku bawa istriku ke hotelmu,"Anton begitu senang sambil melihat kartu nama sepupunya.

__ADS_1


NEW SULFUR HOTEL - SEPTA HIDAYAT - OWNER


"Keren sekali sepupuku sekarang sudah jadi boss hotel nih,"kata Anton sambil merangkul bahu sepupunya.


"Eh bro cepetan kamu mandi dan ganti pakaian, bukankah dua jam lagi akan akad nikah?"Septa mengingatkan sepupunya untuk bersiap-siap.


"Santai saja bro, kita kan cowok gampang lah...sebentar lagi menjelang ashar baru mandi, kemudian sholat lalu berpakaian jas...beres deh..,"jawab Anton dengan santai sekali.


"Iya benar juga, tapi aku dulu repot bro karena istriku kan orang Palembang, dan permintaan keluarganya untuk resepsi dengan adat sana. Ya sudah aku seharian berpakaian adat palembang mau tak mau walau gerah...hahahaha," Septa berbagi kisah saat dia menikah dulu.


"Iya yah...maafkan dulu aku tak hadir saat kamu menikah, kalau tak salah aku masih koma saat itu yah,"Anton merasa tak enak karena dia tak sempat hadir saat sepupunya yang merupakan anak dari adik ibunya ini menikah dulu.


"Tenang bro, aku paham kok waktu itu kamu sedang bagaimana. Ayo nanti malam cepat ngebut yah, aku sudah punya dua anak loh...hahahah,"kata Septa sambil menyenggol lengan Anton.


"Hahahah...siap bro...nanti aku kejar... hahahah," ujar Anton sambil sebenarnya dia masih tak bisa membayangkan bagaimana nanti malam saat akan berdua saja dengan Mela.


Anita sedang mencari adiknya, dan akhirnya terlihat sedang duduk bersama sepupunya Septa.


"Septa...sorry yah...ini pengantin aku


bawa dulu yah dari tadi hilang melulu, padahal sudah dicari untuk segera bersiap," Anita datang-datang langsung mengomel karena adiknya hilang terus.


"Iya bawa saja Nita, kalau bisa diikat saja agar tidak terus berkeliaran.... hahahah," Septa mentertawakan sepupunya yang tengah di omeli oleh kakaknya.


Anita segera menyuruh adiknya mandi, sambil dia menyiapkan kemeja dan seperangkat jas berwarna coklat juga dari yang senada.


Sesaat kemudian terdengar panggilan Adzan Ashar, pertanda umat muslim harus segera menunaikan ibadahnya.


Anton segera melaksanakan ibadahnya, dan dia memohon kepada Allah agar diberikan ketenangan hati karena sebentar lagi dia akan mengucapkan akad nikah.


Kemudian Anton turun ke lantai bawah sehabis berpakaian dari kamar orang tuanya di lantai atas.


Setibanya di lantai bawah, dia merasa senang sekali karena wak Darma hadir bersama keluarga, bahkan Wiwit juga sudah bisa hadir dengan perutnya yang semakin membesar.


Surya menyalaminya karena sebentar lagi Anton akan bergabung menjadi keluarga besar seperti dirinya.


Tak ketinggalan Rahman juga hadir bersama Atikah yang sekarang sedang hamil muda.


Kehadiran Rahman tentu menjadi arti tersendiri nanti bagi Mela, karena setidaknya sekarang ada adik lelakinya yang bisa menjadi wali nikahnya.


Tepat pukul empat sore penghulu tiba, dan segera Anton bersiap menempati meja yang telah disediakan.


Edwin bersiap untuk mengabadikan setiap momen prosesi ijab kabul yang akan segera diselenggarakan.


Dalam hatinya merasa ada sedikit iri hati melihat Anton yang terlihat bahagia sekali akan bersanding dengan Mela mantan kekasihnya.


Anton menyalami penghulu lalu segera menempati posisi masing-masing, maka dimulailah acara yang dipandu oleh seorang pembawa acara yang sangat tampan.


"Ayah....idiiiihhh...itu ganteng sekali yah yang jadi pembawa acaranya," kata Anita sambil berbisik kepada suaminya.


"Hmmm...kamu naksir yah...,"goda Fajar kepada istrinya.


Seketika Anita menatapnya sambil melotot dan berkata," Enak saja kalau ngomong, aku kan cuma bilang ganteng tapi tak ada maksud apapun".


Itulah wanita, coba kalau kebalikan yang membawa acara itu wanita cantik lalu suami berkomentar mengenai kecantikannya, pasti selain biru di lengan atau di pinggang juga seharian akan dicemberuti.


Sekarang juga yang komentar pembawa acara ganteng adalah istri, lalu suami hanya menggoda tapi tetap saja suami yang dimarahi.


Ya Allah, sungguh luar biasa Engkau berikan kesabaran kepada seluruh kaum Adam dalam menghadapi emosi kaum Hawa yang dicintainya.


Pembawa acara membuka dengan Basmallah, kemudian diawali dengan pembacaan ayat suci Al Quran dan terjemahannya yang dibawakan ibu-ibu pengajian dari lingkungan setempat.


Setelah itu ada ceramah yang di sampaikan oleh seorang Ustadz dari pesantren Al Ikhlas tempat Fajar menjadi salah satu pembimbing disana.


Setelah selesai ceramah dilanjutkan dengan sambutan dari pihak keluarga kedua belah pihak mempelai.


Dari keluarga Anton yang mewakili yaitu Fajar sebagai kakak iparnya dan dari keluarga Mela diwakili oleh Darma selaku paman dari pihak ibunya.


Kemudian Keiza muncul membawa box berisikan sepasang cincin dan juga perhiasan mas kawin.


Didampingi oleh Wahyu dibelakangnya sambil membawa seperangkat alat Sholat untuk mempelai wanita.


Kemunculan Keiza membawa box mahar itu sontak menjadi pusat perhatian dan tak sedikit yang segera mengabadikan momen tersebut.


Anak kecil itu membawa box dari arah belakang, lalu saat di tengah-tengah dia berhenti celingukan mencari bunda atau ayahnya.


Otomatis Anita berdiri di depannya dan memberi aba-aba untuk terus maju, dengan wajahnya yang imut antara takut dan bingung dia melirik ke kanan dan kiri, mimik mukanya sangat lucu sekali sehingga mengundang tawa semua yang melihatnya.


Setelah tiba di dekat Anton segera dia memberikan box itu kepada pamannya, lalu segera lari memeluk bundanya.


Setelah semuanya tersimpan rapi di atas meja akad nikah, kemudian Rahman diangkat menjadi wali nikah oleh penghulu.


Rahman duduk berhadapan dengan Anton, momen ini menjadi salah satu momen terbesar lagi dalam hidupnya.


Dia harus menggantikan ayahnya untuk menyerahkan kakak perempuannya kepada seorang lelaki yang selanjutnya akan bertanggung jawab dengan segala kehidupan kakaknya.


Lelaki ini menjadi penyebab ayahnya dulu harus berpulang.


Lelaki ini juga yang membuat kakaknya bisa menyelesaikan impiannya menjadi sarjana.


Lelaki yang ada dihadapannya juga yang telah menolong adiknya sehingga bisa bekerja di tempat yang layak.


Dan kemarin ini lelaki ini telah meminta bantuan pamannya untuk memperbaiki kondisi rumah orang tuanya menjadi lebih baik dan nyaman.


Bahkan saat ini Rahman dibangunkan sebuah rumah di belakang kediaman orang tuanya.


Keluarga lelaki ini begitu baik kepada kakaknya, memperlakukan kakaknya seperti anak mereka sendiri sejak dulu jauh sebelum kata pernikahan tercetus.


Saat Rahman menjabat tangan Anton dari kejauhan terlihat seperti ada bayangan ayahnya berpakaian putih berdiri sambil menganggukan kepalanya.


Rahman tercekat hingga membuat dia mengucapkan Ijab dengan sedikit terbata-bata karena menahan perasaan haru.


"Saudara Anton Wiharja bin Salim Wiharja, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan kakak perempuan saya terkasih Melati Sekar Wangi binti Suganda, dengan mas kawin berupa perhiasan emas seberat 20 gram dan seperangkat alat Sholat, TUNAI".


"Saya terima nikah dan kawinnya Melati Sekar Wangi binti Suganda dengan emas kawin tersebut dibayar TUNAI"


"Sah?....Sah?...,"tanya penghulu dan disambut oleh seluruh undangan yang hadir.


"SAH.....!!!!SAH.....!!!!!"


Lalu Mela keluar dari balik ruangan sebelah dan berjalan perlahan sambil membawa bunga ditangannya, menuju lelaki yang telah mengucap Ijab Kabul atas dirinya.


Semua mata memandang dirinya, memakai gamis pengantin berwarna putih gading dengan riasan sederhana namun sangat mempesona.


Anton menantinya matanya tak bisa berkedip melihat wanita yang sudah resmi menjadi istrinya berjalan ke arahnya dan terlihat begitu cantik sekali.


Mela berdiri dihadapan Anton, lalu Anton memberikan tangan kanannya dan segera disambut Mela dengan menciumnya pertanda hormat kepada suaminya.


Anton menyelipkan cincin ke jari manis tangan kanan Mela, sebaliknya Mela juga memasukan cincin pernikahan ke jari manis tangan kanannya Anton.


"Cium...cium...cium...!!!!" terdengar suara suara teriakan yang meminta agar Anton mencium Mela.


Lalu Anton mencium kening Mela, tapi tak berhenti disitu suara suara malah meminta lain lagi.


"Bibir....Bibir...Bibir...!!!"


Anton memandang istrinya yang tengah tertunduk malu, tanpa perlu komando lagi dia mencium bibir tipis istrinya.


Sontak seluruh ruangan riuh bersorak dan bertepuk tangan, bahkan ada juga yang menggoda mereka.


"Tahan bro....tahan dulu.... hahahah".


Mela wajahnya memerah merasa malu digoda oleh seluruh orang diruangan itu.


Kemudian mereka kembali duduk untuk menandatangani surat nikah dan juga dokumen persyaratan lainnya.


Setelah itu mereka berdua difoto sambil memamerkan cincin ditangan dan juga buku pernikahan.


Lanjut lagi dengan acara yang akan mengharu biru yaitu sungkeman kepada orang tua, acara yang selalu dipenuhi dengan isak tangis karena bahagia dan haru menjadi satu.


Kedua mempelai berlutut dihadapan masing- masing orang tua, pertama mereka melakukan sungkeman kepada pak Salim dan ibu Aryani.


Kata maaf terucap kepada kedua orang tuanya dari mulut kedua mempelai, dan doa terbaik terucap dari bibir orang tuanya.


Lalu sungkeman berlanjut kepada ibu Sinah dan juga wak Darma sebagai pengganti peran ayahnya Mela. Dan sama seperti sebelumnya kepada orang tua Anton, kata maaf dan mohon doa terbaik dari ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkan Mela.


Hampir seluruh undangan juga ikut menitikan air mata saat melihat momen sungkeman tersebut.


Jaya sedang berdiri di depan pintu masuk kediaman Wiharja, dia menanti kedatangan Miranti.


Karena masih ada urusan di kantornya, sehingga Miranti datang terlambat.


Dia berlari-lari kecil memakai sepatu high heels nya, saat itu dia memakai celana panjang ketat dengan blus model Sabrina yang terbuka di bagian dadanya.


Rambutnya sekarang berwarna merah kecoklatan panjang melingkar-lingkar.


Penampilannya tentu saja menarik perhatian beberapa tamu dan sekarang banyak yang mulai berbisik-bisik sambil menatapnya.


Miranti datang tepat saat dimulai acara sungkeman sehingga anggota keluarga tidak fokus terhadap kedatangannya.

__ADS_1


Setelah acara mengharu biru selesai, mulailah acara untuk para jomblowan dan jomblowati yaitu pelemparan bunga tangan.


Anton dan Mela berdiri berdampingan membelakangi semua tamu undangan, ditangan keduanya ada bunga tangan yang siap dilempar untuk diperebutkan oleh para jomblo dibelakang keduanya.


1....2....3.....wiiiinnnngggggg....


Bunga tangan terlempar jauh, jomblo mania segera berlompatan berusaha meraihnya, namun seperti takdir sudah ditentukan, bunga tangan jatuh tepat ke tangan Miranti yang saat itu sedang berdiri tepat di belakang barisan para jomblo tersebut.


Miranti sendiri terkejut tapi dia bahagia karena mendapatkan bunga tangan itu, semua mata tertuju kepadanya.


Jomblowati merasa kesal karena tidak berhasil meraih bunganya, jomblowan lain lagi mereka semua membelalak melihat ada penampakan cantik nan seksi mendapatkan lemparan bunga tadi.


Jaya tertawa senang tapi dia juga kesal melihat mata para pria yang tertuju kepada Miranti dan tampaknya seperti ingin menelannya bulat-bulat.


Maka secara otomatis dia merangkul bahu Miranti menandai agar jangan sampai ada yang melirik lagi apalagi mencoleknya.


Ada Miranti dalam ruangan maka pasti ada yang melotot dan cemberut kepada suaminya, siapa lagi kalau bukan Anita dan Mela.


Otomatis suami-suami itu segera merangkul istrinya dan mendekapnya, menunjukkan tidak akan terpengaruh dengan penampakan itu.


Akhirnya semua tamu undangan yang hampir 90 persen adalah masih kerabat Anton dan Mela, mulai makan malam bersama.


Miranti dan Jaya mendekati kedua mempelai,"Dokter Anton....Mbak Mela.


..selamat yaaahhhh...aku dapat bunganya ini looohhhh....".


Miranti memberikam salamnya kepada kedua mempelai, setelah Mela selesai membalas salamnya segera dia menggandeng lengan suaminya.


"Dokter Anton....maaf yah kalau saya pernah punya salah, semoga kesalahan dahulu jangan pernah diingat lagi," kata Miranti kepada Anton, dan hanya bisa dibalas dengan anggukan dan senyum karena lengannya sedang ada yang mencubit kecil dan terasa perih.


Setelah itu mereka juga mendekati pasangan Fajar dan Anita, lalu Miranti memperkenalkan diri kepada Anita dan dia juga meminta maaf kepada Fajar atas perkataannya beberapa waktu yang lalu.


Anita tersenyum sambil tangannya merangkul pinggang suaminya, sama seperti Anton barusan, Fajar juga tidak bisa menjawab hanya tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Dan Fajar memastikan kalau nanti setelah acara selesai, saat membuka pakaian pasti terlihat pinggangnya akan biru lagi.


Setelah itu mereka berdua mengantri untuk mengambil makan malam bersama tamu lainnya.


Hampir semua mata tertuju kepada Miranti, namu yang sudah berstatus suami akan pura-pura tidak melihatnya, karena sudah bisa dipastikan ada seorang wanita mengawasi sambil melotot disampingnya.


Tadi pagi sebelum semua acara terjadi, Mela menitipkan peniti hiasan yang selalu dipakai dikerudungnya kepada Wahyu adiknya.


Ketika semua sedang makan malam, dia berbisik kepada Wahyu meminta lagi peniti tadi.


Kebetulan ada di saku kemeja Wahyu dan segera adiknya itu menyerahkan kepada kakaknya.


Mela minta ijin sebentar kepada Anton untuk menemui Edwin dengan alasan membicarakan masalah foto.


Setelah Anton memberikan ijin dia berjalan sendirian ke arah Edwin.


"Edwin, nanti akan ada sesi foto keluarga, apakah kamu membawa layar untuk latar belakang fotonya?"tanya Mela kepada Edwin.


Tapi Edwin malah tertawa mendengar pertanyaan itu, lalu dia berkata," Mela.... Mela...kalau sepuluh tahun lalu mungkin harus repot bawa-bawa layar, sekarang teknologi semakin canggih. Kamu foto di sini, besok ketika hasilnya jadi latar belakangnya mau pantai atau pegunungan juga bisa atau di jalan raya juga bisa....tinggal aplikasi komputer saja yang melakukannya".


"Oh begitu, baiklah...aku tak paham sih kalau sudah secanggih itu,"balas Mela kepada Edwin sambil tertawa kecil.


"Hmm ini Edwin aku mengembalikan sesuatu kepadamu," Mela melanjutkan sambil menyerahkan peniti hiasan tadi ke tangan Edwin.


"Apa ini?"tanya Edwin bingung sambil menerima peniti hiasan tadi.


"Sudah sepuluh tahun aku memakainya, karena peniti ini berbahan bagus jadi masih baik sampai sekarang. Tapi aku sudah tidak bisa memakainya lagi, ada gadis lain yang lebih berhak untuk memakainya, "kata Mela menerangkan sambil mengarahkan Edwin untuk memandang Ryana yang tengah membetulkan hiasan bunga di atas meja.


Edwin menatap Mela sambil memegang peniti itu, lalu dia tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Mela kembali duduk bersama suaminya yang tengah berbincang seru dengan sepupu-sepupunya.


Setelah selesai acara satu persatu tamu undangan mulai berpamitan, pihak keluarga dan kedua mempelai mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh kerabatnya.


Bahkan malam itu walau terlambat mengikuti acara, suaminya Pertiwi juga hadir dengan masih memakai pakaian seragam lengkap.


Dia memohon maaf datang terlambat karena masih bertugas juga mohon maaf karena anak dan istrinya tidak bisa hadir dan hanya diwakili dirinya.


Rombongan pesantren pamit dan ibu Aryani sudah menyiapkan nasi kotak untuk seluruh siswa dan juga pengajar di sana, ada sekitar 250 kotak yang dibawa masuk ke dalam mobil dinas pesantren.


Ibu Sinah yang sedianya ingin ikut pulang bersama keluarga Haji Darma, ditahan oleh Ibu Aryani karena besok beliau akan dibawa jalan-jalan ke kota Garut.


Keluarga besar ibu Aryani mengundang balik keluarga Wiharja untuk hadir ke Garut besok dalam rangka pembukaan hotel baru milik Septa.


Tim Ryana juga sudah bersiap pamit, setelah membantu Mela berganti pakaian dengan gaun gamis rumahan.


Semua pamit tinggal anggota keluarga yang sekarang sedang kelelahan. Jaya juga pamit kepada Anton, dan dia tidak bilang akan menginap dimana, hanya berkata di suatu tempat yang rahasia.


Setelah semua pamit, Anton masuk ke dalam kamar pengantinnya untuk mandi membersihkan diri.


Mela masih di luar bersama anggota keluarga lain, dia takut kalau menyusul Anton ke dalam kamar pengantinnya.


Dia pura-pura membantu merapihkan dan membereskan apa saja yang ada disana tapi tidak jelas apa yang dilakukannya. Hanya sekedar cara menutupi rasa malu dan takutnya kalau masuk ke kamar pengantinnya.


Anita rupanya mencium gelagat itu, lalu dia memanggil adik iparnya itu.


"Mela...bisa tolong cici sebentar saja kemari?"panggil Anita berpura-pura minta bantuan Mela.


Lantas Mela segera menghampiri," Ya Cici, apakah ada yang bisa Mela bantu?".


Anita menarik tangan Mela menuju kamar pengantin sambil berkata," Ya kesini sebentar tolong cici yah".


Setelah di depan kamar pengantin, Anita meraih kunci kamar yang tergantung di balik pintu dan dia mendorong Mela masuk ke dalam kamar itu.


"Tolong cici buatkan sepupu untuk Keiza dan Kaysan yah....hahahah,"kata Anita sambil segera menutup pintu dan menguncinya dari luar.


Lalu kuncinya dia masukan ke dalam saku bajunya, suaminya yang kebetulan melihat jadi tertawa melihat ide istrinya.


Di dalam kamar Mela panik, dia mencoba membuka pintu dan ternyata benar terkunci dari luar.


Anton keluar dari kamar mandi dengan hanya menutup bagian bawahnya dengan handuk, sehingga Mela bisa melihat dada telanjangnya.


"Kamu lagi apa sayang berdiri dipintu seperti itu?"tanya Anton yang sudah menjadi suaminya itu.


"Hmm...kita dikunci dari luar oleh cici Anita, bagaimana ini yah ," sahut Mela dengan tegang menatap Anton.


"Oh..ya sudah kamu mandi sekarang, lalu sholat dan kita tidur ," jawab Anton santai sembari mulai mengenakan baju kokonya untuk segera Sholat.


Mela menurut, segera membersihkan riasan wajahnya lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi, dia segera mengambil mukena dan sajadah lalu segera menunaikan ibadahnya.


Anton tampak sudah santai di atas tempat tidur sambil menaikan ponselnya, dan dia sengaja memasang lampu kamar menjadi remang-remang.


Mela selesai sholat duduk di pinggir tempat tidur, dia merasa takut, lalu juga berdebar-debar karena tidak tahu harus melakukan apa.


"Kamu tidak akan tidur, mau duduk terus disitu?" tanya suaminya.


"Ehm...ya sebentar,"katanya sambil membuka kerudungnya dan terlihat rambut panjang tebal bergelombang.


Anton semakin terpesona kepada istrinya dan segera dia meminta istrinya untuk duduk berbaring disampingnya.


"Kamu tidak takut atau jijik melihat kaki kiriku yang hanya sepotong ini?"tanya Anton kepada istrinya.


Lalu Mela menggelengkan kepalanya, kemudian Anton memintanya untuk menyentuhnya dan segera dia menyentuh paha kiri suaminya.


"Inikan kaki suamiku, kenapa aku harus takut atau jijik. Aku menerima kamu dan kekuranganmu dengan sepenuh hatiku,"jawab Mela sambil malu-malu saat menyentuh kaki suaminya.


Anton tak tahan lagi, dia merengkuh memeluk istrinya dan menciumnya.


Mela memang benar polos, dia hanya terpejam sambil kedua tangannya ditempelkan kedadanya seperti orang kedinginan.


Anton jadi ingin tertawa melihatnya, tapi dia hanya senyum menahan tawanya.


"Tadi kamu diapakan sama orang salon kecantikan, di pijat lulur lalu apalagi?"Anton sengaja bertanya ingin Mela cerita telah diapakan saja.


"Aku tadi disuruh duduk di atas kursi yang bolong atasnya, dan dibawahnya ada tungku. Aku seperti direbus hampir setengah jam, tapi aku tak tahu untuk apa kegunaannya," Mela menceritakan dengan polos dan lugunya.


"Aku tahu kegunaannya, kamu ingin tahu juga tidak?"tanya Anton menggoda istrinya.


"Tentu aku mau tahu, tolong jelaskan," sahut Mela lagi dengan polosnya.


"Tapi kamu harus nurut yah apa yang aku lakukan dan aku tunjukkan kepadamu, tolong jangan menolak, kalau berasa sakit tahan sebentar yah," Anton menjelaskan dengan santai tapi seluruh tubuh dan pikirannya sudah sangat menggelora.


"Sekarang kamu peluk aku, kedua tanganmu lingkarkan ke leherku lalu selanjutnya ikuti gerakanku," Anton seperti mengajari anak kecil karena istrinya memang polos sekali.


Mela melakukan dan menurut apa kata Anton, sampai akhirnya mereka berdua sudah tak berbusana.


Lalu Anton masih dengan santai dan sabar menuntunnya sampai akhirnya mereka bersatu.


Mela menangis menahan rasa sakit, tapi hatinya bahagia karena apa yang telah dijaganya selama ini telah dia berikan seutuhnya kepada suaminya.


Dan itu terbukti dari bercak darah perawan yang menetes di sprei pengantinnya.


Lalu keduanya menghempaskan diri setelah terlepas sudah semua gejolak yang tadi tertahan.


Dan Mela sekarang sudah tidak terlihat malu-malu lagi walau dia masih tidak berbusana sekalipun dihadapan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2